Iman kepada Hari Kebangkitan: Jangan Meragukan Kekuasaan Allah

🌿 Materi Ceramah: “Iman kepada Hari Kebangkitan: Jangan Meragukan Kekuasaan Allah”

Tafsir Surah Al-Isrā’ Ayat 98

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه أجمعين.

1. Ayat Utama

QS. Al-Isrā’ [17]: 98

ذٰلِكَ جَزَاۤؤُهُمْ بِاَنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِنَا وَقَالُوْٓا ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا وَّرُفَاتًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَ خَلْقًا جَدِيْدًا

Artinya:

“Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan berkata, ‘Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?’”

Inti ayat

Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya. Orang-orang yang menolak petunjuk Allah bukan sekadar melakukan kesalahan intelektual, tetapi mengingkari ayat-ayat Allah dan hari kebangkitan.

Mereka mempertanyakan:

“Bagaimana mungkin manusia yang sudah mati, tulangnya hancur dan tubuhnya menjadi tanah, dapat hidup kembali?”

Allah menjawab keraguan itu dengan menunjukkan bahwa Dzat yang menciptakan manusia pertama kali tentu mampu menciptakannya kembali.


2. Tema Besar Ceramah

Ada empat pelajaran utama dari ayat ini:

  1. Hari kebangkitan adalah bagian dari keimanan.
  2. Kematian bukan akhir kehidupan.
  3. Jangan mengukur kekuasaan Allah dengan kemampuan manusia.
  4. Iman kepada akhirat harus melahirkan amal saleh.

3. Allah yang Menciptakan Pertama Kali Pasti Mampu Membangkitkan Kembali

Allah menjawab keraguan manusia dalam banyak ayat.

QS. Yāsīn [36]: 78–79

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ ۝ قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ

Artinya:

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?’ Katakanlah, ‘Yang akan menghidupkannya ialah Dia yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.’”

Penjelasan

Ini adalah jawaban yang sangat kuat.

Manusia berkata:

“Tulang sudah hancur, bagaimana bisa hidup kembali?”

Allah mengingatkan:

“Bukankah Aku yang menciptakannya pertama kali?”

Sebelum manusia menjadi tulang, sebelum menjadi daging, bahkan sebelum menjadi manusia yang sempurna, Allah sudah menciptakannya dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada dalam bentuk manusia.

Maka menciptakan kembali bukan sesuatu yang sulit bagi Allah.


4. Perhatikan Alam: Menghidupkan yang Mati Bukan Hal yang Mustahil

Allah juga memberikan bukti melalui fenomena alam.

QS. Fuṣṣilat [41]: 39

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنَّكَ تَرَى الْاَرْضَ خَاشِعَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۗاِنَّ الَّذِيْٓ اَحْيَاهَا لَمُحْيِ الْمَوْتٰى ۗاِنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya:

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati. Sungguh, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Renungan

Lihat tanah yang kering.

Tidak ada tanaman.

Seolah-olah mati.

Kemudian hujan turun.

Beberapa waktu kemudian:

🌱 biji tumbuh
🌿 tanaman muncul
🌳 pepohonan hidup
🌾 tanah menghasilkan makanan.

Allah mengajak manusia berpikir:

“Jika Allah mampu menghidupkan tanah yang mati, mengapa kalian menganggap mustahil Allah menghidupkan manusia yang telah mati?”


5. Allah Menunjukkan Contoh dalam Kisah Nabi Ibrahim

QS. Al-Baqarah [2]: 260

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗقَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْ ۗ قَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.’ Allah berfirman, ‘Belum percayakah engkau?’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu, kemudian letakkan di atas setiap bukit sebagian dari burung-burung itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.’”

Pelajaran penting

Nabi Ibrahim bukan ragu kepada Allah.

Beliau sudah beriman.

Beliau ingin mendapatkan ketenangan hati melalui penyaksian terhadap bagaimana kekuasaan Allah bekerja.

Ini mengajarkan bahwa bertanya untuk memahami bukanlah sama dengan mengingkari.


6. Dalil dari Sunnah: Iman kepada Hari Akhir

Rasulullah ﷺ menjadikan iman kepada hari akhir sebagai bagian dari pokok keimanan.

Dalam hadis Jibril:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Artinya:

“(Iman adalah) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”

HR. Muslim, no. 8.

Ulasan ulama

Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan bahwa hadis Jibril ini merupakan hadis yang sangat agung karena merangkum pokok-pokok agama, termasuk rukun iman.

Maka iman kepada hari akhir bukan perkara tambahan.

Ia adalah bagian fundamental dari akidah Islam.


7. Bagaimana Kehidupan Setelah Kematian?

Al-Qur'an menggambarkan bahwa manusia akan mengalami:

kematian → alam barzakh → kebangkitan → mahsyar → hisab → balasan.

Allah berfirman:

QS. Al-Mu’minūn [23]: 15–16

ثُمَّ اِنَّكُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ لَمَيِّتُوْنَ ۙ ۝ ثُمَّ اِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ تُبْعَثُوْنَ

Artinya:

“Kemudian, sesungguhnya kamu setelah itu benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu pada hari Kiamat akan dibangkitkan.”

Perhatikan urutannya:

Hidup → mati → dibangkitkan.

Kematian bukan garis finish.

Kematian adalah gerbang menuju kehidupan berikutnya.


8. Rasulullah ﷺ Mengingatkan tentang Kebangkitan

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا، قَالَ: وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ... ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Makna ringkasnya:

“Kemudian sangkakala ditiup... kemudian ditiup lagi, tiba-tiba mereka berdiri menunggu.”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Hadis ini menunjukkan bahwa setelah kematian akan terjadi kebangkitan manusia untuk menghadapi kehidupan akhirat.


9. Mengapa Orang Kafir Mengingkari Kebangkitan?

Masalahnya bukan semata-mata kurang bukti.

Sering kali masalahnya adalah kesombongan dan keengganan menerima konsekuensi moral.

Jika manusia yakin bahwa dirinya akan dibangkitkan, maka ia sadar:

“Aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku.”

Karena itu iman kepada akhirat memiliki pengaruh besar terhadap perilaku.

Orang yang yakin ada hisab akan berpikir sebelum:

  • mengambil hak orang lain,
  • berdusta,
  • berbuat zalim,
  • melakukan korupsi,
  • menyakiti orang,
  • meninggalkan kewajiban,
  • mengikuti hawa nafsu.

10. Tidak Ada Perbuatan yang Hilang dari Catatan Allah

Allah berfirman:

QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۗ ۝ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

Artinya:

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Renungan

Mungkin manusia lupa.

Tetapi Allah tidak lupa.

Mungkin manusia tidak melihat.

Tetapi Allah melihat.

Mungkin manusia berhasil menyembunyikan perbuatannya dari manusia.

Tetapi tidak ada yang tersembunyi dari Allah.


11. Penjelasan Para Ulama

A. Imam ath-Thabari

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, ketika menjelaskan ayat-ayat tentang kebangkitan, ath-Thabari menekankan bahwa Allah membantah orang-orang yang menganggap kebangkitan mustahil dengan mengembalikan mereka kepada fakta penciptaan pertama.

Argumentasinya sederhana:

Dzat yang mampu menciptakan manusia pertama kali dari ketiadaan tentu tidak menjadi lemah untuk menciptakannya kembali setelah kematian.


B. Imam Ibn Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibn Katsir menjelaskan kandungan QS. Yāsīn 78–79 bahwa orang yang mengingkari kebangkitan sebenarnya telah melupakan permulaan penciptaannya sendiri.

Allah menciptakannya dari sesuatu yang lemah, kemudian menjadikannya manusia yang sempurna.

Maka menganggap kebangkitan mustahil berarti mengukur kekuasaan Allah berdasarkan keterbatasan manusia.


C. Imam al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, pembahasan tentang kebangkitan menunjukkan bahwa al-ba‘ts (kebangkitan) merupakan perkara yang wajib diimani berdasarkan dalil wahyu.

Kebangkitan bukan sekadar simbol perubahan spiritual, tetapi kebangkitan manusia secara nyata untuk mendapatkan balasan.


D. Syaikh as-Sa‘di

Dalam Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, ketika menjelaskan ayat-ayat tentang kebangkitan, beliau banyak menekankan bahwa Allah menggunakan penciptaan pertama sebagai dalil bagi penciptaan kembali.

Ini sekaligus menunjukkan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah.


12. Kesalahan Cara Berpikir Orang yang Mengingkari Kebangkitan

Mereka berpikir:

“Saya tidak bisa membangkitkan orang mati, maka tidak mungkin manusia bisa dibangkitkan.”

Ini adalah kesalahan logika.

Kemampuan manusia bukan ukuran kemampuan Allah.

Contoh sederhana:

Manusia tidak mampu menciptakan satu sel hidup dari ketiadaan.

Tetapi Allah menciptakan:

  • manusia,
  • hewan,
  • tumbuhan,
  • lautan,
  • gunung,
  • langit,
  • bumi,

dengan seluruh sistemnya.

Karena itu pertanyaan yang benar bukan:

“Apakah manusia bisa membangkitkan orang mati?”

Tetapi:

“Apakah Allah mampu membangkitkan manusia?”

Jawabannya:

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.


13. Pelajaran Akidah dari QS. Al-Isrā’ 98

1. Hari kebangkitan adalah benar

Tidak boleh seorang Muslim meragukannya.

2. Tubuh manusia yang hancur tidak menjadi masalah bagi Allah

Allah mengetahui seluruh bagian ciptaan-Nya.

3. Kematian bukan akhir

Kita akan kembali kepada Allah.

4. Kehidupan dunia memiliki tujuan

Dunia adalah tempat beramal, bukan tempat menikmati kehidupan tanpa pertanggungjawaban.

5. Keyakinan terhadap akhirat membentuk akhlak

Semakin kuat iman kepada akhirat, seharusnya semakin kuat kehati-hatian dalam hidup.


14. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

🕌 Dalam ibadah

Ketika malas shalat, ingat:

Aku akan berdiri di hadapan Allah.

💰 Dalam pekerjaan

Ketika memiliki kesempatan mengambil sesuatu yang bukan hak:

Tidak ada yang benar-benar tersembunyi dari Allah.

👨‍👩‍👧 Dalam keluarga

Ketika mendidik anak:

Jangan hanya mengajarkan, “Jangan karena nanti dimarahi ayah.”

Ajarkan:

“Jangan karena Allah melihat kita.”

🤝 Dalam bermasyarakat

Ketika dizalimi, jangan membalas dengan kezaliman.

Percayalah:

Ada hari ketika seluruh perkara akan diadili dengan sempurna.


15. Renungan yang Sangat Penting

Saudaraku...

Suatu hari kita akan meninggalkan rumah.

Kita akan meninggalkan kendaraan.

Kita akan meninggalkan pekerjaan.

Kita akan meninggalkan jabatan.

Kita akan meninggalkan harta.

Bahkan tubuh yang selama ini kita rawat akan kembali menjadi tanah.

Namun perjalanan kita belum selesai.

Allah berfirman:

ثُمَّ اِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ تُبْعَثُوْنَ

“Kemudian sesungguhnya kamu pada hari Kiamat akan dibangkitkan.”

Maka pertanyaan terpenting bukan:

“Berapa lama saya akan hidup?”

Tetapi:

“Apa yang sudah saya persiapkan untuk kehidupan setelah mati?”


16. Penutup Ceramah

Jamaah yang dirahmati Allah...

QS. Al-Isrā’ ayat 98 mengingatkan kita tentang kesalahan orang-orang yang mengingkari kebangkitan.

Mereka melihat tulang yang hancur lalu berkata:

“Apakah kami akan dibangkitkan kembali?”

Allah menjawab keraguan itu dengan berbagai bukti:

Yang menciptakan pertama kali mampu menciptakan kembali.

Maka marilah kita memperkuat iman kepada hari akhir.

Bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan persiapan nyata:

  • memperbaiki shalat,
  • memperbanyak membaca Al-Qur'an,
  • memperbaiki akhlak,
  • bertaubat dari dosa,
  • menunaikan amanah,
  • menjaga hak manusia,
  • memperbanyak amal saleh,
  • dan meninggalkan maksiat.

Sebab suatu hari nanti kita akan berdiri sendiri di hadapan Allah.

Tidak ada jabatan yang dapat menyelamatkan kita.
Tidak ada harta yang dapat menyelamatkan kita.
Tidak ada popularitas yang dapat menyelamatkan kita.

Yang kita harapkan adalah rahmat Allah dan amal saleh yang diterima-Nya.

Doa

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى الْإِيمَانِ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas keimanan, karuniakanlah kepada kami husnul khatimah, dan jadikanlah sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.”

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

📚 Kitab rujukan utama

  • Jāmi‘ al-Bayān — Imam ath-Thabari.
  • Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Imam Ibn Katsir.
  • Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — Imam al-Qurthubi.
  • Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān — Abdurrahman as-Sa‘di.
  • Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
  • Ṣaḥīḥ Muslim.
  • Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim — Imam an-Nawawi.

Pesan utama QS. Al-Isrā’ 98:

🌱 Jangan menilai kekuasaan Allah dengan keterbatasan manusia. Dzat yang menciptakan kita pertama kali, pasti mampu membangkitkan kita kembali. Karena itu, jangan hanya mempersiapkan kehidupan dunia—persiapkan pula kehidupan setelah kematian.

Tidak ada komentar