Menjaga Kemurnian Tauhid: Allah Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan

Materi Ceramah QS. Al-Kahf Ayat 4

“Menjaga Kemurnian Tauhid: Allah Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan”

QS. Al-Kahf [18]: 4

وَّيُنْذِرَ الَّذِيْنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًاۖ

“Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, ‘Allah mengambil seorang anak.’”


A. Pembukaan

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Setelah pada ayat sebelumnya Allah menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dan beramal saleh, pada ayat ke-4 Allah menyebutkan fungsi Al-Qur'an yang lain:

وَيُنْذِرَ

“Dan untuk memberikan peringatan.”

Peringatan yang sangat keras ditujukan kepada orang-orang yang mengatakan:

اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًا

“Allah mempunyai anak.”

Mengapa masalah ini mendapat perhatian yang sangat besar?

Karena masalah ketuhanan bukan perkara kecil. Siapa Allah, bagaimana sifat Allah, dan siapa yang berhak disembah merupakan perkara paling mendasar dalam kehidupan seorang manusia.


1. Tauhid adalah Inti Seluruh Dakwah Para Rasul

Allah tidak mengutus para nabi untuk mengajarkan manusia sekadar bagaimana mencari kekayaan, membangun peradaban, atau mengatur kehidupan dunia.

Dakwah pertama dan terbesar mereka adalah:

Tauhid — mengesakan Allah dalam ibadah.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah Tagut.’”

(QS. An-Naḥl [16]: 36)

Penjelasan

Perhatikan kalimat:

اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ

Sembahlah Allah.

Ini adalah inti dakwah para rasul.

Maka Nabi Muhammad ﷺ, Nabi Isa عليه السلام, Nabi Musa عليه السلام, Nabi Ibrahim عليه السلام, dan seluruh nabi mengajak manusia kembali kepada satu prinsip:

Tidak ada yang berhak disembah selain Allah.


2. Allah Maha Esa dan Tidak Memiliki Anak

Allah memberikan jawaban yang sangat tegas dalam Surah Al-Ikhlas:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ ۝١

اللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ ۝٢

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ ۝٣

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ۝٤

“Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’”

(QS. Al-Ikhlāṣ [112]: 1–4)

Inilah akidah Islam.

Allah:

  • أَحَدٌ — Maha Esa;
  • الصَّمَدُ — tempat seluruh makhluk bergantung;
  • لَمْ يَلِدْ — tidak beranak;
  • وَلَمْ يُولَدْ — tidak diperanakkan;
  • لَيْسَ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ — tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Renungan

Manusia membutuhkan anak karena manusia akan mati.

Manusia membutuhkan keturunan agar namanya berlanjut.

Allah tidak membutuhkan semua itu.

Allah adalah Al-Awwal, Yang tidak didahului oleh sesuatu, dan Al-Akhir, Yang tidak diakhiri oleh sesuatu.


3. Al-Qur'an Membantah Keyakinan bahwa Allah Mempunyai Anak

Allah berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا ۝٨٨ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ۝٨٩ تَكَادُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْاَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ۝٩٠ اَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمٰنِ وَلَدًا ۝٩١

“Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak.’ Sungguh, kamu telah membawa sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menganggap Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak.”

(QS. Maryam [19]: 88–91)

Perhatikan betapa kerasnya bahasa Al-Qur'an.

Allah tidak menyebutnya sebagai kesalahan kecil.

Allah menggambarkan betapa dahsyatnya ucapan tersebut.


4. Mengapa Al-Qur'an Begitu Keras Membantahnya?

Karena mengatakan Allah mempunyai anak berarti memberikan kepada Allah sifat yang merupakan karakteristik makhluk.

Allah adalah Al-Khāliq, Sang Pencipta.

Sedangkan seluruh makhluk adalah makhluk yang diciptakan.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”

(QS. Asy-Syūrā [42]: 11)

Ayat ini menjadi kaidah besar dalam memahami sifat-sifat Allah.

Apa pun yang terlintas dalam pikiran kita tentang kesempurnaan makhluk, Allah tidak menyerupainya.


5. Tiga Kelompok yang Disebut dalam Tafsir Ayat

Dalam tafsir yang dikemukakan pada materi ayat ini, terdapat tiga kelompok yang dinisbatkan memiliki keyakinan tentang “anak bagi Tuhan”:

① Sebagian kaum musyrikin Arab

Mereka menganggap malaikat sebagai anak perempuan Allah.

Allah membantahnya:

وَجَعَلُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ الَّذِيْنَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمٰنِ اِنَاثًا ۗ اَشَهِدُوْا خَلْقَهُمْ ۗ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْـَٔلُوْنَ

“Dan mereka menjadikan para malaikat, yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih, sebagai perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan mereka? Kelak kesaksian mereka akan ditulis dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Az-Zukhruf [43]: 19)

② Sebagian kaum Yahudi

Al-Qur'an menyebut:

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ

“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair adalah putra Allah.’”

(QS. At-Taubah [9]: 30)

③ Kaum Nasrani

Allah berfirman:

وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ

“Dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih adalah putra Allah.’”

(QS. At-Taubah [9]: 30)

Namun penting untuk disampaikan dengan adil dan ilmiah: ayat tersebut mengkritik keyakinan tertentu yang dinisbatkan Al-Qur'an kepada kelompok tersebut; kita tidak boleh menjadikan pembahasan akidah sebagai alasan untuk menghina atau menzalimi pemeluk agama lain.


6. Allah Tidak Membutuhkan Anak

Allah berfirman:

بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ اَنّٰى يَكُوْنُ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَمْ تَكُنْ لَّهٗ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana mungkin Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai pasangan? Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.”

(QS. Al-An‘ām [6]: 101)

Perhatikan argumentasi Al-Qur'an:

Allah menciptakan segala sesuatu.

Kalau Allah adalah pencipta seluruh makhluk, maka Dia bukan bagian dari makhluk.

Karena itu, tidak tepat menyamakan hubungan Allah dengan makhluk seperti hubungan seorang manusia dengan anaknya.


7. Bahkan Nabi Isa عليه السلام Adalah Hamba dan Rasul Allah

Islam sangat memuliakan Nabi Isa عليه السلام.

Namun Islam tidak menempatkan beliau sebagai Tuhan.

Allah berfirman:

لَنْ يَّسْتَنْكِفَ الْمَسِيْحُ اَنْ يَّكُوْنَ عَبْدًا لِّلّٰهِ وَلَا الْمَلٰۤىِٕكَةُ الْمُقَرَّبُوْنَ ۗ

“Al-Masih sama sekali tidak enggan menjadi seorang hamba Allah, dan demikian pula para malaikat yang dekat (kepada Allah).”

(QS. An-Nisā’ [4]: 172)

Nabi Isa عليه السلام adalah:

  • seorang manusia;
  • seorang hamba Allah;
  • seorang nabi;
  • seorang rasul;
  • Al-Masih yang dimuliakan Allah.

Tetapi beliau bukan Allah dan bukan anak Allah.


8. Nabi Muhammad ﷺ Mengajarkan Tauhid Sejak Awal Dakwah

Ketika Nabi ﷺ mengutus Mu‘adz bin Jabal رضي الله عنه ke Yaman, beliau bersabda:

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari Ahli Kitab. Maka hendaknya perkara pertama yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah beribadah kepada Allah.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)[^1]

Ini menunjukkan prioritas dakwah.

Sebelum membahas banyak perkara:

kenalkan manusia kepada Allah.


9. Hadis tentang Hak Allah atas Hamba

Rasulullah ﷺ juga bersabda kepada Mu‘adz:

حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Hak Allah atas para hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)[^2]

Inilah inti tauhid:

أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”


10. Ulasan Imam ath-Thabari

Imam ath-Thabari رحمه الله ketika menjelaskan firman Allah:

وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا

menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan peringatan kepada orang-orang yang menisbatkan anak kepada Allah, karena keyakinan tersebut merupakan perkataan yang sangat besar kesalahannya.

Beliau juga mengaitkannya dengan bantahan Al-Qur'an terhadap orang-orang yang menyimpang dari tauhid.[^3]

Pelajaran

Dakwah kepada tauhid bukan sekadar mengajarkan:

“Allah itu ada.”

Tetapi juga mengajarkan:

Allah satu-satunya yang berhak disembah dan tidak menyerupai makhluk.


11. Ulasan Ibnu Katsir

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan orang-orang yang mengatakan Allah mempunyai anak, dan Al-Qur'an datang untuk memperingatkan mereka dari keyakinan tersebut.

Beliau menghubungkannya dengan firman Allah:

لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا

“Sungguh, kamu telah membawa sesuatu perkara yang sangat mungkar.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini merupakan pengingkaran keras terhadap perkataan tersebut, karena Allah Mahasuci dari apa yang mereka nisbatkan kepada-Nya.[^4]


12. Ulasan As-Sa‘di: Kesempurnaan Allah Menafikan Anak

Syaikh Abdurrahman as-Sa‘di رحمه الله ketika menafsirkan QS. Al-Ikhlas menjelaskan bahwa:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

menunjukkan kesucian Allah dari sifat memiliki anak dan dari segala sifat yang menunjukkan bahwa Dia berasal dari sesuatu.

Sebab Allah adalah:

الأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ

“Yang Awal, yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya.”

Dan Dia tidak membutuhkan siapa pun.[^5]


13. Hadis Qudsi: Allah Mencela Orang yang Menisbatkan Anak kepada-Nya

Rasulullah ﷺ meriwayatkan bahwa Allah berfirman:

كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ، وَشَتَمَنِي وَمَا يَنْبَغِي لَهُ... وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا، وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَدٌ

“Anak Adam telah mendustakan-Ku, padahal tidak layak baginya melakukan itu. Ia mencela-Ku, padahal tidak layak baginya melakukan itu... Adapun celaannya kepada-Ku adalah perkataannya: ‘Allah mempunyai anak.’ Padahal Aku adalah Yang Maha Esa, tempat bergantung; Aku tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Ku.”

(HR. al-Bukhari)[^6]

Hadis ini sangat jelas.

Allah sendiri menyebut:

الْأَحَدُ الصَّمَدُ

Allah Yang Maha Esa dan tempat seluruh makhluk bergantung.


14. Tauhid Harus Melahirkan Pengagungan kepada Allah

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Memahami bahwa Allah tidak mempunyai anak bukan sekadar mengetahui sebuah teori akidah.

Pengetahuan tersebut harus melahirkan:

❤️ 1. Cinta kepada Allah

Karena hanya Dia yang memberikan seluruh nikmat.

🙏 2. Ketundukan kepada Allah

Karena hanya Dia yang berhak ditaati secara mutlak.

🕌 3. Ibadah hanya kepada Allah

Tidak berdoa kepada selain-Nya.

Tidak meminta perkara gaib kepada selain-Nya.

Tidak mempersembahkan ibadah kepada selain-Nya.

🌿 4. Tawakal kepada Allah

Karena semua makhluk lemah dan membutuhkan-Nya.


15. Bahaya Terbesar: Mengenal Banyak Hal tetapi Tidak Mengenal Allah

Seseorang bisa:

  • tinggi pendidikannya;
  • banyak membaca buku;
  • memahami teknologi;
  • mengetahui ilmu dunia;
  • mempunyai banyak gelar;

tetapi jika ia tidak mengenal Rabb-nya dengan benar, maka ilmunya belum membawanya kepada tujuan terbesar.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”

(QS. Muhammad [47]: 19)

Perhatikan kata:

فَاعْلَمْ

Maka ketahuilah.

Tauhid membutuhkan ilmu.

Kemudian ilmu tersebut harus melahirkan amal.


16. Pelajaran Pendidikan untuk Keluarga

Ayat ini juga sangat relevan bagi orang tua dan guru.

Anak jangan hanya diajarkan:

“Jangan nakal.”

Tetapi ajarkan:

“Allah melihat kita.”

Jangan hanya mengatakan:

“Kamu harus shalat.”

Ajarkan:

“Kita shalat karena Allah adalah satu-satunya yang berhak kita sembah.”

Jangan hanya mengajarkan hafalan Asmaul Husna.

Ajarkan pula maknanya.

Misalnya:

الرَّحْمٰنُ

Allah Maha Pengasih.

Maka anak belajar berharap kepada Allah.

السَّمِيعُ

Allah Maha Mendengar.

Maka anak belajar menjaga ucapan.

الْبَصِيرُ

Allah Maha Melihat.

Maka anak belajar jujur meskipun tidak ada manusia yang melihat.

Inilah pendidikan tauhid yang hidup, bukan sekadar hafalan.


17. Kesimpulan Ceramah

Dari QS. Al-Kahf ayat 4 kita mendapatkan beberapa pelajaran:

1️⃣ Al-Qur'an adalah pemberi peringatan

وَيُنْذِرَ

Al-Qur'an tidak hanya memberikan kabar gembira, tetapi juga memperingatkan manusia dari kesesatan.

2️⃣ Tauhid adalah perkara paling penting

Seluruh dakwah para rasul mengarah kepada pengesaan Allah.

3️⃣ Allah tidak mempunyai anak

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.

4️⃣ Allah tidak menyerupai makhluk

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

5️⃣ Ibadah hanya untuk Allah

أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

6️⃣ Tauhid harus melahirkan kehidupan yang benar

Semakin kita mengenal Allah, seharusnya semakin:

  • tunduk,
  • takut,
  • berharap,
  • mencintai,
  • bersyukur,
  • dan taat kepada-Nya.

🌿 Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

QS. Al-Kahf ayat 4 mengingatkan kita bahwa perkara paling besar yang harus dijaga dalam kehidupan adalah tauhid.

Harta bisa hilang.

Jabatan bisa hilang.

Kesehatan bisa hilang.

Bahkan kehidupan dunia akan berakhir.

Tetapi jika seseorang meninggal dalam keadaan membawa tauhid yang benar, maka ia membawa bekal terbesar untuk menghadap Allah.

Mari kita jaga tauhid kita.

Kita ajarkan kepada anak-anak kita.

Kita tanamkan kepada keluarga kita.

Kita sampaikan dengan ilmu dan hikmah.

Dan kita berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى التَّوْحِيدِ، وَأَمِتْنَا عَلَى التَّوْحِيدِ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ الْمُوَحِّدِينَ.

“Ya Allah, hidupkan kami di atas tauhid, wafatkan kami di atas tauhid, dan kumpulkan kami bersama orang-orang yang bertauhid.”

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَعَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ وَالسُّنَّةِ.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Catatan kaki dan kitab rujukan

[1] Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb az-Zakāh, hadis tentang pengutusan Mu‘adz bin Jabal ke Yaman. Lihat juga Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān.

[2] Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Jihād dan Kitāb at-Tawḥīd; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān. Hadis Mu‘adz bin Jabal tentang حق الله على العباد.

[3] Muḥammad bin Jarīr ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 4.

[4] Ismā‘īl bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 4 dan QS. Maryam [19]: 88–92.

[5] Abdurrahman bin Nāshir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Ikhlāṣ [112]: 1–4.

[6] Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb at-Tafsīr, tafsir QS. Al-Ikhlāṣ; hadis qudsi tentang perkataan manusia “اتخذ الله ولدا”.

[7] Lihat juga Fakhruddin ar-Rāzi, Mafātīḥ al-Ghayb (at-Tafsīr al-Kabīr), tafsir QS. Al-Kahf [18]: 4; dan al-Qurṭubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 4, untuk pembahasan tentang bantahan Al-Qur'an terhadap penisbatan anak kepada Allah.

Tidak ada komentar