Jangan Menyembah Setan: Menjaga Tauhid dari Tipu Daya dan Ketaatan kepada Kebatilan

Materi Ceramah Tafsir Surah Maryam Ayat 44

“Jangan Menyembah Setan: Menjaga Tauhid dari Tipu Daya dan Ketaatan kepada Kebatilan”

Tema utama: Bahaya mengikuti bisikan setan, hakikat penyembahan setan, kesombongan Iblis, serta cara menjaga keluarga dan masyarakat agar tidak terjerumus dalam kesesatan.

A. Muqaddimah

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah, salah satu musuh terbesar manusia bukanlah musuh yang selalu terlihat oleh mata. Ada musuh yang bekerja secara tersembunyi, membisikkan keburukan, memperindah kemaksiatan, dan perlahan-lahan menjauhkan manusia dari jalan Allah. Musuh itu adalah setan.

Setan tidak selalu mengajak manusia melakukan kejahatan dengan cara yang terlihat buruk. Terkadang keburukan dibungkus dengan sesuatu yang tampak indah. Kemaksiatan diberi nama kebebasan, kesombongan disebut harga diri, riya disebut pencitraan, dan meninggalkan ketaatan dianggap sebagai pilihan hidup.

Karena itu, Nabi Ibrahim a.s. mengingatkan ayahnya dengan ungkapan yang sangat dalam:

“Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan.”

Peringatan ini bukan sekadar larangan menyembah makhluk gaib. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang bahaya menaati setan, mengikuti ajarannya, dan membiarkan diri dipimpin oleh bisikan yang bertentangan dengan petunjuk Allah.

B. Ayat Pokok: Surah Maryam Ayat 44

Allah Swt. berfirman:

QS Maryam \[19\]: 44

يٰٓاَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطٰنَۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا

Artinya:

“Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Ayat ini merupakan lanjutan dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya. Pada ayat sebelumnya, Ibrahim mengajak ayahnya mengikuti ilmu dan petunjuk Allah agar memperoleh jalan yang lurus. Pada ayat ini, Ibrahim menjelaskan bahaya apabila ayahnya tetap mengikuti jalan kesesatan.

Ada tiga ungkapan penting dalam ayat ini:

* يَا أَبَتِ — Wahai ayahku. Ibrahim tetap menggunakan panggilan penuh kasih sayang. Walaupun sedang menyampaikan peringatan yang sangat serius, beliau tidak kehilangan adab kepada ayahnya.

* لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ — Janganlah engkau menyembah setan. Maksudnya bukan hanya menyembah setan dengan ritual, tetapi juga menaati ajakan dan perintahnya dalam kemaksiatan serta kesesatan.

* إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا — Setan benar-benar durhaka kepada Allah Yang Maha Pengasih. Setan telah memilih jalan pembangkangan. Orang yang mengikuti ajakannya sedang menempuh jalan yang berlawanan dengan ketaatan kepada Allah.

C. Penjelasan Tafsir Tahlili

1\. Mengapa menyembah berhala disebut menyembah setan?

Nabi Ibrahim a.s. melarang ayahnya menyembah setan karena setanlah yang membisikkan kesesatan, memperindah penyembahan berhala, dan menghalangi manusia dari tauhid.

Berhala yang disembah manusia tidak mempunyai kemampuan untuk memberi manfaat atau menolak bahaya. Akan tetapi, setan menjadikan berhala itu tampak layak disembah di mata orang-orang yang tersesat.

Di sinilah kita memahami bahwa penyimpangan akidah tidak selalu bermula dari tindakan besar. Kadang-kadang ia dimulai dari bisikan kecil yang dibiarkan, keyakinan yang tidak diperiksa, dan kebiasaan yang terus dilakukan tanpa mempertimbangkan petunjuk Allah.

2\. Penyembahan setan dapat berupa ketaatan kepada perintahnya

Manusia mungkin tidak pernah bersujud kepada setan, tidak pernah menyebut setan sebagai Tuhan, bahkan mungkin membenci setan. Namun, apabila ia sengaja mengikuti perintah setan untuk melakukan kemaksiatan dan menentang Allah, ia telah mengikuti jalan penghambaan kepada setan.

Allah menjelaskan hal ini dalam Surah Yasin ayat 60:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ۝ وَّاَنِ اعْبُدُوْنِيْۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ

Artinya:

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS Yasin \[36\]: 60–61).

Ayat ini memperlihatkan dua jalan yang bertentangan: jalan penghambaan kepada Allah dan jalan mengikuti setan. Tidak mungkin seseorang menjadikan hawa nafsu, kemaksiatan, dan bisikan setan sebagai pedoman hidup, kemudian menganggap dirinya sedang berjalan di atas ketaatan yang sempurna.

3\. Setan adalah makhluk yang durhaka kepada Allah

Kata عَصِيًّا berasal dari kata عَصَى yang berarti durhaka atau menentang perintah. Setan menjadi makhluk yang dilaknat karena kesombongan dan pembangkangannya.

Dahulu Iblis diperintahkan untuk sujud penghormatan kepada Nabi Adam a.s. Namun, ia menolak karena merasa lebih mulia.

Penolakan itu bukan karena tidak mengetahui perintah Allah, melainkan karena kesombongan. Ia mengetahui perintah, tetapi tidak mau tunduk.

Maka, salah satu bahaya terbesar bagi manusia adalah memiliki ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya, mengetahui kebenaran tetapi menolaknya karena gengsi, serta memahami nasihat tetapi tidak mau memperbaiki diri.

4\. Setan berusaha menjerumuskan manusia agar menjadi pengikutnya

Setan telah berjanji untuk menggoda manusia. Ia tidak selalu mengajak manusia melakukan dosa secara langsung. Ia bisa memulai dengan membuat seseorang menunda salat, meremehkan dosa kecil, membenci nasihat, merasa paling benar, atau menganggap maksiat sebagai hal biasa.

Karena itu, seorang mukmin harus selalu waspada. Jangan merasa aman dari tipu daya setan hanya karena sudah beribadah. Justru orang yang ingin menjaga keimanannya harus semakin berhati-hati terhadap bisikan yang dapat merusak amal.

D. Dalil-Dalil Al-Qur’an tentang Tipu Daya Setan

1\. Setan adalah musuh yang nyata

Allah Swt. berfirman:

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

Artinya:

“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fatir \[35\]: 6).

Ulasan: Allah tidak sekadar memberitahukan bahwa setan adalah musuh. Allah memerintahkan manusia untuk memperlakukannya sebagai musuh. Artinya, kita tidak boleh mengikuti rayuannya, mempercayai tipu dayanya, atau menjadikan ajarannya sebagai pedoman.

Musuh yang terlihat biasanya kita hindari. Akan tetapi, musuh yang tidak terlihat sering kali justru kita ikuti tanpa sadar. Itulah sebabnya manusia membutuhkan ilmu, iman, dan kesadaran untuk mengenali jalan setan.

2\. Setan memperindah keburukan

Allah berfirman:

وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya:

“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah \[2\]: 168).

Ulasan: Allah menggunakan ungkapan langkah-langkah setan. Ini memberikan pelajaran bahwa kesesatan sering berlangsung secara bertahap. Seseorang tidak selalu langsung jatuh ke dalam dosa besar. Bisa jadi ia memulai dengan melihat sesuatu yang dilarang, kemudian menyukainya, mengulanginya, membiasakannya, hingga akhirnya sulit meninggalkannya.

Karena itu, jangan meremehkan pintu-pintu kecil menuju kemaksiatan.

3\. Setan menggoda manusia dari berbagai arah

Allah berfirman:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ ۝ ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

Artinya:

“Ia (Iblis) berkata, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS Al-A‘raf \[7\]: 16–17).

Ulasan: Ayat ini menggambarkan kesungguhan setan dalam menggoda manusia. Para ulama tafsir menjelaskan arah-arah tersebut sebagai gambaran berbagai jalan dan cara setan mendatangi manusia.

Setan dapat menggoda melalui masa depan, dengan menakut-nakuti manusia akan kemiskinan apabila bersedekah. Ia dapat menggoda melalui masa lalu, dengan membuat seseorang berputus asa karena dosa-dosanya. Ia dapat menggoda melalui kenikmatan dunia, dengan menjadikan maksiat tampak menarik. Ia juga dapat menggoda melalui ibadah, dengan menumbuhkan riya, ujub, dan kesombongan.

4\. Jangan mengikuti langkah setan dalam urusan keluarga dan masyarakat

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar.” (QS An-Nur \[24\]: 21).

Ulasan: Setan menginginkan manusia terjerumus ke dalam perbuatan keji dan mungkar. Oleh karena itu, keluarga harus dijaga dari kebiasaan buruk, pergaulan yang merusak, tontonan yang mengundang kemaksiatan, serta perkataan yang menghilangkan rasa malu.

5\. Orang yang berpaling dari zikir akan ditemani setan

Allah berfirman:

وَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمٰنِ نُقَيِّضْ لَهٗ شَيْطٰنًا فَهُوَ لَهٗ قَرِيْنٌ

Artinya:

“Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pengasih, Kami biarkan setan (menyesatkannya), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS Az-Zukhruf \[43\]: 36).

Ulasan: Zikir bukan hanya ucapan lisan, tetapi juga kesadaran hati untuk mengingat Allah dan ketaatan anggota badan kepada-Nya. Ketika manusia berpaling dari petunjuk Allah, ia membuka ruang bagi setan untuk menguasai pikirannya.

6\. Ketika membaca Al-Qur’an, berlindunglah kepada Allah

Allah berfirman:

فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

Artinya:

“Apabila engkau membaca Al-Qur’an, hendaklah engkau meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS An-Nahl \[16\]: 98).

Ulasan: Bahkan ketika melakukan ibadah membaca Al-Qur’an pun kita diperintahkan berlindung kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa setan berusaha mengganggu manusia dalam berbagai keadaan, termasuk ketika manusia hendak melakukan kebaikan.

E. Dalil-Dalil Hadis Nabi tentang Setan

1\. Setan berjalan mengikuti aliran darah manusia

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Artinya:

“Sesungguhnya setan berjalan pada diri manusia melalui aliran darah.”

HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Safiyyah binti Huyay r.a.

Penjelasan: Hadis ini menunjukkan betapa dekat dan kuatnya peluang setan menggoda manusia. Karena itu, manusia tidak boleh merasa dirinya kebal dari godaan. Ia harus menjaga hati, pikiran, ucapan, dan perbuatannya.

Hadis ini juga mengajarkan pentingnya menghindari keadaan yang dapat menimbulkan prasangka buruk. Rasulullah saw. sendiri menjelaskan kepada dua orang sahabat bahwa perempuan yang bersamanya adalah Safiyyah, agar tidak muncul dugaan yang tidak benar.

2\. Setan berusaha merusak hubungan antarmanusia

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Artinya:

“Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab, tetapi ia tidak berputus asa untuk mengadu domba di antara mereka.”

HR Muslim, no. 2812, dari Jabir r.a. (penomoran dapat berbeda menurut edisi).

Penjelasan: Salah satu sasaran godaan setan adalah merusak persaudaraan. Setan berusaha menjadikan orang yang sama-sama beribadah saling membenci, saling mencurigai, dan saling menjatuhkan.

Di dalam keluarga, setan dapat memunculkan pertengkaran antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, atau antara saudara. Di lingkungan masyarakat, setan dapat menumbuhkan fitnah, hasad, permusuhan, dan perpecahan.

Maka, jangan mudah menjadi penyambung pertengkaran. Periksa berita sebelum menyebarkannya. Jangan senang melihat orang lain berselisih.

3\. Jangan marah karena kemarahan dapat menjadi pintu godaan

Rasulullah saw. bersabda:

لَا تَغْضَبْ

Artinya:

“Janganlah engkau marah.”

HR Al-Bukhari, no. 6116, dari Abu Hurairah r.a.

Penjelasan: Hadis ini tidak berarti manusia tidak boleh memiliki perasaan marah sama sekali. Maksudnya adalah mengendalikan kemarahan agar tidak mendorong seseorang berbuat zalim, berkata kasar, memutus silaturahmi, atau melakukan sesuatu yang disesali.

Dalam keadaan marah, seseorang sering kehilangan pertimbangan. Karena itu, ia perlu menahan lisan, mengubah posisi, berwudu, dan mengingat akibat perbuatannya.

4\. Setiap manusia perlu memperbarui tobat

Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Artinya:

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertobat.”

HR At-Tirmidzi, no. 2499; diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah, no. 4251. Penilaian dan penomoran hadis perlu dicocokkan dengan edisi yang digunakan.

Penjelasan: Setan ingin manusia terus melakukan dosa. Jika manusia terjatuh, setan berusaha membuatnya semakin jauh dengan membisikkan bahwa dosanya terlalu besar untuk diampuni. Padahal, pintu tobat Allah terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Jangan biarkan dosa membuat kita berputus asa. Segeralah bertobat dan memperbaiki diri.

F. Komentar dan Ulasan Para Ulama Tafsir

Catatan penting: Uraian Arab pada bagian ini merupakan rumusan ringkas makna atau parafrasa dari pembahasan kitab tafsir, bukan kutipan harfiah yang diklaim sama persis dengan naskah setiap edisi.

1\. Imam Ath-Thabari — Jāmi‘ al-Bayān

Kitab rujukan:

مُحَمَّدُ بْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ، جَامِعُ الْبَيَانِ عَنْ تَأْوِيلِ آيِ الْقُرْآنِ.

Ringkasan makna dalam bahasa Arab:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ نَهَى أَبَاهُ عَنْ طَاعَةِ الشَّيْطَانِ فِي عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ، لِأَنَّ الشَّيْطَانَ عَاصٍ لِلرَّحْمٰنِ، وَيَدْعُو إِلَى مَعْصِيَتِهِ وَمُخَالَفَةِ أَمْرِهِ.

Artinya:

“Sesungguhnya Ibrahim a.s. melarang ayahnya menaati setan dalam menyembah berhala, karena setan durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, dan mengajak manusia kepada kemaksiatan serta penyimpangan dari perintah-Nya.”

Ulasan: Pokok yang perlu diperhatikan ialah hubungan antara penyembahan berhala dan ketaatan kepada setan. Ibrahim mengingatkan ayahnya bahwa penyembahan berhala bukan jalan yang netral. Itu merupakan jalan yang dipromosikan oleh setan untuk menjauhkan manusia dari tauhid.

Pelajaran bagi kita: jangan hanya melihat bentuk luar suatu perbuatan. Periksa juga ke mana perbuatan itu membawa hati dan ketaatan kita.

2\. Ibnu Katsir — Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm

Kitab rujukan:

إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ ابْنُ كَثِيرٍ، تَفْسِيرُ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ.

Ringkasan makna dalam bahasa Arab:

مَعْنَى قَوْلِ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ: لَا تُطِعِ الشَّيْطَانَ فِي عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ عَاصٍ لِأَمْرِ اللَّهِ، وَقَدْ أَبَى السُّجُودَ لِآدَمَ اسْتِكْبَارًا وَعِنَادًا.

Artinya:

“Makna perkataan Ibrahim kepada ayahnya adalah: janganlah engkau menaati setan dalam menyembah berhala. Sesungguhnya setan durhaka terhadap perintah Allah. Ia telah menolak bersujud kepada Adam karena kesombongan dan pembangkangan.”

Ulasan: Penolakan Iblis merupakan contoh bagaimana kesombongan dapat menghancurkan ketaatan. Iblis bukan tidak mengetahui perintah Allah. Ia menolak karena merasa lebih tinggi daripada Adam.

Maka, manusia harus berhati-hati terhadap penyakit hati berupa kesombongan. Jangan sampai seseorang menolak nasihat hanya karena yang menasihati lebih muda, lebih rendah kedudukannya, atau tidak sesuai dengan keinginannya.

3\. Imam Al-Qurthubi — Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān

Kitab rujukan:

مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْقُرْطُبِيُّ، الْجَامِعُ لِأَحْكَامِ الْقُرْآنِ.

Ringkasan makna dalam bahasa Arab:

النَّهْيُ عَنْ عِبَادَةِ الشَّيْطَانِ يَدْخُلُ فِيهِ النَّهْيُ عَنْ طَاعَتِهِ فِيمَا يَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الْكُفْرِ وَالْمَعَاصِي، فَإِنَّ طَاعَةَ الْمَخْلُوقِ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ لَا تَجُوزُ.

Artinya:

“Larangan menyembah setan mencakup larangan menaati setan dalam ajakannya kepada kekufuran dan kemaksiatan. Sesungguhnya menaati makhluk dalam perkara yang merupakan kemaksiatan kepada Sang Pencipta tidak diperbolehkan.”

Ulasan: Dari sini kita memahami bahwa ketaatan kepada siapa pun memiliki batas. Orang tua, pemimpin, guru, teman, dan tokoh masyarakat wajib dihormati, tetapi tidak boleh diikuti apabila mengajak kepada kemaksiatan.

Ketaatan tertinggi hanya kepada Allah. Penghormatan kepada manusia tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Sang Pencipta.

4\. Fakhruddin Ar-Razi — Mafātīḥ al-Ghayb

Kitab rujukan:

فَخْرُ الدِّينِ الرَّازِيُّ، مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ.

Ringkasan makna dalam bahasa Arab:

ذَكَرَ إِبْرَاهِيمُ عَصْيَانَ الشَّيْطَانِ لِلرَّحْمٰنِ لِيُبَيِّنَ قُبْحَ اتِّبَاعِ مَنْ عُرِفَ بِالْعِصْيَانِ، فَكَيْفَ يَتَّخِذُهُ الْإِنْسَانُ وَلِيًّا وَيَتْبَعُ دَعْوَتَهُ؟

Artinya:

“Ibrahim menyebut kedurhakaan setan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk menjelaskan buruknya mengikuti makhluk yang dikenal dengan pembangkangannya. Bagaimana mungkin manusia menjadikannya sebagai pemimpin dan mengikuti ajakannya?”

Ulasan: Ayat ini mengandung argumentasi yang kuat. Ibrahim tidak hanya melarang ayahnya menyembah berhala, tetapi menjelaskan mengapa larangan itu penting: setan adalah makhluk yang durhaka kepada Allah.

Seseorang harus memperhatikan siapa yang dijadikan teladan dan ke mana arah ajakannya. Jangan menjadikan pihak yang mengajak kepada kerusakan sebagai panutan.

5\. Abdurrahman As-Sa‘di — Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān

Kitab rujukan:

عَبْدُ الرَّحْمٰنِ بْنُ نَاصِرٍ السَّعْدِيُّ، تَيْسِيرُ الْكَرِيمِ الرَّحْمٰنِ فِي تَفْسِيرِ كَلَامِ الْمَنَّانِ.

Ringkasan makna dalam bahasa Arab:

فِي الْآيَةِ بَيَانُ شِدَّةِ عَدَاوَةِ الشَّيْطَانِ لِلْإِنْسَانِ، وَأَنَّ مِنْ رَحْمَةِ الْعَبْدِ بِأَهْلِهِ أَنْ يَدْعُوَهُمْ إِلَى التَّوْحِيدِ وَيُحَذِّرَهُمْ مِنْ طَرِيقِ الْغَوَايَةِ.

Artinya:

“Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang besarnya permusuhan setan terhadap manusia. Termasuk bentuk kasih sayang seseorang kepada keluarganya adalah mengajak mereka kepada tauhid dan memperingatkan mereka dari jalan kesesatan.”

Ulasan: Ibrahim memperlihatkan bahwa cinta kepada keluarga bukan sekadar memenuhi kebutuhan duniawi. Cinta yang sesungguhnya juga berarti berusaha menjaga keluarga dari perkara yang membahayakan akhirat mereka.

Mengingatkan keluarga agar salat, menjauhi kemaksiatan, menjaga kehormatan, dan bertauhid adalah bagian dari kasih sayang.

G. Hakikat Kesombongan Iblis dan Bahayanya bagi Manusia

Allah menceritakan penolakan Iblis dalam Surah Al-Baqarah ayat 34:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS Al-Baqarah [2]: 34).
Perhatikan tiga hal:
1. Iblis menerima perintah dari Allah, tetapi menolaknya.
2. Penolakannya didorong kesombongan.
3. Kesombongan membuatnya jatuh dalam kebinasaan.

Rasulullah saw. menjelaskan hakikat kesombongan:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya:
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
Bagian dari hadis riwayat Muslim, no. 91.
Inilah penyakit yang harus kita waspadai. Jangan sampai kita memiliki sifat seperti Iblis: mengetahui kebenaran tetapi menolak karena merasa lebih tinggi.
Orang yang rendah hati akan menerima nasihat, sekalipun nasihat itu datang dari orang yang lebih muda. Sebaliknya, orang yang sombong akan mencari alasan untuk menolak kebenaran.

H. Bentuk-Bentuk Tipu Daya Setan dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Setan menggoda manusia agar meninggalkan salat
Setan membisikkan bahwa pekerjaan lebih penting, istirahat lebih dibutuhkan, atau salat bisa dilakukan nanti. Akhirnya, seseorang terbiasa menunda salat hingga meninggalkannya.
Nasihat: Jangan biarkan urusan dunia mengalahkan kewajiban kepada Allah. Jadikan salat sebagai poros pengaturan waktu.

2. Setan membuat dosa terlihat biasa
Pada awalnya seseorang merasa bersalah ketika melakukan dosa. Namun, karena terus diulang, rasa bersalah itu semakin berkurang. Akhirnya dosa dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Nasihat: Jangan mengukur dosa berdasarkan banyaknya orang yang melakukannya. Ukurlah berdasarkan ketentuan Allah.
3. Setan merusak hubungan keluarga
Setan membisikkan prasangka, membesarkan kesalahan kecil, menghidupkan kembali pertengkaran lama, dan membuat seseorang sulit meminta maaf.
Nasihat: Jangan mudah terpancing. Utamakan tabayyun, musyawarah, dan saling memaafkan.
4. Setan menjadikan manusia sombong karena ilmu dan amal
Seseorang merasa paling benar karena banyak membaca, banyak berbicara, atau banyak beribadah. Ia merendahkan orang lain dan tidak mau menerima nasihat.
Nasihat: Ilmu seharusnya menambah ketakwaan dan kerendahan hati, bukan melahirkan kesombongan.
5. Setan menggoda melalui teknologi dan media sosial
Setan dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana menyebarkan fitnah, membuka aurat, melihat hal yang diharamkan, mengadu domba, dan membuang waktu.
Nasihat: Teknologi harus menjadi alat kebaikan. Gunakan untuk belajar, berdakwah, bekerja, dan menjalin silaturahmi. Jangan biarkan gawai mengendalikan hati dan waktu kita.

I. Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Setan?

1. Memohon perlindungan kepada Allah
Biasakan membaca:
أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
2. Menjaga salat lima waktu
Salat adalah kewajiban utama seorang muslim dan menjadi sarana mengingat Allah. Jangan memberi kesempatan kepada setan untuk menjauhkan kita dari salat.
3. Memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an
Hidupkan rumah dengan bacaan Al-Qur’an, zikir pagi dan petang, serta doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw.
4. Menjaga pergaulan
Pilih teman yang mengingatkan kepada kebaikan. Hindari lingkungan yang terus-menerus mengajak kepada kemaksiatan.
5. Segera bertobat ketika melakukan kesalahan
Jangan menunda tobat. Setan ingin manusia menunda kebaikan sampai ajal datang.
6. Menjaga hati dari kesombongan, iri, dan dengki
Bersihkan hati dengan istigfar, syukur, dan kesadaran bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.

J. Pesan Penting dari Dialog Nabi Ibrahim dengan Ayahnya
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada sesuatu yang sangat menarik dari cara Nabi Ibrahim menasihati ayahnya. Beliau tidak berkata dengan kasar. Beliau tidak menghina ayahnya. Beliau tidak menjadikan kesalahan ayahnya sebagai bahan ejekan.
Beliau tetap mengatakan:
يَا أَبَتِ — Wahai ayahku.
Ungkapan ini mengandung kasih sayang. Namun, kasih sayang tidak membuat Ibrahim menyembunyikan kebenaran. Beliau tetap menyampaikan larangan yang tegas:
لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ — Janganlah engkau menyembah setan.
Dari sini kita memperoleh beberapa pelajaran penting:
1. Cinta tidak berarti membiarkan orang yang kita cintai berada dalam kesesatan. Orang tua harus mengingatkan anak, anak boleh menasihati orang tua, dan sesama muslim wajib saling mengingatkan dalam kebaikan.
2. Ketegasan tidak harus disampaikan dengan kekasaran. Kebenaran dapat disampaikan dengan santun, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim.
3. Jangan menjadikan hubungan keluarga sebagai alasan untuk mengikuti kemaksiatan. Kita tetap menghormati orang tua, tetapi tidak boleh menaati perintah yang bertentangan dengan perintah Allah.
4. Jangan merasa aman dari godaan setan. Bahkan orang yang berilmu dan rajin beribadah tetap membutuhkan perlindungan Allah.
5. Tujuan nasihat adalah keselamatan orang yang dinasihati. Bukan untuk mempermalukan, memenangkan perdebatan, atau menunjukkan bahwa diri kita lebih baik.

K. Kisah Renungan: Musuh yang Tidak Selalu Terlihat
Bayangkan seseorang sedang berjalan menuju sebuah jurang. Di belakangnya ada orang yang mengetahui bahaya tersebut. Orang itu berteriak memperingatkan:
“Jangan teruskan perjalananmu! Di depan ada jurang!”
Namun, orang yang berjalan itu menjawab:
“Jangan mengatur hidup saya. Saya tahu apa yang saya lakukan.”
Ia terus berjalan karena menganggap peringatan itu sebagai gangguan.
Saudaraku,
Begitulah keadaan manusia ketika diperingatkan dari bahaya maksiat, tetapi menolak nasihat karena kesombongan. Ia merasa bebas melakukan apa saja, padahal tidak menyadari bahwa langkahnya semakin dekat dengan kebinasaan.
Nabi Ibrahim mengingatkan ayahnya bukan karena ingin menguasai kehidupan ayahnya. Beliau ingin menyelamatkan ayahnya dari jalan yang membahayakan akhirat.
Demikian pula ketika kita mengingatkan anak, pasangan, saudara, atau sahabat. Jangan sampai kita diam ketika melihat orang yang kita cintai berjalan menuju keburukan.
Namun, ingatlah bahwa kita bukan pemilik hidayah. Kita hanya berkewajiban menyampaikan kebenaran dengan ilmu, kesabaran, dan akhlak yang baik.

L. Materi Inti untuk Disampaikan kepada Jamaah

Agar mudah diingat, ayat 44 Surah Maryam dapat dirangkum menjadi lima pesan:

1. Kenali musuh : Setan adalah musuh nyata manusia.
2. Jangan ikuti bisikannya : Setan mengajak kepada kekufuran dan kemaksiatan.
3. Waspadai kesombongan : Iblis binasa karena menolak perintah Allah.
4. Lindungi keluarga : Ajak keluarga kepada tauhid dan ketaatan.
5. Berlindung kepada Allah : Perbanyak zikir, doa, salat, dan membaca Al-Qur’an.

M. Penutup Ceramah
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Surah Maryam ayat 44 mengingatkan kita bahwa setan adalah musuh yang nyata. Ia tidak pernah menginginkan manusia memperoleh keselamatan. Ia ingin manusia menjauh dari Allah, mengikuti hawa nafsu, meremehkan dosa, dan akhirnya menjadi bagian dari golongannya.
Nabi Ibrahim a.s. telah memberikan teladan yang luar biasa. Beliau mengajak ayahnya dengan penuh kasih sayang, tetapi tetap tegas dalam urusan tauhid.

Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
1. Apakah selama ini kita lebih banyak menaati Allah atau mengikuti hawa nafsu?
2. Apakah kita menjaga salat atau justru sering menundanya?
3. Apakah kita menerima nasihat atau menolaknya karena kesombongan?
4. Apakah kita melindungi keluarga dari kemaksiatan atau membiarkan mereka berjalan tanpa bimbingan?
5. Apakah kita menggunakan teknologi untuk mendekat kepada Allah atau justru menjadikannya jalan menuju kemaksiatan?
Jangan sampai kita membenci setan dengan lisan, tetapi mengikuti ajakannya dengan perbuatan.
Jangan sampai kita mengatakan bahwa setan adalah musuh, tetapi kita justru membuka pintu bagi tipu dayanya.
Jangan sampai kita mengaku mencintai keluarga, tetapi tidak pernah mengajak mereka kepada salat, tauhid, dan akhlak yang mulia.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang teguh dalam tauhid, kuat menghadapi godaan setan, rendah hati menerima kebenaran, dan senantiasa berusaha menjaga keluarga dalam ketaatan kepada-Nya.

 N. Doa Penutup
1. Memohon perlindungan dari godaan setan
رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ ۝ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
Artinya:
“Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.” (QS Al-Mu’minun [23]: 97–98).
2. Memohon keteguhan hati
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya:
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa yang diriwayatkan dalam HR At-Tirmidzi, no. 2140.
3. Memohon kebaikan keluarga
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan [25]: 74).
4. Doa penutup majelis
سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Artinya:
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

O. Catatan Kaki dan Daftar Kitab Rujukan
Berikut rujukan utama untuk pendalaman materi. Nomor halaman tidak dicantumkan karena berbeda menurut penerbit, tahqiq, dan jumlah jilid. Untuk kitab tafsir, lokasi pembahasan yang digunakan adalah tafsir Surah Maryam ayat 44 atau ayat-ayat terkait.
1. Al-Qur’an al-Karim, khususnya:
QS Maryam [19]: 44.
QS Yasin [36]: 60–61.
QS Fatir [35]: 6.
QS Al-Baqarah [2]: 168 dan 34.
QS Al-A‘raf [7]: 16–17.
QS An-Nur [24]: 21.
QS Az-Zukhruf [43]: 36.
QS An-Nahl [16]: 98.
QS Al-Mu’minun [23]: 97–98.
QS Al-Furqan [25]: 74.
2. الطَّبَرِيُّ، مُحَمَّدُ بْنُ جَرِيرٍ. جَامِعُ الْبَيَانِ عَنْ تَأْوِيلِ آيِ الْقُرْآنِ.
Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Rujukan tafsir QS Maryam ayat 44.
3. ابْنُ كَثِيرٍ، إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ. تَفْسِيرُ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ.
Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Rujukan tafsir QS Maryam ayat 44 dan kisah penolakan Iblis.
4. الْقُرْطُبِيُّ، مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ. الْجَامِعُ لِأَحْكَامِ الْقُرْآنِ.
Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Rujukan tafsir QS Maryam ayat 44 dan pembahasan ketaatan kepada Allah.
5. الرَّازِيُّ، فَخْرُ الدِّينِ. مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ.
Fakhruddin Ar-Razi, Mafātīḥ al-Ghayb. Rujukan tafsir QS Maryam ayat 44.
6. السَّعْدِيُّ، عَبْدُ الرَّحْمٰنِ بْنُ نَاصِرٍ. تَيْسِيرُ الْكَرِيمِ الرَّحْمٰنِ فِي تَفْسِيرِ كَلَامِ الْمَنَّانِ.
Abdurrahman As-Sa‘di, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān. Rujukan tafsir QS Maryam ayat 44.
7. صَحِيحُ الْبُخَارِيِّ.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī: hadis tentang setan yang berjalan pada diri manusia dan hadis larangan marah.
8. صَحِيحُ مُسْلِمٍ.
Ṣaḥīḥ Muslim: hadis tentang setan yang berusaha mengadu domba dan hadis tentang hakikat kesombongan.
9. سُنَنُ التِّرْمِذِيِّ.
Sunan at-Tirmidzi: hadis tentang orang yang bertobat dan doa keteguhan hati.

Tidak ada komentar