Maryam Mengasingkan Diri : Menemukan Ketenangan Hati dalam Ibadah dan Menjaga Kehormatan Diri

MATERI CERAMAH TAFSIR

SURAH MARYAM AYAT 16

“Maryam Mengasingkan Diri: Menemukan Ketenangan Hati dalam Ibadah dan Menjaga Kehormatan Diri”


A. Muqaddimah

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ عِبْرَةً لِلْمُعْتَبِرِينَ، وَهُدًى لِلْمُتَّقِينَ، وَشِفَاءً لِمَا فِي الصُّدُورِ، وَنُورًا لِلْمُؤْمِنِينَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai Al-Qur’an, memahami kandungannya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan firman Allah dalam Surah Maryam ayat 16. Ayat ini mengantarkan kita kepada kisah Maryam, seorang perempuan salehah yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an.

Kisah Maryam bukan sekadar kisah seorang perempuan yang pergi menjauh dari keluarganya. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang hubungan seorang hamba dengan Allah, kebutuhan manusia terhadap ketenangan batin, pentingnya menjaga kehormatan diri, dan bagaimana Allah mempersiapkan hamba pilihan-Nya untuk menghadapi ujian besar.

Terkadang, ketika kehidupan terasa terlalu bising, hati membutuhkan waktu untuk kembali mendengarkan petunjuk Allah.

Namun, bagaimana kita memahami tindakan Maryam mengasingkan diri? Apakah Islam mengajarkan kita meninggalkan keluarga dan masyarakat demi ibadah? Apa penjelasan para mufasir tentang tempat di sebelah timur yang disebutkan dalam ayat ini? Marilah kita membahasnya melalui tafsir, dalil, dan nasihat para ulama.

B. Ayat Al-Qur’an dan Terjemahannya

QS. Maryam ayat 16

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا

Artinya: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), yaitu ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.”

Makna kata-kata penting

·        وَاذْكُرْ (ważkur): ceritakanlah atau ingatkanlah; Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. menyampaikan kisah Maryam.

·        فِي الْكِتَابِ (fil-kitāb): di dalam Kitab, yakni Al-Qur’an.

·        مَرْيَمَ (Maryam): Maryam binti ‘Imran, ibu Nabi Isa a.s., perempuan yang dimuliakan Allah.

·        انْتَبَذَتْ (intabażat): menjauhkan diri atau mengambil tempat terpisah dari keluarganya.

·        مَكَانًا شَرْقِيًّا (makānan syarqiyyan): suatu tempat di sebelah timur.

Kata intabażat menggambarkan tindakan mengambil jarak atau menyendiri. Dalam konteks kisah ini, Maryam menjauh dari keluarganya menuju suatu tempat di sebelah timur untuk suatu keperluan yang berkaitan dengan ibadah dan ketenangan. Ayat ini tidak menyebutkan seluruh rincian tempat tersebut; karena itu, keterangan tentang lokasi khusus atau alasan geografis tertentu perlu dibedakan antara teks Al-Qur’an dan penjelasan para mufasir.

C. Tafsir Tahlili: Penjelasan Mendalam

1. وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ — Ceritakanlah kisah Maryam

Allah memulai ayat ini dengan perintah kepada Nabi Muhammad saw. untuk menceritakan kisah Maryam. Kisah para nabi dan orang saleh bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sarana pendidikan iman bagi generasi berikutnya.

Ibnu Katsir menjelaskan adanya hubungan antara kisah Nabi Zakariya, Nabi Yahya, dan Maryam. Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya melalui kelahiran Yahya dari orang tua yang telah lanjut usia dan kelahiran Isa dari Maryam tanpa ayah. Keduanya menunjukkan bahwa kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh kebiasaan manusia.[1]

QS. Ali ‘Imran ayat 42

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّٰهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, ‘Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).’”

Ayat ini menerangkan kedudukan Maryam sebagai perempuan yang dipilih dan disucikan Allah. Kemuliaannya tidak dibangun atas kekayaan, kekuasaan, popularitas, atau pujian manusia, melainkan atas pilihan Allah dan kesalehannya.

Pelajaran untuk jamaah: jangan mengukur kemuliaan seseorang hanya dari penampilan dan kedudukan sosialnya. Dalam mendidik anak-anak, ajarkan bahwa prestasi duniawi perlu disertai akhlak, ibadah, dan kebersihan hati.

2. إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا — Ketika Maryam menjauhkan diri dari keluarganya

Kata intabażat mengandung makna menjauh, mengambil jarak, dan memisahkan diri dari lingkungan sebelumnya.

Ath-Thabari menjelaskan makna tindakan Maryam sebagai menjauh dari keluarga dan menyendiri dari mereka. Dalam tafsirnya, beliau menukil beberapa penjelasan ulama terdahulu tentang alasan Maryam pergi ke tempat tersebut. Ada riwayat yang menghubungkannya dengan keperluan bersuci, ada yang menyebutkan keperluan tertentu, dan ada pula penjelasan bahwa ia mencari tempat untuk beribadah. Karena keterangan tersebut tidak seluruhnya sama, tidak tepat memastikan satu alasan sebagai satu-satunya maksud ayat tanpa dalil yang kuat.[2]

Al-Qurthubi menyebutkan penafsiran bahwa Maryam mengambil jarak dari orang-orang untuk berkonsentrasi dalam ibadah. Penafsiran ini sesuai dengan konteks kisah Maryam yang dikenal tekun beribadah.[3]

Penting: menyendiri untuk beribadah tidak sama dengan meninggalkan tanggung jawab kepada keluarga dan masyarakat. Tindakan Maryam harus dipahami sesuai konteks kisahnya.

HR. Muslim, no. 777b — tentang salat di rumah

صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

Artinya: “Laksanakanlah salat di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian menjadikannya seperti kuburan.”

Rujukan: Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, no. 777b dalam penomoran yang umum digunakan.[4]

Hadis ini mengajarkan agar rumah tidak dibiarkan kosong dari ibadah. Salat-salat sunah dapat dilaksanakan di rumah, sehingga kehidupan keluarga juga dipenuhi zikir, tilawah, dan pendidikan akhlak. Hadis ini bukan tafsir langsung atas tindakan Maryam, tetapi memberikan prinsip yang relevan tentang menghidupkan rumah dengan ibadah.

Renungan: ada rumah besar yang jarang terdengar bacaan Al-Qur’an, dan ada rumah sederhana yang hidup dengan salat, zikir, serta kasih sayang. Mulailah dengan membaca Al-Qur’an setiap hari, salat sunah sesuai kemampuan, dan menyediakan waktu untuk berdoa bersama keluarga.

3. مَكَانًا شَرْقِيًّا — Ke suatu tempat di sebelah timur

Ath-Thabari menjelaskan bahwa tempat tersebut berada di sisi timur, arah terbitnya matahari, dan menukil sejumlah penjelasan dari generasi terdahulu tentang lokasi serta alasan pemilihannya.[2]

Ibnu Katsir juga menyebutkan sejumlah pendapat tentang tempat Maryam. Salah satu pendapat yang dinukil menyatakan bahwa Maryam pergi ke sisi timur tempat ibadah di Baitulmaqdis. Ada pula riwayat yang mengaitkannya dengan keperluan bersuci atau keperluan lainnya. Dalam membahas rincian yang tidak dapat dipastikan, ulama menggunakan ungkapan:

فَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Artinya: “Allah lebih mengetahui.”[5]

Sikap ini penting dalam ilmu tafsir. Ketika Al-Qur’an menyebutkan suatu rincian, kita menerimanya. Adapun hal-hal yang tidak dijelaskan secara tegas, kita membedakan antara dalil yang pasti dan penjelasan yang masih berupa pendapat.

Dalam tafsir ayat ini, dinukil perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas mengenai hubungan antara penyebutan tempat di sebelah timur dan kebiasaan sebagian kaum Nasrani menghadap ke arah timur dalam peribadatan. Perkataan tersebut merupakan riwayat tafsir, bukan sabda Nabi dan bukan bunyi langsung ayat Al-Qur’an. Karena itu, ia tidak boleh dijadikan dalil mandiri untuk menetapkan hukum agama.[2][5]

QS. Al-Baqarah ayat 144 — bagian ayat

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kiblat umat Islam ditetapkan oleh wahyu. Kita tidak boleh menjadikan arah timur sebagai kiblat salat hanya karena Maryam pernah mengasingkan diri ke tempat di sebelah timur.

4. Keterkaitan ayat 16 dengan ayat 17: Menjaga batas dan kehormatan diri

QS. Maryam ayat 17

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

Artinya: “Lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”

Ath-Thabari menjelaskan tabir sebagai pembatas atau penutup antara Maryam dan orang-orang di sekitarnya. Beliau juga menjelaskan bahwa Rūḥanā dalam ayat tersebut adalah Jibril a.s.[6]

Ayat 17 memperlihatkan kesinambungan kisah: Maryam mengambil jarak, memasang pembatas, lalu Allah mengutus malaikat kepadanya. Rangkaian ini mengantarkan kita kepada peristiwa besar berupa kabar kelahiran Nabi Isa a.s.

Pelajaran yang dapat diambil ialah pentingnya menjaga privasi, batas pergaulan, dan kehormatan diri. Namun, rincian hukum pergaulan, aurat, dan interaksi laki-laki serta perempuan juga harus dipahami melalui dalil-dalil lain.

Di zaman sekarang, kita perlu membangun batas yang sehat: menjaga komunikasi, berhati-hati dalam pergaulan, tidak membuka seluruh urusan pribadi kepada sembarang orang, serta menjaga kehormatan di dunia nyata maupun media sosial. Menjaga diri bukan berarti memusuhi masyarakat, dan mencari ketenangan bukan berarti memutus tali silaturahmi.

D. Dalil Pendukung: Kesucian Maryam dan Perlindungan Allah

1. Maryam menjaga kesucian dirinya

QS. At-Tahrim ayat 12 — bagian ayat

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

Artinya: “Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, dan dia termasuk orang-orang yang taat.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pujian Allah kepada Maryam karena kesucian, pembenaran terhadap firman-Nya, dan ketaatannya.[7]

Kehormatan manusia tidak boleh dipermainkan. Di tengah zaman ketika sesuatu yang memalukan dapat tersebar dalam hitungan detik, kita perlu menjaga pandangan, ucapan, perilaku, dan penggunaan teknologi. Jangan hanya bertanya, ‘Apakah orang lain melihat perbuatan saya?’ Bertanyalah pula, ‘Apakah Allah meridai perbuatan saya?’

2. Hadis tentang keutamaan Maryam

HR. Al-Bukhari dan Muslim — hadis tentang keutamaan Maryam

كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

Artinya: “Banyak laki-laki yang mencapai kesempurnaan, sedangkan dari kalangan perempuan tidak mencapai kesempurnaan itu kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah, istri Fir‘aun.”

Rujukan: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Aḥādīth al-Anbiyā’; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Faḍā’il al-Ṣaḥābah.[8]

Catatan: kutipan di atas merupakan potongan dari hadis yang lebih panjang; redaksi lengkapnya menyebutkan keutamaan sejumlah perempuan dan diriwayatkan dengan beberapa jalur serta redaksi.

Hadis tersebut mengingatkan bahwa Maryam adalah teladan yang agung. Kemuliaannya terkait dengan kedudukannya di sisi Allah, bukan karena kekuasaan atau harta. Pendidikan anak bukan hanya memastikan sekolah dan pekerjaan terbaik, melainkan juga menanamkan iman, menjaga kehormatan, dan keteguhan saat menghadapi ujian.

E. Mengapa Ketenangan Batin Sangat Penting?

Kita hidup dalam zaman yang penuh suara: telepon genggam berbunyi, pesan terus masuk, berita datang silih berganti, pekerjaan menumpuk, dan pikiran sering tidak benar-benar beristirahat. Seseorang bisa memiliki banyak hiburan tetapi sedikit ketenangan, banyak teman di media sosial tetapi merasa kesepian, dan banyak informasi tetapi kehilangan arah.

Kisah Maryam mengingatkan kita untuk menyediakan ruang bagi hati agar kembali menghadap Allah.

QS. Ar-Ra‘d ayat 28 — bagian ayat

أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Ayat ini bukan janji bahwa orang beriman tidak akan pernah sedih, cemas, atau menghadapi masalah. Para nabi dan orang saleh pun mengalami ujian. Zikir kepada Allah menjadi salah satu jalan mendasar untuk memperoleh ketenteraman batin, meneguhkan iman, dan menghadapi kehidupan dengan lebih terarah.

Bagaimana menerapkannya?

·        Sediakan waktu khusus untuk Al-Qur’an. Walaupun hanya beberapa ayat, bacalah dengan perhatian dan renungkan maknanya.

·        Hidupkan zikir pagi dan petang sebagai rutinitas, bukan hanya ketika sedang kesulitan.

·        Lakukan salat dengan lebih khusyuk; berusahalah memahami bacaan dan menyadari bahwa kita sedang menghadap Allah.

·        Kurangi kebisingan yang tidak perlu. Atur penggunaan gawai dan media sosial agar tidak menghabiskan seluruh perhatian.

·        Jaga keseimbangan kehidupan. Beribadah, bekerja, mendidik anak, memenuhi hak keluarga, dan membantu masyarakat merupakan tanggung jawab seorang muslim.

Mengambil waktu untuk menenangkan diri dapat menjadi ikhtiar yang baik. Namun, jangan menjadikan kisah Maryam sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban, mengabaikan keluarga, atau mengasingkan diri secara berlebihan.

F. Penjelasan Ulama tentang Ibadah dan Kehidupan Bermasyarakat

Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah pribadi dan tanggung jawab sosial.

HR. Al-Bukhari, no. 1968 — bagian hadis

وَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Artinya: “Dan sesungguhnya keluargamu mempunyai hak atas dirimu.”

Rujukan: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 1968 dalam penomoran yang umum digunakan, tentang Salman Al-Farisi dan Abu Ad-Darda.[9]

Hadis ini terdapat dalam kisah Salman Al-Farisi yang menasihati Abu Ad-Darda agar tidak berlebihan dalam ibadah hingga mengabaikan hak tubuh dan keluarganya. Nabi saw. membenarkan prinsip keseimbangan tersebut.

Ibadah yang baik tidak seharusnya membuat seseorang menelantarkan tanggung jawab. Kesalehan harus tampak pula dalam cara memperlakukan pasangan, mendidik anak, memenuhi amanah pekerjaan, dan menjaga hubungan dengan sesama.

Jangan sampai seseorang rajin beribadah ketika sendirian, tetapi kasar kepada keluarganya. Jangan sampai lisannya basah dengan zikir, tetapi tangannya menyakiti orang lain.

Kita dapat mengambil waktu untuk berdoa, membaca Al-Qur’an, atau mengevaluasi diri. Setelah itu, kita kembali menjalankan amanah kehidupan dengan hati yang lebih tenang dan niat yang lebih lurus.

G. Lima Pelajaran Utama dari Surah Maryam Ayat 16

1.       Kisah Al-Qur’an adalah sumber pendidikan iman. Kisah Maryam mengajarkan bahwa kemuliaan manusia diukur dari iman, ketaatan, dan kesucian, bukan popularitas atau kedudukan.

2.       Hati memerlukan waktu untuk mendekat kepada Allah. Di tengah kesibukan, sediakan waktu untuk salat, zikir, tilawah, dan muhasabah.

3.       Menjaga kehormatan adalah bagian dari kesalehan. Jagalah perilaku, pergaulan, ucapan, dan privasi tanpa menzalimi atau merendahkan orang lain.

4.       Ibadah harus berjalan bersama tanggung jawab. Kedekatan kepada Allah tidak membenarkan kita mengabaikan hak keluarga, pekerjaan, dan masyarakat.

5.       Berhati-hatilah ketika menyampaikan tafsir. Bedakan antara ayat Al-Qur’an, hadis Nabi, penjelasan mufasir, dan riwayat yang masih diperselisihkan.

H. Penutup Ceramah: Kembalilah kepada Allah

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita renungkan kembali perjalanan Maryam. Al-Qur’an mengisahkan seorang perempuan salehah yang mengambil jarak dari keluarganya menuju suatu tempat di sebelah timur. Setelah itu, Allah menceritakan bagaimana ia memasang tabir, lalu menerima kedatangan malaikat yang membawa kabar besar dari Tuhannya.

Kita belum sampai pada seluruh rangkaian kisah itu. Ayat 16 baru membuka pintu menuju peristiwa besar yang akan dijelaskan pada ayat-ayat selanjutnya. Namun, dari awal kisah ini saja, kita telah belajar bahwa kehidupan seorang hamba tidak hanya membutuhkan kesibukan lahiriah. Kita juga membutuhkan hubungan yang kuat dengan Allah.

[Diam sejenak]

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mengejar banyak hal, tetapi jarang bertanya kepada diri sendiri: bagaimana keadaan hati kita?

Barangkali kita sibuk mendidik anak agar berhasil dalam kehidupan dunia, tetapi lupa mendidik mereka agar mencintai Al-Qur’an. Barangkali kita ingin dihormati manusia, tetapi belum sungguh-sungguh berusaha memperbaiki hubungan kita dengan Allah.

Marilah kita pulang dari majelis ini dengan membawa niat untuk memperbaiki diri. Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Hidupkan salat di rumah. Jaga kehormatan diri dan keluarga. Jangan meninggalkan tanggung jawab dengan alasan mencari ketenangan. Dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah ketika menghadapi ujian.

Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah ketika kita tetap berusaha taat kepada Allah meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dekat kepada-Nya, keluarga yang mencintai Al-Qur’an, dan masyarakat yang menjaga kehormatan serta akhlak mulia.

Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا وَغُمُومِنَا.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا خَاشِعَةً، وَأَلْسِنَةً ذَاكِرَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً مُتَقَبَّلَةً، وَنِيَّاتٍ صَادِقَةً خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ.

اللَّهُمَّ كَمَا طَهَّرْتَ مَرْيَمَ وَاصْطَفَيْتَهَا، فَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالنِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ السُّمْعَةِ وَالْفَسَادِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا مُبَارَكَةً، عَامِرَةً بِالصَّلَاةِ وَالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ، غَيْرَ ضَالِّينَ وَلَا مُضِلِّينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

I. Catatan Kaki dan Daftar Kitab Rujukan

6.       [1] Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Maryam ayat 16. Lihat juga penjelasan beliau mengenai hubungan kisah Nabi Zakariya, Nabi Yahya, dan Maryam.

7.       [2] Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam ayat 16. Rujukan daring: https://quran.com/id/maryam/16/tafsirs/ar-tafsir-al-tabari

8.       [3] Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam ayat 16. Rujukan daring: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura19-aya16.html

9.       [4] Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, hadis no. 777b dalam penomoran yang umum digunakan. Rujukan daring: https://sunnah.com/muslim:777b

10.   [5] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Maryam ayat 16.

11.   [6] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir Surah Maryam ayat 17. Rujukan daring: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura19-aya17.html

12.   [7] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah At-Tahrim ayat 12.

13.   [8] Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Aḥādīth al-Anbiyā’; Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Faḍā’il al-Ṣaḥābah. Redaksi dan nomor hadis dapat berbeda menurut jalur serta edisi.

14.   [9] Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 1968 dalam penomoran yang umum digunakan, tentang Salman Al-Farisi dan Abu Ad-Darda.


Tidak ada komentar