Ketika Penderitaan Memuncak: Kesedihan Maryam, Pertolongan Allah, dan Kekuatan Menghadapi Ujian

MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN

SURAH MARYAM AYAT 23

Ketika Penderitaan Memuncak: Kesedihan Maryam, Pertolongan Allah, dan Kekuatan Menghadapi Ujian

A. Teks Ayat dan Terjemahan

فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا

Artinya: “Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, ‘Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.’” (QS. Maryam [19]: 23).

B. Muqaddimah Ceramah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti petunjuk beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah, ayat ini membawa kita ke saat yang sangat berat dalam kehidupan Maryam. Ia menghadapi rasa sakit persalinan, kesendirian, dan kecemasan terhadap penilaian masyarakat. Al-Qur’an tidak menyembunyikan beratnya pengalaman manusia; ayat ini justru mengajarkan bahwa orang saleh pun dapat mengalami kesedihan yang mendalam.

Kisah Maryam tidak berhenti pada kesedihan. Ayat berikutnya memperlihatkan penghiburan dan pertolongan Allah. Karena itu, jangan membaca ayat ini sebagai ajakan untuk menyerah, melainkan sebagai potret manusia yang sedang berada di puncak ujian dan tetap berada dalam jangkauan rahmat Allah.

C. Tafsir Terperinci Lafaz Ayat

1. فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ — Rasa sakit melahirkan memaksanya

Kata al-makhāḍ menunjuk pada rasa sakit dan proses persalinan. Ungkapan fa-ajâ’ahâ menggambarkan keadaan yang mendorong Maryam menuju tempat bersandar. Ia tidak sedang memilih suasana yang nyaman; ia menghadapi keadaan yang tidak dapat ditunda.

Pelajaran: penderitaan tidak selalu menandakan lemahnya iman. Tubuh manusia memiliki batas, dan orang saleh tetap dapat merasakan sakit, takut, letih, serta membutuhkan pertolongan.

2. إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ — Ke pangkal pohon kurma

Maryam bersandar pada pangkal pohon kurma ketika persalinan datang. Al-Qur’an menyebut keadaan konkret ini sehingga pembaca merasakan beratnya situasi yang ia alami. Dalam ayat berikutnya, Allah menyampaikan penghiburan dan petunjuk kepadanya.

Pelajaran: berserah diri kepada Allah bukan berarti tidak menggunakan sebab-sebab yang tersedia. Manusia boleh mencari tempat aman, meminta bantuan, beristirahat, dan menerima dukungan orang lain.

3. يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا — Alangkah baiknya aku mati sebelum ini

Ucapan Maryam menunjukkan puncak kesedihan dan tekanan yang ia rasakan. Ia menghadapi persalinan dalam keadaan sulit dan mengkhawatirkan apa yang akan dikatakan orang-orang tentang dirinya. Ini gambaran kondisi batin yang ekstrem, bukan perintah syariat agar seseorang mengharapkan kematian.

Dalam menghadapi musibah, seorang Muslim diajarkan memohon pertolongan Allah dan tidak menjadikan kematian sebagai jalan keluar yang diharapkan. Bila kesedihan terasa berat, mencari pertolongan keluarga, sahabat tepercaya, tokoh agama, atau tenaga profesional merupakan ikhtiar yang baik.

4. وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا — Menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan

Kata nasy’an dapat dipahami sebagai sesuatu yang ditinggalkan atau tidak lagi diingat, sedangkan mansiyyā menegaskan keadaan dilupakan. Maryam berharap dirinya tidak menjadi pusat perhatian dan tuduhan. Ia ingin terbebas dari beban sosial yang terasa menghimpit.

Pelajaran: ucapan orang lain dapat melukai, tetapi penilaian manusia bukan ukuran mutlak kemuliaan seseorang. Allah mengetahui kenyataan, niat, dan kesucian hamba-Nya.

D. Dalil Al-Qur’an tentang Kesedihan, Ujian, dan Harapan

1. Nabi Ya‘qub mengadukan kesedihan kepada Allah

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dia (Ya‘qub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Yusuf [12]: 86).

Ayat ini menunjukkan bahwa mengungkapkan kesedihan kepada Allah bukan tanda kurangnya iman. Nabi Ya‘qub menyampaikan dukanya, tetapi tetap menjaga harapan kepada Allah.

2. Allah tidak membebani di luar kemampuan

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286, bagian ayat).

Ayat ini bukan berarti setiap orang harus menanggung masalah sendirian. Menggunakan bantuan dan ikhtiar yang halal termasuk bagian dari usaha menghadapi beban.

3. Bersama kesulitan ada kemudahan

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarḥ [94]: 5–6).

E. Dalil Sunnah Nabi ﷺ

1. Larangan berharap kematian karena musibah

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Jika ia harus mengucapkannya, hendaklah ia berkata: ‘Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila wafat lebih baik bagiku.’”

Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Maraḍ, hadis no. 5671 dalam penomoran yang umum digunakan; nomor dapat berbeda menurut edisi.

Hadis ini menjadi pedoman praktis saat seseorang mengalami tekanan berat: serahkan keputusan terbaik kepada Allah dan mohonkan kebaikan, bukan kematian karena putus asa.

2. Kesedihan dan kesusahan dapat menjadi penghapus dosa

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya: “Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau dukacita—bahkan duri yang menusuknya—melainkan Allah menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya karenanya.”

Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 5641–5642 dalam penomoran umum; lihat pula Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2573.

Hadis ini tidak menafikan perlunya pengobatan atau bantuan. Ia memberi harapan bahwa penderitaan yang dihadapi dengan iman tidak sia-sia di sisi Allah.

F. Penjelasan Ulama Tafsir Klasik

1. Imam al-Ṭabarī

وَالنَّسْيُ: الشَّيْءُ الْمَنْسِيُّ الَّذِي لَا يُذْكَرُ

Terjemah ringkas: “An-nasy’ adalah sesuatu yang dilupakan, yang tidak disebut-sebut.” Inti penjelasan: ungkapan Maryam menggambarkan keinginannya agar dirinya tidak lagi menjadi bahan pembicaraan.

Rujukan: Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 23. Nomor halaman berbeda menurut tahqiq dan penerbit.

2. Imam al-Qurṭubī

Dalam pembahasan ayat ini, al-Qurṭubī menerangkan beratnya keadaan Maryam ketika persalinan datang serta makna ungkapan tentang sesuatu yang ditinggalkan dan dilupakan. Ucapannya memperlihatkan tekanan yang ia alami, bukan ketetapan hukum yang menganjurkan manusia berharap mati.

Rujukan: Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 23. Periksa edisi yang digunakan untuk nomor jilid dan halaman yang tepat.

3. Ibnu Kaṡīr

Ibnu Kaṡīr menjelaskan bahwa Maryam mengalami kesedihan yang sangat besar dan mengucapkan kalimat tersebut ketika rasa sakit persalinan serta kecemasan menghadapi masyarakat memuncak. Kisah ini berlanjut dengan penghiburan Allah dalam ayat sesudahnya.

Rujukan: Ismā‘īl ibn ‘Umar ibn Kaṡīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam [19]: 23–24.

4. Al-Baghawī

Al-Baghawī menafsirkan ungkapan nasy’an mansiyyā sebagai sesuatu yang ditinggalkan dan tidak diingat. Makna ini memperjelas bahwa Maryam sedang mengungkapkan beratnya beban sosial dan batin yang ia rasakan.

Rujukan: al-Ḥusayn ibn Mas‘ūd al-Baghawī, Ma‘ālim al-Tanzīl, tafsir QS. Maryam [19]: 23.

G. Pelajaran Kehidupan

·        Orang beriman pun dapat mengalami kesedihan, ketakutan, dan rasa sakit; hal itu tidak otomatis menunjukkan lemahnya iman.

·        Mengadu kepada Allah merupakan ibadah, dan mencari bantuan manusia yang aman serta tepercaya adalah bagian dari ikhtiar.

·        Jangan menyamakan ucapan yang keluar saat tekanan memuncak dengan ajaran untuk berputus asa.

·        Penilaian manusia tidak selalu benar; Allah mengetahui kebenaran yang tidak diketahui orang banyak.

·        Ketika mendampingi orang yang tertekan, dengarkan tanpa menghakimi, bantu kebutuhan konkretnya, dan hubungkan dengan dukungan yang tepat.

·        Ayat berikutnya (Maryam: 24 dan seterusnya) mengingatkan bahwa kisah kesulitan Maryam berlanjut dengan penghiburan dan pertolongan Allah.

H. Naskah Ceramah Siap Disampaikan

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Bayangkan seorang perempuan salehah berada dalam keadaan yang sangat berat. Rasa sakit persalinan datang. Ia menghadapi kesendirian. Ia juga memikirkan apa yang akan dikatakan masyarakat ketika melihat dirinya membawa seorang bayi. Dalam keadaan itulah Maryam mengucapkan, “Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan menjadi sesuatu yang dilupakan.”

Al-Qur’an tidak menampilkan Maryam sebagai sosok yang tidak pernah merasa sakit. Justru Al-Qur’an menunjukkan sisi kemanusiaannya. Orang saleh dapat menangis. Orang saleh dapat merasa takut. Orang saleh dapat mengalami tekanan batin. Yang penting adalah bagaimana ia tetap berada dalam hubungan dengan Allah dan bagaimana orang-orang di sekitarnya memberikan pertolongan, bukan celaan.

Nabi Ya‘qub berkata bahwa ia mengadukan kesusahan dan kesedihannya hanya kepada Allah. Ini mengajarkan kita bahwa mengakui kesedihan bukan aib. Kita tidak harus berpura-pura kuat setiap saat. Kita boleh berdoa, menangis, bercerita kepada orang tepercaya, meminta bantuan, dan mencari pengobatan bila diperlukan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita tidak berharap mati karena musibah. Beliau mengajarkan doa agar Allah memilihkan yang terbaik: jika hidup baik bagi kita, semoga Allah memberi kehidupan; jika wafat lebih baik, keputusan itu diserahkan kepada-Nya. Maka, ketika kita berada di titik terendah, jangan mengambil keputusan dalam keputusasaan. Carilah pertolongan dan bertahanlah satu langkah demi satu langkah.

Hadirin, jangan cepat menghakimi orang yang sedang tertekan. Jangan berkata, “Imanmu lemah,” hanya karena ia menangis. Jadilah orang yang mendengarkan. Jadilah tangan yang membantu. Kadang-kadang, pertolongan Allah hadir melalui manusia yang mau menemani, mengantar berobat, menjaga anak, atau sekadar duduk tanpa mencela.

Kesedihan Maryam bukan akhir ceritanya. Ayat-ayat setelah ini memperlihatkan penghiburan Allah. Maka jangan putuskan seluruh kisah hidup kita hanya berdasarkan satu halaman yang paling gelap. Selama kita masih hidup, pintu doa, ikhtiar, pertolongan, dan rahmat Allah tetap terbuka.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tabah tanpa harus memendam semua luka sendirian, dan menjadikan kita orang yang lembut kepada mereka yang sedang diuji. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

I. Doa Penutup

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِي بِهَا قُلُوبَنَا، وَتَجْمَعُ بِهَا أَمْرَنَا، وَتَلُمُّ بِهَا شَعَثَنَا، وَتَرُدُّ بِهَا الْفِتَنَ عَنَّا، وَتُصْلِحُ بِهَا دِينَنَا وَدُنْيَانَا

Artinya: “Ya Allah, kami memohon rahmat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau membimbing hati kami, menyatukan urusan kami, memperbaiki keadaan kami, menjauhkan fitnah dari kami, dan memperbaiki agama serta dunia kami.”

اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوبَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ ضُعَفَاءَنَا، وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الظَّنِّ بِكَ وَالثِّقَةَ بِرَحْمَتِكَ

Artinya: “Ya Allah, lapangkan kegundahan kami, hilangkan kesempitan kami, sembuhkan orang-orang sakit di antara kami, sayangi mereka yang lemah, jadikan bagi kami jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari setiap kesedihan, serta anugerahkan kepada kami prasangka baik kepada-Mu dan keyakinan terhadap rahmat-Mu.”

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

J. Catatan Rujukan dan Daftar Pustaka

1.       Al-Qur’an al-Karim: QS. Maryam [19]: 23–24; QS. Yusuf [12]: 86; QS. Al-Baqarah [2]: 286; QS. Asy-Syarḥ [94]: 5–6.

2.       Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī: hadis tentang larangan berharap kematian karena musibah; dan hadis tentang kesusahan yang menggugurkan dosa. Nomor hadis dapat berbeda menurut edisi.

3.       Muslim ibn al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2573 (penomoran yang umum digunakan), tentang musibah dan penghapusan dosa.

4.       Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 23.

5.       Al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 23.

6.       Ibn Kaṡīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam [19]: 23–24.

7.       Al-Baghawī, al-Ḥusayn ibn Mas‘ūd. Ma‘ālim al-Tanzīl, tafsir QS. Maryam [19]: 23.

Tidak ada komentar