PERSELISIHAN DALAM AGAMA (Bahaya Menyimpang dari Kebenaran dan Dahsyatnya Hari Kiamat)
PERSELISIHAN DALAM AGAMA
Bahaya Menyimpang dari Kebenaran dan Dahsyatnya Hari Kiamat
Materi Ceramah Tafsir Surah Maryam Ayat 37
A. Muqaddimah
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah, marilah kita meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa juga berarti menjaga kebenaran akidah, kejujuran dalam berbicara, dan kerendahan hati ketika menerima nasihat.
Surah Maryam ayat 37 mengingatkan bahwa setelah Nabi Isa menyampaikan pengakuan yang jelas tentang kehambaannya kepada Allah, berbagai golongan berselisih mengenai dirinya. Ayat ini juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukan akhir perjalanan manusia; akan datang hari ketika setiap orang mempertanggungjawabkan keyakinan dan amalnya.
B. Ayat Pokok: Surah Maryam Ayat 37
QS Maryam [19]: 37
فَاخْتَلَفَ الْاَحْزَابُ مِنْۢ بَيْنِهِمْۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ مَّشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
Terjemahan: Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka (Yahudi dan Nasrani). Maka celakalah orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang agung!
Ayat sebelumnya, QS Maryam [19]: 36, menyampaikan seruan Nabi Isa:
وَإِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ
Terjemahan: “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”
Keterkaitan kedua ayat ini: ayat 36 berisi seruan tauhid, sedangkan ayat 37 menerangkan perselisihan yang muncul mengenai Nabi Isa. Kebenaran tidak ditentukan semata-mata oleh jumlah pengikut atau kuatnya pengaruh, tetapi harus diukur dengan petunjuk Allah dan ajaran para rasul.
C. Tafsir Tahlili
1. Makna “فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ” — golongan-golongan itu berselisih
Kata ikhtalafa bermakna berbeda atau tidak sejalan, sedangkan al-ahzab berarti kelompok-kelompok. Dalam konteks ayat, yang dibicarakan adalah golongan-golongan yang berselisih mengenai Nabi Isa. Sebagian mufasir klasik menguraikan beberapa pandangan teologis yang berkembang dalam sejarah. Sejarah kelompok-kelompok tersebut kompleks; karena itu, fokus utama ayat ialah peringatan agar manusia tidak menyimpang dari petunjuk wahyu.
QS Ali ‘Imran [3]: 103
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا
Terjemahan: Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai-berai.
Ayat ini mengajarkan agar kaum muslimin menjadikan wahyu sebagai pegangan bersama. Perbedaan dalam masalah cabang yang memiliki ruang ijtihad tidak otomatis tercela; yang berbahaya adalah perselisihan yang mendorong penolakan kebenaran, hawa nafsu, dan rusaknya persaudaraan.
QS Al-An‘am [6]: 159
إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍ
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolongan-golongan, engkau (Nabi Muhammad) tidak bertanggung jawab sedikit pun terhadap mereka.
Jangan hanya bertanya, “Saya berada dalam golongan mana?” tetapi tanyakan juga, “Apakah keyakinan, ibadah, dan akhlak saya sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya?”
2. Bahaya berlebihan dalam memuliakan manusia
Islam memuliakan Nabi Isa sebagai nabi dan rasul yang mulia. Kelahirannya melalui mukjizat merupakan tanda kekuasaan Allah, tetapi tidak menjadikannya sebagai Tuhan. Mencintai para nabi berarti mempercayai dan mengikuti ajaran mereka, bukan memberi sifat ketuhanan yang tidak pernah mereka miliki.
QS Maryam [19]: 30
قَالَ إِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ اٰتٰىنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا
Terjemahan: Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang nabi.”
QS Al-Ikhlas [112]: 1–4
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ اللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
Terjemahan: Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
QS Al-Ma’idah [5]: 75
مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ وَاُمُّهٗ صِدِّيْقَةٌۗ كَانَا يَأْكُلٰنِ الطَّعَامَ
Terjemahan: Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Ibunya seorang yang sangat benar. Keduanya biasa memakan makanan.
Ayat-ayat ini menempatkan Isa dan Maryam secara terhormat sekaligus menjelaskan kedudukan mereka sebagai makhluk Allah. Tauhid menuntut agar ibadah hanya ditujukan kepada Allah.
3. Makna “فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا” — ancaman bagi orang yang ingkar
Kata wail merupakan ungkapan ancaman keras dan kecelakaan. Ayat ini memperingatkan orang yang menolak kebenaran tentang beratnya akibat kekufuran pada hari pembalasan. Ancaman tersebut bukan izin untuk menghakimi keadaan akhir setiap individu; keputusan akhir berada di tangan Allah yang mengetahui seluruh keadaan.
QS An-Nisa’ [4]: 40
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
Terjemahan: Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah.
Allah memberikan keputusan dengan keadilan sempurna. Ayat ancaman seharusnya membuat kita takut terhadap dosa dan terdorong untuk bertobat, bukan merasa berhak menghina orang lain.
4. Makna “مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيْمٍ” — menyaksikan hari yang agung
Ungkapan ini berkaitan dengan kedahsyatan hari kiamat dan perhitungan amal. Pada hari itu manusia akan menghadapi akibat perbuatannya dan tidak dapat menyembunyikan sesuatu dari pengetahuan Allah.
QS Az-Zalzalah [99]: 7–8
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۗ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
Terjemahan: Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat balasannya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat balasannya.
QS Yasin [36]: 65
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Terjemahan: Pada hari ini Kami tutup mulut mereka. Tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.
Sebelum anggota badan menjadi saksi, gunakanlah untuk kebaikan. Biasakan berkata benar, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.
D. Dalil Sunnah: Allah Menangguhkan Hukuman
1. Allah memberi tenggang waktu kepada orang zalim
إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
Terjemahan: “Sesungguhnya Allah benar-benar memberi tenggang waktu kepada orang zalim. Namun, ketika Dia menghukumnya, orang itu tidak akan dapat melepaskan diri dari hukuman-Nya.”
HR. al-Bukhari no. 4686 dan Muslim no. 2583, dari Abu Musa al-Asy‘ari; penomoran dapat berbeda menurut edisi.
وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۗ اِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ
Terjemahan QS Hud [11]: 102: “Demikianlah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.”
Hadis ini mengajarkan bahwa tertundanya hukuman bukan bukti bahwa Allah meridai suatu perbuatan. Allah memberi kesempatan untuk bertobat; manusia tidak boleh merasa aman jika terus berbuat zalim.
2. Allah tetap memberi rezeki meskipun manusia mengucapkan perkataan yang tidak pantas tentang-Nya
مَا أَحَدٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ
Terjemahan: “Tidak ada seorang pun yang lebih sabar menghadapi perkataan menyakitkan yang didengarnya daripada Allah. Mereka menisbatkan anak kepada-Nya, tetapi Dia tetap memberikan kesehatan dan rezeki kepada mereka.”
HR. al-Bukhari, dengan redaksi yang diriwayatkan dalam Kitab at-Tauhid dan Kitab al-Adab; nomor hadis berbeda menurut edisi.
Hadis ini tidak berarti Allah mengalami kesabaran atau kesedihan sebagaimana manusia. Hadis ini menegaskan keluasan kemurahan Allah: Dia tidak segera menghukum setiap orang yang mengingkari-Nya, bahkan tetap melimpahkan rezeki dan kesehatan.
Kesabaran bukan berarti membiarkan kezaliman berlangsung. Kita tetap boleh menghentikan keburukan dan mencari keadilan, tetapi harus melakukannya tanpa melampaui batas.
E. Ulasan Para Ulama Tafsir
1. Imam Ath-Thabari
Ath-Thabari menjelaskan bahwa golongan-golongan itu berbeda pendapat tentang Nabi Isa hingga terpecah menjadi kelompok-kelompok. Pokok makna yang dibahas dalam tafsirnya adalah:
فَاخْتَلَفَ الْمُخْتَلِفُونَ فِي عِيسَى
Terjemahan makna: “Orang-orang yang berbeda pendapat itu berselisih mengenai Isa.”
Rujukan: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS Maryam [19]: 37. Kalimat Arab di atas ditampilkan sebagai penggalan ringkas makna pembahasan, bukan kutipan panjang verbatim.
Ulasan: perselisihan bukan hanya masalah jumlah kelompok. Yang mendasar ialah apakah pandangan sejalan dengan wahyu. Saat membahas perbedaan agama, kita memerlukan ilmu, keadilan, dan akhlak.
2. Imam Al-Qurthubi
Al-Qurthubi membahas perbedaan kelompok-kelompok yang berselisih mengenai Isa serta makna ungkapan tentang hari yang agung.
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Terjemahan: “Maka celakalah orang-orang yang kufur karena menyaksikan hari yang agung.”
Rujukan: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS Maryam [19]: 37. Penggalan di atas adalah teks ayat yang menjadi pokok tafsir, bukan kutipan penjelasan panjang dari kitab.
Ulasan: dunia sering membuat manusia merasa pendapatnya paling benar dan kekuasaannya tidak akan berakhir. Pada hari kiamat, seluruh manusia akan berdiri di hadapan Allah. Karena itu, ayat ancaman membangkitkan rasa takut yang mendidik dan mendorong tobat.
3. Imam Al-Baghawi
Al-Baghawi menerangkan bahwa al-ahzab merujuk kepada kelompok-kelompok yang berbeda pandangan mengenai Isa.
فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ
Terjemahan: “Maka golongan-golongan itu berselisih di antara mereka.”
Rujukan: Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl, tafsir QS Maryam [19]: 37. Penggalan Arab merupakan teks ayat yang dibahas.
Ulasan: istilah kelompok dalam tafsir klasik perlu dipahami dalam konteks sejarahnya. Tujuan utama ayat adalah peringatan agar manusia tidak meninggalkan petunjuk Allah.
4. Ibnu Katsir
Ibnu Katsir membahas rangkaian ayat Maryam 34–37 sebagai penjelasan mengenai Nabi Isa dan perselisihan yang terjadi tentang dirinya.
هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ
Terjemahan: “Inilah jalan yang lurus. Kemudian golongan-golongan itu berselisih di antara mereka.”
Rujukan: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS Maryam [19]: 34–37. Penggalan Arab merupakan teks ayat.
Ulasan: kebenaran telah dijelaskan melalui wahyu, tetapi manusia dapat berselisih karena penolakan, prasangka, atau mengikuti pemahaman yang tidak sesuai petunjuk. Teguh dalam akidah harus berjalan bersama kerendahan hati dan adab.
F. Pelajaran Akidah dan Kehidupan
Jangan menjadikan banyaknya pengikut sebagai satu-satunya ukuran kebenaran; kembalikan keyakinan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Jangan berlebihan dalam memuji manusia. Mencintai para nabi berarti mengikuti ajaran mereka dan menjaga kedudukan mereka sebagaimana ditetapkan Allah.
Jangan merasa aman karena hukuman belum datang. Kesempatan hidup adalah peluang untuk bertobat dan memperbaiki diri.
Persiapkan diri menghadapi hari kiamat. Jangan menunda salat, tobat, atau meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti.
Sampaikan kebenaran dengan akhlak baik. Menjelaskan perbedaan akidah tidak membenarkan dusta, hinaan, atau kezaliman.
G. Naskah Penutup Ceramah
Jamaah yang dirahmati Allah, Surah Maryam ayat 37 mengingatkan bahwa perselisihan mengenai agama bukan perkara ringan. Ketika manusia meninggalkan petunjuk Allah, mereka dapat terpecah menjadi kelompok-kelompok dan mempertahankan keyakinan tanpa kembali kepada kebenaran.
Nabi Isa telah menyampaikan seruan yang jelas: Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus. Namun, sebagian manusia justru berselisih mengenai kedudukannya.
Marilah kita menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman. Jangan sibuk membicarakan kesalahan orang lain tetapi lupa memeriksa diri sendiri. Jangan merasa paling benar tetapi malas belajar. Jangan mengingatkan orang lain tentang hari kiamat tetapi melupakan bekal untuk menghadapinya.
Allah memberi tenggang waktu kepada orang yang berbuat zalim, tetapi kesempatan itu bukan jaminan keselamatan jika seseorang terus-menerus melakukan kezaliman tanpa bertobat. Pada hari kiamat, manusia akan melihat akibat amalnya. Marilah memperbaiki akidah, menjaga ibadah, memperindah akhlak, dan memperbanyak amal saleh.
H. Doa Penutup
اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَاهْدِنَا لِلْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ، وَجَنِّبْنَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوْحًا وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Terjemahan: “Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Tunjukilah kami kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Jauhkanlah kami dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Karuniakanlah kepada kami tobat yang tulus dan amal saleh yang Engkau terima. Lindungilah kami dari kehinaan pada hari kiamat. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, serta kaum mukmin laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
I. Catatan Kaki dan Daftar Rujukan
Al-Qur’an al-Karim: QS Maryam [19]: 30, 36–37; Ali ‘Imran [3]: 103; Al-An‘am [6]: 159; Al-Ikhlas [112]: 1–4; Al-Ma’idah [5]: 75; An-Nisa’ [4]: 40; Az-Zalzalah [99]: 7–8; Yasin [36]: 65; Hud [11]: 102.
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis tentang penangguhan hukuman bagi orang zalim dan hadis tentang Allah tetap memberi rezeki kepada manusia.
Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, hadis tentang penangguhan hukuman bagi orang zalim.
Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS Maryam [19]: 37.
Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS Maryam [19]: 37.
Al-Baghawi, Al-Husain bin Mas‘ud, Ma‘ālim at-Tanzīl, tafsir QS Maryam [19]: 37.
Ibnu Katsir, Isma‘il bin Umar, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS Maryam [19]: 34–37.
Post a Comment