MENJAGA KEHORMATAN DI TENGAH UJIAN. (Ketika Logika Manusia Berhadapan dengan Kekuasaan Allah)
MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN
MENJAGA
KEHORMATAN DI TENGAH UJIAN
Ketika Logika Manusia Berhadapan dengan Kekuasaan Allah
Tafsir Surah Maryam Ayat 20
A. Ayat Utama dan Terjemahan
قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ
لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا
Artinya: Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana
mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada seorang
laki-laki pun yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!”
Ayat ini menggambarkan keterkejutan Maryam
ketika menerima kabar bahwa ia akan dianugerahi seorang anak. Ia menjaga
kehormatan dirinya dan menyampaikan kenyataan bahwa ia tidak pernah melakukan
hubungan dengan laki-laki serta bukan perempuan yang berbuat zina.
B. Pengantar Ceramah
الحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah Jumat atau kaum muslimin yang
dirahmati Allah, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pada kesempatan ini kita
merenungkan Surah Maryam ayat 20, yang mengajarkan penjagaan kehormatan,
kehati-hatian dalam menilai orang lain, serta keyakinan bahwa kekuasaan Allah
melampaui kebiasaan manusia.
Kisah Maryam bukan sekadar kisah tentang
kehamilan yang ajaib. Ia juga mengajarkan bahwa seorang hamba dapat menghadapi
ujian yang sulit dijelaskan oleh logika manusia, dan bahwa kehormatan seseorang
tidak boleh dirusak oleh prasangka serta tuduhan tanpa bukti.
C. Tadabbur Lafaz Ayat
1. أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ — “Bagaimana mungkin aku
mempunyai anak laki-laki?”
Ungkapan ini menunjukkan keheranan Maryam.
Dalam keadaan yang ia ketahui, tidak ada sebab biologis yang memungkinkan
dirinya memiliki anak. Pertanyaannya bukan penolakan terhadap kekuasaan Allah,
melainkan ungkapan keterkejutan terhadap berita yang sangat luar biasa.
2. وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ — “Padahal tidak pernah ada
seorang laki-laki pun yang menyentuhku”
Maryam menegaskan bahwa ia tidak pernah
melakukan hubungan dengan laki-laki. Ungkapan ini menegaskan kesucian dan
penjagaan dirinya. Ia tidak menganggap kehormatan sebagai perkara remeh,
melainkan sesuatu yang harus dijaga.
3. وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا — “Dan aku bukan seorang pezina”
Kata بَغِيًّا menunjuk kepada perempuan
yang melakukan perbuatan zina atau pelanggaran kehormatan. Maryam menafikan hal
tersebut dengan tegas. Ayat ini mengingatkan bahwa tuduhan zina merupakan
perkara serius dan tidak boleh dilontarkan sembarangan.
D. Penjelasan Para Ulama Tafsir
1. Tafsir Ath-Thabari
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa ucapan
Maryam menunjukkan keheranannya: bagaimana ia akan memperoleh seorang anak,
sementara tidak ada laki-laki yang pernah menyentuhnya dan ia bukan perempuan
yang melakukan zina. Penjelasan ini menempatkan ayat dalam konteks
ketidakmungkinan menurut kebiasaan manusia, sebelum Allah menjelaskan bahwa hal
itu terjadi dengan kehendak-Nya.
Rujukan: Muhammad bin Jarir ath-Thabari,
Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam ayat 20.
2. Tafsir Al-Qurthubi
Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa
pertanyaan Maryam berhubungan dengan tidak adanya sebab yang biasa dikenal
untuk terjadinya kehamilan. Penyebutan bahwa dirinya bukan perempuan pezina
juga menegaskan penjagaan kehormatan Maryam. Ayat ini menjadi pengantar bagi
penjelasan tentang kekuasaan Allah yang menciptakan sesuai kehendak-Nya.
Rujukan: Abu ‘Abdillah al-Qurthubi,
Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam ayat 20.
3. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Maryam merasa
heran karena dirinya belum pernah bersuami dan bukan pula perempuan yang
berbuat zina. Kejadian yang akan dialaminya merupakan tanda kekuasaan Allah.
Dengan demikian, ayat ini tidak boleh dipahami sebagai batas bagi kekuasaan
Allah, tetapi sebagai ungkapan manusia ketika menghadapi perkara yang berada di
luar pengalaman biasanya.
Rujukan: Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir,
Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Maryam ayat 20.
4. Tafsir Al-Baghawi
Al-Baghawi juga mengaitkan ucapan Maryam
dengan kenyataan bahwa ia tidak memiliki suami dan tidak pernah melakukan
perbuatan zina. Makna pokoknya ialah keheranan Maryam terhadap kabar yang
disampaikan kepadanya, bukan keraguan bahwa Allah Mahakuasa.
Rujukan: Al-Husain bin Mas‘ud al-Baghawi,
Ma‘ālim at-Tanzīl, tafsir Surah Maryam ayat 20.
E. Ayat-Ayat Pendukung
1. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu — Surah Maryam ayat
21
قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ
رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ ۖ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا
ۚ وَكَانَ أَمْرًا مَّقْضِيًّا
Artinya: Dia (Jibril) berkata,
“Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; dan agar Kami
menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal
itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
Ayat berikutnya menjawab keheranan Maryam:
bagi Allah, penciptaan Isa tanpa ayah bukanlah sesuatu yang sulit. Ketika Allah
menetapkan suatu perkara, kemampuan manusia yang terbatas tidak dapat dijadikan
ukuran bagi kekuasaan-Nya.
2. Maryam sebagai teladan kesucian — Surah At-Tahrim ayat
12
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ
الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ
رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
Artinya: Dan (ingatlah) Maryam putri Imran
yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian
dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan
kitab-kitab-Nya, dan dia termasuk orang-orang yang taat.
Ayat ini secara jelas menyebut Maryam
sebagai perempuan yang menjaga kehormatannya. Kisahnya mengajarkan bahwa
kemuliaan lahir dari iman, ketaatan, dan penjagaan diri.
3. Larangan menuduh perempuan baik-baik — Surah An-Nur
ayat 23
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ
الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang
menuduh perempuan-perempuan yang baik, yang lengah (tidak terlintas dalam
pikirannya untuk berbuat keji), lagi beriman, mereka dilaknat di dunia dan di
akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.
Ayat ini memperingatkan keras orang yang
menuduh perempuan beriman tanpa dasar yang benar. Menjaga kehormatan orang lain
termasuk bagian dari menjaga lisan dan menegakkan keadilan.
F. Hadis-Hadis Pendukung
1. Menjauhi tujuh dosa yang membinasakan
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ
الْمُوبِقَاتِ
Artinya: “Jauhilah tujuh perkara yang
membinasakan.”
Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ menyebutkan di
antara tujuh dosa besar itu adalah menuduh zina terhadap perempuan mukmin yang
menjaga kehormatannya. Hadis ini menunjukkan bahwa tuduhan zina bukan bahan
candaan atau alat untuk mempermalukan orang.
Rujukan: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim,
hadis tentang tujuh dosa yang membinasakan; penomoran hadis berbeda menurut
edisi.
2. Menjaga lisan
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah
dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Hadis ini menjadi pedoman dalam menghadapi
kabar yang belum jelas. Jangan menyebarkan gosip, jangan meneruskan tuduhan,
dan jangan menjadikan kehormatan orang lain sebagai bahan pembicaraan.
Rujukan: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim,
dari Abu Hurairah رضي الله عنه.
G. Pelajaran Kehidupan
1. Menjaga kehormatan adalah bagian dari ketaatan
kepada Allah. Maryam menjadi teladan dalam kesucian dan keteguhan.
2. Jangan menilai orang hanya berdasarkan
prasangka atau kabar yang belum terbukti. Islam menuntut keadilan dan
kehati-hatian.
3. Jangan menjadikan dosa atau aib orang lain
sebagai bahan candaan, gosip, atau konten.
4. Kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh kebiasaan
manusia. Akal digunakan untuk memahami tanda-tanda-Nya, bukan untuk membatasi
kuasa-Nya.
5. Ketika menghadapi ujian atau tuduhan, tetaplah
berpegang kepada Allah, menjaga perilaku, dan mencari jalan yang benar.
6. Pendidik dan orang tua perlu menanamkan adab
pergaulan, kehormatan diri, tanggung jawab digital, serta keberanian berkata
benar.
H. Naskah Ceramah Siap Disampaikan
الحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي أَكْرَمَنَا بِالْإِيمَانِ، وَهَدَانَا إِلَى الْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا
مِنْ أُمَّةِ خَيْرِ الْأَنَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa. Pada hari ini, kita belajar dari Maryam, seorang perempuan
salehah yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an. Ketika malaikat menyampaikan
kabar bahwa ia akan memiliki seorang anak laki-laki, Maryam menjawab dengan
penuh keheranan: “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak
pernah ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku dan aku bukan seorang
pezina?”
Jawaban Maryam mengandung dua pelajaran.
Pertama, ia memahami keadaan dirinya dan menyatakan kebenaran dengan jelas.
Kedua, ia menjaga kehormatannya dan tidak membiarkan kesucian dirinya dipandang
sebagai perkara ringan. Ia tidak mengarang cerita, tidak menutupi kebenaran,
dan tidak menganggap kehormatan sebagai sesuatu yang boleh dipermainkan.
Jamaah yang dirahmati Allah, hari ini
kehormatan seseorang dapat diserang bukan hanya melalui ucapan langsung, tetapi
juga lewat pesan singkat, grup percakapan, foto yang disebarkan tanpa izin,
potongan video, dan komentar di media sosial. Satu tuduhan yang belum tentu
benar bisa menyakiti seseorang, merusak keluarga, dan menimbulkan permusuhan
berkepanjangan.
Karena itu, sebelum berbicara, bertanyalah
kepada diri sendiri: apakah berita ini benar? Apakah saya memiliki bukti?
Apakah menyebarkannya membawa manfaat? Jika tidak, diam sering kali lebih
selamat. Rasulullah ﷺ mengajarkan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari
akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Allah juga memperingatkan dalam Surah
An-Nur ayat 23 tentang beratnya dosa menuduh perempuan-perempuan mukmin yang
menjaga kehormatannya. Ini bukan berarti hanya perempuan yang wajib dijaga
kehormatannya; setiap manusia memiliki kehormatan yang tidak boleh dirusak
dengan fitnah. Ayat tersebut menyebut perempuan secara khusus dalam konteks
perlindungan dari tuduhan keji.
Hadirin sekalian, pelajaran berikutnya
adalah bahwa kekuasaan Allah melampaui kebiasaan manusia. Maryam bertanya
karena menurut sebab yang biasa dikenal, ia tidak mungkin memiliki anak. Lalu
ayat sesudahnya menjelaskan jawaban Allah: “Hal itu mudah bagi-Ku.” Allah yang
menciptakan sebab juga Mahakuasa mewujudkan sesuatu di luar kebiasaan yang kita
kenal.
Maka janganlah kita berputus asa ketika
menghadapi persoalan yang terasa mustahil. Kita tetap berikhtiar dengan cara
yang benar, berdoa, dan bertawakal. Namun, keyakinan kepada kuasa Allah juga
tidak berarti kita meninggalkan usaha atau mengabaikan aturan agama. Kita
berjalan dengan ilmu, adab, dan keimanan.
Marilah kita meneladani Maryam: menjaga
diri, memelihara lisan, tidak mudah menuduh, dan tetap percaya kepada Allah.
Mari ajarkan kepada anak-anak kita bahwa kehormatan lebih berharga daripada
popularitas, kebenaran lebih utama daripada gosip, dan diam lebih mulia
daripada menyebarkan keburukan.
Semoga Allah menjaga hati dan lisan kita,
melindungi keluarga kita dari fitnah, serta menjadikan kita hamba yang adil,
bersih, dan bertakwa.
آمِينَ
يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
I. Doa Penutup
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا
مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالْبُهْتَانِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الظَّنِّ السَّيِّئِ،
وَاحْفَظْ أَعْرَاضَنَا وَأَعْرَاضَ الْمُسْلِمِينَ.
Artinya: Ya Allah, jagalah lisan kami dari
dusta, gibah, dan fitnah; sucikan hati kami dari prasangka buruk; dan jagalah
kehormatan kami serta kehormatan kaum muslimin.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا
الْعِفَّةَ وَالطَّهَارَةَ وَصِدْقَ اللِّسَانِ وَحُسْنَ الْخُلُقِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
Artinya: Ya Allah, anugerahkan kepada kami
kesucian diri, kebersihan hati, kejujuran lisan, dan akhlak yang baik.
Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ.
Artinya: Ya Tuhan kami, ampunilah kami,
kedua orang tua kami, dan orang-orang beriman pada hari terjadinya perhitungan.
Semoga Allah mencurahkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan
para sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
J. Catatan Rujukan
·
Al-Qur’an
al-Karim: Surah Maryam ayat 20–21; Surah At-Tahrim ayat 12; Surah An-Nur ayat
23.
·
Ath-Thabari,
Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam
ayat 20.
·
Al-Qurthubi,
Abu ‘Abdillah. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam ayat 20.
·
Ibnu
Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Maryam ayat
20.
·
Al-Baghawi,
Al-Husain bin Mas‘ud. Ma‘ālim at-Tanzīl, tafsir Surah Maryam ayat 20.
·
Ṣaḥīḥ
al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim: hadis tentang tujuh dosa yang membinasakan dan
hadis berkata baik atau diam.
Catatan akademik: Nomor halaman dan nomor
hadis dapat berbeda antar-edisi/cetakan. Untuk naskah yang akan diterbitkan
atau digunakan dalam kajian ilmiah, cocokkan kutipan dengan edisi kitab yang
tersedia agar nomor halaman dan redaksi sesuai.
Post a Comment