Mengapa Allah Mengutus Rasul dari Kalangan Manusia?

Materi Ceramah Tafsir Surah Al-Isrā’ Ayat 95

“Mengapa Allah Mengutus Rasul dari Kalangan Manusia?”

Pembukaan

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menggambarkan berbagai tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mereka meminta mukjizat sesuai keinginan mereka: mata air, kebun, jatuhnya langit, melihat Allah dan malaikat, rumah dari emas, bahkan naik ke langit dan membawa kitab khusus.

Setelah itu mereka mempersoalkan sesuatu yang sangat mendasar:

“Mengapa rasul yang diutus Allah adalah manusia?”

Allah menjawab pertanyaan itu dengan sangat tegas dalam Surah Al-Isrā’ ayat 95.


1. Ayat dan maknanya

QS. Al-Isrā’: 95

قُلْ لَّوْ كَانَ فِى الْاَرْضِ مَلٰۤىِٕكَةٌ يَّمْشُوْنَ مُطْمَىِٕنِّيْنَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَلَكًا رَّسُوْلًا

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sekiranya di bumi ada para malaikat yang berjalan-jalan dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit untuk menjadi rasul.’”

Pesan utama ayat

Ayat ini menjelaskan sebuah prinsip penting:

Allah mengutus rasul yang sesuai dengan kondisi umat yang menerima risalah tersebut.

Karena manusia tinggal di bumi dan menjalani kehidupan manusiawi, maka Allah mengutus manusia sebagai rasul.


2. Mengapa rasul harus berasal dari manusia?

Kaum musyrikin menganggap bahwa seorang rasul seharusnya malaikat. Mereka berpikir bahwa manusia biasa tidak pantas menerima wahyu.

Padahal justru manusia lebih tepat menjadi teladan bagi manusia.

Rasulullah ﷺ makan, minum, menikah, bekerja, berdagang, bermuamalah, menghadapi kesedihan, menghadapi peperangan, mendidik anak-anak, bermasyarakat, dan mengalami berbagai ujian.

Dengan demikian manusia dapat berkata:

“Kalau Rasulullah ﷺ mampu taat kepada Allah dalam kehidupan manusia yang penuh ujian, maka aku pun harus mampu mengikutinya.”

Inilah salah satu hikmah besar diutusnya Rasul dari kalangan manusia.


3. Dalil Al-Qur'an: Rasul adalah manusia yang menerima wahyu

Allah berfirman:

QS. Al-Kahf: 110

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًا

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.’”

Perhatikan kalimat:

بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ — “seorang manusia seperti kamu.”

Rasulullah ﷺ adalah manusia, tetapi beliau bukan manusia biasa dalam kedudukan kenabian, karena Allah memilih beliau dan memberikan wahyu kepadanya.

Pelajaran

Kita tidak boleh:

  • mengangkat Rasulullah ﷺ menjadi Tuhan;
  • menganggap beliau memiliki sifat ketuhanan;
  • ataupun merendahkan beliau sebagai manusia biasa tanpa keistimewaan.

Sikap yang benar adalah:

Beliau adalah manusia dan hamba Allah, tetapi beliau adalah manusia pilihan Allah dan Rasul-Nya.


4. Allah sengaja memilih rasul dari kalangan manusia

Allah berfirman:

QS. Āli ‘Imrān: 164

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Artinya:

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Ayat ini menyebut empat tugas utama Rasulullah ﷺ:

  1. يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ
    Membacakan ayat-ayat Allah.

  2. وَيُزَكِّيْهِمْ
    Menyucikan jiwa manusia.

  3. وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ
    Mengajarkan Al-Qur'an.

  4. وَالْحِكْمَةَ
    Mengajarkan hikmah, yang dijelaskan para ulama antara lain sebagai Sunnah Rasulullah ﷺ.


5. Rasulullah ﷺ adalah teladan kehidupan

Kalau Rasul berupa malaikat, manusia mungkin berkata:

“Kami tidak mungkin meniru beliau karena beliau malaikat.”

Namun Allah mengutus manusia agar manusia mempunyai contoh nyata.

Allah berfirman:

QS. Al-Aḥzāb: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

Artinya:

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Kata yang sangat penting adalah:

أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Teladan yang baik.”

Rasulullah ﷺ bukan hanya membawa teori. Beliau mempraktikkan Islam dalam kehidupan nyata.

Beliau menunjukkan:

  • bagaimana menjadi hamba Allah;
  • bagaimana menjadi suami;
  • bagaimana menjadi ayah;
  • bagaimana menjadi guru;
  • bagaimana menjadi pemimpin;
  • bagaimana menghadapi musuh;
  • bagaimana memperlakukan orang miskin;
  • bagaimana memaafkan;
  • bagaimana bersabar;
  • bagaimana beribadah.

6. Hadis: Rasulullah ﷺ adalah contoh nyata dalam ibadah

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Artinya:

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.”

HR. al-Bukhārī.

Perhatikan kalimat “sebagaimana kalian melihat aku.”

Ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kepada umat manusia seorang rasul yang dapat dilihat, diikuti dan diteladani secara langsung.

Tidak cukup bagi manusia hanya mengetahui teori salat. Mereka membutuhkan contoh nyata.

Demikian pula Rasulullah ﷺ menjadi contoh dalam seluruh aspek kehidupan.


7. Rasulullah ﷺ merasakan apa yang dirasakan manusia

Allah berfirman:

QS. At-Taubah: 128

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

Allah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki perhatian yang sangat besar kepada umatnya.

Karena beliau manusia, beliau memahami:

  • rasa lapar;
  • rasa sakit;
  • kesedihan;
  • kehilangan;
  • ketakutan;
  • kebutuhan keluarga;
  • perjuangan mencari nafkah;
  • beratnya menghadapi manusia.

Karena itu dakwah beliau menyentuh kehidupan nyata.


8. Rasulullah ﷺ juga mengalami ujian

Rasulullah ﷺ pernah kehilangan orang-orang yang beliau cintai.

Beliau mengalami:

  • penolakan dakwah;
  • hinaan;
  • pemboikotan;
  • tekanan;
  • pengusiran;
  • peperangan;
  • kehilangan para sahabat;
  • wafatnya orang-orang yang beliau cintai.

Namun beliau tetap istiqamah.

Ini merupakan pelajaran besar bagi kita:

Kesulitan bukan alasan untuk meninggalkan ketaatan.

Kalau seseorang berkata:

“Saya sulit berbuat baik karena banyak masalah.”

Maka lihatlah Rasulullah ﷺ.

Beliau menghadapi masalah yang jauh lebih berat, tetapi tetap menjadi hamba Allah yang paling teguh.


9. Para rasul terdahulu juga manusia

Allah berfirman:

QS. Ibrāhīm: 11

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ اِنْ نَّحْنُ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَمُنُّ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَمَا كَانَ لَنَآ اَنْ نَّأْتِيَكُمْ بِسُلْطٰنٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Artinya:

“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, ‘Kami hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Kami tidak dapat mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.’”

Jadi, menjadi manusia tidak bertentangan dengan kenabian.

Yang membedakan Rasul dengan manusia lainnya adalah:

Allah memilih mereka, memberikan wahyu kepada mereka, dan mengutus mereka untuk menyampaikan risalah-Nya.


10. Komentar para ulama

A. Imam ath-Ṭabarī

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, ath-Ṭabarī menjelaskan makna ayat ini secara ringkas bahwa jika penghuni bumi adalah malaikat, tentu Allah akan mengutus rasul dari jenis mereka sendiri.

Ini menunjukkan prinsip:

Rasul diutus sesuai dengan jenis dan keadaan kaum yang menjadi objek risalah.


B. Imam Ibn Kathīr

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibn Kathīr menjelaskan bahwa Allah membantah anggapan orang-orang kafir yang menginginkan rasul berupa malaikat.

Jika yang tinggal di bumi adalah malaikat, maka rasul malaikat akan sesuai dengan mereka. Tetapi karena manusia yang menjadi penghuni bumi, Allah mengutus manusia sebagai rasul.

Dengan demikian, persoalan bukan:

“Mengapa Muhammad manusia?”

Tetapi justru:

“Bukankah manusia membutuhkan rasul yang dapat mereka teladani?”


C. Imam al-Qurṭubī

Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, al-Qurṭubī menerangkan bahwa hikmah rasul berasal dari jenis manusia adalah agar manusia dapat memahami ucapan, perilaku dan keadaan rasul tersebut serta memungkinkan mereka mengikuti teladannya.


D. Fakhruddīn ar-Rāzī

Dalam Mafātīḥ al-Ghayb (Tafsīr al-Kabīr), ar-Rāzī menguraikan hikmah pengutusan rasul dari kalangan manusia.

Intinya, seorang rasul harus menjadi hujjah yang dapat dipahami dan diteladani oleh manusia. Kalau rasul tidak memiliki kesamaan keadaan dengan manusia, manusia dapat menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk tidak mengikuti.


11. Rasul bukan manusia biasa dalam hal wahyu

Ada hal penting yang harus dipahami.

Ketika Allah mengatakan:

بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ

“seorang manusia seperti kamu,”

bukan berarti Nabi Muhammad ﷺ sama dengan kita dalam seluruh kedudukan.

Kita manusia biasa.

Beliau:

  • Nabi Allah
  • Rasul Allah
  • menerima wahyu;
  • mendapatkan penjagaan Allah dalam menyampaikan risalah;
  • menjadi teladan umat;
  • memiliki kedudukan yang sangat mulia.

Allah berfirman:

QS. Al-Fatḥ: 29

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ

Artinya:

“Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap tegas terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka.”

Maka kita berada di antara dua sikap:

Jangan berlebihan

Jangan mengangkat Rasulullah ﷺ kepada kedudukan ketuhanan.

Jangan merendahkan

Jangan pula menyamakan beliau dengan manusia biasa dalam kedudukan, kemuliaan dan kenabian.


12. Pelajaran penting bagi pendidik dan orang tua

Ayat ini sangat relevan dalam pendidikan.

Allah tidak hanya memberikan buku, tetapi memberikan guru dan teladan.

Allah mengutus Rasulullah ﷺ sebagai:

مُعَلِّمًا وَمُزَكِّيًا

seorang pendidik dan penyuci jiwa.

Karena itu dalam mendidik anak, jangan hanya mengatakan:

“Jangan bohong!”

Tetapi guru dan orang tua harus menjadi contoh kejujuran.

Jangan hanya mengatakan:

“Rajin salat!”

Tetapi anak harus melihat orang tua dan gurunya menjaga salat.

Jangan hanya mengatakan:

“Jangan berkata kasar!”

Tetapi guru harus menunjukkan akhlak yang lembut.

Inilah metode keteladanan (uswah).


13. Jangan mencari bukti sesuai keinginan hawa nafsu

Sikap kaum Quraisy memberikan pelajaran yang sangat penting.

Mereka tidak berkata:

“Jika ini benar, kami akan mengikuti.”

Sebaliknya mereka berkata:

“Kami baru akan percaya jika engkau memenuhi permintaan kami.”

Ini adalah perbedaan antara pencari kebenaran dan pencari pembenaran.

Pencari kebenaran

Berkata:

“Ya Allah, tunjukkan kepadaku kebenaran dan berikan aku kekuatan untuk mengikutinya.”

Pencari pembenaran

Berkata:

“Saya akan percaya kalau kebenaran sesuai dengan keinginan saya.”

Maka masalah terbesar sering kali bukan kurangnya bukti, tetapi hati yang tidak mau tunduk kepada kebenaran.


14. Hadis tentang mengikuti Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ

Artinya:

“Barang siapa menaati aku, sungguh dia telah menaati Allah. Dan barang siapa mendurhakaiku, sungguh dia telah mendurhakai Allah.”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Mengapa ketaatan kepada Rasul begitu penting?

Karena Rasulullah ﷺ tidak membawa agama berdasarkan hawa nafsunya. Beliau menyampaikan wahyu Allah.


15. Bukti cinta kepada Rasul bukan sekadar ucapan

Allah berfirman:

QS. Āli ‘Imrān: 31

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Ayat ini memberikan ukuran cinta yang sangat jelas:

Cinta → mengikuti.

Bukan hanya:

“Saya cinta Rasulullah.”

Tetapi:

“Saya berusaha mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.”


16. Intisari tafsir Al-Isrā’ ayat 95

Dari ayat ini kita mendapatkan 7 pelajaran besar:

1. Allah Maha Bijaksana

Allah tidak mengutus rasul secara sembarangan.

2. Rasul adalah manusia

Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia, bukan Tuhan.

3. Rasul menerima wahyu

Yang membedakan beliau dengan manusia biasa adalah kenabian dan wahyu.

4. Manusia membutuhkan teladan

Karena itu Rasulullah ﷺ menjadi uswah hasanah.

5. Mukjizat bukan untuk mengikuti hawa nafsu

Mukjizat adalah tanda kebenaran yang Allah berikan sesuai hikmah-Nya.

6. Menolak kebenaran karena tidak sesuai keinginan adalah penyakit hati

Orang Quraisy bukan sekadar kekurangan bukti; mereka mengajukan tuntutan sebagai alasan untuk menolak.

7. Tugas kita adalah mengikuti Rasul

Bukan menguji agama dengan selera pribadi.


Penutup Ceramah

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Surah Al-Isrā’ ayat 95 mengajarkan kepada kita bahwa Allah mengetahui apa yang paling dibutuhkan manusia.

Allah tidak mengutus malaikat sebagai rasul kepada manusia, tetapi mengutus manusia pilihan-Nya.

Agar manusia dapat berkata:

Rasulullah ﷺ juga manusia.
Beliau lapar, kita lapar.
Beliau diuji, kita diuji.
Beliau bersedih, kita bersedih.
Beliau memiliki keluarga, kita memiliki keluarga.
Beliau hidup di tengah masyarakat, kita juga hidup di tengah masyarakat.

Namun dalam seluruh keadaan itu beliau tetap menjadi hamba Allah yang paling taat dan teladan terbaik.

Maka jangan berkata:

“Saya tidak mungkin menjadi orang baik.”

Tetapi katakan:

“Saya akan belajar mengikuti Rasulullah ﷺ sesuai kemampuan saya.”

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, mengikuti Sunnahnya, meneladani akhlaknya, dan dikumpulkan bersama beliau di akhirat.

Doa

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَحَشْرَنَا فِي زُمْرَتِهِ، وَاسْقِنَا مِنْ حَوْضِهِ، وَلَا تَحْرِمْنَا شَفَاعَتَهُ.

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi-Mu Muhammad ﷺ, karuniakanlah kepada kami kemampuan mengikuti Sunnahnya, kumpulkanlah kami bersama golongannya, berilah kami minum dari telaganya, dan jangan Engkau haramkan kami dari syafaatnya.”

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Rujukan utama

  • Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Ibn Kathīr, tafsir QS. Al-Isrā’: 95.
  • Jāmi‘ al-Bayān — ath-Ṭabarī, tafsir QS. Al-Isrā’: 95.
  • Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — al-Qurṭubī, tafsir QS. Al-Isrā’: 95.
  • Mafātīḥ al-Ghayb — Fakhruddīn ar-Rāzī, tafsir QS. Al-Isrā’: 95.
  • Ṣaḥīḥ al-Bukhārī — hadis tentang “salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat” dan ketaatan kepada Rasul.
  • Ṣaḥīḥ Muslim — hadis tentang kewajiban mengikuti Rasulullah ﷺ.
  • Tafsīr as-Sa‘dī — ‘Abdurraḥmān as-Sa‘dī, tafsir QS. Al-Isrā’: 95 dan ayat-ayat terkait.

Tidak ada komentar