KETIKA GUNUNG BERJALAN, BUMI TERBUKA, DAN TAK SEORANG PUN BISA BERSEMBUNYI
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 47
“KETIKA GUNUNG BERJALAN, BUMI TERBUKA, DAN TAK SEORANG PUN BISA BERSEMBUNYI”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، خَلَقَ الْخَلْقَ لِعِبَادَتِهِ، وَأَمَرَهُمْ بِطَاعَتِهِ، وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
JAMAah YANG DIRAHMATI ALLAH...
Pada ayat sebelumnya, Allah berbicara tentang dunia.
Pada ayat 45:
Dunia diibaratkan seperti tanaman.
Hijau...
indah...
kemudian kering...
hancur...
dan diterbangkan angin.
Pada ayat 46:
Allah mengingatkan bahwa:
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”
Tetapi amal saleh lebih baik dan lebih kekal.
Lalu sekarang, pada ayat 47, Allah membawa kita jauh melampaui dunia.
Seolah-olah Allah mengatakan:
“Kalau engkau masih tertipu dengan dunia, lihatlah bagaimana dunia itu akan berakhir.”
Allah berfirman:
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْاَرْضَ بَارِزَةً ۙ وَّحَشَرْنٰهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ اَحَدًا
Artinya:
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.”
Jamaah...
Bayangkan.
Gunung yang selama ini kita anggap kokoh...
akan dipindahkan.
Bumi yang selama ini menjadi tempat kita tinggal...
akan berubah.
Dan seluruh manusia...
dari manusia pertama sampai manusia terakhir...
akan dikumpulkan.
Tidak seorang pun tertinggal.
1. “وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ” — HARI KETIKA GUNUNG DIHANCURKAN
Allah berfirman:
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ
“Dan pada hari Kami menjalankan gunung-gunung.”
Gunung adalah simbol sesuatu yang kokoh.
Manusia melihat gunung lalu berkata:
“Ini tidak mungkin bergerak.”
Tetapi Allah mengatakan:
نُسَيِّرُ
“Kami menjalankannya.”
Ini adalah pengingat bahwa:
Tidak ada sesuatu pun yang kokoh di hadapan kekuasaan Allah.
Gunung kokoh?
Allah mampu menggerakkannya.
Bumi luas?
Allah mampu mengubahnya.
Laut besar?
Allah mampu mengeringkannya.
Manusia banyak?
Allah mampu mengumpulkan semuanya.
2. TAFSIR ATH-THABARI
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
نُسَيِّرُ الْجِبَالَ عَنْ مَقَارِّهَا، فَنَبُسُّهَا بَسًّا، وَنَجْعَلُهَا هَبَاءً مُنْبَثًّا
Artinya:
“Kami memindahkan gunung-gunung dari tempatnya, menghancurkannya sehancur-hancurnya, dan menjadikannya debu yang beterbangan.”[^1]
Ath-Thabari kemudian menjelaskan makna:
وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً
bahwa bumi akan tampak terbuka, tidak lagi tertutupi oleh gunung dan pepohonan seperti keadaan dunia.
Jamaah...
Kalau gunung saja tidak mampu mempertahankan dirinya...
bagaimana manusia merasa dirinya kuat?
3. TAFSIR IBNU KATSIR: BUMI TIDAK LAGI MENYEMBUNYIKAN APA PUN
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa gunung-gunung akan pergi dari tempatnya dan bumi menjadi rata.
Beliau mengatakan:
وَتَبْقَى الْأَرْضُ قَاعًا صَفْصَفًا، أَيْ سَطْحًا مُسْتَوِيًا لَا عِوَجَ فِيهِ وَلَا أَمْتًا
Artinya:
“Bumi akan menjadi tanah yang rata, yaitu permukaan yang datar, tidak ada lagi tempat rendah maupun tempat tinggi.”[^2]
Kemudian beliau menjelaskan makna:
وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً
bahwa bumi tampak terbuka, tidak ada lagi tempat yang dapat menyembunyikan seseorang; seluruh makhluk berada dalam keadaan tampak di hadapan Allah.
Di dunia kita bisa bersembunyi.
Kita bisa menghapus pesan.
Kita bisa menghapus foto.
Kita bisa menghapus rekaman.
Kita bisa menyembunyikan transaksi.
Kita bisa berbohong kepada manusia.
Tetapi...
tidak ada tempat bersembunyi dari Allah.
4. AL-QUR'AN: GUNUNG YANG KITA KIRA KOKOH PUN AKAN HANCUR
Allah berfirman:
QS. Al-Waqi'ah ayat 4–6
إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا ۙ وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا ۙ فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنْبَثًّا
Artinya:
“Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.”
Bayangkan gunung.
Kita melihat gunung sebagai sesuatu yang besar.
Tetapi pada hari kiamat:
gunung menjadi debu.
5. QS. ṬĀHĀ: GUNUNG MENJADI TANAH YANG RATA
Allah berfirman:
QS. Ṭāhā ayat 105–107
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّيْ نَسْفًا ۙ فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا ۙ لَّا تَرٰى فِيْهَا عِوَجًا وَّلَآ اَمْتًا
Artinya:
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, ‘Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali, sehingga kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana.’”
Gunung...
yang menjadi tempat manusia mendaki...
yang menjadi tempat manusia berwisata...
yang menjadi batas wilayah...
yang terlihat begitu kokoh...
semuanya akan kehilangan bentuknya.
Mengapa?
Karena dunia bukan tempat tinggal selamanya.
6. AS-SA'DI: SEMUA MAKHLUK DIKEMBALIKAN SETELAH TERPISAH
As-Sa'di menjelaskan:
وَيَحْشُرُ اللَّهُ جَمِيعَ الْخَلْقِ عَلَى تِلْكَ الْأَرْضِ، فَلَا يُغَادِرُ مِنْهُمْ أَحَدًا
Artinya:
“Allah mengumpulkan seluruh makhluk di atas bumi tersebut dan tidak meninggalkan seorang pun dari mereka.”[^3]
Beliau juga menjelaskan bahwa Allah mengumpulkan manusia terdahulu dan manusia yang kemudian, mengumpulkan mereka setelah mereka terpisah, bahkan setelah jasad mereka hancur.
Jamaah...
Ini menunjukkan sesuatu yang sangat besar:
Allah tidak kesulitan mengumpulkan manusia.
Kalau Allah mampu menciptakan manusia pertama kali...
maka membangkitkan kembali manusia bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.
7. “وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً” — BUMI MENJADI TERBUKA
Jamaah...
Kata:
بَارِزَةً
mengandung makna terbuka, tampak, tidak tertutupi.
Di dunia, manusia memiliki banyak tempat untuk bersembunyi.
Ada rumah.
Ada kamar.
Ada ruang tertutup.
Ada brankas.
Ada akun pribadi.
Ada pesan pribadi.
Ada rahasia pribadi.
Tetapi di akhirat...
semuanya terbuka.
8. RAHASIA YANG DITUTUP RAPAT AKAN DIBUKA
Allah berfirman:
QS. At-Tariq ayat 9
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَاۤئِرُ
Artinya:
“Pada hari ditampakkan segala rahasia.”
Jamaah...
Yang selama ini kita sembunyikan dari manusia...
tidak tersembunyi dari Allah.
Yang tidak diketahui tetangga...
diketahui Allah.
Yang tidak diketahui teman...
diketahui Allah.
Yang tidak diketahui keluarga...
diketahui Allah.
Yang kita lakukan ketika pintu kamar tertutup...
diketahui Allah.
Yang kita lakukan ketika handphone berada di tangan...
diketahui Allah.
Yang kita pikirkan di dalam hati...
diketahui Allah.
9. TETAPI INI BUKAN HANYA TENTANG KEBURUKAN
Jangan hanya takut.
Ada sisi lain yang sangat menenangkan.
Kalau keburukan yang tersembunyi diketahui Allah...
kebaikan yang tersembunyi juga diketahui Allah.
Sedekah yang tidak diketahui manusia...
Allah tahu.
Tahajud yang tidak dilihat orang...
Allah tahu.
Tangisan karena takut kepada Allah...
Allah tahu.
Kesabaran seorang ibu...
Allah tahu.
Perjuangan seorang ayah mencari nafkah halal...
Allah tahu.
Guru yang mengajar dengan ikhlas meskipun tidak dipuji...
Allah tahu.
Anak yang diam-diam mendoakan orang tuanya...
Allah tahu.
Maka jangan kecewa kalau manusia tidak melihat kebaikan kita.
Allah melihat.
10. “وَحَشَرْنَاهُمْ” — SEMUA DIKUMPULKAN
Allah berfirman:
وَحَشَرْنَاهُمْ
“Dan Kami mengumpulkan mereka.”
Tidak ada yang boleh berkata:
“Saya tidak ikut.”
Tidak ada yang berkata:
“Saya terlambat.”
Tidak ada yang berkata:
“Saya sedang sibuk.”
Tidak ada yang berkata:
“Saya tidak tahu.”
Semua datang.
11. “فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا”
Inilah kalimat yang sangat menakutkan:
فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
“Dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.”
Tidak ada yang tertinggal.
Yang lahir di zaman dahulu...
dikumpulkan.
Yang hidup ribuan tahun lalu...
dikumpulkan.
Yang hidup pada zaman Nabi ﷺ...
dikumpulkan.
Yang hidup pada zaman kita...
dikumpulkan.
Yang hidup setelah kita...
dikumpulkan.
Semuanya.
12. RAJA DAN RAKYAT SAMA-SAMA DIKUMPULKAN
Di dunia ada perbedaan:
Raja.
Pejabat.
Pengusaha.
Guru.
Petani.
Pedagang.
Orang kaya.
Orang miskin.
Orang terkenal.
Orang biasa.
Tetapi di mahsyar...
semuanya berdiri sebagai hamba Allah.
Allah berfirman:
QS. Maryam ayat 95
وَكُلُّهُمْ اٰتِيْهِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَرْدًا
Artinya:
“Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.”
Sendiri.
Bukan bersama jabatan.
Bukan bersama harta.
Bukan bersama pengikut.
Bukan bersama popularitas.
Sendiri.
13. TIDAK ADA YANG BISA MENGHINDARI MAHSYAR
Allah berfirman:
QS. Al-Waqi'ah ayat 49–50
قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ ۙ لَمَجْمُوْعُوْنَ إِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi.’”
Semua akan dikumpulkan.
Tidak ada pengecualian.
14. RASULULLAH ﷺ MENGGAMBARKAN KEADAAN MANUSIA DI MAHSYAR
Aisyah رضي الله عنها bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang keadaan manusia pada hari kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
Artinya:
“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.”
Aisyah bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟
“Wahai Rasulullah, apakah laki-laki dan perempuan semuanya berkumpul sehingga mereka saling melihat?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
يَا عَائِشَةُ، الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ
“Wahai Aisyah, urusannya jauh lebih dahsyat daripada sekadar mereka memperhatikan satu sama lain.”[^4]
Hadis ini terdapat dalam Shahih Muslim no. 2859a.
Bayangkan...
Tidak ada pakaian.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada rumah.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada perlindungan dunia.
Tetapi yang lebih berat daripada semua itu adalah:
manusia sedang menunggu keputusan Allah.
15. MENGAPA MEREKA TIDAK PEDULI DENGAN KEADAAN ORANG LAIN ?
Karena:
الْأَمْرُ أَشَدُّ
“Urusannya jauh lebih dahsyat.”
Ini menunjukkan dahsyatnya hari tersebut.
Manusia tidak sibuk:
“Apa yang dipakai orang lain?”
Tidak sibuk:
“Siapa yang melihat saya?”
Tidak sibuk:
“Bagaimana penampilan saya?”
Karena pikirannya hanya:
“Bagaimana nasib saya di hadapan Allah?”
16. HADIS LAIN: MANUSIA DATANG TANPA HARTA
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis panjang tentang hari kiamat:
إِنَّكُمْ مُلَاقُو اللَّهِ مُشَاةً حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
Artinya:
“Sesungguhnya kalian akan bertemu dengan Allah dalam keadaan berjalan kaki, tanpa alas kaki, tanpa pakaian dan belum dikhitan.”[^5]
Riwayat ini juga terdapat dalam Shahih Muslim dari Ibnu Abbas.
Jamaah...
Ketika bertemu Allah...
tidak ada yang kita bawa kecuali apa yang kita kerjakan.
17. AYAT 47 INI ADALAH JAWABAN BAGI KESOMBONGAN MANUSIA
Mari kita hubungkan dengan ayat 46.
Ayat 46:
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”
Kemudian ayat 47:
وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
“Kami kumpulkan mereka semua.”
Apa maksudnya?
Perhiasan dunia akan ditinggalkan.
Harta tidak ikut ke mahsyar.
Mobil tidak ikut.
Rumah tidak ikut.
Tanah tidak ikut.
Jabatan tidak ikut.
Tetapi pemilik harta...
ikut.
Dan dia akan ditanya:
Dari mana hartamu?
Untuk apa hartamu?
Bagaimana engkau mendapatkan hartamu?
18. JANGAN TERLALU BANGGA DENGAN SESUATU YANG AKAN DITINGGALKAN
Jamaah...
Bayangkan seseorang memiliki rumah yang sangat besar.
Ia berkata:
“Ini rumah saya.”
Kemudian mati.
Rumah itu tetap ada.
Tetapi pemiliknya pergi.
Seseorang memiliki perusahaan.
Ia berkata:
“Ini perusahaan saya.”
Kemudian mati.
Perusahaan tetap berjalan.
Tetapi pemiliknya pergi.
Seseorang memiliki jabatan.
Ia berkata:
“Ini jabatan saya.”
Kemudian mati.
Jabatan diberikan kepada orang lain.
Maka...
jangan terlalu sombong dengan sesuatu yang pada akhirnya akan kita tinggalkan.
19. YANG AKAN MENEMANI KITA ADALAH AMAL
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Artinya:
“Tiga perkara mengikuti mayit: keluarganya, hartanya dan amalnya. Dua kembali, sedangkan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”[^6]
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Ini sangat cocok dengan ayat 47.
Keluarga...
kembali.
Harta...
kembali.
Amal...
tetap.
Maka ayat 46 sudah mengatakan:
وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ
Dan ayat 47 membawa kita ke hari ketika kita akan melihat:
apa yang benar-benar tersisa.
20. JANGAN MENUNDA TAUBAT
Jamaah...
Ada manusia yang berkata:
“Nanti kalau sudah tua saya bertaubat.”
Masalahnya...
kita tidak tahu kapan tua.
Ada yang meninggal usia 70.
Ada yang meninggal usia 50.
Ada yang meninggal usia 30.
Ada yang meninggal usia 20.
Bahkan ada yang belum sempat mengenal dunia...
sudah kembali kepada Allah.
Maka Allah berfirman:
QS. Al-Munafiqun ayat 10
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
Artinya:
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu, niscaya aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’”
Tetapi waktu itu sudah habis.
21. KETIKA WAKTU SUDAH HABIS, PENYESALAN TIDAK BERGUNA
Allah berfirman:
QS. Al-Mu'minun ayat 99–100
حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ ۗ كَلَّا ۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَا ۗ وَمِنْ وَّرَاۤىٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ
Artinya:
“Hingga apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”
Nanti akan ada orang yang ingin kembali.
Bukan untuk membeli mobil.
Bukan untuk membangun rumah.
Bukan untuk mengejar jabatan.
Tetapi dia ingin kembali hanya untuk:
beramal saleh.
22. MAKA SELAGI MASIH DI DUNIA, BERAMALLAH
Jamaah...
Sekarang kita masih punya kesempatan.
Masih bisa salat.
Masih bisa bersedekah.
Masih bisa meminta maaf.
Masih bisa berbakti kepada orang tua.
Masih bisa mendidik anak.
Masih bisa membaca Al-Qur'an.
Masih bisa memperbaiki diri.
Masih bisa meninggalkan dosa.
Masih bisa bertaubat.
Jangan tunggu bumi dibuka di akhirat.
Buka hati kita sekarang.
23. JANGAN HANYA TAKUT KEPADA HARI KIAMAT — SIAPKAN DIRI UNTUKNYA
Iman kepada hari akhir bukan sekadar membuat kita takut.
Iman kepada hari akhir harus mengubah perilaku.
Kalau yakin akan ada mahsyar:
kita akan menjaga kejujuran.
Kalau yakin semua manusia akan dikumpulkan:
kita akan berhati-hati mengambil hak orang lain.
Kalau yakin semua amal diperiksa:
kita akan menjaga amal yang tersembunyi.
Kalau yakin harta akan ditanya:
kita akan mencari rezeki yang halal.
Kalau yakin anak adalah amanah:
kita akan mendidik mereka.
Kalau yakin semua manusia berdiri di hadapan Allah:
kita tidak mudah sombong.
24. TIDAK ADA “ORANG PENTING” DI HADAPAN PENGADILAN ALLAH
Di dunia manusia mengenal istilah:
orang penting.
Orang kaya.
Orang berpengaruh.
Tokoh besar.
Pejabat.
Orang terkenal.
Tetapi di hadapan Allah...
yang membedakan bukan jabatan.
Allah berfirman:
QS. Al-Hujurat ayat 13
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Jadi ukuran kemuliaan bukan:
berapa luas tanahnya?
berapa banyak uangnya?
berapa tinggi jabatannya?
berapa banyak pengikutnya?
Tetapi:
أَتْقَاكُمْ
“Yang paling bertakwa.”
25. SATU HARI SEMUA KARTU IDENTITAS DUNIA TIDAK BERARTI
Jamaah...
Di dunia kita memiliki identitas:
nama.
jabatan.
profesi.
gelar.
status.
kewarganegaraan.
alamat.
semuanya penting dalam kehidupan dunia.
Tetapi di akhirat...
yang paling penting adalah:
siapa kita di hadapan Allah?
Apakah kita:
hamba yang taat?
atau hamba yang lalai?
Apakah kita:
membawa iman?
atau membawa kesombongan?
Apakah kita:
membawa amal?
atau membawa penyesalan?
26. GUNUNG HANCUR, BUMI TERBUKA, MANUSIA BERKUMPUL
Mari kita ulang tiga gambaran ayat ini.
PERTAMA:
نُسَيِّرُ الْجِبَالَ
Gunung-gunung dijalankan.
Yang kita anggap kokoh ternyata tidak kekal.
KEDUA:
تَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً
Bumi menjadi terbuka.
Tidak ada tempat untuk menyembunyikan diri.
KETIGA:
فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
Tidak seorang pun ditinggalkan.
Semua datang.
Maka...
hari itu pasti datang.
Pertanyaannya bukan:
“Apakah kita akan datang?”
Kita pasti datang.
Pertanyaannya:
“Apa yang kita bawa ketika datang?”
27. HUBUNGAN AYAT 45, 46 DAN 47
Jamaah yang dirahmati Allah...
Tiga ayat ini sebenarnya seperti satu rangkaian nasihat.
AYAT 45
Allah mengatakan:
Dunia akan lenyap.
فَأَصْبَحَ هَشِيمًا
Tanaman menjadi kering dan hancur.
AYAT 46
Allah mengatakan:
Harta dan anak hanyalah perhiasan dunia.
اَلْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Tetapi:
وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ
Amal saleh lebih baik.
AYAT 47
Allah mengatakan:
Kemudian datang hari kiamat.
Gunung hancur.
Bumi terbuka.
Manusia dikumpulkan.
Tidak ada seorang pun tertinggal.
Maka seakan-akan Allah berkata:
“Jangan tertipu dengan dunia, karena dunia akan berakhir. Jangan hanya mengumpulkan perhiasan dunia, karena semuanya akan ditinggalkan. Siapkan amal, karena engkau akan berdiri sendiri di hadapan-Ku.”
28. RENUNGAN UNTUK DIRI SENDIRI
Jamaah...
Sebelum berbicara tentang orang lain...
mari kita berbicara tentang diri kita.
Kalau hari ini Allah memanggil kita...
Apakah salat kita sudah baik?
Bagaimana dengan dosa yang kita sembunyikan?
Bagaimana hubungan kita dengan orang tua?
Bagaimana hubungan kita dengan pasangan?
Bagaimana pendidikan anak-anak kita?
Bagaimana harta kita?
Apakah halal?
Bagaimana lisan kita?
Berapa orang yang pernah kita sakiti?
Berapa orang yang sudah kita maafkan?
Berapa banyak Al-Qur'an yang kita baca?
Berapa banyak sedekah yang kita keluarkan?
Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk Allah?
Jangan takut pertanyaan ini.
Takutlah kalau kita tidak pernah mau bertanya kepada diri sendiri.
29. SELAMA MASIH ADA WAKTU, PULANGLAH KEPADA ALLAH
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar ayat 53
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Selama belum sampai ajal...
pintu taubat masih terbuka.
Maka jangan tunggu sampai:
وَحَشَرْنَاهُمْ
“Dan Kami mengumpulkan mereka.”
30. PENUTUP: SUATU SAAT KITA AKAN BERDIRI DI SANA
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Bayangkan suatu hari...
Kita meninggalkan rumah.
Bukan untuk pergi bekerja.
Bukan untuk pergi berdagang.
Bukan untuk pergi rekreasi.
Tetapi...
dibawa ke pemakaman.
Kemudian tanah ditutup.
Orang-orang pulang.
Dan kita tinggal.
Kemudian datang hari yang dijanjikan.
Gunung-gunung bergerak.
Bumi terbuka.
Manusia dibangkitkan.
Dari manusia pertama...
sampai manusia terakhir.
Semua dikumpulkan.
Tidak ada yang tertinggal.
Dan kita berada di tengah mereka.
Pada hari itu...
kita tidak akan bertanya:
“Berapa harta saya?”
Tetapi:
“Apa yang sudah saya persiapkan?”
Kita tidak akan bertanya:
“Berapa banyak pengikut saya?”
Tetapi:
“Apakah Allah ridha kepada saya?”
Kita tidak akan bertanya:
“Seberapa terkenal saya?”
Tetapi:
“Apakah amal saya diterima?”
DOA
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِيمَانَ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَنَسْأَلُكَ الْيَقِينَ بِالْبَعْثِ وَالنُّشُورِ.
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَلَا تَتَوَفَّنَا إِلَّا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا يَوْمَ تَضْطَرِبُ الْقُلُوبُ، وَثَبِّتْنَا يَوْمَ تَزِلُّ الْأَقْدَامُ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُلُوبٍ سَلِيمَةٍ وَأَعْمَالٍ صَالِحَةٍ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ أَمْوَالَنَا وَأَوْلَادَنَا فِتْنَةً لَنَا، وَاجْعَلْهُمْ عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا مِنَ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِأَزْوَاجِنَا، وَلِأَوْلَادِنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمُعَلِّمِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْمَعْنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَمَعَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا مِنْ حَوْضِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ شَرْبَةً لَا نَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا.
اللَّهُمَّ يَسِّرْ حِسَابَنَا، وَيَمِّنْ كِتَابَنَا، وَثَقِّلْ مَوَازِينَنَا بِالْحَسَنَاتِ.
اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَأَجِرْنَا مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
FOOTNOTE / RUJUKAN
[^1] Muḥammad bin Jarīr Ath-Thabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 47. Ath-Thabari menjelaskan bahwa gunung dipindahkan dari tempatnya, dihancurkan dan menjadi debu yang beterbangan; bumi menjadi terbuka karena tidak lagi tertutupi gunung dan pepohonan.
[^2] Ismā‘īl bin ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 47. Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan QS. Ṭāhā 105–107, QS. An-Naml 88 dan QS. Al-Qāri‘ah 5, menjelaskan perubahan gunung dan bumi pada hari kiamat.
[^3] ‘Abdurrahman bin Nāṣir As-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS. Al-Kahf: 47. As-Sa‘di menjelaskan bahwa Allah mengumpulkan seluruh makhluk, manusia terdahulu dan kemudian, dan tidak meninggalkan seorang pun.
[^4] Muslim bin al-Hajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifat Na‘īmihā wa Ahlihā, no. 2859a. Hadis dari ‘Aisyah رضي الله عنها tentang manusia dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian dan belum dikhitan, serta dahsyatnya keadaan tersebut.
[^5] Muslim bin al-Hajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2860a, hadis dari Ibn ‘Abbas رضي الله عنهما tentang manusia bertemu Allah dalam keadaan berjalan kaki, tanpa alas kaki, tanpa pakaian dan belum dikhitan.
[^6] Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, dan Muslim bin al-Hajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang tiga perkara yang mengikuti mayit: keluarga, harta dan amal; keluarga dan harta kembali, sedangkan amal tetap bersamanya.
RUJUKAN TAFSIR UTAMA
- Ath-Thabarī, Jāmi‘ al-Bayān, QS. Al-Kahf: 47.
- Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, QS. Al-Kahf: 47.
- Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, QS. Al-Kahf: 47. Al-Qurthubi menjelaskan makna pemindahan gunung dari tempatnya dan bumi yang menjadi terbuka.
- Al-Baghawī, Ma‘ālim at-Tanzīl, QS. Al-Kahf: 47. Beliau menjelaskan bumi yang terbuka tanpa gunung, pohon dan tumbuhan serta seluruh manusia dikumpulkan menuju tempat mahsyar.
- As-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, QS. Al-Kahf: 47.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
- Ṣaḥīḥ Muslim.
Post a Comment