Ketika Al-Qur’an Dibacakan, Hati yang Berilmu Akan Tunduk
Materi Ceramah QS. Al-Isrā’ Ayat 107
“Ketika Al-Qur’an Dibacakan, Hati yang Berilmu Akan Tunduk”
Pembukaan
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Isrā’ ayat 107 mengajarkan kepada kita sebuah perkara yang sangat penting: ukuran ilmu yang benar bukan sekadar banyaknya pengetahuan, tetapi sejauh mana ilmu tersebut membuat hati mengenal Allah, tunduk kepada kebenaran, dan merendahkan diri di hadapan wahyu.
Allah menggambarkan orang-orang yang memiliki ilmu sebelum datangnya Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak menyombongkan diri. Justru mereka tersungkur bersujud.
1. Ayat utama: QS. Al-Isrā’: 107
قُلْ اٰمِنُوْا بِهٖٓ اَوْ لَا تُؤْمِنُوْاۗ اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud.”
Pesan utama ayat
Ayat ini bukan berarti Allah meridai kekafiran.
Ungkapan:
آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا
“Berimanlah kepadanya atau tidak usah beriman”
merupakan ancaman dan kecaman kepada orang-orang yang keras kepala.
Kebenaran Al-Qur’an tidak bergantung kepada pengakuan manusia.
Jika seluruh manusia beriman, Allah tidak bertambah mulia.
Jika seluruh manusia kufur, Allah tidak berkurang sedikit pun kemuliaan-Nya.
Allah Mahakaya dari seluruh makhluk-Nya.
2. Orang berilmu justru semakin tunduk
Perhatikan kalimat:
إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“Sesungguhnya orang-orang yang telah diberi ilmu.”
Kemudian:
يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا
“mereka tersungkur dengan wajah dalam keadaan bersujud.”
Ini luar biasa.
Ilmu yang benar melahirkan ketundukan.
Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin rendah hati.
Sebaliknya, ilmu yang membuat seseorang semakin sombong, meremehkan orang lain, menolak kebenaran, dan merasa dirinya paling benar adalah ilmu yang belum memberikan buah yang semestinya.
3. Ilmu harus membawa kepada خشوع — khusyuk
Allah berfirman:
QS. Fāṭir: 28
إِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا
Artinya:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
Perhatikan hubungan antara ilmu dan khasy-yah.
Bukan:
ilmu → sombong.
Tetapi:
ilmu → mengenal Allah → takut kepada Allah → tunduk → beramal.
Penjelasan Ibn Kathīr
Ibn Kathīr ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa orang yang benar-benar mengetahui Allah dengan pengetahuan yang benar akan memiliki rasa takut kepada-Nya.
Karena semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin ia menyadari kelemahan dirinya.
Rujukan: Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Fāṭir: 28.
4. Orang berilmu tidak keras kepala ketika kebenaran datang
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar: 18
الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya:
“(Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
Orang yang berakal tidak takut mendengar kebenaran.
Dia tidak berkata:
“Saya tidak mau mendengar!”
Tetapi berkata:
“Mari kita lihat apa yang Allah firmankan dan apa yang Rasulullah ﷺ ajarkan.”
5. Al-Qur’an membuat hati orang beriman bergetar
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar: 23
اللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ ۖ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ
Artinya:
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Oleh sebab itu, kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya gemetar. Kemudian kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah.”
Perhatikan urutannya:
Al-Qur’an dibaca → hati tersentuh → tubuh merespons → hati menjadi lembut → tunduk kepada Allah.
Inilah gambaran manusia yang hidup bersama Al-Qur’an.
6. Kisah orang-orang yang mendengar Al-Qur’an lalu menangis
Allah menggambarkan sebagian ahli kitab yang jujur:
QS. Al-Mā’idah: 83
وَاِذَا سَمِعُوْا مَآ اُنْزِلَ اِلَى الرَّسُوْلِ تَرٰٓى اَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوْا مِنَ الْحَقِّ ۚ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ
Artinya:
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka bercucuran air mata karena kebenaran yang telah mereka ketahui. Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.’”
Ini sangat dekat dengan QS. Al-Isrā’: 107.
Mereka memiliki ilmu → mengenali kebenaran → hati tunduk → air mata mengalir → iman muncul.
7. Sujud adalah puncak ketundukan
Mengapa Allah menggambarkan mereka dengan sujud?
Karena sujud merupakan posisi manusia yang paling menunjukkan kehinaan dirinya di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Artinya:
“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa.”
HR. Muslim.
Sujud mengajarkan:
“Ya Allah, aku memiliki ilmu, tetapi Engkau Mahatahu.”
“Aku memiliki kekuatan, tetapi Engkau Mahakuasa.”
“Aku memiliki kedudukan, tetapi aku tetap hamba-Mu.”
8. Ilmu tanpa ketundukan bisa menjadi bencana
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Masalah terbesar bukan selalu tidak tahu.
Kadang masalahnya adalah:
sudah tahu, tetapi tidak mau tunduk.
Allah menceritakan tentang Fir‘aun:
QS. An-Naml: 14
وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّا ۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya:
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Mereka mengetahui, tetapi tidak tunduk.
Mengapa?
ظُلْمًا وَعُلُوًّا
“Karena kezaliman dan kesombongan.”
Maka penyakit ilmu bukan hanya kebodohan.
Penyakit ilmu juga bisa berupa kesombongan.
9. Hadis: Kesombongan adalah menolak kebenaran
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Para sahabat bertanya tentang seseorang yang menyukai pakaian dan sandal yang bagus. Rasulullah ﷺ menjawab:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
HR. Muslim.
Perhatikan:
بَطَرُ الْحَقِّ
“Menolak kebenaran.”
Jadi seseorang bisa saja:
- berpendidikan tinggi,
- banyak membaca,
- banyak gelar,
- banyak berbicara tentang agama,
tetapi apabila dia menolak kebenaran hanya karena datang dari orang yang tidak dia sukai, itu merupakan bentuk kesombongan.
10. Orang berilmu seharusnya semakin takut kepada Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ خِيَارِ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللَّهُ
Artinya:
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang terbaik adalah orang-orang yang apabila mereka dilihat, Allah pun diingat.”
Maknanya, ilmu seseorang seharusnya terpancar dalam akhlak dan ketakwaannya, bukan sekadar dalam kemampuan berbicara.
11. Jangan hanya membaca Al-Qur’an dengan lisan
Jamaah rahimakumullah,
Ada orang yang membaca Al-Qur’an setiap hari tetapi lisannya masih menyakiti orang.
Ada yang hafal banyak ayat tetapi masih suka merendahkan manusia.
Ada yang rajin menghadiri kajian tetapi masih sulit memaafkan.
Ada yang mengetahui hukum sedekah tetapi tangannya berat memberi.
Ada yang mengetahui keutamaan shalat tetapi masih meremehkannya.
Maka kita perlu bertanya:
“Apakah Al-Qur’an sudah masuk dari lisan menuju hati?”
Karena tujuan Al-Qur’an bukan sekadar agar kita mampu mengatakan:
“Saya sudah membaca.”
Tetapi agar kita bisa mengatakan:
“Saya sudah berubah.”
12. Tiga tingkatan hubungan dengan Al-Qur’an
Tingkatan pertama: تِلَاوَة — Tilāwah
Membaca Al-Qur’an.
Ini adalah pintu pertama.
Tingkatan kedua: تَدَبُّر — Tadabbur
Memahami dan merenungkan maknanya.
Allah berfirman:
QS. Ṣād: 29
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya:
“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”
Tingkatan ketiga: عَمَل — Amal
Mengamalkan.
Inilah buah dari tilawah dan tadabbur.
13. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mengubah perilaku
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
HR. Muslim.
Maka jangan hanya berdoa:
“Ya Allah, tambahkan ilmuku.”
Tetapi juga:
“Ya Allah, jadikan ilmuku bermanfaat.”
Karena ilmu yang bermanfaat akan melahirkan:
khusyuk, takut kepada Allah, tawadhu, amal saleh, dan akhlak mulia.
14. Pelajaran bagi guru dan pendidik
Ayat ini sangat penting bagi para guru.
Jangan merasa tugas guru hanya:
mentransfer pengetahuan.
Tetapi tugas seorang pendidik adalah membantu peserta didik:
mengetahui → memahami → meyakini → menghayati → mengamalkan.
Karena itu, ketika mengajarkan Al-Qur’an kepada siswa, jangan hanya bertanya:
“Apa arti ayat ini?”
Tetapi juga:
“Apa pesan Allah dalam ayat ini?”
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Apa perilaku yang harus kita tinggalkan?”
“Bagaimana ayat ini kita praktikkan hari ini?”
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke hati, kemudian tampak dalam perilaku.
15. Renungan untuk kita semua
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Ketika Al-Qur’an dibacakan, bagaimana hati kita?
Apakah:
hati menjadi lembut?
Apakah:
mata terkadang menangis?
Apakah:
kita merasa ditegur oleh ayat?
Apakah:
kita segera memperbaiki kesalahan?
Atau justru:
kita merasa ayat itu selalu berbicara tentang orang lain?
Inilah renungan besar dari QS. Al-Isrā’: 107.
16. Tanda-tanda orang yang benar-benar berilmu
Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an dan Sunnah, kita dapat merumuskan beberapa tanda:
1. Semakin berilmu, semakin tawadhu.
2. Semakin mengenal Allah, semakin takut kepada-Nya.
3. Ketika mendengar kebenaran, ia menerimanya.
4. Ketika salah, ia mau mengakui.
5. Ketika membaca Al-Qur’an, hatinya hidup.
6. Ilmunya melahirkan amal.
7. Tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk merendahkan orang lain.
8. Tidak merasa dirinya paling benar dalam segala hal.
17. Penutup: Mari menjadi “ahlul Qur’an”
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Isrā’: 107 mengajarkan kepada kita bahwa Al-Qur’an akan memberikan pengaruh besar kepada hati yang mau menerima kebenaran.
Orang yang memiliki ilmu sebelum Al-Qur’an datang, ketika mendengar wahyu, mereka justru berkata dengan tindakan:
سُجَّدًا
“Dalam keadaan bersujud.”
Maka mari kita belajar menjadi manusia yang apabila mendengar ayat Allah:
tidak membantah,
tidak sombong,
tidak mencari-cari alasan,
tetapi berkata:
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Kami mendengar dan kami taat.”
Allah berfirman:
QS. An-Nūr: 51
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka hanyalah dengan berkata, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
🤲 Doa penutup
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ، الَّذِينَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk ahlul Qur’an, orang-orang yang dekat dan istimewa di sisi-Mu.”
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا.
“Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, amal yang saleh, dan lisan yang senantiasa berdzikir.”
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا.
“Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghilang kesedihan kami, dan penghilang kegelisahan kami.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
📚 Kitab rujukan
- Al-Qur’an al-Karim — khususnya QS. Al-Isrā’: 107; Fāṭir: 28; Az-Zumar: 18, 23; Al-Mā’idah: 83; An-Naml: 14; Ṣād: 29; An-Nūr: 51.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
- Ṣaḥīḥ Muslim, khususnya hadis tentang sujud dan keutamaan amal.
- Sunan at-Tirmiżī.
- Tafsīr ath-Ṭabarī — Jāmi‘ al-Bayān.
- Tafsīr Ibn Kathīr — Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.
- Tafsīr al-Qurṭubī — Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān.
- Mafātīḥ al-Ghaib, Fakhruddīn ar-Rāzī.
- Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, Imam az-Zarkasyī.
- Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, Imam as-Suyūṭī.
Kalimat inti untuk disampaikan kepada jamaah
“Orang yang benar-benar berilmu bukanlah orang yang paling banyak berbicara tentang Al-Qur’an, tetapi orang yang ketika ayat Allah dibacakan, hatinya tunduk, matanya menangis, tubuhnya bersujud, dan kehidupannya berubah.”
Post a Comment