ADAB MURID: BELAJAR, BERSABAR, DAN TIDAK TERGESA-GESA MENILAI

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 70

“ADAB MURID: BELAJAR, BERSABAR, DAN TIDAK TERGESA-GESA MENILAI”

Muqaddimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini marilah kita merenungkan salah satu ayat yang sangat dalam maknanya tentang adab mencari ilmu, kesabaran dalam belajar, dan kemampuan untuk tidak tergesa-gesa memberikan penilaian terhadap sesuatu yang belum kita pahami secara utuh.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

QS. Al-Kahf: 70

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰٓى اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

Artinya:

“Dia berkata, ‘Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.’”

Ayat ini adalah jawaban Khidr setelah Nabi Musa عليه السلام menyatakan kesungguhannya untuk belajar.

Perhatikan urutannya.

Musa berkata:

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا

“Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”

Khidr kemudian memberikan sebuah kesepakatan belajar:

فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

“Jika engkau mengikutiku, jangan bertanya tentang sesuatu sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di sinilah kita belajar bahwa menuntut ilmu bukan hanya persoalan kecerdasan.

Ada ilmu.

Ada adab.

Ada kesabaran.

Ada kepercayaan kepada proses.

Dan ada kemampuan untuk mengatakan:

“Saya belum tahu.”


1. “فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي” — BELAJAR ITU ADA PROSESNYA

Khidr tidak mengatakan:

فَاتَّبِعْنِي
“Langsung ikuti aku.”

Tetapi:

فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي

“Jika engkau mengikutiku…”

Artinya, ada sebuah kesepakatan dan kesiapan sebelum proses belajar dilanjutkan.

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang aturan dalam perjalanan Musa bersama Khidr.

Imam Al-Baghawi menjelaskan:

فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَإِنْ صَحِبْتَنِي، وَلَمْ يَقُلْ: اتَّبِعْنِي، وَلَكِنْ جَعَلَ الِاخْتِيَارَ إِلَيْهِ، إِلَّا أَنَّهُ شَرَطَ عَلَيْهِ شَرْطًا، فَقَالَ: فَلَا تَسْأَلْنِي.

Artinya:

“Maksudnya adalah: jika engkau menemaniku. Ia tidak mengatakan ‘ikutilah aku’, tetapi menyerahkan pilihan kepadanya, hanya saja ia memberikan sebuah syarat kepadanya, yaitu: ‘Jangan bertanya kepadaku.’”[^1]

Ini memberikan pelajaran penting.

Hubungan guru dan murid membutuhkan kesepakatan adab.

Murid membutuhkan kesiapan untuk belajar.

Guru membutuhkan ruang untuk menjelaskan.

Murid membutuhkan kesempatan untuk memahami.

Dan ilmu membutuhkan waktu untuk meresap.


2. “فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ” — BUKAN BERARTI “MURID DILARANG BERTANYA”

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ini bagian yang harus kita pahami dengan sangat hati-hati.

Jangan sampai ayat:

فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ

dipahami sebagai:

“Murid tidak boleh bertanya kepada guru.”

Bukan demikian.

Karena Al-Qur'an justru memerintahkan orang yang tidak mengetahui untuk bertanya kepada orang yang memiliki ilmu.

Allah berfirman:

QS. An-Nahl: 43

فَاسْـَٔلُوٓا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa “أَهْلَ الذِّكْرِ” ditafsirkan dengan beberapa makna, di antaranya orang-orang yang memiliki ilmu:

وَقِيلَ: الْمَعْنَى فَاسْأَلُوا أَهْلَ الْعِلْمِ، وَالْمَعْنَى مُتَقَارِبٌ.

Artinya:

“Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah: bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki ilmu. Maknanya saling berdekatan.”[^2]

Maka Islam bukan agama yang mematikan pertanyaan.

Islam justru mengajarkan:

bertanya ketika tidak tahu.

Tetapi...

bertanya juga harus memiliki adab.

Dan QS. Al-Kahf ayat 70 mengajarkan salah satu adab tersebut:

Tidak semua pertanyaan harus dilontarkan pada saat itu juga.


3. ADA WAKTUNYA BERTANYA, ADA WAKTUNYA MENDENGARKAN

Perhatikan perkataan Khidr:

حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

“sampai aku menerangkannya kepadamu.”

Jadi masalahnya bukan:

“Jangan pernah bertanya.”

Tetapi:

“Jangan mendahului penjelasan sebelum waktunya.”

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

(فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ) أَيْ: ابْتِدَاءً، (حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا) أَيْ: حَتَّى أَبْدَأَكَ أَنَا بِهِ قَبْلَ أَنْ تَسْأَلَنِي.

Artinya:

“Maksudnya: jangan engkau memulai dengan bertanya tentang sesuatu, sampai aku sendiri yang memulainya dengan menjelaskannya kepadamu sebelum engkau bertanya kepadaku.”[^3]

Imam Ath-Thabari juga menjelaskan:

حَتَّى أُحْدِثَ أَنَا لَكَ مِمَّا تَرَى مِنَ الْأَفْعَالِ الَّتِي أَفْعَلُهَا، فَتَسْتَنْكِرُهَا، أَذْكُرُهَا لَكَ وَأُبَيِّنُ لَكَ شَأْنَهَا.

Artinya:

“Sampai aku sendiri menjelaskan kepadamu apa yang engkau lihat dari perbuatan-perbuatan yang aku lakukan dan engkau anggap tidak benar; aku akan menyebutkannya kepadamu dan menjelaskan keadaannya.”[^4]

Jadi ada timing dalam ilmu.

Ada saatnya bertanya.

Ada saatnya mendengar.

Ada saatnya mengamati.

Ada saatnya menunggu penjelasan.


4. JANGAN CEPAT MENILAI SESUATU YANG BELUM KITA PAHAMI

Jamaah yang dirahmati Allah,

Inilah salah satu pelajaran terbesar dari kisah Musa dan Khidr.

Musa melihat sesuatu dari sisi yang tampak.

Khidr mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Musa dalam perkara yang Allah ajarkan kepadanya.

Nabi Musa melihat peristiwa.

Khidr mengetahui penjelasan di balik peristiwa tersebut.

Karena itu Khidr berkata sebelumnya:

QS. Al-Kahf: 68

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا

Artinya:

“Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Maka ayat 70 adalah kelanjutan dari pendidikan itu.

Khidr seakan berkata:

“Jangan langsung menilai apa yang belum engkau ketahui keseluruhannya. Beri kesempatan sampai penjelasan datang.”


5. ISLAM MELARANG KITA BERBICARA TANPA ILMU

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

QS. Al-Isra': 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Artinya:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Imam Ath-Thabari menjelaskan makna ayat ini dengan perkataan:

لَا تَقُلْ رَأَيْتَ وَلَمْ تَرَ، وَسَمِعْتَ وَلَمْ تَسْمَعْ، وَعَلِمْتَ وَلَمْ تَعْلَمْ.

Artinya:

“Janganlah engkau mengatakan, ‘Aku melihat’, padahal engkau tidak melihat; ‘Aku mendengar’, padahal engkau tidak mendengar; ‘Aku mengetahui’, padahal engkau tidak mengetahui.”[^5]

Ini sangat relevan dengan kehidupan kita.

Berapa banyak masalah muncul karena:

baru melihat sedikit, sudah menyimpulkan banyak.

Baru mendengar satu kalimat,

sudah membuat kesimpulan.

Baru membaca satu pesan,

sudah marah.

Baru melihat satu kejadian,

sudah memberikan vonis.

Padahal boleh jadi kita belum mengetahui keseluruhan ceritanya.


6. TABAYYUN ADALAH BAGIAN DARI ADAB ILMU

Allah berfirman:

QS. Al-Hujurat: 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Imam As-Sa'di menjelaskan:

فَالْوَاجِبُ عِنْدَ خَبَرِ الْفَاسِقِ التَّثَبُّتُ وَالتَّبَيُّنُ، فَإِنْ دَلَّتِ الدَّلَائِلُ وَالْقَرَائِنُ عَلَى صِدْقِهِ عُمِلَ بِهِ وَصُدِّقَ.

Artinya:

“Ketika menerima berita dari orang fasik, kewajibannya adalah melakukan verifikasi dan memastikan kebenarannya. Jika bukti-bukti dan tanda-tanda menunjukkan kebenarannya, maka berita itu dapat diterima dan dibenarkan.”[^6]

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ayat ini sangat penting di zaman media sosial.

Kadang kita melihat:

“Katanya...”

“Saya dengar...”

“Ada yang bilang...”

Lalu langsung kita sebarkan.

Padahal Allah bertanya:

Apakah kamu benar-benar tahu?

Maka salah satu adab orang berilmu adalah:

Tidak tergesa-gesa berbicara sebelum memahami.


7. NABI ﷺ JUGA MENGAJARKAN AGAR TIDAK BERLEBIHAN DALAM BERTANYA

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.

Artinya:

“Apa yang aku larang bagi kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.”

(HR. Muslim, no. 1337)[^7]

Perhatikan.

Hadis ini bukan larangan terhadap pertanyaan ilmiah.

Yang dicela adalah pertanyaan yang berlebihan, tidak diperlukan, atau menjadi sebab seseorang memperdebatkan dan menolak tuntunan yang telah jelas.

Maka ada perbedaan antara:

bertanya untuk memahami

dan

bertanya untuk mencari-cari celah.

Ada perbedaan antara:

bertanya karena ingin belajar

dan

bertanya karena ingin membantah.

Ada perbedaan antara:

“Ustadz, mohon jelaskan agar saya memahami.”

dengan:

“Ustadz, saya bertanya supaya saya bisa membantah.”

Niatnya berbeda.


8. KISAH MUSA DAN KHIDR MENUNJUKKAN BETAPA LUASNYA ILMU ALLAH

Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan kisah Musa dan Khidr.

Nabi ﷺ bersabda:

قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ، أَيُّ عِبَادِكَ أَعْلَمُ؟ قَالَ: الَّذِي يَبْتَغِي عِلْمَ النَّاسِ إِلَى عِلْمِهِ، عَسَى أَنْ يُصِيبَ كَلِمَةً تَهْدِيهِ إِلَى هُدًى أَوْ تَرُدُّهُ عَنْ رَدًى.

Dan dalam riwayat kisah pertemuan Musa dengan Khidr disebutkan:

قَالَ لَهُ مُوسَى: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَصْحَبَنِي. قَالَ: إِنَّكَ لَنْ تَطِيقَ صُحْبَتِي. قَالَ: بَلَى. قَالَ: فَإِنْ صَحِبْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا.

Artinya:

“Musa berkata kepadanya, ‘Aku ingin engkau mengizinkanku menemanimu.’ Khidr berkata, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar dalam menemaniku.’ Musa menjawab, ‘Insya Allah aku sanggup.’ Khidr berkata, ‘Jika engkau menemaniku, jangan bertanya kepadaku tentang sesuatu sampai aku sendiri menjelaskannya kepadamu.’”

(HR. Muslim; kisah lengkap juga diriwayatkan Al-Bukhari)[^8]

Jamaah,

Lihatlah Nabi Musa!

Beliau seorang nabi.

Beliau memiliki ilmu.

Beliau menerima wahyu.

Namun ketika Allah menunjukkan bahwa ada seorang hamba yang memiliki pengetahuan yang tidak beliau miliki, Musa bersedia melakukan perjalanan untuk belajar.

Ini luar biasa.


9. ORANG BESAR TIDAK MALU BELAJAR

Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa Allah menunjukkan kepada Musa bahwa ada hamba Allah yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki Musa.

Dalam hadis sahih disebutkan:

فَقَالَ اللَّهُ لَهُ: بَلَى، عَبْدُنَا خَضِرٌ، هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ.

Dalam riwayat yang semakna, Allah menunjukkan kepada Musa adanya seorang hamba yang diberi ilmu yang tidak dimilikinya.

Maknanya:

“Allah menunjukkan kepada Musa bahwa ada hamba-Nya, yaitu Khidr, yang memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki Musa.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam kisah Musa dan Khidr)[^9]

Pelajarannya bukan bahwa Musa tidak berilmu.

Bukan.

Tetapi:

Orang berilmu pun tetap memiliki batas ilmu.

Allah berfirman:

QS. Yusuf: 76

وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ

Artinya:

“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.”

Maka jangan pernah merasa:

“Saya sudah tahu semuanya.”

Sebab semakin luas ilmu seseorang, semakin ia menyadari luasnya sesuatu yang belum ia ketahui.


10. IMAM AL-QURTHUBI: MURID ADALAH PENGIKUT GURU DALAM PROSES BELAJAR

Ketika menjelaskan ayat sebelumnya, Imam Al-Qurthubi memberikan pelajaran yang sangat penting:

فِي الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُتَعَلِّمَ تَبَعٌ لِلْعَالِمِ وَإِنْ تَفَاوَتَتِ الْمَرَاتِبُ.

Artinya:

“Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa orang yang belajar mengikuti orang yang berilmu, meskipun tingkatan mereka berbeda.”[^10]

Namun Al-Qurthubi juga memberikan catatan penting: seseorang yang belajar dari orang lain tidak otomatis berarti seluruh keutamaan orang tersebut berada di atas dirinya.

Ini sangat penting.

Sebab belajar kepada seseorang bukan berarti:

“Saya harus menganggap guru saya selalu benar dalam segala sesuatu.”

Tidak demikian.

Yang dimaksud adalah:

Dalam bidang yang sedang dipelajari, murid memberikan ruang kepada guru untuk mengajarkan ilmunya.

Inilah adab.


11. GURU JUGA HARUS MENDIDIK, BUKAN SEKADAR MEMERINTAH

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ayat ini bukan hanya mendidik murid.

Ayat ini juga memberikan pelajaran kepada guru.

Perhatikan akhir ayat:

حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

“sampai aku menerangkannya kepadamu.”

Khidr tidak mengatakan:

“Jangan bertanya dan kamu tidak akan pernah mendapatkan penjelasan.”

Tidak.

Dia mengatakan:

“Aku akan menjelaskannya kepadamu.”

Ini berarti guru memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan ilmu pada waktu yang tepat.

Maka guru jangan senang jika murid hanya diam karena takut.

Guru harus membangun suasana:

“Silakan bertanya.”

Tetapi sekaligus mengajarkan:

“Dengarkan dahulu.”

“Pahami dahulu.”

“Jangan buru-buru menyimpulkan.”

“Setelah itu silakan bertanya.”


12. ADA PERTANYAAN YANG LAHIR DARI KEBODOHAN, ADA YANG LAHIR DARI KESOMBONGAN

Jamaah,

Tidak semua pertanyaan sama.

Ada orang bertanya:

“Saya belum paham. Mohon dijelaskan.”

Ini pertanyaan yang baik.

Ada orang bertanya:

“Saya ingin tahu agar bisa mengamalkannya.”

Ini pertanyaan yang baik.

Tetapi ada juga orang yang bertanya:

“Saya sudah tahu jawabannya, saya hanya ingin melihat apakah Anda bisa menjawab.”

Ini bukan semangat mencari ilmu.

Ini bisa menjadi pintu kesombongan.

Karena itu, seorang penuntut ilmu harus sering bertanya kepada dirinya:

“Mengapa saya bertanya?”

Apakah karena ingin mengetahui?

Atau karena ingin terlihat mengetahui?

Apakah karena ingin mendapatkan petunjuk?

Atau karena ingin memenangkan perdebatan?


13. JANGAN MENGGUNAKAN AYAT INI UNTUK MEMATIKAN DAYA KRITIS

Ini juga harus kita tegaskan.

Kisah Musa dan Khidr tidak boleh digunakan untuk membenarkan sikap menerima segala sesuatu secara buta.

Mengapa?

Karena Musa dan Khidr berada dalam kisah yang khusus.

Khidr melakukan tindakan-tindakan yang kemudian dijelaskan berdasarkan pengetahuan yang Allah berikan kepadanya dalam kisah tersebut.

Kita tidak boleh berkata:

“Saya punya ilmu tersembunyi, jadi jangan bertanya.”

Tidak boleh.

Kita tidak boleh menggunakan kisah ini untuk membenarkan tindakan yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Allah justru memerintahkan:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”

Dan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Jangan mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.”

Maka keseimbangannya adalah:

Jangan bodoh karena tidak mau bertanya.

Tetapi juga:

Jangan sombong karena tidak mau mendengar.


14. PELAJARAN UNTUK GURU DAN MURID

Pertama: Untuk para murid

Kalau ingin mendapatkan ilmu:

datanglah dengan hati yang rendah.

Jangan datang kepada guru dengan perasaan:

“Saya sudah tahu.”

Datanglah dengan:

“Saya ingin belajar.”

Nabi Musa saja berkata:

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?”

Maka seorang siswa tidak perlu malu mengatakan:

“Saya belum paham.”

Karena mengatakan “saya belum paham” jauh lebih mulia daripada berpura-pura paham.


Kedua: Untuk para guru

Jadilah guru yang membuat murid mencintai ilmu.

Jangan menjadikan pertanyaan sebagai kesalahan.

Ajarkan mereka kapan bertanya.

Ajarkan bagaimana bertanya.

Ajarkan bagaimana mendengar.

Dan setelah itu berikan penjelasan.

Sebab akhir ayat berbunyi:

حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

“Aku akan menerangkannya kepadamu.”


Ketiga: Untuk orang tua

Anak-anak sering bertanya.

Kadang pertanyaannya sederhana.

Kadang pertanyaannya berulang.

Jangan langsung mengatakan:

“Diam!”

“Jangan banyak tanya!”

“Sudah, pokoknya begitu!”

Ajarkan mereka bahwa pertanyaan itu bagian dari belajar.

Tetapi juga ajarkan:

“Dengarkan penjelasan sampai selesai.”


Keempat: Untuk kehidupan sehari-hari

Jangan cepat menilai orang.

Jangan cepat menilai guru.

Jangan cepat menilai pasangan.

Jangan cepat menilai anak.

Jangan cepat menilai teman.

Karena boleh jadi kita hanya melihat satu potongan kejadian.

Sedangkan Allah mengetahui seluruh rangkaian kehidupan.


15. “TUNGGU PENJELASAN” BUKAN “MATIKAN AKAL”

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada perbedaan antara:

الصَّبْرُ عَلَى التَّعَلُّمِ

bersabar dalam belajar,

dengan:

التَّقْلِيدُ الْأَعْمَى

mengikuti secara buta.

Islam mengajarkan keduanya harus ditempatkan secara benar.

Jika kita belum tahu, kita bertanya.

Jika guru sedang menjelaskan, kita mendengar.

Jika persoalannya belum jelas, kita tidak tergesa-gesa memvonis.

Jika ada informasi yang belum terbukti, kita melakukan tabayyun.

Jika sesuatu sudah jelas dalilnya, kita tunduk kepada kebenaran.

Inilah adab ilmu.


16. RENUNGAN: BERAPA BANYAK MASALAH KITA LAHIR KARENA TERGESA-GESA?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mari kita renungkan.

Berapa banyak pertengkaran yang sebenarnya bisa selesai kalau kita mau mendengar?

Berapa banyak prasangka yang hilang kalau kita mau bertanya dengan baik?

Berapa banyak masalah keluarga yang tidak terjadi kalau kita tidak langsung menyimpulkan?

Berapa banyak konflik di sekolah yang selesai kalau kita mau mencari penjelasan?

Berapa banyak berita palsu yang tidak menyebar kalau kita mau tabayyun?

Maka QS. Al-Kahf ayat 70 mengajarkan kepada kita:

Tidak semua yang kita lihat harus langsung kita simpulkan.

Tidak semua yang kita dengar harus langsung kita sebarkan.

Tidak semua yang belum kita pahami harus langsung kita tolak.

Kadang kita hanya perlu mengatakan:

“Tunggu. Saya belum tahu keseluruhannya.”

Itulah sikap orang yang berilmu.


17. ILMU MEMBUTUHKAN KESABARAN

Nabi ﷺ bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.

Artinya:

“Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”

(HR. Al-Bukhari, no. 1469)

Hadis ini sangat sesuai dengan perjalanan Musa.

Musa sudah berkata:

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا

“Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”

Tetapi ketika ujian benar-benar datang, kesabaran itu diuji.

Maka kita belajar:

Mengatakan “saya sabar” itu mudah.

Yang sulit adalah:

bersabar ketika keadaan tidak sesuai dengan yang kita pahami.


18. PENUTUP: JADILAH ORANG YANG MENCARI ILMU DENGAN ADAB

Jamaah yang dirahmati Allah,

QS. Al-Kahf ayat 70 mengajarkan kepada kita beberapa prinsip besar:

1. Belajar membutuhkan adab.

2. Murid perlu menghormati guru dalam proses pembelajaran.

3. Bertanya adalah bagian dari mencari ilmu, tetapi pertanyaan harus ditempatkan pada waktu dan cara yang tepat.

4. Jangan tergesa-gesa menilai sesuatu yang belum kita pahami.

5. Jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak kita ketahui.

6. Lakukan tabayyun sebelum mengambil kesimpulan.

7. Kesabaran adalah bagian penting dalam perjalanan mencari ilmu.

8. Orang berilmu tetap harus rendah hati.

9. Guru hendaknya menjelaskan ilmu dengan hikmah dan pada waktu yang tepat.

10. Semua ilmu pada hakikatnya kembali kepada Allah.

Allah berfirman:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ

“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.”

Maka jangan pernah berkata:

“Saya sudah tahu semuanya.”

Tetapi biasakan mengatakan:

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”


DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَأَدَبًا حَسَنًا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا أَنْ نَقُولَ الْحَقَّ، وَأَنْ نَسْكُتَ عَمَّا لَا نَعْلَمُ، وَأَنْ نَسْأَلَ أَهْلَ الْعِلْمِ إِذَا جَهِلْنَا، وَأَنْ نَتَثَبَّتَ إِذَا سَمِعْنَا، وَأَنْ نَصْبِرَ إِذَا لَمْ نَفْهَمْ.

رَبَّنَا زِدْنَا عِلْمًا، وَزِدْنَا حِلْمًا، وَزِدْنَا أَدَبًا، وَزِدْنَا تَوَاضُعًا.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي عُلَمَائِنَا وَمُعَلِّمِينَا، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا حُجَّةً لَنَا وَلَا تَجْعَلْهُ حُجَّةً عَلَيْنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


FOOTNOTE / RUJUKAN

[^1]: Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl, Tafsir QS. Al-Kahf: 70.

[^2]: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, Tafsir QS. An-Nahl: 43, tentang makna ahl adz-dzikr.

[^3]: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, Tafsir QS. Al-Kahf: 70.

[^4]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 70.

[^5]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, Tafsir QS. Al-Isra’: 36.

[^6]: As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, Tafsir QS. Al-Hujurat: 6.

[^7]: Muslim bin Al-Hajjaj, Shahīh Muslim, Kitab Al-Fadha'il, no. 1337.

[^8]: Muslim bin Al-Hajjaj, Shahīh Muslim, Kitab Al-Fadha'il, hadis tentang Musa dan Khidr; lihat juga Al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, no. 3401.

[^9]: Al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, Kitab Ahadits Al-Anbiya', hadis no. 3400–3401, kisah Nabi Musa dan Khidr.

[^10]: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 66, pembahasan adab hubungan muta‘allim dan ‘alim.

Tidak ada komentar