Ketika Dzulqarnain Menyaksikan Kehidupan yang Berbeda: Syukur, Kepedulian, dan Kerendahan Hati
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 90
“Ketika Dzulqarnain Menyaksikan Kehidupan yang Berbeda: Syukur, Kepedulian, dan Kerendahan Hati”
A. Pembukaan
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah ...
Pernahkah kita membayangkan bagaimana kehidupan seseorang yang tidak memiliki rumah yang nyaman, tidak mempunyai atap untuk berteduh, dan tidak memiliki pepohonan yang melindunginya dari terik matahari?
Sementara kita tinggal di rumah yang memiliki dinding dan atap. Ketika panas, kita menyalakan kipas angin atau pendingin ruangan. Ketika hujan, kita berteduh. Ketika malam, kita menyalakan lampu.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Siapakah yang memberikan semua kenyamanan itu kepada kita?
Apakah semata-mata karena kita mampu membelinya?
Apakah semata-mata karena kita pandai bekerja?
Atau karena di balik seluruh usaha kita, ada nikmat Allah yang sering kali tidak kita sadari?
Jamaah yang dirahmati Allah ...
Dalam perjalanan Dzulqarnain, Allah memperlihatkan kepada kita sebuah masyarakat yang kehidupannya berbeda dari kehidupan yang biasa kita kenal.
Allah berfirman:
QS. Al-Kahf ayat 90
حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلٰى قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَلْ لَّهُمْ مِّنْ دُوْنِهَا سِتْرًا ۙ
Artinya:
“Hingga ketika dia sampai di tempat terbit matahari (sebelah timur), didapatinya (matahari) bersinar di atas suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya matahari) itu.”
Ayat ini mengajak kita merenungkan beberapa perkara: keluasan kekuasaan Allah, keragaman keadaan manusia, nikmat perlindungan yang sering kita lupakan, serta tanggung jawab manusia ketika menyaksikan kehidupan orang lain yang lebih sulit.
B. Memahami isi ayat: Dzulqarnain sampai ke tempat terbit matahari
Allah berfirman:
حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ
“Hingga ketika dia sampai di tempat terbit matahari.”
Ayat ini merupakan kelanjutan dari perjalanan Dzulqarnain setelah ia menuju arah barat. Kini ia melanjutkan perjalanan hingga mencapai kawasan yang disebut sebagai tempat terbit matahari.
Kemudian Allah berfirman:
وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلٰى قَوْمٍ
“Dia mendapati matahari terbit di atas suatu kaum.”
Lalu:
لَّمْ نَجْعَلْ لَّهُمْ مِّنْ دُوْنِهَا سِتْرًا
“Yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari cahaya matahari itu.”
Kata سِتْرًا (sitran) bermakna sesuatu yang menutupi atau melindungi.
Dalam konteks ayat ini, yang dimaksud adalah perlindungan dari pancaran matahari, seperti bangunan, pepohonan, atau naungan lainnya.
Ayat tersebut tidak menjelaskan secara rinci nama kaum itu, negara tempat tinggal mereka, atau bagaimana seluruh kebiasaan hidup mereka. Beberapa kitab tafsir memuat riwayat tambahan tentang keadaan mereka, tetapi rincian tersebut harus dibedakan dari informasi yang secara tegas dinyatakan oleh Al-Qur'an. [^1]
Pelajaran pertama: ketika Al-Qur'an menyampaikan suatu kisah, kita mengambil petunjuknya tanpa memastikan rincian sejarah yang tidak memiliki landasan kuat.
C. Ulasan Imam Ath-Thabari
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa kaum tersebut berada di suatu tempat yang, menurut riwayat yang beliau kumpulkan, tidak memiliki gunung atau pepohonan sebagai pelindung dan tidak memungkinkan pembangunan rumah seperti yang biasa dikenal masyarakat lain.
Beliau menukil riwayat dari Qatadah mengenai suatu kaum yang berlindung di tempat-tempat tertentu ketika matahari terik, lalu keluar untuk menjalani aktivitas mereka setelah keadaan memungkinkan. Riwayat tersebut merupakan keterangan tafsir, bukan bagian dari teks ayat itu sendiri. [^1]
Salah satu bagian penjelasan Ath-Thabari berbunyi:
لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا
“Kami tidak menjadikan bagi mereka suatu pelindung dari matahari itu.”
Ath-Thabari menerangkan makna ayat tersebut melalui keadaan geografis dan kehidupan kaum yang dijumpai Dzulqarnain.
Dari sini, kita belajar bahwa kehidupan manusia dipengaruhi oleh banyak keadaan: lingkungan, sumber daya, kondisi alam, dan kemampuan yang tersedia.
Jangan cepat menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat dari luar.
Orang yang tinggal di rumah sederhana belum tentu malas.
Orang yang memiliki keterbatasan belum tentu tidak berusaha.
Orang yang hidup berbeda dari kita belum tentu lebih rendah martabatnya.
[^1]: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:90. Lihat juga penjelasan tafsir pada ayat tersebut. citeturn130008search0turn130008search1
D. Ulasan Ibnu Katsir: Tidak ada bangunan atau pepohonan yang menaungi mereka
Ibnu Katsir menjelaskan bagian:
لَّمْ نَجْعَلْ لَّهُمْ مِّنْ دُوْنِهَا سِتْرًا
dengan ungkapan:
لَيْسَ لَهُمْ بِنَاءٌ يَكُنُّهُمْ، وَلَا أَشْجَارٌ تُظِلُّهُمْ
Artinya:
“Mereka tidak memiliki bangunan yang melindungi mereka dan tidak pula pepohonan yang menaungi mereka.”
Penjelasan ini membantu kita memahami makna perlindungan dalam ayat. Ibnu Katsir juga menyebutkan riwayat tentang kondisi lingkungan dan cara kaum tersebut berlindung dari panas matahari. [^2]
Bayangkan, jamaah sekalian.
Sesuatu yang kita anggap biasa—atap rumah, dinding, pepohonan, dan tempat berteduh—bisa menjadi kebutuhan yang sangat besar bagi orang lain.
Kadang-kadang kita mengeluh karena rumah terasa panas.
Padahal ada orang yang bahkan tidak memiliki tempat berteduh yang layak.
Kita mengeluh karena makanan tidak sesuai selera.
Padahal ada orang yang sedang mencari makanan untuk hari itu.
Kita mengeluh karena perjalanan sedikit melelahkan.
Padahal ada orang yang setiap hari menempuh perjalanan jauh untuk mencari nafkah.
Tentu kita tidak boleh meremehkan kesulitan siapa pun. Pesannya bukan membandingkan penderitaan, melainkan belajar melihat nikmat yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
[^2]: Isma‘il bin Umar Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Al-Kahf [18]:90. citeturn130008search7turn130008search11
E. Nikmat perlindungan adalah karunia Allah
Jamaah yang dirahmati Allah ...
Mari kita renungkan rumah yang kita tempati.
Rumah bukan hanya bangunan.
Rumah melindungi kita dari hujan, panas, angin, dan berbagai gangguan.
Ketika malam tiba, kita dapat beristirahat.
Ketika hujan turun, kita memiliki tempat untuk berlindung.
Ketika keluarga berkumpul, rumah menjadi tempat berbagi kasih sayang.
Karena itu, nikmat rumah bukan hanya tentang kemewahan atau luas bangunannya. Rumah yang sederhana tetapi dipenuhi ketenangan, keselamatan, dan ketaatan kepada Allah merupakan nikmat yang besar.
Allah berfirman:
QS. An-Nahl ayat 80
وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا
Artinya:
“Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa rumah merupakan bagian dari nikmat Allah.
Maka jangan hanya sibuk memperindah rumah, tetapi lupa membangun ketenangan di dalamnya.
Jangan hanya memperhatikan cat dinding, tetapi mengabaikan akhlak penghuninya.
Jangan hanya menyediakan fasilitas, tetapi melupakan salat, Al-Qur'an, dan kasih sayang keluarga.
Rumah yang baik bukan sekadar rumah yang nyaman untuk tubuh, tetapi juga tempat yang membantu penghuninya mendekat kepada Allah.
F. Dalil tentang banyaknya nikmat Allah
Allah berfirman:
QS. Ibrahim ayat 34
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ
Artinya:
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah.”
Perhatikan kalimat:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
Kita sering menghitung apa yang belum dimiliki.
Tetapi jarang menghitung apa yang sudah diberikan.
Kita menghitung kekurangan uang, tetapi lupa bahwa kita masih memiliki kesehatan untuk bekerja.
Kita menghitung kekurangan fasilitas, tetapi lupa bahwa kita masih memiliki keluarga.
Kita menghitung masalah, tetapi lupa bahwa Allah masih memberikan kesempatan untuk berdoa dan memperbaiki diri.
Bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berusaha memperbaiki keadaan. Justru kita diperintahkan untuk berikhtiar. Namun, ikhtiar hendaknya berjalan bersama rasa syukur, bukan keluhan yang tidak berkesudahan.
G. Syukur bukan sekadar ucapan
Rasulullah ﷺ memberikan teladan syukur dalam ibadah. Ketika beliau ditanya mengapa tetap beribadah dengan sungguh-sungguh padahal Allah telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang, beliau menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Artinya:
“Tidakkah boleh aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. [^3]
Perhatikan, jamaah sekalian.
Nabi ﷺ tidak menjadikan nikmat Allah sebagai alasan untuk berhenti beribadah.
Justru nikmat itu mendorong beliau untuk semakin bersyukur.
Maka syukur memiliki tiga sisi:
- Syukur hati: mengakui bahwa nikmat berasal dari Allah.
- Syukur lisan: memuji Allah dan tidak mengingkari karunia-Nya.
- Syukur perbuatan: menggunakan nikmat untuk kebaikan dan ketaatan.
Jika Allah memberikan kita ilmu, syukurilah dengan mengamalkannya.
Jika Allah memberikan kita harta, syukurilah dengan mencari nafkah yang halal dan membantu orang yang membutuhkan.
Jika Allah memberikan kita rumah, jadikan rumah itu tempat beribadah dan mendidik keluarga.
Jika Allah memberikan kita jabatan, gunakan jabatan itu untuk menegakkan keadilan.
[^3]: Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadis tentang ibadah Nabi ﷺ dan ungkapan أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا; Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, hadis yang sama dalam pembahasan sifat ibadah Nabi ﷺ.
H. Jangan merendahkan manusia karena keadaan hidupnya
Jamaah yang dirahmati Allah ...
Ayat ini memperlihatkan suatu kaum yang keadaan lingkungannya berbeda dari keadaan yang kita kenal.
Perbedaan itu seharusnya mengajarkan kita untuk rendah hati.
Jangan sampai seseorang merasa lebih mulia hanya karena rumahnya lebih bagus.
Jangan sampai seorang anak merendahkan temannya karena pakaiannya sederhana.
Jangan sampai seorang guru membeda-bedakan siswa karena keadaan ekonomi keluarganya.
Jangan sampai seorang pemimpin mengabaikan masyarakat kecil karena mereka tidak memiliki kekuatan politik atau ekonomi.
Allah berfirman:
QS. Al-Hujurat ayat 13
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah kekayaan, bangunan, bangsa, atau kedudukan sosial, melainkan ketakwaan.
Perbedaan manusia seharusnya menjadi jalan untuk saling mengenal, bukan alasan untuk saling menghina.
Hadis tentang larangan merendahkan orang lain
Rasulullah ﷺ bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
Artinya:
“Cukuplah seseorang dianggap melakukan keburukan apabila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”
Hadis ini merupakan bagian dari hadis panjang yang diriwayatkan oleh Muslim. [^4]
Karena itu, jangan pernah menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan tertawaan.
Boleh jadi ia memiliki keterbatasan harta, tetapi memiliki kesabaran yang luar biasa.
Boleh jadi pendidikannya tidak tinggi, tetapi ia jujur dan amanah.
Boleh jadi rumahnya sederhana, tetapi keluarganya penuh kasih sayang.
Kita tidak mengetahui seluruh keadaan seseorang. Maka jagalah lisan dan rendahkan hati.
[^4]: Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, hadis no. 2564 dalam penomoran yang umum digunakan, tentang larangan saling merendahkan dan merusak persaudaraan.
I. Mengapa Allah memperlihatkan kehidupan yang berbeda?
Kita tidak mengetahui seluruh hikmah Allah dalam mempertemukan Dzulqarnain dengan kaum tersebut. Akan tetapi, kisah ini mengajak kita memperhatikan luasnya ciptaan Allah dan beragamnya kondisi manusia.
Allah berfirman:
QS. Ar-Rum ayat 22
وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ ٢٢
Artinya:
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”
Perbedaan merupakan bagian dari tanda kebesaran Allah.
Ada masyarakat yang tinggal di pegunungan.
Ada yang tinggal di pesisir.
Ada yang tinggal di daerah dingin.
Ada yang tinggal di wilayah panas.
Ada yang memiliki sumber daya melimpah.
Ada yang menghadapi keterbatasan alam.
Karena itu, jangan terburu-buru mengukur seluruh kehidupan manusia dengan pengalaman kita sendiri.
Sikap yang baik adalah berusaha memahami keadaan mereka, menghormati martabat mereka, dan membantu jika mereka membutuhkan bantuan.
J. Dari kisah Dzulqarnain menuju tanggung jawab seorang pemimpin
Jamaah yang dirahmati Allah ...
Dzulqarnain bukan sekadar seorang pengelana dalam kisah ini. Ia adalah sosok yang diberi kekuasaan dan sarana oleh Allah, sebagaimana disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya.
Maka ketika seorang pemimpin menjumpai masyarakat dengan kondisi kehidupan yang berbeda, ia semestinya tidak hanya melihat perbedaan itu. Ia juga perlu memahami kebutuhan mereka.
Dalam kehidupan masa kini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kepemimpinan harus memperhatikan:
- masyarakat yang kesulitan memperoleh tempat tinggal layak;
- anak-anak yang tidak memiliki fasilitas belajar memadai;
- keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok;
- orang yang mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelayanan;
- warga yang membutuhkan perlindungan dari kondisi lingkungan yang berbahaya.
Ini adalah penerapan nilai kepedulian dan keadilan, bukan klaim bahwa ayat tersebut secara eksplisit menceritakan program sosial tertentu yang dilakukan Dzulqarnain kepada kaum itu.
Allah berfirman:
QS. An-Nahl ayat 90
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ٩٠
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberikan bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Keadilan tidak cukup diucapkan. Ia harus terlihat dalam cara kita memperlakukan manusia.
K. Pelajaran bagi guru: jangan menilai siswa hanya dari fasilitasnya
Bagi para guru, ayat ini mengandung pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan sekolah.
Tidak semua siswa datang dari keluarga dengan keadaan ekonomi yang sama.
Tidak semua memiliki buku yang lengkap.
Tidak semua mempunyai ruang belajar yang nyaman.
Tidak semua memperoleh pendampingan belajar yang memadai di rumah.
Karena itu, seorang guru hendaknya menghindari sikap membanding-bandingkan siswa secara merendahkan.
Guru boleh menetapkan standar belajar, disiplin, dan tanggung jawab. Namun, guru juga perlu memahami hambatan yang dihadapi siswa dan membantu mereka mencari jalan untuk berkembang.
Kepada siswa yang belum berhasil, katakan:
“Kita cari tahu bagian mana yang belum kamu pahami, lalu kita perbaiki bersama.”
Kepada siswa yang tidak memiliki fasilitas memadai, carilah alternatif yang memungkinkan.
Kepada siswa yang menunjukkan kemajuan, berikan apresiasi.
Inilah pendidikan yang menggabungkan ketegasan, keadilan, dan kasih sayang.
L. Pelajaran bagi orang tua: ajarkan anak mengenali nikmat
Orang tua dapat menjadikan ayat ini sebagai bahan pendidikan syukur.
Saat anak mengeluh karena rumahnya tidak sebesar rumah orang lain, ajak ia melihat fungsi rumah dan nikmat keamanan.
Saat anak meminta barang yang tidak mampu dibeli keluarga, jelaskan keadaan dengan jujur tanpa mempermalukannya.
Saat anak melihat orang yang lebih miskin, jangan ajarkan ia merasa lebih mulia. Ajarkan ia untuk bersyukur dan membantu dengan hormat.
Kita tidak ingin anak hanya menjadi orang yang pandai membandingkan kepemilikan.
Kita ingin anak menjadi orang yang mampu berkata:
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ نِعْمَةٍ
“Segala puji bagi Allah atas setiap nikmat.”
Dan setelah bersyukur, ia menggunakan nikmat itu untuk melakukan kebaikan.
M. Melihat penderitaan harus melahirkan kepedulian
Jamaah yang dirahmati Allah ...
Ketika melihat orang lain hidup dalam kesulitan, ada dua sikap yang mungkin muncul.
Pertama, kita merasa lebih tinggi dan berkata:
“Untung saya tidak seperti mereka.”
Kedua, kita mengingat nikmat Allah lalu bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?”
Sikap kedua lebih dekat dengan akhlak kepedulian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya:
“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim. [^5]
Membantu tidak selalu harus dengan uang dalam jumlah besar.
Kita bisa membantu dengan tenaga.
Dengan ilmu.
Dengan informasi yang benar.
Dengan mengajar anak-anak yang membutuhkan.
Dengan memberikan pakaian yang layak.
Dengan membantu tetangga yang sedang kesulitan.
Dengan memperjuangkan akses dan perlindungan bagi orang yang rentan.
Yang penting, bantuan diberikan dengan ikhlas dan tidak merendahkan penerimanya.
[^5]: Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, hadis no. 2699 dalam penomoran yang umum digunakan, tentang keutamaan membantu sesama dan memudahkan urusan orang lain.
N. Jangan menganggap seluruh riwayat tentang kaum tersebut sebagai fakta pasti
Dalam sejumlah kitab tafsir, terdapat riwayat yang menggambarkan kaum di tempat terbit matahari sebagai masyarakat yang tinggal di lingkungan tanpa pepohonan atau bangunan, bahkan berlindung di tempat tertentu ketika matahari terik.
Namun, rincian tentang nama bangsa mereka, kebiasaan hidupnya secara lengkap, atau lokasi persisnya berbeda-beda dalam riwayat tafsir. Al-Qur'an tidak menyebut nama negara modern tertentu sebagai tempat mereka tinggal. [^6]
Karena itu, kita sebaiknya tidak mengatakan dengan pasti bahwa mereka berada di Tiongkok atau bahwa semua rincian kehidupan mereka telah terbukti secara sejarah.
Yang pasti dari ayat adalah:
- Dzulqarnain mencapai tempat terbit matahari.
- Ia mendapati suatu kaum di sana.
- Kaum tersebut tidak memiliki pelindung dari cahaya matahari sebagaimana disebutkan dalam ayat.
Adapun rincian lainnya perlu dinilai berdasarkan kekuatan riwayatnya.
Sikap ini bukan mengurangi keagungan Al-Qur'an. Justru ini bagian dari menjaga perbedaan antara wahyu yang pasti dan informasi tambahan yang belum tentu pasti.
[^6]: Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:90; Ath-Thabari, Jami‘ al-Bayan, tafsir ayat yang sama. Keduanya mencatat sejumlah pendapat dan riwayat mengenai identitas serta keadaan kaum tersebut. citeturn130008search5turn130008search10
O. Renungan: jangan sampai nikmat menjadikan kita lalai
Jamaah yang dirahmati Allah ...
Cobalah kita melihat kehidupan sehari-hari.
Kita bangun pagi dan masih bisa bernapas.
Kita berjalan dan masih bisa menggerakkan kaki.
Kita membaca Al-Qur'an dan masih bisa melihat tulisan.
Kita mendengar nasihat dan masih bisa memahami.
Kita mempunyai keluarga, teman, tempat tinggal, atau kesempatan untuk bekerja.
Semua itu bukan sesuatu yang pantas dianggap remeh.
Allah berfirman:
QS. Ar-Rahman ayat 13
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Artinya:
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat ini berulang dalam Surah Ar-Rahman, mengajak manusia dan jin untuk mengakui nikmat Allah.
Jangan sampai kita baru menyadari nikmat kesehatan setelah sakit.
Jangan sampai baru menghargai keluarga setelah kehilangan.
Jangan sampai baru menghargai rumah setelah tidak lagi memiliki tempat berteduh.
Jangan sampai baru menghargai kesempatan beribadah ketika usia sudah mendekati akhir.
Syukur berarti mengenali nikmat sebelum kita kehilangan kesempatan untuk menikmatinya.
P. Cara praktis mengamalkan ayat 90
Mari kita bawa pesan ayat ini ke dalam tindakan nyata.
Pertama, syukuri perlindungan yang kita miliki. Rawat rumah, jaga keluarga, dan gunakan tempat tinggal untuk hal-hal yang diridai Allah.
Kedua, jangan merendahkan orang yang hidupnya berbeda. Perbedaan fasilitas bukan ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah.
Ketiga, bantu orang yang membutuhkan sesuai kemampuan. Bantuan kecil yang diberikan dengan ikhlas bisa meringankan beban orang lain.
Keempat, gunakan kekuasaan dan kemampuan untuk memperbaiki keadaan. Jika menjadi guru, bantu siswa berkembang. Jika menjadi orang tua, lindungi dan didik anak. Jika menjadi pemimpin, perhatikan masyarakat yang rentan.
Kelima, bersikap ilmiah ketika membaca tafsir. Bedakan ayat yang jelas dari riwayat tambahan yang belum pasti.
Keenam, jangan hanya mengeluh tentang kekurangan. Tetaplah berusaha memperbaiki keadaan sambil bersyukur atas nikmat yang telah diberikan.
Q. Penutup ceramah
Jamaah yang dirahmati Allah ...
QS. Al-Kahf ayat 90 memperlihatkan kepada kita bahwa perjalanan Dzulqarnain tidak hanya melewati wilayah yang berbeda, tetapi juga mempertemukannya dengan masyarakat yang memiliki kondisi kehidupan berbeda.
Ayat ini mengingatkan kita bahwa dunia sangat luas dan kehidupan manusia tidak seragam.
Ada yang hidup berkecukupan.
Ada yang hidup sederhana.
Ada yang memiliki perlindungan dan fasilitas.
Ada yang menghadapi keterbatasan.
Namun, perbedaan itu bukan alasan untuk menyombongkan diri.
Justru ketika Allah memberikan lebih banyak nikmat kepada kita, seharusnya bertambah pula rasa syukur dan kepedulian kita.
Jangan sampai rumah yang kita miliki membuat kita merendahkan orang yang tidak punya rumah.
Jangan sampai ilmu yang kita miliki membuat kita menghina orang yang belum berilmu.
Jangan sampai jabatan yang kita miliki membuat kita melupakan orang-orang kecil.
Dan jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita lupa kepada Pemberi nikmat.
Mari kita renungkan:
Apakah nikmat yang Allah berikan kepada kita sudah membuat kita lebih bersyukur?
Apakah kemampuan yang kita miliki sudah membuat kita lebih peduli?
Apakah kedudukan kita sudah membantu orang lain mendapatkan kebaikan?
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mengenali nikmat-Nya, mensyukurinya, dan menggunakannya untuk kebaikan.
Doa penutup
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى شُكْرِ نِعَمِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَالْقِيَامِ بِحَقِّكَ.
Ya Allah, bantulah kami untuk mensyukuri nikmat-Mu, memperbaiki ibadah kami, dan menunaikan hak-Mu.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ نِعَمَكَ عَلَيْنَا سَبَبًا لِلْغَفْلَةِ وَالْكِبْرِ، وَاجْعَلْهَا سَبَبًا لِلشُّكْرِ وَالتَّوَاضُعِ.
Ya Allah, jangan jadikan nikmat-Mu sebagai sebab kelalaian dan kesombongan kami. Jadikanlah nikmat-Mu sebagai sebab bertambahnya syukur dan kerendahan hati kami.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا رَحِيمَةً، وَأَيْدِيَ مُعْطِيَةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً.
Ya Allah, karuniakan kepada kami hati yang penuh kasih sayang, tangan yang gemar memberi, lisan yang jujur, dan amal-amal yang saleh.
رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ وَالِدَيْنَا، وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ، وَأَصْلِحْ لَنَا فِي ذُرِّيَّاتِنَا.
Ya Tuhan kami, ilhamkanlah kepada kami agar senantiasa mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan kepada kedua orang tua kami, agar kami mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai, dan perbaikilah keturunan kami.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Catatan kaki dan daftar rujukan
[^1]: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:90. Penjelasan tentang kaum yang tidak memiliki pelindung dari matahari beserta riwayat mengenai keadaan lingkungan mereka. citeturn130008search0turn130008search1
[^2]: Isma‘il bin Umar Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Al-Kahf [18]:90. Penjelasan mengenai tidak adanya bangunan dan pepohonan yang melindungi kaum tersebut. citeturn130008search7turn130008search11
[^3]: Al-Bukhari dan Muslim, hadis tentang ibadah Nabi ﷺ dan ungkapan أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا, mengenai kesungguhan beliau dalam beribadah sebagai bentuk syukur.
[^4]: Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, hadis no. 2564 menurut penomoran yang umum digunakan, tentang larangan merendahkan sesama Muslim.
[^5]: Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, hadis no. 2699 menurut penomoran yang umum digunakan, tentang keutamaan membantu sesama dan memudahkan urusan orang lain.
[^6]: Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:90; Ath-Thabari, Jami‘ al-Bayan, tafsir ayat yang sama. Keduanya mencatat beberapa pendapat dan riwayat mengenai kaum tersebut. citeturn130008search5turn130008search10
Ayat Al-Qur'an pendukung: QS. Al-Kahf [18]:89–91; QS. An-Nahl [16]:80, 90; QS. Ibrahim [14]:34; QS. Al-Hujurat [49]:13; QS. Ar-Rum [30]:22; QS. Ar-Rahman [55]:13.
Post a Comment