Surga Firdaus: Kenikmatan Abadi yang Tak Ingin Ditinggalkan

Materi Ceramah Tafsir Tahlili Surah Al-Kahf Ayat 108

“Surga Firdaus: Kenikmatan Abadi yang Tak Ingin Ditinggalkan”

Tema utama: Kekekalan penghuni surga, kesempurnaan nikmat Allah, kerinduan kepada surga Firdaus, dan amal saleh sebagai jalan menuju kebahagiaan abadi.

Landasan utama: Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah ﷺ, serta penjelasan para ulama tafsir, khususnya Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan As-Sa‘di.

### 1\. Pembukaan ceramah

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita senantiasa memohon agar Allah memberikan kepada kita husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan. Mengapa manusia di dunia sering merasa bosan dengan rumahnya, pekerjaannya, kendaraannya, bahkan dengan berbagai kenikmatan yang dahulu sangat diinginkannya?

Rumah yang dahulu dibanggakan, setelah beberapa tahun ingin direnovasi. Kendaraan yang dahulu sangat diimpikan, ketika sudah dimiliki, muncul keinginan membeli kendaraan yang lebih bagus. Jabatan yang dahulu diperjuangkan, ketika sudah diraih, terkadang masih terasa kurang.

Itulah sebagian sifat kehidupan dunia. Kenikmatan dunia terbatas, berubah, dan sering kali tidak mampu memuaskan keinginan manusia secara sempurna.

Namun, Allah memperkenalkan kepada kita sebuah tempat yang berbeda sama sekali: surga, tempat tinggal abadi yang penghuninya tidak ingin pindah darinya.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Kahf ayat 108.

### 2\. Teks ayat dan terjemahannya

QS. Al-Kahf \[18\]: 108

### خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا

“Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana.”

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, yang menjelaskan bahwa orang-orang beriman dan beramal saleh memperoleh surga Firdaus sebagai tempat penyambutan dan jamuan dari Allah.

Untuk memahami pesan ayat 108 secara utuh, kita perlu membaca ayat 107–108 sekaligus.

### QS. Al-Kahf ayat 107–108

Ayat 107

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنّٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا ۙ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.”\[^1\]

Ayat 108

خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا

Artinya:

“Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana.”

Kedua ayat ini menjelaskan tiga perkara yang sangat penting:

* Iman dan amal saleh merupakan sifat orang-orang yang dijanjikan surga.

* Kekekalan menunjukkan bahwa kehidupan di surga tidak berakhir dengan kematian atau kehancuran sebagaimana kehidupan dunia.

* Tidak ingin berpindah menunjukkan kesempurnaan nikmat surga, sehingga penghuninya tidak menginginkan tempat lain sebagai pengganti.

Ayat ini bukan sekadar gambaran tentang tempat tinggal yang indah. Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang tujuan tertinggi perjalanan seorang mukmin: memperoleh keridaan Allah dan kebahagiaan akhirat.

### 3\. Tafsir tahlili: penjelasan mendalam ayat 108

### A. Makna kata خَالِدِينَ فِيهَا — “Mereka kekal di dalamnya”

Kata خَالِدِينَ (khālidīna) berasal dari kata خُلُودٌ (khulūd), yang bermakna menetap atau tinggal dalam waktu yang sangat panjang, dan dalam konteks ayat ini menunjukkan kekekalan di surga.

Kata فِيهَا (fīhā) berarti “di dalamnya”, yakni di dalam surga Firdaus yang disebutkan pada ayat sebelumnya.

Dengan demikian, Allah tidak menjanjikan surga sebagai tempat persinggahan sementara, melainkan tempat tinggal abadi bagi orang-orang yang mendapat karunia-Nya.

Dalil pendukung: Surah Al-Bayyinah ayat 7–8

Allah Swt. berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ ۗ

جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”\[^2\]

Ayat ini menjelaskan bahwa kekekalan surga berkaitan dengan kesempurnaan balasan Allah. Di sana terdapat kehidupan yang tidak lagi berakhir dengan kematian, sedangkan penghuninya memperoleh keridaan Allah.

Ulasan untuk jamaah:

Jamaah yang dirahmati Allah, selama hidup di dunia kita mengenal perpisahan. Kita berpisah dengan orang tua, sahabat, rumah, dan orang-orang yang kita cintai. Bahkan ketika kita telah memiliki sesuatu yang sangat berharga, kita sadar bahwa suatu hari kita akan meninggalkannya.

Di akhirat, Allah menjanjikan keadaan yang berbeda bagi penghuni surga: mereka tidak akan kehilangan surga yang telah Allah karuniakan kepada mereka.

Oleh sebab itu, jangan sampai kita terlalu bersungguh-sungguh membangun kehidupan dunia, tetapi lalai menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal.

### B. Makna لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا — “Mereka tidak ingin pindah darinya”

Inilah inti pesan ayat yang sedang kita bahas.

Kata لَا يَبْغُونَ (lā yabghūna) bermakna “mereka tidak menginginkan” atau “mereka tidak mencari”.

Kata حِوَلًا (ḥiwalan) bermakna perpindahan, perubahan tempat, atau mencari tempat pengganti.

Jadi, makna ayat tersebut bukan sekadar bahwa penghuni surga tidak akan diusir dari surga. Lebih jauh, mereka sendiri tidak menginginkan tempat lain sebagai pengganti, sebab kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka tidak membuat mereka merasa kekurangan atau ingin meninggalkannya.

### 1\. Penjelasan Imam Ath-Thabari

Imam Abu Ja‘far Ath-Thabari menjelaskan makna ayat tersebut:

> لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا يَقُولُ: لَا يُرِيدُونَ عَنْهَا تَحَوُّلًا

Artinya:

“‘Mereka tidak menginginkan perpindahan darinya’, maksudnya mereka tidak menghendaki perpindahan dari surga itu.”\[^3\]

Penjelasan ini menegaskan makna dasar ayat: penghuni surga tidak menginginkan perpindahan dari tempat tinggal abadi yang telah Allah sediakan bagi mereka.

### 2\. Penjelasan Imam Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir menerangkan:

> وَقَوْلُهُ: ﴿خَالِدِينَ فِيهَا﴾ أَيْ: مُقِيمِينَ سَاكِنِينَ فِيهَا، لَا يَظْعَنُونَ عَنْهَا أَبَدًا، ﴿لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا﴾ أَيْ: لَا يَخْتَارُونَ غَيْرَهَا، وَلَا يُحِبُّونَ سِوَاهَا

Artinya:

“Firman-Nya, ‘Mereka kekal di dalamnya’, yakni mereka menetap dan tinggal di dalamnya serta tidak pergi darinya selama-lamanya. ‘Mereka tidak ingin pindah darinya’, yakni mereka tidak memilih tempat lain dan tidak mencintai selainnya.”\[^4\]

Ibnu Katsir juga memberikan penjelasan yang sangat mendalam: seseorang yang tinggal di suatu tempat dalam waktu yang sangat lama biasanya dapat merasa jenuh. Akan tetapi, penghuni surga tidak demikian. Walaupun tinggal untuk selama-lamanya, mereka tidak menginginkan perpindahan, perjalanan meninggalkannya, ataupun tempat pengganti.

Pelajaran penting: kesempurnaan surga bukan hanya karena keindahan tempatnya, melainkan karena Allah menjadikannya tempat yang senantiasa dirindukan dan dicintai oleh penghuninya.

### 3\. Penjelasan Imam As-Sa‘di

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di menjelaskan:

> لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا أَيْ: تَحَوُّلًا وَلَا انْتِقَالًا، لِأَنَّهُمْ لَا يَرَوْنَ إِلَّا مَا يُعْجِبُهُمْ وَيُبْهِجُهُمْ، وَيُسِرُّهُمْ وَيُفَرِّحُهُمْ، وَلَا يَرَوْنَ نَعِيمًا فَوْقَ مَا هُمْ فِيهِ

Artinya:

“‘Mereka tidak ingin pindah darinya’, yakni tidak menginginkan perubahan tempat ataupun perpindahan, karena mereka tidak melihat selain apa yang mengagumkan, menggembirakan, menyenangkan, dan membahagiakan mereka. Mereka tidak melihat kenikmatan yang melebihi kenikmatan yang sedang mereka rasakan.”\[^5\]

Penjelasan As-Sa‘di membantu kita memahami bahwa kenikmatan surga bukan kenikmatan yang cepat habis, membosankan, atau mengecewakan.

Di dunia, manusia terkadang mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi setelah itu muncul keinginan baru. Di surga, Allah menjanjikan kenikmatan yang sempurna sesuai dengan kemuliaan kehidupan akhirat.

### C. Mengapa manusia di dunia mudah bosan, sedangkan penghuni surga tidak?

Perhatikan perbedaan berikut.

![Denah Rumah Luas Bangunan 200 m2 yang Efisien](https://images.openai.com/static-rsc-4/JPAYoeovnKJZhyHljUKyKlrCyUyI_9D6SrBNrp8wycCfWuRkRCdHvnrH4okJj8L3IwaLx6vjY9SSmkTNMOuaLA247c_Sf4XJcJlN1omMfIMzlSRuaebPWYt1fl2COTt0YNEyHT1x5yMMDnPW1KcDJANrKV2-PTGziF9M06S4WPUEalYufKG56N-F4vECBLwf?purpose=fullsize)

Kehidupan dunia

Manusia dapat merasa bosan, kecewa, sakit, kehilangan, dan menginginkan perubahan. Kenikmatan dunia memiliki keterbatasan.

![Visualizing Heaven: Jannah from the Quran | AI Art Generator | Easy-Peasy.AI](https://images.openai.com/static-rsc-4/ZizJCwkVEQ58g35kEFWHefU8Q_6UJc0oxL6wks5bOlnL9YkvEe0CFBRUWGa3Y0pkhpNBY5pQVCSJHtpTzpeghtAY_dKJTRRs8rKlS3nEiIyeOi6DMFTciBKVdWor2Uq26N5nR5QAgKVsb5P1BjNPFQx_szZ5aLZTYVBOqMFpnACjuqnHSzGCPlbdyLaf0VrB?purpose=fullsize)

Kehidupan surga

Allah menjanjikan kenikmatan yang abadi. Penghuninya tidak menginginkan perpindahan dari surga dan tidak mengalami berakhirnya kehidupan seperti di dunia.

Perumpamaan ini hanya membantu kita memahami perbedaannya. Hakikat surga sesungguhnya jauh melampaui apa yang dapat kita bayangkan berdasarkan pengalaman dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Artinya:

“Allah Ta‘ala berfirman, ‘Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.’”\[^6\]

Hadis ini memberikan gambaran bahwa kenikmatan akhirat tidak dapat dibatasi oleh pengalaman manusia di dunia.

Jamaah yang dimuliakan Allah, kita mungkin membayangkan istana yang megah, taman yang indah, sungai yang mengalir, dan makanan yang lezat. Semua itu dapat membantu kita mendekati makna kenikmatan surga. Namun, kita tidak boleh menganggap bahwa gambaran dunia tersebut telah mewakili seluruh hakikat surga.

Allah menyediakan sesuatu yang jauh melampaui jangkauan imajinasi kita.

### 4\. Surga Firdaus adalah cita-cita tertinggi seorang mukmin

Hadirin rahimakumullah,

Ayat 107 menyebutkan secara khusus surga Firdaus. Ini mengajarkan kita agar tidak sekadar menginginkan keselamatan dari neraka, tetapi juga memohon kepada Allah derajat surga yang paling mulia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Artinya:

“Apabila kalian memohon kepada Allah, mintalah surga Firdaus. Sesungguhnya Firdaus adalah bagian tengah surga dan bagian yang paling tinggi dari surga. Di atasnya terdapat Arasy Ar-Rahman, dan darinya sungai-sungai surga memancar.”\[^7\]

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Jihad wa As-Siyar, dalam pembahasan tentang tingkatan surga.

### Ulasan para ulama

Imam Ath-Thabari ketika menafsirkan ayat 107 menjelaskan bahwa Firdaus merupakan bagian surga yang utama. Beliau juga mengutip penjelasan Qatadah tentang kedudukannya sebagai bagian tengah dan terbaik dari surga.\[^3\]

Pesan hadis tersebut sangat jelas: jangan membatasi doa kita pada urusan dunia. Kita boleh memohon rezeki yang halal, kesehatan, keluarga yang baik, dan kemudahan pekerjaan. Akan tetapi, jangan sampai doa tentang akhirat justru terlupakan.

Biasakan berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى مِنَ الْجَنَّةِ

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu Firdaus yang tertinggi di surga.”

Kalimat ini merupakan doa yang maknanya baik, bukan kutipan lengkap dari satu hadis tertentu.

Renungan untuk jamaah: apakah cita-cita kita hanya sebatas rumah yang nyaman, pekerjaan yang mapan, dan kehidupan yang berkecukupan? Ataukah kita juga sungguh-sungguh menjadikan surga Firdaus sebagai tujuan akhir kehidupan?

Dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan seluruhnya. Dunia adalah tempat kita beramal, mencari nafkah halal, mendidik anak, dan mengabdi kepada Allah. Yang harus kita hindari ialah menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir hingga melupakan akhirat.

### 5\. Kenikmatan terbesar bukan hanya surga, tetapi keridaan Allah

Ada pelajaran yang lebih dalam. Mengapa penghuni surga tidak ingin pindah? Salah satu jawabannya ialah karena surga merupakan tempat kesempurnaan nikmat yang Allah karuniakan. Namun, Al-Qur'an juga menegaskan bahwa keridaan Allah lebih besar daripada seluruh kenikmatan tersebut.

Allah Swt. berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 72:

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Artinya:

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan tempat-tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”\[^8\]

Perhatikan ungkapan Al-Qur'an:

وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ

“Dan keridaan Allah lebih besar.”

Artinya, keberhasilan tertinggi seorang mukmin bukan sekadar memperoleh tempat tinggal yang indah, tetapi memperoleh keridaan Allah.

### Hadis tentang keridaan Allah kepada penghuni surga

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah akan berfirman kepada penghuni surga:

يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، فَيَقُولُونَ: لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُولُ: هَلْ رَضِيتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ، وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ؟ فَيَقُولُ: أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُونَ: يَا رَبِّ، وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُ: أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي، فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا

Artinya:

“Wahai penghuni surga!” Mereka menjawab, “Kami memenuhi panggilan-Mu, wahai Tuhan kami, dan kami menaati-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu.” Allah berfirman, “Apakah kalian telah rida?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami tidak rida, wahai Tuhan kami, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?” Allah berfirman, “Maukah Aku memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada itu?” Mereka menjawab, “Wahai Tuhan kami, apakah sesuatu yang lebih baik daripada itu?” Allah berfirman, “Aku limpahkan keridaan-Ku kepada kalian, sehingga setelah itu Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya.”\[^9\]

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

### Penjelasan Imam Ibnu Katsir

Ketika menafsirkan frasa wa riḍwānum minallāhi akbar dalam QS. At-Taubah ayat 72, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keridaan Allah lebih agung, lebih besar, dan lebih baik daripada kenikmatan surga yang sedang mereka rasakan.\[^8\]

Karena itu, orientasi hidup seorang muslim tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Apa yang bisa saya dapatkan?” Kita juga perlu bertanya, “Apakah yang saya lakukan ini diridai Allah?”

* Apakah rezeki yang saya peroleh halal?

* Apakah ibadah saya dijaga?

* Apakah saya menunaikan hak keluarga dan sesama?

* Apakah saya jujur ketika tidak ada orang yang mengawasi?

* Apakah saya segera bertobat ketika melakukan kesalahan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menghubungkan cita-cita surga dengan perilaku nyata kita hari ini.

### 6\. Bagaimana mempersiapkan diri agar memperoleh surga Firdaus?

Jamaah yang dirahmati Allah,

QS. Al-Kahf ayat 107 menyebutkan dua sifat pokok: beriman dan beramal saleh. Maka, harapan terhadap surga harus disertai ikhtiar memperbaiki iman dan amal.

### Pertama, menjaga iman dan tauhid

Iman bukan hanya pengakuan di lisan. Iman menuntun hati untuk mengenal Allah, beribadah kepada-Nya, bertawakal, dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-‘Ashr ayat 1–3:

وَالْعَصْرِ ۙ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ ۙ إِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”\[^10\]

Iman yang benar melahirkan amal. Amal saleh juga harus dibangun di atas tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

### Kedua, menjaga salat dan ibadah wajib

Salat merupakan kewajiban pokok seorang muslim. Jangan sampai seseorang mengharapkan surga, tetapi meremehkan kewajiban yang telah diperintahkan Allah.

Allah berfirman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–2:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ

Artinya:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya.”\[^11\]

Mulailah dengan menjaga salat lima waktu, berusaha menunaikannya tepat waktu, menyempurnakan wudu, memahami bacaan salat, dan memperbaiki kekhusyukan.

### Ketiga, memperbanyak amal saleh dan kebaikan kepada sesama

Amal saleh bukan hanya ibadah ritual. Membantu orang tua, mendidik anak dengan baik, menunaikan amanah pekerjaan, berlaku adil, menyantuni orang yang membutuhkan, dan menjaga lisan juga termasuk bentuk kebaikan apabila dilakukan sesuai tuntunan syariat dan dengan niat yang benar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”\[^12\]

Hadis ini mengajarkan tiga perkara: takwa, memperbaiki kesalahan dengan kebaikan, dan menjaga akhlak kepada manusia.

### Keempat, menjaga keikhlasan dan bertobat

Tidak ada manusia yang sempurna. Kita mungkin pernah lalai, menyakiti orang lain, atau melakukan dosa. Akan tetapi, seorang mukmin tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk berputus asa.

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”\[^13\]

Ayat ini merupakan seruan agar kita kembali kepada Allah, bukan izin untuk terus melakukan dosa. Tobat yang sungguh-sungguh disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Jika berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut harus diupayakan untuk dikembalikan atau diselesaikan.

### Kelima, memohon surga dan perlindungan dari neraka

Doa merupakan wujud penghambaan dan pengakuan bahwa kita membutuhkan rahmat Allah.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan atau perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan atau perbuatan yang mendekatkan kepadanya.”

Ini adalah doa yang disusun dengan makna yang baik, bukan kutipan verbatim dari satu hadis tertentu.

Jangan hanya berdoa memohon surga ketika mendengar ceramah. Bawalah doa itu ke dalam sujud, setelah salat, pada waktu-waktu mustajab, dan dalam keseharian kita.

### 7\. Renungan: jangan sampai kita salah menentukan tujuan hidup

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Marilah kita berhenti sejenak dan merenungkan perjalanan hidup kita.

\[Diam sejenak\]

Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya akan kita tinggalkan?

Berapa banyak tenaga yang kita keluarkan untuk memperindah rumah, tetapi masih sedikit waktu yang kita gunakan untuk memperindah amal?

Berapa banyak perhatian yang kita berikan kepada penilaian manusia, tetapi terkadang kita lupa bertanya apakah Allah meridai perbuatan kita?

Kita tidak dilarang membangun rumah yang bagus. Kita tidak dilarang mencari penghasilan yang layak. Kita tidak dilarang menikmati rezeki yang halal. Bahkan, semua itu dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang diridai Allah.

Yang harus kita waspadai ialah ketika dunia menguasai hati, sementara akhirat hanya menjadi pembicaraan di bibir.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Artinya:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan engkau melihatnya menguning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (kelak) ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”\[^14\]

Perhatikan, Allah tidak mengatakan bahwa seluruh urusan dunia harus ditinggalkan. Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan jangan sampai memperdaya kita.

Dunia berada di tangan kita, tetapi akhirat harus tetap menjadi tujuan kita.

Kita bekerja, tetapi jangan meninggalkan salat. Kita mencari rezeki, tetapi jangan melupakan halal dan haram. Kita mendidik anak agar sukses di dunia, tetapi jangan lupa mendidik mereka agar mengenal Allah dan mencintai kebaikan.

Sebab, keberhasilan sejati bukan hanya ketika kita berhasil membangun kehidupan yang nyaman di dunia, melainkan ketika Allah mengaruniakan kehidupan yang abadi di surga-Nya.

### 8\. Kesimpulan tafsir Surah Al-Kahf ayat 108

Dari penjelasan ayat dan keterangan para ulama, terdapat lima pelajaran utama.

1\. Surga adalah tempat tinggal yang abadi.

Penghuninya tidak mengalami kematian dan tidak kehilangan tempat tinggalnya sebagaimana manusia di dunia.

2\. Kenikmatan surga sempurna.

Penghuninya tidak ingin berpindah karena Allah menyediakan kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan kesenangan dunia.

3\. Iman harus disertai amal saleh.

Ayat 107 menghubungkan janji surga Firdaus dengan iman dan amal saleh. Harapan harus diwujudkan dalam ketaatan.

4\. Keridaan Allah adalah tujuan tertinggi.

Bukan sekadar mendapatkan kenikmatan, tetapi juga mendapatkan keridaan Allah yang kekal.

5\. Kehidupan dunia adalah kesempatan beramal.

Selama masih hidup, pergunakan waktu untuk bertobat, memperbaiki ibadah, menunaikan amanah, dan berbuat baik kepada sesama.

### 9\. Penutup ceramah

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita menjadikan Surah Al-Kahf ayat 108 sebagai pengingat bahwa ada tempat tinggal yang jauh lebih baik daripada segala kemegahan dunia: surga yang abadi.

Jangan sampai kita begitu takut kehilangan dunia, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan akhirat.

Jangan sampai kita menangis ketika kehilangan harta, tetapi tidak pernah menangis ketika kehilangan kekhusyukan salat.

Jangan sampai kita bersungguh-sungguh membahagiakan manusia, tetapi melupakan kewajiban untuk mencari keridaan Allah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang beriman, beramal saleh, menjaga ketakwaan, dan memperoleh surga Firdaus.

\[Diam sejenak\]

Mari kita akhiri dengan doa.

### Doa penutup

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمِنْ كُلِّ قَوْلٍ وَعَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَيْهَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

### 10\. Catatan kaki dan daftar kitab rujukan

Rujukan berikut menjadi dasar penjelasan tafsir, ayat, dan hadis dalam materi ini. Nomor halaman dapat berbeda menurut edisi dan penerbit; karena itu, rujukan dicantumkan berdasarkan kitab, surah atau bab, dan nomor hadis jika tersedia.

\[^1\]: Al-Qur’an, Surah Al-Kahf \[18\]: 107–108. Teks dan penjelasan tafsir ayat 108 dapat diperiksa melalui [Tafsir Ibnu Katsir, Al-Kahf: 108](https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura18-aya108.html).

\[^2\]: Al-Qur’an, Surah Al-Bayyinah \[98\]: 7–8.

\[^3\]: Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir Surah Al-Kahf \[18\]: 107–108. Penjelasan mengenai kekekalan penghuni surga dan makna perpindahan dapat diperiksa pada [Tafsir Ath-Thabari, Al-Kahf: 108](https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura18-aya108.html).

\[^4\]: Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Al-Kahf \[18\]: 108. Lihat [Tafsir Ibnu Katsir, Al-Kahf: 108](https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura18-aya108.html).

\[^5\]: Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir Surah Al-Kahf \[18\]: 107–108. Teks tafsir dapat diperiksa melalui [Ensiklopedia Tafsir Al-Kahf: 108](https://quranpedia.net/tafsir/al-kahf/108).

\[^6\]: Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Bad’ al-Khalq, bab tentang sifat surga dan penciptaannya, hadis no. 3244; Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifat Na‘īmihā wa Ahlihā, hadis no. 2824. Penomoran mengikuti penomoran yang umum digunakan dan dapat berbeda pada edisi tertentu.

\[^7\]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Jihād wa as-Siyar, bab tentang tingkatan surga dan Firdaus, hadis no. 2790 dalam penomoran yang umum digunakan.

\[^8\]: Al-Qur’an, Surah At-Taubah \[9\]: 72; Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah At-Taubah \[9\]: 72. Lihat pula [Tafsir Ibnu Katsir, At-Taubah: 72](https://quran.com/en/at-tawbah/72/tafsirs).

\[^9\]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, hadis no. 6549 dalam penomoran yang umum digunakan; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifat Na‘īmihā wa Ahlihā, hadis no. 2829.

\[^10\]: Al-Qur’an, Surah Al-‘Ashr \[103\]: 1–3.

\[^11\]: Al-Qur’an, Surah Al-Mu’minun \[23\]: 1–2.

\[^12\]: Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmiżī, Kitāb al-Birr wa aṣ-Ṣilah, hadis no. 1987 dalam penomoran yang umum digunakan.

\[^13\]: Al-Qur’an, Surah Az-Zumar \[39\]: 53.

\[^14\]: Al-Qur’an, Surah Al-Hadid \[57\]: 20.

Catatan ilmiah: Terjemahan hadis dalam materi ini disajikan dalam bahasa Indonesia berdasarkan maknanya. Doa-doa yang telah diberi keterangan sebagai susunan doa merupakan doa yang baik dari segi makna, tetapi tidak dinisbatkan sebagai kutipan hadis Nabi ﷺ. Untuk penerbitan buku atau materi ilmiah, redaksi Arab dan nomor hadis sebaiknya dicocokkan kembali dengan edisi kitab yang digunakan.

Tidak ada komentar