Tiga Gerbang Kehidupan: Keselamatan Saat Lahir, Wafat, dan Dibangkitkan
Materi Ceramah Tafsir Surah Maryam Ayat 15
“Tiga Gerbang Kehidupan: Keselamatan Saat Lahir, Wafat, dan Dibangkitkan”
A. Muqaddimah
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah.
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kita memohon agar Allah memberikan kepada kita kehidupan yang diridai-Nya, kematian dalam keadaan beriman, serta kebangkitan yang berakhir dengan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ada tiga peristiwa besar yang pasti berkaitan dengan kehidupan manusia: hari ketika kita dilahirkan, hari ketika kita meninggalkan dunia, dan hari ketika kita dibangkitkan kembali.
Pada hari kematian, kita meninggalkan semua yang pernah kita kumpulkan. Jabatan, kekayaan, rumah megah, kendaraan, dan pujian manusia tidak ikut masuk ke liang kubur bersama kita.
Kemudian datanglah hari kebangkitan. Pada hari itu, kita berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita.
Lalu, apakah yang paling kita butuhkan pada ketiga peristiwa tersebut?
Bukan sekadar kekayaan. Bukan pula kedudukan. Yang paling kita butuhkan adalah salam—keselamatan, kedamaian, dan rahmat Allah.
Pesan agung ini diabadikan Allah dalam Surah Maryam ayat 15 melalui kisah Nabi Yahya a.s.
B. Ayat utama dan terjemahannya
Allah Swt. berfirman:
QS. MARYAM: 15
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadanya pada hari ia dilahirkan, pada hari ia meninggal, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
Ketiganya bukan sekadar peristiwa biologis. Ketiganya adalah momen ketika manusia sangat membutuhkan pertolongan, perlindungan, dan rahmat Allah.
Penjelasan makna ayat
Ayat ini merupakan penutup rangkaian penjelasan tentang keutamaan Nabi Yahya a.s. Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa Yahya adalah seorang nabi yang dianugerahi hikmah sejak kecil, memiliki kasih sayang, kesucian jiwa, ketakwaan, bakti kepada kedua orang tua, serta jauh dari kesombongan dan kedurhakaan.
Kemudian Allah menutup rangkaian tersebut dengan jaminan keselamatan baginya pada tiga fase kehidupan.
يَوْمَ وُلِدَ — hari ketika ia dilahirkan. Ia memasuki dunia yang penuh ujian dan ketidakpastian.
وَيَوْمَ يَمُوتُ — hari ketika ia meninggal. Ia meninggalkan kehidupan dunia dan menghadapi alam setelah kematian.
وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا — hari ketika ia dibangkitkan hidup kembali. Ia memasuki fase kebangkitan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Ketiganya bukan sekadar peristiwa biologis. Ketiganya adalah momen ketika manusia sangat membutuhkan pertolongan, perlindungan, dan rahmat Allah
Perlu dipahami, ayat ini secara khusus menyebut kemuliaan Nabi Yahya. Pelajaran bagi kita adalah agar meneladani kesalehannya dan memohon keselamatan dari Allah; bukan berarti setiap orang otomatis memperoleh jaminan yang sama tanpa iman, amal, dan rahmat-Nya.
C. Tafsir : Mengapa keselamatan disebut pada tiga peristiwa?
1. Makna kata وَسَلَامٌ عَلَيْهِ — “Dan kesejahteraan baginya”
Kata سَلَامٌ (salāmun) memiliki makna keselamatan, kedamaian, dan terbebas dari keburukan. Dalam konteks ayat ini, para mufasir menjelaskan bahwa Allah memberikan kehormatan dan keselamatan kepada Nabi Yahya dalam tiga keadaan yang sangat penting.
Penjelasan Imam Al-Qurthubi
Imam Al-Qurthubi mengutip penjelasan bahwa makna salam dapat dipahami sebagai keamanan atau keselamatan. Ia juga mengemukakan pandangan Ibnu ‘Athiyyah bahwa makna salam sebagai penghormatan atau ucapan keselamatan memiliki keistimewaan tersendiri: Allah sendiri memberikan penghormatan kepada Yahya pada saat manusia berada dalam keadaan paling lemah dan membutuhkan pertolongan-Nya.[^1]
Inti penjelasannya dalam bahasa Arab:
وَالأَظْهَرُ عِنْدِي أَنَّهَا التَّحِيَّةُ الْمُتَعَارَفَةُ، فَهِيَ أَشْرَفُ وَأَنْبَهُ مِنَ الْأَمَانِ.
Artinya: “Menurutku, yang lebih jelas ialah bahwa salam tersebut merupakan penghormatan yang dikenal, dan itu lebih mulia serta lebih istimewa daripada sekadar keamanan.”
Pelajaran untuk kehidupan kita:
Keselamatan yang sesungguhnya bukan hanya ketika seseorang terhindar dari kecelakaan, penyakit, atau kesulitan ekonomi. Keselamatan terbesar adalah ketika Allah meridai dirinya, menjaga imannya, menerima amalnya, dan menganugerahkan akhir kehidupan yang baik.
Ada orang yang hidupnya bergelimang harta, tetapi hatinya gelisah. Ada orang yang memiliki jabatan tinggi, tetapi takut menghadapi kematian. Ada pula orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya tenang karena dekat dengan Allah
Karena itu, jangan hanya berdoa agar hidup kita panjang. Berdoalah agar hidup kita berkah. Jangan hanya meminta agar kematian dijauhkan. Mintalah agar ketika kematian datang, kita berada dalam iman dan rahmat Allah.
2. Hari kelahiran: Awal perjalanan manusia
Frasa pertama berbunyi:
يَوْمَ وُلِدَ
Artinya: “Pada hari ia dilahirkan.”
Kelahiran merupakan permulaan perjalanan manusia di dunia. Bayi yang baru lahir tidak memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri. Ia membutuhkan pertolongan Allah melalui kasih sayang orang tua dan orang-orang di sekitarnya.
Nabi Yahya memperoleh kehormatan berupa salam dari Allah pada hari kelahirannya. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan merupakan anugerah, bukan semata-mata hasil kemampuan manusia.
Allah berfirman:
DALIL AL-QUR’AN • QS. AN-NAHL: 78
وَاللّٰهُ أَخْرَجَكُمْ مِّنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْـِٔدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Terjemahan:
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.”
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia memulai kehidupan tanpa pengetahuan. Pendengaran, penglihatan, akal, dan kesempatan belajar merupakan karunia Allah.
Ulasan untuk jamaah:
Ketika seorang anak lahir, orang tua sering berdoa agar anaknya sehat, cerdas, dan sukses. Semua itu baik. Namun, jangan lupa memohon agar anak menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, menghormati orang tua, dan bermanfaat bagi sesama.
Jangan sampai kita berhasil membesarkan anak secara fisik, tetapi lupa membimbing jiwanya. Jangan sampai anak memiliki kecerdasan akademik, tetapi kehilangan adab. Jangan sampai anak memperoleh gelar tinggi, tetapi tidak mengenal Tuhannya.
Kisah Nabi Yahya menunjukkan bahwa kemuliaan bukan hanya terletak pada keberhasilan duniawi, melainkan pada hikmah, kesucian jiwa, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah.
3. Hari kematian: Saat seluruh sandaran dunia ditinggalkan
Frasa kedua berbunyi:
وَيَوْمَ يَمُوتُ
Artinya: “Dan pada hari ia meninggal.”
Kematian adalah batas kehidupan dunia. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan kapan, di mana, dan dalam keadaan bagaimana ia meninggal.
Allah Swt. berfirman:
DALIL AL-QUR’AN • QS. ALI ‘IMRAN: 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ
Terjemahan:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.”
Perhatikan susunan pesan ayat ini. Allah mengingatkan tentang kematian, lalu mengingatkan tentang hari Kiamat dan balasan amal. Artinya, kematian bukan akhir dari seluruh perjalanan manusia; kematian merupakan perpindahan menuju kehidupan berikutnya.
Kita boleh mencintai keluarga, tetapi keluarga tidak dapat hidup menggantikan kita ketika ajal tiba. Kita boleh mengumpulkan harta, tetapi harta tidak dapat membeli tambahan waktu setelah ajal datang. Kita boleh memiliki banyak sahabat, tetapi ada perjalanan yang harus kita hadapi sebagai individu di hadapan Allah.
Hadis tentang amal yang mengikuti manusia setelah kematian
Rasulullah ﷺ bersabda:
HADIS • RIWAYAT AL-BUKHARI DAN MUSLIM
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Terjemahan:
“Ada tiga hal yang mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, sedangkan satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”
Hadis ini mengajarkan bahwa hubungan kita dengan dunia akan terputus satu demi satu. Keluarga mengantar sampai pemakaman, harta ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi amal menjadi bagian penting dari pertanggungjawaban kita di hadapan Allah.
Maka, pertanyaannya bukan sekadar, “Berapa banyak harta yang saya tinggalkan?” melainkan, “Amal apa yang saya persiapkan?”
Sudahkah kita menunaikan salat? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti? Sudahkah kita mengembalikan hak orang lain? Sudahkah kita mendidik anak dengan iman? Sudahkah kita menggunakan ilmu untuk kemaslahatan?
Kematian seharusnya bukan membuat kita putus asa. Kematian harus membangunkan kita dari kelalaian.
4. Hari kebangkitan: Ketika manusia dihidupkan kembali
Frasa ketiga berbunyi:
وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
Artinya: “Dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”
Inilah fase yang mengingatkan manusia bahwa semua amal akan dipertanggungjawabkan. Setelah kematian, manusia akan dibangkitkan oleh Allah, bukan untuk kembali menjalani kehidupan dunia seperti sebelumnya, tetapi untuk memasuki kehidupan akhirat.
Allah berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ
Terjemahan:
“Sangkakala pun ditiup, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya menuju kepada Tuhannya. Mereka berkata, ‘Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?’ Inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul-Nya.”
Ayat ini menggambarkan peristiwa kebangkitan yang tidak dapat dihindari. Manusia yang dahulu meragukan kebangkitan akan menyaksikan kebenaran janji Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dunia sering membuat manusia lupa bahwa hidup memiliki pertanggungjawaban. Seseorang mungkin dapat menyembunyikan keburukan dari manusia, tetapi tidak dapat menyembunyikan apa pun dari Allah.
Di dunia, seseorang dapat memutarbalikkan cerita. Di dunia, seseorang dapat menyalahkan orang lain. Di dunia, seseorang dapat terlihat baik di hadapan masyarakat, sementara hatinya menyimpan keburukan.
Namun, hari kebangkitan adalah hari ketika manusia memerlukan keselamatan yang sesungguhnya: keselamatan dari kehinaan, penyesalan, dan azab Allah.
Karena itu, persiapkanlah hari kebangkitan dengan iman, taubat, amal saleh, dan hak-hak sesama yang ditunaikan.
D. Ulasan mendalam para ulama tafsir
Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir menjelaskan:
أَيْ لَهُ الْأَمَانُ فِي هَذِهِ الثَّلَاثَةِ الْأَحْوَالِ
Artinya: “Maksudnya, ia memperoleh keamanan dalam ketiga keadaan tersebut.”[^2]
Ibnu Katsir kemudian menukil perkataan Sufyan bin ‘Uyainah mengenai tiga keadaan ketika manusia berada dalam kondisi yang sangat asing dan membutuhkan pertolongan Allah.
Teks Arab yang dinukil dalam tafsir Ibnu Katsir:
أَوْحَشُ مَا يَكُونُ الْخَلْقُ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاطِنَ: يَوْمَ يُولَدُ، فَيَرَى نَفْسَهُ خَارِجًا مِمَّا كَانَ فِيهِ، وَيَوْمَ يَمُوتُ، فَيَرَى قَوْمًا لَمْ يَكُنْ عَايَنَهُمْ، وَيَوْمَ يُبْعَثُ، فَيَرَى نَفْسَهُ فِي مَحْشَرٍ عَظِيمٍ.
Artinya:
“Manusia berada dalam keadaan paling asing pada tiga tempat: hari ketika ia dilahirkan, ketika ia melihat dirinya keluar dari keadaan yang sebelumnya ia tempati; hari ketika ia meninggal, ketika ia melihat orang-orang yang sebelumnya belum pernah ia lihat; dan hari ketika ia dibangkitkan, ketika ia mendapati dirinya berada di tempat berkumpul yang sangat besar.”[^2]
Penjelasan untuk ceramah:
Bayangkan seorang bayi yang baru lahir. Ia keluar dari rahim ibunya menuju dunia yang belum dikenalnya. Ia tidak memahami siapa yang menggendongnya, tidak mengerti bahasa yang didengarnya, dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.
Kemudian bayangkan seseorang yang menghadapi kematian. Ia meninggalkan dunia yang dikenalnya dan memasuki fase kehidupan setelah kematian yang tidak dapat dijangkau oleh pengalaman manusia biasa.
Lalu bayangkan hari kebangkitan. Manusia dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah.
Tiga keadaan itu berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: manusia sangat membutuhkan pertolongan Allah.
Karena itulah, keselamatan yang diberikan kepada Nabi Yahya merupakan kemuliaan yang sangat besar.
2. Imam Ath-Thabari: Salam sebagai keamanan dari Allah
Imam Muhammad bin Jarir Ath-Thabari menjelaskan makna ayat ini dengan menekankan keamanan yang Allah anugerahkan kepada Yahya.
Teks tafsirnya:
وَقَوْلُهُ: ﴿وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا﴾ يَقُولُ: وَأَمَانٌ مِنَ اللَّهِ يَوْمَ وُلِدَ.
Artinya:
“Firman-Nya, ‘Dan kesejahteraan baginya pada hari ia dilahirkan, pada hari ia meninggal, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali,’ maksudnya adalah keamanan dari Allah pada hari ia dilahirkan.”[^3]
Ath-Thabari selanjutnya menjelaskan keamanan pada saat kematian dan kebangkitan dengan menghubungkannya pada ketakutan serta kesulitan yang dihadapi manusia dalam perjalanan menuju akhirat.[^3]
Pelajaran pentingnya: keselamatan sejati berasal dari Allah. Manusia boleh berusaha menjaga kesehatan, menghindari bahaya, dan merencanakan masa depan, tetapi tidak boleh melupakan bahwa dirinya tetap bergantung kepada pertolongan Allah.
Namun, penjelasan khusus mengenai keadaan Nabi Yahya ini tidak boleh dijadikan kepastian bahwa setiap orang saleh akan mengalami seluruh fase tersebut dengan cara yang identik. Perincian keadaan alam gaib harus didasarkan pada dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.
3. Imam Al-Qurthubi: Salam sebagai penghormatan Allah
Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi membahas dua pemaknaan yang saling berkaitan: salam sebagai keamanan dan salam sebagai penghormatan.
Teks Arab dari tafsirnya:
إِنَّمَا الشَّرَفُ فِي أَنْ سَلَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَحَيَّاهُ فِي الْمَوَاطِنِ الَّتِي الْإِنْسَانُ فِيهَا فِي غَايَةِ الضَّعْفِ وَالْحَاجَةِ وَقِلَّةِ الْحِيلَةِ وَالْفَقْرِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى.
Artinya:
“Letak kemuliaannya ialah bahwa Allah memberikan salam kepadanya dan menyampaikan penghormatan kepadanya pada keadaan-keadaan ketika manusia berada dalam kelemahan, kebutuhan, keterbatasan daya, dan ketergantungan yang sangat besar kepada Allah Taala.”[^1]
Ulasan ini membawa kita kepada satu renungan: manusia sering menganggap dirinya kuat ketika sehat, memiliki harta, atau memperoleh jabatan. Padahal, kekuatan itu terbatas.
Seseorang dapat mengendalikan banyak urusan di dunia, tetapi ia tidak menguasai waktu kematiannya. Ia dapat membangun rumah yang megah, tetapi tidak dapat meniadakan kematian. Ia dapat memperoleh banyak pengetahuan, tetapi tetap membutuhkan rahmat Allah.
Kemuliaan yang paling tinggi bukanlah ketika semua manusia menghormati kita, melainkan ketika kita menjadi hamba yang diridai Allah.
E. Hubungan ayat ini dengan hadis tentang akhir kehidupan
Rasulullah ﷺ mengingatkan pentingnya keadaan akhir seseorang melalui sabda:
HADIS • RIWAYAT AL-BUKHARI
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Artinya: “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada penutupnya.”
Hadis ini merupakan bagian dari riwayat panjang tentang seseorang yang tampak mengerjakan amal penghuni surga, tetapi kemudian ditentukan kesudahannya menurut ketetapan Allah. Hadis tersebut mengingatkan agar seorang muslim tidak merasa aman dari ujian hingga akhir hayatnya.
Jangan merasa cukup dengan kesalehan masa lalu.
Jangan meremehkan dosa kecil yang terus dilakukan.
Jangan berputus asa dari rahmat Allah ketika pernah berbuat dosa.
Teruslah memperbaiki diri dan memohon keteguhan iman sampai akhir hayat.
Hubungannya dengan Surah Maryam ayat 15 adalah bahwa kemuliaan Nabi Yahya tidak cukup dipahami dari awal kehidupannya saja. Ayat ini juga menyebut kematian dan kebangkitannya.
Bagi kita, pesan praktisnya adalah:
Jangan merasa cukup dengan kesalehan masa lalu.
Jangan meremehkan dosa kecil yang terus dilakukan.
Jangan berputus asa dari rahmat Allah ketika pernah berbuat dosa.
Teruslah memperbaiki diri dan memohon keteguhan iman sampai akhir hayat
Hadis tersebut tidak berarti amal saleh tidak penting. Justru, hadis ini mendorong kita agar terus beramal saleh dan tidak berhenti bertaubat.
F. Tiga bekal untuk menghadapi tiga fase kehidupan
1. Bekal kelahiran: Syukur dan pendidikan iman
Kelahiran mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah amanah. Orang tua perlu mendidik anak dengan tauhid, ibadah, kasih sayang, dan akhlak. Masyarakat juga perlu menjaga anak-anak dari kekerasan, penelantaran, dan lingkungan yang merusak.
2. Bekal kematian: Taubat dan amal saleh
Jaga salat, tunaikan amanah, lunasi utang, kembalikan hak orang lain, dan perbanyak amal yang bermanfaat. Jangan menunggu tua untuk bertaubat karena ajal tidak selalu datang pada usia lanjut.
3. Bekal kebangkitan: Iman, keikhlasan, dan harapan kepada rahmat Allah
Persiapkan diri dengan memperbaiki hubungan kepada Allah dan kepada sesama manusia. Beramal dengan ikhlas, menjauhi kezaliman, serta memohon ampunan dan rahmat-Nya.
G. Contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari
Contoh pertama: Seorang guru. Ia tidak hanya mengajar agar murid memperoleh nilai tinggi, tetapi juga mendidik akhlak, menanamkan kejujuran, dan memberikan teladan. Ilmu yang bermanfaat diharapkan menjadi bagian dari amal yang terus memberikan kebaikan.
Contoh kedua: Orang tua. Ia tidak hanya berusaha meninggalkan harta bagi anak-anaknya, tetapi juga mewariskan iman, ilmu, adab, dan kebiasaan beribadah. Harta dapat habis, tetapi pendidikan yang baik dapat memberikan manfaat panjang.
Contoh ketiga: Orang yang pernah melakukan kesalahan. Ia tidak menyerah kepada masa lalunya. Ia menyesali dosa, menghentikannya, bertekad tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang yang dirugikan. Ia berharap memperoleh ampunan Allah tanpa merasa pasti bahwa dirinya telah diampuni.
Contoh keempat: Seseorang yang sedang menghadapi usia lanjut atau penyakit. Ia tetap berikhtiar memperoleh perawatan yang dibutuhkan, memperbaiki hubungan dengan keluarga, dan memperbanyak doa. Mengingat kematian bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menjalani sisa kehidupan dengan lebih bermakna.
H. Renungan mimbar: Siapkah kita ketika tiga peristiwa itu datang?
Dahulu kita tidak membawa apa-apa. Kita menangis ketika dilahirkan. Orang tua menggendong kita, menyusui kita, menjaga kita, dan mengajarkan kita mengenal dunia.
Kemudian kita tumbuh. Kita mulai bersekolah, bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, dan mengejar cita-cita.
Namun, di tengah perjalanan itu, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya:
Apakah kita sudah menyiapkan diri untuk pulang kepada Allah?
Kita sibuk merapikan rumah, tetapi sudahkah kita merapikan hati?
Kita sibuk menghitung pendapatan, tetapi sudahkah kita menghitung amal?
Kita sibuk memikirkan masa depan anak-anak, tetapi sudahkah kita menanamkan iman yang akan menuntun mereka ketika kita tidak lagi berada di sisi mereka?
Karena itu, selagi Allah masih memberikan waktu, perbaikilah salat kita. Mintalah maaf kepada orang tua. Sayangilah pasangan. Didiklah anak dengan iman. Jangan zalimi tetangga. Jangan mengambil hak orang lain.
Jangan menunggu sakit untuk mengenal Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai keluarga. Jangan menunggu usia senja untuk mulai bertaubat.
Nabi Yahya memperoleh salam dari Allah pada hari kelahirannya, pada hari kematiannya, dan pada hari kebangkitannya.
Kita bukan Nabi Yahya. Kita tidak dapat mengklaim jaminan khusus yang Allah berikan kepadanya. Akan tetapi, kita dapat meneladani kesalehannya, mengikuti petunjuk Allah, dan terus memohon rahmat-Nya.
Semoga Allah menjaga kita dalam kehidupan, merahmati kita ketika kematian tiba, dan memberikan keselamatan kepada kita pada hari kebangkitan.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
I. Doa penutup
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ فِي الدِّينِ، وَالْعَافِيَةَ فِي الْأَبْدَانِ، وَالزِّيَادَةَ فِي الْعِلْمِ، وَالْبَرَكَةَ فِي الْأَرْزَاقِ، وَالتَّوْبَةَ قَبْلَ الْمَوْتِ، وَالرَّحْمَةَ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَالْمَغْفِرَةَ بَعْدَ الْمَوْتِ.
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا عِنْدَ الْمَوْتِ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَ وِلَادَتِنَا يَوْمَ رَحْمَةٍ، وَيَوْمَ وَفَاتِنَا يَوْمَ مَغْفِرَةٍ، وَيَوْمَ بَعْثِنَا يَوْمَ أَمْنٍ وَسَلَامٍ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
J. Catatan kaki dan daftar kitab rujukan
[^1]: Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam ayat 15. Lihat pula pembahasan tentang makna salam dalam Tafsir Al-Qurthubi, QS. Maryam: 15. Nomor halaman berbeda menurut edisi cetak.
[^2]: Ismail bin Umar Ibnu Katsir,
Rujukan dalil Al-Qur’an:
QS. Maryam: 12–15 — keutamaan dan keselamatan Nabi Yahya.
QS. An-Nahl: 78 — nikmat kelahiran, pendengaran, penglihatan, dan hati.
QS. Ali ‘Imran: 185 — kepastian kematian dan balasan akhirat.
QS. Yasin: 51–52 — kebangkitan manusia dari kubur.
Rujukan hadis:
Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab ar-Riqaq, hadis no. 6514 menurut penomoran yang umum digunakan; tentang keluarga, harta, dan amal yang mengikuti jenazah. Lihat Sahih al-Bukhari 6514. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Maryam ayat 15. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, QS. Maryam: 15. Penjelasan tentang tiga keadaan dan perkataan Sufyan bin ‘Uyainah terdapat dalam bagian tafsir ayat tersebut.
Post a Comment