BAGAIMANA ENGKAU AKAN SABAR TERHADAP SESUATU YANG BELUM KAU PAHAMI?
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 68
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
“BAGAIMANA ENGKAU AKAN SABAR TERHADAP SESUATU YANG BELUM KAU PAHAMI?”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ...
Jamaah yang dirahmati Allah...
Pada kesempatan ini marilah kita merenungkan satu ayat yang sangat dalam maknanya.
Allah berfirman:
QS. Al-Kahf ayat 68
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا
“Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar terhadap sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”[^1]
Kalimat ini disampaikan Khidir kepada Nabi Musa.
Tetapi sesungguhnya ayat ini juga sedang berbicara kepada kita.
Karena dalam kehidupan ini kita sering berhadapan dengan sesuatu yang:
belum kita pahami,
belum kita ketahui seluruh faktanya,
belum kita mengerti hikmahnya,
tetapi sudah ingin kita nilai.
Kita melihat satu kejadian...
langsung menyimpulkan.
Kita mendengar satu berita...
langsung percaya.
Kita melihat satu kesalahan...
langsung menghakimi.
Kita mendapatkan ujian...
langsung bertanya:
“Ya Allah, mengapa?”
Padahal mungkin Allah sedang mengajarkan kepada kita:
“Engkau belum mengetahui seluruh ceritanya.”
1. “خُبْرًا” — PENGETAHUAN YANG MENEMBUS HAKIKAT
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Perhatikan kata yang digunakan Al-Qur'an:
لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
Bukan sekadar:
“Engkau belum melihatnya.”
Tetapi:
belum menguasai pengetahuan tentang hakikatnya.
Imam As-Sa'di menjelaskan:
أَيْ: كَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى أَمْرٍ مَا أَحَطْتَ بِبَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ، وَلَا عَلِمْتَ الْمَقْصُودَ مِنْهُ وَمَآلَهُ
“Bagaimana engkau akan bersabar terhadap suatu perkara yang belum engkau ketahui sisi batin dan lahiriahnya, dan engkau belum mengetahui maksud serta akibat akhirnya?”[^2]
Ini sangat penting.
Kita sering hanya mengetahui:
zhahirnya.
Sedangkan Allah mengetahui:
zhahir dan batinnya.
Kita mengetahui:
sebab yang terlihat.
Allah mengetahui:
sebab, proses, akibat, dan akhirnya.
Kita melihat:
hari ini.
Allah mengetahui:
hari ini, besok, dan seluruh masa depan.
2. MANUSIA SERING MENGHAKIMI SESUATU DENGAN INFORMASI YANG TERBATAS
Jamaah...
Allah berfirman:
وَمَآ أُوتِيتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra': 85)
Ayat ini adalah tamparan lembut bagi kesombongan manusia.
Kita mempunyai ilmu.
Tetapi ilmu kita sedikit.
Kita mempunyai pengalaman.
Tetapi pengalaman kita terbatas.
Kita mempunyai penglihatan.
Tetapi penglihatan kita hanya menjangkau yang tampak.
Karena itu, semakin seseorang berilmu, seharusnya semakin hati-hati dalam memberikan penilaian.
Bukan semakin mudah menghakimi.
3. KISAH MUSA MENGAJARKAN: JANGAN TERGESA-GESA MENILAI
Khidir berkata kepada Musa:
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
“Bagaimana engkau akan dapat bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau pahami?”
Mengapa Khidir mengatakan demikian?
Ibn Kathir menjelaskan:
فَأَنَا أَعْرِفُ أَنَّكَ سَتُنْكِرُ عَلَيَّ مَا أَنْتَ مُعْذُورٌ فِيهِ، وَلَكِنْ مَا اطَّلَعْتَ عَلَى حِكْمَتِهِ وَمَصْلَحَتِهِ الْبَاطِنَةِ الَّتِي اطَّلَعْتُ أَنَا عَلَيْهَا دُونَكَ
“Aku mengetahui bahwa engkau akan mengingkari apa yang kulakukan, padahal engkau memiliki alasan untuk mengingkarinya. Namun engkau belum mengetahui hikmah dan maslahat batin yang telah aku ketahui, sedangkan engkau belum mengetahuinya.”[^3]
Perhatikan kata-kata ini:
مَا أَنْتَ مُعْذُورٌ فِيهِ
“Engkau memiliki alasan untuk mengingkarinya.”
Artinya, Musa bukan orang yang salah ketika melihat perkara yang secara lahiriah tampak mungkar.
Musa melihat sesuatu dengan ilmu yang Allah berikan kepadanya.
Tetapi Khidir mengetahui sisi lain yang belum diketahui Musa.
4. INILAH BEDANYA “BELUM TAHU” DENGAN “SALAH”
Jamaah...
Ada sesuatu yang sangat penting:
Tidak mengetahui sesuatu tidak selalu berarti kita bodoh.
Kadang kita memang belum diberi informasi.
Tidak mengetahui sesuatu juga tidak otomatis berarti kita salah.
Musa mengetahui sesuatu.
Khidir mengetahui sesuatu yang lain.
Keduanya memiliki ilmu yang Allah berikan.
Ibn Kathir menjelaskan bahwa Khidir memiliki ilmu yang tidak diberikan kepada Musa, sementara Musa juga memiliki ilmu yang tidak dimiliki Khidir.
Maka jangan sombong dengan ilmu.
Karena:
Ilmu yang kita miliki hanyalah sebagian dari ilmu yang Allah berikan kepada manusia.
5. KARENA ITU, JANGAN CEPAT MENGATAKAN “SAYA SUDAH TAHU”
Jamaah...
Ada penyakit yang sangat halus:
“Saya sudah tahu.”
Padahal baru mendengar sebagian.
“Saya tahu orang itu.”
Padahal hanya melihat satu perilakunya.
“Saya tahu masalahnya.”
Padahal baru mendengar satu pihak.
“Saya tahu mengapa Allah memberikan ujian ini.”
Padahal kita tidak mengetahui seluruh hikmahnya.
Maka orang beriman belajar mengatakan:
اللَّهُ أَعْلَمُ
“Allah lebih mengetahui.”
Kalimat ini bukan tanda kelemahan.
Justru ini tanda tawadhu ilmiah.
6. AL-QUR'AN MENGAJARKAN KITA UNTUK TABAYYUN
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Perhatikan:
فَتَبَيَّنُوا
“Telitilah.”
Jangan langsung percaya.
Jangan langsung menyebarkan.
Jangan langsung menghukum.
Jangan langsung memutuskan hubungan.
Periksa dahulu.
7. SABAR DALAM AYAT INI ADALAH SABAR MENAHAN REAKSI
Jamaah yang dirahmati Allah...
Sabar tidak selalu berarti duduk diam.
Ada bentuk sabar yang sangat penting:
menahan reaksi sampai informasi cukup.
Kita marah?
Tahan.
Kita kecewa?
Tahan.
Kita ingin membalas?
Tahan.
Kita ingin menulis status?
Tahan.
Kita ingin mengirim pesan?
Tahan.
Kita ingin menyebarkan berita?
Tahan.
Kemudian tanyakan:
“Apakah saya sudah mengetahui seluruh faktanya?”
Kalau belum:
صَبْرًا
Sabar dahulu.
8. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN KEKUATAN SEJATI ADALAH MENGENDALIKAN DIRI
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”[^4]
Hadis ini sangat dekat dengan ayat kita.
Mengapa?
Karena sering kali masalah bukan pada apa yang kita lihat.
Masalahnya adalah bagaimana kita bereaksi terhadap apa yang kita lihat.
Kita melihat sesuatu yang tidak kita sukai.
Kemudian emosi mengambil alih.
Padahal kita belum mengetahui semuanya.
Maka Rasulullah ﷺ mengajarkan:
يَمْلِكُ نَفْسَهُ
“Dia mampu menguasai dirinya.”
Itulah kekuatan.
9. SABAR ITU BISA DILATIH
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”[^5]
Jadi jangan berkata:
“Saya memang orangnya pemarah.”
Seolah-olah tidak bisa berubah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ
“Barang siapa berusaha untuk bersabar...”
Artinya ada proses.
Sabar dilatih.
Sedikit demi sedikit.
Hari ini mampu menahan satu kali.
Besok dua kali.
Lama-lama menjadi karakter.
10. SABAR BUKAN BERARTI MEMBIARKAN KEMUNGKARAN
Jamaah...
Ini bagian yang sangat penting.
Jangan salah memahami ayat ini.
Apakah ayat ini berarti:
“Kalau kita belum mengetahui hikmah suatu perkara, kita harus diam terhadap segala sesuatu?”
Tidak.
Al-Qurthubi menjelaskan:
وَالْأَنْبِيَاءُ لَا يُقِرُّونَ عَلَى مُنْكَرٍ، وَلَا يَجُوزُ لَهُمُ التَّقْرِيرُ
“Para nabi tidak membiarkan kemungkaran, dan tidak diperbolehkan bagi mereka untuk menyetujui atau membiarkannya.”[^6]
Ini menjelaskan mengapa Musa bereaksi.
Musa melihat tindakan Khidir secara lahiriah.
Dengan ilmu syariat yang dia miliki, tindakan tersebut tampak harus diingkari.
Maka Musa bertanya.
Jadi ada keseimbangan:
Jika belum mengetahui fakta → tabayyun.
Jika belum memahami hikmah takdir → bersabar.
Jika jelas sebuah kemungkaran → tidak boleh menjadikannya benar hanya dengan alasan “mungkin ada hikmahnya”.
11. KISAH KHIDIR BUKAN PEMBENARAN UNTUK MENINGGALKAN SYARIAT
Ini perlu ditekankan.
Perbuatan Khidir dalam kisah ini memiliki penjelasan khusus dari Allah.
Allah kemudian membuka rahasianya.
Tentang kapal:
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
“Adapun kapal itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap kapal.”
(QS. Al-Kahf: 79)
Tentang anak:
وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا
“Dan adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang mukmin, dan kami khawatir dia akan mendorong kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.”
(QS. Al-Kahf: 80)
Tentang tembok:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا
“Dan adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua.”
(QS. Al-Kahf: 82)
Jadi akhirnya Allah menjelaskan:
وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي
“Dan aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”
(QS. Al-Kahf: 82)
Ini sangat penting.
Khidir bukan bertindak berdasarkan hawa nafsunya.
Dan kita tidak boleh menggunakan kisah ini untuk membenarkan tindakan yang bertentangan dengan syariat.
12. KADANG KITA TIDAK TAHU “MENGAPA”, TETAPI KITA TAHU “SIAPA”
Jamaah...
Ini salah satu pelajaran paling indah dari kisah Musa dan Khidir.
Dalam kehidupan, kita sering bertanya:
“Mengapa Allah melakukan ini?”
Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Siapa yang mengatur ini?”
Jawabannya:
الله
Allah.
Allah Maha Mengetahui.
Allah Maha Bijaksana.
Allah Maha Adil.
Allah Maha Mengetahui apa yang kita tidak ketahui.
Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini bukan mengajarkan kita untuk berhenti berpikir.
Justru ayat ini mengajarkan:
Gunakan akal, cari ilmu, tetapi jangan sombong sampai menganggap pengetahuan kita sempurna.
13. KETIKA DOA BELUM DIKABULKAN
Jamaah...
Ada orang berdoa:
“Ya Allah, berikan saya pekerjaan.”
Belum dapat.
Kemudian kecewa.
Ada yang berdoa:
“Ya Allah, sembuhkan saya.”
Kesembuhan belum datang seperti yang ia harapkan.
Ada yang berdoa:
“Ya Allah, perbaiki keluarga saya.”
Masalah masih ada.
Kemudian ia bertanya:
“Mengapa Allah tidak menjawab?”
Kita perlu belajar dari ayat:
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
“Bagaimana engkau akan bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau pahami?”
Mungkin kita tidak mengetahui:
apa yang sedang Allah cegah,
apa yang sedang Allah persiapkan,
apa yang sedang Allah lindungi,
dan
apa yang sedang Allah ajarkan.
Maka tugas kita bukan menguasai seluruh rahasia takdir.
Tugas kita adalah:
beriman,
berikhtiar,
berdoa,
dan bersabar.
14. JANGAN MENILAI TAKDIR ALLAH DARI SATU MOMEN
Jamaah...
Kalau sebuah film baru berjalan lima menit, kita belum bisa menilai seluruh ceritanya.
Kalau sebuah buku baru dibaca satu halaman, kita belum tahu akhirnya.
Begitu pula hidup.
Kita berada di tengah perjalanan.
Kita tidak mengetahui akhir dari setiap peristiwa.
Maka jangan katakan:
“Ini pasti buruk.”
Bisa jadi kita belum mengetahui akhirnya.
Jangan pula berkata:
“Ini pasti baik.”
Karena kita juga belum mengetahui seluruh akibatnya.
Yang benar:
Kita menilai berdasarkan ilmu yang ada, kemudian menyerahkan perkara yang tidak kita ketahui kepada Allah.
15. SABAR DALAM MENUNTUT ILMU
Ayat ini juga sangat penting bagi para pelajar.
Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran.
Kadang materi sulit.
Kadang hafalan sulit.
Kadang guru menjelaskan berkali-kali tetapi belum paham.
Kadang membaca buku terasa membosankan.
Jangan berhenti.
Allah berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
(QS. Thaha: 114)
Lihatlah!
Allah mengajarkan Nabi ﷺ untuk terus meminta tambahan ilmu.
Artinya:
orang beriman tidak pernah selesai belajar.
16. SABAR DALAM MENDIDIK ANAK
Para ayah dan ibu...
Ayat ini juga sangat relevan dengan pendidikan.
Anak tidak berubah dalam satu malam.
Hari ini dinasihati.
Besok mengulangi kesalahan.
Jangan langsung berkata:
“Kamu memang tidak bisa berubah!”
Jangan.
Pendidikan membutuhkan kesabaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.”[^7]
Anak membutuhkan:
aturan,
ketegasan,
tetapi juga:
kesabaran dan kasih sayang.
17. SABAR DALAM MENGHADAPI ORANG LAIN
Jamaah...
Ada orang yang mungkin hari ini membuat kita kecewa.
Jangan buru-buru memberikan label:
“Dia memang jahat.”
Mungkin kita belum mengetahui seluruh ceritanya.
Tetapi bukan berarti kita harus membenarkan kesalahannya.
Kita bisa mengatakan:
“Perbuatannya salah.”
Tanpa harus mengatakan:
“Seluruh dirinya tidak berguna.”
Ini perbedaan penting antara:
menilai sebuah perbuatan
dan
menghakimi seluruh pribadi seseorang.
18. BELAJAR MENGUCAPKAN “ALLAHU A'LAM”
Salah satu adab orang berilmu adalah mampu berkata:
اللَّهُ أَعْلَمُ
“Allah lebih mengetahui.”
Bahkan para ulama besar tidak malu mengatakan:
“Saya tidak tahu.”
Karena mereka memahami keterbatasan manusia.
Imam Asy-Sya'bi رحمه الله pernah ditanya tentang suatu perkara, lalu beliau menjawab:
لَا أَدْرِي
“Saya tidak tahu.”
Lalu beliau menjelaskan bahwa mengakui ketidaktahuan merupakan bagian dari ilmu.
Maka jangan takut mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Justru orang yang mampu mengatakan “saya belum tahu” sedang membuka pintu untuk belajar.
19. TIGA TINGKAT SIKAP KETIKA MENGHADAPI SESUATU YANG BELUM KITA PAHAMI
TINGKAT PERTAMA — JANGAN TERGESA-GESA
Jangan langsung bereaksi.
TINGKAT KEDUA — CARI INFORMASI
Tanyakan.
Pelajari.
Tabayyun.
TINGKAT KETIGA — SERAHKAN YANG DI LUAR JANGKAUAN KITA KEPADA ALLAH
Setelah ikhtiar ilmu dilakukan, ada perkara yang tetap berada di luar pengetahuan kita.
Di sinilah iman bekerja.
20. RENUNGAN UNTUK KITA SEMUA
Jamaah...
Mungkin ada di antara kita yang sedang menghadapi sesuatu yang belum kita mengerti.
Ada yang sedang kecewa.
Ada yang sedang menunggu.
Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga.
Ada yang sedang menunggu perubahan anak.
Ada yang sedang menunggu rezeki.
Ada yang sedang menunggu kesembuhan.
Ada yang sedang bertanya:
“Kapan Allah mengubah keadaan saya?”
Maka malam ini, mungkin Allah sedang mengingatkan:
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
“Bagaimana engkau akan bersabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui hakikatnya?”
Jangan buru-buru menyimpulkan.
Jangan buru-buru berputus asa.
Jangan buru-buru berburuk sangka kepada Allah.
PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah...
Dari QS. Al-Kahf ayat 68 kita belajar:
1.
Manusia memiliki ilmu yang terbatas.
2.
Tidak semua yang kita lihat menunjukkan seluruh hakikat.
3.
Sabar diperlukan ketika kita belum memahami hikmah sebuah perkara.
4.
Tabayyun diperlukan sebelum menilai berita dan tindakan manusia.
5.
Mengendalikan emosi adalah bagian dari kekuatan.
6.
Sabar bukan berarti membenarkan kemungkaran.
7.
Kisah Khidir adalah kisah khusus yang tidak boleh digunakan untuk membatalkan syariat.
8.
Dalam menghadapi takdir, kita boleh mencari hikmah, tetapi tidak boleh merasa mengetahui seluruh hikmah Allah.
9.
Dalam menuntut ilmu, kita membutuhkan kesabaran.
10.
Kalimat “Allah lebih mengetahui” adalah tanda kerendahan hati seorang mukmin.
[Diam sejenak]
Jamaah...
Ada saatnya kita harus berkata:
“Saya belum mengerti.”
Ada saatnya kita berkata:
“Saya perlu bertanya.”
Ada saatnya kita berkata:
“Saya harus mencari tahu.”
Dan ada saatnya kita berkata:
“Saya sudah berusaha memahami, tetapi perkara ini berada di luar kemampuan saya. Maka saya bertawakal kepada Allah.”
Itulah kedewasaan iman.
Karena kita tidak harus mengetahui seluruh rahasia kehidupan untuk tetap percaya kepada Allah.
Kita hanya perlu yakin:
Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang sabar.
Semoga Allah menjauhkan kita dari sikap tergesa-gesa.
Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu sebelum berbicara.
Semoga Allah memberikan kepada kita hikmah sebelum menilai.
Dan semoga Allah memberikan kepada kita hati yang tenang ketika menghadapi sesuatu yang belum kita pahami.
DOA
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ وَالْحِلْمَ وَالْحِكْمَةَ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قِلَّةَ عِلْمِنَا سَبَبًا لِلتَّسَرُّعِ فِي الْحُكْمِ عَلَى عِبَادِكَ.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا أَنْ نَقُولَ الْحَقَّ بِعِلْمٍ، وَأَنْ نَسْكُتَ عَمَّا لَا نَعْلَمُ، وَأَنْ نَرُدَّ مَا أَشْكَلَ عَلَيْنَا إِلَى كِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا صَابِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَقْلًا رَاشِدًا، وَعِلْمًا نَافِعًا.
رَبَّنَا زِدْنَا عِلْمًا وَفَهْمًا وَحِلْمًا وَصَبْرًا.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
FOOTNOTE / RUJUKAN
[^1]: Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]: 68.
[^2]: 'Abdurrahman as-Sa'di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, tafsir QS. Al-Kahf: 68. As-Sa'di menjelaskan bahwa Musa belum mengetahui sisi batin dan lahir suatu perkara, maksudnya, serta akibat akhirnya.
[^3]: Isma'il bin 'Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, tafsir QS. Al-Kahf: 68. Ibn Kathir menjelaskan bahwa Musa memiliki alasan untuk mengingkari perkara yang tampak, tetapi belum mengetahui hikmah dan maslahat batinnya.
[^4]: Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis no. 6114. Hadis Abu Hurairah tentang kekuatan sejati: kemampuan mengendalikan diri ketika marah.
[^5]: Sahih al-Bukhari, Kitab az-Zakah, hadis no. 1469. Sabda Nabi ﷺ: وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.
[^6]: Muhammad bin Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf: 68. Al-Qurtubi menerangkan bahwa para nabi tidak membiarkan kemungkaran; hal ini menjelaskan mengapa Musa mengingkari tindakan yang secara lahiriah tampak mungkar.
[^7]: Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, hadis tentang rahmat: مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ — “Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.”
[^8]: Sahih al-Bukhari, Kitab al-'Ilm, hadis no. 122. Riwayat Ubay bin Ka'ab tentang perjalanan Musa dan Khidir memuat pengulangan perkataan Khidir: أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا dan sabda Nabi ﷺ: يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى، لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ.
KALIMAT INTI CERAMAH
“Jangan menilai seluruh cerita hanya dari halaman yang sedang kita baca.”
“Kita boleh tidak memahami hikmah Allah, tetapi kita tidak boleh kehilangan keyakinan kepada Allah.”
“Sabar bukan berarti membenarkan kesalahan; sabar berarti mampu menahan diri sampai kita memiliki ilmu yang cukup untuk bersikap benar.”
“Semakin luas ilmu seseorang, semakin ia sadar bahwa masih banyak yang tidak ia ketahui.”
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Post a Comment