Jangan Memastikan Masa Depan Tanpa Mengucapkan Insya Allah


🌿 CERAMAH SURAH AL-KAHF AYAT 23

“Jangan Memastikan Masa Depan Tanpa Mengucapkan Insya Allah”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Salah satu pelajaran penting dari rangkaian kisah Ashabul Kahfi adalah tentang bagaimana seorang Muslim memandang masa depan.

Kita boleh membuat rencana.

Kita boleh memiliki target.

Kita boleh berjanji.

Kita boleh berkata, “Besok saya akan melakukan ini.”

Tetapi seorang mukmin menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kuasa mutlak atas masa depan.

Karena itu Allah mengajarkan kepada kita satu kalimat yang sangat pendek tetapi memiliki makna tauhid yang sangat dalam:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ — INSYA ALLAH


1. Allah melarang memastikan sesuatu di masa depan

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ

Artinya:

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi.’”

(QS. Al-Kahf: 23)

Ayat ini berkaitan erat dengan ayat berikutnya.

Allah melanjutkan:

اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۖوَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا

Artinya:

“Kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.’”

(QS. Al-Kahf: 24)

Jadi ayat 23 dan 24 harus dipahami sebagai satu kesatuan.


2. Mengapa kita harus mengatakan “Insya Allah”?

Karena manusia tidak mengetahui masa depan.

Allah berfirman:

وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya:

“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

(QS. Luqmān: 34)

Perhatikan kalimat:

مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

“Apa yang akan diperolehnya besok.”

Tidak ada manusia yang mengetahui masa depan secara mutlak.

Kita hanya bisa merencanakan.

Allah yang menentukan hasil akhirnya.


3. “Insya Allah” bukan sekadar ucapan

Jamaah rahimakumullah,

Sering kali kita mengucapkan:

“Insya Allah.”

Tetapi terkadang hanya menjadi kebiasaan bahasa.

Padahal insya Allah adalah pengakuan tauhid.

Ketika kita mengatakan:

“Insya Allah saya datang besok,”

maknanya bukan:

“Saya tidak serius.”

Tetapi:

“Saya akan berusaha datang besok, tetapi terlaksananya rencana tersebut tetap berada di bawah kehendak Allah.”

Inilah keseimbangan antara ikhtiar manusia dan kehendak Allah.


4. Kisah Nabi Muhammad ﷺ dan janji “besok”

Dalam beberapa riwayat tafsir disebutkan bahwa orang-orang Quraisy bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai beberapa perkara. Nabi ﷺ mengatakan bahwa beliau akan memberikan jawabannya pada waktu berikutnya.

Namun ketika itu beliau belum mengucapkan:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Kemudian wahyu turun memberikan bimbingan kepada beliau.

Allah berfirman:

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًا ۙ ۝ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Artinya:

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok,’ kecuali (dengan mengatakan), ‘Jika Allah menghendaki.’”

(QS. Al-Kahf: 23–24)

Ini menunjukkan betapa pentingnya mengembalikan urusan masa depan kepada kehendak Allah.


5. Jangan salah memahami “Insya Allah”

Ada dua sikap yang sama-sama keliru.

❌ Pertama: mengatakan “Insya Allah” tetapi tidak berniat melaksanakan

Misalnya seseorang sebenarnya tidak ingin datang.

Dia berkata:

“Besok saya datang, insya Allah.”

Padahal dalam hatinya sudah berniat tidak datang.

Ini bukan sikap yang benar.

✅ Yang benar:

Berniat sungguh-sungguh, berusaha melaksanakan, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.

Contohnya:

“Insya Allah besok saya hadir.”

Artinya:

Saya berkomitmen untuk hadir dan akan berusaha mewujudkannya, tetapi saya menyadari bahwa Allah yang menentukan apakah saya benar-benar dapat hadir.


6. Insya Allah mengajarkan tawakkal

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya:

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

(QS. Āli ‘Imrān: 159)

Perhatikan urutannya:

عَزَمْتَ — membulatkan tekad

kemudian:

فَتَوَكَّلْ — bertawakal.

Jadi Islam tidak mengajarkan:

“Tidak perlu merencanakan karena semuanya sudah ditentukan.”

Tidak!

Islam mengajarkan:

Rencanakan → ikhtiarkan → berdoa → tawakal → terima keputusan Allah.


7. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha

Rasulullah ﷺ pernah mengajarkan kepada seseorang yang bertanya tentang untanya.

Beliau ﷺ bersabda:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

Artinya:

“Ikatlah unta itu dan bertawakallah.”

(HR. at-Tirmidzi)[^1]

Ini adalah prinsip yang sangat indah.

Jangan mengatakan:

“Saya tawakal kepada Allah.”

tetapi untanya dibiarkan begitu saja.

Ikat untanya terlebih dahulu.

Setelah itu:

Tawakal kepada Allah.

Begitu pula kehidupan kita.

Mau ujian?

Belajar + doa + tawakal.

Mau mengajar?

Persiapkan materi + doa + tawakal.

Mau menjalankan pekerjaan?

Ikhtiar + perencanaan + doa + tawakal.


8. Insya Allah mengajarkan kerendahan hati

Mengucapkan:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ

juga berarti:

“Saya bukan penguasa masa depan.”

Kita bisa berkata:

“Besok saya akan mengajar.”

Tetapi siapa yang menjamin kita masih sehat besok?

Kita berkata:

“Besok saya akan pergi.”

Siapa yang menjamin perjalanan kita berjalan lancar?

Kita berkata:

“Tahun depan saya akan melakukan ini.”

Siapa yang menjamin kita masih diberi umur?

Karena itu seorang mukmin tidak sombong terhadap rencana masa depannya.


9. Allah mengajarkan kisah Nabi Sulaiman عليه السلام

Rasulullah ﷺ bersabda:

قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ: لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى مِائَةِ امْرَأَةٍ، كُلُّهُنَّ تَأْتِي بِفَارِسٍ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ: قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَلَمْ يَقُلْ، فَطَافَ بِهِنَّ فَلَمْ تَحْمِلْ مِنْهُنَّ إِلَّا امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ جَاءَتْ بِشِقِّ رَجُلٍ

Artinya secara ringkas:

“Sulaiman bin Dawud berkata, ‘Malam ini aku akan menggilir seratus wanita; masing-masing akan melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah.’ Malaikat berkata kepadanya, ‘Katakanlah: Insya Allah.’ Namun ia tidak mengucapkannya. Kemudian ia menggilir mereka, tetapi tidak ada yang melahirkan kecuali seorang wanita yang melahirkan bayi dalam keadaan tidak sempurna.”

(Muttafaq ‘alaih)[^2]

Dalam riwayat lain disebutkan jumlah sembilan puluh sembilan atau seratus, sesuai perbedaan riwayat.

Pelajaran utamanya bukan persoalan jumlah wanita tersebut.

Pelajarannya adalah:

Jangan merasa pasti terhadap sesuatu yang belum terjadi.


10. Bahkan Nabi ﷺ diperintahkan mengucapkan “Insya Allah”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ini sangat menarik.

Yang diperintahkan mengucapkan “Insya Allah” adalah Rasulullah ﷺ.

Maka terlebih lagi kita.

Jangan sampai kita terlalu yakin dengan kekuatan kita sendiri.

Allah-lah yang mengatur segala sesuatu.

Allah berfirman:

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Artinya:

“Dan kamu tidak mampu menghendaki sesuatu pun kecuali apabila Allah menghendakinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”

(QS. Al-Insān: 30)


11. Jangan menggunakan “Insya Allah” untuk mengganti tanggung jawab

Ini juga penting.

Kadang seseorang berkata:

“Insya Allah saya kerjakan.”

Tetapi tidak pernah mengerjakannya.

Kemudian ketika ditanya:

“Kan saya bilang insya Allah.”

Ini bukan makna yang benar.

Insya Allah tidak boleh dijadikan tameng untuk kemalasan.

Seorang Muslim tetap harus memenuhi janji.

Allah berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

Artinya:

“Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.”

(QS. Al-Isrā’: 34)

Maka:

Insya Allah + ikhtiar + menepati janji.

Bukan:

Insya Allah + tidak melakukan apa-apa.


12. Jika lupa mengucapkan Insya Allah

Allah memberikan solusi:

وَاذْكُرْ رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ

Artinya:

“Dan ingatlah Tuhanmu apabila engkau lupa.”

(QS. Al-Kahf: 24)

Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat indah.

Kalau kita lupa mengatakan “Insya Allah”, jangan putus asa.

Segera ingat Allah.

Kita dapat mengatakan:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ

dan memperbaiki ucapan kita.


13. Insya Allah bukan alasan untuk tidak merencanakan

Ada orang yang salah memahami tawakal:

“Tidak perlu membuat rencana. Allah sudah mengatur semuanya.”

Ini bukan tawakal.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah, tetapi beliau juga merencanakan hijrah.

Dalam perjalanan hijrah, beliau ﷺ mengambil sebab-sebab yang diperlukan.

Ini menunjukkan:

Tawakal tidak bertentangan dengan perencanaan.

Justru orang yang bertawakal melakukan sebab, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.


14. Hubungan ayat 23 dengan pendidikan

Ayat ini sangat bagus diterapkan dalam pendidikan.

Seorang guru berkata:

“Besok saya akan mengajarkan materi ini, insya Allah.”

Seorang siswa berkata:

“Insya Allah saya akan belajar malam ini.”

Seorang kepala sekolah berkata:

“Insya Allah program ini akan kita laksanakan.”

Tetapi setelah mengatakan itu:

harus ada ikhtiar.

Guru mempersiapkan pembelajaran.

Siswa belajar.

Sekolah mempersiapkan program.

Kemudian semuanya bertawakal kepada Allah.


15. Hubungan ayat ini dengan cita-cita

Jamaah rahimakumullah,

Islam tidak melarang kita mempunyai cita-cita.

Justru seorang Muslim harus mempunyai visi.

Kita boleh berkata:

“Saya ingin menjadi guru yang bermanfaat, insya Allah.”

“Saya ingin anak saya menjadi penghafal Al-Qur'an, insya Allah.”

“Saya ingin membangun sekolah yang berkualitas, insya Allah.”

“Saya ingin memperbaiki ibadah saya, insya Allah.”

Tetapi setelah itu:

bergeraklah!

Karena:

Doa tanpa usaha adalah angan-angan.

Dan:

Usaha tanpa tawakal dapat melahirkan kesombongan.

Yang benar adalah:

Doa + ikhtiar + tawakal.


16. Ketika rencana tidak sesuai kenyataan

Ini salah satu manfaat terbesar memahami “Insya Allah”.

Kita sudah merencanakan sesuatu.

Kita sudah berusaha.

Tetapi ternyata gagal.

Jangan langsung berkata:

“Semuanya hancur.”

Ingat:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Ada kehendak Allah yang berada di atas kehendak kita.

Allah berfirman:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Kita melihat satu kejadian hanya dari hari ini.

Allah mengetahui:

hari ini, besok, lusa, dunia dan akhirat.


17. Penjelasan ulama tentang QS. Al-Kahf 23–24

Imam ath-Thabari رحمه الله menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pengajaran kepada Nabi ﷺ agar tidak memastikan suatu perbuatan di masa mendatang tanpa mengaitkannya dengan kehendak Allah. Karena tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali dengan kehendak Allah.[^3]

Imam Ibn Kathir رحمه الله juga menjelaskan bahwa ayat:

إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

mengajarkan adab ketika berbicara mengenai sesuatu yang akan dilakukan pada masa mendatang.[^4]

Sedangkan Imam al-Qurthubi رحمه الله menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan anjuran mengucapkan “Insya Allah” ketika seseorang mengabarkan rencana yang akan datang, sebagai bentuk pengakuan bahwa terjadinya sesuatu berada di bawah kehendak Allah.[^5]


18. “Insya Allah” mengajarkan tiga hal

Kalau diringkas, ayat ini mengajarkan tiga sikap:

🟢 1. IKHTIAR

“Saya akan berusaha.”

🟢 2. TAWAKAL

“Saya menyerahkan hasil kepada Allah.”

🟢 3. TAWADHU'

“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”

Itulah ruh dari:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ


🌙 Penutup Ceramah

Hadirin yang dirahmati Allah,

Surah Al-Kahf ayat 23 mengajarkan kepada kita bahwa masa depan bukan milik kita.

Kita boleh mempunyai rencana.

Kita boleh mempunyai target.

Kita boleh mempunyai cita-cita.

Tetapi jangan pernah lupa:

Allah-lah yang menentukan.

Maka ketika kita berkata:

“Besok saya akan melakukan ini…”

lengkapilah dengan:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Insya Allah.

Tetapi jangan berhenti pada ucapan.

Setelah itu:

berusaha.

Kemudian:

berdoa.

Lalu:

bertawakal.

Jika berhasil, bersyukurlah.

Jika gagal, bersabarlah.

Karena seorang mukmin yakin:

Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu menggantungkan harapan kepada-Nya, tetapi tetap bersungguh-sungguh dalam berikhtiar.

Doa

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ تَوْفِيقَكَ وَهُدَاكَ، وَنَسْأَلُكَ أَنْ تُعَلِّمَنَا التَّوَكُّلَ عَلَيْكَ، وَأَنْ تَجْعَلَ أَقْوَالَنَا وَأَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ.

Artinya:

“Ya Allah, kami memohon taufik dan petunjuk-Mu. Kami memohon kepada-Mu agar Engkau mengajarkan kepada kami tawakal kepada-Mu dan menjadikan ucapan serta amal kami ikhlas karena-Mu.”

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Catatan Kaki dan Kitab Rujukan

[^1]: Muḥammad bin ‘Īsā at-Tirmiżī, Sunan at-Tirmiżī, Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah wa ar-Raqā’iq wa al-Wara‘, hadis tentang “اعقلها وتوكل”. At-Tirmiżī meriwayatkannya dari Anas bin Mālik رضي الله عنه.

[^2]: Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Anbiyā’, Bāb Qaulillāh Ta‘ālā: وَوَهَبْنَا لِدَاوُدَ سُلَيْمَانَ; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Aymān. Hadis tentang sumpah Nabi Sulaiman عليه السلام dan ucapan “Insya Allah.”

[^3]: Muḥammad bin Jarīr ath-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 23–24. Ath-Ṭabarī menjelaskan kaitan larangan memastikan perbuatan masa depan dengan kehendak Allah.

[^4]: Ismā‘īl bin ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 23–24.

[^5]: Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 23–24.

Inti pesan untuk jamaah

“Rencanakan masa depanmu, tetapi jangan merasa memiliki masa depanmu. Berusahalah sekuat tenaga, berdoalah setulus hati, lalu katakan: إِنْ شَاءَ اللَّهُ — jika Allah menghendaki.”

Tidak ada komentar