MENJAGA AL-QUR’AN: NIKMAT WAHYU YANG TIDAK BOLEH DISIA-SIAKAN

🌙 Materi Ceramah

MENJAGA AL-QUR’AN: NIKMAT WAHYU YANG TIDAK BOLEH DISIA-SIAKAN

Kajian QS. Al-Isrā’ Ayat 86

Pembukaan

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Hadirin kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Pada kesempatan ini kita merenungkan salah satu ayat yang sangat dalam maknanya, yaitu QS. Al-Isrā’ ayat 86. Ayat ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an adalah nikmat Allah yang sangat besar. Ia bukan hasil kemampuan manusia, bukan karya Nabi Muhammad ﷺ, tetapi wahyu Allah yang diberikan kepada manusia sebagai petunjuk kehidupan.


1. Allah Berkuasa Mengambil Kembali Wahyu-Nya

Allah SWT berfirman:

QS. Al-Isrā’: 86

وَلَىِٕنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهٖ عَلَيْنَا وَكِيْلًا ۙ

Artinya:

“Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan engkau tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami.”

Ayat ini mengajarkan satu prinsip besar:

Al-Qur’an adalah milik Allah.

Allah yang menurunkannya, Allah yang menjaganya, dan Allah berkuasa melakukan apa saja terhadapnya sesuai kehendak-Nya.

Manusia tidak boleh merasa bahwa Al-Qur’an adalah sesuatu yang pasti akan selalu berada di tangannya tanpa kewajiban untuk menjaganya.


2. Al-Qur’an Bukan Sekadar Buku, Tetapi Wahyu Allah

Allah berfirman:

QS. Asy-Syūrā: 52

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗ وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ۙ

Artinya:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing manusia kepada jalan yang lurus.”

Perhatikan ungkapan:

جَعَلْنَاهُ نُورًا

“Kami jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya.”

Al-Qur’an adalah cahaya yang menerangi:

  • akidah,
  • ibadah,
  • akhlak,
  • keluarga,
  • pendidikan,
  • kehidupan sosial,
  • ekonomi,
  • dan perjalanan manusia menuju akhirat.

Tanpa wahyu, manusia dapat memiliki kecerdasan, tetapi belum tentu memiliki petunjuk.


3. Allah Sendiri yang Menjamin Penjagaan Al-Qur’an

Menariknya, setelah menyebut kemungkinan Allah menghilangkan wahyu pada ayat 86, Allah menegaskan penjagaan Al-Qur’an:

QS. Al-Ḥijr: 9

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Artinya:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

Ini adalah jaminan Allah terhadap Al-Qur’an.

Para ulama menjelaskan bahwa penjagaan Allah mencakup penjagaan wahyu dari perubahan dan pemalsuan sehingga Al-Qur’an tetap menjadi hujah bagi manusia.

Pelajaran penting

Jangan sampai kita salah memahami:

Allah menjaga Al-Qur’an ≠ manusia boleh meninggalkan Al-Qur’an.

Justru Allah menjaga Al-Qur’an melalui sebab-sebab yang Dia kehendaki:

  • para penghafal Al-Qur’an,
  • para ulama,
  • para qari,
  • mushaf,
  • sanad dan pengajaran,
  • serta generasi yang mempelajari dan mengamalkannya.

Karena itu, menjadi Ahlul Qur’an merupakan nikmat sekaligus amanah.


4. Hadis tentang Diangkatnya Al-Qur’an

Terdapat riwayat dari Ibnu Mas‘ūd r.a. tentang diangkatnya Al-Qur’an pada akhir zaman.

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ سَيُرْفَعُ، قِيلَ: كَيْفَ يُرْفَعُ وَقَدْ أَثْبَتَهُ اللَّهُ فِي قُلُوبِنَا وَأَثْبَتْنَاهُ فِي الْمَصَاحِفِ؟ قَالَ: يُسْرَى عَلَيْهِ فِي لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ، فَلَا تُتْرَكُ مِنْهُ آيَةٌ فِي قَلْبٍ وَلَا مُصْحَفٍ إِلَّا رُفِعَتْ، فَتُصْبِحُونَ وَلَيْسَ فِيكُمْ مِنْهُ شَيْءٌ.

Artinya:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini akan diangkat. Ditanyakan kepadanya, ‘Bagaimana Al-Qur’an diangkat, padahal Allah telah meneguhkannya di dalam hati kita dan kita telah menuliskannya dalam mushaf?’ Ia menjawab, ‘Al-Qur’an akan diangkat dalam satu malam. Tidak tersisa satu ayat pun darinya, baik di dalam hati maupun di dalam mushaf, kecuali semuanya diangkat. Maka pada pagi harinya kalian tidak memiliki sesuatu pun darinya.’”

Riwayat ini dinukil oleh sejumlah ahli hadis, di antaranya dalam karya Sunan ad-Dārimī dan disebutkan pula oleh al-Ḥākim dalam al-Mustadrak.

Catatan ilmiah

Riwayat tentang pengangkatan Al-Qur’an ini dibahas oleh para ulama dalam konteks tanda-tanda akhir zaman. Karena itu, jangan menyimpulkan bahwa Al-Qur’an dapat hilang sekarang hanya karena manusia meninggalkannya. QS. Al-Ḥijr: 9 tetap menjadi dasar bahwa Allah menjaga Al-Qur’an selama ia menjadi hujah bagi manusia.


5. Jangan Sampai Al-Qur’an Hanya Ada di Rumah Kita

Hadirin rahimakumullah,

Ada keadaan yang sangat menyedihkan:

Mushafnya ada, tetapi tidak dibaca.

Al-Qur’annya dibaca, tetapi tidak dipahami.

Dipahami, tetapi tidak diamalkan.

Diamalkan dalam ibadah tertentu, tetapi tidak membentuk akhlak.

Padahal Allah berfirman:

QS. Ṣād: 29

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Artinya:

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”

Tujuan Al-Qur’an bukan hanya:

dibaca → selesai.

Tetapi:

dibaca → dipahami → direnungkan → diamalkan → diajarkan → menjadi jalan hidup.


6. Al-Qur’an Akan Menjadi Pembela bagi Orang yang Bersahabat Dengannya

Rasulullah ﷺ bersabda:

اِقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Artinya:

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada orang-orang yang menjadi sahabatnya.”

HR. Muslim.

Perhatikan kata:

لِأَصْحَابِهِ — “bagi para sahabatnya.”

Bukan hanya bagi orang yang sesekali membaca.

Tetapi bagi orang yang bersahabat dengan Al-Qur’an.

Ia membaca Al-Qur’an.

Ia mempelajarinya.

Ia mengamalkannya.

Ia mencintainya.

Ia mengajarkannya.


7. Keutamaan Mengajarkan Al-Qur’an

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

HR. al-Bukhārī.

Hadis ini sangat relevan bagi:

  • guru,
  • ustaz,
  • orang tua,
  • pengasuh pesantren,
  • pembina halaqah,
  • dan siapa saja yang mengajarkan Al-Qur’an.

Mengajarkan satu surat kepada seorang anak bukan pekerjaan kecil.

Mengajarkan satu ayat kepada seorang murid bukan pekerjaan kecil.

Bisa jadi satu ayat yang kita ajarkan menjadi amal yang terus mengalir ketika anak tersebut membacanya bertahun-tahun kemudian.


8. Jangan Merasa Sedikit Membaca Al-Qur’an Itu Tidak Berarti

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya:

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lām Mīm’ itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lām satu huruf, dan Mīm satu huruf.”

HR. at-Tirmiżī.

Maka jangan berkata:

“Saya sibuk, tidak sempat membaca satu juz.”

Mulailah dengan:

1 halaman.

Jika tidak mampu:

½ halaman.

Jika tidak mampu:

beberapa ayat.

Yang penting jangan memutus hubungan dengan Al-Qur’an.


9. Al-Qur’an Menjadi Petunjuk, Bukan Sekadar Hiasan

Allah berfirman:

QS. Al-Baqarah: 2

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Maka pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:

Apakah Al-Qur’an sudah menjadi petunjuk dalam hidup saya?

Ketika marah, apakah Al-Qur’an membimbing kita?

Ketika mendidik anak, apakah Al-Qur’an membimbing kita?

Ketika berdagang, apakah Al-Qur’an membimbing kita?

Ketika menghadapi masalah, apakah Al-Qur’an membimbing kita?

Ketika memiliki kekuasaan, apakah Al-Qur’an membimbing kita?

Kalau jawabannya iya, berarti Al-Qur’an benar-benar hidup dalam diri kita.


10. Bahaya Meninggalkan Al-Qur’an

Allah mengabadikan pengaduan Rasulullah ﷺ:

QS. Al-Furqān: 30

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

Artinya:

“Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.’”

Para ulama menjelaskan bahwa hajr al-Qur’an atau meninggalkan Al-Qur’an memiliki bentuk yang luas, di antaranya:

  1. meninggalkan membaca;
  2. meninggalkan mendengarkan dengan penuh perhatian;
  3. meninggalkan tadabbur;
  4. meninggalkan pengamalan;
  5. meninggalkan berhukum dengan petunjuknya;
  6. berpaling dari pengobatan hati melalui Al-Qur’an.

Ibnul Qayyim رحمه الله membahas berbagai bentuk meninggalkan Al-Qur’an dalam al-Fawā’id dan Madārij as-Sālikīn.


11. Mengapa Kita Harus Takut Kehilangan Al-Qur’an?

Bukan hanya takut bahwa mushaf tidak ada.

Tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah:

Al-Qur’an ada di rumah, tetapi tidak ada dalam kehidupan.

Mushaf ada di rak.

Tetapi:

  • kejujuran tidak ada;
  • amanah tidak ada;
  • adab tidak ada;
  • shalat ditinggalkan;
  • ghibah masih dilakukan;
  • riba masih dianggap biasa;
  • dusta masih dipelihara;
  • orang tua masih disakiti;
  • sesama muslim masih mudah dicela.

Maka kita perlu bertanya:

Apakah kita memiliki Al-Qur’an, ataukah Al-Qur’an yang memiliki kita?


12. Al-Qur’an dan Pendidikan Anak

Sebagai orang tua dan pendidik, kita mempunyai tanggung jawab besar.

Allah berfirman:

QS. At-Taḥrīm: 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Mendidik anak dekat dengan Al-Qur’an bukan sekadar agar anak bisa menjadi hafiz.

Lebih jauh:

agar Al-Qur’an membentuk akidahnya, akhlaknya, pikirannya, pilihan hidupnya, dan masa depannya.


13. Al-Qur’an adalah Nikmat yang Harus Disyukuri

Allah berfirman:

QS. Ibrāhīm: 7

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”

Bersyukur atas Al-Qur’an bukan hanya mengucapkan:

الحمد لله

Tetapi:

membacanya, memahaminya, mengamalkannya dan mengajarkannya.


14. Renungan Besar dari QS. Al-Isrā’ 86

Ayat ini mengajarkan setidaknya 7 pelajaran penting:

① Al-Qur’an adalah karunia Allah

Kita tidak boleh menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

② Al-Qur’an adalah sumber petunjuk

Tanpa wahyu, manusia dapat tersesat meskipun memiliki ilmu dunia yang tinggi.

③ Ilmu harus disyukuri

Cara mensyukuri ilmu Al-Qur’an adalah mengamalkannya.

④ Jangan meninggalkan Al-Qur’an

Karena meninggalkan Al-Qur’an berarti meninggalkan sumber kehidupan hati.

⑤ Ajarkan Al-Qur’an kepada generasi berikutnya

Agar hubungan dengan wahyu terus berlangsung.

⑥ Jangan hanya mengejar hafalan

Hafalan sangat mulia, tetapi tujuan akhirnya adalah iman, amal dan akhlak.

⑦ Mohon kepada Allah agar meneguhkan hati

Karena hidayah adalah karunia Allah.


15. Doa Agar Al-Qur’an Menjadi Cahaya Hati

Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan penghilang kegelisahanku.”

Riwayat ini terdapat dalam Musnad Aḥmad dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis.


16. Penutup Ceramah

Hadirin rahimakumullah,

QS. Al-Isrā’ ayat 86 seharusnya membuat kita semakin menghargai Al-Qur’an.

Allah berfirman:

وَلَىِٕنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ

“Jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu.”

Maka jangan tunggu sampai kehilangan Al-Qur’an untuk menyadari betapa berharganya Al-Qur’an.

Jangan sampai kita baru sadar bahwa Al-Qur’an adalah nikmat terbesar ketika ajal sudah datang.

Mari mulai hari ini:

📖 Baca Al-Qur’an setiap hari.

🧠 Pelajari maknanya.

❤️ Tadabburi ayatnya.

🤲 Amalkan petunjuknya.

👨‍👩‍👧 Ajarkan kepada keluarga.

👨‍🏫 Ajarkan kepada murid.

🌱 Wariskan kepada generasi.

Karena generasi yang jauh dari Al-Qur’an akan mudah kehilangan arah, sedangkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an akan memiliki kompas kehidupan.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا، وَذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِّيْنَا، وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ وَتَدَبُّرَهُ وَالْعَمَلَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ، الَّذِينَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Rujukan Ulama dan Kitab

Untuk pendalaman materi ini, rujukan yang dapat digunakan antara lain:

  1. Tafsīr aṭ-Ṭabarī — Jāmi‘ al-Bayān, pembahasan QS. Al-Isrā’: 86.
  2. Tafsīr Ibn Kathīr — Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, pembahasan QS. Al-Isrā’: 86 dan QS. Al-Ḥijr: 9.
  3. Tafsīr al-Qurṭubī — Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān.
  4. Tafsīr Fakhruddīn ar-Rāzī — Mafātīḥ al-Ghayb.
  5. Tafsīr as-Sa‘dī — Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān.
  6. Ibnul Qayyim — Al-Fawā’id, pembahasan tentang hubungan hati dengan Al-Qur’an.
  7. Ibnul Qayyim — Madārij as-Sālikīn, pembahasan tentang kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penyembuh.
  8. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān.
  9. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn dan pembahasan keutamaan membaca Al-Qur’an.
  10. Sunan at-Tirmiżī, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān.
  11. Musnad Aḥmad, hadis tentang doa menjadikan Al-Qur’an sebagai rabī‘ al-qalb.

🌿 Pesan utama

“Jangan hanya menjadi orang yang memiliki mushaf. Jadilah orang yang hidupnya dimiliki dan diarahkan oleh Al-Qur’an.”

Dan bagi para guru serta orang tua:

“Warisan terbaik kepada anak bukan sekadar harta, tetapi hubungan yang kuat dengan Al-Qur’an.”

Tidak ada komentar