Memakmurkan Waktu dengan Tasbih: Menghidupkan Zikir Pagi dan Petang

Materi Ceramah Tafsir Surah Maryam Ayat 11

“Memakmurkan Waktu dengan Tasbih: Menghidupkan Zikir Pagi dan Petang”

Materi ceramah siap disampaikan • Tafsir Al-Qur’an, hadis, penjelasan ulama, pelajaran kehidupan, dan catatan rujukan

A. Muqaddimah

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Artinya:

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu bentuk ketakwaan yang sering dianggap sederhana, tetapi sangat besar nilainya, ialah membiasakan diri mengingat Allah pada pagi dan petang.

Pagi adalah awal perjalanan aktivitas kita. Petang adalah saat kita mengevaluasi perjalanan hari yang telah dilalui. Apabila kedua waktu itu diisi dengan mengingat Allah, insyaallah hati kita lebih terarah, lisan lebih terjaga, dan aktivitas sehari-hari memiliki nilai ibadah.

Dalam Surah Maryam ayat 11, Allah mengisahkan Nabi Zakaria عليه السلام. Setelah menerima tanda dari Allah bahwa doanya akan dikabulkan dan ia akan memperoleh seorang anak bernama Yahya, Nabi Zakaria keluar dari mihrab dan memberikan isyarat kepada kaumnya agar bertasbih pada pagi dan petang.

Dari peristiwa ini kita belajar bahwa ketika menerima nikmat, jangan hanya bergembira; dekatkanlah diri kepada Allah, perbanyaklah zikir, dan ajaklah keluarga serta masyarakat untuk beribadah.

B. Ayat utama: Nabi Zakaria mengajak kaumnya bertasbih

Allah berfirman dalam Surah Maryam ayat 11:

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا

Artinya:

“Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.”

QS. Maryam \[19\]: 11

1\. Penjelasan kata-kata penting

Pertama, فَخَرَجَ — “Maka dia keluar.”

Nabi Zakaria keluar dari tempat ibadahnya menuju kaumnya. Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan seorang nabi tidak hanya berkaitan dengan ibadah pribadi, tetapi juga dengan bimbingan kepada masyarakat.

Seorang pendidik, orang tua, dan pemimpin pun hendaknya tidak berhenti pada kesalehan pribadi. Ia perlu mengajak orang lain menuju kebaikan melalui teladan, nasihat, dan pendidikan.

Kedua, مِنَ الْمِحْرَابِ — “Dari mihrab.”

Mihrab dalam konteks ayat ini dipahami sebagai tempat ibadah atau ruang khusus untuk beribadah. Nabi Zakaria berada di tempat tersebut ketika menerima tanda dari Allah.

Pelajarannya, tempat ibadah hendaknya menjadi pusat pembinaan iman, ketenangan hati, dan pendidikan akhlak. Masjid bukan hanya tempat seseorang menunaikan salat, melainkan juga tempat masyarakat belajar memperbaiki diri.

Ketiga, فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ — “Lalu dia memberi isyarat kepada mereka.”

Kata awḥā di sini dipahami sebagai memberi isyarat atau menyampaikan pesan secara isyarat, bukan berarti bahwa Nabi Zakaria menerima wahyu kenabian baru kepada kaumnya melalui peristiwa tersebut.

Dalam rangkaian ayat sebelumnya, Nabi Zakaria diberi tanda bahwa ia tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam dalam keadaan sehat. Karena itu, ia menyampaikan pesan kepada kaumnya melalui isyarat.

Keempat, اَنْ سَبِّحُوْا — “Agar kalian bertasbih.”

Tasbih berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan dan dari segala sifat yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

Ucapan:

سُبْحَانَ اللّٰهِ

Artinya: “Mahasuci Allah.”

Tasbih bukan sekadar ucapan di lisan. Ia mengandung pengakuan bahwa Allah Mahasempurna, sedangkan manusia adalah makhluk yang membutuhkan pertolongan, ampunan, dan petunjuk-Nya.

Kelima, بُكْرَةً وَّعَشِيًّا — “Pada waktu pagi dan petang.”

Pagi dan petang adalah dua waktu yang disebut secara khusus dalam ayat ini. Keduanya mengingatkan kita agar zikir tidak hanya dilakukan ketika sedang kesulitan, tetapi menjadi kebiasaan yang menyertai perjalanan hidup.

C. Ulasan tafsir para ulama

1\. Tafsir Ath-Thabari

Imam Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir ath-Thabari menjelaskan ayat ini dalam Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, pada penafsiran Surah Maryam ayat 11.

Inti penjelasannya adalah bahwa Nabi Zakaria keluar dari tempat ibadahnya menuju kaumnya, lalu memberi isyarat agar mereka menyucikan Allah pada pagi dan petang.

Penekanan tafsir ini terletak pada makna perintah tasbih: kaum Nabi Zakaria diajak untuk terus mengagungkan dan menyucikan Allah, bukan sekadar memperhatikan tanda yang terjadi pada diri nabi mereka.

Dengan demikian, perhatian utama umat bukanlah keajaiban itu sendiri, melainkan Allah Yang Mahakuasa yang menunjukkan tanda tersebut.

2\. Tafsir Ibnu Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir menghubungkan isyarat Nabi Zakaria dengan ketidakmampuannya berbicara sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya.

Rangkaian kisahnya dapat dipahami sebagai berikut:

* Nabi Zakaria menerima kabar gembira mengenai kelahiran Yahya.

* Allah memberikan tanda berupa ketidakmampuan berbicara kepada manusia selama tiga malam, meskipun beliau sehat.

* Nabi Zakaria keluar menemui kaumnya dan menyampaikan pesan melalui isyarat.

* Pesan yang disampaikan ialah agar mereka bertasbih pada pagi dan petang.

Pelajaran pentingnya ialah bahwa nikmat yang besar semestinya melahirkan ketaatan yang lebih besar. Ketika memperoleh kabar gembira, seorang mukmin tidak melupakan Allah, melainkan semakin banyak bersyukur dan beribadah.

3\. Tafsir Al-Qurthubi

Imam al-Qurthubi, dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, membahas makna mihrab, isyarat Nabi Zakaria, serta perintah bertasbih pada pagi dan petang.

Ayat ini menunjukkan pentingnya zikir pada waktu-waktu yang telah disebutkan dalam syariat. Perintah bertasbih tidak terbatas pada pengucapan kalimat tertentu saja, tetapi juga menegaskan kewajiban menyucikan Allah dalam keyakinan dan ibadah.

Catatan akademik: Uraian di atas merupakan ringkasan makna penafsiran ketiga ulama, bukan kutipan Arab verbatim dari kitab mereka. Nomor halaman dapat berbeda menurut penerbit dan edisi kitab.

G. Cara mengamalkan zikir pagi dan petang

Agar pelajaran Surah Maryam ayat 11 tidak berhenti sebagai pengetahuan, mari kita jadikan zikir sebagai kebiasaan sehari-hari.

1\. Memulai hari dengan zikir

Setelah salat Subuh, luangkan waktu untuk berzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Jangan terburu-buru meninggalkan ibadah hanya karena ingin segera memulai kegiatan duniawi.

2\. Menghidupkan petang dengan mengingat Allah

Sore atau petang hari dapat menjadi waktu untuk memperbarui ingatan kepada Allah, membaca zikir yang bersumber dari Sunnah, dan memohon perlindungan-Nya bagi diri serta keluarga.

3\. Mengajarkan zikir kepada anak-anak

Orang tua dan guru dapat membiasakan anak mengucapkan Subḥānallāh, Alḥamdulillāh, Lā ilāha illallāh, dan Allāhu akbar sambil menjelaskan maknanya.

Di sekolah, pembiasaan zikir dapat dilakukan sebelum pembelajaran, setelah salat berjamaah, atau dalam kegiatan pembinaan karakter Islami. Tujuannya bukan sekadar membuat anak hafal, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa Allah selalu layak diingat dan ditaati.

4\. Menjaga keseimbangan antara zikir dan tanggung jawab

Zikir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan pekerjaan, mengabaikan keluarga, atau menunda kewajiban. Justru zikir yang benar semestinya menjadikan seseorang lebih jujur, disiplin, sabar, dan bertanggung jawab.

5\. Memahami bahwa tasbih adalah pendidikan tauhid

Ketika mengucapkan Subḥānallāh, kita menyatakan bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan. Keyakinan tersebut seharusnya membuat kita tidak mudah berprasangka buruk kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, dan tidak menggantungkan harapan mutlak kepada makhluk.

H. Dalil tambahan: Mengingat Allah pada berbagai keadaan

Allah berfirman:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’”

QS. Āli ‘Imrān \[3\]: 191

Ayat ini menunjukkan bahwa zikir dapat menyertai berbagai keadaan hidup. Seorang mukmin tidak harus selalu berada di masjid untuk mengingat Allah. Ia dapat berzikir ketika duduk, berdiri, atau beristirahat, selama tetap menjaga adab dan tidak mengabaikan kewajiban.

Lebih dari itu, ayat ini menghubungkan zikir dengan perenungan. Orang yang mengingat Allah tidak hanya menggerakkan lisannya, tetapi juga menggunakan akalnya untuk mengambil pelajaran dari ciptaan-Nya.

Karena itu, tasbih dan berpikir bukan dua hal yang bertentangan. Zikir mengarahkan hati kepada Allah, sedangkan perenungan membantu manusia memahami tanda-tanda kebesaran-Nya.

I. Penutup ceramah: Jangan biarkan pagi dan petang berlalu tanpa mengingat Allah

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dari kisah Nabi Zakaria dalam Surah Maryam ayat 11, kita memahami bahwa zikir merupakan bagian penting dari kehidupan orang beriman.

Nabi Zakaria menerima tanda dari Allah, kemudian keluar menuju kaumnya dan mengajak mereka bertasbih pada pagi dan petang. Beliau mengarahkan perhatian kaumnya kepada Allah, bukan hanya kepada peristiwa luar biasa yang mereka saksikan.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

* Apakah pagi kita dimulai dengan mengingat Allah atau justru langsung disibukkan oleh urusan dunia?

* Apakah petang kita isi dengan syukur dan evaluasi diri atau hanya berlalu tanpa makna?

* Apakah keluarga dan anak-anak kita telah melihat contoh nyata dari kebiasaan berzikir?

* Apakah tasbih yang kita ucapkan sudah mendorong kita menjadi pribadi yang lebih jujur, sabar, dan bertanggung jawab?

Jangan menunggu hati gelisah untuk mulai berzikir. Jangan menunggu musibah untuk mengingat Allah. Dan jangan menunggu usia bertambah tua untuk membiasakan diri mendekat kepada-Nya.

Mulailah dari sekarang. Setelah bangun tidur, ingatlah Allah. Setelah salat, bertasbihlah. Ketika menerima nikmat, bersyukurlah. Ketika menghadapi kesulitan, mintalah pertolongan-Nya. Ketika petang datang, tutuplah hari dengan zikir dan istigfar.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang lisannya basah dengan zikir, hatinya hidup dengan iman, dan perilakunya mencerminkan ketaatan kepada-Nya.

Doa penutup

اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

Artinya:

“Ya Allah, tolonglah kami agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

Doa ini diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Mu‘adz bin Jabal رضي الله عنه untuk dibaca pada akhir salat. Rujukannya adalah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, no. 1522, dan An-Nasa’i, no. 1303.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِينَ لَكَ كَثِيرًا، وَمِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَكَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْغَفْلَةِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى طَاعَتِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ.

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang banyak mengingat-Mu dan bertasbih kepada-Mu pada pagi dan petang. Sucikanlah hati kami dari riya dan kelalaian. Teguhkanlah kami dalam ketaatan kepada-Mu hingga kami bertemu dengan-Mu.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Catatan kaki dan kitab rujukan

* Ath-Thabari, Muḥammad ibn Jarīr, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam \[19\]: 11; QS. Al-Aḥzāb \[33\]: 41–42; dan QS. Qāf \[50\]: 39. Rujukan berdasarkan ayat karena nomor halaman berbeda antar-edisi.

* Ibnu Katsir, Ismā‘īl ibn ‘Umar, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam \[19\]: 11; QS. Al-Aḥzāb \[33\]: 41–42; dan QS. Ar-Ra‘d \[13\]: 28.

* Al-Qurthubi, Muḥammad ibn Aḥmad al-Anṣārī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam \[19\]: 11.

* Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 6405–6406, tentang keutamaan Subḥānallāhi wa biḥamdihī dan Subḥānallāhil-‘aẓīm.

* Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2137, tentang empat kalimat yang dicintai Allah; no. 2691, tentang tasbih seratus kali; dan no. 2694, tentang dua kalimat yang ringan di lisan dan berat dalam timbangan.

* Sunan Abī Dāwūd, hadis no. 1522, dan Sunan an-Nasā’ī, hadis no. 1303, tentang doa memohon pertolongan untuk berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik.


Tidak ada komentar