300 Tahun yang Menjadi Bukti Kekuasaan Allah
🌿 MATERI CERAMAH
300 Tahun yang Menjadi Bukti Kekuasaan Allah
Kajian QS. Al-Kahf: 25
📖 Firman Allah
وَلَبِثُوْا فِيْ كَهْفِهِمْ ثَلٰثَ مِائَةٍ سِنِيْنَ وَازْدَادُوْا تِسْعًا
Artinya:
“Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.”
(QS. Al-Kahf [18]: 25)
1. Pembukaan: Waktu Berada di Tangan Allah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ayat ke-25 ini memberikan informasi yang sangat menakjubkan. Allah memberitahukan bahwa Ashabul Kahfi tinggal di dalam gua selama 300 tahun ditambah 9 tahun.
Angka ini bukan sekadar informasi sejarah. Di baliknya terdapat pelajaran tentang:
- kekuasaan Allah terhadap waktu;
- keterbatasan manusia dalam memahami takdir Allah;
- perbedaan perhitungan waktu;
- pentingnya menggunakan waktu untuk kebaikan;
- dan yang paling penting, bukti bahwa kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang sangat mudah bagi Allah.
Allah yang mampu membuat manusia tertidur selama ratusan tahun kemudian membangunkannya kembali, tentu mampu membangkitkan seluruh manusia pada hari kiamat.
2. Allah Menguasai Waktu dan Kehidupan
Manusia sering merasa bahwa waktu adalah sesuatu yang pasti dan tidak dapat berubah.
Kita mengenal:
- pagi dan malam,
- hari dan bulan,
- tahun dan usia.
Namun bagi Allah, waktu dan seluruh perjalanan kehidupan berada dalam kekuasaan-Nya.
Allah berfirman:
📖 QS. Al-Hajj: 47
وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ وَعْدَهٗ ۗ وَاِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَاَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ
Artinya:
“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. Al-Hajj [22]: 47)
💡 Pelajaran
Perbandingan waktu dalam ayat ini menunjukkan bahwa ukuran waktu manusia tidak dapat disamakan begitu saja dengan ukuran yang berkaitan dengan Allah.
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh tergesa-gesa terhadap ketetapan Allah.
Kadang kita berkata:
“Mengapa doa saya belum dikabulkan?”
“Mengapa pertolongan Allah belum datang?”
“Mengapa masalah ini belum selesai?”
Padahal Allah memiliki ilmu dan hikmah yang tidak kita miliki.
3. Tiga Ratus Tahun Menurut Perhitungan Matahari, 309 Tahun Menurut Bulan
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa angka 300 tahun dan 309 tahun berkaitan dengan perbedaan sistem kalender matahari dan bulan.
Allah menyebut:
ثَلٰثَ مِائَةٍ سِنِيْنَ وَازْدَادُوْا تِسْعًا
“300 tahun dan ditambah 9 tahun.”
Perbedaan tersebut dapat dipahami sebagai:
300 tahun Syamsiyah ≈ 309 tahun Qamariyah.
Hal ini menunjukkan ketelitian penyebutan Al-Qur'an sekaligus mengarahkan manusia untuk memperhatikan sistem waktu yang Allah ciptakan.
Allah berfirman:
📖 QS. Yunus: 5
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ ۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
(QS. Yunus [10]: 5)
🌙 Renungan
Matahari dan bulan bukan hanya untuk keindahan.
Keduanya menjadi alat manusia mengenali waktu.
Dengan matahari manusia mengetahui:
- siang dan malam,
- pergantian musim,
- perjalanan hari.
Dengan bulan manusia mengetahui:
- pergantian bulan,
- waktu-waktu ibadah,
- Ramadan,
- Syawal,
- Zulhijah,
- dan berbagai ketentuan syariat.
Maka semakin seseorang mempelajari alam, seharusnya semakin bertambah pengakuannya terhadap kebesaran Allah.
4. Allah Mampu Menghentikan Kesadaran Manusia Selama Ratusan Tahun
Ashabul Kahfi tertidur sangat lama.
Mereka tidak mengetahui berlalunya waktu tersebut.
Ketika dibangunkan, mereka bahkan berkata:
قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ
“Kami berada (di sini) sehari atau setengah hari.”
(QS. Al-Kahf [18]: 19)
Bayangkan!
Mereka tidur selama ratusan tahun, tetapi ketika bangun mereka merasa baru tidur sebentar.
Ini mengajarkan bahwa persepsi manusia terhadap waktu sangat terbatas.
Allah juga memberikan gambaran tentang orang yang mati kemudian dibangkitkan.
📖 QS. Al-Baqarah: 259
فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ ۗ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya:
“Lalu Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya. Dia bertanya, ‘Berapa lama kamu tinggal (di sini)?’ Dia menjawab, ‘Aku tinggal sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman, ‘Tidak! Kamu telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, dan lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka ketika telah jelas baginya, dia berkata, ‘Aku mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 259)
🔎 Hubungan dengan Ashabul Kahfi
Perhatikan kesamaannya:
Tidur/kematian → waktu yang sangat panjang → dibangkitkan → manusia tidak menyadari panjangnya waktu.
Ini menjadi salah satu cara Al-Qur'an menjelaskan bahwa kebangkitan bukan sesuatu yang mustahil.
5. Tidur Adalah Pengingat Kecil tentang Kematian
Allah berfirman:
📖 QS. Az-Zumar: 42
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Artinya:
“Allah memegang nyawa seseorang ketika kematiannya dan nyawa seseorang yang belum mati ketika dia tidur. Kemudian Dia tahan nyawa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Az-Zumar [39]: 42)
🌿 Renungan
Setiap malam kita tidur.
Kita memejamkan mata.
Kita kehilangan kesadaran.
Kita tidak tahu apa yang terjadi di sekitar kita.
Kemudian Allah membangunkan kita kembali.
Karena itu, tidur seharusnya menjadi pengingat:
“Suatu hari nanti aku akan tidur untuk terakhir kalinya, dan setelah itu aku akan dibangkitkan oleh Allah.”
6. Rasulullah ﷺ Mengajarkan Doa Ketika Bangun Tidur
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Artinya:
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kebangkitan.”
(HR. al-Bukhari)[^1]
Perhatikan kalimatnya:
أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا
“Allah menghidupkan kami setelah mematikan kami.”
Tidur disebut seperti kematian karena seseorang kehilangan kesadarannya.
Kemudian:
وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dan kepada-Nya kebangkitan.”
Ini luar biasa.
Bangun tidur seharusnya bukan sekadar:
“Alhamdulillah, sudah pagi.”
Tetapi hati seorang mukmin seharusnya mengingat:
“Sebagaimana Allah membangunkanku dari tidur, Allah juga akan membangkitkanku setelah kematian.”
7. Jangan Menyia-nyiakan Waktu
Ayat Ashabul Kahfi juga mengajarkan kepada kita betapa cepatnya waktu berlalu.
Allah bersumpah dengan waktu:
📖 QS. Al-'Ashr: 1–3
وَالْعَصْرِ ۙ ١
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ ۙ ٢
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ ٣
Artinya:
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
(QS. Al-'Ashr [103]: 1–3)
Imam asy-Syafi'i رحمه الله memberikan perhatian besar terhadap surah ini. Diriwayatkan dari beliau:
لَوْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلَّا هَذِهِ السُّورَةَ لَكَفَتْهُمْ
Artinya:
“Seandainya Allah tidak menurunkan hujah kepada makhluk-Nya selain surah ini, niscaya surah ini telah mencukupi mereka.”
[^2]
Mengapa?
Karena seluruh manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang mengisi waktunya dengan empat perkara:
- Iman
- Amal saleh
- Saling menasihati dalam kebenaran
- Saling menasihati dalam kesabaran
8. Empat Modal Agar Waktu Tidak Sia-Sia
Pertama: Iman
Bukan sekadar mengaku beriman, tetapi menjaga tauhid dan ketaatan kepada Allah.
Ashabul Kahfi adalah contoh pemuda yang mempertahankan iman ketika lingkungan mereka rusak.
Allah berfirman:
اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
(QS. Al-Kahf [18]: 13)
Kedua: Amal saleh
Iman harus melahirkan amal.
Waktu yang panjang tidak bermanfaat jika tidak diisi dengan kebaikan.
Ketiga: Menyampaikan kebenaran
Ashabul Kahfi tidak hanya beriman secara pribadi.
Mereka juga berani mengatakan:
رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
“Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi.”
(QS. Al-Kahf [18]: 14)
Keempat: Sabar
Mempertahankan iman membutuhkan kesabaran.
Mereka kehilangan kenyamanan, meninggalkan lingkungan dan masuk ke dalam gua.
Tetapi Allah mengganti pengorbanan mereka dengan pertolongan-Nya.
9. Jangan Takut dengan Sedikitnya Usia, Takutlah dengan Sia-sianya Usia
Salah satu keindahan kisah Ashabul Kahfi adalah bahwa mereka disebut:
فِتْيَةٌ
“Para pemuda.”
Allah mengabadikan pemuda-pemuda ini dalam Al-Qur'an bukan karena kekayaan mereka, bukan karena kedudukan mereka, tetapi karena iman mereka.
Rasulullah ﷺ juga menyebutkan salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat:
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
Artinya:
“Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)[^3]
Maka pesan untuk para pemuda:
Jangan tunggu tua untuk menjadi saleh.
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah.
Jangan menunggu pensiun untuk membaca Al-Qur'an.
Jangan menunggu sakit untuk memperbanyak ibadah.
Gunakan masa muda sebelum datang masa tua.
10. Hadis tentang Lima Perkara Sebelum Lima Perkara
Rasulullah ﷺ bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum kematianmu.”
[^4]
Hadis ini sangat relevan dengan kisah Ashabul Kahfi.
Mereka menggunakan masa muda untuk mempertahankan iman.
11. Imam Ibnul Qayyim: Waktu adalah Kehidupan
Ibnul Qayyim رحمه الله memberikan nasihat yang sangat dalam mengenai waktu:
وَوَقْتُ الْإِنْسَانِ هُوَ عُمْرُهُ فِي الْحَقِيقَةِ، وَهُوَ مَادَّةُ حَيَاتِهِ الْأَبَدِيَّةِ فِي النَّعِيمِ الْمُقِيمِ، وَمَادَّةُ مَعِيشَتِهِ الضَّنْكِ فِي الْعَذَابِ الْأَلِيمِ
Artinya:
“Waktu seseorang pada hakikatnya adalah umurnya. Waktu merupakan bahan kehidupan abadinya dalam kenikmatan yang kekal, dan merupakan bahan kehidupannya dalam kesempitan berupa azab yang pedih.”
[^5]
Maksudnya, umur kita bukan sekadar angka.
Misalnya seseorang berusia 40 tahun.
Yang sebenarnya dia miliki bukanlah “40 tahun” secara utuh.
Sebagian sudah berlalu.
Yang tersisa adalah waktu yang Allah berikan kepadanya sebelum kematian.
Maka pertanyaan pentingnya bukan:
“Berapa lama saya hidup?”
Tetapi:
“Untuk apa saya menggunakan hidup saya?”
12. Jangan Sibuk Memperdebatkan Hal yang Tidak Bermanfaat
Ayat 25 memberikan informasi tentang lamanya Ashabul Kahfi.
Namun pada ayat sebelumnya Allah telah mengajarkan agar manusia tidak berlebihan dalam memperdebatkan perkara yang tidak memiliki manfaat.
Allah berfirman:
قُلْ رَّبِّيْٓ اَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ
“Katakanlah, ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka.’”
(QS. Al-Kahf [18]: 22)
Ini prinsip penting dalam ilmu:
Tidak semua hal yang bisa diperdebatkan harus diperdebatkan.
Seorang muslim harus mampu membedakan:
Ilmu yang bermanfaat
dengan
Informasi yang sekadar memuaskan rasa ingin tahu.
Jumlah persis penghuni gua, nama-nama mereka, nama anjing mereka, lokasi gua dan berbagai rincian yang tidak ditegaskan wahyu bukanlah inti kisah.
Yang jauh lebih penting adalah:
Mengapa Allah menceritakan kisah ini?
Jawabannya antara lain:
Untuk memperkuat iman kepada kekuasaan Allah dan kepastian hari kebangkitan.
13. Allah Mampu Mengubah Keadaan dalam Sekejap
Ashabul Kahfi masuk gua sebagai pemuda yang sedang menghadapi ancaman.
Mereka keluar dari gua setelah ratusan tahun.
Dunia telah berubah.
Penguasa telah berganti.
Masyarakat telah berubah.
Zaman telah berubah.
Tetapi Allah tetap sama.
Ini memberikan pelajaran:
Jangan pernah berputus asa terhadap pertolongan Allah.
Keadaan yang hari ini tampak mustahil bisa berubah dengan kehendak Allah.
Allah berfirman:
📖 QS. Ath-Thalaq: 2–3
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ٢ وَيَرْزُقْهٗ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ
Artinya:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. Ath-Thalaq [65]: 2–3)
14. Pelajaran Besar dari 300 Tahun Ashabul Kahfi
Dari ayat ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran:
1️⃣ Waktu adalah milik Allah
Manusia hanya menjalani waktu yang Allah berikan.
2️⃣ Jangan sombong dengan ilmu
Kita tidak mengetahui seluruh rahasia kehidupan.
3️⃣ Tidur adalah pengingat kematian
Setiap kali bangun tidur, ingatlah bahwa suatu hari kita akan dibangkitkan.
4️⃣ Hari kebangkitan pasti terjadi
Allah yang membangunkan Ashabul Kahfi setelah ratusan tahun mampu membangkitkan seluruh manusia.
5️⃣ Jangan menyia-nyiakan usia
Waktu yang berlalu tidak akan kembali.
6️⃣ Masa muda adalah kesempatan emas
Ashabul Kahfi menjadi teladan bahwa pemuda dapat menjadi pembela tauhid.
7️⃣ Kesulitan tidak selamanya
Allah mampu mengubah keadaan dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.
8️⃣ Fokus kepada pelajaran, bukan sekadar perdebatan
Tidak semua rincian sejarah harus diketahui apabila tidak membawa manfaat bagi iman dan amal.
🌿 PENUTUP CERAMAH
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ashabul Kahfi tidur selama ratusan tahun.
Ketika mereka bangun, mereka merasa hanya tidur sehari atau setengah hari.
Kita mungkin hidup 60, 70 atau 80 tahun.
Tetapi ketika kematian datang, semuanya terasa begitu cepat.
Allah menggambarkan kehidupan dunia:
📖 QS. Yunus: 45
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَاَنْ لَّمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُوْنَ بَيْنَهُمْ ۗ
Artinya:
“Dan pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka, mereka merasa seakan-akan tidak pernah tinggal (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (ketika) mereka saling berkenalan.”
(QS. Yunus [10]: 45)
Maka jangan sampai kita baru menyadari nilai waktu setelah waktu itu habis.
Jangan sampai ketika usia tua kita berkata:
“Seandainya masa mudaku kugunakan untuk Al-Qur'an.”
Jangan sampai ketika sakit kita berkata:
“Seandainya ketika sehat aku memperbanyak amal.”
Jangan sampai ketika kematian datang kita berkata:
“Seandainya Allah memberiku kesempatan sekali lagi.”
Karena kesempatan itu tidak akan kembali.
Maka selama Allah masih memberikan kita:
waktu → gunakan untuk ibadah.
kesehatan → gunakan untuk amal.
masa muda → gunakan untuk ketaatan.
rezeki → gunakan untuk sedekah.
ilmu → gunakan untuk mengajarkan kebaikan.
Dan ketika kita bangun setiap pagi, ucapkan dengan penuh kesadaran:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kebangkitan.”
Semoga Allah menjadikan umur kita panjang dalam ketaatan, waktu kita penuh keberkahan, dan ketika ajal datang, kita menghadap Allah dalam keadaan husnul khatimah.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
📚 Catatan Kaki / Rujukan
[^1]: Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab ad-Da‘awāt, hadis tentang doa bangun tidur: «الحمد لله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور».
[^2]: Ismail bin Umar Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3. Pernyataan serupa dinukil dari Imam asy-Syafi‘i mengenai kandungan Surah Al-‘Ashr.
[^3]: Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab az-Zakah, hadis tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah; Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitab az-Zakah.
[^4]: Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما. Al-Hakim menilainya sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim. Maknanya juga masyhur dalam kitab-kitab nasihat tentang pemanfaatan umur.
[^5]: Muhammad bin Abi Bakr Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī (juga dikenal sebagai ad-Dā’ wa ad-Dawā’), pembahasan tentang waktu dan umur manusia.
Post a Comment