Ketika Neraka Jahanam Diperlihatkan: Jangan Menunggu Akhirat untuk Menyadari Kebenaran
MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN
Surah Al-Kahf Ayat 100
“Ketika Neraka Jahanam Diperlihatkan: Jangan Menunggu Akhirat untuk Menyadari Kebenaran”
Tema: Mengingat akhirat, memperbaiki amal, dan mempersiapkan diri sebelum penyesalan tidak lagi berguna.
I. Muqaddimah
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah kaum Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita menggunakan umur yang masih tersisa untuk memperbaiki iman, memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Pada kesempatan ini, kita akan merenungkan firman Allah dalam Surah Al-Kahf ayat 100. Ayat ini membawa kita kepada salah satu pemandangan yang sangat dahsyat pada hari Kiamat: ketika Neraka Jahanam diperlihatkan secara nyata kepada orang-orang kafir.
Allah berfirman:
II. Teks ayat dan terjemahan
Allah Swt. berfirman:
وَّعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَىِٕذٍ لِّلْكٰفِرِيْنَ عَرْضًا ۙ
Artinya:
“Dan Kami perlihatkan (neraka) Jahanam dengan jelas pada hari itu kepada orang kafir.”
(QS. Al-Kahf [18]: 100)
Perhatikanlah ungkapan ayat ini. Allah tidak sekadar menyebutkan bahwa Neraka Jahanam ada. Allah menyatakan bahwa Jahanam akan diperlihatkan kepada mereka dengan nyata.
Di dunia, manusia menerima berita tentang akhirat melalui wahyu. Ada orang yang mempercayainya, ada yang meragukannya, dan ada pula yang berpaling darinya. Namun, pada hari Kiamat, perkara yang dahulu diberitakan oleh para nabi akan menjadi kenyataan yang disaksikan.
Pada saat itu, tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura tidak tahu. Tidak ada lagi kesempatan untuk menunda pertobatan. Yang tersisa adalah kenyataan dan pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan.
III. Tafsir kata demi kata
Mari kita perhatikan tiga ungkapan utama dalam ayat ini.
1. وَعَرَضْنَا — “Dan Kami perlihatkan”
Kata ‘araḍnā berasal dari kata عَرَضَ yang dalam konteks ayat ini berarti menampakkan atau menghadirkan sesuatu agar terlihat.
Para mufasir menjelaskan bahwa Neraka Jahanam diperlihatkan kepada orang-orang kafir sehingga mereka menyaksikannya dengan nyata. Ini bukan sekadar mendengar berita tentang neraka, melainkan menyaksikan kenyataan yang sebelumnya mereka ingkari.
2. جَهَنَّمَ — “Jahanam”
Jahanam adalah neraka yang Allah sediakan sebagai tempat azab bagi orang-orang yang berhak menerimanya. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai peringatan yang sangat serius agar manusia tidak meremehkan kekufuran, kezaliman, dan pembangkangan terhadap Allah.
Kita perlu berhati-hati dalam memahami ayat ini: tidak boleh sembarangan menetapkan bahwa individu tertentu pasti menjadi penghuni neraka. Penentuan akhir setiap manusia berada di tangan Allah, Yang Mahaadil dan Maha Mengetahui.
3. عَرْضًا — “Dengan suatu penampakan yang nyata”
Pengulangan makna dari kata ‘araḍnā dengan kata ‘arḍan menguatkan gambaran penampakan itu. Jahanam tidak lagi tersembunyi dari pandangan mereka.
Pelajaran pentingnya ialah bahwa kehidupan akhirat bukan perkara rekaan atau dongeng. Ia adalah kenyataan yang harus dipersiapkan dengan iman dan amal.
IV. Penjelasan para ulama tafsir
1. Tafsir Imam Ibnu Katsir
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
Teks Arab:
أَيْ يُبْرِزُهَا لَهُمْ وَيُظْهِرُهَا، لِيَرَوْا مَا فِيهَا مِنَ الْعَذَابِ وَالنَّكَالِ قَبْلَ دُخُولِهَا.
Artinya:
“Yakni, Allah menampakkan dan memperlihatkan neraka itu kepada mereka, agar mereka melihat azab dan hukuman yang ada di dalamnya sebelum memasukinya.”
Rujukan: Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf ayat 100.[1]
Penjelasan ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Sebelum mereka mengalami azab, mereka diperlihatkan terlebih dahulu tempat yang menjadi akibat dari kekufuran mereka. Mereka menyaksikan kenyataan yang dahulu diabaikan atau didustakan.
Di dunia, seseorang terkadang baru menyadari nilai kesehatan setelah jatuh sakit, baru menyadari nilai keluarga setelah kehilangan, dan baru menyadari pentingnya waktu setelah kesempatan berlalu. Namun, penyesalan di akhirat tidak sama dengan penyesalan di dunia. Di dunia, penyesalan masih dapat diikuti perbaikan. Adapun ketika kesempatan beramal telah berakhir, manusia tidak dapat kembali untuk mengulang kehidupannya.
Karena itu, jangan menunggu musibah untuk mengenal Allah. Jangan menunggu usia senja untuk memperbaiki salat. Jangan menunggu kematian mendekat untuk meminta maaf kepada orang tua, pasangan, anak, saudara, atau orang yang pernah kita zalimi.
2. Tafsir Imam Al-Qurthubi
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Al-Qurthubi menjelaskan secara ringkas:
Teks Arab:
أَيْ أَبْرَزْنَاهَا لَهُمْ.
Artinya:
“Yakni, Kami menampakkan neraka itu kepada mereka.”
Rujukan: Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf ayat 100.[2]
Keterangan singkat ini menegaskan bahwa kata ‘araḍnā menunjukkan penampakan yang jelas. Neraka bukan lagi perkara yang hanya diberitakan melalui ayat-ayat suci, tetapi kenyataan yang disaksikan oleh orang-orang yang menghadapinya.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ada perbedaan besar antara mengetahui sesuatu dengan ilmu dan menyaksikannya secara langsung. Kita mengetahui bahwa kematian itu pasti, tetapi kita belum menyaksikan keadaan diri kita sendiri ketika menghadapinya. Kita mengetahui bahwa amal akan dihisab, tetapi kita belum melihat catatan amal kita dibuka di hadapan Allah.
Oleh sebab itu, orang beriman tidak menunggu sampai melihat akhirat untuk mulai taat. Ia beriman kepada berita Allah meskipun belum menyaksikannya.
3. Tafsir Syekh Abdurrahman As-Sa‘di
Syekh As-Sa‘di menghubungkan ayat ini dengan firman Allah tentang neraka yang diperlihatkan kepada orang-orang yang sesat.
Teks Arab:
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ.
Artinya:
“Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahanam kepada orang-orang yang sesat.”
(QS. Asy-Syu‘ara’ [26]: 91)
Dalam tafsirnya, As-Sa‘di menjelaskan bahwa neraka diperlihatkan sebagai tempat kembali bagi mereka, dan mereka akan merasakan hukuman yang sesuai dengan perbuatan mereka.[3]
Maknanya, azab bukan sesuatu yang terjadi tanpa pertanggungjawaban. Ayat-ayat tentang akhirat mengingatkan manusia bahwa kehidupan memiliki konsekuensi moral. Pilihan-pilihan yang dilakukan di dunia tidaklah sia-sia.
Maka jangan sampai kita sibuk menilai kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa diri sendiri. Jangan sampai kita menuntut keadilan dari orang lain, sementara kita sendiri mengabaikan hak orang yang berada di bawah tanggung jawab kita.
V. Dalil Al-Qur’an tentang kedahsyatan Jahanam
1. Neraka diperlihatkan kepada orang-orang yang melampaui batas
Allah berfirman:
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَّرٰى
Artinya:
“Dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.”
(QS. An-Nazi‘at [79]: 36)
Ayat ini memperkuat gambaran dalam Surah Al-Kahf ayat 100. Neraka akan diperlihatkan dengan jelas. Peristiwa itu bukan lagi sekadar peringatan yang dapat diabaikan, melainkan kenyataan yang harus dihadapi.
Di dunia, seseorang mungkin menghindari nasihat, menutup telinga terhadap kebenaran, atau merasa aman karena belum melihat akibat perbuatannya. Akan tetapi, tidak melihat sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada.
Orang beriman membangun kehidupannya berdasarkan wahyu, bukan semata-mata berdasarkan apa yang terlihat oleh mata.
2. Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya
Allah berfirman:
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا ۖ وَّمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ أَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗ وَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ
Artinya:
“(Ingatlah) pada hari ketika setiap jiwa mendapatkan segala kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan (di hadapannya), begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dan hari itu. Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 30)
Ayat ini mengajarkan bahwa amal manusia akan memiliki konsekuensi. Kebaikan tidak boleh diremehkan, meskipun kecil. Demikian pula keburukan tidak boleh dianggap sepele hanya karena tidak diketahui orang lain.
Senyuman yang tulus, pertolongan kepada tetangga, kejujuran dalam berdagang, amanah dalam pekerjaan, dan pendidikan yang baik kepada anak dapat menjadi bagian dari amal kebaikan. Sebaliknya, fitnah, kecurangan, merampas hak orang lain, serta kezaliman yang sengaja dipelihara merupakan perkara yang harus segera ditinggalkan dan ditaubati.
3. Jangan berputus asa dari rahmat Allah
Ketika mendengar ayat-ayat tentang neraka, jangan sampai hati hanya dipenuhi ketakutan hingga kehilangan harapan. Allah juga memerintahkan manusia untuk kembali kepada-Nya.
Allah berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلٰٓى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar [39]: 53)
Ayat ini bukan izin untuk terus bermaksiat dengan alasan bahwa Allah Maha Pengampun. Sebaliknya, ayat ini adalah pintu harapan bagi orang yang sungguh-sungguh ingin kembali kepada Allah.
Pertobatan yang benar mencakup penyesalan atas dosa, meninggalkan dosa tersebut, dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, hak itu harus dikembalikan atau diselesaikan semampunya dengan cara yang benar.
Jadi, di antara dua sikap yang harus dihindari adalah merasa terlalu aman dari azab Allah dan berputus asa dari rahmat-Nya. Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan rasa takut yang mendorongnya memperbaiki diri, sekaligus harapan yang membuatnya tidak berhenti bertobat.
VI. Hadis tentang Neraka Jahanam pada hari Kiamat
1. Neraka didatangkan pada hari Kiamat
Dari Abdullah bin Mas‘ud r.a., Rasulullah saw. bersabda:
يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا.
Artinya:
“Pada hari itu Jahanam didatangkan. Ia memiliki tujuh puluh ribu tali kendali; bersama setiap tali kendali ada tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya.”
(HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifat Na‘īmihā wa Ahlihā).[4]
Hadis ini menggambarkan kedahsyatan peristiwa akhirat. Kita tidak perlu membayangkan atau mengarang rincian yang tidak disebutkan oleh wahyu. Cukuplah kita menerima berita yang sahih sebagaimana disampaikan Rasulullah saw.
Renungkanlah: jika Neraka Jahanam digambarkan sedemikian dahsyat, betapa pentingnya kita menjaga diri dari sebab-sebab yang membawa manusia kepada azab Allah.
Namun, rasa takut itu harus melahirkan amal. Bukan sekadar membuat kita merinding ketika mendengar ceramah, lalu kembali melakukan kebiasaan buruk tanpa perubahan.
Apabila kita mendengar peringatan tentang neraka, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah salat saya sudah terjaga? Apakah saya masih mengambil hak orang lain? Apakah saya telah menunaikan amanah? Apakah saya sudah meminta maaf kepada orang yang saya sakiti?
2. Hadis tentang sangkakala dan tawakal kepada Allah
Dalam materi tafsir yang menjadi dasar pembahasan ini, disebutkan hadis dari Abu Sa‘id Al-Khudri r.a. Rasulullah saw. bersabda:
كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ، وَحَنَى جَبْهَتَهُ، وَأَصْغَى سَمْعَهُ، يَنْتَظِرُ مَتَى يُؤْمَرُ؟
Artinya:
“Bagaimana aku dapat bersenang-senang, sedangkan malaikat pemegang sangkakala telah meletakkan sangkakala di mulutnya, menundukkan dahinya, dan memasang pendengarannya, menunggu kapan ia diperintahkan (untuk meniupnya)?”
Para sahabat merasa berat mendengar hal tersebut. Lalu Rasulullah saw. mengajarkan kepada mereka untuk mengucapkan:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا.
Artinya:
“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung. Hanya kepada Allah kami bertawakal.”
(HR. At-Tirmidzi, no. 2431, dan Ahmad dalam Al-Musnad, dengan sedikit perbedaan redaksi).[5]
At-Tirmidzi menilai hadis ini hasan. Riwayat tersebut memberikan gambaran tentang kesungguhan Rasulullah saw. dalam mengingatkan umatnya terhadap akhirat.
Perhatikan keseimbangan yang diajarkan oleh Nabi. Beliau tidak mengajarkan agar manusia hidup tanpa rasa takut dan melupakan akhirat. Beliau juga tidak membiarkan para sahabat tenggelam dalam kecemasan tanpa arah. Mereka diajarkan untuk bertawakal kepada Allah.
Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar. Kita tetap harus bekerja, mendidik anak, menjaga keluarga, menunaikan kewajiban, dan memperbaiki kesalahan. Tetapi setelah berikhtiar, hati bersandar kepada Allah.
Kita tidak mengetahui kapan Kiamat tiba. Karena itu, tugas kita bukan menebak-nebak waktunya, melainkan menyiapkan diri agar ketika ajal datang, kita berada dalam keadaan beriman dan berusaha menaati Allah.
VII. Hubungan ayat 100 dengan ayat berikutnya
Setelah menyebutkan bahwa Jahanam diperlihatkan kepada orang-orang kafir, Allah melanjutkan firman-Nya:
الَّذِيْنَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِيْ غِطَاۤءٍ عَنْ ذِكْرِيْ وَكَانُوْا لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ سَمْعًا
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan mereka tidak sanggup mendengar.”
(QS. Al-Kahf [18]: 101)
Ayat berikutnya menjelaskan keadaan orang-orang yang berpaling dari peringatan Allah. Ketika hidup di dunia, mereka tidak menggunakan penglihatan dan pendengaran untuk menerima kebenaran.
Tentu, yang dimaksud bukan semata-mata kebutaan fisik atau gangguan pendengaran. Ayat ini berbicara tentang sikap menutup diri terhadap petunjuk Allah: melihat tanda-tanda kebesaran-Nya tetapi tidak mau mengambil pelajaran, mendengar nasihat tetapi menolak kebenaran karena kesombongan atau kepentingan.
Betapa banyak orang yang memiliki mata sehat, tetapi tidak mau melihat penderitaan orang lain. Betapa banyak orang yang memiliki telinga sempurna, tetapi tidak mau mendengar nasihat yang baik. Betapa banyak orang yang mengetahui bahwa suatu perbuatan salah, tetapi tetap melakukannya karena mengejar keuntungan sesaat.
Karena itu, marilah kita meminta kepada Allah agar diberi hati yang hidup, mata yang mengambil pelajaran, dan telinga yang menerima nasihat.
VIII. Lima pelajaran utama dari Surah Al-Kahf ayat 100
Pelajaran pertama: Iman kepada akhirat harus memengaruhi perilaku.
Mengimani neraka bukan hanya menghafal nama dan sifatnya. Keimanan itu seharusnya membuat kita lebih jujur, lebih amanah, lebih menjaga salat, dan lebih berhati-hati dalam memperlakukan sesama.
Pelajaran kedua: Jangan meremehkan dosa.
Dosa yang dilakukan berulang kali dapat mengeraskan hati. Jika kita melakukan kesalahan, jangan membenarkannya dengan alasan bahwa semua orang juga melakukannya. Segeralah bertobat dan berusaha memperbaiki diri.
Pelajaran ketiga: Jangan menunda kebaikan.
Jika hari ini kita mampu meminta maaf, jangan menunggu besok. Jika hari ini kita mampu menunaikan kewajiban, jangan menundanya tanpa alasan yang benar. Jika hari ini kita mampu membantu orang yang membutuhkan, lakukan sesuai kemampuan.
Pelajaran keempat: Takut kepada Allah harus disertai harapan.
Peringatan tentang neraka seharusnya mendorong kita menjauhi maksiat dan memperbanyak amal saleh. Pada saat yang sama, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Selama hidup masih berlangsung, pintu pertobatan tetap harus kita manfaatkan.
Pelajaran kelima: Keselamatan akhirat membutuhkan iman dan amal saleh.
Jangan merasa cukup hanya karena memiliki ilmu, kedudukan, harta, atau dikenal sebagai orang baik. Semua itu harus diiringi keikhlasan, ketaatan, dan akhlak yang benar. Penilaian akhir berada di tangan Allah.
IX. Muhasabah: Jika Jahanam diperlihatkan hari ini
Jamaah rahimakumullah,
Bayangkan apabila hari ini Allah memperlihatkan kepada kita segala sesuatu yang selama ini hanya kita dengar melalui wahyu. Apakah kita sudah siap menghadapi pertanggungjawaban atas perkataan kita? Apakah kita sudah siap mempertanggungjawabkan harta yang kita peroleh? Apakah kita sudah menunaikan amanah keluarga dan pekerjaan?
Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya pandai mengingatkan orang lain, tetapi lupa memperbaiki diri sendiri.
Seorang guru hendaknya mendidik dengan amanah. Seorang pemimpin hendaknya berlaku adil. Orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Seorang pedagang hendaknya jujur dalam timbangan dan transaksi. Setiap orang hendaknya menjaga hak sesama dan tidak menyakiti orang lain dengan lisan maupun perbuatannya.
Jika kita pernah salah, jangan biarkan rasa malu menghalangi kita untuk bertobat. Jika kita pernah menzalimi orang lain, jangan biarkan kesombongan menghalangi kita untuk meminta maaf. Jika kita pernah lalai, jangan biarkan kelalaian itu menjadi alasan untuk terus lalai.
Hari ini adalah kesempatan untuk berubah. Hari ini adalah kesempatan untuk memperbaiki salat, membaca Al-Qur’an, memperbaiki akhlak, menyelesaikan utang, mengembalikan hak orang lain, dan memperbanyak amal yang bermanfaat.
X. Penutup
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Surah Al-Kahf ayat 100 mengingatkan kita bahwa akan datang suatu hari ketika Neraka Jahanam diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang kafir. Pada hari itu, kenyataan akhirat tidak lagi dapat diingkari.
Karena itu, jangan menunggu sampai melihat neraka untuk mempercayai peringatan Allah. Jangan menunggu sampai penyesalan datang untuk memperbaiki kehidupan. Jangan menunggu sampai ajal mendekat untuk kembali kepada-Nya.
Mari kita jalani kehidupan dengan iman, ketakwaan, amal saleh, dan harapan kepada rahmat Allah. Semoga Allah menjaga kita dari azab neraka dan menjadikan akhir kehidupan kita sebagai akhir yang baik.
XI. Doa penutup
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon surga kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari neraka.”
اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Artinya:
“Ya Allah, lindungilah kami dari neraka, ampunilah dosa-dosa kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَعْمَالَنَا، وَأَهْلَنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
Artinya:
“Ya Allah, perbaikilah hati kami, amal-amal kami, keluarga kami, dan keturunan kami. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Catatan kaki dan rujukan kitab
[1] Ismā‘īl bin ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Al-Kahf ayat 100. Penjelasan beliau menyebutkan bahwa Jahanam ditampakkan kepada orang-orang kafir agar mereka melihat azab sebelum memasukinya.
[2] Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Al-Kahf ayat 100. Penjelasan ringkas: “أَيْ أَبْرَزْنَاهَا لَهُمْ” — “Yakni, Kami menampakkannya kepada mereka.”
[3] ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir Surah Al-Kahf ayat 100 dan Surah Asy-Syu‘ara’ ayat 91. Beliau menjelaskan bahwa Jahanam diperlihatkan kepada orang-orang yang menjadi sasaran ancaman tersebut sebagai tempat kembali dan hukuman atas perbuatan mereka.
[4] Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifat Na‘īmihā wa Ahlihā, hadis tentang didatangkannya Jahanam pada hari Kiamat dengan tujuh puluh ribu tali kendali dan malaikat pada setiap tali kendali.
[5] Muḥammad bin ‘Īsā at-Tirmiżī, Al-Jāmi‘, no. 2431; Aḥmad bin Ḥanbal, Al-Musnad, riwayat Abu Sa‘id Al-Khudri tentang pemegang sangkakala dan doa tawakal. At-Tirmidzi menilai riwayat ini hasan. Lafaz hadis dapat berbeda sedikit di antara jalur periwayatan.
Catatan ilmiah: Terjemahan ayat dan hadis dalam naskah ini disajikan untuk memudahkan penyampaian ceramah. Kutipan tafsir berbahasa Arab dipilih secara ringkas dari penjelasan ulama yang dirujuk. Untuk penulisan akademik, nomor halaman sebaiknya disesuaikan dengan edisi cetak atau digital kitab yang digunakan.
Post a Comment