Mengapa Rasul Itu Manusia? (Jalan Hidayah dan Bahaya Kesombongan terhadap Kebenaran)
Materi Ceramah Surah Al-Isrā’ Ayat 94
“Mengapa Rasul Itu Manusia?” — Jalan Hidayah dan Bahaya Kesombongan terhadap Kebenaran
Pembukaan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Pada kesempatan ini marilah kita tadabburi firman Allah dalam Surah Al-Isrā’ ayat 94, yang mengungkap salah satu penyakit besar manusia ketika berhadapan dengan kebenaran: menolak petunjuk bukan karena bukti tidak jelas, tetapi karena kesombongan dan keinginan agar kebenaran datang sesuai dengan keinginannya.
1. Firman Allah: Al-Isrā’ ayat 94
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا
Artinya:
“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepadanya, selain perkataan mereka, ‘Mengapa Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?’”
Makna utama ayat
Ayat ini menunjukkan bahwa sebagian manusia bukan tidak mengetahui kebenaran, tetapi mereka menolak karena kebenaran tersebut tidak sesuai dengan standar dan keinginan mereka.
Mereka berkata:
“Mengapa Muhammad seorang manusia?”
Seakan-akan mereka ingin mengatakan:
“Kalau benar utusan Allah, seharusnya malaikat.”
Padahal justru kerasulan manusia merupakan bentuk rahmat Allah, karena manusia dapat memahami manusia lain, meneladani kehidupan rasul, dan mengikuti contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mengapa Rasulullah ﷺ harus seorang manusia?
Allah menjelaskan hikmah tersebut dalam ayat lain:
قُلْ لَوْ كَانَ فِي الْأَرْضِ مَلَائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَسُولًا
Artinya:
“Katakanlah, ‘Sekiranya di bumi ada para malaikat yang berjalan-jalan dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka dari langit malaikat sebagai rasul.’”
(QS. Al-Isrā’: 95)
Perhatikan urutannya: manusia di bumi membutuhkan rasul dari jenis manusia, sebagaimana malaikat—seandainya mereka menjadi penduduk bumi—akan mendapatkan rasul dari kalangan malaikat.
Pelajaran
Allah tidak memilih rasul berdasarkan:
- kekayaan,
- jabatan,
- keturunan,
- popularitas,
- kekuatan fisik,
- atau kedudukan sosial.
Allah memilih berdasarkan kehendak dan hikmah-Nya.
3. Para rasul adalah manusia, tetapi mendapatkan wahyu
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’”
(QS. Al-Kahf: 110)
Ayat ini sangat penting.
Rasulullah ﷺ adalah basyar—manusia. Beliau makan, minum, tidur, menikah, sakit, berjalan di pasar, mengalami kesedihan dan kegembiraan.
Namun beliau mempunyai keistimewaan terbesar:
يُوحَىٰ إِلَيَّ — “Aku diberi wahyu.”
Jadi, yang membedakan nabi dan rasul bukan karena mereka bukan manusia, tetapi karena Allah memilih mereka dan memberikan wahyu kepada mereka.
4. Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan bahwa beliau adalah manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي
Artinya:
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku bisa lupa sebagaimana kalian lupa. Apabila aku lupa, maka ingatkanlah aku.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Ulasan
Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan kita mengangkat Rasulullah ﷺ menjadi sesuatu yang bukan manusia.
Namun pada saat yang sama, kita juga tidak boleh merendahkan beliau sebagai manusia biasa tanpa keistimewaan.
Beliau adalah:
بَشَرٌ + رَسُولٌ
Manusia + Rasul Allah.
Beliau manusia dalam sifat-sifat kemanusiaannya, tetapi beliau memiliki kedudukan khusus sebagai utusan Allah dan penerima wahyu.
5. Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan yang bisa kita ikuti
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Aḥzāb: 21)
Bayangkan jika rasul berupa malaikat.
Manusia mungkin berkata:
“Wajar dia tidak berdosa, dia malaikat.”
Tetapi Allah mengutus manusia agar kita dapat mengatakan:
“Rasulullah ﷺ juga manusia, tetapi beliau mampu menjadi hamba Allah yang paling taat. Maka kita pun harus berusaha mengikuti beliau.”
Inilah salah satu hikmah besar kerasulan manusia.
6. Para nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ juga manusia
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ
Artinya:
“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu di antara penduduk negeri.”
(QS. Yūsuf: 109)
Dengan demikian, Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ﷺ bukanlah malaikat.
Mereka adalah manusia yang Allah pilih menjadi rasul.
7. Al-Qur'an menjawab logika orang-orang yang menginginkan malaikat sebagai rasul
Allah berfirman:
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَّجَعَلْنَاهُ رَجُلًا وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَّا يَلْبِسُونَ
Artinya:
“Dan sekiranya Kami menjadikannya sebagai malaikat, tentulah Kami jadikan dia berwujud manusia dan mereka tetap akan terkena kesamaran seperti yang mereka alami sekarang.”
(QS. Al-An‘ām: 9)
Artinya, persoalan mereka sebenarnya bukan sekadar bentuk rasul.
Masalah utamanya adalah hati yang tidak mau tunduk.
Kalau mereka diberi rasul manusia, mereka menolak.
Kalau diberikan malaikat pun, mereka tetap bisa mencari alasan lain.
8. Masalah sebenarnya: hati yang tidak mau menerima kebenaran
Allah menggambarkan sebagian manusia:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
Artinya:
“Mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya karena kezaliman dan kesombongan.”
(QS. An-Naml: 14)
Ini adalah penyakit yang sangat berbahaya:
العِنَادُ وَالْكِبْرُ
keras kepala dan kesombongan.
Seseorang bisa mengetahui sesuatu itu benar, tetapi tetap menolaknya karena:
- gengsi,
- takut kehilangan kedudukan,
- tidak mau mengakui kesalahan,
- mengikuti tradisi,
- fanatisme kelompok,
- atau merasa dirinya lebih hebat.
9. Iblis adalah contoh paling besar
Perhatikan dialog Allah dengan Iblis.
Allah berfirman:
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Artinya:
“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku memerintahkanmu?’ Ia menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’”
(QS. Al-A‘rāf: 12)
Iblis tahu bahwa Allah adalah Tuhannya.
Iblis mengetahui perintah Allah.
Tetapi dia menolak karena sombong.
Maka bahaya terbesar bukan sekadar tidak memiliki pengetahuan.
Bahaya yang lebih besar adalah:
memiliki pengetahuan tetapi tidak mau tunduk kepada kebenaran.
10. Hadis tentang kesombongan
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
فَقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً.
قَالَ:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarah.”
Seseorang berkata, “Sesungguhnya seseorang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”
Beliau ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim, no. 91)
Dua ciri kesombongan menurut hadis:
1. بَطَرُ الْحَقِّ — menolak kebenaran.
2. غَمْطُ النَّاسِ — meremehkan manusia.
Ini sangat berkaitan dengan Al-Isrā’ ayat 94.
Mereka berkata:
“Mengapa Allah mengutus manusia?”
Bukan karena bukti tidak ada, tetapi karena mereka tidak menerima bentuk kebenaran yang Allah pilihkan.
11. Jangan menentukan kebenaran berdasarkan keinginan kita
Inilah pelajaran besar dari rangkaian ayat Al-Isrā’: 90–94.
Orang-orang Quraisy sebelumnya meminta:
- mata air,
- kebun kurma dan anggur,
- sungai,
- langit dijatuhkan,
- Allah dan malaikat didatangkan,
- rumah dari emas,
- naik ke langit,
- kitab khusus untuk mereka.
Namun setelah berbagai permintaan itu, Allah mengatakan:
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ...
Yang menghalangi mereka adalah penolakan terhadap bentuk petunjuk yang Allah berikan.
Pelajaran untuk kita:
Jangan berkata:
“Saya akan taat kalau keadaan sesuai keinginan saya.”
Tetapi katakan:
“Apa yang Allah perintahkan, itulah yang saya cari hikmahnya dan saya taati.”
12. Jangan menjadikan mukjizat sebagai syarat untuk beriman
Allah telah memberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ mukjizat yang sangat agung, yaitu Al-Qur'an.
Allah berfirman:
قُلْ لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Artinya:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.’”
(QS. Al-Isrā’: 88)
Namun orang yang keras kepala tetap dapat mencari alasan.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata kurangnya bukti, tetapi kesiapan hati untuk menerima kebenaran.
13. Hidayah harus disambut dengan kerendahan hati
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 69)
Hidayah bukan hanya persoalan mengetahui.
Hidayah membutuhkan:
mencari → menerima → tunduk → mengamalkan → istiqamah.
14. Sikap orang beriman ketika mendengar kebenaran
Allah memuji orang-orang yang mendengar perkataan kemudian mengikuti yang terbaik:
فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
Artinya:
“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.”
(QS. Az-Zumar: 17–18)
Inilah karakter seorang mukmin:
tidak anti terhadap nasihat, tidak alergi terhadap koreksi, dan tidak merasa selalu benar.
15. Ulasan para ulama
A. Imam ath-Thabari
Dalam Jāmi‘ al-Bayān, ath-Thabari menjelaskan makna ayat ini bahwa orang-orang musyrik mengingkari kerasulan Muhammad ﷺ karena menurut mereka seorang rasul seharusnya bukan manusia.
Namun Allah menjelaskan bahwa alasan tersebut bukan alasan yang benar.
Rujukan: Muḥammad bin Jarīr ath-Thabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isrā’: 94.
B. Imam Ibn Katsir
Ibn Katsir menjelaskan bahwa orang-orang kafir dahulu juga mengajukan keberatan yang sama kepada para rasul mereka. Mereka merasa heran mengapa Allah mengutus manusia sebagai pembawa risalah.
Padahal manusia membutuhkan rasul manusia agar dapat memahami, meneladani dan mengikuti risalah tersebut.
Rujukan: Ismā‘īl bin ‘Umar Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Isrā’: 94–95.
C. Imam al-Qurthubi
Al-Qurthubi menerangkan bahwa keberatan mereka merupakan bentuk istinkār—pengingkaran terhadap sesuatu yang sebenarnya memungkinkan dan telah dibuktikan oleh risalah para nabi sebelumnya.
Rujukan: Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isrā’: 94.
D. Fakhruddin ar-Razi
Ar-Razi menyoroti hikmah bahwa rasul dari kalangan manusia memungkinkan manusia menerima ajaran secara langsung dan menjadikannya contoh dalam kehidupan.
Rujukan: Fakhruddīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, tafsir QS. Al-Isrā’: 94–95.
16. Pelajaran untuk kehidupan kita
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang orang-orang Quraisy.
Ia juga menjadi cermin bagi kita.
1. Jangan menolak nasihat hanya karena yang menasihati lebih muda
Kebenaran tidak ditentukan oleh usia.
2. Jangan menolak ilmu hanya karena datang dari orang yang tidak kita sukai
Yang harus diperhatikan adalah isi kebenarannya.
3. Jangan merasa diri selalu benar
Orang beriman harus memiliki kerendahan hati untuk mengatakan:
“Saya mungkin salah.”
4. Jangan mencari agama yang sesuai hawa nafsu
Bukan:
“Apa yang saya inginkan, itulah agama.”
Tetapi:
“Apa yang Allah kehendaki, itulah yang harus saya ikuti.”
5. Jangan menjadikan kekayaan sebagai ukuran kebenaran
Rasulullah ﷺ bukan diutus karena memiliki rumah emas atau kekuasaan duniawi.
Kemuliaan beliau terletak pada wahyu, ketakwaan, akhlak, dan kerasulan.
17. Renungan untuk para pendidik dan orang tua
Ayat ini juga memberikan pelajaran dalam mendidik.
Kadang seorang anak menolak nasihat bukan karena tidak memahami nasihat tersebut, tetapi karena:
- merasa diperintah,
- merasa direndahkan,
- merasa tidak didengar,
- atau sedang mempertahankan ego.
Maka pendidikan membutuhkan hikmah, keteladanan dan dialog, bukan hanya perintah.
Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat dengan:
- keteladanan,
- kelembutan,
- pertanyaan,
- kisah,
- nasihat,
- dan pembiasaan.
Karena manusia lebih mudah menerima kebenaran ketika kebenaran itu disampaikan dengan hikmah dan kasih sayang.
18. Inti pesan Al-Isrā’: 94
Ada lima pelajaran besar:
Pertama: Kebenaran tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia.
Allah menentukan bentuk petunjuk sesuai hikmah-Nya.
Kedua: Rasulullah ﷺ adalah manusia pilihan Allah.
Beliau manusia, tetapi menerima wahyu.
Ketiga: Menolak kebenaran karena kesombongan adalah penyakit hati.
Iblis menjadi contoh terbesar.
Keempat: Bukti yang banyak tidak bermanfaat bagi hati yang keras.
Karena itu kita harus memohon kepada Allah hati yang lembut.
Kelima: Hidayah harus disambut dengan ketundukan.
Bukan hanya mengetahui kebenaran, tetapi mengikutinya.
Penutup Ceramah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Surah Al-Isrā’ ayat 94 mengajarkan kepada kita bahwa masalah terbesar manusia bukan selalu kekurangan bukti, tetapi kesombongan untuk menerima kebenaran.
Orang-orang Quraisy berkata:
أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَّسُولًا
“Mengapa Allah mengutus manusia sebagai rasul?”
Hari ini mungkin kita tidak mengucapkan kalimat tersebut. Tetapi jangan sampai penyakit yang sama berada di dalam hati kita dalam bentuk lain:
“Mengapa saya harus menerima nasihatnya?”
“Mengapa saya harus mengakui kesalahan?”
“Mengapa pendapat saya harus dikoreksi?”
“Mengapa saya harus mengikuti dalil ketika bertentangan dengan keinginan saya?”
Semoga kita menjadi hamba yang ketika kebenaran datang, hati kita berkata:
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Kami mendengar dan kami taat.”
Allah berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka hanyalah, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An-Nūr: 51)
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mencintai kebenaran, rendah hati ketika dinasihati, mudah menerima dalil, dan istiqamah mengamalkannya.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Post a Comment