Belajar dari Nabi Yahya a.s.: Kesungguhan Menuntut Ilmu, Hikmah Sejak Dini, dan Keteguhan dalam Ketaatan
MATERI CERAMAH ISLAM
“Belajar dari Nabi Yahya a.s.: Kesungguhan Menuntut Ilmu, Hikmah Sejak Dini, dan Keteguhan dalam Ketaatan”
Kajian Tafsir Surah Maryam ayat 12 · Dilengkapi ayat Al-Qur’an, hadis, penjelasan ulama, teks Arab kitab rujukan, terjemahan, dan catatan kaki.
A. Muqaddimah ceramah
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, dan ilmu pengetahuan kepada kita. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat yang istiqamah mengikuti petunjuknya hingga akhir zaman.
Bapak, Ibu, serta kaum Muslimin rahimakumullah.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan satu ayat Al-Qur’an yang sangat pendek, tetapi mengandung pelajaran besar bagi kehidupan seorang Muslim, khususnya dalam pendidikan, pembentukan karakter, perjuangan menuntut ilmu, dan pembinaan generasi muda.
Ayat tersebut adalah Surah Maryam ayat 12, ketika Allah Swt. memberikan perintah kepada Nabi Yahya a.s. agar memegang teguh kitab-Nya dan mengabarkan bahwa Dia telah memberikan hikmah kepada Yahya ketika masih kanak-kanak.
Dari ayat ini, kita akan mempelajari tiga pertanyaan penting:
* Bagaimana seharusnya seorang Muslim mempelajari dan mengamalkan ilmu?
* Mengapa pendidikan agama dan pembentukan karakter perlu dimulai sejak usia dini?
* Bagaimana menumbuhkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga bertakwa, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab?
Mari kita bahas berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah ﷺ, dan penjelasan para ulama tafsir.
B. Teks ayat dan tafsir
Surah Maryam ayat 12
يٰيَحْيٰى خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍ ۗ وَاٰتَيْنٰهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
Transliterasi: Yā Yaḥyā khuḏil-kitāba biquwwah, wa ātaynāhul-ḥukma ṣabiyyā.
“Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak.
QS. Maryam \[19\]: 12
1\. Makna خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ — Peganglah kitab dengan sungguh-sungguh
Perintah Allah kepada Nabi Yahya a.s. bukan sekadar membaca kitab, melainkan mempelajari, memahami, menjaga, dan mengamalkan petunjuk yang terkandung di dalamnya dengan kesungguhan.
Kitab yang dimaksud dalam penjelasan para mufasir adalah Taurat, kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. dan menjadi petunjuk bagi Bani Israil.
Kata بِقُوَّةٍ (biquwwah) berarti dengan kekuatan atau kesungguhan. Dalam konteks pendidikan, maknanya mencakup keseriusan, ketekunan, kedisiplinan, dan komitmen untuk mengamalkan ilmu.
Seorang pelajar tidak cukup hanya memiliki buku. Ia harus membaca dan memahaminya. Seorang guru tidak cukup hanya menyampaikan pelajaran. Ia juga perlu menjadi teladan. Dan seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui perintah Allah. Ia harus berusaha menjalankannya.
2\. Makna وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا — Hikmah sejak kanak-kanak
Allah memberikan kepada Nabi Yahya a.s. al-ḥukm ketika beliau masih kanak-kanak.
Kata al-ḥukm dalam penafsiran ayat ini dijelaskan dengan makna hikmah, pemahaman agama, kebijaksanaan, dan kemampuan membedakan kebenaran dari kebatilan. Sebagian mufasir juga menjelaskannya sebagai kenabian, berdasarkan penafsiran yang mereka pilih.
Pelajaran pentingnya adalah bahwa usia muda bukan penghalang untuk tumbuh menjadi pribadi yang matang secara spiritual dan berakhlak mulia. Anak-anak dapat dibimbing untuk mencintai Al-Qur’an, menghormati orang tua, menjaga salat, berkata jujur, serta menyayangi sesama.
Namun, perlu dipahami bahwa hikmah Nabi Yahya merupakan karunia khusus dari Allah. Kita tidak boleh menyamakan secara langsung kedudukan kenabian beliau dengan hasil pendidikan anak pada umumnya.
C. Ulasan para ulama tafsir terhadap Surah Maryam ayat 12
1\. Penjelasan Imam Ibnu Katsir رحمه الله
Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat tersebut dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.
Teks Arab dari kitab tafsir:
يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ أَيْ تَعَلَّمِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ أَيْ بِجِدٍّ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍوَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا أَيْ الْفَهْمَ وَالْعِلْمَ وَالْجِدَّ وَالْعَزْمَ، وَالْإِقْبَالَ عَلَى الْخَيْرِ، وَالْإِكْبَابَ عَلَيْهِ، وَالِاجْتِهَادَ فِيهِ وَهُوَ صَغِيرٌ حَدِيثُ السِّنِّ.
Terjemahannya:
“Wahai Yahya, ambillah kitab itu dengan sungguh-sungguh,” yakni pelajarilah kitab itu dengan kesungguhan, semangat, dan ketekunan.
“Dan Kami berikan kepadanya hikmah ketika masih kanak-kanak,” yakni pemahaman, ilmu, kesungguhan, tekad yang kuat, perhatian terhadap kebaikan, ketekunan dalam melakukannya, dan kesungguhan mengerjakannya meskipun ia masih muda.\[^1\]
Ulasan untuk ceramah:
Jamaah rahimakumullah, perhatikanlah! Allah tidak hanya memuji Nabi Yahya karena beliau masih muda. Allah memuji karunia hikmah yang diberikan kepadanya, lalu menyebut kesungguhannya dalam kebaikan.
Dari sini kita belajar bahwa usia muda hendaknya tidak menjadi alasan untuk bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Sebaliknya, masa muda adalah kesempatan emas untuk menanamkan iman, membangun kebiasaan baik, dan membentuk kepribadian yang kuat.
Seorang anak yang sejak kecil dibiasakan membaca Al-Qur’an akan lebih mudah mengenal Al-Qur’an. Anak yang sejak kecil dilatih berkata jujur akan memiliki bekal untuk menghadapi godaan kebohongan ketika dewasa.
Namun, pendidikan tidak cukup dengan perintah. Orang tua dan guru harus memberikan teladan.
Kalimat penekanan mimbar:
“Jangan hanya bercita-cita memiliki anak yang pintar menjawab soal ujian. Bercita-citalah memiliki anak yang juga mampu menjawab pertanyaan malaikat dengan iman dan amal saleh.”
2\. Penjelasan Imam Al-Qurthubi رحمه الله
Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi menjelaskan bahwa perintah biquwwah mengandung makna kesungguhan dalam mempelajari kitab, menghafalnya, memahami kandungannya, serta mengamalkannya.
Teks Arab dari Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān:
بِقُوَّةٍ أَيْ بِجِدٍّ وَاجْتِهَادٍ، قَالَهُ مُجَاهِدٌ، وَقِيلَ: الْعِلْمُ بِهِ، وَالْحِفْظُ لَهُ وَالْعَمَلُ بِهِ، وَهُوَ الِالْتِزَامُ لِأَوَامِرِهِ، وَالْكَفُّ عَنْ نَوَاهِيهِ.
Terjemahannya:
“Dengan kekuatan,” maksudnya dengan kesungguhan dan ketekunan, sebagaimana dikatakan oleh Mujahid. Ada pula yang menjelaskan bahwa maksudnya ialah mengetahui kitab tersebut, menghafalnya, dan mengamalkannya, yaitu berpegang pada perintah-perintahnya serta menahan diri dari larangan-larangannya.\[^2\]
Ulasan untuk ceramah:
Penjelasan ini memberikan prinsip penting dalam pendidikan Islam: ilmu tidak berhenti pada hafalan, tetapi harus menghasilkan amal.
Ada tiga tahapan yang harus berjalan bersama:
* Mengetahui: memahami apa yang diperintahkan Allah.
* Meyakini: menerima petunjuk Allah dengan iman.
* Mengamalkan: menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, seorang anak sudah hafal ayat tentang berbakti kepada orang tua. Itu merupakan kebaikan. Akan tetapi, pelajaran tersebut menjadi lebih sempurna ketika ia berbicara dengan sopan, membantu orang tuanya, dan tidak membentak mereka.
Demikian pula orang yang hafal hadis tentang kejujuran, tetapi masih berbohong ketika terlambat masuk kerja. Hafalannya perlu diteruskan dengan latihan mengamalkan ilmu.
Humor ringan untuk menghidupkan suasana:
Ada orang yang hafal banyak resep masakan, tetapi tidak pernah memasak. Ketika ditanya, “Sudah bisa bikin rendang?”
Ia menjawab, “Resepnya hafal di luar kepala, Pak!”
Ditanya lagi, “Lalu rendangnya mana?”
“Belum ada, Pak. Saya masih ahli teori!”
Jamaah, jangan sampai kita menjadi ahli teori dalam agama: ayatnya hafal, hadisnya hafal, tetapi akhlaknya belum berubah. Ilmu yang benar semestinya mendorong kita memperbaiki diri.
3\. Penjelasan Imam As-Sa‘di رحمه الله
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di menjelaskan bahwa memegang kitab dengan sungguh-sungguh mencakup keseriusan menghafal lafaznya, memahami maknanya, serta menjalankan perintah dan menjauhi larangannya.
Teks Arab dari Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān:
أَيْ بِجِدٍّ وَاجْتِهَادٍ، وَذَلِكَ بِالِاجْتِهَادِ فِي حِفْظِ أَلْفَاظِهِ، وَفَهْمِ مَعَانِيهِ، وَالْعَمَلِ بِأَوَامِرِهِ وَنَوَاهِيهِ، هَذَا تَمَامُ أَخْذِ الْكِتَابِ بِقُوَّةٍ.
Terjemahannya:
“Yaitu dengan kesungguhan dan ketekunan. Hal itu dilakukan dengan bersungguh-sungguh menghafal lafaz-lafaznya, memahami makna-maknanya, serta mengamalkan perintah dan larangannya. Itulah kesempurnaan dalam memegang kitab dengan sungguh-sungguh.”\[^3\]
Ulasan untuk ceramah:
Penjelasan ini sangat relevan untuk orang tua, guru, pendidik pesantren, dan para pelajar.
Pendidikan Al-Qur’an tidak boleh hanya berorientasi pada banyaknya hafalan. Hafalan penting, pemahaman penting, dan pengamalan juga penting.
Seorang guru yang mengajarkan kesabaran hendaknya berusaha bersabar kepada muridnya. Orang tua yang memerintahkan anak berkata jujur hendaknya tidak memberi contoh kebohongan. Seorang pemimpin yang mengajak masyarakat berlaku adil hendaknya berusaha berlaku adil pula.
Dengan demikian, Surah Maryam ayat 12 bukan hanya berbicara tentang Nabi Yahya, tetapi juga memberi inspirasi bagi setiap Muslim untuk membangun hubungan yang kuat dengan wahyu Allah.
D. Dalil Al-Qur’an tentang pentingnya ilmu dan pendidikan
Dalil 1 — Memohon tambahan ilmu
QS. Taha ayat 114
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”
QS. Taha \[20\]: 114
Penjelasan:
Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebuah doa agar terus ditambahkan ilmu. Ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak semestinya merasa cukup dengan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari.
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini, menerangkan bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk memohon tambahan ilmu kepada-Nya.\[^4\]
Penerapan dalam kehidupan:
* Orang tua terus belajar mendidik anak.
* Guru terus memperbaiki metode mengajar.
* Pelajar tidak berhenti belajar setelah lulus sekolah.
* Para pendakwah terus memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.
Dalil 2 — Kemuliaan orang berilmu
QS. Az-Zumar ayat 9
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
QS. Az-Zumar \[39\]: 9
Ulasan:
Ayat ini mengajak manusia menyadari perbedaan antara orang yang memiliki ilmu dan orang yang tidak memiliki ilmu. Ilmu yang bermanfaat membantu manusia mengenal kebenaran, mengambil keputusan dengan bijaksana, serta beribadah dengan pemahaman yang benar.
Namun, ilmu juga harus disertai ketakwaan dan kerendahan hati. Banyak mengetahui tidak berarti boleh merendahkan orang lain.
Orang berilmu yang baik justru semakin berhati-hati dalam berbicara, tidak mudah menyalahkan, dan bersedia menerima kebenaran.
Dalil 3 — Pendidikan dimulai dari keluarga
QS. At-Tahrim ayat 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
QS. At-Tahrim \[66\]: 6, kutipan bagian awal ayat
Ulasan ulama:
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan orang beriman menjaga diri dan keluarganya dari api neraka dengan menaati Allah dan menjalankan perintah-Nya.\[^5\]
Pendidikan agama dalam keluarga bukan hanya tugas sekolah atau pesantren. Orang tua mempunyai tanggung jawab mendidik, membimbing, dan membiasakan anak dalam kebaikan.
Tanggung jawab itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana: mengajarkan doa, membiasakan salat, membimbing anak membaca Al-Qur’an, mengajarkan adab berbicara, serta menanamkan kejujuran dan kepedulian.
Pesan mimbar:
Jangan sampai kita begitu sibuk mencari nafkah untuk membahagiakan anak, tetapi lupa membekali mereka dengan iman yang akan menuntun kehidupannya.
Harta dapat membantu anak menjalani kehidupan, tetapi pendidikan iman dan akhlak membantunya mengetahui bagaimana menjalani kehidupan dengan benar.
E. Dalil Sunnah Rasulullah ﷺ
Dalil 1 — Keutamaan menempuh jalan ilmu
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.
Artinya:
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Sumber: HR. Muslim, no. 2699, dari Abu Hurairah r.a.\[^6\]
Penjelasan ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan keutamaan menuntut ilmu agama dan bahwa jalan menuju ilmu merupakan jalan yang mengantarkan kepada keridaan Allah dan surga-Nya.
Hadis ini memberikan motivasi bahwa belajar bukan sekadar aktivitas untuk memperoleh nilai, gelar, atau pekerjaan. Belajar agama juga merupakan ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan ditempuh melalui cara yang dibenarkan.
Ada orang yang rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan gelar akademik. Itu merupakan usaha yang patut dihargai. Namun, jangan sampai ia bersedia menghabiskan bertahun-tahun untuk mengejar gelar, tetapi tidak menyediakan waktu untuk mempelajari Al-Qur’an, memperbaiki salat, dan memahami halal-haram.
Humor untuk jamaah:
Kalau ujian sekolah, kita belajar sampai tengah malam. Kalau ujian kehidupan, kadang kita malah masuk ruang ujian tanpa membawa persiapan!
Padahal ijazah dunia hanya berguna dalam urusan tertentu, sedangkan iman, amal saleh, dan akhlak merupakan bekal yang sangat penting untuk kehidupan akhirat.
Dalil 2 — Pendidikan dan perhatian terhadap generasi muda
Dalam sebuah hadis sahih, Abdullah bin Abbas r.a. menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menasihatinya ketika ia masih muda.
Teks Arab:
يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ.
Artinya:
“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”
Sumber: HR. At-Tirmidzi, no. 2516; hadis ini juga dikenal sebagai hadis tentang nasihat Nabi kepada Ibnu Abbas r.a.\[^7\]
Ulasan untuk ceramah:
Perhatikan cara Rasulullah ﷺ mendidik generasi muda. Beliau tidak meremehkan usia Ibnu Abbas. Sebaliknya, beliau memberikan nasihat yang sangat mendasar tentang tauhid, tawakal, dan ketergantungan kepada Allah.
Ini menjadi pelajaran bagi para orang tua dan guru: anak-anak bukan hanya perlu diperintah, tetapi perlu dibimbing dengan nasihat yang sesuai, keteladanan, kasih sayang, dan kesempatan untuk bertanya.
Anak yang sejak kecil memahami bahwa Allah selalu mengetahui perbuatannya diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, termasuk ketika tidak ada orang yang mengawasinya.
Dalil 3 — Hikmah dapat tumbuh melalui bimbingan sejak muda
Rasulullah ﷺ pernah mendoakan Abdullah bin Abbas r.a.:
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.
Artinya:
“Ya Allah, berilah dia pemahaman yang mendalam tentang agama.”
Sumber: HR. Al-Bukhari, no. 143, dalam riwayat doa Nabi untuk Ibnu Abbas r.a.\[^8\]
Penjelasan:
Doa ini menunjukkan pentingnya memohon kepada Allah agar diberikan pemahaman agama yang benar. Kecerdasan saja tidak cukup; seseorang perlu memperoleh pemahaman yang menuntunnya kepada kebaikan.
Dari kisah Nabi Yahya a.s. dan Ibnu Abbas r.a., kita dapat mengambil pelajaran bahwa generasi muda layak mendapatkan perhatian serius dalam pendidikan agama.
Bagi orang tua, doakan anak-anak agar memahami agama. Bagi guru, ajarkan ilmu dengan sabar. Bagi pelajar, bersungguh-sungguhlah belajar dan hormati orang yang mengajarkan kebaikan.
F. Karakter Nabi Yahya dalam ayat-ayat berikutnya
Untuk memahami Surah Maryam ayat 12 secara lebih utuh, kita perlu memperhatikan ayat 13–15. Allah tidak hanya menyebut hikmah yang diberikan kepada Nabi Yahya, tetapi juga menyebut kasih sayang, kesucian jiwa, ketakwaan, dan baktinya kepada orang tua.
1\. Kasih sayang dan kesucian jiwa
QS. Maryam ayat 13
وَحَنَانًا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَاةً ۖ وَكَانَ تَقِيًّا
Artinya:
“Dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa.”
Ayat ini memperlihatkan bahwa hikmah bukan sekadar kecerdasan intelektual. Nabi Yahya juga memiliki sifat kasih sayang, kesucian jiwa, dan ketakwaan.
Pelajaran pendidikan: kita tidak boleh hanya mengejar kecerdasan akademik anak. Pendidikan harus membentuk hati yang baik, perilaku yang santun, dan kesadaran untuk menaati Allah.
Anak yang memperoleh nilai tinggi tetapi suka merundung temannya masih membutuhkan pembinaan akhlak. Sebaliknya, anak yang santun dan suka menolong perlu terus didorong agar kecerdasannya juga berkembang.
2\. Berbakti kepada orang tua
QS. Maryam ayat 14
وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا
Artinya:
“Dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka.”
Ayat ini menegaskan bahwa salah satu karakter terpuji Nabi Yahya adalah berbakti kepada kedua orang tuanya dan tidak bersikap sombong atau durhaka.
Ulasan untuk ceramah:
Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari pekerjaan anak, banyaknya gelar, atau tingginya penghasilan. Salah satu ukuran pentingnya adalah bagaimana ia memperlakukan kedua orang tuanya.
Seorang anak boleh menjadi pejabat, pengusaha, guru, dokter, atau ulama. Akan tetapi, jangan sampai semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah penghormatannya kepada orang tua.
Dan bagi orang tua, pendidikan berbakti bukan hanya dengan menuntut anak untuk patuh, melainkan juga dengan menunjukkan kasih sayang, keadilan, dan teladan yang baik.
3\. Keselamatan pada tiga keadaan
QS. Maryam ayat 15
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
Artinya:
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadanya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.”
Ayat ini menutup rangkaian penyebutan sifat Nabi Yahya dengan kabar tentang keselamatan pada tiga keadaan penting: kelahiran, kematian, dan kebangkitan.
Pelajaran bagi kita adalah bahwa pendidikan dan pembinaan iman harus mempersiapkan manusia bukan hanya untuk sukses di dunia, tetapi juga untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya di akhirat.
G. Kisah Nabi Yahya yang menjadi pelajaran bagi generasi muda
Dalam penafsiran Surah Maryam ayat 12, Imam Ibnu Katsir mengutip sebuah riwayat dari Ma‘mar yang dinukil melalui Abdullah bin Al-Mubarak.
Teks Arab dalam kitab tafsir:
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ: قَالَ مَعْمَرٌ: قَالَ الصِّبْيَانُ لِيَحْيَى بْنِ زَكَرِيَّا: اذْهَبْ بِنَا نَلْعَبْ. قَالَ: مَا لِلَّعِبِ خُلِقْتُ.
Terjemahannya:
Abdullah bin Al-Mubarak berkata, Ma‘mar berkata, “Anak-anak berkata kepada Yahya bin Zakaria, ‘Marilah kita pergi bermain bersama.’ Ia menjawab, ‘Aku tidak diciptakan untuk bermain-main.’”\[^9\]
Catatan ilmiah: Riwayat ini disebutkan dalam kitab tafsir sebagai kisah penjelas, bukan hadis Nabi ﷺ yang bersanad sahih. Karena itu, kisah tersebut sebaiknya disampaikan sebagai riwayat yang dikutip oleh mufasir, bukan sebagai hadis yang pasti sahih.
Ulasan dan penerapan pada zaman sekarang
Jamaah rahimakumullah, kisah ini mengajak kita merenungkan bagaimana seorang anak dapat memiliki kesadaran tentang tujuan hidup.
Namun, jangan salah memahami kisah ini seolah-olah Islam melarang anak-anak bermain. Bermain secara wajar merupakan bagian dari pertumbuhan anak. Yang perlu dibentuk adalah kemampuan mengatur waktu, mendahulukan kewajiban, dan tidak menjadikan kesenangan sebagai tujuan hidup satu-satunya.
Anak-anak tetap boleh bermain, berolahraga, beristirahat, dan bergembira. Mereka juga perlu belajar, beribadah, membantu orang tua, serta menghormati guru.
Yang harus kita hindari adalah dua sikap ekstrem: membiarkan anak menghabiskan seluruh waktunya untuk hiburan, atau memaksa anak belajar dan beribadah tanpa memperhatikan kebutuhan perkembangan serta kemampuannya.
Pesan untuk para orang tua dan guru:
Jangan sekadar bertanya, “Anak saya dapat nilai berapa?”
Tanyakan juga:
Apakah ia jujur ketika melakukan kesalahan?
Apakah ia menghormati orang tua dan guru?
Apakah ia menjaga salatnya sesuai usia dan kemampuannya?
Apakah ia menyayangi teman dan tidak merundung orang lain?
Apakah ia mampu membagi waktu antara belajar, ibadah, istirahat, dan bermain?
Inilah pendidikan yang berusaha menumbuhkan ilmu sekaligus akhlak.
H. Hadis tentang tanggung jawab pendidikan anak
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
Artinya:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Hadis ini mengingatkan kita bahwa pendidikan anak adalah amanah. Orang tua bertanggung jawab atas pembinaan keluarganya sesuai kemampuan dan kewajibannya. Guru bertanggung jawab menjalankan amanah pendidikan, sedangkan pemimpin bertanggung jawab atas orang-orang yang berada dalam lingkup kepemimpinannya.
Kita tidak boleh menyerahkan seluruh pendidikan akhlak kepada sekolah, lalu merasa tugas kita selesai hanya dengan membayar biaya pendidikan.
Sebaliknya, sekolah juga tidak dapat menggantikan seluruh peran keluarga. Pendidikan yang baik memerlukan kerja sama antara orang tua, guru, masyarakat, dan lingkungan yang mendukung.
Kalimat penekanan mimbar:
“Anak-anak mungkin lupa sebagian nasihat yang kita sampaikan, tetapi mereka sering mengingat perilaku yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, jadilah teladan sebelum menuntut mereka menjadi teladan.”
I. Sepuluh pelajaran praktis dari Surah Maryam ayat 12
Berikut rangkuman yang dapat dijadikan bahan muhasabah jamaah.
1. Serius mempelajari wahyu
Jadwalkan waktu untuk membaca, memahami, dan mempelajari Al-Qur’an bersama tafsirnya.
2. Mengembangkan hikmah
Biasakan berpikir sebelum berbicara, memeriksa kebenaran informasi, dan mempertimbangkan akibat perbuatan
3. Menumbuhkan kasih sayang
Jangan menggunakan ilmu untuk menghina atau merendahkan orang lain.
4. Latih diri untuk menjauhi kesombongan, kedengkian, kebohongan, dan riya.
5. Memperkuat ketakwaan
Berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik ketika dilihat orang maupun ketika sendirian
6. Berbakti kepada orang tua
Berbicara dengan santun, membantu mereka, mendoakan mereka, dan menjaga hubungan baik
7. Menghormati guru
Menghargai ilmu, bertanya dengan adab, dan bersungguh-sungguh mengamalkan pelajaran yang baik
8. Disiplin mengatur waktu
Seimbangkan ibadah, belajar, bekerja, keluarga, istirahat, dan hiburan yang bermanfaat.
9. Menjaga integritas
Tetap jujur dan bertanggung jawab meskipun tidak ada manusia yang mengawasi.
10. Menjadi teladan kebaikan
Mulailah memperbaiki diri sebelum mengharapkan perubahan besar pada anak, murid, keluarga, atau masyarakat.
J. Penutup ceramah: Jangan menunggu dewasa untuk menjadi saleh
Bapak, Ibu, dan jamaah rahimakumullah.
Surah Maryam ayat 12 mengajarkan kepada kita bahwa hikmah merupakan karunia Allah yang sangat berharga. Nabi Yahya a.s. menerima karunia tersebut ketika masih kanak-kanak, kemudian Allah menyebut sifat-sifat beliau yang mulia pada ayat-ayat berikutnya.
Maka, jangan meremehkan masa kecil anak-anak kita. Jangan pula meremehkan usia muda kita sendiri.
Jika kita orang tua, didiklah anak-anak dengan iman, ilmu, dan kasih sayang. Jika kita guru, ajarkan ilmu dengan kesungguhan dan keteladanan. Jika kita pelajar, manfaatkan masa muda untuk belajar dan memperbaiki akhlak. Jika kita sudah dewasa, jangan berhenti menuntut ilmu dan membina diri.
Ingatlah bahwa tujuan pendidikan Islam bukan hanya melahirkan manusia yang pintar, melainkan manusia yang mengenal Allah, memahami agamanya, berakhlak mulia, berbakti kepada orang tua, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Mari kita jadikan firman Allah berikut sebagai doa dan cita-cita pendidikan kita.
Catatan kaki dan kitab rujukan
Nomor halaman kitab tafsir dapat berbeda menurut penerbit, tahqiq, dan tahun cetak. Karena itu, rujukan utama di bawah ini menggunakan nama kitab dan lokasi penafsiran ayat agar mudah diverifikasi.
[^1]: Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Maryam ayat 12. Teks dan penjelasan Arab dapat diperiksa pada Tafsir Ibnu Katsir, QS. Maryam: 12. Baca teks tafsir Arab dan terjemahannya.
[^2]: Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam ayat 12. Lihat juga Tafsir Al-Qurthubi, QS. Maryam: 12.
[^3]: Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir Surah Maryam ayat 12–15. Teks Arabnya dapat diperiksa melalui Kumpulan tafsir QS. Maryam: 12.
[^4]: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Taha [20]: 114. Rujukan ini merupakan penjelasan atas doa memohon tambahan ilmu.
[^5]: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. At-Tahrim [66]: 6.
[^8]: Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Wuḍū’, hadis no. 143 pada penomoran yang lazim digunakan. Nomor dapat berbeda pada sebagian edisi.
[^9]: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam [19]: 12. Riwayat tentang Nabi Yahya dan anak-anak yang mengajaknya bermain dicantumkan sebagai kutipan dari Ma‘mar melalui Abdullah bin Al-Mubarak; jangan menyamakannya dengan hadis marfu‘ yang sahih.
[^10]: Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Jumu‘ah, hadis no. 893; Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Imārah, hadis no. 1829.
Post a Comment