KETIKA KESOMBONGAN MELAWAN KEBENARAN

KETIKA KESOMBONGAN MELAWAN KEBENARAN

Pelajaran dari Kebinasaan Fir‘aun

Berdasarkan QS. Al-Isrā’: 103

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan sebuah ayat yang mengisahkan akhir perjalanan seorang manusia yang memiliki kekuasaan luar biasa, tetapi kemudian binasa karena kesombongan dan permusuhannya terhadap kebenaran.

Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al-Isrā’ ayat 103:

فَاَرَادَ اَنْ يَّسْتَفِزَّهُمْ مِّنَ الْاَرْضِ فَاَغْرَقْنٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ جَمِيْعًا ۝١٠٣

Artinya:

"Kemudian dia (Fir‘aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikutnya) dari bumi (Mesir), maka Kami tenggelamkan dia (Fir‘aun) beserta orang yang bersama dia seluruhnya."

Para mufasir menjelaskan bahwa Fir‘aun bermaksud mengusir Nabi Musa عليه السلام dan Bani Israil dari Mesir. Namun rencana Fir‘aun justru berakhir dengan kebinasaannya sendiri. Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa Fir‘aun hendak mengusir Musa dan Bani Israil dari negeri tersebut, tetapi Allah menenggelamkan Fir‘aun bersama bala tentaranya dan menyelamatkan Musa serta kaumnya.

Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa makna يَسْتَفِزَّهُمْ adalah berusaha mengusir, mengeluarkan, dan menyingkirkan mereka dari negeri tersebut.


1. FIR‘AUN ADALAH GAMBARAN MANUSIA YANG TERTIPU OLEH KEKUASAAN

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Fir‘aun bukan sekadar seorang penguasa yang jahat. Al-Qur'an menggambarkan bagaimana kekuasaan dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran bahwa dirinya hanyalah makhluk Allah.

Allah berfirman:

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

Artinya:

"Sesungguhnya Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."

(QS. Al-Qaṣaṣ: 4)

Perhatikan kata:

عَلَا فِي الْأَرْضِ

"Dia berlaku sombong dan sewenang-wenang di bumi."

Masalah Fir‘aun bukan sekadar memiliki kekuasaan.

Masalahnya adalah ketika kekuasaan membuatnya merasa lebih tinggi daripada kebenaran.

Ia memiliki tentara, istana, kekayaan, dan pengikut. Tetapi semua itu tidak mampu menyelamatkannya ketika keputusan Allah datang.


2. FIR‘AUN MENGIRA DIRINYA MAMPU MENGALAHKAN KEBENARAN

Allah mengutus Nabi Musa عليه السلام membawa mukjizat dan dakwah tauhid.

Namun Fir‘aun tidak mau tunduk.

Bahkan ia berkata:

فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰى ۖ

"Lalu dia berkata, 'Akulah tuhanmu yang paling tinggi.'"

(QS. An-Nāzi‘āt: 24)

Inilah puncak kesombongan.

Ketika manusia sudah sampai pada tingkat merasa dirinya tidak membutuhkan Allah, maka ia sedang berada di jalan kehancuran.

Allah mengingatkan:

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۝ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰى ۗ

"Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas apabila dia melihat dirinya serba cukup."

(QS. Al-‘Alaq: 6–7)

Perhatikan:

اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰى

"Ketika dia merasa dirinya tidak membutuhkan siapa pun."

Kesombongan sering kali muncul bukan karena seseorang benar-benar kuat, tetapi karena ia lupa kepada siapa sumber kekuatannya.


3. ORANG YANG MENOLAK KEBENARAN TIDAK AKAN MENANG SELAMANYA

Fir‘aun mempunyai kekuasaan.

Musa عليه السلام tidak mempunyai kerajaan.

Fir‘aun mempunyai tentara.

Musa عليه السلام hanya bersama orang-orang yang tertindas.

Fir‘aun mempunyai berbagai fasilitas duniawi.

Musa عليه السلام hanya berbekal pertolongan Allah.

Tetapi siapa yang akhirnya menang?

Allah berfirman:

وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِيْنَ ۙ ۝٥

Artinya:

"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)."

(QS. Al-Qaṣaṣ: 5)

Ayat ini mengajarkan kepada kita:

Kekuatan yang dibangun di atas kesombongan tidak akan bertahan selamanya.


4. JANGAN TERPESONA OLEH KEKUATAN ZALIM

Kadang-kadang orang beriman melihat kebatilan begitu kuat.

Yang salah terlihat menang.

Yang benar terlihat lemah.

Orang yang zalim terlihat mempunyai kekuasaan.

Orang yang jujur justru mengalami kesulitan.

Namun jangan lupa bahwa Allah mempunyai sunnatullah.

Allah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُ

Artinya:

"Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak."

(QS. Ibrāhīm: 42)

Ini adalah penghiburan bagi orang-orang yang dizalimi.

Allah tidak lengah.

Jika hukuman belum datang, bukan berarti Allah tidak mengetahui.

Jika orang zalim masih menikmati kekuasaan, bukan berarti Allah meridai.

Terkadang Allah menangguhkan.

Tetapi ketika ketetapan Allah datang, tidak ada yang mampu menghalangi.


5. FIR‘AUN JUSTru BINASA DENGAN SESUATU YANG DIANGGAPNYA BISA MENGHANCURKAN MUSA

Inilah salah satu pelajaran yang sangat menarik.

Fir‘aun mengejar Musa.

Ia ingin menangkap dan menghancurkan Musa serta Bani Israil.

Tetapi jalan yang dilalui Fir‘aun justru menjadi jalan menuju kebinasaannya.

Allah berfirman:

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْٓ اِنَّكُمْ مُّتَّبَعُوْنَ ۝٥٢

"Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Pergilah pada malam hari dengan hamba-hamba-Ku, sungguh, kamu akan dikejar.'"

(QS. Asy-Syu‘arā’: 52)

Kemudian Allah berfirman:

فَاَتْبَعُوْهُمْ مُّشْرِقِيْنَ ۝٦٠ فَلَمَّا تَرَاۤءَ الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ ۝٦١ قَالَ كَلَّا ۚ اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ ۝٦٢

Artinya:

"Kemudian mereka mengikuti mereka pada waktu matahari terbit. Ketika kedua kelompok itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.' Dia (Musa) menjawab, 'Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'"

(QS. Asy-Syu‘arā’: 60–62)

Perhatikan kalimat Nabi Musa:

كَلَّا ۚ إِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku."

Inilah keyakinan kepada pertolongan Allah.

Di depan laut.

Di belakang tentara Fir‘aun.

Secara manusiawi tampaknya tidak ada jalan.

Tetapi bagi seorang mukmin:

Jika Allah bersama kita, maka tidak ada keadaan yang benar-benar buntu.


6. PERTOLONGAN ALLAH DATANG SETELAH UJIAN MENCAPAI PUNCAKNYA

Allah kemudian memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya.

فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ ۝٦٣

Artinya:

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah laut itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar."

(QS. Asy-Syu‘arā’: 63)

Kemudian Fir‘aun dan tentaranya mengikuti jalan tersebut.

Allah berfirman:

وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۝٦٥ ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۗ ۝٦٦

Artinya:

"Dan Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain."

(QS. Asy-Syu‘arā’: 65–66)

Al-Ṭabarī ketika menafsirkan QS. Al-Isrā’: 103 menegaskan bahwa Fir‘aun dan tentaranya ditenggelamkan di laut, sedangkan Musa dan Bani Israil diselamatkan.


7. KETIKA KEMATIAN DATANG, BARU FIR‘AUN MENGAKU BERIMAN

Ketika tenggelam, Fir‘aun berkata:

قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ۝٩٠

Artinya:

"Dia berkata, 'Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).'"

(QS. Yūnus: 90)

Namun Allah menjawab:

اٰلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ۝٩١

Artinya:

"Apakah sekarang (baru kamu beriman), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?"

(QS. Yūnus: 91)

Ini pelajaran yang sangat dalam:

Jangan menunda taubat.

Jangan mengatakan:

"Nanti kalau sudah tua saya akan rajin ibadah."

"Nanti kalau sudah kaya saya akan bersedekah."

"Nanti kalau sudah punya waktu saya akan belajar Al-Qur'an."

Kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu berakhir.


8. HADIS NABI ﷺ TENTANG FIR‘AUN DAN KESELAMATAN MUSA

Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī disebutkan hadis dari Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ، فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِأَصْحَابِهِ: «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ، فَصُومُوا».

Artinya:

"Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata, 'Ini adalah hari ketika Musa memperoleh kemenangan atas Fir‘aun.' Maka Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabatnya, 'Kalian lebih berhak mengikuti Musa daripada mereka, maka berpuasalah.'"

(HR. al-Bukhārī no. 4680)

Hadis ini menunjukkan bahwa kemenangan Nabi Musa عليه السلام atas Fir‘aun merupakan peristiwa besar yang mengandung pelajaran keimanan.


9. PELAJARAN BESAR: ALLAH MENOLONG ORANG YANG BERPEGANG PADA KEBENARAN

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ ۝٧

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

(QS. Muḥammad: 7)

Apa makna "menolong Allah"?

Bukan berarti Allah membutuhkan pertolongan manusia.

Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk.

Maksudnya adalah menolong agama Allah, menegakkan kebenaran, membela keadilan, menjalankan syariat, mengajarkan kebaikan, dan menjauhi kemaksiatan.


10. JANGAN MENJADI "FIR‘AUN-FIR‘AUN KECIL" DALAM KEHIDUPAN

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ketika mendengar kisah Fir‘aun, jangan hanya kita berkata:

"Fir‘aun itu orang yang sombong."

Tetapi tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah ada sifat Fir‘aun dalam diri kita?

Fir‘aun sombong ketika memiliki kekuasaan.

Apakah kita sombong ketika diberi jabatan?

Fir‘aun menindas orang yang lebih lemah.

Apakah kita pernah menyakiti orang yang berada di bawah tanggung jawab kita?

Fir‘aun tidak mau menerima nasihat.

Apakah kita sulit menerima nasihat?

Fir‘aun menggunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya.

Apakah kita menggunakan amanah untuk kepentingan pribadi?

Fir‘aun merasa dirinya paling tinggi.

Apakah kita merasa paling benar, paling pintar, paling hebat?

Inilah cara mengambil pelajaran dari Al-Qur'an.

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِي الْاَلْبَابِ

Artinya:

"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal."

(QS. Yūsuf: 111)

Jadi kisah Fir‘aun bukan sekadar cerita sejarah.

Ia adalah cermin bagi kehidupan kita.


11. KEKUASAAN ADALAH AMANAH, BUKAN ALAT UNTUK MENYOMBONGKAN DIRI

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya:

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."

(Muttafaq ‘alaih: HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Hadis ini sangat penting.

Seorang kepala sekolah adalah pemimpin.

Guru adalah pemimpin.

Orang tua adalah pemimpin.

Ketua organisasi adalah pemimpin.

Bahkan setiap manusia memimpin dirinya sendiri.

Maka jangan sampai kepemimpinan berubah menjadi kesombongan.

Semakin besar amanah, semakin besar pertanggungjawaban.


12. ALLAH BISA MEMBALIKKAN KEADAAN DALAM SEKETIKA

Kisah Fir‘aun mengajarkan bahwa keadaan dunia tidak selalu sebagaimana yang tampak.

Fir‘aun tampak kuat.

Musa tampak lemah.

Tetapi Allah membalikkan keadaan.

Fir‘aun mengejar Musa untuk membinasakannya.

Namun justru Fir‘aun yang dibinasakan.

Fir‘aun ingin mengusir Musa dari Mesir.

Namun Allah menyelamatkan Musa dan menghancurkan Fir‘aun.

Ini mengajarkan kepada kita:

Jangan takut kepada kebatilan hanya karena kebatilan tampak kuat.

Dan jangan merasa aman hanya karena memiliki kekuasaan.

Allah berfirman:

وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

"Allah tidak menyukai orang-orang zalim."

(QS. Āli ‘Imrān: 57)


13. TAFSIR IBNU KATSIR: AYAT INI JUGA MENGANDUNG PELAJARAN UNTUK UMAT NABI MUHAMMAD ﷺ

Ibnu Katsir memberikan sebuah faedah yang menarik ketika menafsirkan QS. Al-Isrā’: 103.

Beliau menghubungkan kisah Fir‘aun yang hendak mengusir Musa dengan keadaan kaum musyrikin Makkah yang hendak mengusir Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman:

وَاِنْ كَادُوْا لَيَسْتَفِزُّوْنَكَ مِنَ الْاَرْضِ لِيُخْرِجُوْكَ مِنْهَا

Artinya:

"Dan sungguh, mereka hampir membuatmu gelisah di negeri itu agar mereka dapat mengusirmu darinya."

(QS. Al-Isrā’: 76)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sebagaimana Allah akhirnya menenggelamkan Fir‘aun dan memberikan kedudukan kepada Bani Israil, ayat ini juga mengandung isyarat tentang kemenangan Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin setelah beliau mengalami tekanan dan hendak diusir dari Makkah.

Pelajarannya:

Jangan menilai akhir perjuangan hanya dari keadaan hari ini.

Allah melihat seluruh perjalanan sampai akhirnya.


14. TIGA PESAN UTAMA DARI QS. AL-ISRĀ’: 103

Pertama: Jangan sombong ketika memiliki kekuasaan.

Jabatan akan berakhir.

Kekayaan akan berakhir.

Kekuatan fisik akan berakhir.

Popularitas akan berakhir.

Yang kekal hanyalah Allah dan amal yang kita persembahkan kepada-Nya.

Kedua: Jangan takut mempertahankan kebenaran.

Musa tidak mundur meskipun berhadapan dengan Fir‘aun.

Kebenaran memang terkadang membutuhkan kesabaran.

Ketiga: Percayalah kepada pertolongan Allah.

Ketika Musa berkata:

إِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

"Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku."

Maka kita pun harus belajar mengatakan dalam hati:

Allah bersama kita dengan ilmu, pertolongan, penjagaan, dan kekuasaan-Nya.


15. RENUNGAN UNTUK KITA

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kita sedang menjadi Musa atau memiliki sebagian sifat Fir‘aun?

Apakah kita lebih suka menerima nasihat atau menolaknya?

Apakah kita menggunakan amanah untuk melayani atau untuk dilayani?

Apakah ketika mendapatkan kekuasaan kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?

Apakah ketika mendapatkan keberhasilan kita semakin rendah hati atau semakin sombong?

Karena sesungguhnya:

Fir‘aun tidak hanya perlu kita kenali sebagai tokoh sejarah.

Kita harus mengenali sifat-sifat Fir‘aun agar sifat tersebut tidak tumbuh dalam hati kita.


PENUTUP

Hadirin yang dirahmati Allah,

QS. Al-Isrā’: 103 mengajarkan kepada kita sebuah sunnatullah:

Kesombongan tidak akan mengalahkan kebenaran.

Fir‘aun memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaannya tidak mampu menyelamatkannya.

Fir‘aun mempunyai tentara, tetapi tentaranya tidak mampu melindunginya.

Fir‘aun mengejar Musa untuk membinasakan Musa, tetapi akhirnya dirinya sendiri yang binasa.

Karena itu jangan pernah merasa terlalu kuat untuk membutuhkan Allah.

Jangan pernah merasa terlalu tinggi untuk menerima nasihat.

Jangan pernah merasa terlalu kaya untuk bersyukur.

Jangan pernah merasa terlalu berkuasa untuk berlaku adil.

Dan jangan pernah menunda taubat.

Sebab kita tidak mengetahui kapan pertolongan Allah datang dan kapan ajal menjemput.

Mari kita berdoa:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكِبْرِ وَالظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ.

"Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesombongan, kezaliman, dan sikap melampaui batas."

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِينَ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْحَقِّ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ وَالثَّبَاتَ، وَانْصُرْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَهَوَانَا.

"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang beriman. Teguhkan kami di atas kebenaran, berikan kami kesabaran dan keteguhan, serta tolonglah kami melawan hawa nafsu dan kelemahan diri kami."

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Tidak ada komentar