Jangan Berdebat Tanpa Ilmu: Belajar Rendah Hati di Hadapan Perkara Gaib
Materi Ceramah Surah Al-Kahf Ayat 22
“Jangan Berdebat Tanpa Ilmu: Belajar Rendah Hati di Hadapan Perkara Gaib”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan ini kita merenungkan Surah Al-Kahf ayat 22, ayat yang mengajarkan kepada kita sebuah akhlak ilmiah yang sangat penting: jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak kita ketahui, jangan berdebat hanya untuk menang, dan jangan menjadikan perkara yang tidak penting sebagai sumber perselisihan.
1. Firman Allah tentang jumlah Ashabul Kahfi
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
سَيَقُوْلُوْنَ ثَلٰثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْۚ وَيَقُوْلُوْنَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًاۢ بِالْغَيْبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ سَبْعَةٌ وَّثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۗقُلْ رَّبِّيْٓ اَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَّا يَعْلَمُهُمْ اِلَّا قَلِيْلٌ ەۗ فَلَا تُمَارِ فِيْهِمْ اِلَّا مِرَاۤءً ظَاهِرًا ۖوَّلَا تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِّنْهُمْ اَحَدًا
Artinya:
“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) tiga orang, yang keempat adalah anjingnya,’ dan (yang lain) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) lima orang, yang keenam adalah anjingnya,’ sebagai terkaan terhadap yang gaib; dan (yang lain) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya.’ Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.’ Karena itu janganlah engkau (Muhammad) berbantah tentang mereka, kecuali perbantahan lahir saja dan jangan engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapa pun.”
(QS. Al-Kahf: 22)
2. Pelajaran pertama: Tidak semua hal harus kita ketahui
Jamaah sekalian,
Perhatikan bagaimana Allah menyebutkan perbedaan pendapat manusia tentang jumlah Ashabul Kahfi.
Ada yang mengatakan tiga, ada yang mengatakan lima, dan ada yang mengatakan tujuh.
Tetapi Allah tidak menjadikan jumlah mereka sebagai inti pelajaran.
Allah justru mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang lebih penting:
قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ
“Katakanlah: Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka.”
Ini adalah pendidikan bagi kita agar memiliki sikap:
“Saya tidak tahu.”
Kalimat “saya tidak tahu” bukan tanda kebodohan. Justru dalam banyak keadaan, ia merupakan tanda kejujuran dan kedewasaan ilmu.
Seorang yang berilmu mengetahui batas ilmunya.
3. Islam melarang berbicara tanpa ilmu
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sungguh, pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isrā’: 36)
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang.
Seseorang mendapatkan informasi di WhatsApp, Facebook, TikTok, YouTube atau media sosial lainnya. Kemudian langsung menyebarkannya.
Padahal belum tentu benar.
Islam mengajarkan:
Dengar → periksa → pahami → baru berbicara.
Bukan:
Dengar → percaya → sebarkan.
4. “Rojman bil-ghaib”: berbicara tentang sesuatu tanpa dasar
Allah menyebut sebagian pendapat mereka:
رَجْمًا بِالْغَيْبِ
Maknanya adalah berbicara atau menebak tentang perkara gaib tanpa ilmu dan tanpa dasar yang kuat.
Ini merupakan penyakit yang sering terjadi:
- merasa yakin padahal tidak memiliki bukti;
- menyampaikan dugaan sebagai fakta;
- mengutip berita tanpa memeriksa sumber;
- menyebarkan cerita agama tanpa mengetahui kesahihannya;
- berdebat dengan orang lain hanya berdasarkan asumsi.
Karena itu, seorang Muslim harus membedakan:
ilmu, dugaan, dan ketidaktahuan.
Kalau kita mengetahui, katakan dengan ilmu.
Kalau kita hanya menduga, katakan bahwa itu dugaan.
Kalau tidak mengetahui, katakan:
اللَّهُ أَعْلَمُ — Allah lebih mengetahui.
5. Dalil dari Sunnah: Jangan menyampaikan semua yang didengar
Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Artinya:
“Cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta apabila ia menyampaikan semua yang dia dengar.”
(HR. Muslim)[^1]
Perhatikan, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa orang tersebut sengaja membuat kebohongan.
Mengapa bisa disebut pendusta?
Karena orang yang sembarangan menyampaikan semua yang didengarnya pasti akan menyampaikan pula sesuatu yang sebenarnya tidak benar.
Pelajaran untuk zaman sekarang
Hadis ini sangat penting dalam menghadapi budaya forward dan share.
Jangan karena sebuah pesan diawali:
“Info penting!”
atau:
“Sebarkan kepada semua orang!”
lalu kita langsung menyebarkannya.
Tanyakan:
“Apakah benar?”
“Dari mana sumbernya?”
“Apakah ada dalilnya?”
“Apakah perlu saya sebarkan?”
6. Larangan berdusta atas nama Nabi ﷺ
Lebih berat lagi jika informasi yang tidak benar tersebut dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau bersabda:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya:
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
(Muttafaq ‘alaih)[^2]
Karena itu, ketika menyampaikan hadis jangan mudah mengatakan:
“Rasulullah bersabda…”
sebelum kita memastikan hadis tersebut memang berasal dari Rasulullah ﷺ.
7. Pelajaran kedua: Jangan menjadikan perbedaan kecil sebagai pertengkaran besar
Allah berfirman:
فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا
Artinya:
“Karena itu janganlah engkau berbantah tentang mereka, kecuali perbantahan lahir saja.”
Allah tidak memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk memenangkan perdebatan mengenai jumlah Ashabul Kahfi.
Mengapa?
Karena jumlah mereka tidak menjadi inti petunjuk dari kisah tersebut.
Yang jauh lebih penting adalah:
- mereka beriman;
- mereka mempertahankan tauhid;
- mereka berani meninggalkan kesyirikan;
- mereka memohon rahmat Allah;
- Allah memberikan pertolongan kepada mereka;
- Allah menunjukkan kekuasaan-Nya;
- dan kisah mereka menjadi bukti bahwa kebangkitan itu benar.
Jadi, jangan sampai kita sibuk memperdebatkan cabang tetapi melupakan pokok.
Ada orang yang sangat bersemangat memperdebatkan:
“Berapa jumlah Ashabul Kahfi?”
Tetapi lupa bertanya:
“Apakah saya sudah seperti Ashabul Kahfi dalam mempertahankan iman?”
Ada yang sibuk memperdebatkan detail kisah.
Tetapi lupa mengambil pelajaran dari kisah tersebut.
8. Al-Qur'an mengajarkan debat dengan cara terbaik
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَا تُجَادِلُوٓا أَهْلَ الْكِتٰبِ إِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ
Artinya:
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik…”
(QS. Al-‘Ankabūt: 46)
Perhatikan kata:
بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ
bukan sekadar baik, tetapi yang paling baik.
Artinya, tujuan dialog bukan mempermalukan lawan.
Bukan menunjukkan:
“Saya lebih pintar daripada kamu.”
Tetapi mencari:
“Apa yang benar menurut Allah?”
9. Akhlak dalam perbedaan pendapat
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله memberikan kaidah yang sangat indah tentang perdebatan dan pencarian kebenaran. Beliau menjelaskan bahwa orang yang benar-benar mencari kebenaran tidak menjadikan kemenangan dirinya sebagai tujuan.
Semangat seorang pencari ilmu adalah:
“Kebenaran adalah tujuan; bukan kemenangan pribadi.”
Hal ini sejalan dengan prinsip para ulama dalam adab al-ikhtilāf: ketika dalil telah jelas, seorang Muslim mengikuti kebenaran, bukan mempertahankan pendapat hanya karena pendapat tersebut keluar dari dirinya sendiri.[^3]
10. Sikap Imam Malik ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya
Salah satu teladan yang sangat terkenal adalah Imam Mālik رحمه الله.
Beliau pernah didatangi seseorang dengan membawa banyak pertanyaan. Sebagian pertanyaan beliau jawab, sedangkan sebagian lainnya beliau jawab:
لَا أَدْرِي
“Saya tidak tahu.”
Orang tersebut merasa heran dan berkata bahwa ia datang dari tempat yang jauh.
Imam Mālik tetap menjawab:
قُلْ لِقَوْمِكَ إِنَّ مَالِكًا لَا يَدْرِي
“Sampaikan kepada kaummu bahwa Mālik tidak mengetahui.”
Ini menunjukkan bahwa ulama besar tidak malu mengatakan “tidak tahu”.[^4]
Pelajaran penting:
Tidak tahu + jujur = kemuliaan.
Sedangkan:
Tidak tahu + sok tahu = bahaya.
11. Jangan bertanya kepada orang yang tidak memiliki ilmu
Allah berfirman:
وَلَا تَسْتَفْتِ فِيْهِمْ مِّنْهُمْ أَحَدًا
Artinya:
“Dan jangan engkau menanyakan tentang mereka kepada siapa pun.”
Ayat ini mengajarkan bahwa dalam persoalan agama, sumber ilmu harus diperhatikan.
Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Naḥl: 43)
Maka jika kita tidak mengetahui persoalan agama:
bertanyalah kepada ahlinya.
Jangan menjadikan:
- potongan video,
- komentar media sosial,
- pesan berantai,
- atau pendapat orang yang tidak memiliki kompetensi
sebagai satu-satunya rujukan agama.
12. Para ulama menjelaskan: ilmu adalah mengetahui batas diri
Imam Ibn Rajab al-Hanbali رحمه الله menjelaskan pentingnya berhenti pada sesuatu yang tidak diketahui dan tidak berbicara tanpa ilmu. Sikap tersebut merupakan bagian dari kehati-hatian dalam agama.
Beliau menekankan bahwa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa dan sering mengatakan “saya tidak tahu” ketika tidak memiliki ilmu tentang suatu persoalan.[^5]
Ini adalah sesuatu yang perlu kita hidupkan kembali.
Hari ini orang kadang merasa:
“Saya sudah melihat satu video, berarti saya sudah tahu.”
Padahal melihat video satu menit tidak menjadikan seseorang ahli dalam suatu masalah.
13. Jangan mengubah dugaan menjadi keyakinan
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat 22 mengajarkan satu prinsip besar:
Jangan mengubah sesuatu yang belum pasti menjadi sesuatu yang pasti.
Contohnya:
Dugaan:
“Saya kira dia melakukan itu.”
Jangan berubah menjadi:
“Dia memang pasti melakukan itu.”
Dugaan:
“Katanya ada hadis…”
Jangan berubah menjadi:
“Rasulullah ﷺ pasti bersabda…”
Dugaan:
“Sepertinya berita ini benar.”
Jangan langsung berubah menjadi:
“Berita ini benar, sebarkan!”
Islam mengajarkan tabayyun.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيْبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 6)
14. Bahaya debat tanpa ilmu
Rasulullah ﷺ memperingatkan tentang perdebatan yang tidak bermanfaat.
Beliau bersabda:
أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
Artinya:
“Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras dalam permusuhan dan perdebatan.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)[^6]
Yang tercela bukan diskusi ilmiah.
Yang tercela adalah jidal yang berubah menjadi permusuhan, keras kepala dan mempertahankan kesalahan.
15. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan
Ada kalanya kita mengetahui bahwa pendapat seseorang salah.
Tetapi kita tetap harus bertanya:
“Apakah membantahnya sekarang membawa maslahat?”
Allah mengajarkan:
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
Artinya:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sungguh, setan dapat menimbulkan perselisihan di antara mereka.”
(QS. Al-Isrā’: 53)
Karena terkadang masalah bukan terletak pada apa yang kita katakan, tetapi bagaimana cara kita mengatakannya.
16. Pelajaran khusus bagi guru dan orang tua
Ayat ini juga sangat relevan dalam pendidikan.
Ketika seorang anak bertanya:
“Ayah, apakah jumlah Ashabul Kahfi benar-benar tujuh?”
Kita tidak harus selalu memberikan jawaban panjang.
Kita dapat mengatakan:
“Allah lebih mengetahui. Yang pasti, Al-Qur'an menyebutkan bahwa mereka adalah pemuda yang beriman kepada Allah. Mari kita pelajari pelajaran dari iman mereka.”
Inilah pendidikan yang penting:
Anak bukan hanya belajar “jawaban”.
Anak juga harus belajar:
bagaimana mengetahui sesuatu, bagaimana memeriksa informasi, dan bagaimana mengatakan “saya belum tahu”.
17. Pelajaran dari Ashabul Kahfi: fokus kepada hal yang bermanfaat
Allah tidak menjadikan nama-nama pemuda itu sebagai inti kisah.
Allah juga tidak menjadikan nama anjing mereka sebagai inti kisah.
Yang Allah tonjolkan adalah:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Artinya:
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
(QS. Al-Kahf: 13)
Inilah inti kisah.
Mereka adalah pemuda yang beriman.
Mereka mendapatkan tambahan petunjuk.
Mereka memiliki keberanian mempertahankan tauhid.
Mereka mendapatkan rahmat Allah.
Mereka mendapatkan perlindungan Allah.
18. Apa yang harus kita bawa pulang?
Dari ayat 22 ini setidaknya ada 7 pelajaran besar:
1. Tidak semua perkara harus kita ketahui
Ada perkara yang Allah tidak jelaskan secara rinci.
2. Berani mengatakan “Allah lebih mengetahui”
Ini bukan kelemahan, tetapi akhlak orang berilmu.
3. Jangan berbicara tanpa ilmu
Terutama dalam perkara agama.
4. Jangan mudah menyebarkan berita
Pastikan kebenarannya terlebih dahulu.
5. Jangan menjadikan perbedaan sebagai permusuhan
Perbedaan harus disikapi dengan ilmu dan adab.
6. Fokus kepada perkara yang bermanfaat
Jangan menghabiskan energi untuk persoalan yang tidak membawa perubahan pada iman dan amal.
7. Ambil ibrah, bukan sekadar informasi
Tujuan kisah Al-Qur'an bukan memuaskan rasa penasaran, tetapi membimbing manusia kepada iman dan takwa.
Penutup
Jamaah rahimakumullah,
Surah Al-Kahf ayat 22 seakan-akan mengingatkan kita:
Tidak semua yang kita dengar harus kita percaya.
Tidak semua yang kita percaya harus kita ucapkan.
Tidak semua yang kita ucapkan harus kita perdebatkan.
Dan tidak semua perdebatan layak menghabiskan persaudaraan.
Ketika tidak tahu, katakan:
اللَّهُ أَعْلَمُ
Ketika mendapat berita, lakukan:
فَتَبَيَّنُوا
Ketika berdiskusi, gunakan:
الَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ
Dan ketika menemukan kisah dalam Al-Qur'an, jangan hanya bertanya:
“Apa yang terjadi?”
Tetapi tanyakan:
“Apa yang Allah ingin saya pelajari dari kisah ini?”
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mencintai ilmu, jujur ketika tidak mengetahui, santun ketika berbeda pendapat, dan selalu mengikuti kebenaran meskipun kebenaran itu tidak sesuai dengan keinginan kita.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَهُدًى وَتُقًى.
“Ya Allah, ajarilah kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu, petunjuk, dan ketakwaan.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Catatan kaki / Rujukan
[^1]: Muslim bin al-Hajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Muqaddimah, Bāb an-Nahy ‘an al-Ḥadīṡ bi-Kulli Mā Sami‘a, no. 5. Teks hadis: «كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ» — “Cukuplah seseorang disebut pendusta apabila ia menyampaikan semua yang ia dengar.”
[^2]: Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-‘Ilm; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Muqaddimah. Hadis mutawatir tentang larangan berdusta atas nama Nabi ﷺ.
[^3]: Ibn al-Qayyim, I‘lām al-Muwaqqi‘īn ‘an Rabb al-‘Ālamīn, pembahasan tentang kewajiban mengikuti kebenaran dan sikap para ulama terhadap dalil.
[^4]: Al-Qāḍī ‘Iyāḍ, Tartīb al-Madārik wa Taqrīb al-Masālik li-Ma‘rifati A‘lām Madhhab Mālik, biografi Imam Mālik. Riwayat tentang Imam Mālik yang berkali-kali menjawab «لَا أَدْرِي» ketika tidak mengetahui jawaban.
[^5]: Ibn Rajab al-Ḥanbalī, Faḍl ‘Ilm as-Salaf ‘alā al-Khalaf, pembahasan mengenai kehati-hatian ulama salaf dalam berfatwa dan pentingnya mengetahui batas ilmu.
[^6]: Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Maẓālim; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-‘Ilm. Hadis: «أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ» — “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras dalam permusuhan dan perdebatan.”
Catatan penting: Dalam persoalan jumlah Ashabul Kahfi, ayat secara tegas menyebut tiga pendapat dan mencela dua pendapat pertama sebagai رَجْمًا بِالْغَيْبِ. Karena itu, lebih aman dalam ceramah untuk tidak menjadikan nama-nama mereka atau rincian riwayat Israiliyyat sebagai fakta pasti apabila tidak memiliki dasar yang sahih. Yang paling penting adalah ibrah iman, tauhid, hidayah, dan adab terhadap ilmu.
Post a Comment