Bertanya untuk Mencari Kebenaran, Bukan Sekadar Menguji
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 83
Bertanya untuk Mencari Kebenaran, Bukan Sekadar Menguji
Tema:
Adab Bertanya, Validitas Ilmu, dan Kisah yang Menjadi Ibrah
A. PEMBUKAAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Pada ayat sebelumnya, Allah menutup kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dan Khidr.
Kemudian tiba-tiba Al-Qur’an berpindah kepada sebuah kisah baru:
kisah Dzulkarnain.
Allah tidak langsung menceritakan:
siapa nama aslinya,
di mana ia dilahirkan,
siapa ayahnya,
berapa luas kerajaannya,
atau bagaimana bentuk istananya.
Tetapi Allah memulai dengan kalimat:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ
“Mereka bertanya kepadamu tentang Dzulkarnain.”
Seakan-akan Al-Qur’an sedang mengajarkan kepada kita:
Pertanyaan yang baik harus diarahkan kepada ilmu yang bermanfaat.
Sebab manusia bisa bertanya karena ingin mendapatkan petunjuk.
Tetapi manusia juga bisa bertanya hanya untuk menguji, menjatuhkan, berdebat, atau mencari-cari kesalahan.
Dan ternyata pertanyaan tentang Dzulkarnain muncul dalam konteks pengujian terhadap Rasulullah ﷺ menurut penjelasan sejumlah mufasir. Ibn Kathir menyebut bahwa kaum musyrik Makkah meminta informasi dari Ahlul Kitab untuk menguji Nabi ﷺ.
Namun Allah tidak menjadikan kisah itu sebagai arena debat.
Allah menjadikannya wahyu dan pelajaran.
B. MEMBACA QS. AL-KAHF AYAT 83
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنْ ذِى الْقَرْنَيْنِ ۗ قُلْ سَاَتْلُوْا عَلَيْكُمْ مِّنْهُ ذِكْرًا
Artinya:
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah, ‘Akan kubacakan kepadamu kisahnya.’”
Perhatikan pilihan kata Allah:
سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ
“Aku akan membacakan kepada kalian.”
Bukan:
“Aku akan menceritakan seluruh detail kehidupannya.”
Tetapi:
مِنْهُ ذِكْرًا
“Sebagian dari kisahnya sebagai peringatan.”
Inilah kunci memahami ayat ini.
C. APA MAKSUD “ذِكْرًا”?
Kata:
ذِكْرًا
berasal dari akar kata ذ ك ر, yang berkaitan dengan mengingat, menyebut, mengambil pelajaran dan peringatan.
Al-Qur’an tidak mengatakan:
“Aku akan menceritakan semua sejarah Dzulkarnain.”
Tetapi:
سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا
“Akan Aku bacakan kepada kalian sebagian dari kisahnya.”
Artinya:
Yang penting bukan seluruh detail sejarah.
Yang penting adalah:
apa yang dapat mengingatkan kita kepada Allah.
Apa yang dapat memperbaiki iman.
Apa yang dapat menjadi ibrah.
Apa yang dapat membentuk akhlak.
As-Sa‘di menjelaskan:
فِيهِ نَبَأٌ مُفِيدٌ ... وَيَكُونُ عِبْرَةً
“Di dalamnya terdapat berita yang bermanfaat ... dan menjadi pelajaran.”
Ia menegaskan bahwa yang diceritakan Al-Qur’an adalah bagian kisah yang mengandung peringatan dan ibrah, bukan seluruh detail kehidupan Dzulkarnain.
Inilah metode Al-Qur’an:
Bukan sekadar informasi, tetapi transformasi.
D. PELAJARAN PERTAMA
TIDAK SEMUA INFORMASI ITU ILMU YANG BERMANFAAT
Jamaah...
Hari ini manusia hidup dalam banjir informasi.
Dulu seseorang harus pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi.
Sekarang informasi datang ke tangan kita.
Dalam satu menit:
- berita masuk;
- video masuk;
- pesan WhatsApp masuk;
- komentar masuk;
- potongan ceramah masuk;
- konten media sosial masuk;
- opini masuk.
Tetapi masalahnya:
Banyak informasi tidak otomatis berarti banyak ilmu.
Kita bisa mengetahui ribuan hal tetapi tidak semakin dekat kepada Allah.
Kita bisa hafal banyak berita tetapi tidak tahu bagaimana memperbaiki salat.
Kita bisa mengikuti banyak tokoh tetapi tidak memahami Al-Qur'an.
Kita bisa membaca banyak komentar tetapi tidak memiliki kemampuan membedakan benar dan salah.
Karena itu Al-Qur’an mengajarkan:
Cari ilmu, bukan sekadar informasi.
E. AL-QUR’AN MELARANG BERBICARA TANPA ILMU
Allah berfirman:
QS. Al-Isra’: 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
Ibn Kathir ketika menjelaskan ayat ini menyebut makna yang sangat penting:
لَا تَقُلْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Jangan mengatakan sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
Ini adalah prinsip besar dalam Islam.
F. TIGA SUMBER YANG HARUS KITA JAGA
Allah menyebut:
السَّمْعَ
pendengaran,
وَالْبَصَرَ
penglihatan,
وَالْفُؤَادَ
hati.
Ketiganya akan dimintai pertanggungjawaban.
Maka tanyakan kepada diri kita:
Apa yang saya dengar?
Apakah ilmu?
Atau ghibah?
Apa yang saya lihat?
Apakah sesuatu yang bermanfaat?
Atau sesuatu yang merusak hati?
Apa yang saya masukkan ke dalam hati?
Apakah Al-Qur'an?
Atau kebencian, iri, fitnah dan prasangka?
G. PELAJARAN KEDUA
BERTANYA ITU BAIK, TETAPI NIAT BERTANYA HARUS BENAR
Ayat dimulai:
وَيَسْأَلُونَكَ
“Mereka bertanya kepadamu.”
Islam tidak melarang bertanya.
Justru bertanya merupakan jalan menuju ilmu.
Allah berfirman:
QS. An-Nahl: 43
فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini mengajarkan:
Kalau tidak tahu, bertanyalah.
Jangan malu mengatakan:
“Saya tidak tahu.”
Karena kalimat:
لَا أَعْلَمُ
“Aku tidak tahu”
adalah salah satu bentuk kejujuran ilmiah.
H. BERTANYA BUKAN BERARTI MENENTANG
Jamaah...
Ada perbedaan antara:
bertanya untuk memahami
dan
bertanya untuk menjatuhkan.
Ada orang bertanya:
“Ustaz, saya belum paham. Mohon dijelaskan.”
Ini pertanyaan seorang pencari ilmu.
Tetapi ada orang bertanya:
“Kalau memang benar, coba jawab ini!”
Bukan karena ingin memahami.
Tetapi karena ingin menjatuhkan.
Maka masalah bukan hanya:
Apa pertanyaannya?
Tetapi:
Untuk apa pertanyaan itu diajukan?
I. PELAJARAN KETIGA
ALLAH MENGAJARKAN RASULULLAH MENJAWAB DENGAN WAHYU
Perhatikan jawaban Allah:
قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا
“Katakanlah, akan Aku bacakan kepada kalian kisahnya.”
Rasulullah ﷺ tidak mengarang jawaban.
Beliau tidak berkata:
“Menurut pendapat saya...”
Beliau tidak membuat cerita untuk menyenangkan orang Quraisy.
Beliau menunggu wahyu Allah.
Ini menunjukkan bahwa:
Dalam perkara agama, sumber kebenaran bukan sekadar kecerdasan manusia.
Kita membutuhkan:
wahyu,
Al-Qur'an,
Sunnah,
dan pemahaman ulama yang terpercaya.
J. HADIS: JIKA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN
Rasulullah ﷺ bersabda:
HR. Al-Bukhari no. 71
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي
Artinya:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi, sedangkan Allah-lah yang memberi.”
Perhatikan:
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah memberinya banyak informasi.”
Tetapi:
يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Allah memberinya pemahaman dalam agama.”
Jadi tanda kebaikan dari Allah bukan hanya banyak tahu.
Tetapi:
paham,
tunduk,
mengamalkan,
dan semakin takut kepada Allah.
K. ILMU YANG BERMANFAAT MENGUBAH SIKAP
Orang yang benar-benar memahami agama tidak hanya pandai berbicara.
Ilmunya membuat dia:
- lebih rendah hati;
- lebih takut kepada Allah;
- lebih berhati-hati berbicara;
- lebih mudah menerima nasihat;
- lebih lembut kepada manusia;
- lebih kuat meninggalkan maksiat.
Karena itu:
Ilmu yang tidak mengubah akhlak harus kita evaluasi.
Bukan berarti setiap orang yang masih berdosa tidak berilmu.
Tetapi ilmu yang benar semestinya mendorong seseorang untuk terus memperbaiki diri.
L. PELAJARAN KEEMPAT
JANGAN MENJADIKAN AGAMA SEBAGAI ARENA ADU CERDAS
Jamaah...
Kisah Dzulkarnain dimulai dari pertanyaan.
Tetapi Al-Qur'an mengarahkan kita kepada pelajaran.
Hari ini pun ada orang yang senang bertanya:
“Kalau begini bagaimana?”
“Kalau begitu bagaimana?”
“Coba buktikan!”
“Kalau ustaz benar, jawab ini!”
Pertanyaan boleh.
Diskusi boleh.
Kajian boleh.
Tetapi jangan sampai agama berubah menjadi pertandingan:
siapa paling pintar?
siapa paling cepat menjawab?
siapa paling keras berdebat?
Allah berfirman:
QS. An-Nahl: 125
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Islam tidak menghapus dialog.
Islam memperbaiki cara berdialog.
M. PELAJARAN KELIMA
AL-QUR'AN TIDAK MEMBERIKAN SEMUA DETAIL YANG TIDAK DIPERLUKAN
Ini sangat menarik.
Allah menyebut:
مِنْهُ ذِكْرًا
“Sebagian dari kisahnya.”
Mengapa?
Karena tidak semua detail memiliki nilai pendidikan.
Misalnya:
“Siapa nama lengkap Dzulkarnain?”
“Di mana persisnya ia lahir?”
“Berapa tinggi badannya?”
“Bagaimana bentuk mahkotanya?”
“Siapa nama seluruh tentaranya?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak menjadi fokus Al-Qur'an.
Al-Qur'an justru membawa kita kepada:
- bagaimana kekuasaan digunakan;
- bagaimana seorang pemimpin bersikap;
- bagaimana keadilan ditegakkan;
- bagaimana manusia menggunakan sebab-sebab yang Allah berikan;
- bagaimana menghadapi kerusakan;
- bagaimana seorang penguasa tetap tunduk kepada Allah.
Inilah perbedaan antara informasi dan ibrah.
N. KOMENTAR IMAM AS-SA'DI
As-Sa‘di menjelaskan bahwa Allah hanya menyampaikan bagian dari kisah Dzulkarnain yang mengandung manfaat dan pelajaran.
Kutipan ringkasnya:
فِيهِ نَبَأٌ مُفِيدٌ ... وَيَكُونُ عِبْرَةً
“Di dalamnya terdapat berita yang bermanfaat ... dan menjadi pelajaran.”
Maka ketika membaca Al-Qur'an, jangan hanya bertanya:
“Apa yang terjadi?”
Tetapi bertanyalah:
“Apa yang harus saya ubah setelah mengetahui ini?”
O. KOMENTAR IMAM ATH-THABARI
Ath-Thabari menjelaskan makna ayat secara sederhana:
سَأَقُصُّ عَلَيْكُمْ مِنْ خَبَرِهِ ذِكْرًا
“Aku akan menceritakan kepada kalian sebagian berita tentangnya.”
Artinya, Allah mengarahkan perhatian manusia kepada berita yang dipilih untuk disampaikan, bukan seluruh detail sejarah.
Ini memberi pelajaran kepada para pendidik dan penceramah:
Jangan membebani jamaah dengan informasi yang tidak perlu.
Sampaikan apa yang:
benar,
relevan,
bermanfaat,
dan membawa perubahan.
P. KOMENTAR IMAM AL-QURTUBI
Al-Qurtubi menyebut berbagai pendapat yang berkembang mengenai Dzulkarnain, termasuk perbedaan tentang:
- nama;
- zaman;
- asal;
- sebab disebut Dzulkarnain;
- apakah ia nabi atau seorang raja saleh.
Namun riwayat-riwayat tersebut tidak semuanya memiliki kekuatan yang sama. Al-Qurtubi sendiri menukil adanya perbedaan pendapat yang sangat banyak mengenai identitas dan masa hidupnya.
Ini memberikan pelajaran penting:
Tidak semua cerita yang ditemukan dalam kitab tafsir memiliki derajat kepastian yang sama.
Maka seorang penceramah harus membedakan:
yang pasti dari Al-Qur'an,
yang sahih dari Sunnah,
pendapat mufasir,
dan riwayat sejarah yang diperselisihkan.
Q. SIAPAKAH DZULKARNAIN?
Ini pertanyaan yang sering muncul.
Al-Qur'an menyebut:
ذِي الْقَرْنَيْنِ
“Dzulkarnain.”
Tetapi Al-Qur'an tidak menyebut nama pribadi beliau.
Para ulama berbeda pendapat mengenai identitasnya.
Al-Qurtubi bahkan mencatat banyak pendapat mengenai nama dan zaman Dzulkarnain.
Karena itu kita harus berhati-hati.
Jangan mengatakan dengan pasti:
“Dzulkarnain pasti Alexander the Great.”
atau:
“Dzulkarnain pasti Cyrus.”
atau:
“Dzulkarnain pasti tokoh tertentu.”
Jika tidak ada dalil yang tegas, sebaiknya kita mengatakan:
“Para ulama berbeda pendapat mengenai identitas historis Dzulkarnain.”
Ada tafsir dan penelitian modern yang mengaitkannya dengan tokoh-tokoh tertentu, tetapi itu bukan sesuatu yang ditegaskan secara eksplisit oleh Al-Qur'an.
Yang pasti bagi kita bukan namanya.
Yang pasti adalah:
kisah yang Allah ceritakan dan pelajaran yang Allah kehendaki.
R. JANGAN TERLALU SIBUK DENGAN HAL YANG TIDAK PASTI
Jamaah...
Ini penyakit dalam kajian agama:
Kita sibuk memperdebatkan:
“Siapa sebenarnya Dzulkarnain?”
Tetapi lupa bertanya:
“Bagaimana saya menjadi pemimpin yang adil seperti yang akan digambarkan Al-Qur'an?”
Kita sibuk mencari:
“Di mana tepatnya tembok Ya’juj dan Ma’juj?”
Tetapi lupa:
“Apakah saya sendiri sedang membuat kerusakan di bumi?”
Kita sibuk:
“Apakah Dzulkarnain punya pasukan sebanyak ini?”
Tetapi lupa:
“Kalau Allah memberikan kekuasaan kepada saya, untuk apa kekuasaan itu saya gunakan?”
Inilah yang disebut:
Mengubah kisah menjadi ibrah.
S. PELAJARAN KEENAM
ORANG BERILMU HARUS JUJUR TENTANG BATAS PENGETAHUANNYA
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memahamkannya dalam agama.”
Orang berilmu bukan orang yang menjawab semua pertanyaan.
Kadang orang berilmu justru berkata:
“Saya belum mengetahui.”
“Saya perlu memeriksa sumbernya.”
“Masalah ini diperselisihkan ulama.”
“Saya tidak menemukan dalil yang cukup.”
Itu bukan kelemahan.
Itu amanah ilmiah.
T. BAHAYA BERBICARA AGAMA TANPA ILMU
Rasulullah ﷺ bersabda:
HR. Muslim no. 2673
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu mereka memberikan fatwa tanpa ilmu. Akibatnya mereka sesat dan menyesatkan.”
Jamaah...
Ini sangat relevan dengan zaman kita.
Karena hari ini siapa pun dapat berbicara di depan kamera.
Siapa pun dapat membuat video.
Siapa pun dapat mengutip ayat.
Siapa pun dapat mengutip hadis.
Tetapi:
Kemampuan berbicara bukan bukti kemampuan memahami agama.
U. PELAJARAN KETUJUH
JANGAN MUDAH MENYEBARKAN INFORMASI YANG BELUM TERUJI
Allah berfirman:
QS. Al-Hujurat: 6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, yang akhirnya membuat kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Maka jangan semua yang kita terima langsung kita sebarkan.
Sebelum meneruskan pesan, tanyakan:
Benarkah?
Dari mana sumbernya?
Apakah konteksnya lengkap?
Apakah ulama yang terpercaya membenarkannya?
Apakah ada dalil?
Apakah saya memahami dalil tersebut dengan benar?
V. PELAJARAN KEDELAPAN
KISAH AL-QUR'AN BUKAN SEKADAR HIBURAN
Kita sering membaca kisah Al-Qur'an seperti membaca cerita.
Padahal Allah berfirman:
QS. Yusuf: 111
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Artinya:
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Maka ketika kita membaca:
kisah Ashabul Kahfi,
kisah Musa dan Khidr,
kisah Dzulkarnain,
jangan berhenti pada:
“Oh, ternyata ceritanya seperti itu.”
Tetapi naikkan pertanyaan:
“Apa yang Allah ingin ubah dalam hidup saya?”
W. DZULKARNAIN: KISAH TENTANG KEKUASAAN
Ayat 83 baru pembuka.
Ayat berikutnya akan memperkenalkan sesuatu yang sangat penting:
kekuasaan.
Allah berfirman dalam ayat 84:
اِنَّا مَكَّنَّا لَهٗ فِى الْاَرْضِ وَاٰتَيْنٰهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا
Artinya:
“Sungguh, Kami telah memberi kedudukan yang kuat kepadanya di bumi dan Kami telah memberikan jalan kepadanya untuk mencapai segala sesuatu.”
Jadi kisah Dzulkarnain akan mengajarkan kepada kita:
bagaimana seorang manusia menggunakan kekuasaan yang Allah berikan.
Dan ini sangat penting.
Karena masalah manusia bukan hanya:
“Apakah saya memiliki kekuasaan?”
Tetapi:
“Apa yang saya lakukan ketika Allah memberikan kekuasaan kepada saya?”
X. KEKUASAAN ADALAH UJIAN
Seorang kepala sekolah memiliki kekuasaan.
Seorang guru memiliki pengaruh.
Seorang ayah memiliki otoritas.
Seorang ibu memiliki pengaruh besar terhadap rumah.
Seorang pemimpin memiliki kewenangan.
Seorang pejabat memiliki jabatan.
Bahkan seseorang yang memiliki banyak pengikut di media sosial memiliki pengaruh.
Semua itu adalah:
أَمَانَةٌ
Amanah.
Nabi ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Maka kisah Dzulkarnain bukan hanya cerita seorang raja.
Ini adalah pelajaran bagi setiap orang yang mempunyai pengaruh.
Y. UNTUK GURU
Guru...
Ketika Anda masuk kelas, Anda memiliki kekuasaan.
Anak-anak mendengarkan.
Maka jangan gunakan pengaruh itu untuk merendahkan.
Gunakan untuk membangun.
Jangan hanya berkata:
“Kamu salah!”
Tetapi:
“Mari kita perbaiki.”
Jangan hanya menghukum.
Tetapi mendidik.
Karena kekuasaan terbesar seorang guru bukan membuat murid takut.
Kekuasaan terbesar seorang guru adalah membuat murid tumbuh.
Z. UNTUK ORANG TUA
Ayah dan ibu...
Anak-anak berada di bawah tanggung jawab kita.
Maka jangan gunakan kewibawaan hanya untuk memerintah.
Gunakan untuk membimbing.
Jangan hanya berkata:
“Pokoknya harus!”
Ajarkan:
“Mengapa ini harus dilakukan?”
Karena tujuan pendidikan bukan membuat anak takut kepada orang tua.
Tujuannya adalah membuat anak mengenal Allah.
AA. UNTUK PEMIMPIN
Seorang pemimpin yang baik tidak bertanya:
“Bagaimana saya bisa terlihat hebat?”
Tetapi:
“Apa manfaat yang dapat saya berikan?”
Inilah yang akan kita lihat dalam kisah Dzulkarnain pada ayat-ayat berikutnya.
Allah tidak menceritakan:
berapa mahal mahkotanya.
berapa luas istananya.
berapa banyak tentaranya.
Tetapi Allah menceritakan:
bagaimana ia memperlakukan manusia.
AB. SATU KAIDAH BESAR
Jamaah yang dirahmati Allah...
Dari ayat 83 kita dapat mengambil satu kaidah:
“ILMU HARUS MEMBAWA KITA KEPADA IBRAH.”
Kalau ilmu hanya membuat kita:
- merasa paling pintar;
- merendahkan orang lain;
- gemar berdebat;
- suka membantah;
- senang menunjukkan kesalahan;
- merasa paling benar;
maka kita perlu bertanya:
“Apakah ilmu itu sudah menjadi petunjuk bagi saya?”
AC. EMPAT TAHAP BELAJAR DARI AYAT 83
Saya ingin jamaah mengingat empat langkah.
1. اِسْأَلْ — Bertanyalah
Kalau tidak tahu, jangan malu bertanya.
2. تَثَبَّتْ — Periksalah
Jangan langsung percaya.
3. اِفْهَمْ — Pahamilah
Jangan hanya menghafal.
4. اعْمَلْ — Amalkanlah
Ilmu harus menjadi amal.
Karena ilmu tanpa amal menjadi hujjah atas kita.
AD. JANGAN JADI “PENGUMPUL INFORMASI”
Jamaah...
Jangan menjadi manusia yang hanya:
mengoleksi ceramah,
mengoleksi screenshot ayat,
mengoleksi hadis,
mengoleksi kutipan ulama,
tetapi tidak mengubah kehidupan.
Lebih baik satu ayat yang kita amalkan daripada seribu ayat yang hanya kita simpan.
Lebih baik satu hadis yang mengubah akhlak daripada ribuan hadis yang hanya menjadi bahan perdebatan.
AE. DOA MEMOHON ILMU YANG BERMANFAAT
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”
Maka jangan hanya berdoa:
“Ya Allah, tambahkan ilmuku.”
Tetapi:
“Ya Allah, berikan aku ilmu yang bermanfaat.”
AF. PENUTUP: APA YANG HARUS KITA BAWA PULANG?
Jamaah yang dirahmati Allah...
QS. Al-Kahf ayat 83 mengajarkan kepada kita setidaknya tujuh perkara:
Pertama
Bertanya adalah jalan menuju ilmu.
Kedua
Niat bertanya harus benar.
Ketiga
Tidak semua informasi adalah ilmu yang bermanfaat.
Keempat
Dalam agama, kita harus kembali kepada wahyu dan sumber ilmu yang terpercaya.
Kelima
Jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak kita ketahui.
Keenam
Kisah Al-Qur'an bukan sekadar sejarah, tetapi ibrah.
Ketujuh
Kita harus mencari pelajaran, bukan sekadar mencari detail yang tidak penting.
Dan yang paling penting:
قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا
“Akan Aku bacakan kepada kalian sebagian dari kisahnya.”
Seakan-akan Allah berkata kepada kita:
Jangan hanya ingin tahu ceritanya.
Ambillah peringatannya.
Jangan hanya tahu siapa Dzulkarnain.
Pelajari bagaimana ia menggunakan kekuasaan.
Jangan hanya mengetahui perjalanannya.
Pelajari bagaimana ia berjalan dengan iman.
Jangan hanya mengagumi kekuatannya.
Pelajari bagaimana ia tunduk kepada Allah.
Karena tujuan akhir Al-Qur'an bukan membuat kita menjadi manusia yang paling banyak tahu.
Tetapi menjadi manusia yang paling baik dalam mengamalkan apa yang kita tahu.
AG. DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
Artinya:
“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَيَقِينًا صَادِقًا.
Artinya:
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, amal yang saleh, dan keyakinan yang benar.”
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur'an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghilang kesedihan kami dan penghilang kegelisahan kami.”
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ، وَالْإِخْلَاصَ وَالْقَبُولَ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا حُجَّةً لَنَا وَلَا تَجْعَلْهُ حُجَّةً عَلَيْنَا.
Artinya:
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu dan amal, keikhlasan dan penerimaan. Jadikan ilmu kami sebagai hujjah yang membela kami dan jangan menjadikannya hujjah yang memberatkan kami.”
رَبَّنَا زِدْنَا عِلْمًا، وَفَهْمًا، وَهُدًى، وَتَوْفِيقًا، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, tambahkanlah kepada kami ilmu, pemahaman, petunjuk dan taufik. Teguhkanlah kami di atas kebenaran hingga kami bertemu dengan-Mu.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
CATATAN ILMIAH & FOOTNOTE
[1] QS. Al-Kahf: 83. Ayat menjadi pembuka kisah Dzulkarnain dan menggunakan ungkapan “سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا”, yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an menyampaikan bagian kisah yang memiliki nilai peringatan dan pelajaran.
[2] Tafsir Ibn Kathir, Tafsir QS. Al-Kahf: 83. Ibn Kathir menyebut latar bahwa kaum musyrik Makkah meminta informasi kepada Ahlul Kitab untuk menguji Nabi ﷺ, dan pertanyaan tentang Dzulkarnain termasuk di antara pertanyaan tersebut. Namun riwayat-riwayat tambahan tentang detail peristiwa harus dibedakan tingkat kekuatannya.
[3] Tafsir Al-Tabari, Jāmi‘ al-Bayān, QS. Al-Kahf: 83. Ath-Thabari menjelaskan makna “سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا” sebagai akan menceritakan kepada mereka sebagian berita tentang Dzulkarnain.
[4] Tafsir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm al-Rahmān, QS. Al-Kahf: 83. As-Sa‘di menekankan bahwa kisah yang disampaikan mengandung berita yang bermanfaat dan menjadi ibrah; rincian lain yang tidak disampaikan tidak menjadi fokus wahyu.
[5] Tafsir Al-Qurtubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, QS. Al-Kahf: 83. Al-Qurtubi mencatat banyak perbedaan pendapat mengenai nama, zaman, asal dan identitas Dzulkarnain. Karena itu identifikasi historis tertentu tidak boleh disampaikan sebagai kepastian Al-Qur'an.
[6] QS. Al-Isra’: 36. Ayat ini menjadi dasar penting dalam adab ilmiah: manusia dilarang mengikuti atau mengatakan sesuatu tanpa ilmu dan akan dimintai pertanggungjawaban atas pendengaran, penglihatan dan hati.
[7] Sahih al-Bukhari no. 71. Hadis “مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ” menjadi dasar bahwa pemahaman agama merupakan salah satu bentuk karunia Allah.
[8] Sahih Muslim no. 2673. Hadis tentang wafatnya para ulama dan munculnya orang-orang yang memberikan fatwa tanpa ilmu menjadi peringatan agar umat mengambil ilmu dari orang yang benar-benar memiliki ilmu.
[9] Tentang identitas Dzulkarnain. Al-Qur'an tidak menyebut nama pribadi Dzulkarnain, sehingga berbagai identifikasi historis seperti Alexander atau Cyrus harus diperlakukan sebagai pendapat/hipotesis, bukan sebagai fakta pasti yang ditegaskan wahyu. Al-Qurtubi sendiri mencatat banyak pendapat yang berbeda.
[10] Prinsip utama ceramah. Kisah-kisah Al-Qur'an hendaknya dipelajari untuk memperoleh ‘ibrah, bukan semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahu terhadap rincian sejarah yang tidak ditegaskan wahyu. Hal ini sangat jelas dalam penjelasan As-Sa‘di mengenai “مِنْهُ ذِكْرًا”.
Post a Comment