Ketika Dunia Berguncang, Sangkakala Ditiup, dan Seluruh Manusia Dikumpulkan
MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN
QS. Al-Kahf Ayat 99 — Ketika Dunia Berguncang, Sangkakala Ditiup, dan Seluruh Manusia Dikumpulkan
1. Pembukaan
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan senantiasa mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Pada kesempatan ini, kita melanjutkan tadabur Surah Al-Kahf, ayat 99. Ayat ini mengingatkan kita tentang dua peristiwa besar: makhluk-makhluk yang berbaur dalam keadaan bergelombang dan kacau, kemudian sangkakala ditiup dan seluruh manusia dikumpulkan oleh Allah.
Ayat ini membawa kita keluar dari bayangan dunia yang kita kenal sekarang. Hari ini manusia sibuk membangun rumah, mencari harta, mengejar jabatan, menuntut ilmu, dan merancang masa depan. Akan tetapi, ada satu masa yang pasti datang: masa ketika seluruh manusia kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan amalnya.
Kita tidak mengetahui kapan Kiamat terjadi. Namun, kita mengetahui bahwa kematian dan hari kebangkitan adalah kenyataan yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Karena itu, pertanyaan penting bagi kita bukan sekadar, “Kapan Kiamat terjadi?” Pertanyaan yang lebih mendesak ialah, “Jika aku dipanggil menghadap Allah, sudah siapkah aku mempertanggungjawabkan hidupku?”
2. Teks QS. Al-Kahf ayat 99 dan terjemahannya
Allah Swt. berfirman:
۞ وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ يَّمُوْجُ فِيْ بَعْضٍ وَّنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَجَمَعْنٰهُمْ جَمْعًا ۙ
Artinya:
“Dan pada hari itu Kami biarkan mereka berbaur antara satu dengan yang lain, dan (apabila) sangkakala ditiup (lagi), akan Kami kumpulkan mereka semuanya.” (QS. Al-Kahf [18]: 99).
Ayat ini terdiri atas tiga bagian penting.
Pertama: وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ
“Dan pada hari itu Kami biarkan mereka berbaur antara satu dengan yang lain.”
Kata يَمُوجُ — yamūju berasal dari makna bergelombang, bergerak, dan bercampur seperti gelombang laut yang saling bertumpuk. Gambaran ini menunjukkan keadaan yang sangat ramai, bergerak, dan tidak teratur.
Para mufasir menjelaskan beberapa kemungkinan tentang siapa yang dimaksud dengan “mereka” dalam bagian ayat ini. Ada yang mengaitkannya dengan Ya’juj dan Ma’juj ketika keluar dan berbaur dengan manusia. Ada pula yang memahaminya sebagai manusia dan jin yang berbaur pada hari Kiamat.
Kedua: وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ
“Dan sangkakala ditiup.”
Ini merupakan bagian dari peristiwa besar akhirat yang diberitakan dalam Al-Qur’an dan hadis. Sangkakala menandai tahapan peristiwa akhir zaman sesuai ketetapan Allah.
Ketiga: فَجَمَعْنٰهُمْ جَمْعًا
“Maka Kami kumpulkan mereka semuanya.”
Tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dari pengumpulan yang ditetapkan Allah. Manusia dari generasi terdahulu dan generasi terakhir semuanya akan dibangkitkan dan dikumpulkan untuk menghadapi keputusan-Nya.
3. Penjelasan para ulama tafsir
A. Tafsir Ibnu Katsir: dua penjelasan tentang makna “berbaur”
Ibnu Katsir menjelaskan bagian pertama ayat ini dengan menyebutkan bahwa ada pendapat yang mengaitkannya dengan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, sementara pendapat lain mengaitkannya dengan keadaan manusia dan jin pada hari Kiamat.[1]
Di antara penjelasan beliau terdapat ungkapan:
وَقَالَ آخَرُونَ: بَلِ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: ﴿وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ﴾ أَيْ: يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَخْتَلِطُ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ.
Artinya:
“Sebagian ulama lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya, ‘Kami biarkan mereka berbaur antara satu dengan yang lain,’ ialah pada hari Kiamat manusia dan jin bercampur.”
Ibnu Katsir juga mengutip penjelasan yang menghubungkan bagian tersebut dengan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj sebelum Kiamat.[1]
Apa yang dapat kita ambil dari perbedaan penafsiran ini?
Kita belajar bahwa ketika sebuah ayat memiliki lebih dari satu penjelasan dari para ulama, kita harus menyampaikan pendapat-pendapat tersebut dengan jujur. Jangan menghapus perbedaan yang memang tercatat dalam kitab tafsir, dan jangan memastikan sesuatu yang masih diperselisihkan seolah-olah tidak ada perbedaan sama sekali.
Namun, bagian kedua ayat ini sangat jelas: sangkakala ditiup dan Allah mengumpulkan manusia. Karena itu, pesan tentang kebangkitan dan pengumpulan seluruh manusia menjadi pusat renungan kita.
B. Tafsir Al-Qurthubi: gambaran gelombang dan kebingungan
Al-Qurthubi menjelaskan kata yamūju dengan ungkapan:
وَاسْتِعَارَةُ الْمَوْجِ لَهُمْ عِبَارَةٌ عَنِ الْحَيْرَةِ وَتَرَدُّدِ بَعْضِهِمْ فِي بَعْضٍ
Artinya:
“Penggunaan gambaran gelombang untuk mereka merupakan ungkapan tentang kebingungan dan gerakan mereka yang saling bercampur satu sama lain.”[2]
Gambaran gelombang laut sangat kuat. Ketika ombak besar datang, air bergerak, bertumpuk, dan saling mendorong. Tidak ada ketenangan seperti permukaan air yang diam.
Demikianlah gambaran keadaan yang dilukiskan dalam ayat ini: makhluk-makhluk bergerak dan bercampur dalam suatu peristiwa besar yang tidak dapat mereka kendalikan.
Akan tetapi, kita tidak boleh mengubah gambaran ini menjadi cerita terperinci tentang keadaan Kiamat yang tidak dijelaskan oleh dalil. Kita cukup memahami makna yang diterangkan para ulama dan mengambil pelajaran tentang dahsyatnya hari akhir.
C. Tafsir As-Sa’di: pengumpulan untuk perhitungan dan balasan
As-Sa’di menjelaskan bagian akhir ayat bahwa ketika sangkakala ditiup, Allah mengumpulkan makhluk untuk menghadapi peristiwa Kiamat, termasuk orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, agar mereka ditanya, dihisab, dan menerima balasan atas amalnya.[3]
Pokok penjelasan ini sesuai dengan firman Allah:
فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا
“Maka Kami kumpulkan mereka semuanya.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kata “semuanya” seharusnya membuat kita merenung. Di dunia, manusia dapat bersembunyi dari penilaian manusia. Seseorang dapat terlihat baik di hadapan masyarakat, tetapi menyembunyikan keburukan dalam kehidupan pribadinya. Ada pula orang yang tidak dikenal manusia, tetapi melakukan banyak kebaikan yang ikhlas.
Pada hari pengumpulan, seluruh manusia kembali kepada Allah. Yang menjadi ukuran bukan sekadar popularitas, kekayaan, atau kedudukan, melainkan iman, amal, dan rahmat Allah.
4. Dalil pertama: Ya’juj dan Ma’juj keluar dari tempat yang tinggi
Allah Swt. berfirman:
حَتّٰىٓ اِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ وَهُمْ مِّنْ كُلِّ حَدَبٍ يَّنْسِلُوْنَ ۙ ٩٦
وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَاِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ اَبْصَارُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ يٰوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا بَلْ كُنَّا ظٰلِمِيْنَ ٩٧
Artinya:
“Hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata), ‘Alangkah celakanya kami! Sungguh, kami benar-benar lengah tentang ini, bahkan kami benar-benar orang yang zalim.’” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 96–97).
Ayat ini memperlihatkan hubungan antara keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dengan dekatnya janji yang benar. Akan tetapi, peristiwa keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dan peniupan sangkakala tidak boleh disederhanakan menjadi satu peristiwa yang sama tanpa memperhatikan dalil-dalil lain.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj dibahas sebagai bagian dari peristiwa akhir zaman yang terjadi sebelum Kiamat.[1] Adapun QS. Al-Kahf ayat 99 menghubungkan gambaran “berbaur” dengan peniupan sangkakala dan pengumpulan makhluk.
Pelajaran yang perlu kita pegang adalah bahwa Ya’juj dan Ma’juj merupakan bagian dari berita wahyu. Kita mengimani apa yang disebutkan Al-Qur’an dan hadis sahih, tetapi tidak memastikan bangsa tertentu pada zaman sekarang sebagai Ya’juj dan Ma’juj tanpa dalil yang tegas.
Kita juga tidak boleh menjadikan setiap peperangan, kerusakan, atau bencana sebagai bukti pasti bahwa peristiwa akhir zaman tertentu sedang berlangsung.
5. Dalil kedua: semua manusia akan dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan
Allah Swt. berfirman:
قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَۙ ٤٩ لَمَجْمُوْعُوْنَۙ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ ٥٠
Artinya:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi.’” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 49–50).
Ayat ini menegaskan bahwa pengumpulan manusia bukanlah dugaan atau khayalan. Allah telah menetapkan waktu bagi peristiwa itu, meskipun manusia tidak mengetahui kapan waktunya.
Kita berasal dari generasi yang berbeda-beda. Ada manusia yang hidup ribuan tahun sebelum kita. Ada yang hidup pada masa sekarang. Ada pula generasi yang akan lahir setelah kita. Semua kehidupan manusia berada dalam pengetahuan Allah, dan seluruhnya akan kembali kepada-Nya.
Karena itu, jangan menganggap kehidupan ini hanya berakhir pada keberhasilan duniawi. Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Pujian manusia akan berlalu. Yang kita bawa adalah amal yang kita kerjakan dan keadaan iman ketika kembali kepada Allah.
Renungan
Jika seluruh manusia akan dikumpulkan, apakah kita masih pantas merendahkan orang lain karena miskin?
Jika seluruh manusia akan dikumpulkan, apakah kita masih pantas menipu orang lain demi keuntungan?
Jika seluruh manusia akan dikumpulkan, apakah kita masih pantas merasa aman ketika menyakiti keluarga, tetangga, murid, atau orang yang berada dalam tanggung jawab kita?
Hari pengumpulan mengingatkan kita bahwa tidak ada manusia yang terlalu tinggi untuk dimintai pertanggungjawaban, dan tidak ada amal baik yang luput dari pengetahuan Allah.
6. Dalil ketiga: bumi diratakan dan tidak seorang pun ditinggalkan
Allah Swt. berfirman:
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْاَرْضَ بَارِزَةً وَّحَشَرْنٰهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ اَحَدًا ۚ ٤٧
Artinya:
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (QS. Al-Kahf [18]: 47).
Perhatikan penegasan pada akhir ayat:
فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
“Dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.”
Di dunia, manusia sering membedakan dirinya berdasarkan kekayaan, suku, jabatan, pendidikan, dan pengaruh. Namun, pada hari pengumpulan, semua manusia berada di bawah kekuasaan Allah.
Tidak ada seseorang yang terlalu jauh untuk dikumpulkan oleh-Nya. Tidak ada orang yang dapat bersembunyi sehingga luput dari pengetahuan dan keputusan-Nya.
Ayat ini juga mengingatkan kita bahwa dunia yang terlihat kokoh sekarang tidak akan selamanya berada dalam keadaan yang sama. Gunung yang tampak sangat besar pun akan mengalami perubahan sesuai kehendak Allah.
Maka, jangan sampai kita menghabiskan seluruh umur untuk mengejar sesuatu yang fana, sementara bekal untuk kehidupan akhirat tidak kita siapkan.
7. Dalil keempat: apa itu sangkakala?
Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang ash-shūr, yaitu sangkakala. Dalam sebuah hadis, seorang Arab Badui bertanya kepada Nabi ﷺ tentang sangkakala. Beliau menjawab:
قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيهِ
Artinya:
“(Sangkakala itu adalah) sebuah tanduk yang ditiup.”[4]
Riwayat ini terdapat dalam Sunan Abi Dawud dan Jami‘ at-Tirmidzi, dengan pembahasan penilaian sanad yang perlu diperhatikan sesuai jalur riwayatnya.[4]
Keterangan ini membantu kita memahami bahwa ash-shūr bukan sekadar istilah kiasan dalam pembicaraan tentang akhirat. Ia merupakan bagian dari berita yang disampaikan dalam hadis.
Adapun rincian tentang bagaimana bentuknya, bagaimana cara peniupannya, dan seluruh urutan peristiwa gaib harus disampaikan berdasarkan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Kita tidak perlu menambahkan gambaran yang tidak dijelaskan oleh wahyu.
Yang terpenting bagi kita adalah meyakini bahwa Allah Mahakuasa untuk mematikan makhluk, membangkitkannya kembali, dan mengumpulkan seluruhnya.
8. Dalil kelima: peniupan sangkakala dan kebangkitan manusia
Allah Swt. berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِي الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ ٦٨
Artinya:
“Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang ada di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu), maka seketika itu mereka bangkit (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).” (QS. Az-Zumar [39]: 68).
Ayat ini menjelaskan dua peniupan yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut: peniupan yang menyebabkan makhluk yang dikehendaki Allah mengalami kematian, kemudian peniupan berikutnya yang membuat mereka bangkit.
Ayat ini penting untuk membantu kita memahami bahwa peniupan sangkakala dan pengumpulan manusia merupakan bagian dari rangkaian peristiwa akhirat. QS. Al-Kahf ayat 99 menyebut peniupan sangkakala dan pengumpulan, sedangkan QS. Az-Zumar ayat 68 menjelaskan peniupan dan kebangkitan secara lebih terperinci.
Kita tidak boleh menyamakan semua tahap itu tanpa penjelasan. Para ulama membahas urutan peniupan sangkakala berdasarkan penggabungan dalil-dalil yang ada.
Pelajaran untuk kehidupan
Jika Allah mampu membangkitkan manusia setelah kematian, maka kematian bukanlah akhir dari pertanggungjawaban.
Orang yang dizalimi mungkin tidak memperoleh keadilan sepenuhnya di dunia. Orang yang melakukan kejahatan mungkin lolos dari hukuman manusia. Sebaliknya, orang yang berbuat baik mungkin tidak menerima penghargaan yang sepadan selama hidupnya.
Keyakinan terhadap hari kebangkitan mengajarkan bahwa keadilan Allah tidak terbatas pada apa yang terlihat di dunia.
9. Hadis sahih: keadaan manusia ketika dibangkitkan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا.
Kemudian beliau membaca firman Allah:
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ ١٠٤
Artinya:
“Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.”
Lalu beliau membaca, “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. (Itu adalah) janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 104; hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim).[5]
Hadis ini mengingatkan kita bahwa manusia akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak sama dengan kehidupan dunia. Status sosial, pakaian, dan simbol kemegahan dunia tidak menjadi ukuran kemuliaan di hadapan Allah.
Ketika mendengar hadis ini, jangan hanya membayangkan keadaan fisik manusia. Renungkan pesan moralnya: semua manusia akan kembali kepada Allah tanpa membawa kebanggaan dunia yang dahulu mereka pamerkan.
Apa gunanya seseorang menghabiskan hidup untuk menyombongkan kekayaan jika pada akhirnya ia akan berdiri sebagai hamba yang membutuhkan rahmat Allah?
Apa gunanya jabatan jika digunakan untuk menindas, padahal pemilik jabatan itu akan dimintai pertanggungjawaban?
Apa gunanya ilmu jika digunakan untuk menipu, padahal Allah mengetahui niat dan perbuatan manusia?
Maka, gunakanlah nikmat dunia sebagai bekal untuk kehidupan akhirat, bukan sebagai alasan untuk menyombongkan diri.
10. Dalil keenam: manusia akan dikumpulkan dalam keadaan yang sangat ramai
Allah Swt. berfirman:
يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ۖ ذٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ
Artinya:
“(Ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan. Itulah hari dinyatakannya kerugian.” (QS. At-Taghabun [64]: 9, penggalan ayat).
Hari itu disebut hari pengumpulan karena manusia dari berbagai generasi dikumpulkan. Ayat ini juga menyebutnya sebagai yaum at-taghabun, hari ketika tampak kerugian yang sebenarnya.
Di dunia, seseorang dapat merasa dirinya untung karena memperoleh banyak harta. Namun, jika harta itu diperoleh dengan menipu, mengabaikan kewajiban, atau menyakiti orang lain, keuntungan itu dapat menjadi sebab kerugian di akhirat.
Sebaliknya, seseorang mungkin hidup sederhana, tetapi jujur, sabar, dan tekun dalam beribadah. Nilai kehidupannya tidak dapat diukur hanya dengan banyaknya harta yang dimiliki.
Hari pengumpulan akan memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan manusia tidak berhenti pada pencapaian dunia.
11. Hadis tentang sangkakala: jangan hidup dalam kelalaian
Rasulullah ﷺ bersabda:
كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ، وَحَنَى جَبْهَتَهُ، وَأَصْغَى بِالْأُذُنِ مَتَى يُؤْمَرُ؟
Artinya:
“Bagaimana aku dapat merasa tenang, sementara pemegang sangkakala telah meletakkan sangkakala di mulutnya, menundukkan dahinya, dan memasang pendengarannya untuk menunggu kapan ia diperintahkan?”[6]
Hadis ini diriwayatkan melalui sejumlah jalur dalam kitab hadis, di antaranya Musnad Ahmad dan Jami‘ at-Tirmidzi; para ulama membahas penilaian sanadnya. Karena itu, ia dapat digunakan sebagai pengingat dengan menyebut sumber dan status riwayat secara hati-hati, bukan sebagai pengganti dalil Al-Qur’an dan hadis sahih yang lebih kuat.
Makna pengingatnya ialah bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umat untuk menyadari kedahsyatan hari akhir. Kesadaran ini bukan untuk membuat kita meninggalkan kehidupan dunia, tetapi agar kita tidak tenggelam dalam kelalaian.
Kita tetap bekerja, mengajar, berdagang, mendidik anak, dan membangun masyarakat. Akan tetapi, semua pekerjaan itu harus dijalankan dengan iman dan tanggung jawab.
Seorang muslim tidak harus hidup dalam ketakutan yang melumpuhkan. Ia justru berusaha memperbaiki amal, berharap kepada rahmat Allah, dan tidak merasa aman dari akibat dosa.
12. Tafsir praktis: bagaimana mempersiapkan diri menghadapi hari pengumpulan?
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Setelah memahami ayat dan hadis tentang kebangkitan, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang perlu kita lakukan sekarang?
A. Menjaga salat
Salat adalah kewajiban utama seorang muslim. Jagalah salat pada waktunya, pelajari tata caranya dengan benar, dan hadirkan hati ketika menghadap Allah.
Jangan menunggu tua untuk memperbaiki salat. Jangan pula menunggu musibah datang baru kembali kepada Allah.
B. Memperbaiki hubungan dengan sesama
Jangan hanya memperbanyak ibadah yang bersifat pribadi, tetapi melupakan hak orang lain. Jika pernah menyakiti, mintalah maaf. Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika pernah memfitnah, perbaiki kesalahan itu sejauh yang mampu dilakukan.
Kesadaran terhadap hari pengumpulan harus menjadikan kita lebih berhati-hati terhadap lisan, tangan, dan keputusan kita.
C. Menjaga amanah
Guru bertanggung jawab terhadap muridnya. Pemimpin bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya. Orang tua bertanggung jawab terhadap keluarganya. Pekerja bertanggung jawab terhadap tugasnya.
Jangan menganggap amanah sebagai sesuatu yang ringan. Setiap kesempatan berbuat baik adalah kesempatan menyiapkan bekal akhirat.
D. Memperbanyak tobat
Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Akan tetapi, jangan membiarkan kesalahan menjadi kebiasaan. Bertobatlah, tinggalkan dosa, dan berusaha memperbaiki akibat dari perbuatan yang telah dilakukan.
Jangan berputus asa dari rahmat Allah, tetapi jangan pula menjadikan rahmat-Nya sebagai alasan untuk terus bermaksiat.
E. Mengingat kematian tanpa meninggalkan tanggung jawab dunia
Mengingat akhirat bukan berarti kita berhenti bekerja. Justru kesadaran terhadap akhirat seharusnya membuat pekerjaan kita lebih jujur, keluarga kita lebih terjaga, dan pelayanan kita kepada masyarakat lebih baik.
Dunia adalah tempat beramal. Akhirat adalah tempat menerima balasan. Maka, gunakanlah kesempatan hidup untuk memperbanyak kebaikan.
13. Renungan: jika hari ini adalah kesempatan terakhir
Jamaah yang dirahmati Allah,
Bayangkan jika hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk memperbaiki diri. Apakah kita masih ingin mempertahankan kesombongan? Apakah kita masih ingin menyimpan dendam? Apakah kita masih merasa bahwa meminta maaf adalah tanda kelemahan?
Bayangkan jika seluruh amal kita diperlihatkan. Apakah kita merasa tenang ketika mengingat cara kita memperoleh harta, cara kita berbicara kepada keluarga, dan cara kita memperlakukan orang yang lebih lemah?
Pertanyaan ini bukan untuk membuat kita berputus asa. Justru pertanyaan ini menjadi jalan untuk memperbaiki diri sebelum kesempatan hidup berakhir.
Selama masih hidup, pintu tobat masih terbuka. Selama masih diberi waktu, kita dapat memperbaiki salat, menambah ilmu, memperbaiki hubungan, dan menolong orang lain.
Jangan menunda kebaikan hanya karena merasa masih memiliki banyak waktu. Kita tidak mengetahui kapan ajal datang.
14. Penutup
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Kahf ayat 99 mengingatkan kita tentang keadaan makhluk yang berbaur dan bergelombang, kemudian sangkakala ditiup dan seluruh manusia dikumpulkan oleh Allah.
Para ulama tafsir menjelaskan beberapa pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan makhluk yang berbaur dalam bagian pertama ayat. Namun, bagian tentang peniupan sangkakala dan pengumpulan manusia mengingatkan kita secara tegas tentang kebangkitan dan pertanggungjawaban akhirat.
Dari ayat ini kita belajar bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya. Kekuatan manusia terbatas. Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Seluruh manusia akan kembali kepada Allah.
Karena itu, marilah kita mempersiapkan diri dengan iman yang benar, salat yang terjaga, akhlak yang baik, amanah yang ditunaikan, dan tobat yang sungguh-sungguh.
Semoga ketika tiba saatnya kita dikumpulkan di hadapan Allah, Dia menerima amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang memperoleh rahmat.
Doa penutup
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.
اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَعِدُّونَ لِلِقَائِكَ بِالْإِيمَانِ وَالتَّوْبَةِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا.
اللّٰهُمَّ اجْمَعْنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي زُمْرَةِ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَظِلِّلْنَا بِرَحْمَتِكَ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Catatan kaki dan rujukan kitab
[1] Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 99. Dalam penafsirannya, Ibnu Katsir menyebut beberapa pendapat mengenai makna “berbaur antara satu dengan yang lain”, termasuk keluarnya Ya’juj dan Ma’juj serta bercampurnya manusia dan jin pada hari Kiamat.
[2] Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 99. Pembahasannya mencakup makna yamūju sebagai gambaran gerakan, percampuran, dan kebingungan, serta beberapa pendapat tentang siapa yang dimaksud dalam ayat.
[3] Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 99.
[4] Abu Dawud, Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Sunnah, riwayat tentang ash-shūr sebagai tanduk yang ditiup; lihat pula Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, Jāmi‘ at-Tirmidzī, pembahasan tentang sangkakala dan hari Kiamat. Penilaian sanad perlu dirujuk sesuai jalur dan edisi yang digunakan.
[5] Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Riqāq, bab tentang keadaan manusia pada hari Kiamat; Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifat Na‘īmihā wa Ahlihā, riwayat tentang manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.
[6] Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, riwayat tentang pemegang sangkakala; Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, Al-Jāmi‘, pembahasan tentang keadaan menjelang Kiamat. Riwayat ini disampaikan sebagai pengingat dengan tetap memperhatikan pembahasan ulama tentang sanadnya.
Catatan ilmiah: Terjemahan petikan tafsir merupakan terjemahan makna. Nomor halaman dan penomoran hadis dapat berbeda menurut edisi. Untuk pembahasan publik, bedakan antara tafsir ayat, hadis yang sahih, dan riwayat yang kualitas sanadnya masih dibahas. Jangan memastikan rincian perkara gaib di luar keterangan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.
Post a Comment