KITA HANYA SEMENTARA: ALLAH ADALAH PEWARIS SELURUH BUMI DAN KEPADA-NYA KITA KEMBALI
MATERI CERAMAH TAFSIR SURAH MARYAM AYAT 40
Tema: Kajian Tafsir Al-Qur’an, Hadis, dan Penjelasan Ulama
“KITA HANYA SEMENTARA: ALLAH ADALAH PEWARIS SELURUH BUMI DAN KEPADA-NYA KITA KEMBALI”
Pokok pesan: Seluruh kekuasaan, kekayaan, jabatan, dan kehidupan manusia hanyalah titipan. Tidak ada satu pun yang akan kekal. Allah tetap hidup dan kekal, sedangkan seluruh makhluk akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.
A. Muqaddimah
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya dibuktikan dengan banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga dengan kesadaran bahwa seluruh kehidupan ini akan berakhir dan kita akan kembali menghadap Allah Swt.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa memiliki banyak hal. Ada yang merasa memiliki rumah, tanah, kendaraan, jabatan, kekuasaan, harta, bahkan merasa memiliki masa depan yang panjang.
Namun, pernahkah kita merenungkan satu pertanyaan?
Siapakah pemilik bumi ini ketika seluruh manusia telah meninggal dunia?
Siapakah yang memiliki istana ketika penghuninya sudah berada di dalam kubur? Siapakah yang memiliki jabatan ketika pemegangnya sudah tidak bernyawa? Siapakah yang memiliki harta ketika pemiliknya sudah meninggalkan dunia?
Allah Swt. menjawab pertanyaan itu melalui Surah Maryam ayat 40.
B. Ayat Al-Qur’an dan terjemahannya
Allah Swt. berfirman:
QS. Maryam \[19\]: 40
اِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاِلَيْنَا يُرْجَعُوْنَ ࣖ
Artinya:
“Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami mereka dikembalikan.”
Ayat ini merupakan penegasan bahwa Allah adalah pemilik mutlak seluruh alam. Semua makhluk akan binasa, sementara Allah tetap kekal. Setelah kehidupan dunia berakhir, seluruh manusia akan dikembalikan kepada-Nya untuk menerima perhitungan dan balasan atas amal perbuatannya.
Ayat ini juga menjadi penghibur bagi Rasulullah saw. ketika menghadapi orang-orang musyrik yang mendustakan dakwah beliau. Allah mengingatkan bahwa orang-orang yang menolak kebenaran tidak akan lepas dari kekuasaan-Nya. Mereka semua akan kembali kepada Allah dan mendapatkan balasan yang adil.
C. Pembahasan tafsir secara mendalam
1\. إِنَّا نَحْنُ — Sesungguhnya Kamilah
Ayat ini diawali dengan dua bentuk penegasan:
* إِنَّا (innā): sesungguhnya Kami.
* نَحْنُ (naḥnu): Kamilah.
Keduanya memberikan penekanan bahwa Allah adalah pemilik dan penguasa mutlak seluruh alam.
Kata “Kami” dalam ayat ini merupakan bentuk pengagungan Allah (jam‘ut-ta‘zhīm), bukan menunjukkan bahwa Allah terdiri atas banyak pribadi. Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak memiliki sekutu.
Allah berfirman:
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlas \[112\]: 1)
Dengan demikian, ketika Allah menggunakan kata “Kami”, hal itu menunjukkan kebesaran, keagungan, dan kesempurnaan kekuasaan-Nya.
Pelajaran bagi kehidupan:
Manusia tidak boleh merasa menjadi penguasa mutlak. Seorang pemimpin hanyalah pemegang amanah. Seorang guru hanyalah pemegang amanah ilmu. Orang kaya hanyalah penerima titipan harta. Orang yang memiliki jabatan hanyalah penerima tanggung jawab.
Semua amanah itu akan dimintai pertanggungjawaban.
2\. نَرِثُ الْأَرْضَ — Kamilah yang mewarisi bumi
Kata نَرِثُ berasal dari kata وَرِثَ yang berarti mewarisi.
Dalam konteks ayat ini, Allah menjelaskan bahwa seluruh penghuni bumi akan meninggal dunia, seluruh kepemilikan makhluk akan berakhir, dan hanya Allah yang tetap kekal.
Bukan berarti Allah baru memperoleh kepemilikan setelah makhluk meninggal. Sejak semula Allah adalah pemilik seluruh alam. Ungkapan “mewarisi” menunjukkan bahwa setelah semua makhluk binasa, tidak ada lagi makhluk yang mengaku memiliki atau menguasai bumi.
Allah berfirman:
وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya:
“Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Ali ‘Imran \[3\]: 189)
Perhatikan, jamaah sekalian!
Manusia boleh memiliki sertifikat tanah, tetapi tidak bisa menjamin bahwa dirinya akan terus hidup di atas tanah tersebut.
Manusia boleh membangun rumah megah, tetapi tidak bisa memastikan bahwa dirinya akan menjadi penghuni rumah itu selamanya.
Manusia boleh memiliki banyak kendaraan, tetapi tidak bisa membawa seluruh kendaraannya ke alam kubur.
Semua yang kita miliki akan kita tinggalkan.
3\. وَمَنْ عَلَيْهَا — Dan semua yang ada di atas bumi
Frasa ini menunjukkan bahwa tidak hanya tanah dan bangunan yang akan berakhir, tetapi juga seluruh makhluk yang hidup di atasnya.
Manusia, hewan, tumbuhan, bangsa-bangsa, kerajaan, dan seluruh kehidupan dunia berada di bawah kekuasaan Allah.
Allah berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ
وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ
Artinya:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”
(QS. Ar-Rahman \[55\]: 26–27)
Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang dua kenyataan besar:
* Seluruh makhluk pasti mengalami kebinasaan.
* Allah Swt. tetap hidup dan kekal selama-lamanya.
Karena itu, jangan sampai manusia terlalu sibuk membangun kehidupan dunia, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.
4\. وَاِلَيْنَا يُرْجَعُوْنَ — Dan hanya kepada Kami mereka dikembalikan
Inilah puncak pesan ayat tersebut.
Manusia bukan hanya akan meninggalkan dunia, tetapi juga akan dikembalikan kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh kehidupannya.
Kata يُرْجَعُوْنَ menunjukkan bahwa seluruh manusia akan kembali kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindari pengadilan-Nya.
Allah berfirman:
وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
Artinya:
“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).”
(QS. Al-Baqarah \[2\]: 281)
Jamaah rahimakumullah.
Kita kembali kepada Allah bukan hanya membawa nama dan identitas, tetapi juga membawa catatan amal.
Apa yang pernah kita ucapkan, apa yang pernah kita lakukan, apa yang pernah kita berikan, bahkan apa yang pernah kita sembunyikan, semuanya berada dalam pengetahuan Allah.
D. Penjelasan para ulama ahli tafsir
1\. Imam Ath-Thabari: Semua manusia kembali dan menerima balasan
Dalam kitab Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini dengan menghubungkannya pada penghiburan Allah kepada Rasulullah saw.
Beliau menulis:
يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ لِنَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَحْزُنُكَ تَكْذِيبُ هَؤُلَاءِ الْمُشْرِكِينَ لَكَ يَا مُحَمَّدُ فِيمَا أَتَيْتَهُمْ بِهِ مِنَ الْحَقِّ، فَإِنَّ إِلَيْنَا مَرْجِعَهُمْ وَمَصِيرَهُمْ وَمَصِيرَ جَمِيعِ الْخَلْقِ غَيْرِهِمْ، وَنَحْنُ وَارِثُو الْأَرْضِ وَمَنْ عَلَيْهَا مِنَ النَّاسِ بِفَنَائِهِمْ مِنْهَا، وَبَقَائِهَا لَا مَالِكَ لَهَا غَيْرُنَا، ثُمَّ عَلَيْنَا جَزَاءُ كُلِّ عَامِلٍ مِنْهُمْ بِعَمَلِهِ، عِنْدَ مَرْجِعِهِ إِلَيْنَا، الْمُحْسِنِ مِنْهُمْ بِإِحْسَانِهِ، وَالْمُسِيءِ بِإِسَاءَتِهِ.
Artinya:
“Allah Yang Mahatinggi berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad saw.: Janganlah engkau bersedih karena pendustaan orang-orang musyrik terhadap kebenaran yang engkau bawa kepada mereka. Sesungguhnya kepada Kamilah tempat kembali dan kesudahan mereka serta seluruh makhluk. Kamilah yang mewarisi bumi dan siapa pun yang ada di atasnya karena mereka akan binasa darinya, sedangkan bumi tetap ada dan tidak ada pemiliknya selain Kami. Kemudian Kamilah yang memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan amalnya ketika mereka kembali kepada Kami; orang yang berbuat baik dibalas karena kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk dibalas karena keburukannya.”
Ulasan untuk ceramah:
Imam Ath-Thabari menampilkan dua pesan penting.
Pertama, Rasulullah saw. tidak perlu larut dalam kesedihan ketika menghadapi penolakan manusia. Tugas seorang rasul adalah menyampaikan kebenaran, sedangkan keputusan akhir berada di tangan Allah.
Kedua, seluruh manusia akan mendapatkan balasan sesuai amalnya. Orang yang berbuat baik tidak akan kehilangan pahala kebaikannya, dan orang yang berbuat zalim tidak akan lolos dari keadilan Allah.
Ini menjadi penghiburan bagi orang yang dizalimi. Mungkin di dunia ini orang yang berbuat zalim masih bisa tersenyum, masih bisa menikmati kekuasaan, dan belum mendapatkan hukuman. Akan tetapi, tidak ada satu pun kezaliman yang luput dari pengadilan Allah.
2\. Imam Al-Qurthubi: Allah mewarisi bumi setelah seluruh penghuninya meninggal
Imam Al-Qurthubi menjelaskan:
أَيْ نُمِيتُ سُكَّانَهَا فَنَرِثُهَا، وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنُجَازِي كُلًّا بِعَمَلِهِ.
Artinya:
“Yakni, Kami mematikan para penghuninya, kemudian Kamilah yang mewarisinya. Dan kepada Kamilah mereka dikembalikan pada hari Kiamat, lalu Kami memberikan balasan kepada masing-masing sesuai dengan amalnya.”
Ulasan:
Imam Al-Qurthubi menekankan hubungan antara kematian, kepemilikan Allah, dan hari pembalasan.
Kematian menjadi bukti bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan yang abadi. Semua kepemilikan dunia akan terputus ketika ajal tiba.
Namun, amal seseorang tidak hilang begitu saja. Amal itu akan menjadi dasar pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Oleh karena itu, seseorang hendaknya tidak hanya bertanya:
“Berapa banyak harta yang sudah saya kumpulkan?”
Tetapi juga bertanya:
“Berapa banyak kebaikan yang sudah saya lakukan dengan harta tersebut?”
Bukan hanya:
“Seberapa tinggi jabatan saya?”
Tetapi:
“Sudahkah jabatan itu saya gunakan untuk menegakkan keadilan?”
3\. Imam Ibnu Katsir: Allah adalah Pencipta, Pemilik, dan Penguasa seluruh makhluk
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّهُ الْخَالِقُ الْمَالِكُ الْمُتَصَرِّفُ، وَأَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ يَهْلِكُونَ وَيَبْقَى هُوَ، تَعَالَى وَتَقَدَّسَ، وَلَا أَحَدَ يَدَّعِي مِلْكًا وَلَا تَصَرُّفًا، بَلْ هُوَ الْوَارِثُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ، الْبَاقِي بَعْدَهُمْ، الْحَاكِمُ فِيهِمْ، فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا، وَلَا جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، وَلَا مِثْقَالَ ذَرَّةٍ.
Artinya:
“Allah Ta‘ala memberitahukan bahwa Dialah Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh makhluk. Seluruh makhluk akan binasa, sedangkan Dia tetap kekal, Mahatinggi dan Mahasuci. Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku memiliki kekuasaan atau pengaturan secara mutlak. Bahkan Dialah pewaris seluruh makhluk-Nya, Yang tetap ada setelah mereka binasa, dan Yang memutuskan perkara di antara mereka. Maka tidak ada satu jiwa pun yang dizalimi sedikit pun, tidak pula sebesar sayap nyamuk atau seberat biji zarah.”
Ulasan:
Penjelasan Ibnu Katsir sangat kuat dalam menegaskan bahwa kekuasaan Allah meliputi tiga hal:
* Allah adalah Al-Khāliq, yaitu Pencipta.
* Allah adalah Al-Mālik, yaitu Pemilik.
* Allah adalah Al-Mudabbir, yaitu Pengatur seluruh urusan.
Manusia mungkin mempunyai kekuasaan, tetapi kekuasaan manusia terbatas. Manusia mungkin mempunyai harta, tetapi harta itu tidak dapat menjamin keselamatan dirinya.
Allah tidak akan menzalimi siapa pun. Semua keputusan-Nya berdasarkan ilmu, keadilan, dan kebijaksanaan yang sempurna.
4\. Syekh Abdurrahman As-Sa‘di: Dunia akan pergi dan manusia akan kembali kepada Allah
Dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān, Syekh As-Sa‘di menjelaskan:
فَالدُّنْيَا وَمَا فِيهَا مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا سَتَذْهَبُ عَنْ أَهْلِهَا، وَيَذْهَبُونَ عَنْهَا، وَسَيَرِثُ اللَّهُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا، وَيُرْجِعُهُمْ إِلَيْهِ، فَيُجَازِيهِمْ بِمَا عَمِلُوا فِيهَا، وَمَا خَسِرُوا فِيهَا أَوْ رَبِحُوا.
Artinya:
“Dunia beserta segala isinya, dari awal hingga akhirnya, akan pergi meninggalkan penghuninya, dan mereka pun akan meninggalkan dunia. Allah akan mewarisi bumi dan seluruh yang ada di atasnya, kemudian mengembalikan mereka kepada-Nya. Lalu Allah membalas mereka berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan di dunia, apa yang mereka rugikan dan apa yang mereka peroleh.”
Ulasan:
Syekh As-Sa‘di mengajak manusia melihat dunia sebagai tempat beramal, bukan tempat tinggal yang abadi.
Ada manusia yang memperoleh keuntungan akhirat dari kehidupan dunianya. Ada pula yang justru mengalami kerugian karena menyia-nyiakan umur, kesehatan, harta, dan kesempatan berbuat baik.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang muslim bukan hanya keberhasilan duniawi, tetapi juga keselamatan ketika kembali kepada Allah.
Catatan: Kutipan Arab di atas disajikan sebagai petikan penjelasan ulama; terjemahan merupakan terjemahan makna. Rujukan tafsir ayat ini dapat ditelusuri melalui naskah digital kitab-kitab tersebut. الآية 40 +3
E. Dalil Al-Qur’an yang menguatkan kandungan ayat
1\. Semua kerajaan dan kekuasaan adalah milik Allah
Allah berfirman:
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.’”
(QS. Ali ‘Imran \[3\]: 26)
Penjelasan:
Jabatan dan kekuasaan bukan milik manusia secara mutlak. Allah bisa mengangkat seseorang menjadi pemimpin dan Allah pula yang bisa mencabut kekuasaan tersebut.
Maka, jangan sampai jabatan menjadikan seseorang sombong, sewenang-wenang, dan lupa kepada Allah.
2\. Semua makhluk akan binasa, hanya Allah yang kekal
Allah berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ
وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ
Artinya:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”
(QS. Ar-Rahman \[55\]: 26–27)
Penjelasan:
Ayat ini merupakan pengingat bahwa tidak ada satu pun makhluk yang akan hidup selamanya. Kekayaan, kecantikan, kekuatan, dan jabatan semuanya memiliki batas.
Hanya Allah yang tidak mengalami kematian dan kebinasaan.
3\. Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya
Allah berfirman:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
Artinya:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
(QS. Az-Zalzalah \[99\]: 7–8)
Penjelasan:
Tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dicatat. Tidak ada pula keburukan yang terlalu kecil sehingga dianggap tidak berarti.
Senyuman, bantuan kecil, sedekah, dan ucapan yang baik tidak boleh diremehkan. Begitu pula fitnah, kebohongan, penghinaan, dan kezaliman tidak boleh dianggap ringan.
4\. Dunia hanyalah kehidupan sementara
Allah berfirman:
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Artinya:
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
(QS. Al-An‘am \[6\]: 32)
Penjelasan:
Ayat ini bukan berarti Islam melarang manusia bekerja, mencari harta, membangun rumah, atau menikmati kehidupan dunia. Islam justru mengajarkan keseimbangan.
Yang dilarang adalah ketika dunia menguasai hati manusia sehingga melupakan Allah dan kehidupan akhirat.
5\. Jangan sampai menyesal ketika kematian datang
Allah berfirman:
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
Artinya:
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’”
(QS. Al-Munafiqun \[63\]: 10)
Penjelasan:
Ketika kematian datang, manusia yang menyia-nyiakan hidupnya akan berharap diberi kesempatan kembali.
Namun, kesempatan itu tidak diberikan untuk mengulang kehidupan dunia.
Karena itu, jangan menunda kebaikan. Jika mampu bersedekah hari ini, bersedekahlah. Jika mampu meminta maaf hari ini, mintalah maaf. Jika mampu memperbaiki salat hari ini, perbaikilah sekarang.
F. Dalil dari hadis Rasulullah saw.
1\. Allah adalah pemilik seluruh kerajaan dan seluruh manusia berada dalam kekuasaan-Nya
Rasulullah saw. meriwayatkan bahwa Allah berfirman dalam hadis qudsi:
يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا.
Artinya:
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”
Sumber: HR. Muslim, dari Abu Dzarr al-Ghifari, dalam Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2577.
Penjelasan:
Hadis ini menjelaskan bahwa Allah tidak pernah berbuat zalim. Karena seluruh manusia akan kembali kepada Allah, setiap orang harus berhati-hati dalam memperlakukan sesamanya.
Jangan merasa aman karena memiliki kekuasaan. Jangan merasa bebas menyakiti orang lain karena mempunyai harta. Jangan merasa tidak akan dimintai pertanggungjawaban hanya karena tidak ada manusia yang mengetahui perbuatan kita.
Allah mengetahui semuanya.
2\. Manusia akan ditanya tentang umurnya dan hartanya
Rasulullah saw. bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ.
Artinya:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; tentang ilmunya, apa yang telah dilakukannya dengan ilmu itu; tentang hartanya, dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya; serta tentang tubuhnya, untuk apa digunakannya.”
Sumber: HR. At-Tirmidzi, no. 2417, dari Abu Barzah Al-Aslami. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi.
Penjelasan:
Perhatikan empat pertanyaan besar dalam hadis tersebut:
* Umur: untuk apa waktu hidup kita digunakan?
* Ilmu: apakah ilmu yang kita miliki diamalkan?
* Harta: apakah diperoleh dengan cara halal?
* Tubuh: apakah digunakan untuk ketaatan atau kemaksiatan?
Maka, orang yang memahami Surah Maryam ayat 40 tidak akan hanya sibuk mengumpulkan dunia, tetapi juga sibuk mempersiapkan jawaban ketika ditanya oleh Allah.
3\. Kekayaan yang sesungguhnya bukan banyaknya harta
Rasulullah saw. bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.
Artinya:
“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”
Sumber: HR. Al-Bukhari, no. 6446, dan Muslim, no. 1051, dari Abu Hurairah.
Penjelasan:
Banyak harta tidak selalu membuat seseorang merasa cukup. Ada orang yang hartanya sedikit, tetapi hidupnya penuh rasa syukur. Ada pula yang hartanya berlimpah, tetapi hatinya terus merasa kekurangan.
Kekayaan yang sesungguhnya adalah hati yang merasa cukup, tidak rakus, tidak iri, dan tidak menghalalkan segala cara untuk memperoleh dunia.
4\. Jadilah seperti orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan
Rasulullah saw. bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ.
Artinya:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara yang sedang dalam perjalanan.”
Sumber: HR. Al-Bukhari, no. 6416, dari Abdullah bin Umar.
Penjelasan:
Seorang musafir tidak akan menganggap tempat persinggahannya sebagai rumah yang abadi. Ia akan menggunakan waktu singgah untuk mempersiapkan perjalanan berikutnya.
Begitu pula seorang muslim. Dunia adalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat kembali.
Hadis ini mengajarkan agar kita tidak menggantungkan seluruh kebahagiaan kepada dunia, tetapi memanfaatkan dunia sebagai jalan menuju keridaan Allah.
G. Ulasan ulama tentang kehidupan dunia dan persiapan akhirat
1\. Imam An-Nawawi: Hadis perjalanan mengajarkan zuhud
Dalam penjelasan hadis “Jadilah di dunia seperti orang asing atau pengembara”, Imam An-Nawawi menerangkan bahwa hadis tersebut mengandung anjuran untuk tidak terlalu terpaut dengan dunia dan memperbanyak persiapan menuju akhirat.
Petikan hadis yang menjadi dasar penjelasannya:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ.
Artinya:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.”
Ulasan:
Orang yang sadar bahwa dirinya sedang dalam perjalanan tidak akan menghabiskan seluruh bekalnya untuk kesenangan sesaat. Ia akan menyimpan bekal untuk perjalanan yang lebih jauh.
Demikian pula orang beriman. Ia bekerja, berdagang, mengajar, membangun keluarga, dan mencari nafkah, tetapi tidak melupakan bekal akhirat.
2\. Ibnu Rajab Al-Hanbali: Umur adalah modal utama manusia
Dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, Ibnu Rajab membahas hadis tentang kehidupan manusia yang singkat dan pentingnya memanfaatkan umur.
Salah satu hadis yang menjadi dasar pembahasan adalah:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ.
Artinya:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dan merugi padanya: kesehatan dan waktu luang.”
Sumber: HR. Al-Bukhari, no. 6412, dari Ibnu Abbas.
Ulasan:
Kita sering baru menghargai kesehatan ketika sakit. Kita baru menghargai waktu ketika kesempatan sudah berlalu.
Padahal, umur adalah modal yang tidak dapat dikembalikan. Harta yang hilang mungkin bisa dicari kembali, tetapi waktu yang berlalu tidak mungkin diputar kembali.
Karena itu, jangan menunggu tua untuk beribadah. Jangan menunggu sakit untuk bersyukur. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sesuatu.
H. Pesan kehidupan yang dapat diambil dari Surah Maryam ayat 40
1\. Jangan sombong dengan kekayaan
Jamaah sekalian.
Hari ini seseorang mungkin memiliki tanah yang luas. Besok tanah itu bisa menjadi tempat pemakamannya.
Hari ini seseorang mungkin tinggal di rumah yang megah. Besok rumah itu bisa ditempati oleh orang lain.
Hari ini seseorang mungkin memiliki banyak uang. Besok keluarganya mungkin hanya membicarakan pembagian harta peninggalannya.
Harta bukan untuk disombongkan. Harta adalah amanah yang harus digunakan dengan benar.
2\. Jangan menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan
Seorang pemimpin harus menyadari bahwa jabatannya sementara.
Seorang kepala sekolah, guru, pejabat, pengurus organisasi, dan siapa pun yang diberi tanggung jawab harus menggunakan amanahnya untuk kebaikan.
Jangan sampai jabatan yang seharusnya menjadi jalan memperoleh pahala justru menjadi sebab datangnya penyesalan.
Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ
Artinya:
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa’ \[4\]: 58)
3\. Jangan menunda taubat
Kita tidak mengetahui kapan ajal akan datang.
Jangan berkata, “Nanti saja kalau sudah tua saya akan rajin salat.”
Jangan berkata, “Nanti saja kalau sudah punya banyak uang saya akan bersedekah.”
Jangan berkata, “Nanti saja kalau hati sudah tenang saya akan memperbaiki diri.”
Sebab, kita tidak pernah mengetahui apakah kesempatan esok hari masih diberikan kepada kita.
4\. Jangan menzalimi sesama manusia
Ketika manusia kembali kepada Allah, semua perkara akan diperiksa.
Orang yang pernah mengambil hak orang lain harus mengembalikannya. Orang yang pernah menyakiti harus berusaha meminta maaf. Orang yang pernah memfitnah harus berusaha memperbaiki kerusakan yang ditimbulkannya.
Jangan menganggap remeh hak manusia. Sebab, persoalan yang tidak diselesaikan di dunia dapat menjadi perkara yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat.
5\. Jadikan dunia sebagai ladang amal
Kita tidak diperintahkan meninggalkan dunia sepenuhnya. Kita diperintahkan menjadikan dunia sebagai sarana untuk memperoleh kebaikan akhirat.
Bekerjalah, tetapi jangan meninggalkan salat.
Carilah harta, tetapi jangan melupakan zakat dan sedekah.
Didiklah anak-anak, tetapi jangan melupakan pendidikan iman dan akhlak.
Bangunlah rumah, tetapi jangan lupa mempersiapkan rumah di akhirat.
I. Ilustrasi untuk menggugah hati jamaah
Jamaah rahimakumullah.
Bayangkan ada seseorang yang sepanjang hidupnya bekerja keras membangun sebuah rumah.
Ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Ia membeli tanah, membeli bahan bangunan, memilih keramik terbaik, memasang pintu yang kuat, dan menghias rumahnya dengan indah.
Setelah rumah itu selesai, ia merasa sangat bahagia.
Namun, sebelum sempat menikmati rumah tersebut dalam waktu lama, datanglah ajal menjemputnya.
Ia meninggalkan rumah itu. Ia meninggalkan kendaraan, pakaian, perhiasan, dan seluruh harta bendanya.
Kemudian orang-orang mengantarkan jenazahnya ke pemakaman.
Rumah yang dahulu ia banggakan tetap berdiri. Tetapi pemiliknya telah pergi.
Inilah kenyataan yang hendak kita renungkan dari ayat:
اِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاِلَيْنَا يُرْجَعُوْنَ
Allah mewarisi bumi dan seluruh isinya. Semua manusia akan kembali kepada-Nya.
Maka, pertanyaan pentingnya bukanlah seberapa megah rumah yang kita tinggalkan, tetapi seberapa banyak amal saleh yang kita bawa.
Bukan seberapa banyak orang mengenal nama kita di dunia, tetapi apakah Allah meridai kehidupan kita?
Bukan seberapa tinggi kedudukan kita di hadapan manusia, tetapi bagaimana kedudukan kita di hadapan Allah?
J. Muhasabah: Lima pertanyaan sebelum kita kembali kepada Allah
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
* Jika hari ini Allah memanggil kita, apakah salat kita sudah benar?
* Apakah harta yang kita kumpulkan sudah diperoleh dengan cara halal?
* Apakah masih ada hak orang lain yang belum kita tunaikan?
* Apakah ilmu yang kita miliki sudah memberikan manfaat kepada orang lain?
* Apakah kita sudah mempersiapkan amal yang akan menemani kita di alam kubur?
Jangan sampai kita menjadi orang yang sangat sibuk memikirkan masa depan dunia, tetapi tidak pernah memikirkan masa depan akhirat.
Jangan sampai kita sangat teliti menghitung uang, tetapi lupa menghitung amal.
Jangan sampai kita sangat takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan keridaan Allah.
K. Kesimpulan dan pesan utama ceramah
Dari Surah Maryam ayat 40, terdapat beberapa pelajaran besar:
Pertama: Allah adalah pemilik mutlak seluruh alam. Tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kekuasaan-Nya.
Kedua: Seluruh makhluk akan binasa. Tidak ada kekayaan, jabatan, kekuasaan, atau kehidupan dunia yang abadi.
Ketiga: Semua manusia akan kembali kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari kematian dan hari perhitungan.
Keempat: Setiap manusia akan menerima balasan sesuai amal perbuatannya. Kebaikan tidak akan disia-siakan dan kezaliman tidak akan dibiarkan tanpa perhitungan.
Kelima: Selagi masih hidup, gunakanlah waktu untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan menunaikan hak sesama manusia.
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Mari kita tutup pembahasan ini dengan sebuah renungan:
Kita datang ke dunia tidak membawa apa-apa. Kita hidup dengan berbagai titipan. Dan ketika kembali kepada Allah, tidak satu pun titipan itu dapat kita bawa, kecuali amal yang telah kita kerjakan.
Karena itu, jangan hanya sibuk mempersiapkan warisan untuk anak cucu. Persiapkan pula amal yang akan menjadi bekal ketika kita kembali kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak tertipu oleh kehidupan dunia, yang pandai bersyukur atas nikmat-Nya, dan yang selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
L. Doa penutup
اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيْرَنَا، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ هِيَ دَارَنَا وَقَرَارَنَا.
Artinya:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, jangan pula sebagai puncak pengetahuan kami, dan jangan jadikan neraka sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah surga sebagai tempat tinggal dan tempat menetap kami.”
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
Artinya:
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami akhir kehidupan yang baik, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu, jadikanlah sebaik-baik amal kami sebagai penutup kehidupan kami, dan jadikanlah sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.”
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِمُعَلِّمِيْنَا، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
M. Catatan kaki dan daftar kitab rujukan
Berikut daftar rujukan yang menjadi landasan pembahasan. Nomor halaman dapat berbeda menurut cetakan dan penerbit, sehingga rujukan ayat, surah, bab, atau nomor hadis turut dicantumkan agar mudah ditelusuri.
1\. Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Tafsir Surah Maryam ayat 40. Pembahasan tentang Allah sebagai pewaris bumi dan balasan bagi seluruh manusia. [Naskah tafsir ayat 40](https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura19-aya40.html?utm_source=chatgpt.com). الآية 40 +1
2\. Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Tafsir Surah Maryam ayat 40. Penjelasan bahwa Allah mematikan penghuni bumi dan kepada-Nya manusia kembali untuk menerima balasan. [Naskah tafsir ayat 40](https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura19-aya40.html?utm_source=chatgpt.com). الآية 40
3\. Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Tafsir Surah Maryam ayat 40. Penjelasan Allah sebagai Pencipta, Pemilik, Pengatur, dan Hakim atas seluruh makhluk. [Naskah tafsir ayat 40](https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura19-aya40.html?utm_source=chatgpt.com). الآية 40
4\. As-Sa‘di, Abdurrahman bin Nashir. Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Tafsir Surah Maryam ayat 39–40. Penjelasan kefanaan dunia dan kembalinya manusia kepada Allah. [Naskah tafsir](https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura19-aya40.html?utm_source=chatgpt.com). الآية 40
5\. An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin al-Ḥajjāj. Kitab tentang zuhud dan kelembutan hati, penjelasan hadis kehidupan seperti orang asing atau pengembara.
6\. Ibnu Rajab Al-Hanbali, Abdurrahman bin Ahmad. Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam. Penjelasan hadis tentang dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.
7\. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī: hadis no. 6412, 6416, dan 6446.
8\. Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim: hadis no. 1051 dan 2577.
9\. At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi: hadis no. 2417.
Penutup untuk penyampaian di mimbar:
Jamaah sekalian, ingatlah satu kalimat ini:
Bumi yang kita tempati bukan milik kita selamanya. Harta yang kita kumpulkan bukan milik kita selamanya. Jabatan yang kita banggakan bukan milik kita selamanya. Kita semua akan kembali kepada Allah. Maka, sebelum kita diwarisi oleh bumi, marilah kita mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadap Sang Pemilik bumi.
Semoga Allah memberikan kepada kita husnul khatimah. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Post a Comment