Ketika Kesalehan Orang Tua Menjadi Perlindungan bagi Anak

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 82

Ketika Kesalehan Orang Tua Menjadi Perlindungan bagi Anak

Tema Besar:

Allah Menjaga Apa yang Kita Titipkan kepada-Nya, Bahkan Ketika Kita Tidak Mengetahuinya


A. PEMBUKAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah...

Pada ayat-ayat sebelumnya kita telah mengikuti perjalanan Nabi Musa ‘alaihissalam bersama Khidr.

Mereka melihat tiga peristiwa yang secara lahiriah sangat sulit dipahami:

Pertama, sebuah kapal dilubangi.

Kedua, seorang anak dibunuh.

Ketiga, sebuah dinding hampir roboh justru diperbaiki secara gratis di sebuah negeri yang penduduknya tidak mau menjamu mereka.

Nabi Musa mempertanyakan semuanya.

Kemudian pada ayat 78 sampai 82, Khidr menjelaskan rahasianya.

Kapal dilubangi untuk menyelamatkan pemiliknya.

Anak itu menjadi bagian dari takdir Allah yang memiliki hikmah yang tidak diketahui Musa.

Dan dinding itu ditegakkan karena di bawahnya terdapat harta milik dua anak yatim.

Tetapi ayat 82 memberikan satu kalimat yang sangat dalam:

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.”

Mengapa Allah menyebut kesalehan seorang ayah dalam kisah dua anak yatim?

Di sinilah kita menemukan salah satu pelajaran yang sangat menyentuh:

Kesalehan kita tidak berhenti pada diri kita.

Kebaikan seorang ayah dapat menjadi sebab Allah memberikan penjagaan kepada anak-anaknya.

Kesalehan seorang ibu dapat menjadi sebab hadirnya keberkahan di rumah.

Ibadah yang kita lakukan hari ini mungkin manfaatnya baru dirasakan anak kita bertahun-tahun kemudian.

Bahkan mungkin setelah kita meninggal dunia.


B. MEMBACA AYAT

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

QS. Al-Kahf: 82

وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا ۚفَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا

Artinya:

“Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai kedewasaan dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Demikianlah penjelasan terhadap apa yang tidak dapat engkau sabari.”

Ayat ini merupakan penjelasan terakhir Khidr terhadap seluruh peristiwa yang membuat Nabi Musa tidak mampu bersabar.


C. PELAJARAN PERTAMA

ALLAH MENJAGA HAK ANAK YATIM

Perhatikan keadaan dua anak tersebut.

Allah menyebut mereka:

غُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ

“Dua anak yatim.”

Mereka masih kecil.

Ayah mereka telah meninggal.

Mereka tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahankan hartanya.

Tetapi mereka mempunyai Allah.

Harta mereka berada di bawah sebuah dinding.

Jika dinding itu roboh, harta tersebut mungkin terlihat.

Jika terlihat, bisa saja diambil orang.

Maka Allah menjaga harta itu sampai mereka dewasa.

Ini menunjukkan bahwa:

Ketika manusia lemah, Allah tidak pernah lemah.

Ketika seorang anak tidak mampu menjaga dirinya, Allah mampu menjaganya.

Ketika seseorang tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, Allah mengetahui semuanya.

Ketika kita tidak mampu mengawasi sesuatu, Allah tidak pernah lalai.


D. ALLAH MELARANG MEMAKAN HARTA ANAK YATIM

Allah berfirman:

QS. An-Nisa: 2

وَاٰتُوا الْيَتٰمٰٓى اَمْوَالَهُمْ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيْثَ بِالطَّيِّبِ وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَهُمْ اِلٰٓى اَمْوَالِكُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ حُوْبًا كَبِيْرًا

Artinya:

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka, dan janganlah kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan janganlah kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sungguh, tindakan itu adalah dosa yang besar.”

Jamaah yang dirahmati Allah...

Perhatikan bagaimana Al-Qur'an menggunakan kata:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ

“Janganlah kalian memakan harta mereka.”

Mengapa “memakan”?

Karena manusia kadang merasa harta orang lain adalah sesuatu yang boleh dinikmati.

Padahal harta anak yatim bukan harta bebas.

Itu adalah amanah.


E. JANGAN MENDEKATI HARTA ANAK YATIM KECUALI DENGAN CARA TERBAIK

Allah bahkan berfirman:

QS. Al-Isra: 34

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۚ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

Artinya:

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik sampai dia mencapai kedewasaan. Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

Perhatikan ungkapannya:

لَا تَقْرَبُوا

“Jangan kalian dekati.”

Bukan sekadar:

“Jangan kalian ambil.”

Ini menunjukkan betapa seriusnya Islam menjaga harta anak yatim.


F. PELAJARAN KEDUA

HARTA BUKAN SEKADAR MILIK—HARTA ADALAH AMANAH

Di bawah dinding itu terdapat:

كَنْزٌ لَهُمَا

“Simpanan/harta milik mereka berdua.”

Tetapi harta itu tidak langsung diberikan kepada mereka.

Mengapa?

Karena mereka belum dewasa.

Ada waktu yang harus ditunggu.

Ada proses yang harus dilalui.

Ada kematangan yang harus dicapai.

Ini memberi pelajaran kepada kita:

Tidak semua sesuatu yang baik harus diberikan sekarang.

Kadang sesuatu ditunda bukan karena Allah tidak peduli.

Justru karena Allah sedang menjaganya.

Ada doa yang belum dikabulkan.

Ada rezeki yang belum datang.

Ada peluang yang belum terbuka.

Ada anak yang belum berubah.

Ada cita-cita yang belum tercapai.

Kita sering berkata:

“Ya Allah, mengapa belum?”

Padahal mungkin Allah sedang berkata:

“Belum. Karena waktunya belum tepat.”


G. ALLAH MENUNDA SAMPAI MEREKA MENCAPAI KEDEWASAAN

Allah berfirman:

فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا

“Allah menghendaki agar keduanya mencapai kedewasaan.”

Kata:

أَشُدَّهُمَا

mengandung makna mencapai kematangan/kekuatan.

Jadi Allah tidak hanya menjaga hartanya.

Allah juga menjaga pemilik harta itu sampai mereka siap menerimanya.

Ini luar biasa.

Allah menjaga:

hartanya,

pemiliknya,

waktunya,

dan masa depannya.


H. PELAJARAN KETIGA

KESALEHAN ORANG TUA BISA MENJADI SEBAB DATANGNYA KEBERKAHAN BAGI ANAK

Inilah bagian paling dalam dari ayat ini:

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Dan ayah mereka adalah orang yang saleh.”

Tidak disebutkan bahwa kedua anak itu saleh.

Tidak disebutkan pula bahwa mereka melakukan amal tertentu.

Allah justru menyebut:

ayah mereka saleh.

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa kesalehan seseorang dapat menjadi sebab penjagaan Allah terhadap keturunannya.

Beliau menulis secara ringkas:

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الرَّجُلَ الصَّالِحَ يُحْفَظُ فِي ذُرِّيَّتِهِ

“Di dalamnya terdapat dalil bahwa orang yang saleh mendapatkan penjagaan bagi keturunannya.”

Ini bukan berarti anak otomatis menjadi saleh hanya karena orang tuanya saleh.

Bukan.

Setiap manusia tetap bertanggung jawab atas amalnya sendiri.

Tetapi ayat ini menunjukkan bahwa kesalehan orang tua dapat menjadi sebab keberkahan dan penjagaan Allah terhadap keluarga.


I. BUKAN SEKADAR HARTA—ALLAH MENJAGA ANAK

Jamaah...

Mungkin kita berpikir:

“Bagaimana cara saya meninggalkan harta untuk anak?”

Tetapi Al-Qur'an mengajarkan pertanyaan yang lebih besar:

“Bagaimana cara saya meninggalkan kesalehan untuk anak?”

Karena harta bisa habis.

Rumah bisa rusak.

Tanah bisa dijual.

Tabungan bisa berkurang.

Tetapi pendidikan iman bisa menjadi bekal seumur hidup.

Maka seorang ayah jangan hanya berkata:

“Saya ingin meninggalkan rumah untuk anak.”

Tetapi katakan:

“Saya ingin meninggalkan iman untuk anak.”

Jangan hanya berpikir:

“Apa yang akan anak saya warisi?”

Tetapi tanyakan:

“Siapa yang akan menjadi anak saya setelah saya tidak ada?”


J. AL-QUR'AN: KESALEHAN DAN KETURUNAN

Allah berfirman:

QS. At-Tur: 21

وَالَّذِينَ اٰمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍۢ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

Artinya:

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Perhatikan keseimbangannya.

Islam mengajarkan dua hal sekaligus:

Pertama:

Keluarga orang beriman mendapatkan karunia Allah.

Kedua:

Setiap orang tetap bertanggung jawab atas amalnya.

Jadi kita tidak boleh berkata:

“Karena ayah saya ustaz, pasti saya selamat.”

Tidak.

Dan tidak boleh pula berkata:

“Karena saya saleh, anak saya pasti saleh.”

Tidak.

Yang benar:

Kita berusaha menjadi saleh, mendidik anak, mendoakan anak, dan memohon kepada Allah agar kesalehan kita menjadi sebab keberkahan bagi keluarga.


K. PELAJARAN KEEMPAT

ORANG SALEH TETAP HARUS BERUSAHA MELINDUNGI ANAK

Perhatikan tindakan Khidr.

Dia tidak berkata:

“Allah akan menjaga mereka, jadi saya tidak perlu melakukan apa-apa.”

Tidak.

Justru dia menegakkan dinding.

Ini menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti pasif.

Kita berdoa kepada Allah sekaligus melakukan sebab.

Seorang ayah berdoa:

“Ya Allah, jadikan anakku saleh.”

Tetapi setelah itu:

  • dia mengajari anak salat;
  • dia menjaga pergaulannya;
  • dia memperhatikan pendidikannya;
  • dia memberi nafkah halal;
  • dia mengawasi penggunaan teknologi;
  • dia menjadi teladan di rumah;
  • dia mengajak anak mencintai Al-Qur'an.

Doa tanpa usaha bukan tawakal yang sempurna.

Dan usaha tanpa Allah juga bukan sikap seorang mukmin.


L. PELAJARAN KELIMA

ALLAH MENJAGA ANAK YATIM DENGAN CARA YANG TIDAK KITA SANGKA

Dua anak itu mungkin tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperbaiki dinding untuk mereka.

Mereka mungkin tidur dengan tenang.

Mereka tidak tahu ada harta di bawah rumah.

Mereka tidak tahu bahwa dinding itu hampir roboh.

Mereka tidak tahu bahwa jika dinding itu roboh, harta mereka mungkin hilang.

Tetapi Allah tahu.

Inilah yang disebut:

رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Sebagai rahmat dari Tuhanmu.”

Perhatikan:

Allah tidak mengatakan:

عِلْمًا مِنْ رَبِّكَ

“sebagai ilmu dari Tuhanmu.”

Tetapi:

رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Sebagai rahmat dari Tuhanmu.”

Seakan-akan Allah ingin mengajarkan kepada kita:

Di balik sesuatu yang belum kita pahami, bisa terdapat rahmat yang belum kita lihat.


M. TIDAK SEMUA KEHILANGAN BERARTI ALLAH MENINGGALKAN KITA

Jamaah yang dirahmati Allah...

Kisah Musa dan Khidr mengajarkan sesuatu yang sangat dalam.

Kadang kita melihat:

“Kenapa Allah mengambil?”

Tetapi kita belum melihat:

“Untuk apa Allah mengambil?”

Kadang kita melihat:

“Kenapa Allah menunda?”

Tetapi kita belum melihat:

“Apa yang Allah sedang siapkan?”

Kadang kita berkata:

“Ya Allah, mengapa Engkau tidak memberiku sekarang?”

Padahal mungkin Allah sedang melindungi kita dari sesuatu yang belum kita ketahui.

Namun hati-hati:

Ini bukan berarti setiap penderitaan pasti akan segera berubah menjadi keuntungan duniawi.

Tidak.

Seorang mukmin tidak mengatakan:

“Kalau saya sabar, pasti Allah memberikan kembali persis apa yang hilang.”

Yang benar:

Kita percaya Allah Mahabijaksana dan tidak menzalimi hamba-Nya. Bentuk kebaikan dan waktunya adalah hak Allah.


N. PELAJARAN KEENAM

“وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي” — JANGAN BERTINDAK ATAS NAMA ALLAH TANPA ILMU

Khidr berkata:

وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي

“Dan aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”

Ini kalimat yang sangat penting.

Khidr menjelaskan bahwa tindakan-tindakan luar biasa itu bukan hasil hawa nafsunya.

Bukan eksperimen.

Bukan intuisi pribadi.

Bukan karena merasa dirinya memiliki kekuatan gaib.

Tetapi karena ada perintah dari Allah dalam konteks kisah tersebut.

Ibn Katsir menjadikan bagian ayat ini sebagai salah satu dalil yang dibahas ulama dalam persoalan kenabian Khidr. Status kenabian Khidr memang menjadi pembahasan ulama; karena itu kita tidak perlu menjadikan kisah ini sebagai pembenaran bagi siapa pun yang mengaku mendapatkan pengetahuan gaib untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat.

Ini kaidah penting:

Tidak boleh seseorang berkata:

“Saya mendapat ilham, maka saya boleh melakukan ini.”

“Saya merasa mendapat petunjuk batin, maka saya boleh melanggar hukum.”

“Saya tahu rahasianya, maka aturan syariat tidak berlaku bagi saya.”

Tidak!

Syariat Nabi Muhammad ﷺ adalah pedoman kita.


O. KISAH KHIDR BUKAN PEMBENARAN UNTUK MELAKUKAN KEMUNGKARAN

Ini perlu ditegaskan.

Khidr merusak kapal.

Khidr membunuh seorang anak.

Khidr melakukan tindakan yang tidak biasa.

Tetapi semua itu terjadi dalam kisah khusus yang Allah ceritakan sebagai bagian dari pengajaran kepada Nabi Musa.

Manusia biasa tidak boleh menggunakan kisah ini untuk berkata:

“Kalau saya yakin ada hikmah tersembunyi, saya boleh merusak harta orang.”

Atau:

“Kalau saya menduga seseorang akan berbuat jahat, saya boleh mencelakakannya.”

Sama sekali tidak.

Hukum syariat tidak dibangun atas klaim pengetahuan gaib pribadi.

Justru ayat ini mengajarkan:

وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي

“Dan aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”


P. PELAJARAN KETUJUH

ALLAH MEMILIKI RENCANA YANG MELAMPAUI PENGETAHUAN KITA

Dinding itu tampak tidak penting.

Penduduk kota tidak mau memberi makan.

Musa bahkan berkata:

لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

“Kalau engkau mau, tentu engkau dapat meminta upah atasnya.”

Tetapi Khidr tahu sesuatu yang Musa belum tahu:

Di bawah dinding itu ada harta dua anak yatim.

Inilah masalah manusia.

Kita sering menilai kehidupan berdasarkan apa yang tampak di permukaan.

Kita melihat:

“Ini kerugian.”

Allah mengetahui:

“Ini perlindungan.”

Kita melihat:

“Ini penundaan.”

Allah mengetahui:

“Ini persiapan.”

Kita melihat:

“Ini kehilangan.”

Allah mengetahui:

“Ini penjagaan.”

Tetapi sekali lagi:

Kita tidak boleh mengklaim mengetahui hikmah khusus dari setiap musibah.

Yang wajib adalah husnuzan kepada Allah, sabar, berikhtiar, dan mencari pelajaran.


Q. PELAJARAN KEDELAPAN

HARTA ANAK YATIM HARUS DIJAGA SAMPAI MEREKA MAMPU

Allah berfirman:

QS. An-Nisa: 6

وَابْتَلُوا الْيَتٰمٰى حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ ۚ فَاِنْ اٰنَسْتُمْ مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوْٓا اِلَيْهِمْ اَمْوَالَهُمْ ۚ وَلَا تَأْكُلُوْهَآ اِسْرَافًا وَّبِدَارًا اَنْ يَّكْبَرُوْا ۗ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۚ وَمَنْ كَانَ فَقِيْرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ فَاِذَا دَفَعْتُمْ اِلَيْهِمْ اَمْوَالَهُمْ فَاَشْهِدُوْا عَلَيْهِمْ ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ حَسِيْبًا

Artinya:

“Ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas dan mampu mengelola harta, serahkanlah kepada mereka harta mereka. Janganlah kamu memakannya secara berlebihan dan jangan pula tergesa-gesa sebelum mereka dewasa. Barang siapa kaya, hendaklah dia menahan diri; dan barang siapa miskin, maka bolehlah dia makan dari harta itu menurut cara yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, hendaklah kamu adakan saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas.”

Jadi Islam tidak hanya berkata:

“Kasihanilah anak yatim.”

Islam juga memberikan:

sistem perlindungan harta,

amanah pengelolaan,

batas penggunaan,

dan mekanisme penyerahan harta.


R. KEUTAMAAN MEMELIHARA ANAK YATIM

Rasulullah ﷺ bersabda:

HR. Bukhari

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا، وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Artinya:

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim di dalam surga seperti ini.”

Kemudian beliau ﷺ mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah.

Hadis ini sahih dan diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari; Muslim juga meriwayatkan hadis semakna.

Jamaah...

Perhatikan.

Nabi tidak mengatakan:

“Orang yang memberi uang kepada anak yatim.”

Tetapi:

كَافِلُ الْيَتِيمِ

Orang yang mengurus, merawat, memperhatikan dan memenuhi kebutuhannya.

Maka mengurus anak yatim bukan hanya memberi makanan.

Tetapi juga:

  • melindungi;
  • mendidik;
  • menjaga kehormatan;
  • menjaga hartanya;
  • memberikan kasih sayang;
  • memperhatikan pendidikannya;
  • membimbingnya menuju kemandirian.

S. ANAK SALEH ADALAH INVESTASI YANG TERUS MENGALIR

Rasulullah ﷺ bersabda:

HR. Muslim no. 1631

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 1631.

Maka kalau kita benar-benar mencintai anak kita, jangan hanya memikirkan:

“Apa yang akan saya berikan kepada anak?”

Tetapi pikirkan:

“Apa yang akan saya tinggalkan di dalam hati anak?”

Apakah:

  • Al-Qur'an?
  • salat?
  • kejujuran?
  • adab?
  • ilmu?
  • kasih sayang?
  • iman?
  • keberanian?
  • tanggung jawab?

T. KESALEHAN ORANG TUA BUKAN JAMINAN ANAK OTOMATIS SALEH

Kita harus memahami ayat dengan seimbang.

Ayat ini tidak mengajarkan bahwa:

“Kalau orang tua saleh, anak pasti saleh.”

Tidak.

Lihat Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Beliau adalah seorang nabi.

Tetapi salah seorang anaknya tidak mengikuti keimanan beliau.

Allah berfirman:

QS. At-Tahrim: 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”

Maka tugas orang tua adalah:

berusaha, mendidik, mendoakan, memberi teladan.

Hidayah adalah milik Allah.


U. JANGAN HANYA MEWARISKAN HARTA, WARISKAN KESALEHAN

Jamaah yang dirahmati Allah...

Ada orang tua yang bekerja keras sepanjang hidupnya.

Ia berkata:

“Saya ingin anak saya punya rumah.”

Bagus.

“Saya ingin anak saya punya kendaraan.”

Bagus.

“Saya ingin anak saya punya tabungan.”

Bagus.

Tetapi jangan berhenti di sana.

Katakan:

“Saya ingin anak saya punya iman.”

“Saya ingin anak saya mengenal Allah.”

“Saya ingin anak saya mencintai Al-Qur'an.”

“Saya ingin ketika saya meninggal, anak saya masih mendoakan saya.”

Karena rumah akan ditempati.

Mobil akan dikendarai.

Uang akan dibelanjakan.

Tetapi anak saleh dapat menjadi sebab mengalirnya pahala setelah kita tidak lagi berada di dunia.


V. PELAJARAN KESEMBILAN

JADILAH ORANG TUA YANG “MEMBANGUN DINDING” UNTUK ANAK

Khidr membangun dinding.

Kalau kita tarik menjadi pelajaran pendidikan, orang tua juga harus membangun “dinding”.

Bukan dinding yang mengurung anak.

Tetapi dinding perlindungan.

Dinding pertama: iman

Ajarkan:

مَنْ رَبُّكَ؟

“Siapa Tuhanmu?”

Dinding kedua: salat

Ajarkan anak mencintai salat sebelum kita menuntut kesempurnaan.

Dinding ketiga: Al-Qur'an

Jangan biarkan anak hanya akrab dengan layar tetapi asing dengan Al-Qur'an.

Dinding keempat: adab

Ajarkan bagaimana berbicara kepada orang tua, guru, teman dan masyarakat.

Dinding kelima: pergaulan

Tidak semua orang boleh menjadi teman dekat anak.

Dinding keenam: harta halal

Anak yang dibesarkan dengan makanan halal sedang dibangun fondasi kehidupannya.

Dinding ketujuh: doa

Karena ada bagian kehidupan anak yang tidak dapat kita jangkau.

Di situlah kita membutuhkan Allah.


W. PELAJARAN KESEPULUH

ORANG TUA MUNGKIN TIDAK MELIHAT HASIL KEBAIKANNYA SEKARANG

Dinding itu dibangun ketika anak-anak masih kecil.

Harta itu belum boleh mereka ambil.

Mereka belum mengetahui manfaatnya.

Tetapi beberapa tahun kemudian, mereka akan dewasa.

Mereka akan mengambil harta itu.

Demikian pula pendidikan.

Ayah mengajari anak salat hari ini.

Belum tentu besok anak langsung sempurna.

Ibu mengajari anak membaca Al-Qur'an.

Belum tentu besok anak langsung menjadi hafiz.

Guru menanamkan adab.

Belum tentu hasilnya langsung terlihat.

Tetapi jangan berhenti menanam.

Karena:

Tugas kita menanam. Allah yang menumbuhkan.


X. PELAJARAN KESEBELAS

ALLAH TIDAK MENYIA-NYIAKAN KEBAIKAN

Allah berfirman:

QS. At-Taubah: 120

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

Ayat ini menjadi prinsip besar:

Kebaikan tidak pernah hilang di sisi Allah.

Mungkin manusia tidak melihat.

Mungkin orang tidak berterima kasih.

Mungkin anak belum memahami.

Mungkin murid belum menghargai.

Mungkin pasangan belum menyadari.

Tetapi Allah tahu.

Allah menghitung.

Allah menyimpan.

Allah akan membalas.


Y. KETIKA KITA BERBUAT BAIK TETAPI TIDAK DIHARGAI

Ingat penduduk kota dalam kisah ini.

Musa dan Khidr datang.

Mereka meminta makanan.

Penduduk menolak menjamu.

Namun ketika melihat dinding hampir roboh, Khidr memperbaikinya.

Tanpa meminta bayaran.

Musa berkata:

لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

“Kalau engkau mau, tentu engkau dapat mengambil upah atasnya.”

Ini mengajarkan:

Jangan menjadikan kebaikan selalu bergantung pada ucapan terima kasih manusia.

Kita boleh menerima upah atas pekerjaan yang memang berhak mendapatkan upah.

Tetapi dalam amal yang kita lakukan karena Allah, jangan sampai hati kita hancur hanya karena manusia tidak menghargainya.

Katakan:

حَسْبِيَ اللَّهُ

“Cukuplah Allah bagiku.”

Karena manusia mungkin lupa.

Allah tidak pernah lupa.


Z. PENUTUP KISAH MUSA DAN KHIDR

Ayat ini ditutup dengan:

ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Demikianlah penjelasan terhadap apa yang tidak dapat engkau sabari.”

Sekarang Musa mengetahui.

Kapal itu ternyata rahmat.

Anak itu ternyata bagian dari takdir yang memiliki hikmah.

Dinding itu ternyata perlindungan.

Dan seluruh perjalanan itu mengajarkan:

Manusia melihat peristiwa. Allah mengetahui seluruh rangkaian hikmah.

Kita melihat satu halaman.

Allah mengetahui seluruh buku.

Kita melihat hari ini.

Allah mengetahui masa lalu, hari ini dan masa depan.

Kita melihat kehilangan.

Allah mengetahui keselamatan yang mungkin tersembunyi di baliknya.


AA. TIGA KALIMAT BESAR DARI KISAH INI

Jamaah yang dirahmati Allah...

Kalau kita ingin membawa pulang tiga kalimat dari ayat ini, ingatlah:

1. JADILAH SALEH

Karena Allah menyebut:

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.”

Kesalehan kita bukan hanya untuk kita.


2. JAGALAH YANG LEMAH

Dua anak itu yatim.

Allah menjaga mereka.

Maka jangan mengambil kesempatan dari kelemahan orang lain.

Jangan menipu orang yang tidak tahu.

Jangan memakan harta orang yang tidak mampu membela dirinya.

Jangan menyalahgunakan amanah.


3. PERCAYALAH KEPADA HIKMAH ALLAH

رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Sebagai rahmat dari Tuhanmu.”

Tidak semua rahmat datang dalam bentuk yang kita sukai.

Tidak semua penjagaan Allah terasa nyaman.

Tidak semua penundaan berarti penolakan.

Tidak semua kehilangan berarti keburukan.

Tetapi kita tetap wajib menjalani syariat, berikhtiar, berdoa dan bersabar.


AB. RENUNGAN UNTUK PARA AYAH

Ayah...

Mungkin anakmu belum tahu berapa banyak malam yang engkau habiskan untuk bekerja.

Mungkin anakmu belum tahu berapa banyak doa yang engkau panjatkan.

Mungkin anakmu belum tahu berapa banyak kesulitan yang engkau sembunyikan.

Tetapi jadilah seperti ayah dalam ayat ini:

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

Jadilah ayah yang saleh.

Bukan ayah yang sempurna.

Tetapi ayah yang terus memperbaiki diri.

Ayah yang ketika salah meminta maaf.

Ayah yang menjaga salat.

Ayah yang mencari nafkah halal.

Ayah yang tidak malu menangis ketika berdoa untuk anak.

Ayah yang berkata:

“Nak, ayah mungkin tidak bisa memberikan semua yang engkau inginkan. Tetapi ayah akan berusaha memberikanmu iman, ilmu dan doa.”


AC. RENUNGAN UNTUK PARA IBU

Ibu...

Jangan pernah meremehkan doa seorang ibu.

Ketika engkau mencuci pakaian anakmu, engkau bisa sambil mendoakan.

Ketika memasak, engkau bisa mendoakan.

Ketika menemani belajar, engkau bisa mendoakan.

Ketika anak tidur, engkau bisa mendoakan.

Karena pendidikan anak tidak hanya terjadi melalui ceramah panjang.

Kadang pendidikan terbesar terjadi melalui:

teladan,

pelukan,

kesabaran,

doa yang diam-diam.


AD. RENUNGAN UNTUK PARA GURU

Guru juga harus belajar dari ayat ini.

Tidak semua benih yang kita tanam langsung tumbuh.

Hari ini seorang murid mungkin belum berubah.

Hari ini mungkin ia masih sulit diatur.

Hari ini mungkin ia belum memahami nasihat.

Jangan cepat mengatakan:

“Anak ini tidak akan berubah.”

Kita tidak tahu.

Bisa jadi nasihat yang kita sampaikan hari ini baru tumbuh sepuluh tahun kemudian.

Tugas guru:

menanam.

Allah yang menumbuhkan.


AE. DOA

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا، وَأَصْلِحْ لَنَا أَهْلَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا.

Artinya:

“Ya Allah, perbaikilah agama kami, perbaikilah dunia kami, dan perbaikilah keluarga serta keturunan kami.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا صَالِحِينَ مُصْلِحِينَ، وَاجْعَلْ صَلَاحَنَا سَبَبًا لِصَلَاحِ ذُرِّيَّاتِنَا.

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang saleh dan memperbaiki, dan jadikan kesalehan kami sebagai sebab kesalehan keturunan kami.”

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَاحْفَظْ أَيْتَامَ الْمُسْلِمِينَ، وَارْعَهُمْ بِرِعَايَتِكَ.

Artinya:

“Ya Allah, jagalah anak-anak kami dan anak-anak perempuan kami. Jagalah anak-anak yatim kaum Muslimin dan peliharalah mereka dengan penjagaan-Mu.”

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا أَبْنَاءً صَالِحِينَ، وَذُرِّيَّةً طَيِّبَةً، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Artinya:

“Ya Allah, karuniakan kepada kami anak-anak yang saleh dan keturunan yang baik. Jadikan mereka penyejuk mata bagi kami di dunia dan akhirat.”

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ بُيُوتَنَا بُيُوتًا قُرْآنِيَّةً، وَأَنْ تَجْعَلَ أَبْنَاءَنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ.

Artinya:

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan rumah-rumah kami sebagai rumah yang Qur’ani dan menjadikan anak-anak kami termasuk orang-orang yang dekat dengan Al-Qur'an.”

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

Artinya:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”


PENUTUP

Jamaah yang dirahmati Allah...

QS. Al-Kahf ayat 82 bukan hanya kisah tentang sebuah dinding.

Ia adalah kisah tentang:

anak yatim,

amanah,

harta,

kesalehan orang tua,

perlindungan Allah,

kesabaran,

dan rahmat yang tersembunyi.

Dinding itu berdiri karena di bawahnya ada harta.

Tetapi lebih dalam lagi:

Dinding itu berdiri karena ada rahmat Allah.

Dan Allah menyebut sebab yang sangat indah:

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.”

Maka jangan hanya sibuk meninggalkan harta untuk anak.

Tinggalkanlah kesalehan.

Jangan hanya membangun rumah untuk anak.

Bangunlah iman di dalam hatinya.

Jangan hanya menyimpan uang untuk masa depannya.

Simpanlah doa untuk kehidupannya.

Dan jangan pernah meremehkan satu amal saleh yang kita lakukan hari ini.

Karena kita tidak tahu...

amal mana yang kelak menjadi sebab Allah menjaga anak-anak kita ketika kita sudah tidak mampu lagi menjaganya.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN ILMIAH DAN FOOTNOTE

[1] Tafsir Ibn Kathir, QS. Al-Kahf: 82. Ibn Kathir menjelaskan bahwa penyebutan kesalehan ayah menunjukkan adanya penjagaan Allah terhadap keturunannya dan keberkahan kesalehan orang tua bagi anak-anaknya.

[2] Tafsir Al-Qurtubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, QS. Al-Kahf: 82. Al-Qurtubi membahas makna “وكان أبوهما صالحا” dan menyebut bahwa ayat tersebut menunjukkan hubungan antara kesalehan orang tua dan penjagaan terhadap keturunan. Ia juga membahas perbedaan pendapat ulama mengenai apakah “ayah” tersebut ayah langsung atau leluhur sebelumnya.

[3] Sahih al-Bukhari, Kitāb al-Adab, hadis no. 6005/5304. Keutamaan orang yang mengasuh anak yatim: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini.”

[4] Sahih Muslim, hadis no. 2983. Hadis dengan makna serupa tentang kedekatan orang yang mengasuh anak yatim dengan Nabi ﷺ di surga.

[5] Sahih Muslim, hadis no. 1631. Tentang tiga amal yang terus mengalir setelah seseorang meninggal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

[6] QS. Al-Isra: 34. Larangan mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik sampai mereka mencapai kedewasaan.

[7] QS. An-Nisa: 2 dan 6. Prinsip perlindungan harta anak yatim dan kewajiban menyerahkannya ketika telah mencapai kematangan serta kemampuan mengelola harta.

[8] QS. At-Tur: 21. Allah menghubungkan keturunan orang beriman dengan orang tua mereka dalam kenikmatan surga ketika keturunan tersebut mengikuti mereka dalam iman, tanpa mengurangi pahala amal masing-masing.

[9] Catatan tentang Khidr. Ibn Kathir menyebut ayat “وما فعلته عن أمري” sebagai salah satu dalil yang digunakan ulama dalam pembahasan status Khidr, terutama mengenai kenabiannya. Karena terdapat pembahasan dan perbedaan pendapat ulama, status tersebut tidak perlu dijadikan pokok ceramah. Yang pasti dari ayat adalah bahwa tindakan Khidr dalam kisah tersebut bukan tindakan berdasarkan hawa nafsu pribadi.

[10] Catatan penting tentang “kesalehan orang tua”. Ayat tidak berarti bahwa anak otomatis menjadi saleh hanya karena orang tuanya saleh. Setiap manusia tetap bertanggung jawab atas amalnya sendiri. Makna yang tepat adalah bahwa kesalehan orang tua dapat menjadi sebab keberkahan dan penjagaan Allah, sebagaimana dijelaskan oleh para mufasir.

Tidak ada komentar