Hidayah Allah dan Tanda-Tanda Kekuasaan-Nya dalam Kisah Ashabul Kahfi
Materi Ceramah: “Hidayah Allah dan Tanda-Tanda Kekuasaan-Nya dalam Kisah Ashabul Kahfi”
Tafsir Surah Al-Kahf Ayat 17
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
Amma ba‘du.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada ayat ke-17 Surah Al-Kahf, Allah mengajak kita melihat salah satu tanda kebesaran-Nya melalui kisah Ashabul Kahfi. Mereka adalah para pemuda yang mempertahankan iman, kemudian Allah menjaga mereka dengan cara yang luar biasa.
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang gua dan posisi matahari, tetapi juga berbicara tentang hidayah, perlindungan Allah, ikhtiar manusia, dan bagaimana seorang mukmin membaca tanda-tanda kebesaran Allah.
1. Teks Ayat dan Maknanya
QS. Al-Kahf: 17
وَتَرَى الشَّمْسَ اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَاِذَا غَرَبَتْ تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
Artinya:
“Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
2. Allah Menjaga Ashabul Kahfi melalui Sebab-Sebab yang Menakjubkan
Allah menjelaskan bahwa ketika matahari terbit, sinarnya tidak langsung mengenai mereka. Ketika matahari terbenam pun demikian.
Allah berfirman:
وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُ
“Sedangkan mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu.”
Ini menunjukkan bahwa Allah menjaga mereka dengan cara yang sangat sempurna.
Mereka tidak sekadar dimasukkan ke dalam gua lalu dibiarkan begitu saja. Allah mengatur keadaan gua, cahaya, posisi mereka, dan segala sesuatu yang diperlukan agar mereka tetap berada dalam perlindungan-Nya.
Pelajaran penting
Tawakal bukan berarti meninggalkan sebab.
Ashabul Kahfi:
- meninggalkan lingkungan yang mengancam iman mereka;
- mencari tempat perlindungan;
- memilih gua;
- berdoa kepada Allah;
- kemudian Allah memberikan pertolongan.
Jadi seorang mukmin harus berdoa sekaligus berikhtiar.
3. Semua Itu adalah Ayat-Ayat Allah
Allah berfirman:
ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ
“Itulah sebagian dari tanda-tanda Allah.”
Perhatikan kata مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ — min āyātillāh.
Allah tidak mengatakan bahwa peristiwa Ashabul Kahfi adalah satu-satunya tanda kebesaran-Nya. Ia hanyalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah.
Allah mengajak kita melihat alam:
- matahari,
- bulan,
- pergantian siang dan malam,
- langit,
- bumi,
- kehidupan manusia,
- tumbuh-tumbuhan,
- hewan,
- dan berbagai fenomena alam.
Semuanya adalah tanda yang menunjukkan kebesaran Sang Pencipta.
Allah berfirman:
QS. Āli ‘Imrān: 190
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.”
QS. Fuṣṣilat: 53
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.”
Renungan
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Orang beriman tidak melihat matahari hanya sebagai benda langit.
Ketika melihat matahari, ia berkata dalam hati:
“Siapa yang mengaturnya?”
Ketika melihat hujan:
“Siapa yang menurunkannya?”
Ketika melihat kehidupan:
“Siapa yang menciptakannya?”
Maka alam menjadi jalan menuju ma‘rifatullah, bukan sekadar objek untuk dikagumi.
4. Hidayah adalah Nikmat Terbesar
Bagian terpenting ayat ini terdapat pada firman Allah:
مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ
“Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk.”
Allah menghubungkan kisah Ashabul Kahfi dengan hidayah.
Mengapa?
Karena keajaiban terbesar bukanlah seseorang bisa tidur selama ratusan tahun.
Keajaiban terbesar adalah:
seorang pemuda mampu mempertahankan iman ketika lingkungan di sekitarnya mengajak kepada kesyirikan.
Mereka muda, tetapi memiliki iman yang kuat.
Allah telah berfirman sebelumnya:
اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
(QS. Al-Kahf: 13)
Perhatikan:
آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Mereka beriman, lalu Allah menambahkan hidayah kepada mereka.”
Ini menunjukkan bahwa hidayah harus dijaga dan terus ditambah.
5. Kita Harus Selalu Memohon Hidayah
Setiap hari kita membaca:
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fātiḥah: 6)
Pertanyaannya:
Jika kita sudah menjadi Muslim, mengapa masih meminta hidayah?
Karena seorang mukmin tidak hanya membutuhkan hidayah untuk mengetahui kebenaran, tetapi juga membutuhkan hidayah untuk:
- mencintai kebenaran;
- menerima kebenaran;
- mengamalkan kebenaran;
- istiqamah di atas kebenaran;
- meninggal dalam keadaan beriman.
Maka jangan pernah merasa:
“Saya sudah beriman, saya pasti aman.”
Justru seorang mukmin selalu takut hatinya berubah.
6. Hati Manusia Bisa Berubah
Rasulullah ﷺ banyak mengajarkan doa agar hati kita diteguhkan.
Hadis
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Para sahabat bertanya mengapa Nabi ﷺ banyak berdoa dengan doa tersebut.
Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ كَيْفَ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati seluruh anak Adam berada di antara dua jari Ar-Raḥmān seperti satu hati; Dia membolak-balikkannya sesuai yang Dia kehendaki.”
[HR. Muslim, no. 2654].
Pelajaran
Karena hati bisa berubah, jangan sombong dengan iman kita.
Hari ini rajin salat, belum tentu besok.
Hari ini rajin membaca Al-Qur’an, belum tentu selamanya.
Hari ini istiqamah menutup aurat, menjaga lisan, dan menjauhi maksiat, semuanya tetap membutuhkan pertolongan Allah.
Karena itu:
Jangan hanya meminta rezeki. Mintalah hidayah.
Jangan hanya meminta kesehatan. Mintalah istiqamah.
Jangan hanya meminta keberhasilan dunia. Mintalah husnul khatimah.
7. Hidayah Harus Dijaga dengan Lingkungan yang Baik
Ashabul Kahfi memilih meninggalkan lingkungan yang mengancam akidah mereka.
Allah berfirman:
وَاِذِ اعْتَزَلْتُمُوْهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ فَأْوٗٓا اِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ
“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu.”
(QS. Al-Kahf: 16)
Mereka menyadari bahwa lingkungan dapat memengaruhi iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ
“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk seperti pembawa minyak kesturi dan pandai besi.”
Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan bahwa teman yang baik akan memberikan manfaat, sedangkan teman yang buruk dapat memberikan pengaruh buruk.
[HR. al-Bukhari, no. 2101; Muslim, no. 2628].
Renungan untuk para pemuda
Jangan hanya bertanya:
“Teman saya baik atau tidak?”
Tetapi tanyakan:
“Apakah setelah berteman dengannya iman saya bertambah atau berkurang?”
Kalau setelah berkumpul:
- semakin rajin salat → pertahankan;
- semakin cinta Al-Qur’an → pertahankan;
- semakin senang majelis ilmu → pertahankan.
Tetapi jika setelah berkumpul:
- salat ditinggalkan;
- maksiat dianggap biasa;
- dosa menjadi hiburan;
- agama menjadi bahan candaan,
maka kita perlu mengevaluasi pertemanan kita.
8. Para Pemuda Ashabul Kahfi Mengajarkan Keberanian Mempertahankan Iman
Mereka bukan orang tua yang sudah berumur.
Allah menyebut mereka:
فِتْيَةٌ
“Para pemuda.”
Namun mereka memiliki keberanian luar biasa.
Allah berfirman:
وَرَبَطْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُوْا فَقَالُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
“Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi.’”
(QS. Al-Kahf: 14)
Mereka tidak berkata:
“Kami masih muda, nanti saja beriman.”
Tidak.
Mereka mengambil keputusan ketika masih muda.
Hadis tentang pemuda yang tumbuh dalam ibadah
Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya:
وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ
“Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.”
[HR. al-Bukhari, no. 660; Muslim, no. 1031].
Maka masa muda jangan dianggap sekadar masa bersenang-senang.
Masa muda adalah masa menanam.
Apa yang ditanam ketika muda akan dipanen pada masa tua dan bahkan di akhirat.
9. Allah Memberi Hidayah, tetapi Manusia Harus Mencarinya
Ada pertanyaan penting:
Kalau hidayah milik Allah, apakah manusia tidak perlu berusaha?
Jawabannya: tidak demikian.
Allah memberikan hidayah kepada siapa yang mencari dan menerima kebenaran, dan manusia diperintahkan untuk menempuh sebab-sebab hidayah.
Allah berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 69)
Perhatikan hubungan antara usaha dan hidayah:
جَاهَدُوا فِينَا → لَنَهْدِيَنَّهُمْ
“Mereka bersungguh-sungguh di jalan Kami → Kami benar-benar akan memberikan petunjuk kepada mereka.”
Maka carilah hidayah melalui:
- Al-Qur’an;
- salat;
- doa;
- majelis ilmu;
- berteman dengan orang saleh;
- menjauhi maksiat;
- membaca kisah orang-orang saleh;
- dan terus melakukan mujahadah terhadap hawa nafsu.
10. Penjelasan Para Ulama
A. Imam Ibnu Katsir رحمه الله
Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kisah Ashabul Kahfi menunjukkan kekuasaan Allah dalam menjaga mereka dan bahwa semua kejadian tersebut merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Beliau juga mengaitkan penutup ayat dengan persoalan hidayah dan kesesatan.
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي، أَيْ: مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ لِاهْتِدَاءِ فَلَا مُضِلَّ لَهُ
“Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka dialah orang yang mendapat petunjuk; yakni siapa yang Allah beri taufik untuk memperoleh petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.”
[Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 17].
Intinya: hidayah bukan sekadar mengetahui kebenaran, tetapi Allah memberikan taufik agar seseorang menerima dan mengikuti kebenaran.
B. Imam al-Qurṭubi رحمه الله
Al-Qurṭubi memberikan perhatian terhadap kalimat:
مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ
Maknanya menunjukkan bahwa orang yang Allah beri taufik menuju jalan yang benar, dialah orang yang benar-benar memperoleh petunjuk.
مَنْ هَدَاهُ اللَّهُ إِلَى الْإِيمَانِ وَوَفَّقَهُ لَهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي
“Barang siapa yang Allah beri petunjuk kepada iman dan Allah memberikan taufik kepadanya untuk beriman, maka dialah orang yang mendapat petunjuk.”
[Al-Qurṭubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 17].
Ini mengajarkan bahwa kita harus selalu memohon taufik Allah.
11. Penjelasan Ibnu Rajab tentang Hati
Ibnu Rajab رحمه الله menjelaskan pentingnya menjaga hati karena hati merupakan pusat keadaan manusia.
Di antara ungkapan beliau:
أَصْلُ صَلَاحِ الْقَلْبِ وَاسْتِقَامَتِهِ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْإِخْلَاصِ لِلَّهِ
“Pokok kebaikan dan istiqamah hati adalah bertauhid dan ikhlas kepada Allah.”
[Ibnu Rajab al-Hanbali, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, syarah hadis tentang hati].
Karena itu kisah Ashabul Kahfi sebenarnya merupakan kisah tentang hati yang kokoh.
Mereka berada dalam tekanan, tetapi hati mereka tidak berpaling dari Allah.
12. Jangan Merasa Aman dari Kesesatan
Allah menutup ayat dengan:
وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
“Dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
Ini adalah peringatan yang sangat keras.
Manusia boleh memiliki:
- guru,
- orang tua,
- ulama,
- teman baik,
- lingkungan yang baik,
tetapi pada akhirnya hidayah adalah milik Allah.
Karena itu Nabi ﷺ mengajarkan doa:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
(QS. Āli ‘Imrān: 8)
Doa ini sangat relevan dengan kisah Ashabul Kahfi.
13. Jangan Salah Memahami “Allah Menyesatkan”
Kalimat:
وَمَنْ يُّضْلِلْ
“Barang siapa yang Allah sesatkan…”
tidak boleh dipahami bahwa Allah menzalimi manusia.
Allah berfirman:
وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ
“Tuhanmu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.”
(QS. Fuṣṣilat: 46)
Allah juga berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ
“Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka.”
(QS. Aṣ-Ṣaff: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesesatan berkaitan dengan sikap manusia yang memilih berpaling dari kebenaran. Hidayah adalah karunia Allah, sedangkan manusia diperintahkan untuk mencari, menerima, dan mempertahankannya.
14. Ashabul Kahfi dan Konsep Tawakal
Kisah mereka menunjukkan tiga langkah:
1. Mereka mengenali bahaya
Mereka menyadari bahwa lingkungan mereka mengancam akidah.
2. Mereka mengambil tindakan
Mereka pergi ke gua.
3. Mereka berdoa
رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
“Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”
(QS. Al-Kahf: 10)
Inilah tawakal yang benar:
Doa + ikhtiar + berserah diri kepada Allah.
15. Pelajaran Praktis untuk Kehidupan Kita
Pertama: Jagalah iman sebelum menjaga harta
Ashabul Kahfi meninggalkan kenyamanan demi iman.
Kedua: Pilih lingkungan yang menjaga iman
Teman sangat memengaruhi seseorang.
Ketiga: Jangan malu menjadi orang yang taat
Mereka berani mengatakan:
رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
“Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi.”
Keempat: Gunakan akal untuk membaca tanda-tanda Allah
Matahari, langit, bumi dan kehidupan adalah ayat-ayat Allah.
Kelima: Jangan berhenti meminta hidayah
Baca:
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
setiap hari dengan kesadaran.
Keenam: Jangan sombong dengan iman
Hati dapat berubah. Mintalah Allah meneguhkan hati.
Ketujuh: Masa muda adalah kesempatan emas
Jadilah seperti Ashabul Kahfi: muda tetapi kuat iman.
16. Penutup Ceramah
Jamaah rahimakumullah,
Surah Al-Kahf ayat 17 mengajarkan bahwa di balik kisah matahari yang tidak langsung mengenai penghuni gua terdapat pelajaran yang sangat besar:
Allah menjaga orang-orang yang menjaga iman mereka.
Ashabul Kahfi meninggalkan sesuatu demi Allah, lalu Allah memberikan sesuatu yang jauh lebih besar kepada mereka.
Mereka meninggalkan rumah, Allah memberi perlindungan.
Mereka meninggalkan masyarakat yang sesat, Allah memberi teman-teman yang beriman.
Mereka meninggalkan kenyamanan dunia, Allah memberi rahmat.
Mereka mempertahankan iman, Allah menjaga mereka selama ratusan tahun.
Maka jangan takut kehilangan sesuatu karena Allah jika yang kita pertahankan adalah iman.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَيَرْزُقْهٗ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(QS. Aṭ-Ṭalāq: 2–3)
Maka mari kita berdoa:
اللَّهُمَّ اهْدِنَا وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَارْزُقْنَا الْإِيمَانَ وَالتَّقْوَى، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ.
“Ya Allah, berilah kami petunjuk dan teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Karuniakan kepada kami iman dan ketakwaan. Lindungilah kami dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman dan Islam.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Catatan Kaki / Kitab Rujukan
[1] Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Kahf [18]: 10, 13–17.
[2] Al-Qur’an al-Karim, QS. Āli ‘Imrān [3]: 8, 190; QS. Al-Fātiḥah [1]: 6; QS. Al-‘Ankabūt [29]: 69; QS. Fuṣṣilat [41]: 46, 53; QS. Aṭ-Ṭalāq [65]: 2–3.
[3] Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhāri, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, no. 660; dan hadis perumpamaan teman baik dan buruk, no. 2101.
[4] Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qadar, hadis no. 2654; dan Kitāb al-Birr wa aṣ-Ṣilah, hadis no. 2628.
[5] Ismā‘īl ibn ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 17.
[6] Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 17.
[7] ‘Abdurraḥmān ibn Aḥmad Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, pembahasan hadis tentang hati dan amal.
Post a Comment