Jangan Sampai Merasa Beramal, tetapi Ternyata Merugi di Hadapan Allah

MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN

Surah Al-Kahf Ayat 103

“Jangan Sampai Merasa Beramal, tetapi Ternyata Merugi di Hadapan Allah”

Tema: Meluruskan niat, membenarkan amal, dan mengoreksi diri sebelum datang hari perhitungan.

Durasi: Sekitar 60–90 menit jika disampaikan dengan uraian, jeda refleksi, dan penjelasan tambahan.


A. MUQADDIMAH

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita menjaga iman, memperbaiki akhlak, meluruskan niat, dan memperbanyak amal saleh dengan harapan memperoleh rida Allah di dunia dan keselamatan di akhirat.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas sebuah ayat yang mengandung peringatan sangat besar bagi setiap orang yang beramal, yaitu Surah Al-Kahf ayat 103.

Ayat ini mengajak kita memikirkan satu pertanyaan penting: Apakah setiap orang yang merasa sudah berbuat baik pasti benar-benar mendapatkan keuntungan di akhirat?

Belum tentu.

Ada orang yang bekerja keras, tetapi salah arah. Ada orang yang mengeluarkan banyak tenaga, tetapi tidak memperoleh hasil yang diharapkan. Ada pedagang yang mengira barang dagangannya akan menghasilkan keuntungan besar, ternyata justru mengalami kerugian.

Demikian pula dalam kehidupan beragama. Ada orang yang merasa sudah beramal, tetapi tidak memeriksa apakah amalnya benar. Ada orang yang rajin melakukan suatu perbuatan, tetapi tidak memperhatikan keikhlasan. Ada pula orang yang bersungguh-sungguh, tetapi tidak mau menerima kebenaran ketika datang kepadanya.

Karena itulah kita perlu mendengarkan firman Allah berikut ini.

B. AYAT UTAMA: PERINGATAN TENTANG ORANG YANG PALING MERUGI AMALNYA

Allah Swt. berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ۝١٠٣

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?’” (QS. Al-Kahf [18]: 103).

Perhatikanlah susunan ayat ini. Allah tidak langsung menyebutkan siapa orang yang paling merugi. Allah terlebih dahulu mengajukan pertanyaan yang menggugah perhatian: Hal nunabbi’ukum — “Maukah Kami beritahukan kepada kalian?”

Seakan-akan manusia diajak berhenti sejenak, menangguhkan penilaian terhadap dirinya sendiri, lalu mendengarkan penjelasan Allah.

Jamaah sekalian,

Biasanya manusia mengukur keberhasilan dari apa yang terlihat. Seseorang dianggap berhasil apabila memiliki banyak harta, jabatan, pengikut, penghargaan, atau dikenal sebagai orang saleh.

Namun, ukuran Allah tidak selalu sama dengan penilaian manusia. Dalam pandangan manusia, seseorang mungkin tampak berhasil. Akan tetapi, yang menentukan keselamatan akhirat bukanlah pujian manusia, melainkan iman, niat, amal, dan rahmat Allah.

Oleh sebab itu, ayat ini bukan sekadar mengajak kita mencari tahu siapa orang lain yang paling rugi. Lebih utama lagi, ayat ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah amal saya sudah benar?”

“Apakah ibadah saya benar-benar ikhlas karena Allah?”

“Apakah saya mau mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ?”

“Apakah saya bersedia memperbaiki diri ketika mengetahui kesalahan?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus kita bawa dalam kehidupan sehari-hari.

C. MEMAHAMI KATA-KATA PENTING DALAM AYAT

1. قُلْ — “Katakanlah”

Kata qul merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk menyampaikan peringatan tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan benar atau salah dalam beragama tidak boleh hanya ditentukan oleh perasaan, kebiasaan, atau pendapat pribadi. Manusia membutuhkan petunjuk wahyu.

Seseorang mungkin berkata, “Menurut saya, perbuatan ini baik.” Namun, dalam urusan agama, pertanyaan berikutnya adalah: apakah perbuatan itu sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya?

Bukan berarti manusia dilarang berpikir atau bermusyawarah. Sebaliknya, akal digunakan untuk memahami petunjuk, sedangkan wahyu menjadi pedoman dalam perkara agama.

2. هَلْ نُنَبِّئُكُمْ — “Apakah perlu Kami beritahukan kepada kalian?”

Ungkapan ini merupakan pertanyaan yang berfungsi menarik perhatian pendengar sebelum disampaikan suatu perkara penting.

Dalam berdakwah, kita dapat mengambil pelajaran dari susunan ini. Nasihat yang baik tidak selalu harus dimulai dengan teguran keras. Terkadang, sebuah pertanyaan yang tepat justru membuat hati lebih terbuka untuk menerima kebenaran.

Contohnya, daripada langsung mengatakan, “Kamu salah!”, kita dapat bertanya dengan lembut, “Sudahkah kita memeriksa apakah cara yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan tuntunan agama?”

3. الْأَخْسَرِينَ — “Orang-orang yang paling merugi”

Kata ini berasal dari akar kata خَسِرَ (khasira), yang berarti rugi. Bentuk al-akhsarīn menunjukkan tingkat kerugian yang sangat besar.

Kerugian dunia biasanya masih menyisakan kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Orang yang kehilangan harta mungkin dapat bekerja kembali. Orang yang gagal dalam usaha mungkin dapat memulai usaha baru.

Namun, kerugian akhirat adalah perkara yang jauh lebih berat. Apabila seseorang meninggal tanpa iman dan berada dalam keadaan yang menyebabkan amalnya tidak diterima, ia tidak lagi mempunyai kesempatan mengulang kehidupan dunia untuk memperbaiki amalnya.

Karena itu, jangan sampai kita hanya sibuk menghitung keuntungan dunia, tetapi melupakan bekal akhirat.

4. أَعْمَالًا — “Perbuatan-perbuatan”

Ayat ini berbicara tentang amal, yaitu perbuatan yang dilakukan manusia. Amal mencakup ibadah, kebaikan kepada sesama, perjuangan, pengorbanan, dan berbagai aktivitas lainnya.

Namun, banyaknya amal tidak otomatis membuktikan bahwa amal tersebut benar. Kita perlu memeriksa dasar keimanan, niat, dan cara pelaksanaannya.

Bayangkan seseorang berjalan dengan sangat cepat. Apabila jalannya menuju tujuan yang benar, kecepatannya dapat mempercepat kedatangan. Tetapi jika ia berjalan cepat menuju arah yang salah, ia justru semakin jauh dari tujuan.

Demikian pula amal: kesungguhan harus berjalan bersama petunjuk.

D. TAFSIR TAHLILI: SIAPA YANG PALING MERUGI?

Untuk memahami ayat 103, kita perlu membaca ayat berikutnya.

Allah berfirman:

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ۝١٠٤

Artinya:

“(Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahf [18]: 104).

Ayat 104 menjelaskan gambaran orang-orang yang dimaksud dalam ayat 103: usaha mereka menyimpang dari jalan yang benar, sementara mereka merasa sedang melakukan sesuatu yang baik.

Di sinilah letak bahayanya. Orang yang mengetahui kesalahannya masih mempunyai peluang untuk bertobat. Akan tetapi, orang yang tidak menyadari kesalahannya bisa terus mengulanginya karena menganggap dirinya sudah benar.

1. Penjelasan Imam Ath-Thabari

Imam Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir ath-Thabari menjelaskan bahwa orang-orang yang disebut dalam ayat ini telah mengerahkan tenaga untuk mencari keuntungan dan keutamaan, tetapi justru mendapatkan kebinasaan dan tidak memperoleh apa yang diharapkan.

Beliau menulis:

الَّذِينَ أَتْعَبُوا أَنْفُسَهُمْ فِي عَمَلٍ يَبْتَغُونَ بِهِ رِبْحًا وَفَضْلًا، فَنَالُوا بِهِ عَطَبًا وَهَلَاكًا وَلَمْ يُدْرِكُوا طَلَبًا.

Artinya:

“Orang-orang yang melelahkan diri mereka dalam suatu amalan, dengan mengharapkan keuntungan dan keutamaan melalui amalan tersebut, tetapi justru mendapatkan kebinasaan dan kehancuran, serta tidak memperoleh apa yang mereka harapkan.”

Imam ath-Thabari mengibaratkan keadaan tersebut seperti seorang pembeli yang mengharapkan keuntungan dari barang yang dibelinya, tetapi ternyata gagal memperoleh keuntungan dan justru merugi.[1]

Penjelasan ini memberikan gambaran yang mudah dipahami. Persoalannya bukan semata-mata seseorang telah bekerja keras atau tidak. Persoalannya adalah apakah usaha itu benar-benar mengantarkan kepada tujuan yang dikehendaki Allah.

Dalam konteks kehidupan kita, seseorang bisa menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan keagamaan. Namun, ia tetap perlu memeriksa apakah kegiatan itu dilandasi iman yang benar dan dijalankan sesuai petunjuk agama.

2. Penjelasan Imam Ibnu Katsir

Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir membahas ayat ini dengan menyebut riwayat mengenai perbedaan pendapat tentang siapa yang dimaksud oleh ayat tersebut. Di antara riwayat yang dibawakan adalah pendapat yang mengaitkannya dengan Yahudi dan Nasrani dalam konteks penolakan terhadap petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.[2]

Namun, pembahasan ini tidak boleh dipersempit menjadi anggapan bahwa setiap orang yang berasal dari kelompok tertentu pasti termasuk dalam kategori tersebut tanpa memperhatikan penjelasan ayat dan konteksnya.

Pokok yang harus diperhatikan ialah bahwa seseorang dapat melakukan banyak perbuatan, tetapi usahanya tidak menghasilkan keselamatan apabila ia menolak kebenaran yang wajib diterimanya.

Ayat berikutnya menjelaskan ciri penting mereka: mereka mengira telah melakukan kebaikan, padahal amalnya menyimpang.

Maka, pelajaran bagi seorang Muslim adalah jangan merasa aman hanya karena telah melakukan banyak amal. Kita perlu terus memohon petunjuk, belajar, dan memperbaiki diri.

3. Penjelasan Imam Al-Qurthubi

Imam Abu Abdullah al-Qurthubi mengambil pelajaran bahwa ada orang yang mengerjakan suatu perbuatan dengan keyakinan bahwa ia sedang melakukan kebaikan, padahal usahanya tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Beliau menulis:

فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْمَلُ الْعَمَلَ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ، وَقَدْ حَبِطَ سَعْيُهُ.

Artinya:

“Di dalamnya terdapat petunjuk bahwa sebagian manusia melakukan suatu amalan dengan mengira dirinya telah berbuat baik, padahal usahanya telah gugur.”[3]

Al-Qurthubi juga membahas faktor yang dapat menggugurkan amal, termasuk kerusakan keyakinan dan riya. Dalam konteks ayat ini, beliau menjelaskan kaitannya dengan kekufuran dan penyimpangan dalam ibadah.

Dari uraian tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa perasaan puas terhadap diri sendiri bukan ukuran diterimanya amal. Kita tetap membutuhkan ilmu, keikhlasan, dan kesediaan untuk menerima koreksi.

Catatan penting: pembahasan tentang gugurnya amal dalam konteks kekufuran tidak boleh dicampuradukkan dengan setiap kesalahan atau dosa seorang Muslim. Tidak semua dosa menghapus seluruh amal, dan penetapan hukum terhadap individu tertentu memerlukan pengetahuan serta ketentuan syariat yang tepat.

E. MENGAPA NIAT BAIK SAJA TIDAK CUKUP?

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sering kali kita mendengar ungkapan, “Yang penting niatnya baik.”

Niat yang baik memang sangat penting. Akan tetapi, niat baik tidak menjadikan setiap cara otomatis benar.

Seseorang mungkin berniat menolong, tetapi caranya melanggar hak orang lain. Seseorang mungkin berniat beribadah, tetapi melakukannya dengan cara yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah ﷺ. Seseorang mungkin berniat mendapatkan pujian dan menganggap pujian itu sebagai dorongan kebaikan, padahal lambat laun amalnya diarahkan untuk memperoleh pengakuan manusia.

Karena itu, dalam beramal kita harus memperhatikan dua perkara besar: ikhlas karena Allah dan benar sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

1. Dalil Al-Qur’an tentang amal yang benar

Allah Swt. berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ۝١١٠

Artinya:

“Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahf [18]: 110).

Ayat ini menutup Surah Al-Kahf dengan dua pedoman penting:

  • عَمَلًا صَالِحًا — amal saleh: perbuatan yang benar dan sesuai dengan petunjuk agama.
  • وَلَا يُشْرِكْ — jangan mempersekutukan: ibadah harus ditujukan kepada Allah, bukan untuk dipersembahkan kepada selain-Nya.

Ayat 110 ini sangat relevan dengan ayat 103. Jangan sampai kita melakukan banyak amal, tetapi tidak memperhatikan apakah amal itu benar dan apakah kita benar-benar mengikhlaskannya kepada Allah.

2. Dalil hadis tentang niat

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

Artinya:

“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. al-Bukhari, no. 1; juga diriwayatkan Muslim).[4]

Hadis ini menunjukkan kedudukan niat yang sangat penting dalam amal.

Dua orang bisa melakukan perbuatan yang sama, tetapi nilai amal mereka di sisi Allah tidak harus sama. Seseorang mengajar karena ingin mencari rida Allah dan memberikan manfaat kepada murid. Orang lain mengajar hanya agar dipuji dan dianggap paling hebat.

Secara lahiriah, keduanya sama-sama berdiri di depan kelas. Namun, tujuan batinnya berbeda.

Meski demikian, niat yang baik tidak berarti seseorang boleh mengabaikan aturan syariat. Niat dan cara pelaksanaan harus sama-sama diperhatikan.

F. DALIL SUNNAH: AMAL YANG TIDAK SESUAI TUNTUNAN DITOLAK

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

Artinya:

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka hal itu tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718).[5]

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

Artinya:

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan urusan (tuntunan) kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718).[5]

Hadis ini menjadi landasan penting bahwa ibadah tidak cukup hanya didasarkan pada perasaan atau keinginan pribadi. Dalam perkara ibadah, kita harus merujuk kepada tuntunan Rasulullah ﷺ.

Namun, hadis ini juga harus dipahami dengan ilmu. Tidak setiap sarana baru dalam kehidupan otomatis menjadi ibadah baru yang tertolak. Menggunakan pengeras suara, menyusun jadwal pelajaran, membuat buku catatan, atau memanfaatkan teknologi untuk memudahkan dakwah merupakan sarana. Penilaiannya mengikuti tujuan dan ketentuan syariat yang berkaitan dengannya.

Yang perlu dihindari adalah menganggap suatu bentuk ibadah sebagai ketentuan agama tanpa landasan yang benar.

Maka, apabila kita ingin beramal, hendaklah bertanya: apakah ada dasar syariatnya? Bagaimana tuntunan pelaksanaannya? Apakah kita melakukannya dengan ikhlas?

G. BAHAYA RIYA: KETIKA AMAL DITUJUKAN UNTUK PUJIAN MANUSIA

Selain amal yang tidak sesuai petunjuk, riya merupakan bahaya besar yang dapat merusak keikhlasan.

Riya adalah melakukan ibadah atau menampakkan amal saleh demi mendapatkan pujian dan penilaian manusia, bukan semata-mata mengharap rida Allah.

Allah Swt. berfirman:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ۝٤ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝٥ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ۝٦ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ۝٧

Artinya:

“Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan memberikan bantuan.” (QS. Al-Ma‘un [107]: 4–7).

Ayat ini memperingatkan orang yang menampilkan ibadah, tetapi lalai terhadap hakikat dan tanggung jawabnya.

Salat bukan sekadar gerakan yang dilihat orang. Salat adalah ibadah kepada Allah yang semestinya membentuk ketakwaan, kejujuran, dan kepedulian.

Hadis tentang tiga orang yang beramal demi pujian

Dalam hadis panjang yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa di antara orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang gugur dalam peperangan, orang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu serta membaca Al-Qur’an, dan orang kaya yang menginfakkan hartanya. Namun, mereka melakukan amal itu demi memperoleh sebutan sebagai pemberani, orang berilmu, atau dermawan.

Rasulullah ﷺ menyampaikan bagian dialog tentang orang yang belajar dan membaca Al-Qur’an:

وَتَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتَهُ، وَقَرَأْتَ فِيكَ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ.

Artinya:

“Engkau telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an?” Orang itu menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Engkau berdusta. Akan tetapi, engkau mempelajari ilmu agar disebut orang berilmu, dan engkau membaca Al-Qur’an agar disebut qari; dan sebutan itu telah diberikan.” (HR. Muslim, no. 1905).[6]

Jamaah sekalian,

Hadis ini bukan untuk membuat kita takut mengajar, berdakwah, atau melakukan kebaikan di hadapan orang lain. Yang harus kita takuti adalah ketika pujian manusia menjadi tujuan utama amal.

Seorang guru boleh merasa senang ketika muridnya berhasil. Seorang penceramah boleh menerima penghargaan. Orang yang bersedekah boleh diketahui orang lain apabila ada maslahat yang dibenarkan syariat.

Akan tetapi, hati harus terus dijaga. Jangan sampai kita lebih bersemangat ketika dilihat orang daripada ketika sendirian bersama Allah.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya tetap salat ketika tidak ada yang melihat?

Apakah saya tetap membantu orang lain ketika tidak ada yang akan memuji?

Apakah saya tetap mengajar dengan sungguh-sungguh ketika tidak ada penghargaan?

Apakah saya tetap membaca Al-Qur’an ketika tidak ada yang mendengar suara saya?

Pertanyaan seperti ini bukan untuk memvonis diri sendiri, melainkan untuk memperbaiki niat.

H. KERUGIAN TERBESAR: MENYANGKA DIRI SUDAH BENAR PADAHAL MENYIMPANG

Jamaah yang dirahmati Allah,

Bagian paling mengkhawatirkan dari ayat 104 adalah:

وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Artinya:

“Sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”

Mengapa keadaan ini sangat berbahaya?

Karena orang yang mengetahui dirinya salah memiliki peluang untuk memperbaiki diri. Namun, orang yang selalu menganggap dirinya benar cenderung menolak nasihat, mengabaikan dalil, dan menyalahkan orang lain.

Ada orang yang ketika dinasihati justru marah. Ketika diberikan dalil, ia mencari alasan agar tidak perlu berubah. Ketika menemukan kekeliruan, ia sibuk membela diri daripada memperbaiki diri.

Padahal, kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada kemampuannya membuktikan bahwa dirinya selalu benar, tetapi pada kesediaannya mengikuti kebenaran ketika kebenaran itu telah jelas baginya.

Dalil Al-Qur’an tentang larangan merasa paling suci

Allah Swt. berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى ۝٣٢

Artinya:

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm [53]: 32).

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh berharap menjadi orang saleh, tetapi jangan memastikan diri sebagai orang yang paling suci.

Kita boleh berusaha memperbanyak ibadah, tetapi tidak boleh menjadikan ibadah sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Kita boleh menyampaikan nasihat, tetapi harus tetap menjaga adab, ilmu, dan keadilan.

Jangan sampai kesibukan memperbaiki orang lain membuat kita lupa memperbaiki diri sendiri.

Jangan mudah menghakimi orang lain

Ayat ini juga tidak boleh digunakan untuk menyatakan secara sembarangan bahwa seseorang atau kelompok tertentu pasti termasuk orang yang paling merugi.

Penetapan keadaan hati, penerimaan amal, dan kesudahan seseorang di akhirat merupakan perkara yang harus dibahas berdasarkan dalil dan kaidah ilmu. Kita wajib menjelaskan kebenaran, tetapi tidak boleh melampaui batas dalam menilai individu.

Sikap yang benar adalah mengingatkan dengan ilmu, mengajak dengan hikmah, dan memulai koreksi dari diri sendiri.

I. PELAJARAN DARI TAFSIR ATH-THABARI: CAKUPAN AYAT LEBIH LUAS

Dalam penjelasannya atas ayat ini, Imam ath-Thabari menyebut sejumlah pendapat dari generasi terdahulu mengenai kelompok yang dimaksud, kemudian menegaskan bahwa maknanya mencakup setiap orang yang mengerjakan suatu amal dengan mengira dirinya benar dan sedang menaati Allah, padahal perbuatannya justru menyimpang dari jalan keimanan.[1]

Prinsip ini perlu dipahami dengan tepat.

Pertama, ayat tersebut memiliki konteks ketika diturunkan. Para mufasir membahas konteks itu dan menyampaikan berbagai riwayat tentang kelompok yang dikaitkan dengannya.

Kedua, pelajarannya tidak berhenti pada nama suatu kelompok. Ayat 104 secara jelas menggambarkan sifat yang sangat penting: seseorang mengira dirinya sedang berbuat baik, tetapi usahanya menyimpang.

Ketiga, penerapan ayat terhadap orang tertentu membutuhkan kehati-hatian. Kita tidak boleh langsung menyamakan kesalahan biasa, dosa, kekurangan pengetahuan, dan kekufuran. Semuanya memiliki ketentuan yang berbeda dalam syariat.

Karena itu, manfaat terbesar ayat ini bagi kita adalah menjadikannya cermin untuk menilai amal sendiri, bukan senjata untuk merendahkan orang lain.

J. BAGAIMANA AGAR AMAL KITA TIDAK MENJADI KERUGIAN?

Ada beberapa langkah praktis yang dapat kita lakukan.

1. Memperbaiki iman dan tauhid

Fondasi amal adalah iman kepada Allah. Jangan sampai seseorang memperbanyak perbuatan lahiriah, tetapi merusak fondasi keimanannya.

Allah Swt. berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ۝٦٥

Artinya:

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.’” (QS. Az-Zumar [39]: 65).

Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya bahaya syirik terhadap amal. Karena itu, tauhid harus dipelajari dan dijaga.

2. Meluruskan niat sebelum dan selama beramal

Sebelum memulai suatu amal, tanyakan: untuk siapa saya melakukan ini?

Ketika sedang beramal, periksa apakah hati mulai berubah karena pujian atau penilaian manusia.

Setelah beramal, jangan terlalu membanggakan diri. Mohonlah agar Allah menerima amal tersebut.

3. Mempelajari tuntunan Rasulullah ﷺ

Jangan hanya bertanya, “Apakah saya sudah banyak berbuat?” Tanyakan juga, “Apakah yang saya lakukan sudah sesuai dengan tuntunan agama?”

Belajar kepada guru yang tepercaya, membaca kitab yang benar, memahami dalil, dan bertanya ketika tidak mengerti merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amal.

4. Tidak meremehkan dosa dan tidak berputus asa

Jangan meremehkan dosa dengan alasan sudah banyak beramal. Namun, jangan pula berputus asa ketika menyadari adanya kesalahan.

Allah membuka pintu tobat bagi hamba yang kembali kepada-Nya. Kesadaran terhadap kekurangan seharusnya mendorong kita untuk memperbaiki diri, bukan meninggalkan amal saleh.

5. Membiasakan muhasabah

Luangkan waktu untuk mengevaluasi diri. Apakah salat kita semakin baik? Apakah perkataan kita menyakiti orang lain? Apakah amanah kita sudah dilaksanakan? Apakah kita mudah menerima nasihat?

Muhasabah bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Muhasabah adalah mengenali kekurangan agar dapat memperbaikinya.

K. DALIL TENTANG AMAL TERBAIK, BUKAN SEKADAR AMAL TERBANYAK

Allah Swt. berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ ۝٢

Artinya:

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

Perhatikan bahwa ayat ini menyebut أَحْسَنُ عَمَلًا — yang paling baik amalnya, bukan sekadar yang paling banyak amalnya.

Dalam penjelasan yang masyhur dari Fudhail bin ‘Iyadh mengenai ayat ini, amal terbaik adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ketika ditanya tentang maknanya, beliau menjelaskan bahwa amal yang ikhlas tetapi tidak benar tidak diterima, dan amal yang benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima; amal itu harus ikhlas dan benar.

Ungkapan Arab yang dinukil dalam kitab tafsir berbunyi:

إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا.

Artinya:

“Sesungguhnya suatu amal, apabila ikhlas tetapi tidak benar, tidak diterima; dan apabila benar tetapi tidak ikhlas, tidak diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar.”

Ungkapan ini dinukil dalam pembahasan tafsir QS. Al-Mulk ayat 2, antara lain oleh Ibnu Katsir.[7]

Dari sini kita belajar bahwa tujuan kita bukan sekadar memperbanyak jumlah kegiatan, melainkan memperbaiki kualitas amal.

Lebih banyak ibadah tentu baik apabila dilaksanakan dengan benar. Lebih banyak sedekah tentu baik apabila ikhlas dan sesuai ketentuan. Lebih banyak ilmu tentu baik apabila membuat kita semakin tunduk kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.

L. CONTOH PENERAPAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1. Dalam ibadah

Seseorang rajin beribadah, tetapi tidak mau belajar tata cara ibadah yang benar. Ketika diberikan penjelasan berdasarkan dalil, ia menolak hanya karena sudah terbiasa dengan cara lama.

Pelajarannya: kebiasaan perlu diperiksa berdasarkan ilmu. Jika terdapat kekeliruan, kita harus bersedia memperbaikinya dengan cara yang baik.

2. Dalam pendidikan

Seorang guru bekerja keras menyiapkan pelajaran, tetapi tidak mau mengevaluasi apakah murid benar-benar memahami materi. Ia merasa tugasnya selesai hanya karena telah mengajar.

Padahal, amanah pendidikan menuntut kita memperhatikan proses dan hasil belajar, memperbaiki metode, dan menerima masukan.

Kesungguhan itu penting, tetapi kesungguhan juga harus disertai evaluasi.

3. Dalam dakwah

Seseorang rajin menyampaikan nasihat, tetapi menggunakan kata-kata kasar dan merendahkan orang lain. Ia merasa sedang membela agama, padahal caranya justru membuat orang menjauh.

Pelajarannya: kebenaran perlu disampaikan dengan ilmu, hikmah, dan akhlak yang baik. Tujuan yang benar tidak membenarkan semua cara.

4. Dalam sedekah

Seseorang memberikan bantuan, tetapi selalu mengungkit-ungkit pemberiannya dan merendahkan penerima.

Allah Swt. mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS. Al-Baqarah [2]: 264, bagian awal ayat).

Ayat ini mengingatkan bahwa kebaikan tidak boleh diikuti dengan perilaku yang merusak kehormatan penerima.

5. Dalam kehidupan keluarga

Orang tua mungkin merasa telah bekerja keras demi anak, tetapi tidak pernah menyediakan waktu untuk mendengar keluh kesahnya. Ia merasa sudah melakukan yang terbaik, tetapi tidak mau mengevaluasi cara berkomunikasi.

Pelajarannya: niat baik perlu disertai pemahaman, kasih sayang, dan perbaikan tindakan.

Contoh-contoh ini bukan berarti setiap kekurangan langsung menjadikan seseorang termasuk orang yang disebut dalam ayat 103. Contoh tersebut merupakan bahan muhasabah agar kita memperbaiki niat, cara, dan tanggung jawab.

M. TIGA PERTANYAAN MUHASABAH

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Sebelum kita menilai amal orang lain, mari kita ajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri.

Pertama: Apakah saya benar-benar mengharapkan rida Allah?

Jangan sampai kita beramal hanya karena ingin disebut saleh, dihormati, atau memperoleh kedudukan.

Kedua: Apakah amal saya sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya?

Jangan merasa cukup dengan kebiasaan. Belajarlah, bertanyalah, dan bersedialah memperbaiki diri.

Ketiga: Apakah saya mau menerima kebenaran meskipun bertentangan dengan keinginan saya?

Orang yang tulus mencari kebenaran akan berusaha mengikuti petunjuk ketika sudah jelas baginya. Ia tidak menjadikan harga diri sebagai penghalang untuk berubah.

Semoga tiga pertanyaan ini menjadikan kita lebih rendah hati, lebih teliti dalam beramal, dan lebih bersemangat memperbaiki diri.

N. PENUTUP: JANGAN TERTIPU OLEH PENILAIAN DIRI SENDIRI

Jamaah yang dirahmati Allah,

Surah Al-Kahf ayat 103 bukan sekadar berita tentang orang-orang yang paling merugi. Ayat ini adalah peringatan agar kita tidak tertipu oleh penilaian diri sendiri.

Jangan mengira bahwa banyaknya kegiatan otomatis menjamin keselamatan. Jangan mengira bahwa niat baik membenarkan semua cara. Jangan mengira bahwa pujian manusia menjadi bukti diterimanya amal.

Mari kita perbaiki iman, luruskan niat, pelajari tuntunan Rasulullah ﷺ, dan terus melakukan muhasabah.

Apabila kita menemukan kekurangan dalam amal, jangan berputus asa. Perbaikilah. Apabila kita mengetahui kesalahan, jangan mempertahankannya karena gengsi. Bertobatlah. Apabila kita menerima nasihat yang benar, jangan menolaknya hanya karena datang dari orang yang tidak kita sukai.

Kita tidak mengetahui secara pasti amal mana yang akan diterima Allah. Karena itu, kita perlu berusaha sebaik mungkin, memohon pertolongan-Nya, dan berharap kepada rahmat-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, mengikuti petunjuk-Nya, dan tidak tertipu oleh amal sendiri.

O. DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَنَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

Artinya:

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan. Kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri, dan kecukupan.”

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا.

Artinya:

“Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi penjaga urusan kami. Perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami. Dan perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا صَالِحَةً، وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ فِيهَا لِأَحَدٍ غَيْرِكَ شَيْئًا.

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah amal-amal kami sebagai amal yang saleh, ikhlas karena mengharap wajah-Mu, dan janganlah Engkau jadikan di dalamnya sesuatu yang ditujukan kepada selain-Mu.”

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا مُخْبِتَةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَعْمَالًا مُتَقَبَّلَةً، وَتَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَوْتِ.

Artinya:

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang tunduk, lisan yang jujur, amal yang diterima, dan tobat yang sungguh-sungguh sebelum kematian.”

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Artinya:

“Ya Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN KAKI DAN KITAB RUJUKAN

[1] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir Surah Al-Kahf ayat 103–104. Lihat pembahasan beliau mengenai orang-orang yang mengerahkan tenaga untuk suatu amal, tetapi menyimpang dari jalan yang benar.

[2] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Al-Kahf ayat 103–106. Lihat riwayat dan pembahasan tentang kelompok yang dikaitkan dengan ayat tersebut serta kaitannya dengan ayat 104.

[3] Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Al-Kahf ayat 103–106. Lihat uraian tentang orang yang menyangka dirinya berbuat baik, tetapi amalnya tidak menghasilkan keselamatan.

[4] Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Bad’ al-Waḥy, hadis no. 1; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Imārah, hadis tentang niat. Redaksi yang dikutip merupakan bagian awal hadis Umar bin al-Khattab tentang niat.

[5] Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Aqḍiyah, hadis no. 1718, tentang tertolaknya amalan yang tidak berdasarkan tuntunan Rasulullah ﷺ.

[6] Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Imārah, hadis no. 1905, tentang orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat, termasuk orang yang beramal demi pujian manusia.

[7] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Al-Mulk ayat 2. Lihat penjelasan yang dinukil dari Fudhail bin ‘Iyadh mengenai amal yang ikhlas dan benar.

Catatan akademik: Nomor hadis mengikuti penomoran yang umum digunakan dalam edisi dan pangkalan data hadis modern. Nomor halaman kitab tafsir berbeda-beda menurut edisi, penerbit, dan tahqiq; karena itu, rujukan tafsir di atas diberikan berdasarkan nama kitab dan ayat yang ditafsirkan. Kutipan Arab dalam materi ini merupakan bagian ringkas untuk kepentingan ceramah; untuk penulisan ilmiah formal, cocokkan kembali dengan edisi kitab yang digunakan.

Tidak ada komentar