Kemuliaan Manusia di Sisi Allah dan Tanggung Jawab Menjaganya

Materi Ceramah

"Kemuliaan Manusia di Sisi Allah dan Tanggung Jawab Menjaganya"

Tadabbur Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 70


Khutbatul Hājah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ كَرَّمَ الْإِنْسَانَ، وَجَعَلَ لَهُ مَنْزِلَةً عَظِيمَةً، فَلَا يُضَيِّعْ هَذِهِ الْكَرَامَةَ بِالْمَعَاصِي.


Muqaddimah

Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta'ālā, Rabb semesta alam. Dialah yang menciptakan manusia dari tanah, meniupkan ruh kepadanya, mengajarkan ilmu, mengaruniakan akal, pendengaran, penglihatan, hati, serta memuliakannya di atas banyak makhluk-Nya.

Kemuliaan ini bukanlah sekadar kehormatan, tetapi juga amanah. Allah memberikan kedudukan yang tinggi kepada manusia agar mereka mengenal Rabbnya, beribadah kepada-Nya, dan menjadi khalifah yang menegakkan kebaikan di muka bumi.

Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Isrā' ayat 70.


Dalil Utama

Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 70

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

Artinya:

"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna."


Tafsir Ayat

Ayat ini menjelaskan empat bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia:

  1. Kemuliaan penciptaan (كرمنا بني آدم).
  2. Kemudahan hidup di darat dan laut.
  3. Rezeki yang halal dan baik.
  4. Keutamaan atas banyak makhluk lainnya.

Kemuliaan tersebut merupakan bukti kasih sayang Allah sekaligus amanah yang harus dipertanggungjawabkan.


Tafsir Para Ulama

1. Tafsir Imam Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa kemuliaan manusia meliputi:

  • bentuk tubuh yang paling sempurna,
  • kemampuan berbicara,
  • akal yang membedakan benar dan salah,
  • kemampuan mengelola kehidupan.

Beliau mengatakan:

"Allah memuliakan manusia dengan akal, kemampuan memahami, serta menjadikan mereka mampu menguasai berbagai sarana kehidupan."

Rujukan: Jāmi' al-Bayān, tafsir QS. Al-Isrā': 70.


2. Tafsir Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir berkata:

"Allah memuliakan manusia dengan rupa yang indah, berdiri tegak, makan menggunakan tangan, diberi akal, ilmu, kemampuan berbicara, menulis, memahami, serta menguasai berbagai sarana kehidupan."

Beliau juga menjelaskan bahwa manusia dimuliakan dibandingkan banyak makhluk lainnya karena memperoleh amanah syariat.

Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, jilid 5.


3. Tafsir Imam Al-Qurthubi

Imam Al-Qurthubi menyebutkan lebih dari sepuluh bentuk kemuliaan manusia, di antaranya:

  • akal,
  • ilmu,
  • kemampuan berbicara,
  • postur tubuh tegak,
  • kemampuan menulis,
  • kemampuan mengendarai kendaraan,
  • diberi syariat,
  • dipilih menjadi para nabi dan rasul dari kalangan manusia.

Rujukan: Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, juz 10.


4. Tafsir As-Sa'di

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan:

"Kemuliaan manusia merupakan bukti rahmat Allah. Akan tetapi kemuliaan yang paling tinggi adalah iman, ilmu, dan ketaatan."

Rujukan: Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān.


Pelajaran Pertama

Manusia Diciptakan dalam Bentuk Terbaik

Allah berfirman:

Surah At-Tīn ayat 4–6

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ۝ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Artinya:

"Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh; maka mereka memperoleh pahala yang tidak terputus."

Hikmah

Kesempurnaan fisik harus diiringi dengan kesempurnaan iman. Tanpa iman dan amal saleh, manusia dapat jatuh lebih rendah daripada makhluk lainnya.


Pelajaran Kedua

Nikmat Akal, Pendengaran, Penglihatan, dan Hati

Allah berfirman:

Surah An-Naḥl ayat 78

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:

"Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur."

Hikmah

Semua kemampuan manusia merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.


Pelajaran Ketiga

Manusia Diangkat Menjadi Khalifah di Bumi

Allah berfirman:

Surah Al-Baqarah ayat 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً...

Artinya:

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.'"

Tafsir

Menurut Ibnu Katsir, khalifah berarti generasi manusia yang silih berganti memakmurkan bumi dengan hukum Allah, menegakkan keadilan, dan mencegah kerusakan.

Rujukan: Tafsīr Ibn Katsīr, tafsir QS. Al-Baqarah: 30.


Pelajaran Keempat

Kemuliaan Sejati Ada pada Takwa

Allah berfirman:

Surah Al-Ḥujurāt ayat 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya:

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."

Penjelasan

Ayat ini menjelaskan bahwa kemuliaan yang bersifat umum diberikan kepada seluruh manusia, tetapi kemuliaan khusus di sisi Allah hanya diperoleh melalui ketakwaan.


Hadis-Hadis Pendukung

1. Allah Tidak Melihat Rupa dan Harta

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian."

HR. Muslim no. 2564

Penjelasan Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah penampilan, kekayaan, atau kedudukan, melainkan keikhlasan hati dan amal saleh.

Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.


2. Orang Kuat adalah yang Mampu Mengendalikan Diri

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya:

"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."

HR. al-Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609

Hikmah

Kemuliaan manusia tampak ketika ia mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan petunjuk Allah.


3. Setiap Manusia adalah Pemimpin

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."

HR. al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829

Penjelasan

Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan manusia berkaitan erat dengan tanggung jawab. Semakin besar amanah, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah.


Peringatan bagi Manusia yang Menyia-nyiakan Kemuliaannya

Allah berfirman:

Surah Al-A'rāf ayat 179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

Artinya:

"Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi."

Tafsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mereka tidak kehilangan akal secara fisik, tetapi tidak menggunakan akal, hati, dan pancaindra untuk mengenal Allah dan menerima kebenaran. Itulah sebabnya mereka disamakan dengan hewan, bahkan lebih sesat.


Relevansi dengan Kehidupan Saat Ini

Di zaman modern, manusia memperoleh berbagai kemudahan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua itu merupakan bagian dari karunia Allah yang memudahkan manusia mengelola kehidupan di darat dan di laut sebagaimana disebutkan dalam ayat ini. Namun kemajuan tersebut tidak boleh menjadikan manusia sombong atau merasa tidak membutuhkan Allah.

Kemuliaan manusia juga harus tercermin dalam akhlak dan tanggung jawab sosial, antara lain:

  • menjaga kehormatan diri dan keluarga,
  • menggunakan ilmu untuk kemaslahatan,
  • menjaga lingkungan sebagai amanah Allah,
  • menegakkan keadilan,
  • menghormati sesama manusia tanpa membedakan suku, bangsa, atau status sosial,
  • serta memanfaatkan nikmat Allah untuk beribadah dan berbuat baik.

Pelajaran yang Dapat Diambil

  1. Allah memuliakan seluruh keturunan Nabi Adam dengan berbagai nikmat lahir dan batin.
  2. Kemuliaan tersebut mengandung amanah untuk beribadah kepada Allah dan memakmurkan bumi.
  3. Akal, ilmu, hati, dan pancaindra harus digunakan untuk mengenal Allah dan menaati-Nya.
  4. Kemuliaan yang paling tinggi di sisi Allah adalah iman dan takwa, bukan kekayaan atau kedudukan.
  5. Menyia-nyiakan nikmat akal dan petunjuk Allah dapat menjatuhkan derajat manusia lebih rendah daripada hewan.
  6. Seorang mukmin hendaknya mensyukuri kemuliaan yang Allah berikan dengan amal saleh, akhlak mulia, dan kepedulian kepada sesama.

Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Surah Al-Isrā' ayat 70 mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Akan tetapi, kemuliaan itu bukanlah alasan untuk berbangga diri, melainkan amanah untuk semakin tunduk kepada-Nya. Marilah kita menjaga kemuliaan tersebut dengan iman, ilmu, amal saleh, akhlak yang mulia, dan ketakwaan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat, memakmurkan bumi dengan kebaikan, dan memperoleh kemuliaan di dunia serta di akhirat.

اللَّهُمَّ كَمَا كَرَّمْتَنَا بِالْإِسْلَامِ وَالْإِيمَانِ، فَثَبِّتْنَا عَلَيْهِمَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا شُكْرَ نِعَمِكَ، وَحُسْنَ الْعَمَلِ بِهَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. آمِينَ

Tidak ada komentar