KETIKA HATI BERPALING DARI KEBENARAN

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 57

KETIKA HATI BERPALING DARI KEBENARAN

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya..."


PEMBUKAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dirahmati Allah...

Kita telah sampai pada QS. Al-Kahf ayat 57.

Kalau ayat 56 berbicara tentang orang-orang yang membantah kebenaran dengan kebatilan, maka ayat 57 menjelaskan akibat dari sikap tersebut.

Allah berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?"

Perhatikan susunan ayat ini.

Pertama:

ذُكِّرَ

Dia telah diperingatkan.

Kedua:

فَأَعْرَضَ

Tetapi dia berpaling.

Ketiga:

وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ

Dia melupakan apa yang telah diperbuatnya.

Kemudian akibatnya:

جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً

Allah menjadikan penutup pada hati mereka.

Dan:

وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا

Di telinga mereka ada sumbatan.

Ini adalah gambaran tentang hati yang berulang kali menolak kebenaran sampai akhirnya kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.


I. "وَمَنْ أَظْلَمُ" — SIAPA YANG LEBIH ZALIM?

Allah memulai dengan pertanyaan:

وَمَنْ أَظْلَمُ؟

"Siapakah yang lebih zalim?"

Ini adalah bentuk pertanyaan Al-Qur'an yang menunjukkan betapa beratnya perbuatan tersebut.

Orang yang belum pernah mendapatkan penjelasan masih memiliki alasan untuk tidak mengetahui.

Tetapi bagaimana dengan seseorang yang:

  • sudah mendengar ayat Allah,
  • sudah mengetahui nasihat,
  • sudah mendapatkan peringatan,
  • sudah dijelaskan halal dan haram,
  • sudah mengetahui akibat dosa,

tetapi kemudian sengaja berpaling?

Di sinilah letak bahayanya.


II. KEZALIMAN TERBESAR ADALAH MENZALIMI DIRI SENDIRI

Kita sering memahami zalim hanya sebagai:

"menyakiti orang lain."

Padahal seseorang juga bisa menzalimi dirinya sendiri.

Ketika seseorang bermaksiat, sesungguhnya ia sedang merusak dirinya sendiri.

Allah berfirman:

QS. Yunus: 44

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْـًٔا وَّلٰكِنَّ النَّاسَ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri."

Allah tidak membutuhkan ketaatan kita.

Kitalah yang membutuhkan ketaatan.

Allah tidak dirugikan oleh kemaksiatan kita.

Kitalah yang menanggung akibat kemaksiatan itu.

Karena itu, ketika seseorang meninggalkan salat, siapa yang rugi?

Dirinya sendiri.

Ketika seseorang terus melakukan dosa, siapa yang rugi?

Dirinya sendiri.

Ketika seseorang menolak nasihat Al-Qur'an, siapa yang rugi?

Dirinya sendiri.


III. ATH-THABARI: SUDAH DITUNJUKKAN JALAN KESELAMATAN, TETAPI DIA BERPALING

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

وَمَنْ أَوْضَعُ لِلْإِعْرَاضِ وَالصَّدِّ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِهِ وَحُجَجِهِ، فَدَلَّهُ بِهَا عَلَى سَبِيلِ الرَّشَادِ، وَهَدَاهُ بِهَا إِلَى طَرِيقِ النَّجَاةِ، فَأَعْرَضَ عَنْ آيَاتِهِ وَأَدِلَّتِهِ

Maknanya:

"Siapakah yang lebih buruk dalam berpaling daripada orang yang telah diingatkan dengan ayat-ayat dan hujah-hujah Allah, yang dengannya ia ditunjukkan jalan petunjuk dan diarahkan kepada jalan keselamatan, tetapi ia justru berpaling dari ayat-ayat dan bukti-bukti tersebut?"[^1]

Ath-Thabari juga menjelaskan:

وَنَسِيَ مَا أَسْلَفَ مِنَ الذُّنُوبِ الْمُهْلِكَةِ فَلَمْ يَتُبْ وَلَمْ يُنِبْ

"Ia melupakan dosa-dosa yang telah dilakukannya yang dapat membinasakan, sehingga ia tidak bertaubat dan tidak kembali kepada Allah."[^1]

Jamaah...

Inilah bahayanya dosa.

Bukan hanya seseorang melakukan dosa.

Tetapi setelah melakukan dosa, dia tidak lagi merasa perlu bertaubat.


IV. "وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ" — MELUPAKAN APA YANG TELAH DIPERBUAT

Allah berfirman:

وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ

"Dan dia melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya."

Para ulama menjelaskan bahwa "lupa" dalam ayat ini dapat bermakna meninggalkan atau tidak memperhatikan dosa-dosa yang telah dilakukan sehingga tidak bertaubat darinya.

Al-Qurthubi berkata:

وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ أَيْ تَرَكَ كُفْرَهُ وَمَعَاصِيَهُ فَلَمْ يَتُبْ مِنْهَا

"Dia melupakan apa yang telah diperbuat kedua tangannya, yaitu meninggalkan perhatian terhadap kekufuran dan kemaksiatannya sehingga tidak bertaubat darinya."[^2]

Ada orang yang berkata:

"Sudahlah, itu masa lalu."

Benar, dosa masa lalu bisa diampuni dengan taubat.

Tetapi jangan sampai kalimat:

"Itu masa lalu."

digunakan untuk membenarkan dosa yang belum ditaubati.

Masa lalu yang sudah ditaubati menjadi pelajaran.

Tetapi masa lalu yang belum ditaubati menjadi tanggungan.


V. DOSA YANG DIABAIKAN DAPAT MEMATIKAN KEPEKAAN HATI

Jamaah yang dirahmati Allah...

Hati manusia itu bisa hidup.

Hati juga bisa sakit.

Hati bisa lembut.

Hati juga bisa keras.

Hati bisa menangis karena Al-Qur'an.

Tetapi hati juga bisa menjadi begitu keras sehingga ayat Allah tidak lagi menyentuhnya.

Allah berfirman:

QS. Al-Hadid: 16

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diturunkan kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah diberi Kitab sebelumnya, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik."

Perhatikan:

فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

"Maka hati mereka menjadi keras."

Kekerasan hati tidak selalu terjadi dalam satu malam.

Sering kali ia terjadi sedikit demi sedikit.

Hari ini melakukan dosa.

Besok mengulanginya.

Lusa mulai tidak merasa bersalah.

Minggu berikutnya mulai menganggap biasa.

Bulan berikutnya mulai membela dosa.

Akhirnya dosa yang dulu membuat kita menangis, sekarang justru membuat kita tertawa.

Itulah salah satu tanda hati yang mulai keras.


VI. HADIS: DOSA MENINGGALKAN TITIK HITAM PADA HATI

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan suatu dosa, ditorehkan satu titik hitam pada hatinya. Jika ia meninggalkan dosa itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya dibersihkan. Tetapi jika ia kembali melakukan dosa tersebut, titik itu ditambahkan sampai menutupi hatinya. Itulah ar-rān yang Allah sebutkan: 'Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.'"

(HR. At-Tirmidzi no. 3334; At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.)

Jamaah...

Perhatikan obat yang disebut Rasulullah ﷺ:

نَزَعَ

Meninggalkan dosa.

وَاسْتَغْفَرَ

Beristighfar.

وَتَابَ

Bertaubat.

Jadi obat hati bukan sekadar:

"Saya merasa bersalah."

Tetapi:

tinggalkan dosa + istighfar + taubat.


VII. HATI BISA MATI KARENA TERBIASA MENOLAK

Ada orang ketika pertama kali melakukan dosa, hatinya gelisah.

Ia takut.

Ia menangis.

Ia berkata:

"Ya Allah, ampunilah saya."

Tetapi karena terus mengulangi dosa tanpa taubat, rasa takut itu perlahan hilang.

Dosa yang dahulu terasa berat sekarang menjadi ringan.

Itulah yang harus kita waspadai.

Bukan hanya:

"Apakah saya melakukan dosa?"

Tetapi juga:

"Apakah saya masih merasa takut ketika melakukan dosa?"

Karena hati yang sehat akan merasa sakit ketika bermaksiat.


VIII. IBN KATSIR: "AKINNAH" ADALAH PENUTUP DAN "WAQR" ADALAH SUMBATAN MAKNAWI

Ibn Katsir menjelaskan:

أَيْ: أَغْطِيَةً وَغِشَاوَةً، أَيْ لِئَلَّا يَفْهَمُوا هَذَا الْقُرْآنَ وَالْبَيَانَ، وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا أَيْ صَمَمًا مَعْنَوِيًّا عَنِ الرَّشَادِ

"Yakni penutup dan selubung, sehingga mereka tidak memahami Al-Qur'an dan penjelasan tersebut. Dan pada telinga mereka terdapat waqr, yakni ketulian secara maknawi dari menerima petunjuk."[^3]

Perhatikan istilah:

صَمَمًا مَعْنَوِيًّا

"Ketulian secara maknawi."

Bukan berarti telinganya secara fisik tidak berfungsi.

Mereka mungkin mendengar suara ayat.

Tetapi tidak mengambil manfaat dari ayat tersebut.

Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita.

Ada orang yang mendengar:

"Jangan ghibah."

Dia mendengar.

Tetapi tidak berhenti.

Ada yang mendengar:

"Jangan riba."

Dia mendengar.

Tetapi tetap melakukannya.

Ada yang mendengar:

"Jaga salat."

Dia mendengar.

Tetapi tetap meninggalkannya.

Secara fisik telinganya mendengar.

Tetapi secara hati:

tidak menerima.


IX. AS-SA'DI: INILAH ORANG YANG SUDAH MELIHAT JALAN BENAR TETAPI MEMILIH JALAN SESAT

As-Sa'di memberikan penjelasan yang sangat dalam:

فَهَذَا أَعْظَمُ ظُلْمًا مِنَ الْمُعْرِضِ الَّذِي لَمْ تَأْتِهِ آيَاتُ اللَّهِ وَلَمْ يُذَكَّرْ بِهَا

"Orang seperti ini lebih besar kezalimannya daripada orang yang berpaling tetapi belum pernah didatangi ayat-ayat Allah dan belum pernah diperingatkan dengannya."[^4]

Kemudian As-Sa'di berkata:

وَفِي هَذِهِ الْآيَةِ مِنَ التَّخْوِيفِ لِمَنْ تَرَكَ الْحَقَّ بَعْدَ عِلْمِهِ، أَنْ يُحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، وَلَا يَتَمَكَّنَ مِنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ، مَا هُوَ أَعْظَمُ مُرَهِّبٍ وَزَاجِرٍ عَنْ ذَلِكَ

"Dalam ayat ini terdapat peringatan yang sangat menakutkan bagi orang yang meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya: dikhawatirkan ia akan dihalangi dari kebenaran itu dan tidak lagi mampu meraihnya. Ini merupakan peringatan yang sangat kuat agar seseorang tidak melakukan hal tersebut."[^4]

Jamaah...

Ini yang sangat menakutkan.

Bukan sekadar:

"Saya menolak kebenaran hari ini."

Tetapi:

"Jangan-jangan karena terus menolak kebenaran, suatu hari hati saya tidak lagi mampu menerima kebenaran."


X. "ALLAH MENUTUP HATI" — APAKAH MANUSIA DIPAKSA UNTUK SESAT?

Ini perlu kita pahami dengan benar.

Jangan memahami ayat ini seolah-olah Allah sejak awal menutup hati seseorang tanpa sebab, lalu orang tersebut dipaksa menjadi kafir.

Konteks ayat justru menunjukkan:

ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ

Dia telah diperingatkan.

Kemudian:

فَأَعْرَضَ عَنْهَا

Dia berpaling.

Kemudian:

وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ

Dia mengabaikan dosa-dosanya dan tidak bertaubat.

Barulah disebutkan:

جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً

Ada penutupan hati sebagai hukuman atas sikap berpaling yang terus-menerus.

Karena itu, As-Sa'di menegaskan:

عَاقَبَهُمُ اللَّهُ بِسَبَبِ إِعْرَاضِهِمْ عَنْ آيَاتِهِ

"Allah menghukum mereka disebabkan mereka berpaling dari ayat-ayat-Nya."[^4]

Jadi jangan menggunakan ayat ini untuk berkata:

"Kalau saya sesat, berarti Allah memang tidak memberi saya pilihan."

Tidak demikian.

Manusia memiliki kehendak dan pilihan, dan Allah mengetahui serta menguasai segala sesuatu.

Ayat ini justru merupakan peringatan agar jangan terus-menerus memilih penolakan terhadap kebenaran.


XI. ALLAH TIDAK MENZALIMI MANUSIA

Allah berfirman:

QS. Al-An'am: 125

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ ۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِ ۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

"Barang siapa dikehendaki Allah untuk mendapat petunjuk, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia menjadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."

Maka kita jangan merasa aman dengan kondisi hati kita sekarang.

Hari ini beriman bukan alasan untuk sombong.

Justru kita harus berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."


XII. RASULULLAH ﷺ SENDIRI SERING MEMOHON KETEGUHAN HATI

Ummu Salamah رضي الله عنها meriwayatkan bahwa doa yang banyak dibaca Nabi ﷺ adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."

Ketika ditanya mengapa beliau banyak mengucapkannya, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa hati anak Adam berada di antara jari-jari Ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.

(HR. At-Tirmidzi, no. 2140; Ahmad)

Maka kalau Rasulullah ﷺ saja banyak memohon keteguhan hati, bagaimana dengan kita?

Kita yang mudah berubah.

Kita yang mudah tergoda.

Kita yang mudah terpengaruh lingkungan.

Kita yang kadang semangat beribadah, kemudian malas.

Kita yang hari ini menangis mendengar nasihat, tetapi besok kembali melakukan dosa.

Jangan pernah merasa aman dari perubahan hati.


XIII. AL-QUR'AN ADALAH CERMIN, BUKAN SEKADAR BAHAN UNTUK MENILAI ORANG LAIN

Jamaah...

Ini penting.

Ketika membaca:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ

Jangan buru-buru berkata:

"Ini pasti tentang orang kafir."

Memang konteks langsung ayat berkaitan dengan orang-orang yang menolak risalah.

Tetapi seorang mukmin membaca Al-Qur'an untuk memperbaiki dirinya.

Tanyakan:

Apakah saya pernah diperingatkan tetapi berpaling?

Pernahkah guru menasihati saya?

Pernahkah orang tua menasihati saya?

Pernahkah pasangan mengingatkan saya?

Pernahkah sahabat mengingatkan saya?

Pernahkah Al-Qur'an mengingatkan saya?

Pernahkah khutbah mengingatkan saya?

Lalu saya berkata:

"Saya tahu."

Tetapi tidak berubah.

Hati-hati.

Karena mengetahui kebenaran tetapi terus menolaknya adalah penyakit yang lebih berbahaya daripada belum mengetahui.


XIV. NASIHAT YANG TIDAK KITA SUKAI BISA JADI ADALAH RAHMAT ALLAH

Kadang-kadang nasihat datang dari orang yang kita sukai.

Kita senang.

Tetapi kadang nasihat datang dari orang yang tidak kita sukai.

Kita tersinggung.

Kadang cara penyampaiannya kurang baik.

Tetapi bisa jadi isi nasihatnya benar.

Orang beriman belajar memisahkan:

siapa yang berbicara

dengan:

apa yang dibicarakan.

Jika nasihat itu benar, ambillah kebenarannya.

Jika cara menyampaikannya salah, kita bisa memperbaiki caranya tanpa menolak kebenarannya.


XV. JANGAN SAMPAI DOSA MENJADI SESUATU YANG KITA BELA

Ini tanda yang sangat berbahaya.

Awalnya:

"Saya tahu ini dosa."

Kemudian:

"Saya memang berdosa."

Kemudian:

"Semua orang juga melakukannya."

Kemudian:

"Tidak masalah."

Kemudian:

"Sebenarnya ini bukan dosa."

Kemudian:

"Yang salah justru orang yang mengingatkan."

Perhatikan perjalanan itu.

Bukan hanya dosa yang dilakukan.

Tetapi hati mulai membela dosa.

Itulah yang harus kita takutkan.


XVI. JANGAN MENUNDA TAUBAT

Allah berfirman:

QS. Az-Zumar: 53

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

Perhatikan hubungan ayat ini dengan Al-Kahf 57.

Al-Kahf 57 memperingatkan:

Jangan terus berpaling.

Az-Zumar 53 memberikan harapan:

Jangan putus asa.

Maka selama masih hidup:

pintu kembali kepada Allah belum boleh kita tutup sendiri.


XVII. TAUBAT ADALAH CARA MEMBERSIHKAN HATI

Kembali kepada hadis:

فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ

"Jika ia meninggalkan dosa, beristighfar dan bertaubat, hatinya dibersihkan."

Ada tiga langkah:

1. نَزَعَ

Meninggalkan dosa.

2. اسْتَغْفَرَ

Memohon ampun.

3. تَابَ

Kembali kepada Allah.

Jangan hanya:

"Astaghfirullah."

tetapi dosa tetap dilakukan.

Istighfar yang benar mendorong perubahan.


XVIII. EMPAT TANDA HATI MASIH HIDUP

Mari kita periksa diri.

1. Hati masih takut ketika berdosa

Kalau melakukan dosa lalu hati merasa bersalah, itu kesempatan untuk kembali.

2. Hati masih senang ketika mendengar Al-Qur'an

Masih ada cahaya.

3. Hati masih menerima nasihat

Ketika orang lain mengingatkan dan kita berkata:

"Terima kasih, saya akan memperbaiki."

Itu tanda kebaikan.

4. Hati masih cepat bertaubat

Jatuh?

Bangun.

Berdosa?

Istighfar.

Salah?

Minta maaf.

Jauh?

Kembali.

Itulah hati yang masih hidup.


XIX. EMPAT TANDA YANG HARUS DITAKUTI

Sebaliknya, waspadai jika:

1. Dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.

2. Nasihat selalu dianggap serangan.

3. Dalil selalu dicari kelemahannya hanya karena tidak sesuai hawa nafsu.

4. Kita lebih marah ketika dikoreksi daripada ketika melakukan dosa.

Jika ini mulai muncul, jangan tunggu.

Segera kembali kepada Allah.


XX. JANGAN SAMPAI KITA MENJADI ORANG YANG "MENDENGAR TETAPI TIDAK MENDENGAR"

Allah berfirman:

QS. Al-Anfal: 20–21

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَاَنْتُمْ تَسْمَعُوْنَ ۝ وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ قَالُوْا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, padahal kamu mendengar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata, 'Kami mendengar,' padahal mereka tidak mendengar."

Secara fisik mendengar.

Tetapi secara hati tidak menerima.

Inilah yang disebut:

السَّمَاعُ بِدُونِ انْتِفَاعٍ

Mendengar tanpa mengambil manfaat.


XXI. JANGAN SAMPAI KITA MATI DALAM KEADAAN HATI YANG TERTUTUP

Jamaah...

Kita tidak tahu bagaimana akhir kehidupan kita.

Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi."

(QS. Ali 'Imran: 8)

Perhatikan:

لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا

"Jangan Engkau palingkan hati kami."

Ini doa yang sangat layak diperbanyak.

Karena masalah terbesar bukan hanya:

"Apakah saya sudah mendapatkan petunjuk?"

Tetapi:

"Apakah saya akan tetap berada di atas petunjuk sampai mati?"


XXII. RENUNGAN UNTUK DIRI SENDIRI

[diam sejenak]

Jamaah yang dirahmati Allah...

Mari kita berhenti sejenak.

Berapa banyak nasihat yang sudah kita dengar?

Berapa banyak ayat yang sudah kita baca?

Berapa banyak khutbah yang sudah kita ikuti?

Berapa kali kita menangis?

Berapa kali kita berkata:

"Mulai besok saya akan berubah."

Tetapi besok datang...

dan kita kembali seperti sebelumnya.

[diam]

Jangan sampai hati kita terbiasa dengan nasihat.

Jangan sampai mendengar ayat tentang neraka tetapi hati tidak takut.

Mendengar ayat tentang surga tetapi hati tidak rindu.

Mendengar ayat tentang taubat tetapi tidak bertaubat.

Mendengar ayat tentang kematian tetapi tetap hidup seolah-olah tidak akan mati.

Itulah yang harus kita takutkan.


XXIII. JANGAN MENUNGGU HATI MATI UNTUK KEMBALI

Kalau hari ini hati kita masih tersentuh:

kembali.

Kalau hari ini masih menangis:

kembali.

Kalau hari ini masih merasa bersalah:

kembali.

Kalau hari ini masih takut kepada Allah:

kembali.

Karena rasa sakit yang muncul setelah dosa bisa menjadi pintu menuju taubat.

Jangan justru membunuh rasa bersalah itu dengan mengulang dosa.


XXIV. TIGA KALIMAT UNTUK MENYELAMATKAN HATI

Biasakan tiga kalimat ini.

Pertama:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

"Aku memohon ampun kepada Allah."

Ketika salah.

Kedua:

تُبْتُ إِلَى اللَّهِ

"Aku bertaubat kepada Allah."

Ketika jatuh dalam dosa.

Ketiga:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."

Ketika takut hati berubah.


XXV. PENUTUP

Jamaah yang dimuliakan Allah...

QS. Al-Kahf ayat 57 adalah ayat yang keras, tetapi sebenarnya ia adalah peringatan penuh kasih sayang.

Allah memperingatkan kita sebelum hati benar-benar keras.

Allah memperingatkan kita sebelum dosa menutupi hati.

Allah memperingatkan kita sebelum seseorang tidak lagi mampu menerima nasihat.

Allah seakan berkata:

Jangan terus berpaling.

Jangan terus menolak.

Jangan terus menunda taubat.

Jangan sampai hati yang awalnya lembut berubah menjadi keras.

Karena itu, jangan merasa aman dengan keadaan hati kita.

Hari ini kita menangis.

Besok belum tentu.

Hari ini kita rajin salat.

Besok belum tentu.

Hari ini kita cinta Al-Qur'an.

Besok belum tentu.

Maka mintalah kepada Allah:

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

"Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu."


DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ.

"Ya Allah, wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu."

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قُلُوبَنَا قَاسِيَةً، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْمَعُونَ الْحَقَّ وَلَا يَتَّبِعُونَهُ.

"Ya Allah, jangan jadikan hati kami keras dan jangan jadikan kami orang-orang yang mendengar kebenaran tetapi tidak mengikutinya."

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَعْيُنًا دَامِعَةً، وَنُفُوسًا تَائِبَةً.

"Ya Allah, karuniakan kepada kami hati yang khusyuk, mata yang mudah menangis, dan jiwa yang senantiasa bertaubat."

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ تَوْبَةً نَصُوحًا، وَقَلْبًا سَلِيمًا، وَثَبَاتًا عَلَى الْحَقِّ.

"Ya Allah, kami memohon kepada-Mu taubat yang tulus, hati yang bersih, dan keteguhan di atas kebenaran."

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi."

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِمُعَلِّمِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN KAKI / RUJUKAN

[^1]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf [18]:57. Ath-Thabari menjelaskan bahwa orang tersebut telah ditunjukkan jalan petunjuk dan keselamatan melalui ayat-ayat Allah, tetapi berpaling dan tidak bertaubat dari dosa-dosanya.

[^2]: Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf [18]:57. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa "نَسِيَ" dalam konteks ini dapat bermakna meninggalkan atau mengabaikan dosa sehingga tidak bertaubat darinya.

[^3]: Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Tafsir QS. Al-Kahf [18]:57. Ibn Katsir menjelaskan أَكِنَّةً sebagai penutup/selubung pada hati dan وَقْرًا sebagai ketulian maknawi terhadap petunjuk.

[^4]: Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, Tafsir QS. Al-Kahf [18]:57. As-Sa‘di menekankan bahwa meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya merupakan bentuk kezaliman yang sangat berat dan dapat menyebabkan seseorang terhalang dari kemampuan menerima petunjuk.

[^5]: Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Jāmi‘ at-Tirmidzi, no. 3334, dari Abu Hurairah رضي الله عنه. Hadis tentang titik hitam pada hati akibat dosa, yang dibersihkan dengan meninggalkan dosa, istighfar, dan taubat. At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.

[^6]: QS. Al-Hadid [57]:16, tentang hati yang menjadi keras setelah perjalanan waktu dan jauhnya hati dari kekhusyukan kepada Allah.

[^7]: QS. Az-Zumar [39]:53, tentang larangan berputus asa dari rahmat Allah.

[^8]: QS. Ali 'Imran [3]:8, doa agar hati tidak disesatkan setelah memperoleh petunjuk.


INTI PESAN QS. AL-KAHF AYAT 57

Jangan takut hanya kepada dosa yang pernah kita lakukan.

Takutlah kepada hati yang tidak lagi merasa bersalah setelah melakukan dosa.

Jangan takut hanya karena pernah jauh dari Allah.

Takutlah jika sudah tidak ingin kembali kepada Allah.

Jangan takut hanya karena pernah jatuh.

Takutlah jika ketika jatuh kita tidak mau bangkit.

Karena dosa dapat meninggalkan noda pada hati.

Tetapi selama kita masih mau:

نَزَعَ — meninggalkan dosa,

وَاسْتَغْفَرَ — beristighfar,

وَتَابَ — bertaubat,

maka pintu untuk membersihkan hati masih terbuka.

Ya Muqallibal qulub, tsabbit qulubana 'ala dinik.

Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

Tidak ada komentar