KETIKA SEMUA MANUSIA BERDIRI DI HADAPAN ALLAH

🌿 CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 48

“KETIKA SEMUA MANUSIA BERDIRI DI HADAPAN ALLAH”

وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dirahmati Allah…

Mari kita lanjutkan perjalanan tadabbur kita pada Surah Al-Kahf.

Pada ayat sebelumnya Allah menggambarkan dahsyatnya hari kiamat:

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

“Dan ingatlah pada hari ketika Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka, maka tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.”

Gunung yang selama ini kita lihat kokoh akan dihancurkan.

Bumi yang selama ini menjadi tempat manusia bersembunyi akan terbuka.

Dan seluruh manusia dikumpulkan.

Tidak ada seorang pun yang tertinggal.

Kemudian ayat 48 melanjutkan:

وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا ۗ لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَّجْعَلَ لَكُمْ مَّوْعِدًا

“Mereka akan dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris. Allah berfirman, ‘Sungguh, kamu telah datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali; bahkan kamu dahulu mengira bahwa Kami tidak akan menetapkan bagimu waktu untuk memenuhi perjanjian.’”

Ayat ini seakan-akan membawa kita dari satu pemandangan ke pemandangan berikutnya:

Gunung dihancurkan.
Bumi dibuka.
Manusia dikumpulkan.
Lalu manusia berdiri berbaris di hadapan Rabbul ‘Alamin.

[diam sejenak]

Jamaah…

Ada satu hari yang pasti kita datangi.

Bukan kemungkinan.

Bukan “kalau”.

Bukan “mungkin”.

Tetapi pasti.

Hari ketika kita berdiri di hadapan Allah.


1. “وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا”

Mereka Dihadapkan kepada Allah dalam Barisan

Allah berfirman:

وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا

“Mereka akan dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris.”

Perhatikan kata:

عُرِضُوا

“Mereka dihadapkan.”

Manusia yang dahulu merasa dirinya bebas…

Manusia yang dahulu merasa tidak akan pernah mempertanggungjawabkan perbuatannya…

Pada hari itu justru dihadapkan.

Tidak bisa lari.

Tidak bisa bersembunyi.

Tidak bisa mengatakan:

“Ya Allah, saya belum siap.”

Tidak ada lagi kesempatan mengatakan:

“Nanti saya taubat.”

Tidak ada lagi:

“Nanti saya perbaiki.”

Tidak ada lagi:

“Nanti saya salat.”

Karena “nanti” sudah habis.

Yang tersisa adalah hisab.


Tafsir Imam Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

وَعُرِضُوا عَلَى رَبِّكَ صَفًّا، يَقُولُ عَزَّ ذِكْرُهُ: وَعُرِضَ الْخَلْقُ عَلَى رَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ صَفًّا.

“Makna ayat ini adalah: seluruh makhluk dihadapkan kepada Tuhanmu, wahai Muhammad, dalam keadaan berbaris.”

Kemudian beliau menjelaskan:

لَقَدْ جِئْتُمُونَا أَيُّهَا النَّاسُ أَحْيَاءً كَهَيْئَتِكُمْ حِينَ خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ.

“Sungguh, kalian datang kepada Kami dalam keadaan hidup sebagaimana keadaan kalian ketika Kami menciptakan kalian pertama kali.”[^1]

Jadi hari kiamat adalah hari ketika manusia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa janji Allah benar.


2. Berbaris di Hadapan Allah: Tidak Ada Lagi Status Sosial

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Di dunia manusia suka membuat barisan berdasarkan status.

Ada orang kaya.

Ada orang miskin.

Ada pejabat.

Ada rakyat.

Ada pemimpin.

Ada bawahan.

Ada orang terkenal.

Ada orang yang tidak dikenal.

Ada orang yang kalau datang langsung disambut.

Ada orang yang datang bahkan tidak dianggap.

Tetapi di hadapan Allah…

semua berdiri sebagai hamba.

Yang membedakan bukan merek pakaian.

Bukan kendaraan.

Bukan rumah.

Bukan gelar.

Bukan jabatan.

Bukan jumlah pengikut.

Bukan jumlah uang di rekening.

Yang membedakan adalah iman dan amal saleh.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

QS. Al-Hujurat: 13

Jamaah…

Kalau hari ini manusia melihat pakaian kita, Allah melihat hati kita.

Kalau manusia melihat penampilan kita, Allah mengetahui amal kita.

Kalau manusia melihat popularitas kita, Allah mengetahui keikhlasan kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”

HR. Muslim no. 2564.

Maka jangan terlalu sibuk mempercantik apa yang dilihat manusia, sementara kita lupa memperbaiki apa yang dilihat Allah.


3. “لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ”

Kita Datang kepada Allah Seperti Saat Pertama Diciptakan

Allah berfirman:

لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ

“Sungguh, kamu telah datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali.”

Kalimat ini luar biasa.

Allah sedang mengingatkan manusia:

Dulu kamu datang ke dunia tidak membawa apa-apa.

Dan nanti kamu kembali kepada Allah juga tidak membawa apa-apa dari dunia kecuali apa yang menjadi amalmu.

Ketika lahir:

Tidak membawa rumah.

Tidak membawa mobil.

Tidak membawa rekening.

Tidak membawa jabatan.

Tidak membawa gelar.

Tidak membawa pengikut.

Dan ketika meninggal…

semuanya ditinggalkan.


Allah sudah mengingatkan dalam QS. Al-An‘am ayat 94

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ ۚ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

“Dan sungguh, kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakan kamu pada mulanya. Kamu tinggalkan di belakangmu apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami tidak melihat bersamamu pemberi syafaat yang kamu anggap sebagai sekutu-sekutu bagi kamu. Sungguh, telah terputus hubungan antara kamu dan telah lenyap darimu apa yang dahulu kamu anggap benar.”

QS. Al-An‘am: 94.

Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini mengatakan:

أَيْ كَمَا بَدَأْنَاكُمْ أَعَدْنَاكُمْ، وَقَدْ كُنْتُمْ تُنْكِرُونَ ذَلِكَ وَتَسْتَبْعِدُونَهُ، فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ.

“Sebagaimana Kami memulai penciptaan kalian, demikian pula Kami mengembalikan kalian. Dahulu kalian mengingkari dan menganggap hal itu mustahil, maka inilah hari kebangkitan.”[^2]


4. Harta yang Kita Kumpulkan Tidak Ikut Masuk ke Dalam Hisab sebagai “Milik Kita”

Jamaah…

Bukan berarti Islam melarang kita mempunyai harta.

Bukan.

Harta boleh.

Rumah boleh.

Kendaraan boleh.

Bisnis boleh.

Jabatan boleh.

Bahkan semuanya bisa menjadi pahala jika diperoleh dan digunakan dengan cara yang halal.

Masalahnya adalah:

Apakah harta berada di tangan kita atau sudah masuk ke dalam hati kita?

Karena yang berbahaya bukan memiliki dunia.

Yang berbahaya adalah dunia memiliki hati kita.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ ... وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ

“Kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri… dan kamu tinggalkan apa yang Kami karuniakan kepadamu di belakangmu.”

Maka kita harus bertanya:

Apa yang sedang kita kumpulkan?

Harta?

Atau pahala?

Nama?

Atau amal?

Pengikut?

Atau orang yang mendapat manfaat dari kita?


5. Hadis: Tiga Hal Mengikuti Jenazah

Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang sangat jelas.

Beliau bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit ada tiga: keluarganya, hartanya dan amalnya. Dua kembali dan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”

HR. Al-Bukhari no. 6514 dan Muslim.

[diam]

Bayangkan…

Saat seseorang meninggal dunia.

Keluarga mengantarkan.

Mobil mengantarkan.

Teman mengantarkan.

Bahkan mungkin banyak orang datang.

Tetapi setelah pemakaman selesai…

Semua pulang.

Keluarga pulang.

Teman pulang.

Kendaraan pulang.

Harta tetap di rumah.

Yang tinggal bersama kita adalah amal.

Karena itu jangan hanya bertanya:

“Berapa yang saya punya?”

Tetapi tanyakan:

“Berapa yang sudah saya kirim ke akhirat?”


6. “بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَّجْعَلَ لَكُمْ مَّوْعِدًا”

Dahulu Kalian Mengira Tidak Akan Ada Hari Pertanggungjawaban

Bagian terakhir ayat sangat menggetarkan:

بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَّجْعَلَ لَكُمْ مَّوْعِدًا

“Bahkan dahulu kamu mengira bahwa Kami tidak akan menetapkan bagimu waktu (kebangkitan).”

Ini adalah teguran Allah kepada orang-orang yang dahulu mengingkari hari kebangkitan.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

هَذَا تَقْرِيعٌ لِلْمُنْكِرِينَ لِلْمَعَادِ، وَتَوْبِيخٌ لَهُمْ عَلَىٰ رُءُوسِ الْأَشْهَادِ

“Ini merupakan celaan dan teguran keras kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan, serta penghinaan terhadap mereka di hadapan seluruh makhluk yang menyaksikan.”[^3]

Dahulu mereka mengatakan:

“Tidak ada kiamat.”

“Setelah mati selesai.”

“Mana mungkin manusia yang sudah menjadi tanah dibangkitkan?”

Tetapi ketika hari itu datang…

Tidak ada lagi ruang untuk berdebat.

Tidak ada lagi kesempatan untuk mengatakan:

“Saya tidak percaya.”

Karena mereka sudah melihatnya.


7. Imam As-Sa‘di: Yang Dibawa Hanya Amal

Imam As-Sa‘di menjelaskan:

فَيُعْرَضُونَ عَلَيْهِ صَفًّا لِيَسْتَعْرِضَهُمْ وَيَنْظُرَ فِي أَعْمَالِهِمْ، وَيَحْكُمَ فِيهِمْ بِحُكْمِهِ الْعَدْلِ

“Mereka dihadapkan kepada Allah dalam barisan agar Allah melihat mereka dan amal mereka, kemudian menetapkan hukum atas mereka dengan hukum yang adil.”[^4]

Kemudian beliau menjelaskan makna:

لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ

Bahwa manusia datang tanpa harta, keluarga dan kerabat yang dahulu dibanggakan.

Yang tersisa adalah amal yang mereka kerjakan dan kebaikan maupun keburukan yang mereka usahakan.[^4]

Jamaah…

Inilah sebabnya mengapa amal yang tersembunyi sangat penting.

Karena boleh jadi manusia tidak tahu kita salat malam.

Tidak ada yang tahu kita menangis dalam doa.

Tidak ada yang tahu sedekah yang kita sembunyikan.

Tidak ada yang tahu kita memaafkan orang.

Tidak ada yang tahu kita menahan amarah.

Tetapi Allah tahu.

Dan pada hari semua manusia berdiri dalam barisan…

amal yang tersembunyi akan menjadi sangat berarti.


8. Imam Al-Qurthubi: “صَفًّا” — Barisan demi Barisan

Imam Al-Qurthubi menjelaskan beberapa kemungkinan makna صَفًّا.

Beliau menyebutkan:

قَالَ مُقَاتِلٌ: يُعْرَضُونَ صَفًّا بَعْدَ صَفٍّ كَالصُّفُوفِ فِي الصَّلَاةِ، كُلُّ أُمَّةٍ وَزُمْرَةٍ صَفًّا

“Mujahid/Muqatil menjelaskan bahwa mereka dihadapkan barisan demi barisan seperti barisan dalam salat; setiap umat dan kelompok berada dalam barisannya.”[^5]

Maka gambaran ayat ini bukan manusia berdesakan tanpa aturan.

Ada ketertiban.

Ada pengaturan.

Ada hisab.

Ada keputusan.

Dan semuanya berada di bawah kekuasaan Allah.


9. Hadis Aisyah: Hari Itu Begitu Dahsyat

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا

“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tanpa pakaian dan belum dikhitan.”

Aisyah radhiyallāhu ‘anhā bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟

“Wahai Rasulullah, apakah laki-laki dan perempuan semuanya akan saling melihat?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

يَا عَائِشَةُ، الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ

“Wahai Aisyah, urusannya jauh lebih dahsyat daripada sekadar membuat mereka sempat melihat satu sama lain.”

HR. Muslim no. 2859.

[diam]

Jamaah…

Dunia sering membuat kita sibuk dengan:

“Orang lain melihat saya atau tidak?”

“Orang lain memuji saya atau tidak?”

“Orang lain menghargai saya atau tidak?”

Tetapi di akhirat…

Pertanyaan yang jauh lebih besar:

“Bagaimana nasib saya di hadapan Allah?”


10. Hari Itu Tidak Ada Lagi Panggung Pencitraan

Di dunia seseorang bisa membangun citra.

Bisa terlihat saleh.

Bisa terlihat dermawan.

Bisa terlihat bijaksana.

Bisa terlihat baik.

Tetapi di hadapan Allah…

tidak ada pencitraan.

Allah mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi.

Allah berfirman:

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ ۝ فَمَا لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ

“Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka manusia tidak mempunyai suatu kekuatan pun dan tidak pula mempunyai penolong.”

QS. At-Tariq: 9–10

Hari itu bukan hanya amal yang terlihat manusia yang diperiksa.

Tetapi juga:

niat,

keikhlasan,

kesombongan,

kedengkian,

kecurangan,

pengkhianatan,

dan dosa-dosa yang disembunyikan.

Maka jangan hanya memperbaiki penampilan agama.

Perbaiki juga isi hati.


11. Pelajaran Besar: Jangan Menunda Taubat

Jamaah rahimakumullah…

Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak.

Karena mungkin ada dosa yang selama ini kita anggap kecil.

Mungkin ada salat yang kita tinggalkan.

Mungkin ada utang yang belum kita bayar.

Mungkin ada hak orang lain yang kita ambil.

Mungkin ada perkataan yang menyakiti pasangan.

Mungkin ada anak yang kita abaikan.

Mungkin ada orang tua yang belum kita bahagiakan.

Mungkin ada dosa yang tidak diketahui siapa pun.

Tetapi semuanya diketahui Allah.

Maka jangan tunggu sampai kita berdiri di hadapan Allah baru ingin memperbaiki diri.

Allah masih memberikan kesempatan sekarang.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

QS. Az-Zumar: 53

Perhatikan…

Allah belum mengatakan:

“Bersiaplah untuk berdiri di hadapan-Ku.”

Allah masih memberikan kesempatan:

“Bertaubatlah.”


12. Jangan Takut Karena Kita Tidak Sempurna

Jamaah yang dirahmati Allah…

Ada orang yang mendengar tentang kiamat lalu merasa:

“Saya banyak dosa. Saya tidak mungkin selamat.”

Jangan begitu.

Takut kepada Allah harus membawa kita kepada taubat, bukan kepada keputusasaan.

Kita memang tidak sempurna.

Tetapi Allah membuka pintu taubat.

Kita pernah salah.

Tetapi kita masih bisa memperbaiki.

Kita pernah jauh.

Tetapi kita masih bisa kembali.

Kita pernah menangis karena masalah dunia.

Sekarang mari kita belajar menangis karena takut kepada Allah.


13. Dunia Berakhir, Tetapi Amal Tidak Hilang

Jamaah…

Ada sebuah prinsip yang sangat penting:

Apa yang kita miliki di dunia akan kita tinggalkan. Tetapi apa yang kita kerjakan akan kita temui.

Karena itu jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun.

Senyum.

Membantu orang.

Mengajar anak.

Menafkahi keluarga.

Mendidik murid.

Menghafalkan Al-Qur'an.

Mengajarkan ilmu.

Menyingkirkan gangguan dari jalan.

Memaafkan.

Bersedekah.

Salat.

Mendoakan orang lain.

Semua itu akan memiliki nilai di sisi Allah jika dilakukan dengan iman dan ikhlas.


14. Pertanyaan untuk Kita Malam Ini

[suara lebih perlahan]

Jamaah…

Bayangkan…

Suatu hari kita berdiri dalam barisan itu.

Tidak ada lagi jabatan.

Tidak ada lagi rumah.

Tidak ada lagi kendaraan.

Tidak ada lagi rekening.

Tidak ada lagi pangkat.

Tidak ada lagi pengikut.

Tidak ada lagi tepuk tangan.

Tidak ada lagi kamera.

Tidak ada lagi pencitraan.

Yang ada:

Allah.

Dan…

amal kita.

Maka mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Kalau saya mati malam ini, apa amal terbaik yang saya bawa?

Kalau saya dipanggil Allah besok, dosa apa yang belum saya taubati?

Kalau seluruh harta saya ditinggalkan, apa yang sudah saya persiapkan untuk akhirat?

Kalau semua orang pulang meninggalkan saya, amal apa yang tetap menemani saya?

Kalau hari ini saya berdiri di hadapan Allah, apakah saya siap?

[diam]

Tidak ada manusia yang benar-benar tahu kapan ajalnya datang.

Karena itu orang yang cerdas bukan orang yang merasa aman dari kematian.

Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan pertemuan dengan Allah.


15. Penutup: Kita Semua Akan Datang

Allah berfirman:

وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا

“Mereka akan dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris.”

Lalu Allah berfirman:

لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ

“Sungguh, kamu telah datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali.”

Dan Allah mengingatkan:

بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَّجْعَلَ لَكُمْ مَّوْعِدًا

“Bahkan dahulu kamu mengira bahwa Kami tidak akan menetapkan bagimu waktu.”

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Kita pasti datang.

Pertanyaannya bukan:

“Apakah kita akan datang?”

Kita pasti datang.

Pertanyaannya:

Dalam keadaan bagaimana kita datang?

Dengan iman atau tanpa iman?

Dengan taubat atau membawa dosa?

Dengan salat atau dengan kelalaian?

Dengan amal saleh atau dengan penyesalan?

Dengan hati yang bersih atau hati yang penuh kesombongan?

[diam]

Mari sebelum kita berdiri di hadapan Allah…

kita berdiri dulu di hadapan diri kita sendiri.

Mari kita koreksi diri.

Mari kita bertaubat.

Mari kita perbaiki salat.

Mari kita perbaiki hubungan dengan orang tua.

Mari kita perbaiki rumah tangga.

Mari kita tunaikan hak manusia.

Mari kita cari rezeki yang halal.

Mari kita tinggalkan dosa yang selama ini kita sembunyikan.

Dan mari kita memperbanyak amal yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Karena suatu hari nanti…

kita akan berdiri dalam barisan.

Dan pada hari itu…

tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali rahmat Allah dan amal yang Allah terima.


🤲 DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ.

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ وَالرِّضْوَانِ.

اللَّهُمَّ لَا تَقْبِضْ أَرْوَاحَنَا إِلَّا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا يَوْمَ نَقِفُ بَيْنَ يَدَيْكَ مِنَ الْآمِنِينَ.

اللَّهُمَّ يَسِّرْ حِسَابَنَا، وَثَقِّلْ مَوَازِينَنَا، وَبَيِّضْ وُجُوهَنَا، وَآتِنَا كُتُبَنَا بِأَيْمَانِنَا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِأَهْلِنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمُعَلِّمِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


📚 CATATAN RUJUKAN

[^1]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 48. Ath-Thabari menjelaskan bahwa makhluk dihadapkan kepada Allah dalam barisan dan “datang sebagaimana ketika pertama kali diciptakan.”

[^2]: Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-An‘am: 94. Ibnu Katsir menghubungkan ayat tersebut dengan QS. Al-Kahf: 48 sebagai gambaran hari kebangkitan.

[^3]: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 48. Beliau menjelaskan bahwa bagian tersebut merupakan teguran kepada orang-orang yang dahulu mengingkari kebangkitan.

[^4]: ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf: 48.

[^5]: Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 48. Al-Qurthubi membahas makna صَفًّا sebagai keadaan manusia yang dihadapkan dalam barisan dan menyebut beberapa penafsiran ulama tentang bentuk barisan tersebut.

Hadis: Ṣaḥīḥ Muslim no. 2859 tentang manusia dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki dan pakaian serta dahsyatnya keadaan hari kiamat.

Hadis: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 6514 tentang tiga hal yang mengikuti mayit—keluarga, harta dan amal—dan yang tetap bersamanya adalah amal.

Tidak ada komentar