TIDAK ADA KEBAIKAN YANG SIA-SIA DI SISI ALLAH
TIDAK ADA KEBAIKAN YANG SIA-SIA DI SISI ALLAH
Tafsir dan Tadabbur QS. Al-Kahf Ayat 30
وَعْدُ اللَّهِ لِأَهْلِ الْإِيمَانِ وَالْإِحْسَانِ
A. MUKADIMAH
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada ayat sebelumnya, yaitu QS. Al-Kahf ayat 29, Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang memilih kekufuran dan kezaliman.
Allah menggambarkan neraka, panasnya, kepungan apinya, dan buruknya minuman bagi penghuninya.
Kemudian pada ayat ke-30, Allah menghadirkan sisi yang lain.
Setelah berbicara tentang ancaman, Allah berbicara tentang harapan.
Setelah menyebutkan neraka, Allah menyebutkan pahala.
Setelah menjelaskan akibat orang yang memilih jalan keburukan, Allah menjelaskan janji-Nya kepada orang yang memilih jalan iman dan amal saleh.
Seakan-akan Allah mengajarkan kepada kita:
Jangan hanya takut kepada hukuman Allah. Berharaplah pula kepada janji Allah.
Dan salah satu janji Allah yang paling menenteramkan hati adalah:
إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
“Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
B. AYAT UTAMA
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِيْعُ اَجْرَ مَنْ اَحْسَنَ عَمَلًاۚ
Artinya:
“Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.”
Ayat ini sangat singkat, tetapi mengandung janji Allah yang sangat besar.
Ada tiga kata kunci yang perlu kita renungkan:
1. آمَنُوا — mereka beriman
2. عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ — mereka mengerjakan amal saleh
3. لَا نُضِيعُ أَجْرَ — Kami tidak menyia-nyiakan pahala
C. PELAJARAN PERTAMA
IMAN HARUS DIBUKTIKAN DENGAN AMAL
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.”
Perhatikan bahwa Allah tidak hanya mengatakan:
الَّذِينَ آمَنُوا
“orang-orang yang beriman.”
Tetapi:
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“dan mereka mengerjakan amal saleh.”
Ini menunjukkan hubungan yang sangat erat antara iman dan amal.
Iman bukan sekadar pengakuan di lisan.
Iman harus melahirkan perubahan dalam kehidupan.
Kalau seseorang mengatakan:
“Saya beriman kepada Allah.”
Maka imannya harus terlihat dalam:
- salatnya,
- kejujurannya,
- akhlaknya,
- cara berbicara,
- cara mencari rezeki,
- cara memperlakukan orang tua,
- cara mendidik anak,
- cara memperlakukan tetangga,
- cara menggunakan hartanya,
- dan cara menggunakan waktunya.
Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.”
(QS. Al-'Ashr: 1–3)
Iman harus melahirkan amal.
Dan amal harus dibangun di atas iman.
D. PELAJARAN KEDUA
ALLAH TIDAK AKAN MENYIA-NYIAKAN AMAL KITA
Inilah kalimat yang sangat menenteramkan:
إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
“Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
Manusia mungkin tidak menghargai amal kita.
Kita mungkin membantu seseorang, tetapi dia lupa.
Kita mungkin pernah berbuat baik kepada seseorang, tetapi dia tidak berterima kasih.
Kita mungkin mendidik seseorang bertahun-tahun, tetapi jasa kita tidak pernah disebut.
Kita mungkin bekerja keras untuk keluarga, tetapi tidak ada yang mengetahui betapa berat perjuangan kita.
Bahkan terkadang:
kebaikan kita dibalas dengan keburukan.
Tetapi jangan kecewa.
Karena Allah berfirman:
لَا نُضِيعُ
“Kami tidak akan menyia-nyiakan.”
Manusia boleh lupa.
Allah tidak pernah lupa.
Manusia boleh tidak menghargai.
Allah tidak pernah menyia-nyiakan.
Manusia mungkin tidak mengetahui.
Allah mengetahui seluruhnya.
E. ALLAH MENGETAHUI KEBAIKAN YANG TERSEMBUNYI
Allah berfirman:
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Apa pun kebaikan yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”
(QS. Al-Baqarah: 197)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada amal yang hanya diketahui oleh Allah.
Sedekah yang tidak diposting.
Tahajud yang tidak diketahui keluarga.
Tangisan dalam doa yang tidak diketahui siapa pun.
Membantu orang tanpa menyebut nama.
Memaafkan seseorang tanpa mengungkitnya.
Menahan amarah padahal kita mampu membalas.
Memberikan uang kepada orang lain tanpa ingin dipuji.
Semua itu mungkin tidak diketahui manusia.
Tetapi:
Allah mengetahuinya.
Dan karena Allah mengetahuinya, tidak ada satu pun kebaikan yang hilang.
F. PELAJARAN KETIGA
SEKALIPUN AMAL ITU SANGAT KECIL, ALLAH AKAN MEMBALASNYA
Allah berfirman:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Perhatikan:
Allah tidak mengatakan:
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan yang besar.”
Tetapi:
مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
“seberat zarrah.”
Zarrah menggambarkan sesuatu yang sangat kecil.
Artinya:
Jangan meremehkan kebaikan hanya karena terlihat kecil.
Senyum.
Salam.
Membantu mengangkat barang.
Memberi minum.
Mengajarkan satu ayat.
Membantu seorang anak memahami pelajaran.
Menyisihkan sedikit uang untuk sedekah.
Membersihkan masjid.
Memungut sampah dari jalan.
Menyingkirkan sesuatu yang mengganggu orang lain.
Bisa jadi manusia menganggapnya kecil.
Tetapi Allah tidak menyia-nyiakannya.
G. HADIS: JANGAN MEREMEHKAN KEBAIKAN
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Dzar رضي الله عنه:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Artinya:
“Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah yang ceria.”
(HR. Muslim, no. 2626).
Perhatikan ajaran Nabi ﷺ.
Bahkan wajah yang ceria bisa menjadi amal kebaikan.
Maka jangan pernah berkata:
“Saya tidak punya uang untuk bersedekah.”
Mungkin kita tidak punya uang.
Tetapi kita punya senyum.
Kita punya tenaga.
Kita punya ilmu.
Kita punya waktu.
Kita punya doa.
Kita punya kesempatan membantu.
Pintu kebaikan sangat banyak.
H. PELAJARAN KEEMPAT
ALLAH BUKAN HANYA MEMBERI PAHALA, TETAPI MELIPATGANDAKANNYA
Rasulullah ﷺ menyampaikan hadis qudsi:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبْتُهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا كَتَبْتُهَا لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ
“Allah عز وجل berfirman: Apabila hamba-Ku berniat melakukan suatu kebaikan tetapi belum mengerjakannya, Aku mencatatnya untuknya sebagai satu kebaikan. Jika dia mengerjakannya, Aku mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai kelipatan yang banyak.”
(HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131).
Subhanallah!
Allah tidak hanya berkata:
“Aku akan mencatat kebaikanmu.”
Tetapi:
Aku akan melipatgandakannya.
Inilah kemurahan Allah.
I. MENGAPA PAHALA BISA BERLIPAT GANDA?
Karena Allah adalah:
أَكْرَمُ الْأَكْرَمِينَ
Maha Pemurah di antara para pemurah.
Allah berfirman:
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Barang siapa datang dengan membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat kebaikan itu.”
(QS. Al-An'am: 160)
Sedangkan keburukan?
Allah berfirman dalam ayat yang sama:
وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا
“Dan barang siapa membawa satu kejahatan, maka dia tidak diberi balasan kecuali seimbang dengan kejahatannya.”
Lihatlah keadilan Allah:
Kebaikan dilipatgandakan.
Keburukan dibalas sesuai kadarnya.
J. PELAJARAN KELIMA
“أَحْسَنَ عَمَلًا” BUKAN BERARTI “أَكْثَرَ عَمَلًا”
Allah tidak mengatakan:
أَكْثَرَ عَمَلًا
“orang yang paling banyak amalnya.”
Tetapi:
أَحْسَنَ عَمَلًا
“orang yang paling baik amalnya.”
Ini sangat penting.
Allah tidak hanya melihat:
berapa banyak amal kita?
Tetapi juga:
bagaimana kualitas amal kita?
Apakah ikhlas?
Apakah sesuai Sunnah?
Apakah dilakukan dengan benar?
Apakah tujuannya mencari ridha Allah?
K. PENJELASAN IMAM AS-SA'DI: DUA SYARAT AMAL YANG DITERIMA
Imam As-Sa'di رحمه الله menjelaskan:
وَإِحْسَانُ الْعَمَلِ: أَنْ يُرِيدَ الْعَبْدُ الْعَمَلَ لِوَجْهِ اللَّهِ، مُتَّبِعًا فِي ذَلِكَ شَرْعَ اللَّهِ.
Artinya:
“Ihsan dalam amal adalah seorang hamba menghendaki amal tersebut karena Allah, dan dalam melakukannya mengikuti syariat Allah.”[^1]
Ini memberikan dua syarat besar:
1. Ikhlas
لِوَجْهِ اللَّهِ
Amal dilakukan karena Allah.
2. Benar
مُتَّبِعًا فِي ذَلِكَ شَرْعَ اللَّهِ
Amal dilakukan sesuai syariat Allah.
Maka amal yang baik harus memenuhi:
إِخْلَاصٌ + مُتَابَعَةٌ
Ikhlas + mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
L. DALIL TENTANG KEIKHLASAN
Allah berfirman:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.”
(QS. Az-Zumar: 3)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya:
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Maka dua orang bisa melakukan pekerjaan yang sama, tetapi mendapatkan pahala yang berbeda.
Dua orang sama-sama memberikan uang.
Yang satu karena Allah.
Yang satu karena ingin dipuji.
Secara lahiriah sama.
Tetapi di sisi Allah berbeda.
M. DALIL TENTANG MENGIKUTI SUNNAH
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Artinya:
“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan agama kami ini yang tidak berasal darinya, maka perkara itu tertolak.”
Dalam riwayat lain:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak.”
(HR. Muslim).
Maka amal saleh bukan sekadar:
“Yang penting niatnya baik.”
Tetapi:
Niatnya harus baik dan caranya juga harus benar.
N. PELAJARAN KEENAM
ALLAH TIDAK AKAN MENGURANGI PAHALA KITA
Allah berfirman:
وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
“Dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
Imam Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan:
إِنَّ الَّذِينَ صَدَّقُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَانْتَهَوْا إِلَى أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ، إِنَّا لَا نُضَيِّعُ ثَوَابَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا.
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, mengerjakan ketaatan kepada Allah, serta mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya, sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”[^2]
Perhatikan penjelasan ini.
Amal saleh bukan hanya:
“Saya melakukan sesuatu yang menurut saya baik.”
Tetapi harus:
طَاعَةُ اللَّهِ
ketaatan kepada Allah,
dan:
أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ
mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya.
O. ALLAH MENJAMIN TIDAK ADA AMAL YANG HILANG
Allah berfirman:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ
“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.”
(QS. Al-Baqarah: 143)
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini juga menunjukkan kemurahan Allah terhadap amal orang beriman.
Allah mengetahui:
- berapa kali kita salat,
- berapa kali kita bersedekah,
- berapa kali kita membantu,
- berapa kali kita bersabar,
- berapa kali kita menahan amarah,
- berapa kali kita menangis karena takut kepada-Nya,
- berapa kali kita memaafkan,
- berapa kali kita memilih taat ketika hawa nafsu mengajak bermaksiat.
Tidak ada yang hilang.
P. IMAM IBN KATSIR: SETELAH ANCAMAN, DATANG JANJI
Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan:
لَمَّا ذَكَرَ تَعَالَى حَالَ الْأَشْقِيَاءِ، ثَنَّى بِذِكْرِ السُّعَدَاءِ، الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ فِيمَا جَاءُوا بِهِ، وَعَمِلُوا بِمَا أَمَرُوهُمْ بِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ.
Artinya:
“Ketika Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka, Allah kemudian menyebutkan keadaan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, membenarkan para rasul dalam apa yang mereka bawa, dan mengerjakan amal-amal saleh yang mereka diperintahkan untuk mengerjakannya.”[^3]
Ini adalah salah satu keindahan susunan Al-Qur'an.
Ayat 29:
ancaman.
Ayat 30:
harapan.
Agar seorang mukmin berjalan kepada Allah dengan dua sayap:
الخَوْفُ وَالرَّجَاءُ
takut dan berharap.
Takut terhadap azab Allah.
Dan berharap kepada rahmat serta pahala Allah.
Q. JANGAN PERNAH BERPIKIR: “AMAL SAYA TIDAK ADA GUNANYA”
Ada orang yang merasa:
“Saya sudah terlalu banyak dosa.”
“Saya bukan orang saleh.”
“Amal saya sedikit.”
“Saya tidak punya kemampuan seperti orang lain.”
Jangan berpikir demikian.
Selama masih hidup, pintu amal masih terbuka.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Mungkin kita tidak mampu membangun masjid.
Tetapi kita bisa membantu membersihkannya.
Mungkin kita tidak mampu bersedekah jutaan rupiah.
Tetapi kita bisa bersedekah sesuai kemampuan.
Mungkin kita tidak mampu menghafal seluruh Al-Qur'an.
Tetapi kita bisa membaca beberapa ayat setiap hari.
Mungkin kita tidak mampu berdakwah di hadapan ribuan orang.
Tetapi kita bisa mengajarkan satu kebaikan kepada keluarga.
Jangan menunggu mampu melakukan amal besar untuk mulai beramal.
Mulailah dari amal kecil yang bisa dilakukan dengan istiqamah.
R. AMAL KECIL YANG ISTIQAMAH SANGAT BERHARGA
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinu, meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Maka jangan meremehkan:
- satu halaman Al-Qur'an setiap hari,
- dua rakaat duha,
- sedekah seribu atau dua ribu rupiah,
- membantu orang tua,
- membaca zikir pagi dan petang,
- mengajarkan satu ilmu,
- mendoakan orang lain.
Yang penting:
terus dilakukan.
S. ALLAH MENILAI PROSES, BUKAN HANYA HASIL
Dalam kehidupan, manusia sering hanya melihat hasil.
Guru melihat nilai siswa.
Orang melihat jumlah uang.
Masyarakat melihat prestasi.
Tetapi Allah melihat lebih dalam.
Allah mengetahui:
- niat,
- usaha,
- kesabaran,
- perjuangan,
- keikhlasan,
- dan pengorbanan.
Bisa jadi seseorang melakukan amal sederhana dengan perjuangan yang sangat besar.
Seorang ibu mungkin hanya memasak makanan sederhana.
Tetapi dia melakukannya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan mengharap pahala dari Allah.
Seorang ayah mungkin bekerja keras dari pagi sampai malam.
Jika dia mencari rezeki halal untuk menafkahi keluarganya, maka pekerjaannya dapat menjadi ibadah.
Seorang guru mungkin mengulang pelajaran berkali-kali kepada murid yang belum memahami.
Manusia mungkin tidak melihat perjuangannya.
Allah melihat.
T. JANGAN BERHENTI BERBUAT BAIK HANYA KARENA TIDAK DIHARGAI
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada kalanya kita kecewa:
“Saya sudah baik kepadanya, tetapi dia tidak baik kepada saya.”
“Saya sudah membantu, tetapi saya justru disalahkan.”
“Saya sudah mengajarkan, tetapi tidak dihargai.”
Ingat ayat ini:
إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
Allah tidak mengatakan:
“Kami tidak menyia-nyiakan pujian manusia.”
Tetapi:
“Kami tidak menyia-nyiakan pahala.”
Maka jangan beramal demi tepuk tangan manusia.
Karena tepuk tangan manusia akan berhenti.
Pujian manusia akan hilang.
Nama kita suatu hari akan dilupakan.
Tetapi pahala yang dicatat Allah akan kita temukan kembali pada hari kiamat.
U. SATU KEBAIKAN BISA MENJADI TABUNGAN AKHIRAT
Bayangkan seseorang memberi makan seorang fakir.
Mungkin makanan itu habis dalam beberapa menit.
Tetapi pahalanya bisa tetap tersimpan.
Seseorang mengajarkan Al-Qur'an kepada seorang anak.
Anak itu mungkin menghafalnya bertahun-tahun.
Setiap kali anak tersebut membacanya, mengamalkannya, dan mengajarkannya kembali, guru tersebut dapat memperoleh bagian pahala dari amal yang menjadi sebab kebaikan itu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya:
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim).
Maka jangan hanya berpikir:
“Apa yang saya lakukan hari ini?”
Tetapi berpikirlah:
“Kebaikan apa yang bisa terus mengalir setelah saya tidak ada?”
V. BAGI PARA GURU DAN PENDIDIK
Ayat ini sangat relevan bagi seorang guru.
Kadang guru merasa:
“Saya sudah mengajar bertahun-tahun, tetapi apakah ada hasilnya?”
Jawabannya:
Jangan khawatir.
Jika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai syariat, tidak ada amal yang sia-sia.
Mungkin hari ini seorang murid belum menunjukkan perubahan.
Tetapi ilmu yang kita ajarkan mungkin akan muncul manfaatnya:
- lima tahun kemudian,
- sepuluh tahun kemudian,
- bahkan setelah kita meninggal.
Satu ayat yang kita ajarkan.
Satu akhlak yang kita contohkan.
Satu nasihat yang kita sampaikan.
Satu kesalahan murid yang kita bimbing dengan sabar.
Bisa menjadi sebab perubahan hidup seseorang.
Dan Allah berfirman:
إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
“Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
Maka:
Jangan lelah mendidik.
Jangan bosan menasihati.
Jangan putus asa membimbing.
Karena bisa jadi amal yang kita anggap kecil justru menjadi amal yang sangat besar di sisi Allah.
W. BAGI ORANG TUA
Orang tua juga harus memahami ayat ini.
Mendidik anak bukan hanya kewajiban.
Jika diniatkan karena Allah, mendidik anak adalah investasi akhirat.
Mengajari anak:
بِسْمِ اللَّهِ
Mengajarkan wudu.
Mengajarkan salat.
Mengajarkan membaca Al-Qur'an.
Mengajarkan adab.
Mengajarkan kejujuran.
Mengajarkan menghormati guru.
Mengajarkan membantu orang lain.
Semuanya bisa menjadi amal yang besar.
X. JANGAN HANYA MENGEJAR BANYAKNYA AMAL
Mari kita evaluasi amal kita.
Bukan hanya:
“Berapa kali saya membaca Al-Qur'an?”
Tetapi:
“Apakah saya membacanya karena Allah?”
Bukan hanya:
“Berapa banyak saya bersedekah?”
Tetapi:
“Apakah saya ikhlas?”
Bukan hanya:
“Berapa banyak saya mengajar?”
Tetapi:
“Apakah saya mengajar sebagai amanah?”
Bukan hanya:
“Berapa banyak ilmu yang saya miliki?”
Tetapi:
“Apakah ilmu itu saya amalkan?”
Karena Allah berfirman:
أَحْسَنَ عَمَلًا
“Amal yang paling baik.”
Y. RENUNGAN: APA YANG AKAN KITA TEMUKAN DI AKHIRAT?
Bayangkan suatu hari nanti kita berdiri di hadapan Allah.
Semua manusia sibuk dengan dirinya sendiri.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada kekayaan.
Tidak ada popularitas.
Tidak ada pengikut media sosial.
Tidak ada penghargaan.
Yang ada hanyalah:
amal.
Saat itu mungkin kita akan berharap:
“Seandainya dulu saya lebih banyak bersedekah.”
“Seandainya dulu saya lebih banyak membaca Al-Qur'an.”
“Seandainya dulu saya lebih sering membantu orang tua.”
“Seandainya dulu saya tidak meremehkan kebaikan kecil.”
Karena itu, sebelum hari itu datang:
Jangan sia-siakan kesempatan berbuat baik.
Z. KESIMPULAN
QS. Al-Kahf ayat 30 mengajarkan kepada kita lima pesan besar:
1. Iman harus dibuktikan dengan amal
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
2. Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya
لَا نُضِيعُ أَجْرَ
3. Jangan meremehkan amal kecil
مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
4. Amal yang terbaik harus ikhlas dan sesuai tuntunan syariat
إِخْلَاصٌ وَمُتَابَعَةٌ
5. Teruslah berbuat baik meskipun manusia tidak menghargainya
Karena:
مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”
PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah,
Jika hari ini kita merasa amal kita sedikit, jangan berhenti.
Jika kita merasa amal kita belum sempurna, terus perbaiki.
Jika kebaikan kita tidak dihargai manusia, jangan kecewa.
Jika perjuangan kita tidak diketahui manusia, jangan bersedih.
Karena ada satu janji Allah yang cukup untuk menenangkan hati kita:
إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
“Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
Mungkin manusia tidak melihat kebaikan kita.
Allah melihat.
Mungkin manusia lupa jasa kita.
Allah tidak lupa.
Mungkin manusia tidak menghargai pengorbanan kita.
Allah tidak menyia-nyiakannya.
Mungkin amal kita kecil.
Allah mampu melipatgandakannya.
Maka teruslah berbuat baik.
Teruslah beramal.
Teruslah belajar.
Teruslah mendidik.
Teruslah bersedekah.
Teruslah menolong.
Teruslah memperbaiki diri.
Karena kita tidak pernah tahu:
amal kecil mana yang akan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat.
DOA
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَالَنَا، وَلَا تَرُدَّهَا عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ أَعْمَالَنَا رِيَاءً، وَلَا سُمْعَةً، وَلَا لِغَيْرِكَ شَيْئًا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ كُلَّ عَمَلٍ نَعْمَلُهُ خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي أَعْمَالِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَأَعْمَارِنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحْسِنِينَ، الَّذِينَ لَا تُضِيعُ أَجْرَهُمْ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا، وَعَمَلَنَا صَالِحًا، وَذُرِّيَّتَنَا صَالِحَةً، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
FOOTNOTE / CATATAN RUJUKAN
[^1]: Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, Tafsir QS. Al-Kahf: 30. As-Sa'di menjelaskan bahwa ihsān al-'amal berarti menghendaki amal karena Allah dan mengikuti syariat-Nya.
[^2]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 30. Ath-Thabari menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, tidak akan disia-siakan pahalanya.
[^3]: Isma'il bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Tafsir QS. Al-Kahf: 30. Ibn Katsir menerangkan bahwa setelah Allah menyebut keadaan orang-orang yang celaka, Allah menyebut keadaan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang yang beriman dan melakukan amal saleh.
[^4]: Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 30. Al-Qurthubi menjelaskan hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: setelah menyebut kehinaan dan ancaman bagi orang-orang kafir, Allah menyebut pahala bagi orang-orang beriman.
[^5]: Hadis qudsi dari Ibn Abbas رضي الله عنهما, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 6491; Ṣaḥīḥ Muslim, no. 131. Allah mencatat satu kebaikan yang diniatkan sebagai satu kebaikan, dan apabila dikerjakan dapat dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali bahkan lebih.
[^6]: Abu Dzar رضي الله عنه, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2626: لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا — “Jangan meremehkan sedikit pun dari kebaikan.”
Referensi utama
- Al-Qur'an al-Karim.
- Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān.
- Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.
- Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān.
- As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān.
- Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
- Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim.
Post a Comment