SURGA: SEBAIK-BAIK PAHALA DAN TEMPAT ISTIRAHAT
SURGA: SEBAIK-BAIK PAHALA DAN TEMPAT ISTIRAHAT
Tafsir dan Tadabbur QS. Al-Kahf Ayat 31
مَا أَعَدَّهُ اللَّهُ لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
A. MUKADIMAH
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada ayat ke-29 Allah memperingatkan tentang neraka.
Pada ayat ke-30 Allah menjelaskan bahwa amal orang beriman tidak akan disia-siakan.
Kemudian pada ayat ke-31 Allah menunjukkan hadiah yang Allah siapkan bagi mereka:
جَنَّاتُ عَدْنٍ
Surga 'Adn.
Seakan-akan Allah ingin mengajarkan kepada kita:
Jangan hanya takut meninggalkan neraka. Milikilah kerinduan untuk mendapatkan surga.
Sebab seorang mukmin beribadah bukan hanya karena takut kepada neraka, tetapi juga karena:
يَرْجُو رَحْمَةَ اللَّهِ
“mengharapkan rahmat Allah.”
B. AYAT UTAMA
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ يُحَلَّوْنَ فِيْهَا مِنْ اَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَّيَلْبَسُوْنَ ثِيَابًا خُضْرًا مِّنْ سُنْدُسٍ وَّاِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِـِٕيْنَ فِيْهَا عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِۗ نِعْمَ الثَّوَابُۗ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا
Artinya:
“Mereka itulah yang memperoleh Surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; (dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.”
C. AYAT INI ADALAH LANJUTAN DARI JANJI ALLAH
Perhatikan rangkaian ayatnya.
Ayat 29:
بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
“Seburuk-buruk minuman dan sejelek-jelek tempat istirahat.”
Tentang neraka.
Ayat 30:
إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
“Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
Tentang pahala.
Ayat 31:
نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا
“Sebaik-baik pahala dan seindah-indah tempat istirahat.”
Tentang surga.
Ada perbandingan yang sangat indah:
وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
“Sejelek-jelek tempat istirahat.”
berhadapan dengan:
وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا
“Seindah-indah tempat istirahat.”
Maka manusia pada akhirnya akan mendapatkan salah satunya.
Tempat kembali yang buruk atau tempat kembali yang indah.
D. PELAJARAN PERTAMA
SURGA ADALAH TEMPAT KEKAL
Allah berfirman:
جَنَّاتُ عَدْنٍ
“Surga-surga 'Adn.”
Kata عَدْنٍ ('Adn) berkaitan dengan makna الإقامة — menetap/tinggal.
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
جَنَّاتُ عَدْنٍ، يَعْنِي بَسَاتِينَ إِقَامَةٍ فِي الْآخِرَةِ
Artinya:
“Surga-surga 'Adn, maksudnya adalah taman-taman tempat menetap di akhirat.”[^1]
Ini berbeda dengan kehidupan dunia.
Di dunia:
Kita tinggal di rumah, tetapi suatu hari akan meninggalkannya.
Kita memiliki kendaraan, tetapi suatu hari tidak akan menggunakannya.
Kita memiliki jabatan, tetapi suatu hari jabatan itu berakhir.
Kita memiliki tubuh yang sehat, tetapi suatu hari tubuh akan menjadi lemah.
Tetapi surga:
tidak ada kematian.
tidak ada sakit.
tidak ada tua.
tidak ada kehilangan.
tidak ada perpisahan.
E. SURGA BUKAN TEMPAT SEMENTARA
Allah berfirman:
وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ
“Dan mereka tidak akan dikeluarkan dari surga itu.”
(QS. Al-Hijr: 48)
Inilah yang membuat kenikmatan surga sangat berbeda dengan kenikmatan dunia.
Kenikmatan dunia selalu dihantui pertanyaan:
“Sampai kapan?”
Kesehatan:
“Sampai kapan?”
Kekayaan:
“Sampai kapan?”
Kebahagiaan keluarga:
“Sampai kapan?”
Tetapi kenikmatan surga:
أَبَدًا
Selamanya.
F. PELAJARAN KEDUA
SUNGAI-SUNGAI SURGA
Allah berfirman:
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ
“Yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
Allah berulang kali menggambarkan surga dengan sungai-sungai yang mengalir.
Allah berfirman:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى
“Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di dalamnya ada sungai-sungai air yang tidak payau, sungai-sungai susu yang rasanya tidak berubah, sungai-sungai khamar yang lezat bagi peminumnya, dan sungai-sungai madu yang murni.”
(QS. Muhammad: 15)
Perhatikan:
Allah tidak sekadar mengatakan ada air.
Tetapi ada:
- sungai air,
- sungai susu,
- sungai minuman yang lezat,
- sungai madu yang murni.
Namun jangan membayangkan kenikmatan akhirat hanya berdasarkan standar dunia.
Hakikatnya jauh lebih tinggi.
G. PELAJARAN KETIGA
KENIKMATAN SURGA TIDAK DAPAT DIBANDINGKAN DENGAN DUNIA
Rasulullah ﷺ menyampaikan hadis qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
Artinya:
“Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, berupa kenikmatan yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 17)
Maka apa pun yang kita bayangkan tentang surga, kenyataan surga jauh lebih indah daripada bayangan kita.
H. PELAJARAN KEEMPAT
EMAS DAN PERHIASAN DI SURGA
Allah berfirman:
يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ
“Di dalamnya mereka diberi hiasan gelang-gelang dari emas.”
Di dunia, emas adalah salah satu benda yang sangat berharga.
Manusia mengejarnya.
Menabungnya.
Menyimpannya.
Bahkan ada yang rela bekerja keras bertahun-tahun untuk mendapatkannya.
Tetapi di surga, emas bukan lagi sesuatu yang harus dikejar.
Allah memberikannya sebagai bagian dari kenikmatan penghuni surga.
Ini mengajarkan kepada kita:
Jangan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Apa yang kita kejar mati-matian di dunia bisa jadi hanyalah sesuatu yang sangat kecil dibandingkan apa yang Allah siapkan di akhirat.
I. PERHIASAN ORANG BERIMAN DAN WUDU
Allah menyebutkan:
يُحَلَّوْنَ فِيهَا
“mereka diberi hiasan di dalamnya.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ
Artinya:
“Perhiasan seorang mukmin (di surga) mencapai bagian tubuh yang dicapai oleh wudu.”
(HR. Muslim no. 250).
Subhanallah.
Wudu yang kita lakukan berkali-kali setiap hari ternyata bukan sekadar membersihkan tubuh.
Wudu adalah ibadah.
Dan bekas ketaatan itu akan memiliki kemuliaan di akhirat.
Karena itu jangan pernah meremehkan wudu.
Ketika kita mengambil wudu untuk salat:
kita sedang mempersiapkan diri untuk menghadap Allah.
J. PELAJARAN KELIMA
PAKAIAN SURGA: SUNDUUS DAN ISTABRAQ
Allah berfirman:
وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ
“Dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal.”
Allah menyebut dua jenis:
1. سُنْدُس — Sundus
Sutra yang halus.
2. إِسْتَبْرَق — Istabraq
Sutra yang tebal dan indah.
Ibn Katsir menjelaskan:
فَالسُّنْدُسُ: ثِيَابٌ رِقَاقٌ كَالْقُمُصَانِ وَمَا جَرَى مَجْرَاهَا، وَأَمَّا الْإِسْتَبْرَقُ فَغَلِيظُ الدِّيبَاجِ وَفِيهِ بَرِيقٌ
Artinya:
“Sundus adalah pakaian sutra yang halus seperti kemeja dan sejenisnya. Adapun istabraq adalah kain sutra yang tebal dan memiliki kilauan.”
Ini menunjukkan betapa sempurnanya kenikmatan yang Allah berikan kepada penghuni surga.
K. PAKAIAN DUNIA DAN PAKAIAN AKHIRAT
Rasulullah ﷺ bersabda tentang pakaian sutra di dunia:
إِنَّ هَذَا لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ
Artinya:
“Sesungguhnya ini adalah pakaian bagi orang yang tidak mendapatkan bagian (dari kenikmatan pakaian tersebut) di akhirat.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Maksudnya, sutra murni bagi laki-laki Muslim dilarang dipakai di dunia, tetapi Allah menyediakan sutra sebagai kenikmatan bagi penghuni surga.
Di sini terdapat pelajaran penting:
Seorang mukmin bersedia meninggalkan sesuatu yang haram di dunia karena mengharapkan sesuatu yang jauh lebih baik di akhirat.
L. PELAJARAN KEENAM
WARNA HIJAU YANG MENYEJUKKAN
Allah secara khusus menyebut:
ثِيَابًا خُضْرًا
“pakaian berwarna hijau.”
Al-Qur'an menggambarkan pakaian penghuni surga dengan warna hijau.
Ini menunjukkan keindahan, ketenangan dan kemuliaan.
Tetapi jangan berhenti pada warna.
Pesan yang lebih penting adalah:
Allah menyediakan kenikmatan yang sempurna bagi orang yang beriman dan beramal saleh.
M. PELAJARAN KETUJUH
MEREKA DUDUK DENGAN PENUH KETENANGAN
Allah berfirman:
مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ
“Sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah.”
Kata:
الْأَرَائِكِ
menggambarkan tempat duduk atau ranjang yang dihias dengan indah.
As-Sa'di menjelaskan:
وَفِي اتِّكَائِهِمْ عَلَى الْأَرَائِكِ مَا يَدُلُّ عَلَى كَمَالِ الرَّاحَةِ، وَزَوَالِ النَّصَبِ وَالتَّعَبِ
Artinya:
“Cara mereka bersandar di atas dipan-dipan itu menunjukkan kesempurnaan kenyamanan serta hilangnya keletihan dan rasa lelah.”[^2]
Inilah sesuatu yang sangat berbeda dengan dunia.
Di dunia kita bekerja:
lelah.
Belajar:
lelah.
Mengurus keluarga:
lelah.
Mencari nafkah:
lelah.
Beribadah:
terkadang juga terasa berat.
Tetapi di surga:
لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ
“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya.”
(QS. Al-Hijr: 48)
N. SURGA ADALAH TEMPAT TANPA KELELAHAN
Allah berfirman:
لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ
“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.”
(QS. Al-Hijr: 48)
Tidak ada:
- stres,
- kecemasan,
- sakit,
- kesedihan,
- kelelahan,
- ketakutan,
- kematian.
Allah berfirman:
لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ
“Di sana kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.”
(QS. Fathir: 35)
O. PELAJARAN KEDELAPAN
SURGA ADALAH TEMPAT HILANGNYA KESEDIHAN
Allah berfirman:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.”
(QS. Fathir: 34)
Bayangkan.
Di dunia ada orang yang membawa kesedihan bertahun-tahun.
Ada yang kehilangan orang yang dicintai.
Ada yang menghadapi penyakit.
Ada yang mengalami kegagalan.
Ada yang menghadapi masalah keluarga.
Ada yang mengalami kesulitan ekonomi.
Ada yang merasa hidupnya berat.
Tetapi bagi penghuni surga:
semua kesedihan itu berakhir.
Allah menggantinya dengan kebahagiaan yang sempurna.
P. PELAJARAN KESEMBILAN
SURGA ADALAH TEMPAT YANG TIDAK AKAN MEMBUAT KITA BOSAN
Kenikmatan dunia memiliki satu masalah:
lama-lama kita terbiasa.
Makanan yang sangat lezat, kalau dimakan terus-menerus, bisa terasa biasa.
Rumah yang sangat bagus, lama-lama terasa biasa.
Kendaraan baru, lama-lama terasa biasa.
Tetapi kenikmatan surga tidak demikian.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu kita tidak akan mampu menggambarkan seluruh kenikmatan surga.
Q. PELAJARAN KESEPULUH
“نِعْمَ الثَّوَابُ” — SEBAIK-BAIK BALASAN
Allah menutup gambaran kenikmatan tersebut dengan:
نِعْمَ الثَّوَابُ
“Sebaik-baik pahala.”
Ini adalah penegasan bahwa tidak ada hadiah yang lebih baik daripada apa yang Allah berikan di surga.
Dunia memberikan hadiah.
Tetapi hadiah dunia selalu sementara.
Allah memberikan surga.
Hadiah itu kekal.
Dunia memberikan kebahagiaan yang bercampur kesedihan.
Surga memberikan kebahagiaan yang tidak tercampur kesedihan.
Dunia memberikan kesehatan yang dapat berubah menjadi sakit.
Surga memberikan kesehatan yang tidak berakhir.
R. “وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا” — SEINDAH-INDAH TEMPAT ISTIRAHAT
Allah berfirman:
وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا
“Dan seindah-indah tempat istirahat.”
Betapa indah susunan ayat ini.
Allah sebelumnya berkata tentang neraka:
وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
“Sejelek-jelek tempat istirahat.”
Kemudian tentang surga:
وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا
“Seindah-indah tempat istirahat.”
Ini mengajarkan kepada kita bahwa istirahat yang sebenarnya bukan ketika kita berhasil memiliki rumah besar di dunia.
Istirahat yang sebenarnya adalah ketika:
kita telah masuk surga.
S. IBNU KATSIR: “عَدْن” ADALAH TEMPAT MENETAP
Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan:
وَالْعَدْنُ: الْإِقَامَةُ
Artinya:
“'Adn bermakna menetap.”
Beliau kemudian menjelaskan bahwa sungai-sungai mengalir di bawah kamar dan tempat tinggal mereka, sementara mereka diberi perhiasan emas dan pakaian dari sundus dan istabraq.
Pesannya jelas:
Surga bukan tempat transit.
Surga adalah:
دار الإقامة
tempat tinggal yang kekal.
T. AL-QURTHUBI: LUAS DAN AGUNGNYA SURGA
Al-Qurthubi رحمه الله menjelaskan:
الْعَدْنُ الْإِقَامَةُ، يُقَالُ عَدَنَ بِالْمَكَانِ إِذَا أَقَامَ بِهِ
Artinya:
“‘Adn berarti menetap. Dikatakan ‘adana bil-makān apabila seseorang tinggal dan menetap di suatu tempat.”
Beliau juga menyebutkan penjelasan bahwa kata tersebut menggambarkan tempat tinggal yang tetap.
Maka ketika kita berdoa:
اللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا جَنَّاتِ عَدْنٍ
Kita sedang memohon:
“Ya Allah, masukkan kami ke tempat tinggal yang kekal.”
U. JANGAN SAMPAI KITA MENJUAL AKHIRAT DEMI DUNIA
Allah berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A'la: 16–17)
Inilah penyakit manusia.
Kita mengetahui akhirat kekal.
Tetapi kita lebih sibuk mengejar sesuatu yang hanya sementara.
Kita rela meninggalkan salat demi pekerjaan.
Rela meninggalkan Al-Qur'an demi hiburan.
Rela mengorbankan keluarga demi harta.
Rela melakukan dosa demi kesenangan beberapa menit.
Padahal Allah berkata:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Akhirat lebih baik dan lebih kekal.”
V. JANGAN TERTIPU DENGAN KENIKMATAN DUNIA
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Artinya:
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim).
Maksudnya bukan bahwa seorang mukmin tidak boleh menikmati dunia.
Tetapi dibandingkan dengan kenikmatan yang Allah siapkan di akhirat, kehidupan dunia bagi orang beriman sangat terbatas.
Maka seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
W. BAGAIMANA CARA MENDAPATKAN SURGA?
Jawabannya telah disebutkan pada ayat sebelumnya:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.”
Jadi jalan menuju surga adalah:
1. Iman
Beriman kepada Allah.
2. Mengikuti Rasulullah ﷺ
Membenarkan dan mengikuti Sunnahnya.
3. Amal saleh
Salat.
Puasa.
Zakat.
Sedekah.
Berbakti kepada orang tua.
Menuntut ilmu.
Menolong manusia.
Menjaga lisan.
Menjaga kehormatan.
4. Istiqamah
Tidak hanya beramal ketika semangat.
Tetapi terus beramal sampai ajal datang.
X. SURGA TIDAK DIDAPATKAN DENGAN ANGAN-ANGAN
Allah berfirman:
لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ
“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu dan bukan pula menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu.”
(QS. An-Nisa': 123)
Jadi jangan hanya berkata:
“Saya ingin masuk surga.”
Tetapi tanyakan:
“Apa yang sudah saya lakukan untuk mendapatkan surga?”
Y. AMAL KECIL MENUJU SURGA
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya:
“Barang siapa mengucapkan ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ seratus kali dalam sehari, dosa-dosanya akan dihapus meskipun sebanyak buih di lautan.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah.
Jalan menuju surga tidak hanya melalui amal-amal besar.
Tetapi melalui:
dzikir, salat, sedekah, sabar, ikhlas, membantu orang, menjaga lisan, dan meninggalkan dosa.
Z. RENUNGAN UNTUK KITA SEMUA
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita bayangkan.
Suatu hari kita sudah tua.
Rambut memutih.
Tenaga melemah.
Anak-anak telah dewasa.
Harta tidak lagi sebanyak dahulu.
Kemudian malaikat maut datang.
Saat itu apa yang kita inginkan?
Bukan rumah.
Bukan kendaraan.
Bukan jabatan.
Bukan popularitas.
Kita akan berharap:
“Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam surga.”
Karena itu:
jangan tunggu tua untuk mulai beramal.
Jangan tunggu sakit untuk mendekat kepada Allah.
Jangan tunggu kematian mendekat untuk bertobat.
Mulailah sekarang.
AA. PESAN UNTUK PARA ORANG TUA
Ajarkan kepada anak-anak bahwa tujuan hidup bukan hanya:
“Harus pintar.”
Bukan hanya:
“Harus kaya.”
Bukan hanya:
“Harus punya pekerjaan bagus.”
Tetapi:
“Harus menjadi hamba Allah yang baik.”
Karena pada akhirnya:
yang kita cari bukan hanya kesuksesan dunia, tetapi keselamatan akhirat.
Ajarkan kepada anak:
“Nak, belajar yang rajin.”
Tetapi tambahkan:
“Belajar untuk mencari ridha Allah.”
Ajarkan:
“Jadilah orang sukses.”
Tetapi jelaskan:
“Kesuksesan terbesar adalah masuk surga.”
AB. PESAN UNTUK PARA GURU
Bagi seorang guru, ayat ini juga merupakan motivasi.
Mungkin kita tidak melihat hasil pendidikan kita hari ini.
Tetapi bisa jadi:
seorang murid yang kita ajarkan Al-Qur'an,
seorang murid yang kita nasihati agar salat,
seorang murid yang kita ajarkan kejujuran,
seorang murid yang kita ajarkan adab,
kelak menjadi orang saleh yang amalnya terus mengalir.
Maka jangan pernah menganggap kecil profesi mendidik.
Setiap huruf yang diajarkan dengan ikhlas bisa menjadi investasi akhirat.
AC. TIGA HAL YANG HARUS KITA BAWA PULANG
Pertama:
Surga itu nyata.
Bukan dongeng.
Bukan simbol.
Bukan khayalan.
Surga adalah ciptaan Allah yang benar-benar ada.
Kedua:
Kenikmatan surga jauh melampaui kemampuan manusia membayangkannya.
مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ
“Yang belum pernah dilihat mata.”
Ketiga:
Jalan menuju surga adalah iman dan amal saleh.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Maka jangan hanya mengagumi gambaran surga.
Beramallah untuk mendapatkannya.
AD. PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Kahf ayat 31 memberikan kepada kita gambaran yang sangat indah tentang akhir perjalanan orang-orang yang beriman.
Allah menjanjikan:
جَنَّاتُ عَدْنٍ
Surga yang menjadi tempat tinggal.
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ
Sungai-sungai yang mengalir.
أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ
Perhiasan emas.
ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ
Pakaian sutra yang indah.
مُتَّكِئِينَ عَلَى الْأَرَائِكِ
Istirahat dengan sempurna.
Kemudian Allah berkata:
نِعْمَ الثَّوَابُ
“Sebaik-baik pahala.”
Dan:
وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا
“Seindah-indah tempat istirahat.”
Maka jangan biarkan kehidupan dunia membuat kita lupa kepada kampung halaman yang sebenarnya.
Kita sedang berjalan menuju akhirat.
Pertanyaannya bukan:
“Apakah kita akan sampai ke akhirat?”
Pasti.
Pertanyaannya adalah:
“Di mana kita akan tinggal ketika sampai di sana?”
Apakah di tempat yang Allah sebut:
سَاءَتْ مُرْتَفَقًا
atau:
حَسُنَتْ مُرْتَفَقًا
Sejelek-jelek tempat istirahat,
atau
seindah-indah tempat istirahat.
Maka mari kita berdoa:
Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami.
Ya Allah, jadikan akhirat sebagai tujuan hidup kami.
Ya Allah, masukkan kami ke dalam Jannatul 'Adn.
Ya Allah, kumpulkan kami bersama Rasulullah ﷺ, para nabi, para sahabat, orang-orang saleh dan orang-orang yang Engkau cintai.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَسْتَعِيذُ بِكَ مِنَ النَّارِ.
اللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا جَنَّاتِ عَدْنٍ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِهَا.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا إِيمَانًا صَادِقًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ.
اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا الْجَنَّةَ بِذُنُوبِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا تَقْصِيرَنَا وَذُنُوبَنَا.
اللَّهُمَّ اجْمَعْنَا مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ.
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
FOOTNOTE / CATATAN RUJUKAN
[^1]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 31. Ath-Thabari menjelaskan جنات عدن sebagai taman-taman tempat menetap di akhirat.
[^2]: Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, Tafsir QS. Al-Kahf: 31. As-Sa'di menjelaskan bahwa bersandar di atas al-arā’ik menunjukkan kesempurnaan kenyamanan, hilangnya kelelahan, serta kekalnya kenikmatan surga.
[^3]: Isma'il bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Tafsir QS. Al-Kahf: 31. Ibn Katsir menjelaskan bahwa 'Adn berarti menetap dan bahwa sungai-sungai mengalir di bawah kamar dan tempat tinggal penghuni surga; beliau juga menjelaskan makna sundus dan istabraq.
[^4]: Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 31. Al-Qurthubi menjelaskan makna 'Adn sebagai tempat tinggal/menetap dan menerangkan keluasan serta keagungan Jannat 'Adn.
[^5]: Abu Hurairah رضي الله عنه, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb ath-Thahārah, no. 250: تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ — “Perhiasan seorang mukmin mencapai bagian yang dicapai wudu.”
[^6]: Abu Hurairah رضي الله عنه, hadis qudsi, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 3244 dan Ṣaḥīḥ Muslim no. 2824: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ... — Allah menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, atau terlintas dalam hati manusia.
[^7]: Hadis tentang umat Nabi ﷺ datang pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjalin sebagai bekas wudu diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Riwayat Muslim juga memuat lafaz tentang perhiasan yang mencapai bagian yang dicapai wudu.
REFERENSI UTAMA
- Al-Qur'an al-Karim.
- Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān.
- Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.
- Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān.
- As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān.
- Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
- Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim.
Post a Comment