Rasulullah ﷺ Adalah Manusia Pilihan Allah: Antara Mukjizat, Wahyu, dan Kesombongan Manusia
Materi Ceramah QS. Al-Isrā’ Ayat 93
“Rasulullah ﷺ Adalah Manusia Pilihan Allah: Antara Mukjizat, Wahyu, dan Kesombongan Manusia”
Pembukaan
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Isrā’ ayat 93 adalah bagian dari rangkaian ayat 90–93 yang menggambarkan berbagai tuntutan kaum musyrikin Quraisy kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mereka meminta bukti-bukti luar biasa, tetapi tuntutan tersebut bukan lahir dari ketulusan mencari kebenaran. Setiap kali satu tuntutan terpenuhi, mereka masih dapat membuat tuntutan berikutnya.
Allah berfirman:
اَوْ يَكُوْنَ لَكَ بَيْتٌ مِّنْ زُخْرُفٍ اَوْ تَرْقٰى فِى السَّمَاۤءِ ۗوَلَنْ نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتّٰى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتٰبًا نَّقْرَؤُهٗۗ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّيْ هَلْ كُنْتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوْلًا
“Atau engkau mempunyai sebuah rumah yang terbuat dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau menurunkan kepada kami sebuah kitab untuk kami baca.” Katakanlah (Muhammad), “Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 93)
1. Ayat Ini Berbicara tentang Penyakit Hati: Menuntut Bukti untuk Menolak
Jamaah rahimakumullah,
Kaum Quraisy tidak sekadar bertanya:
“Apa bukti bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?”
Tetapi mereka menetapkan syarat:
“Kami tidak akan beriman sampai engkau melakukan ini dan itu.”
Inilah perbedaan antara orang yang mencari kebenaran dan orang yang mencari alasan untuk menolak kebenaran.
Orang yang mencari kebenaran berkata:
“Tunjukkan kepadaku kebenaran agar aku mengikutinya.”
Sedangkan orang yang keras kepala berkata:
“Aku tidak akan mengikuti kebenaran kecuali kebenaran itu mengikuti keinginanku.”
2. “Rumah dari Zukhruf”: Ukuran Kemuliaan Bukan Kekayaan
Mereka berkata:
اَوْ يَكُوْنَ لَكَ بَيْتٌ مِّنْ زُخْرُفٍ
“Atau engkau mempunyai sebuah rumah yang terbuat dari emas.”
Zukhruf (زُخْرُف) bermakna perhiasan, kemewahan, atau sesuatu yang sangat indah; dalam konteks ayat ini dipahami sebagai rumah yang dihiasi kemewahan/emas.
Mereka mempunyai pola pikir:
“Kalau Muhammad benar-benar utusan Allah, mengapa dia tidak kaya?”
Padahal menjadi Rasul bukanlah perkara kekayaan dunia.
Allah berfirman:
QS. Al-Furqān [25]: 7
وَقَالُوْا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِ ۙ لَوْلَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهٗ نَذِيْرًا
“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan malaikat kepadanya agar malaikat itu memberikan peringatan bersama dia?’”
Pelajaran
Jangan mengukur:
- kebenaran dengan kekayaan,
- kemuliaan dengan jabatan,
- keberhasilan dengan popularitas,
- kesalehan dengan kemewahan.
Allah sendiri mengingatkan:
QS. Al-Hujurāt [49]: 13
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah takwa, bukan harta.
3. “Naik ke Langit”: Mukjizat Bukan Atas Permintaan Manusia
Mereka melanjutkan:
اَوْ تَرْقٰى فِى السَّمَاۤءِ
“Atau engkau naik ke langit.”
Lalu mereka berkata:
وَلَنْ نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتّٰى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتٰبًا نَّقْرَؤُهٗ
“Kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau menurunkan kepada kami sebuah kitab yang dapat kami baca.”
Ini menunjukkan bahwa tuntutan mereka terus bertambah.
Padahal Allah telah memberikan Rasulullah ﷺ mukjizat yang sangat besar: Al-Qur'an.
Allah berfirman:
QS. Al-‘Ankabūt [29]: 50–51
وَقَالُوْا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْهِ اٰيٰتٌ مِّنْ رَّبِّهٖ ۗ قُلْ اِنَّمَا الْاٰيٰتُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاِنَّمَآ اَنَا۠ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
“Dan mereka berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah, dan aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.’”
Kemudian:
اَوَلَمْ يَكْفِهِمْ اَنَّآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ يُتْلٰى عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَرَحْمَةً وَّذِكْرٰى لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam hal itu terdapat rahmat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”
4. Rasulullah ﷺ Manusia, Tetapi Manusia yang Dipilih Allah
Jawaban Nabi ﷺ:
قُلْ سُبْحَانَ رَبِّيْ
“Katakanlah, ‘Mahasuci Tuhanku!’”
Kemudian:
هَلْ كُنْتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوْلًا
“Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”
Kalimat ini sangat penting dalam akidah Islam.
Rasulullah ﷺ adalah:
- manusia,
- bukan Tuhan;
- hamba Allah,
- bukan objek ibadah;
- Rasul Allah,
- penerima wahyu;
- manusia pilihan yang wajib kita cintai dan ikuti.
Allah berfirman:
QS. Al-Kahf [18]: 110
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۚ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.’”
Perhatikan keseimbangannya:
بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ — manusia seperti kalian,
tetapi:
يُوْحٰٓى اِلَيَّ — aku diberi wahyu.
Jadi Rasulullah ﷺ manusia dalam hakikat kemanusiaannya, tetapi beliau memiliki kedudukan khusus sebagai Rasul Allah.
5. Hadis: Rasulullah ﷺ Melarang Kita Berlebihan dalam Memujinya
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji putra Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya. Maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. al-Bukhārī)
Pelajaran penting
Islam berada di tengah:
Tidak merendahkan Rasulullah ﷺ, karena beliau adalah utusan Allah.
Tetapi juga:
Tidak mengangkat beliau melebihi kedudukan yang Allah berikan, karena beliau adalah hamba Allah.
Maka ungkapan yang paling mulia:
مُحَمَّدٌ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.
6. Rasulullah ﷺ Tidak Mengaku Memiliki Kekuasaan Ilahi
Allah berfirman:
QS. Al-A‘rāf [7]: 188
قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ وَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُ ۛ اِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa keburukan. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’”
Ini merupakan pelajaran tauhid yang sangat penting:
Rasul adalah hamba dan utusan Allah. Kekuasaan mutlak hanya milik Allah.
7. Namun Rasulullah ﷺ Benar-Benar Mengalami Isra dan Mi'raj
Ada hal menarik.
Dalam QS. Al-Isrā’ ayat 93, orang kafir menuntut:
“Naiklah ke langit!”
Sementara umat Islam mengetahui bahwa Allah benar-benar memuliakan Rasulullah ﷺ dengan Isra dan Mi'raj.
Allah berfirman:
QS. Al-Isrā’ [17]: 1
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Perhatikan kata:
بِعَبْدِهٖ — dengan hamba-Nya
Allah menyebut Nabi ﷺ sebagai hamba-Nya justru ketika menyebut peristiwa yang sangat agung.
Ini menunjukkan bahwa puncak kemuliaan Rasulullah ﷺ tidak mengeluarkan beliau dari status sebagai hamba Allah.
8. Hadis Panjang tentang Isra dan Mi'raj
Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ menceritakan perjalanan Isra dan Mi'raj. Di antaranya:
ثُمَّ عَرَجَ بِي جِبْرِيلُ حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَاسْتَفْتَحَ...
“Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit dunia. Ia meminta agar dibukakan...”
Dalam perjalanan tersebut Rasulullah ﷺ bertemu dengan sejumlah nabi, kemudian naik melalui berbagai lapisan langit hingga mencapai tempat yang Allah kehendaki. Dalam peristiwa tersebut pula diwajibkan shalat lima waktu.
(HR. al-Bukhārī dan Muslim, hadis tentang Isra dan Mi'raj)
Pelajaran
Isra dan Mi'raj bukan terjadi karena Nabi ﷺ memenuhi tuntutan kaum Quraisy.
Peristiwa itu terjadi karena Allah sendiri yang menghendaki dan memuliakan Rasul-Nya.
Ini perbedaan yang sangat penting.
9. Al-Qur'an adalah Mukjizat yang Sesungguhnya
Kaum Quraisy meminta:
كِتٰبًا نَّقْرَؤُهٗ
“Sebuah kitab yang dapat kami baca.”
Ironisnya, Allah sudah memberikan kitab itu kepada mereka:
Al-Qur'an.
Bahkan mereka ditantang untuk membuat yang semisal dengannya.
QS. Al-Baqarah [2]: 23
وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
“Jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
Allah kemudian berfirman:
فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا
“Jika kamu tidak mampu melakukannya, dan kamu pasti tidak akan mampu melakukannya...”
Ini adalah tantangan yang sangat tegas.
10. Hadis tentang Mukjizat Al-Qur'an
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ
“Tidaklah seorang nabi kecuali diberi mukjizat yang menyebabkan manusia beriman. Adapun yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Al-Qur'an adalah mukjizat yang terus hidup.
11. Mengapa Mereka Tetap Tidak Beriman?
Allah menjelaskan:
QS. Al-An‘ām [6]: 111
وَلَوْ اَنَّنَا نَزَّلْنَآ اِلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتٰى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَّا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْٓا اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُوْنَ
“Sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara kepada mereka, serta Kami kumpulkan di hadapan mereka segala sesuatu yang mereka inginkan, mereka tidak juga akan beriman kecuali jika Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
Kesimpulan yang sangat dalam:
Bukti tidak selalu menghasilkan iman apabila hati telah memilih untuk menolak.
Karena iman bukan hanya persoalan mata melihat.
Iman juga membutuhkan:
- kejujuran,
- kerendahan hati,
- ketundukan,
- dan hidayah Allah.
12. Kesombongan adalah Penghalang Kebenaran
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Para sahabat bertanya tentang seseorang yang menyukai pakaian dan sandal yang bagus. Nabi ﷺ menjelaskan:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim)
Inilah penyakit yang perlu kita takuti.
Bukan hanya:
“Apakah saya sudah tahu kebenaran?”
Tetapi:
“Apakah saya mau tunduk ketika kebenaran itu datang kepada saya?”
13. Ulasan Para Ulama
Imam aṭ-Ṭabarī — Jāmi‘ al-Bayān
Beliau menjelaskan bahwa tuntutan kaum musyrikin tersebut merupakan bagian dari sikap mereka yang menolak risalah Nabi ﷺ dan meminta tanda-tanda tertentu sebagai syarat keimanan.
Pelajaran: Mukjizat bukan permainan yang dapat ditentukan oleh manusia sesuai selera mereka.
Imam Ibn Kathīr — Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
Ibn Kathīr menjelaskan bahwa Nabi ﷺ diperintahkan menjawab:
سُبْحَانَ رَبِّي
sebagai bentuk pensucian Allah dari tuntutan-tuntutan yang tidak layak dan sebagai penegasan bahwa Nabi ﷺ hanyalah manusia yang menerima wahyu.
Imam al-Qurṭubī — Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān
Al-Qurṭubī menaruh perhatian pada kalimat:
هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَّسُوْلًا
Ini merupakan penegasan tentang kedudukan Nabi ﷺ sebagai manusia sekaligus Rasul.
Beliau tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan.
Fakhruddīn ar-Rāzī — Mafātīḥ al-Ghaib
Ar-Rāzī menjelaskan bahwa mukjizat tidak muncul berdasarkan keinginan manusia, tetapi merupakan perkara yang Allah jadikan sebagai hujah bagi Rasul-Nya.
Dengan demikian, manusia tidak boleh menjadikan hawa nafsunya sebagai hakim atas wahyu.
Ibn ‘Āsyūr — At-Taḥrīr wa at-Tanwīr
Ibn ‘Āsyūr melihat rangkaian ayat ini sebagai gambaran sikap keras kepala kaum musyrikin yang menetapkan syarat-syarat yang semakin berlebihan.
Mereka bukan kekurangan argumentasi, tetapi tidak mau tunduk kepada konsekuensi kebenaran.
14. Pelajaran untuk Kehidupan Kita Hari Ini
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat ini ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita.
Kadang kita juga berkata:
“Ya Allah, kalau Engkau memang sayang kepadaku, berikanlah tanda.”
Padahal Allah telah memberikan:
Al-Qur'an.
Kita berkata:
“Saya akan berubah kalau masalah saya selesai.”
Padahal mungkin Allah ingin kita berubah sebelum masalah itu selesai.
Kita berkata:
“Saya akan taat kalau rezeki saya bertambah.”
Padahal mungkin Allah sedang menguji:
Apakah kita taat karena Allah atau karena pemberian Allah?
15. Jangan Beribadah dengan Syarat yang Kita Buat Sendiri
Ada orang yang berkata:
“Kalau doa saya dikabulkan, saya akan rajin shalat.”
“Kalau usaha saya berhasil, saya akan bersedekah.”
“Kalau masalah saya selesai, saya akan kembali kepada Allah.”
Ini pola pikir yang perlu diperbaiki.
Seorang hamba berkata:
“Saya beribadah kepada Allah karena Dia adalah Rabb saya, baik ketika saya mendapatkan maupun ketika saya kehilangan.”
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah [2]: 286
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
16. Rasulullah ﷺ adalah Teladan dalam Kesederhanaan
Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan paling tinggi di antara manusia, tetapi kehidupan beliau tidak dibangun di atas kemewahan.
‘Umar bin al-Khaṭṭāb رضي الله عنه pernah menangis ketika melihat keadaan Rasulullah ﷺ yang sangat sederhana.
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah tidur di atas tikar sehingga membekas pada tubuh beliau.
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Ini merupakan pelajaran:
Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh tempat tidurnya, rumahnya, kendaraan yang dimilikinya, atau mahalnya pakaiannya.
Kemuliaan adalah dengan iman dan takwa.
17. Empat Prinsip Besar dari QS. Al-Isrā’ 93
1. Mukjizat milik Allah
Nabi ﷺ tidak membuat mukjizat sesuai permintaan manusia.
2. Rasulullah ﷺ adalah manusia sekaligus Rasul
Kita mencintai dan memuliakan beliau, tetapi tidak menyembah beliau.
3. Al-Qur'an adalah mukjizat yang terus berlaku
Ia bukan hanya untuk generasi sahabat, tetapi untuk seluruh manusia sampai akhir zaman.
4. Kesombongan dapat membuat manusia menolak kebenaran
Maka yang harus kita mohon bukan sekadar banyak bukti, tetapi hati yang tunduk kepada kebenaran.
Penutup Ceramah
Jamaah rahimakumullah,
Kaum Quraisy meminta:
rumah dari emas,
naik ke langit,
kitab yang turun dari langit,
dan berbagai tanda lainnya.
Tetapi jawaban Rasulullah ﷺ sangat sederhana:
قُلْ سُبْحَانَ رَبِّيْ هَلْ كُنْتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوْلًا
“Mahasuci Tuhanku. Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”
Dari ayat ini kita belajar:
Jangan mencari Tuhan sesuai keinginan kita.
Jangan mencari kebenaran dengan kesombongan.
Jangan mengukur kemuliaan dengan kekayaan.
Dan yang paling penting:
Jangan menunggu mukjizat baru mau taat kepada Allah.
Allah sudah memberikan kepada kita Al-Qur'an.
Allah sudah mengutus Rasulullah ﷺ.
Allah sudah memberikan akal.
Allah sudah memberikan hati.
Allah sudah memberikan kehidupan.
Allah sudah memberikan kesempatan untuk bertobat.
Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah Allah sudah memberi kita tanda?”
Tetapi:
“Apakah setelah semua tanda itu kita mau tunduk kepada Allah?”
Doa
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَنُفُوسًا مُطْمَئِنَّةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang khusyuk, jiwa yang tenteram, amal-amal saleh, dan teguhkanlah kami di atas kebenaran dan petunjuk.”
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا.
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur'an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghilang kesedihan kami, dan penghapus kegelisahan kami.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Rujukan utama
- Al-Qur’an al-Karim
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
- Ṣaḥīḥ Muslim
- Jāmi‘ al-Bayān — Imam aṭ-Ṭabarī
- Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Ibn Kathīr
- Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — Imam al-Qurṭubī
- Mafātīḥ al-Ghaib — Fakhruddīn ar-Rāzī
- At-Taḥrīr wa at-Tanwīr — Ibn ‘Āsyūr
Post a Comment