Terus Menempuh Jalan: Iman yang Bergerak dan Ikhtiar yang Tidak Berhenti
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 89
“Terus Menempuh Jalan: Iman yang Bergerak dan Ikhtiar yang Tidak Berhenti”
QS. Al-Kahf: 89
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
Artinya:
“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain).”
A. PEMBUKAAN
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ada ayat Al-Qur'an yang hanya terdiri dari tiga kata, tetapi mengandung pelajaran yang sangat panjang tentang kehidupan.
Allah berfirman:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
“Kemudian dia menempuh suatu jalan.”
Tiga kata.
Tetapi di balik tiga kata ini ada pesan:
jangan berhenti.
Sudah sampai satu tujuan?
Lanjutkan perjalanan.
Sudah menyelesaikan satu pekerjaan?
Lanjutkan kepada pekerjaan berikutnya.
Sudah berhasil?
Jangan sombong.
Sudah gagal?
Jangan menyerah.
Sudah mendapatkan ilmu?
Amalkan.
Sudah beramal?
Tingkatkan.
Karena seorang mukmin tidak hidup untuk berhenti pada satu keberhasilan.
Ia terus berjalan menuju Allah.
B. AYAT 89 ADALAH KELANJUTAN AYAT 84–88
Kalau kita melihat rangkaian kisah Dzulqarnain, ada pola yang sangat indah.
Allah berfirman pada ayat 84:
وَاٰتَيْنٰهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا
“Kami telah memberikan kepadanya jalan/cara untuk mencapai segala sesuatu.”
Kemudian ayat 85:
فَاَتْبَعَ سَبَبًا
“Lalu dia menempuh suatu jalan.”
Kemudian setelah perjalanan pertama, Allah berfirman:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
“Lalu dia menempuh suatu jalan yang lain.”
Perhatikan.
Allah memberikan sebab.
Dzulqarnain kemudian menggunakan sebab.
Ini pelajaran yang sangat penting:
Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar.
Allah memberikan kemampuan.
Manusia harus menggunakannya.
Allah memberikan ilmu.
Manusia harus mengamalkannya.
Allah memberikan kesehatan.
Manusia harus menggunakannya untuk kebaikan.
Allah memberikan waktu.
Manusia harus mengisinya dengan amal.
C. MAKNA “سَبَبًا”
Kata:
سَبَبًا
berasal dari kata yang mengandung makna sarana, jalan, atau sesuatu yang menjadi perantara untuk mencapai tujuan.
Dalam konteks kisah Dzulqarnain, Allah sebelumnya menyebut bahwa Dia memberikan kepadanya berbagai sarana untuk mencapai tujuan.
Imam Ath-Thabari menjelaskan makna sabab sebagai sesuatu yang digunakan untuk mencapai apa yang hendak dicapai, termasuk pengetahuan tentangnya.[^1]
Al-Qurthubi juga menjelaskan bahwa asal makna sabab adalah tali, kemudian digunakan untuk segala sesuatu yang menjadi sarana menuju sesuatu yang lain.[^2]
Kesimpulannya:
Sebab adalah sarana.
Tetapi sarana bukan tujuan.
Mobil adalah sarana.
Ilmu adalah sarana.
Uang adalah sarana.
Jabatan adalah sarana.
Teknologi adalah sarana.
Kekuasaan adalah sarana.
Tubuh yang sehat adalah sarana.
Semua itu harus diarahkan menuju tujuan yang benar.
D. KOMENTAR ULAMA: ATH-THABARI
Ath-Thabari menjelaskan makna sabab:
وَالسَّبَبُ: مَا تَسَبَّبْتَ بِهِ إِلَى الشَّيْءِ
“Sebab adalah sesuatu yang dengannya engkau menuju kepada sesuatu.”
Makna ini sangat luas.
Dzulqarnain tidak hanya memiliki kemampuan.
Ia menggunakan kemampuan tersebut.
Tidak hanya memiliki jalan.
Ia menempuh jalan tersebut.
Tidak hanya memiliki sarana.
Ia memanfaatkan sarana tersebut.
[^1]: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:84–89.
E. KOMENTAR AL-QURTHUBI
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata sabab pada asalnya berkaitan dengan tali yang digunakan untuk mencapai sesuatu, kemudian maknanya digunakan secara lebih luas untuk segala sarana yang mengantarkan seseorang kepada tujuan.
Ringkasnya:
السَّبَبُ مَا يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى الشَّيْءِ
“Sebab adalah sesuatu yang dengannya seseorang dapat mencapai sesuatu.”
[^2]: Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:84–89.
F. PELAJARAN BESAR: ALLAH MEMBERI SEBAB, MANUSIA HARUS BERGERAK
Jamaah yang dirahmati Allah...
Perhatikan kalimat:
اَتْبَعَ
Artinya bukan sekadar:
“Dia mempunyai jalan.”
Tetapi:
“Dia menempuhnya.”
Ada perbedaan antara:
mengetahui jalan
dan
berjalan di jalan.
Banyak orang tahu jalan menuju kesuksesan.
Tetapi tidak banyak yang mau berjalan.
Banyak orang tahu pentingnya membaca Al-Qur'an.
Tetapi tidak semua membacanya.
Banyak orang tahu pentingnya salat.
Tetapi tidak semua menjaganya.
Banyak orang tahu bahwa ilmu itu penting.
Tetapi tidak semua mau belajar.
Banyak orang tahu bahwa kesehatan itu penting.
Tetapi tidak semua mau menjaga tubuhnya.
Maka ayat ini mengajarkan:
Jangan hanya memiliki “sabab”; ikutilah “sabab”.
G. DALIL: MANUSIA HARUS BERUSAHA
Allah berfirman:
QS. An-Najm: 39
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰى
Artinya:
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat ini bukan berarti semua hasil pasti sesuai dengan usaha manusia.
Hasil akhir tetap berada dalam kehendak Allah.
Tetapi ayat ini menanamkan prinsip:
Jangan menuntut hasil tanpa kesungguhan dalam usaha.
H. USAHA DAN TAWAKAL HARUS BERSAMA
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
Artinya:
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau bersikap lemah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Perhatikan tiga prinsip:
1. احْرِصْ
Bersemangatlah.
2. وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
Mintalah pertolongan kepada Allah.
3. وَلَا تَعْجِزْ
Jangan menyerah pada kelemahan.
Inilah keseimbangan Islam:
Ikhtiar tanpa Allah → kesombongan.
Mengaku tawakal tetapi tidak berusaha → kemalasan.
Ikhtiar + doa + tawakal → jalan seorang mukmin.
I. KOMENTAR IMAM AN-NAWAWI
Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadis ini menerangkan bahwa seseorang diperintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam perkara yang bermanfaat bagi dirinya, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak menyerah setelah mengambil sebab.
Maka hadis ini menjadi salah satu dasar penting dalam keseimbangan antara:
usaha manusia
dan
ketergantungan hati kepada Allah.
[^3]: An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, penjelasan hadis tentang احرص على ما ينفعك.
J. JANGAN MENUNGGU SEMPURNA UNTUK MULAI
Jamaah...
Kadang-kadang kita mengatakan:
“Nanti kalau sudah punya uang saya akan bersedekah.”
“Nanti kalau sudah punya waktu saya akan membaca Al-Qur'an.”
“Nanti kalau sudah tua saya akan rajin ke masjid.”
“Nanti kalau sudah pensiun saya akan belajar agama.”
“Nanti kalau sudah sukses saya akan membantu orang.”
Padahal kita tidak tahu apakah:
“nanti” itu masih menjadi milik kita.
Dzulqarnain mengajarkan:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
Setelah selesai satu perjalanan:
ia melanjutkan perjalanan berikutnya.
K. HIDUP ADALAH PERJALANAN DARI SATU AMANAH KE AMANAH BERIKUTNYA
Seorang anak selesai belajar di sekolah.
Kemudian ia melanjutkan pendidikan.
Selesai pendidikan.
Ia masuk dunia kerja.
Sudah bekerja.
Ia membangun keluarga.
Sudah berkeluarga.
Ia mendidik anak.
Sudah tua.
Ia mempersiapkan pertemuan dengan Allah.
Maka jangan merasa:
“Saya sudah selesai.”
Selama kita masih hidup:
Masih ada amanah.
Masih ada dosa yang harus ditaubati.
Masih ada ilmu yang harus dipelajari.
Masih ada amal yang harus diperbaiki.
Masih ada orang yang harus dimaafkan.
Masih ada hubungan keluarga yang harus diperbaiki.
Masih ada kebaikan yang harus dilakukan.
L. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN AGAR UMUR DIISI DENGAN AMAL
Rasulullah ﷺ bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara.”
Di antaranya:
شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ
“Masa mudamu sebelum masa tuamu.”
Dan:
حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Hidupmu sebelum kematianmu.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama.
Pesannya sangat jelas:
gunakan kesempatan sebelum kesempatan itu hilang.
M. DZULQARNAIN TIDAK BERHENTI PADA KEBERHASILAN
Bayangkan.
Dzulqarnain telah mencapai satu wilayah.
Ia sudah menyelesaikan satu tahap.
Tetapi Allah tidak menggambarkan dia duduk menikmati keberhasilan itu.
Allah berfirman:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
“Kemudian dia menempuh suatu jalan yang lain.”
Inilah mentalitas seorang mukmin:
Berhasil → bersyukur.
Gagal → belajar.
Diuji → bersabar.
Mendapat nikmat → tidak sombong.
Mendapat amanah → bertanggung jawab.
Selesai satu tugas → melanjutkan tugas berikutnya.
N. JANGAN TERLALU LAMA MENIKMATI PUJIAN
Ada penyakit yang kadang datang setelah keberhasilan:
terlena.
Ketika berhasil, orang mulai dipuji.
“Hebat!”
“Luar biasa!”
“Sukses!”
“Pintar!”
“Berpengaruh!”
Kemudian hati mulai berkata:
“Saya memang hebat.”
Di sinilah bahaya.
Karena keberhasilan yang seharusnya menjadi jalan menuju syukur justru berubah menjadi jalan menuju kesombongan.
Allah mengingatkan:
QS. An-Nahl: 53
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ
Artinya:
“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.”
Jadi ketika berhasil:
jangan berkata dalam hati: “Saya hebat.”
Tetapi katakan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ
“Segala puji bagi Allah.”
O. SARANA TIDAK BOLEH MENGALAHKAN PEMBERI SARANA
Ini pelajaran tauhid yang sangat penting.
Allah memberikan:
ilmu.
Allah memberikan:
kesehatan.
Allah memberikan:
harta.
Allah memberikan:
jabatan.
Allah memberikan:
kemampuan.
Tetapi jangan sampai kita mencintai sarana sedemikian rupa sehingga melupakan Allah.
Sebab:
السَّبَبُ لَا يَسْتَقِلُّ بِالتَّأْثِيرِ
Sarana tidak memiliki kekuasaan mutlak secara mandiri.
Ia bekerja karena Allah mengizinkannya.
Petani menanam.
Tetapi Allah yang menumbuhkan.
Dokter mengobati.
Tetapi Allah yang menyembuhkan.
Guru mengajar.
Tetapi Allah yang memberikan pemahaman.
Orang tua mendidik.
Tetapi Allah yang membolak-balik hati.
P. NABI IBRAHIM MENGAJARKAN KEPADA KITA SIAPA YANG MENYEMBUHKAN
Allah berfirman tentang Ibrahim عليه السلام:
QS. Asy-Syu'ara: 80
وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ
Artinya:
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
Perhatikan.
Nabi Ibrahim tidak mengatakan:
“Dokterlah yang menyembuhkan saya.”
Dokter adalah sebab.
Obat adalah sebab.
Tetapi kesembuhan pada akhirnya berada di tangan Allah.
Inilah tauhid dalam menggunakan sebab.
Q. BUKAN MENINGGALKAN SEBAB, TETAPI TIDAK MENYEMBAH SEBAB
Ada dua kesalahan.
Kesalahan pertama:
Meninggalkan sebab sama sekali.
“Saya tawakal kepada Allah, jadi tidak perlu berusaha.”
Ini bukan tawakal yang benar.
Kesalahan kedua:
Mengandalkan sebab sepenuhnya.
“Kalau saya punya uang, semuanya pasti selesai.”
Tidak.
Uang hanyalah sebab.
Sikap yang benar:
Ambil sebab semaksimal mungkin, tetapi gantungkan hati kepada Allah.
Itulah tawakal.
R. DALIL TAWAKAL: BURUNG MENCARI REZEKI
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Artinya:
“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Tirmidzi)
Perhatikan burung.
Burung tidak duduk di sarang menunggu makanan datang.
Ia:
pergi.
mencari.
bergerak.
Tetapi hatinya berada dalam ketentuan Allah.
Maka:
Tawakal tidak menghapus ikhtiar.
S. “ثُمَّ” — ADA TAHAPAN DALAM PERJALANAN
Kata pertama ayat ini:
ثُمَّ
“kemudian.”
Kata ini menunjukkan adanya tahapan.
Dzulqarnain tidak langsung sampai pada tujuan akhir.
Ia melewati:
satu tahap → tahap berikutnya → tahap berikutnya.
Ini pelajaran tentang proses.
Jangan menginginkan:
“Saya ingin langsung menjadi ahli.”
Tidak.
Belajar sedikit demi sedikit.
Jangan mengatakan:
“Saya ingin langsung hafal Al-Qur'an.”
Mulailah satu ayat.
Jangan mengatakan:
“Saya ingin langsung menjadi orang saleh.”
Mulailah dengan meninggalkan satu dosa.
Jangan mengatakan:
“Saya ingin langsung menjadi guru hebat.”
Mulailah dengan memperbaiki satu pembelajaran.
T. PERUBAHAN BESAR DIMULAI DARI LANGKAH KECIL
Allah berfirman:
QS. At-Taubah: 105
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۖ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’”
Perhatikan perintah:
اعْمَلُوا
“Bekerjalah!”
Bukan hanya:
“Berangan-anganlah.”
Tetapi:
Bekerjalah.
U. DZULQARNAIN: KEKUASAAN YANG DIIKUTI KERJA
Dzulqarnain telah diberikan:
- kekuasaan,
- kemampuan,
- pengetahuan,
- sarana,
- dan jalan.
Tetapi semua itu tidak berhenti pada potensi.
Ia bergerak.
Inilah perbedaan antara:
Potensi
dan
Prestasi.
Potensi tanpa tindakan hanya menjadi kemungkinan.
Ilmu tanpa amal hanya menjadi pengetahuan.
Niat tanpa tindakan hanya menjadi keinginan.
Rencana tanpa pelaksanaan hanya menjadi dokumen.
Maka:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
“kemudian dia menempuh jalan.”
V. JANGAN TAKUT MEMULAI PERJALANAN BARU
Ada orang yang takut memulai sesuatu yang baru.
Takut gagal.
Takut dikritik.
Takut salah.
Takut tidak sempurna.
Padahal kehidupan memang penuh perjalanan.
Nabi ﷺ mengajarkan:
وَالْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
Artinya:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan.”
Kemudian Nabi ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau menyerah.”
(HR. Muslim)
W. TIDAK SEMUA JALAN HARUS DITEMPUH
Namun ada satu hal penting.
Ayat:
اَتْبَعَ سَبَبًا
tidak berarti:
“Tempuh semua jalan yang tersedia.”
Tidak.
Seorang mukmin harus memilih jalan yang halal dan benar.
Tidak semua sarana boleh digunakan.
Tidak semua strategi boleh ditempuh.
Tidak semua cara dibenarkan untuk mencapai tujuan.
Prinsip Islam:
Tujuan yang baik tidak membenarkan cara yang haram.
Mencari uang adalah baik.
Tetapi korupsi bukan jalan yang halal.
Mencari keberhasilan adalah baik.
Tetapi menipu bukan jalan yang halal.
Mencapai kemenangan adalah baik.
Tetapi menzalimi orang lain bukan jalan yang dibenarkan.
X. SARANA YANG HALAL MENUJU TUJUAN YANG HALAL
Maka perjalanan seorang mukmin memiliki tiga unsur:
1. Tujuannya benar.
2. Jalannya halal.
3. Hatinya bergantung kepada Allah.
Jika salah satu hilang, perjalanan menjadi bermasalah.
Y. CATATAN PENTING TENTANG “TEMPAT TERBIT MATAHARI”
Dalam penafsiran yang Anda sertakan, disebutkan bahwa Dzulqarnain bergerak ke arah timur hingga sekitar negeri Tiongkok dan menemukan masyarakat yang tidak memiliki bangunan yang melindungi mereka dari matahari.
Keterangan semacam ini memang muncul dalam sebagian karya tafsir dan riwayat.
Tetapi kita harus berhati-hati.
Al-Qur'an sendiri tidak menyebut “Tiongkok”.
Allah hanya berfirman bahwa Dzulqarnain mencapai tempat terbit matahari dan mendapati suatu kaum di sana.
Allah berfirman:
QS. Al-Kahf: 90
حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلٰى قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَلْ لَّهُمْ مِّنْ دُوْنِهَا سِتْرًا
Artinya:
“Hingga ketika dia sampai ke tempat terbit matahari, dia mendapati matahari terbit pada suatu kaum yang Kami tidak menjadikan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya) matahari itu.”
Karena itu, kita tidak seharusnya memastikan:
“Dzulqarnain pasti sampai Tiongkok.”
jika tidak ada dalil yang tegas.
Begitu pula rincian geografis tertentu harus dibedakan antara:
teks Al-Qur'an
dan
riwayat/penafsiran sejarah.
Ini adalah sikap ilmiah dalam memahami Al-Qur'an.
Z. AL-QUR'AN TIDAK MEMINTA KITA TERLALU SIBUK MENEBak LOKASI
Mengapa Al-Qur'an tidak menyebut nama tempat secara rinci?
Karena tujuan utama kisah bukanlah membuat peta perjalanan Dzulqarnain.
Tujuan utamanya adalah mengambil ibrah.
Allah berfirman:
QS. Yusuf: 111
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِي الْاَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Artinya:
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Jadi pertanyaan terbesar bukan:
“Di mana tepatnya lokasi Dzulqarnain?”
Tetapi:
“Apa yang harus saya pelajari dari perjalanan Dzulqarnain?”
AA. PELAJARAN UNTUK GURU
Ayat ini sangat relevan dengan dunia pendidikan.
Seorang guru jangan berhenti pada:
“Saya sudah mengajar.”
Tanyakan:
“Apakah siswa memahami?”
Kemudian:
“Apakah siswa mampu menerapkan?”
Kemudian:
“Apakah ada perubahan perilaku?”
Kemudian:
“Apa yang harus saya perbaiki pada pembelajaran berikutnya?”
Inilah:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
Satu pembelajaran selesai.
Lanjutkan dengan perbaikan.
AB. PELAJARAN UNTUK SISWA
Anak-anak yang dirahmati Allah...
Jangan takut kalau hari ini belum pintar.
Yang penting:
terus belajar.
Hari ini belum bisa.
Besok coba lagi.
Hari ini salah.
Besok perbaiki.
Hari ini nilainya rendah.
Jangan menyerah.
Karena kesuksesan bukan hanya milik orang yang langsung pintar.
Kesuksesan sering menjadi milik orang yang:
mau terus berjalan ketika orang lain berhenti.
AC. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA
Orang tua juga harus memahami proses.
Jangan menuntut anak:
“Mengapa kamu belum seperti dia?”
Lebih baik katakan:
“Apa perkembanganmu dibandingkan kemarin?”
Karena pendidikan adalah perjalanan.
Anak tidak berubah dalam satu malam.
Akhlak dibangun berulang kali.
Kebiasaan dibentuk sedikit demi sedikit.
Dan tugas orang tua adalah menemani perjalanan itu.
AD. PELAJARAN UNTUK DIRI SENDIRI
Mari kita tanyakan:
Setelah salat, apa langkah berikutnya?
Setelah membaca Al-Qur'an, apa langkah berikutnya?
Setelah belajar ilmu, apa langkah berikutnya?
Setelah mengetahui dosa, apa langkah berikutnya?
Setelah bertaubat, apa langkah berikutnya?
Jawabannya:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
Terus menempuh jalan menuju Allah.
AE. JANGAN BERHENTI SETELAH BERTAUBAT
Ada orang yang berkata:
“Saya sudah banyak dosa. Tidak mungkin Allah menerima saya.”
Itu salah.
Setelah dosa:
taubat.
Setelah taubat:
perbaikan.
Setelah perbaikan:
istiqamah.
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar: 53
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Jangan berhenti di masa lalu.
Bangun.
Bertaubat.
Lanjutkan perjalanan.
AF. JANGAN BERHENTI KARENA SATU KEGAGALAN
Jamaah yang dirahmati Allah...
Kegagalan satu kali bukan akhir kehidupan.
Dzulqarnain memberikan gambaran tentang manusia yang terus bergerak dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya.
Maka jika hari ini gagal:
evaluasi.
Jika salah:
perbaiki.
Jika jatuh:
bangkit.
Jika tersesat:
kembali kepada Allah.
Jika pintu pertama tertutup:
cari jalan halal lainnya.
Tetapi jangan pernah mencari jalan menuju keberhasilan dengan cara yang dimurkai Allah.
AG. DOA YANG SANGAT PENTING
Kita membutuhkan Allah dalam setiap perjalanan.
Karena itu Nabi ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Artinya:
“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”
(HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i)
Perhatikan:
Kita tidak hanya meminta:
“Ya Allah, berikan hasil.”
Tetapi:
“Ya Allah, bantu aku dalam perjalanan menuju hasil itu.”
AH. RUMUS KEHIDUPAN DARI AYAT 89
Kalau ayat ini diringkas menjadi sebuah rumus:
ALLAH MEMBERI SEBAB
↓
KITA MENGGUNAKANNYA
↓
KITA BERUSAHA
↓
KITA BERDOA
↓
KITA BERTAWAKAL
↓
KITA EVALUASI
↓
KITA LANJUTKAN PERJALANAN
Inilah:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
AI. SEPULUH PESAN QS. AL-KAHF AYAT 89
1.
Jangan berhenti setelah satu keberhasilan.
2.
Gunakan sarana yang Allah berikan.
3.
Ilmu harus diikuti amal.
4.
Tawakal tidak berarti meninggalkan usaha.
5.
Jangan menggantungkan hati kepada sarana.
6.
Pilih sarana yang halal.
7.
Kesuksesan adalah proses bertahap.
8.
Kegagalan bukan alasan untuk berhenti.
9.
Jangan terlalu sibuk dengan detail sejarah yang tidak ditegaskan Al-Qur'an sehingga lupa mengambil pelajaran.
10.
Selama hidup, perjalanan menuju Allah belum selesai.
AJ. PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah...
Allah hanya berfirman:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
“Kemudian dia menempuh suatu jalan.”
Tetapi kalimat yang singkat ini seakan berkata kepada kita:
Jangan berhenti!
Kalau sudah selesai satu kebaikan:
lanjutkan kebaikan berikutnya.
Kalau sudah belajar:
amalkan.
Kalau sudah beramal:
tingkatkan.
Kalau sudah jatuh:
bangkit.
Kalau sudah bertaubat:
istiqamah.
Kalau sudah mendapatkan nikmat:
bersyukur.
Kalau mendapatkan ujian:
bersabar.
Dan ketika Allah memberikan kita sebuah sarana:
gunakan untuk mendekat kepada-Nya.
Jangan sampai Allah memberi kita:
ilmu, tetapi tidak diamalkan.
harta, tetapi tidak disedekahkan.
jabatan, tetapi digunakan untuk menzalimi.
waktu, tetapi dihabiskan dalam kesia-siaan.
kesehatan, tetapi tidak digunakan untuk ibadah.
Karena pada akhirnya semua sarana akan ditinggalkan.
Yang kita bawa menghadap Allah adalah:
iman dan amal.
Maka mari kita hidup dengan prinsip:
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
“Kemudian dia menempuh suatu jalan.”
Hari ini satu langkah.
Besok satu langkah lagi.
Tidak harus langsung sempurna.
Yang penting:
JANGAN BERHENTI BERJALAN MENUJU ALLAH.
AK. DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاسْتَعْمِلْنَا فِي مَرْضَاتِكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا وَأَعْمَالِنَا.
Ya Allah, bantulah kami untuk taat kepada-Mu, gunakanlah kami dalam perkara yang Engkau ridhai, dan berkahilah waktu serta amal kami.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْهِمَّةَ فِي الْخَيْرِ، وَالثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ، وَالصَّبْرَ عَلَى الطَّاعَةِ.
Ya Allah, karuniakan kepada kami semangat dalam kebaikan, keteguhan di atas kebenaran, dan kesabaran dalam ketaatan.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَعْرِفُونَ الْحَقَّ وَلَا يَعْمَلُونَ بِهِ.
Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا، وَعَمَلَنَا صَالِحًا، وَقَلْبَنَا مُخْلِصًا، وَطَرِيقَنَا إِلَيْكَ مُسْتَقِيمًا.
Ya Allah, jadikan ilmu kami bermanfaat, amal kami saleh, hati kami ikhlas, dan jalan kami menuju-Mu lurus.
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي أَوْلَادِنَا وَطُلَّابِنَا وَأَهْلِنَا، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِهُدَاهُمْ وَصَلَاحِهِمْ.
Ya Allah, berkahilah anak-anak, para siswa, dan keluarga kami. Jadikan kami sebab bagi petunjuk dan kebaikan mereka.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE
[^1]: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:84–89. Ath-Thabari menjelaskan sabab sebagai sesuatu yang menjadi jalan/perantara untuk mencapai suatu tujuan.
[^2]: Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Al-Kahf [18]:84–89. Al-Qurthubi membahas asal kata sabab dan penggunaannya untuk sarana menuju sesuatu.
[^3]: Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, syarah hadis احرص على ما ينفعك. Hadis tersebut mengajarkan kesungguhan mencari manfaat, meminta pertolongan Allah, dan tidak menyerah.
[^4]: Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab Al-Qadar, hadis احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز.
[^5]: Abu ‘Isa At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, hadis tentang tawakal kepada Allah dan burung yang keluar mencari rezeki pada pagi hari.
[^6]: Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]:84–90; QS. An-Najm [53]:39; QS. An-Nahl [16]:53; QS. Asy-Syu'ara [26]:80; QS. At-Taubah [9]:105; QS. Yusuf [12]:111; QS. Az-Zumar [39]:53.
PESAN INTI
Allah memberikan “sabab” kepada kita dalam berbagai bentuk: ilmu, waktu, kesehatan, harta, kemampuan, kesempatan, dan manusia yang membantu kita.
Tugas kita bukan menyembah sarana, tetapi menggunakan sarana itu untuk mencapai tujuan yang diridai Allah.
Maka jangan berhenti pada satu keberhasilan.
ثُمَّ اَتْبَعَ سَبَبًا
“Kemudian dia menempuh suatu jalan.”
Terus bergerak. Terus belajar. Terus beramal. Terus memperbaiki diri. Dan terus berjalan menuju Allah.
Post a Comment