Bahaya Mengolok-olok Ayat Allah dan Para Rasul

MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN

Surah Al-Kahf Ayat 106 — Bahaya Mengolok-olok Ayat Allah dan Para Rasul

A. Pendahuluan

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Artinya:

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu bentuk ketakwaan yang sangat penting adalah menjaga lisan dan sikap kita terhadap agama Allah.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas firman Allah dalam Surah Al-Kahf ayat 106. Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang orang-orang yang merugi karena kekafiran dan kesesatan mereka. Pada ayat 106, Allah menerangkan balasan bagi mereka serta salah satu sebab yang mengantarkan kepada balasan tersebut, yaitu memperolok-olok ayat-ayat Allah dan para rasul-Nya.

B. Ayat utama dan terjemahannya

Allah Swt. berfirman:

ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا

Artinya:

“Demikianlah, balasan mereka itu neraka Jahanam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai bahan olok-olok.” (QS. Al-Kahf [18]: 106).

Ayat ini mengandung tiga pesan utama:

  1. ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ — Neraka Jahanam adalah balasan yang Allah sebutkan bagi golongan yang dimaksud dalam ayat-ayat sebelumnya.
  2. بِمَا كَفَرُوا — Kekafiran mereka menjadi sebab balasan tersebut.
  3. وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا — Mereka tidak hanya mengingkari kebenaran, tetapi juga menjadikan ayat-ayat Allah dan para rasul sebagai bahan ejekan.

Perlu kita pahami, ayat ini bukan sekadar peringatan agar seseorang berbicara sopan. Ayat ini berbicara tentang sikap serius berupa kekafiran dan penghinaan terhadap wahyu serta para utusan Allah.

C. Tafsir dan ulasan para ulama

1. Tafsir Imam Ath-Thabari

Imam Abu Ja‘far Ath-Thabari menjelaskan:

يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: أُولَئِكَ ثَوَابُهُمْ جَهَنَّمُ بِكُفْرِهِمْ بِاللَّهِ، وَاتِّخَاذِ آيَاتِ كِتَابِهِ، وَحُجَجِ رُسُلِهِ سُخْرِيًّا، وَاسْتِهْزَائِهِمْ بِرُسُلِهِ.

Artinya:

“Allah Yang Mahatinggi menyatakan: Balasan bagi mereka adalah Jahanam karena kekafiran mereka kepada Allah, karena mereka menjadikan ayat-ayat kitab-Nya dan bukti-bukti yang dibawa para rasul-Nya sebagai bahan olok-olok, serta karena mereka memperolok-olok para rasul-Nya.”[1]

Ulasan:

Ath-Thabari menerangkan bahwa persoalan dalam ayat ini bukan sekadar ketidaksetujuan atau perbedaan pendapat. Yang dikecam adalah kekafiran yang disertai penghinaan terhadap wahyu dan para rasul.

Kata هُزُوًا menunjukkan tindakan menjadikan sesuatu sebagai bahan ejekan, olok-olok, atau penghinaan. Sementara itu, ayat-ayat Allah adalah petunjuk dan tanda-tanda kebenaran-Nya, dan para rasul membawa risalah untuk membimbing manusia kepada jalan yang benar.

Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya membangun sikap hormat terhadap Al-Qur’an dan para rasul. Jika ada ayat yang belum dipahami, jalan yang benar adalah bertanya, mempelajari tafsirnya, dan mencari penjelasan dari ulama yang tepercaya, bukan merendahkan wahyu.

2. Tafsir Imam Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

أَيْ إِنَّمَا جَازَيْنَاهُمْ بِهَذَا الْجَزَاءِ جَهَنَّمَ، بِسَبَبِ كُفْرِهِمْ وَاتِّخَاذِهِمْ آيَاتِ اللَّهِ وَرُسُلَهُ هُزُوًا، اسْتَهْزَءُوا بِهِمْ، وَكَذَّبُوهُمْ أَشَدَّ التَّكْذِيبِ.

Artinya:

“Yakni, Kami membalas mereka dengan balasan berupa Jahanam karena kekafiran mereka dan karena mereka menjadikan ayat-ayat Allah serta para rasul-Nya sebagai bahan olok-olok. Mereka memperolok-olok para rasul dan mendustakan mereka dengan pendustaan yang sangat keras.”[2]

Ulasan:

Menurut penjelasan Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan hubungan antara kekafiran, pendustaan terhadap risalah, dan penghinaan terhadap wahyu serta para rasul.

Mengapa hal ini begitu serius? Karena para rasul bukanlah manusia yang menyampaikan ajaran atas kehendak pribadi mereka. Mereka diutus oleh Allah untuk menyampaikan petunjuk. Menghina risalah yang mereka bawa berarti merendahkan sesuatu yang berasal dari Allah.

Dari sini kita belajar membedakan antara dua perkara:

  • Bertanya atau berdiskusi untuk memahami agama. Ini dapat menjadi jalan mencari ilmu selama dilakukan dengan adab dan niat yang benar.
  • Sengaja menjadikan agama, wahyu, atau para rasul sebagai bahan penghinaan. Ini merupakan perkara yang sangat serius dalam akidah Islam.

Jadi, tidak setiap pertanyaan kritis adalah penghinaan. Yang harus diwaspadai adalah sikap merendahkan dan mengejek kebenaran setelah mengetahuinya.

3. Tafsir Syaikh Abdurrahman As-Sa‘di

Dalam penjelasannya tentang ayat ini, As-Sa‘di menerangkan:

وَالْوَاجِبُ فِي آيَاتِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ الْإِيمَانُ التَّامُّ بِهَا، وَالتَّعْظِيمُ لَهَا، وَالْقِيَامُ بِهَا أَتَمَّ الْقِيَامِ.

Artinya:

“Yang wajib terhadap ayat-ayat Allah dan para rasul-Nya adalah mengimaninya dengan sempurna, mengagungkannya, dan menunaikan kewajiban terhadapnya dengan sebaik-baiknya.”[3]

Ulasan:

As-Sa‘di mengarahkan perhatian kita kepada sikap yang seharusnya dimiliki seorang mukmin. Bukan hanya tidak mengejek agama, tetapi juga mengimani, menghormati, dan mengamalkan petunjuknya.

Menghormati Al-Qur’an tidak cukup dengan meletakkannya di tempat yang baik. Penghormatan yang sesungguhnya juga diwujudkan dengan membacanya, mempelajari maknanya, mengamalkan ajarannya, dan tidak menjadikannya alat untuk mempermainkan orang lain.

Demikian pula, mencintai Rasulullah ﷺ tidak cukup dengan mengaku mencintai beliau. Cinta itu perlu dibuktikan dengan mengikuti petunjuknya, mempelajari sunnahnya, dan menjaga kehormatan risalah yang beliau sampaikan.

D. Dalil Al-Qur’an yang menguatkan pembahasan

1. Surah At-Taubah ayat 65–66: Tidak boleh berlindung di balik alasan “hanya bercanda”

Allah Swt. berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

Artinya:

“Dan jika engkau tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Mengapa kepada Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’” (QS. At-Taubah [9]: 65).

Kemudian Allah berfirman:

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Artinya:

“Tidak perlu kamu membuat alasan, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu karena mereka telah bertobat, niscaya Kami akan mengazab golongan yang lain karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9]: 66).

Ulasan tafsir:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika sejumlah orang dalam perjalanan Perang Tabuk mengucapkan perkataan yang merendahkan para pembaca Al-Qur’an dari kalangan Nabi ﷺ dan para sahabat. Ketika ditegur, mereka berdalih bahwa perkataan itu hanya percakapan dan candaan. Namun, Allah menegaskan keseriusan perbuatan tersebut.[4]

Pelajarannya sangat penting: tidak semua ucapan menjadi ringan hanya karena pelakunya mengatakan, “Saya cuma bercanda.”

Akan tetapi, ayat ini juga harus dipahami sesuai konteksnya. Tidak setiap humor, kesalahan berbicara, atau candaan yang tidak pantas otomatis sama dengan penghinaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Yang menjadi pokok peringatan ayat ini adalah memperolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya berhati-hati sebelum mengucapkan sesuatu. Jangan sampai kalimat yang dianggap lucu oleh satu kelompok justru mengandung penghinaan terhadap hal yang dimuliakan Allah.

2. Surah Al-Hujurat ayat 11: Larangan saling memperolok-olok

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan-julukan yang buruk.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11, bagian awal ayat).

Ulasan:

Ayat ini membimbing umat Islam agar tidak menjadikan ejekan sebagai kebiasaan sosial. Seseorang mungkin merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih terhormat, atau lebih saleh daripada orang lain. Namun, manusia tidak mengetahui secara pasti kedudukan seseorang di sisi Allah.

Jika mengolok-olok sesama manusia saja dilarang, terlebih lagi jika yang dijadikan bahan olok-olok adalah wahyu Allah dan para rasul-Nya.

Di sekolah, di tempat kerja, di majelis pengajian, dan di media sosial, kita harus menghindari ejekan yang merendahkan kehormatan orang lain. Nasihat hendaknya disampaikan dengan ilmu, adab, dan tujuan memperbaiki, bukan untuk mempermalukan.

3. Surah Al-Ahzab ayat 57: Peringatan terhadap tindakan menyakiti Allah dan Rasul-Nya

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat, dan menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab [33]: 57).

Ulasan:

Menyakiti Allah tidak berarti bahwa Allah dapat dirugikan atau dikalahkan oleh makhluk-Nya. Allah Mahakaya dan Mahakuasa. Maksudnya, manusia melakukan tindakan yang Allah larang dan yang menunjukkan sikap menentang, menghina, atau merendahkan agama-Nya.

Ayat ini memperingatkan bahwa kehormatan risalah Allah bukan perkara yang boleh dipermainkan. Seorang mukmin harus menjaga adab terhadap Allah, Al-Qur’an, dan Rasulullah ﷺ.

E. Dalil dari Sunnah Nabi ﷺ

1. Hadis tentang kewajiban menjaga lisan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

Artinya:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”[5]

Sumber: Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

Ulasan:

Hadis ini memberikan pedoman praktis bagi setiap Muslim. Sebelum berbicara, tanyakan kepada diri sendiri:

  • Apakah ucapan ini benar?
  • Apakah ucapan ini bermanfaat?
  • Apakah ucapan ini menghormati kebenaran dan kehormatan orang lain?
  • Apakah ucapan ini mengandung ejekan, fitnah, atau penghinaan?

Jika ucapan tidak membawa kebaikan dan berpotensi menimbulkan kerusakan, diam sering kali lebih selamat.

Menjaga lisan bukan berarti seseorang tidak boleh bertanya atau menyampaikan kritik. Kritik yang benar tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang bertanggung jawab, tidak berdusta, dan tidak menghina hal-hal yang dimuliakan Allah.

2. Hadis tentang larangan mencaci orang yang telah meninggal

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا.

Artinya:

“Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah meninggal, karena mereka telah sampai kepada apa yang dahulu mereka kerjakan.”[6]

Sumber: Sahih al-Bukhari.

Ulasan:

Hadis ini secara langsung membahas larangan mencaci orang yang telah meninggal. Ia bukan dalil khusus tentang hukum memperolok-olok ayat Allah, tetapi menguatkan pelajaran umum mengenai pentingnya menjaga lisan.

Jika kita dilarang mencaci orang yang telah meninggal, maka kita pun hendaknya berhati-hati dalam berbicara tentang orang lain yang tidak hadir, terlebih jika ucapan itu berupa penghinaan, fitnah, atau tuduhan tanpa bukti.

Dalam konteks ayat Al-Kahf 106, pelajaran menjaga lisan ini menjadi pengingat agar kita tidak terbiasa mengejek, sehingga akhirnya meremehkan perkara agama yang seharusnya dihormati.

F. Apa bentuk sikap yang perlu kita waspadai?

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ayat ini mengajak kita melakukan muhasabah. Ada beberapa sikap yang perlu dihindari.

Pertama, menjadikan ajaran agama sebagai bahan hinaan.

Jangan sengaja mengubah ayat Al-Qur’an atau ajaran agama menjadi bahan ejekan untuk merendahkan agama itu sendiri.

Kedua, meremehkan sunnah Rasulullah ﷺ.

Jika kita belum memahami suatu hadis atau ajaran, carilah penjelasan dari ulama. Ketidaktahuan seharusnya mendorong kita belajar, bukan mendorong kita menghina.

Ketiga, menyebarkan konten yang menghina agama tanpa pertimbangan.

Di media sosial, seseorang bisa menyebarkan video, gambar, atau kalimat yang menghina agama hanya karena ingin mendapatkan perhatian. Seorang Muslim perlu memeriksa isi dan dampak sebelum membagikan sesuatu.

Keempat, berlindung di balik alasan bercanda.

Candaan tidak menghapus tanggung jawab atas ucapan. Apabila candaan mengandung penghinaan yang serius, pelakunya harus berhenti, menyesal, dan memperbaiki diri.

Kelima, mudah menuduh orang lain kafir.

Peringatan ayat ini harus pertama-tama menjadi bahan introspeksi diri. Menentukan hukum terhadap ucapan atau tindakan orang tertentu memerlukan pemeriksaan konteks, maksud, pengetahuan, dan keadaan yang relevan. Jangan menjadikan ayat ini sebagai alasan untuk sembarangan mengafirkan seseorang atau bertindak sewenang-wenang terhadapnya.

G. Bagaimana jika seseorang pernah mengucapkan penghinaan?

Pintu pertobatan harus selalu menjadi bagian dari nasihat agama. Siapa pun yang menyadari bahwa dirinya pernah mengucapkan sesuatu yang menghina agama hendaknya tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Langkah yang perlu dilakukan adalah:

  1. Menghentikan ucapan atau tindakan yang salah.
  2. Menyesali perbuatan tersebut dengan sungguh-sungguh.
  3. Memohon ampun kepada Allah.
  4. Memperbarui iman dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
  5. Jika ada orang yang dirugikan, memperbaiki kerugian atau meminta maaf sesuai keadaan.
  6. Belajar agar tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar [39]: 53).

Ayat ini merupakan seruan untuk kembali kepada Allah dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Taubat yang sungguh-sungguh menuntut perubahan sikap, bukan sekadar ucapan tanpa usaha memperbaiki diri.

H. Pelajaran utama Surah Al-Kahf ayat 106

Dari ayat ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.

  1. Akidah bukan bahan permainan. Iman kepada Allah dan para rasul harus diwujudkan dalam penghormatan terhadap wahyu dan risalah.
  2. Lisan harus dijaga. Ucapan yang dianggap ringan oleh manusia bisa memiliki konsekuensi yang serius.
  3. Candaan memiliki batas. Jangan menjadikan Allah, ayat-ayat-Nya, atau Rasul-Nya sebagai bahan penghinaan.
  4. Ilmu harus mendahului penilaian. Jika tidak memahami suatu ajaran, bertanyalah kepada orang yang berilmu.
  5. Muhasabah harus dimulai dari diri sendiri. Jangan cepat menghakimi orang lain, sementara kita mengabaikan ucapan dan perilaku kita sendiri.
  6. Taubat dan perbaikan diri sangat penting. Siapa pun yang menyadari kesalahannya hendaknya segera kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh.

I. Penutup ceramah

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Surah Al-Kahf ayat 106 mengingatkan kita bahwa kekafiran yang disertai penghinaan terhadap ayat-ayat Allah dan para rasul-Nya merupakan perkara yang sangat berat. Kita tidak boleh meremehkan wahyu, mempermainkan ajaran agama, atau menjadikan risalah para nabi sebagai bahan olok-olok.

Namun, peringatan ini bukan alasan untuk merasa paling suci atau mudah menuduh orang lain. Justru ayat ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati, lebih berilmu, dan lebih menjaga lisan.

Marilah kita biasakan berbicara dengan benar, bercanda dengan batas yang baik, berdiskusi dengan adab, dan menyampaikan nasihat dengan kasih sayang. Jika kita belum memahami suatu ayat atau hadis, janganlah kita mengejeknya. Pelajarilah maknanya dan mintalah penjelasan kepada orang yang berilmu.

Semoga Allah menjaga iman kita, menjaga lisan kita, menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ, serta membimbing kita agar mampu mengamalkan petunjuk-Nya sampai akhir hayat.

J. Doa penutup

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالسُّخْرِيَةِ، وَجَنِّبْنَا الِاسْتِهْزَاءَ بِدِينِكَ وَآيَاتِكَ وَرُسُلِكَ.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَهُدًى وَتَقْوَى.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Artinya secara ringkas:

Ya Allah, anugerahkan kepada kami iman yang benar, hati yang khusyuk, lisan yang senantiasa mengingat-Mu, dan amal saleh yang Engkau terima. Jagalah lisan kami dari dusta, gibah, dan ejekan. Jauhkan kami dari sikap mempermainkan agama-Mu, ayat-ayat-Mu, dan para rasul-Mu. Ajarkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, ampunilah dosa-dosa kami, dan terimalah taubat kami. Amin, ya Rabbal ‘alamin.


Catatan kaki dan kitab rujukan

[1] Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir Surah Al-Kahf ayat 106. Teks Arab yang dikutip merupakan petikan penjelasan beliau mengenai balasan bagi orang-orang yang kufur dan memperolok-olok ayat serta para rasul.

[2] Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Al-Kahf ayat 106.

[3] ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir Surah Al-Kahf ayat 106. Petikan menegaskan kewajiban mengimani, mengagungkan, dan menunaikan hak ayat-ayat Allah serta para rasul-Nya.

[4] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah At-Taubah ayat 65–66. Lihat pula Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir ayat yang sama, mengenai riwayat peristiwa dalam perjalanan Perang Tabuk.

[5] Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab; Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān. Hadis tentang berkata baik atau diam diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.

[6] Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Janā’iz, bab larangan mencaci orang yang telah meninggal.

Catatan edisi: Nomor hadis, jilid, dan halaman dapat berbeda menurut cetakan serta sistem penomoran yang digunakan. Untuk kebutuhan makalah atau penerbitan resmi, sesuaikan nomor halaman dengan edisi kitab yang dipakai.

Tidak ada komentar