Ketika Perhiasan Dunia Menjadi Tanah yang Tandus

Materi Ceramah: Ketika Perhiasan Dunia Menjadi Tanah yang Tandus

Kajian QS. Al-Kahf [18]: 8

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1. Ayat yang Menjadi Pokok Pembahasan

QS. Al-Kahf ayat 8

وَاِنَّا لَجٰعِلُوْنَ مَا عَلَيْهَا صَعِيْدًا جُرُزًاۗ

Artinya:

“Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.”

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Pada ayat 7 Allah menjelaskan bahwa segala sesuatu di bumi dijadikan sebagai perhiasan dan ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya. Pada ayat 8 Allah mengingatkan bahwa seluruh keindahan tersebut tidak kekal.

Tema utama ceramah

“Dunia Hanya Perhiasan Sementara: Jangan Sampai Kita Lulus dalam Mengumpulkan Dunia tetapi Gagal dalam Ujian Allah.”


2. Dunia Itu Indah, tetapi Tidak Kekal

Allah berfirman:

اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.”
(QS. Al-Kahf [18]: 7)

Kemudian langsung dilanjutkan:

وَاِنَّا لَجٰعِلُوْنَ مَا عَلَيْهَا صَعِيْدًا جُرُزًا

Artinya:

“Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.”
(QS. Al-Kahf [18]: 8)

Pelajaran penting

Allah seakan-akan mengajarkan:

“Jangan tertipu oleh keindahan dunia. Apa yang hari ini hijau, besok bisa kering. Apa yang hari ini kuat, besok bisa hancur. Apa yang hari ini kita miliki, suatu saat akan kita tinggalkan.”

Karena itu, yang menjadi ukuran keberhasilan bukan berapa banyak dunia yang kita kumpulkan, tetapi:

أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.”

Bukan أكثر عملاً — “yang paling banyak amalnya”, tetapi أحسن عملاً — “yang paling baik amalnya”.


3. Dunia Adalah Ujian, Bukan Tujuan Akhir

Allah berfirman:

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

Artinya:

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
(QS. Al-Anfāl [8]: 28)

Ulasan

Harta bukan selalu tanda bahwa Allah memuliakan seseorang. Sebaliknya, kemiskinan juga bukan otomatis tanda bahwa seseorang hina.

Keduanya adalah ujian.

Orang kaya diuji:

  • Apakah ia bersyukur?
  • Apakah ia membayar zakat?
  • Apakah ia bersedekah?
  • Apakah hartanya diperoleh dengan cara halal?
  • Apakah ia menggunakan hartanya untuk kebaikan?

Orang yang sedikit hartanya diuji:

  • Apakah ia bersabar?
  • Apakah ia tetap halal dalam mencari rezeki?
  • Apakah ia tidak iri?
  • Apakah ia tetap bersyukur?

4. Dunia Itu “Manis dan Hijau”

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللّٰهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ.

Artinya:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal. Maka takutlah terhadap dunia dan takutlah terhadap wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama Bani Israil adalah dalam masalah wanita.”

(HR. Muslim, no. 2742).

Perhatikan kalimat:

فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal.”

Ini sangat erat dengan QS. Al-Kahf ayat 7.

Allah memberikan dunia bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi untuk menguji bagaimana kita menggunakannya.


5. Dunia Tidak Boleh Mengalahkan Akhirat

Allah berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا ۖ ۝ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

Artinya:

“Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

(QS. Al-A‘lā [87]: 16–17)

Ada dua sifat dunia:

1. Dunia itu sementara

Sebanyak apa pun harta seseorang, semuanya akan ditinggalkan.

Rumah ditinggalkan.

Kendaraan ditinggalkan.

Jabatan ditinggalkan.

Uang ditinggalkan.

Bahkan tubuh kita sendiri akan kembali menjadi tanah.

2. Akhirat itu kekal

Allah berfirman:

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

“Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

Karena itu, orang yang cerdas bukan orang yang hanya memikirkan bagaimana hidup nyaman selama 60–70 tahun di dunia.

Orang yang cerdas memikirkan:

“Bagaimana kehidupan saya setelah kematian?”


6. Rasulullah ﷺ Mengajarkan Perbandingan Dunia dan Akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللّٰهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

Artinya:

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke lautan, lalu hendaknya ia melihat apa yang kembali dibawa oleh jarinya.”

(HR. Muslim, no. 2858).

Renungan

Bayangkan seseorang mencelupkan jarinya ke laut.

Kemudian ia mengangkat jarinya.

Berapa banyak air laut yang menempel?

Sangat sedikit.

Demikianlah perbandingan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat.

Maka jangan sampai kita mendapatkan sedikit “air” dunia, tetapi kehilangan “lautan” akhirat.


7. “صَعِيْدًا جُرُزًا” — Dunia yang Menjadi Tandus

Allah menggunakan ungkapan:

صَعِيْدًا جُرُزًا

Ṣa‘īdan juruzā

Maknanya adalah tanah yang tandus, kering, tidak memiliki tumbuhan dan tidak memberikan keindahan seperti sebelumnya.

Ini merupakan gambaran tentang berakhirnya kehidupan dunia dan hilangnya perhiasannya.

Allah juga berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ فَاَصْبَحَ هَشِيْمًا تَذْرُوْهُ الرِّيٰحُ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا

Artinya:

“Dan buatlah untuk mereka perumpamaan kehidupan dunia, seperti air yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

(QS. Al-Kahf [18]: 45).

Perhatikan hubungan ayat 7–8 dengan ayat 45.

Ayat 7: dunia dibuat indah.

Ayat 8: dunia akan menjadi tandus.

Ayat 45: Allah menggambarkan dunia seperti tumbuhan yang tumbuh subur kemudian mengering dan diterbangkan angin.


8. Penjelasan Para Ulama

A. Imam ath-Thabari رحمه الله

Imam ath-Thabari menjelaskan makna صَعِيْدًا جُرُزًا sebagai tanah yang tidak memiliki tumbuhan.

Dengan demikian, Allah mengingatkan bahwa perhiasan bumi yang membuat manusia kagum itu pada akhirnya dapat hilang dan kembali menjadi tanah yang tandus.[^1]

Pelajarannya

Apa yang kita lihat hari ini sebagai sesuatu yang sangat besar sebenarnya berada di bawah kekuasaan Allah.

Allah bisa:

menciptakan → memperindah → menguji → menghilangkan.


B. Imam Ibnu Katsir رحمه الله

Ibnu Katsir mengaitkan ayat ini dengan hakikat dunia yang akan mengalami kehancuran.

Beliau juga menjelaskan bahwa Allah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan untuk menguji manusia, bukan agar manusia menjadikannya sebagai tujuan akhir.[^2]

Ini sangat penting.

Dunia adalah alat.

Bukan:

“Dunia adalah Tuhan.”

Bukan:

“Dunia adalah tujuan.”

Tetapi:

“Dunia adalah sarana menuju akhirat.”


C. Imam al-Qurthubi رحمه الله

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa الْجُرُز menunjukkan tanah yang tidak mempunyai tumbuh-tumbuhan atau sangat sedikit tumbuhannya.

Ayat tersebut menjadi peringatan agar manusia tidak tertipu dengan keindahan dunia karena keindahan itu akan mengalami perubahan dan kehancuran.[^3]


9. Dunia Boleh Dicintai, Tetapi Tidak Boleh Menjadi Sesembahan

Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia secara mutlak.

Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”

(QS. Al-Qashash [28]: 77).

Jadi prinsipnya bukan:

“Jangan memiliki dunia.”

Tetapi:

“Jangan sampai dunia memiliki hatimu.”

Boleh punya rumah bagus.

Boleh punya kendaraan.

Boleh memiliki usaha.

Boleh memiliki jabatan.

Boleh memiliki harta.

Tetapi semuanya harus menjadi sarana ketaatan kepada Allah.


10. Harta yang Berkah Adalah Harta yang Mengantarkan kepada Kebaikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

Artinya:

“Sebaik-baik harta adalah harta yang baik bagi orang yang saleh.”

(HR. Ahmad; dinilai sahih oleh sejumlah ulama).

Harta yang baik bukan sekadar banyak.

Harta yang baik adalah harta yang:

  • diperoleh dengan cara halal;
  • digunakan untuk kebutuhan halal;
  • digunakan membantu orang lain;
  • digunakan untuk pendidikan;
  • digunakan untuk dakwah;
  • digunakan untuk sedekah;
  • digunakan menjaga keluarga;
  • dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

11. Jangan Sampai Kita Menjadi Hamba Dunia

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

Artinya:

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.”

(HR. al-Bukhari, no. 2887).

Perhatikan istilah Nabi ﷺ:

عَبْدُ الدِّيْنَارِ

Hamba dinar.”

Bukan karena memiliki uang itu salah.

Tetapi karena hatinya diperbudak oleh uang.


12. Dunia Bisa Menjadi Ladang Pahala

Allah berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۗهُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًا

Artinya:

“Kebaikan apa pun yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah. Itulah yang lebih baik dan lebih besar pahalanya.”

(QS. Al-Muzzammil [73]: 20).

Maka uang yang sama bisa menghasilkan dua keadaan:

Uang digunakan untuk maksiat

→ menjadi sebab dosa.

Uang digunakan untuk kebaikan

→ menjadi sebab pahala.

Rumah yang sama:

  • bisa menjadi tempat maksiat;
  • bisa menjadi tempat keluarga belajar Al-Qur'an;
  • bisa menjadi tempat anak-anak tumbuh menjadi orang saleh.

Kendaraan yang sama:

  • bisa digunakan untuk maksiat;
  • bisa digunakan mengantar orang tua;
  • bisa digunakan menghadiri majelis ilmu;
  • bisa digunakan membantu orang lain.

Yang menentukan bukan bendanya semata, tetapi bagaimana kita menggunakannya.


13. Ujian Terbesar: Ketika Dunia Membuat Kita Lupa Akhirat

Allah memperingatkan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi.”

(QS. Al-Munāfiqūn [63]: 9).

Ini bukan berarti memiliki harta dan anak adalah masalah.

Masalahnya adalah ketika:

harta → membuat lupa shalat.

pekerjaan → membuat lupa Al-Qur'an.

bisnis → membuat lupa zakat.

jabatan → membuat sombong.

anak → membuat kita mengabaikan kewajiban kepada Allah.

Ketika itulah nikmat berubah menjadi fitnah.


14. Bagaimana Agar Lulus Ujian Dunia?

Pertama: Bersyukur ketika mendapat nikmat

Allah berfirman:

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ

Artinya:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

(QS. Ibrahim [14]: 7).


Kedua: Jangan sombong dengan apa yang dimiliki

Allah berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا

Artinya:

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. Sungguh, engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”

(QS. Al-Isrā’ [17]: 37).


Ketiga: Gunakan dunia untuk membangun akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim, no. 1631).

Maka gunakan:

harta → untuk sedekah.

ilmu → untuk mengajar.

rumah → untuk mendidik keluarga.

jabatan → untuk melayani.

tenaga → untuk kebaikan.

waktu → untuk ibadah.


15. Renungan: Suatu Hari Semuanya Akan Berubah

Bapak/Ibu dan kaum Muslimin yang dirahmati Allah...

Hari ini kita melihat:

🌱 sawah yang hijau.
🌳 pepohonan yang rindang.
🏠 rumah yang megah.
🚗 kendaraan yang bagus.
💰 rekening yang penuh.
👨‍👩‍👧‍👦 keluarga yang lengkap.

Tetapi QS. Al-Kahf ayat 8 mengingatkan:

وَاِنَّا لَجٰعِلُوْنَ مَا عَلَيْهَا صَعِيْدًا جُرُزًا

“Kami benar-benar akan menjadikan apa yang ada di atas bumi menjadi tanah yang tandus.”

Yang hari ini kita banggakan, suatu saat akan hilang.

Yang tersisa bukan:

“Berapa rumah yang saya punya?”

Tetapi:

“Apa yang saya lakukan dengan rumah itu?”

Bukan:

“Berapa uang yang saya kumpulkan?”

Tetapi:

“Dari mana uang itu dan ke mana saya membelanjakannya?”

Bukan:

“Seberapa tinggi jabatan saya?”

Tetapi:

“Apa yang saya lakukan dengan amanah tersebut?”


16. Inti Pesan QS. Al-Kahf Ayat 7–8

Dua ayat ini dapat diringkas menjadi empat pesan besar:

1. 🌍 Dunia adalah perhiasan

زِيْنَةً لَّهَا

Allah memperindah dunia agar manusia dapat menikmati dan memanfaatkannya.

2. 🧪 Dunia adalah ujian

لِنَبْلُوَهُمْ

Kita diuji melalui apa yang kita miliki.

3. ⭐ Yang dinilai adalah kualitas amal

أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Bukan siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling baik amalnya.

4. 🌾 Dunia akan berakhir

صَعِيْدًا جُرُزًا

Keindahan dunia tidak akan selamanya.


17. Penutup Ceramah

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Jangan sampai kita terlalu sibuk menghias rumah tetapi lupa menghias hati.

Jangan sampai kita:

sibuk memperindah dunia, tetapi lupa mempersiapkan kubur.

sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa mengumpulkan amal.

sibuk mengejar jabatan, tetapi lupa mengejar ridha Allah.

sibuk memikirkan masa depan anak di dunia, tetapi lupa memikirkan masa depan mereka di akhirat.

Mari kita jadikan dunia sebagai ladang akhirat.

Ketika diberi harta, kita bersyukur.

Ketika diberi jabatan, kita amanah.

Ketika diberi ilmu, kita ajarkan.

Ketika diberi keluarga, kita didik.

Ketika diberi kesempatan, kita gunakan untuk kebaikan.

Karena pada akhirnya:

Yang hijau akan mengering.
Yang indah akan berubah.
Yang kuat akan melemah.
Yang hidup akan mati.
Dan yang kekal hanyalah Allah serta kehidupan akhirat yang telah Dia janjikan.

Allah berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ

Artinya:

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”

(QS. Ar-Raḥmān [55]: 26–27).

Doa

اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلْهَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا.

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan batas pengetahuan kami. Jadikanlah dunia berada di tangan kami, dan jangan Engkau jadikan dunia bersemayam di dalam hati kami.”

اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي دُنْيَانَا، وَأَصْلِحْ لَنَا أُخْرَانَا، وَاجْعَلْ دُنْيَانَا زَادًا لَنَا إِلَى الْآخِرَةِ.

“Ya Allah, berkahilah kehidupan dunia kami, perbaikilah kehidupan akhirat kami, dan jadikan kehidupan dunia kami sebagai bekal menuju akhirat.”

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


Catatan kaki / Rujukan

[^1]: Muḥammad bin Jarīr ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 8.
[^2]: Ismā‘īl bin ‘Umar Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 7–8.
[^3]: Abū ‘Abdillāh al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 8.
[^4]: Abū al-Ḥusain Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb ar-Riqāq, hadis no. 2742 dan 2858.
[^5]: Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis tentang “hamba dinar”, no. 2887.
[^6]: Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Waṣiyyah, hadis no. 1631.
[^7]: Al-Qur’an, QS. Al-Kahf [18]: 7–8; QS. Al-Anfāl [8]: 28; QS. Al-A‘lā [87]: 16–17; QS. Al-Kahf [18]: 45; QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 77; QS. Al-Munāfiqūn [63]: 9; QS. Ar-Raḥmān [55]: 26–27.

Tidak ada komentar