Kekhawatiran Seorang Anak terhadap Ayahnya: Jangan Sampai Menjadi Wali Setan dan Mendapat Azab Allah
MATERI CERAMAH TAFSIR SURAH MARYAM AYAT 45
“Kekhawatiran Seorang Anak terhadap Ayahnya: Jangan Sampai Menjadi Wali Setan dan Mendapat Azab Allah”
A. Muqaddimah
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, kehidupan dunia hanyalah perjalanan sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah tempat kembali yang sesungguhnya.
Pada kesempatan ini, kita melanjutkan tadabur Surah Maryam, khususnya ayat 45. Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang kasih sayang seorang anak kepada ayahnya, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kekhawatiran terhadap akibat buruk apabila seseorang terus mengikuti bujukan setan.
Ada satu pelajaran besar dari Nabi Ibrahim a.s. Beliau tidak sekadar mengajak ayahnya meninggalkan penyembahan berhala. Beliau juga mengingatkan tentang akibat akhirat dari pilihan tersebut.
Perhatikanlah, Nabi Ibrahim tidak berkata dengan kasar. Beliau berkata dengan penuh kasih sayang:
“Wahai ayahku, aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih.”
Inilah dakwah yang lahir dari kasih sayang: bukan ingin mempermalukan orang yang salah, melainkan ingin menyelamatkannya dari kebinasaan.
B. Ayat Al-Qur’an dan Terjemahannya
Allah Swt. berfirman:
Surah Maryam ayat 45
يٰٓأَبَتِ إِنِّيْٓ أَخَافُ أَنْ يَّمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا
Artinya:
“Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.”
Ayat ini merupakan kelanjutan dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya. Pada ayat sebelumnya, Ibrahim menjelaskan tentang kesesatan penyembahan berhala dan mengajak ayahnya mengikuti petunjuk yang benar.
Pada ayat 45 ini, Ibrahim menyampaikan kekhawatiran terhadap nasib ayahnya apabila tetap mempertahankan kesyirikan.
Ada empat ungkapan penting yang perlu kita renungkan:
* يَا أَبَتِ — Wahai ayahku.
* إِنِّي أَخَافُ — Sesungguhnya aku khawatir.
* أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ — Engkau ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih.
* فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا — Sehingga engkau menjadi wali atau sekutu setan.
C. Penjelasan Tafsir Tahlili
1\. Ungkapan “يَا أَبَتِ” menunjukkan kelembutan dalam berdakwah
Nabi Ibrahim kembali menggunakan panggilan:
يَا أَبَتِ
“Wahai ayahku.”
Panggilan ini menunjukkan bahwa meskipun ayahnya berada dalam kesalahan akidah, Ibrahim tetap menjaga adab dan hubungan kekeluargaan.
Beliau tidak memulai nasihat dengan cacian, penghinaan, atau kemarahan. Beliau memulai dengan panggilan yang lembut.
Pelajaran penting: Kebenaran harus disampaikan dengan tegas, tetapi tidak harus dengan kata-kata yang kasar.
Allah Swt. berfirman:
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشٰى
QS. Ṭāhā \[20\]: 44
Artinya:
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”
Ayat ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika menghadapi Fir‘aun. Padahal Fir‘aun adalah penguasa yang sangat zalim dan mengaku sebagai tuhan.
Jika kepada Fir‘aun saja Allah memerintahkan perkataan yang lembut, tentu kita lebih layak menjaga kelembutan ketika menasihati orang tua, pasangan, anak, saudara, dan sesama muslim.
Ulasan ulama:
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa perintah berkata lembut kepada Fir‘aun menunjukkan pentingnya kelembutan dalam menyampaikan dakwah. Kelembutan bukan berarti membenarkan kebatilan, tetapi merupakan cara menyampaikan kebenaran agar lebih mudah diterima.
Rujukan: Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Ṭāhā \[20\]: 44.
2\. “إِنِّي أَخَافُ” — Kekhawatiran yang lahir dari kasih sayang
Nabi Ibrahim berkata:
إِنِّي أَخَافُ
“Sesungguhnya aku khawatir.”
Beliau tidak mengatakan, “Aku ingin engkau celaka.” Beliau juga tidak mengatakan, “Aku ingin membalas kesalahanmu.”
Justru beliau menunjukkan kekhawatiran terhadap keselamatan ayahnya.
Inilah salah satu karakter orang beriman. Ketika melihat orang yang dicintainya berada dalam kesesatan, hatinya merasa sedih dan khawatir.
Ada dua jenis kekhawatiran yang harus dibedakan:
* Khawatir terhadap keselamatan dunia, seperti kesehatan, pekerjaan, dan kehidupan keluarga.
* Khawatir terhadap keselamatan agama dan akhirat, seperti kesyirikan, kemaksiatan, dan meninggalkan petunjuk Allah.
Kekhawatiran terhadap akhirat semestinya menjadi perhatian yang lebih besar.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
QS. At-Taḥrīm \[66\]: 6
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab keluarga tidak berhenti pada kebutuhan makan, pakaian, pendidikan formal, dan tempat tinggal. Ada tanggung jawab yang lebih besar, yaitu menjaga iman dan keselamatan akhirat keluarga.
Ulasan Imam Ath-Thabari:
Dalam menjelaskan ayat tersebut, Ath-Thabari menerangkan bahwa orang beriman diperintahkan mendidik keluarganya agar menaati Allah dan menjauhkan mereka dari perbuatan yang mendatangkan azab.
Maknanya, orang tua tidak cukup hanya memastikan anaknya berhasil di dunia. Orang tua juga harus membimbing anaknya agar mengenal Allah, mencintai ibadah, dan memiliki akhlak yang baik.
Rujukan: Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. At-Taḥrīm \[66\]: 6.
3\. “عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ” — Azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih
Ada sesuatu yang sangat menarik dalam ayat ini.
Nabi Ibrahim tidak mengatakan azab dari Tuhan Yang Maha Perkasa atau Tuhan Yang Maha Menguasai. Beliau menggunakan nama Allah:
الرَّحْمٰنِ
Ar-Raḥmān, Yang Maha Pengasih.
Mengapa azab disebut berasal dari Ar-Raḥmān?
Karena Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih, tetapi kasih sayang-Nya tidak berarti membenarkan kesyirikan dan kezaliman. Allah memberikan petunjuk, mengutus rasul, menurunkan kitab, dan membuka pintu taubat. Namun manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya.
Allah Swt. berfirman:
نَبِّئْ عِبَادِيْٓ أَنِّيْٓ أَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ۙ وَأَنَّ عَذَابِيْ هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيْمُ
QS. Al-Ḥijr \[15\]: 49–50
Artinya:
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.”
Dua ayat ini mengajarkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut.
Seorang muslim tidak boleh merasa aman dari hukuman Allah karena mengandalkan rahmat-Nya, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya karena banyaknya dosa.
Ulasan Ibnu Katsir:
Ibnu Katsir menerangkan bahwa kedua ayat tersebut menggabungkan kabar tentang keluasan ampunan dan kasih sayang Allah dengan peringatan tentang kerasnya azab-Nya.
Seorang mukmin hendaknya berjalan kepada Allah dengan menggabungkan rasa berharap dan rasa takut.
Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Ḥijr \[15\]: 49–50.
4\. “فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا” — Jangan sampai menjadi wali setan
Inilah inti peringatan dalam ayat 45.
Nabi Ibrahim mengkhawatirkan ayahnya akan menjadi:
وَلِيًّا لِلشَّيْطَانِ
“Wali atau sekutu bagi setan.”
Kata wali dalam konteks ini menunjukkan kedekatan, keberpihakan, dan hubungan mengikuti jalan setan.
Bagaimana seseorang bisa menjadi wali setan?
Bukan berarti ia harus mengucapkan bahwa dirinya menyembah setan. Seseorang dapat menjadi pengikut setan ketika ia terus-menerus mengikuti ajakan setan untuk melakukan kemaksiatan, kesyirikan, kedurhakaan, dan menolak kebenaran.
Setan menghendaki manusia jauh dari Allah. Ia menggoda manusia melalui berbagai jalan: hawa nafsu, kesombongan, kebencian, kemarahan, keserakahan, dan angan-angan palsu.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ إِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ أَصْحٰبِ السَّعِيْرِ
QS. Fāṭir \[35\]: 6
Artinya:
“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Perhatikan kalimat:
فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا
“Maka perlakukanlah ia sebagai musuh.”
Jangan sampai manusia justru mengikuti musuhnya sendiri.
Ulasan Ibnu Katsir:
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberitahukan permusuhan setan kepada manusia agar manusia berhati-hati terhadap tipu dayanya. Setan mengajak manusia kepada jalan yang membinasakan.
Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Fāṭir \[35\]: 6.
D. Mengapa Setan Ingin Menjadikan Manusia sebagai Pengikutnya?
1\. Setan memiliki tekad untuk menyesatkan manusia
Ketika Iblis dilaknat Allah, ia menyatakan tekadnya untuk menyesatkan manusia.
Allah Swt. berfirman:
قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِيْ لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ
QS. Al-A‘rāf \[7\]: 16–17
Artinya:
“Ia (Iblis) berkata, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’”
Ayat ini menggambarkan kesungguhan setan dalam menyesatkan manusia.
Setan tidak hanya menggoda manusia ketika sedang melakukan kemaksiatan. Ia juga bisa menggoda ketika manusia sedang berusaha melakukan kebaikan.
* Ketika seseorang ingin bersedekah, setan menakut-nakutinya dengan kemiskinan.
* Ketika seseorang ingin belajar agama, setan membuatnya merasa lebih baik menunda.
* Ketika seseorang ingin berdamai, setan membangkitkan kembali kebencian.
* Ketika seseorang ingin bertaubat, setan membisikkan bahwa dosanya terlalu banyak.
* Ketika seseorang mendapatkan keberhasilan, setan menumbuhkan kesombongan.
Ulasan Imam Al-Qurthubi:
Dalam tafsir ayat ini, Al-Qurthubi membahas berbagai arah datangnya godaan setan. Maknanya, setan berusaha menghalangi manusia dari jalan kebenaran melalui berbagai pintu dan keadaan.
Rujukan: Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-A‘rāf \[7\]: 16–17.
2\. Setan membujuk manusia melalui langkah-langkah kecil
Allah Swt. berfirman:
يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْأَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ إِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
QS. Al-Baqarah \[2\]: 168
Artinya:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Perhatikan istilah:
خُطُوٰتِ الشَّيْطَانِ
“Langkah-langkah setan.”
Setan sering tidak mengajak manusia melakukan dosa besar secara langsung. Ia memulai dari perkara kecil, lalu membiasakan manusia melanggar batas.
Misalnya:
* Awalnya seseorang hanya melihat sesuatu yang dilarang.
* Kemudian ia mengulanginya.
* Setelah terbiasa, ia mulai menganggapnya biasa.
* Akhirnya ia tidak lagi merasa bersalah.
Begitulah dosa dapat berkembang apabila tidak segera dihentikan.
3\. Setan mengajak kepada keburukan dan kemungkaran
Allah Swt. berfirman:
اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَآءِۖ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًاۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
QS. Al-Baqarah \[2\]: 268
Artinya:
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
Setan membuat manusia takut kehilangan harta sehingga enggan bersedekah. Setan membuat manusia merasa bahwa berbuat maksiat adalah jalan memperoleh kebahagiaan.
Sementara Allah menjanjikan ampunan dan karunia bagi orang yang beriman dan bertakwa.
Ulasan Fakhruddin Ar-Razi:
Ar-Razi menjelaskan bahwa ayat ini memperlihatkan perbedaan antara janji setan dan janji Allah. Setan menanamkan ketakutan dan mendorong keburukan, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia.
Rujukan: Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, tafsir QS. Al-Baqarah \[2\]: 268.
E. Hubungan antara Kesyirikan dan Menjadi Pengikut Setan
Jamaah rahimakumullah,
Mengapa Nabi Ibrahim menghubungkan penyembahan berhala dengan menjadi wali setan?
Karena kesyirikan merupakan penyimpangan terbesar dalam tauhid. Setan berusaha mengalihkan penghambaan manusia dari Allah kepada selain-Nya.
Allah Swt. berfirman:
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ أَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ إِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ۙ وَّأَنِ اعْبُدُوْنِيْۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ
QS. Yāsīn \[36\]: 60–61
Artinya:
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.”
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk tidak menyembah setan, melainkan menyembah Allah.
Dalam penjelasan para mufassir, penyembahan setan tidak hanya berkaitan dengan sujud atau ritual kepada setan. Termasuk di dalamnya mengikuti ajakannya untuk mendurhakai Allah.
Karena itu, seseorang harus berhati-hati. Jangan sampai lisannya mengaku bertauhid, tetapi perilakunya justru mengikuti perintah setan.
Ulasan Ibnu Katsir:
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa larangan menyembah setan mencakup larangan menaati setan dalam kemaksiatan. Sebab, setan mengajak manusia kepada kekufuran dan penyimpangan.
Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Yāsīn \[36\]: 60–61.
F. Dalil Sunnah: Rasulullah Mengingatkan Bahaya Mengikuti Setan
1\. Setan selalu berusaha merusak hubungan manusia
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
Artinya:
“Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab, tetapi ia tidak berputus asa untuk mengadu domba di antara mereka.”
HR. Muslim, no. 2812.
Hadis ini mengingatkan bahwa setan memiliki banyak cara untuk merusak kehidupan manusia. Ketika manusia tidak menyembahnya secara langsung, setan tetap berusaha merusak persaudaraan, menimbulkan permusuhan, dan memecah belah umat.
Betapa banyak keluarga yang dahulu hidup rukun, kemudian terpecah karena fitnah dan perselisihan.
Betapa banyak persahabatan yang rusak karena prasangka dan hasutan.
Betapa banyak jamaah yang kehilangan kekuatan karena saling menjatuhkan.
Maka, jangan sampai kita menjadi alat setan untuk merusak persaudaraan.
2\. Setan mengalir dalam diri manusia
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
Artinya:
“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti aliran darah.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim, dalam kisah kunjungan Rasulullah kepada Safiyyah r.a. saat beliau beri‘tikaf.
Hadis ini menjelaskan betapa dekatnya peluang godaan setan kepada manusia. Oleh karena itu, manusia harus menjaga hati, pikiran, ucapan, dan perbuatannya.
Hadis ini bukan berarti setan secara fisik menjadi darah manusia, melainkan menunjukkan kedekatan dan kuatnya pengaruh bisikan serta godaan setan.
3\. Jangan mengikuti setan ketika marah
Rasulullah saw. bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Marah adalah salah satu pintu yang dapat dimanfaatkan setan.
Ketika seseorang marah, ia bisa mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, memukul, memutus hubungan keluarga, bahkan melakukan kezaliman.
Karena itu, kekuatan seorang mukmin bukan hanya terlihat ketika ia mampu mengalahkan orang lain, tetapi ketika ia mampu mengendalikan dirinya sendiri.
4\. Setan berusaha menghalangi manusia dari kebaikan
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَعْرِضُ لِابْنِ آدَمَ بِطُرُقِهِ
Makna hadis ini diterangkan dalam hadis tentang godaan setan terhadap manusia ketika hendak melakukan kebaikan. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa setan berusaha menghalangi manusia dari Islam, hijrah, dan jihad dengan berbagai alasan.
Artinya secara makna:
“Sesungguhnya setan menghadang anak Adam pada jalan-jalannya.”
HR. An-Nasa’i, dalam hadis Ṣafwān bin ‘Assāl tentang godaan setan; periksa redaksi dan penomoran sesuai edisi kitab.
Pelajarannya, jangan mudah menyerah ketika hendak melakukan kebaikan. Bisa jadi rasa malas, takut, dan berbagai alasan yang tidak benar menjadi jalan untuk meninggalkan ketaatan.
G. Komentar Para Ulama tentang Bahaya Menjadi Pengikut Setan
1\. Imam Ath-Thabari
Dalam menafsirkan Surah Maryam ayat 45, Ath-Thabari menjelaskan makna kekhawatiran Ibrahim terhadap ayahnya, yakni kekhawatiran apabila ayahnya ditimpa azab Allah karena tetap mengikuti kekufuran dan menjadi bagian dari pengikut setan.
Inti penjelasan tafsir:
خَافَ إِبْرَاهِيمُ عَلَى أَبِيهِ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ إِنْ أَقَامَ عَلَى كُفْرِهِ وَاتِّبَاعِ الشَّيْطَانِ
Terjemahan makna:
“Ibrahim mengkhawatirkan ayahnya dari azab Allah apabila ia tetap berada dalam kekufuran dan mengikuti setan.”
Catatan: Redaksi Arab di atas merupakan rumusan makna penjelasan tafsir, bukan kutipan verbatim dari edisi tertentu.
Rujukan: Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam \[19\]: 45.
2\. Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan nasihat Nabi Ibrahim kepada ayahnya agar tidak mengikuti jalan setan. Mengikuti setan akan membawa manusia kepada penyimpangan dan akibat buruk di akhirat.
Inti penjelasan:
أَيْ لَا تَكُنْ مُوَالِيًا لِلشَّيْطَانِ بِاتِّبَاعِهِ فِي مَا يَدْعُو إِلَيْهِ مِنَ الْكُفْرِ وَالضَّلَالِ
Terjemahan makna:
“Janganlah engkau menjadi pengikut setan dengan mengikuti ajakannya kepada kekufuran dan kesesatan.”
Catatan: Ini merupakan parafrasa penjelasan tafsir, bukan kutipan kata demi kata.
Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam \[19\]: 45.
3\. Imam Al-Qurthubi
Al-Qurthubi menekankan pentingnya memahami akibat dari keberpihakan kepada setan. Menjadi pengikut setan berarti menempatkan diri pada jalan yang berlawanan dengan petunjuk Allah.
Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa manusia harus menilai suatu perbuatan bukan hanya dari kesenangan sesaat, tetapi dari akibatnya terhadap iman dan akhirat.
Rujukan: Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam \[19\]: 45.
4\. Imam As-Sa‘di
Dalam penjelasannya terhadap ayat-ayat kisah Ibrahim, As-Sa‘di menampilkan kelembutan, kesabaran, dan perhatian Ibrahim kepada ayahnya. Ibrahim menggabungkan dakwah kepada tauhid dengan kasih sayang kepada keluarga.
Pelajaran:
الدَّاعِي إِلَى اللَّهِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْحَقِّ وَالرَّحْمَةِ
Terjemahan makna:
“Orang yang berdakwah kepada Allah menggabungkan antara kebenaran dan kasih sayang.”
Catatan: Kalimat Arab ini adalah rumusan pelajaran, bukan kutipan langsung dari kitab As-Sa‘di.
Rujukan: ‘Abd al-Raḥmān al-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān, tafsir QS. Maryam [19]: 41–48.
H. Pelajaran Penting dari Sikap Nabi Ibrahim kepada Ayahnya
1. Mencintai orang tua bukan berarti membenarkan kesalahannya
Nabi Ibrahim sangat menghormati ayahnya. Namun beliau tidak mengikuti keyakinan ayahnya yang menyimpang dari tauhid.
Ini menjadi pelajaran bahwa seorang anak harus berbakti kepada orang tua dalam perkara yang baik, tetapi tidak boleh menaati mereka apabila diperintahkan melakukan kemaksiatan.
Allah Swt. berfirman:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلٰٓى أَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ
QS. Luqmān [31]: 15
Artinya:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”
Ayat ini mengajarkan dua prinsip sekaligus:
*Tidak boleh menaati orang tua dalam kemaksiatan dan kesyirikan.
*Tetap wajib memperlakukan orang tua dengan baik dalam urusan dunia.
2. Jangan merasa aman dari godaan setan
Tidak ada manusia yang boleh merasa dirinya pasti terbebas dari godaan setan.
Karena itu, seorang mukmin harus terus memohon perlindungan kepada Allah.
Allah Swt. berfirman:
وَقُلْ رَّبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ ۙ وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَّحْضُرُوْنِ
QS. Al-Mu’minūn [23]: 97–98
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung kepada Engkau, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.’”
Ayat ini dapat menjadi doa harian agar kita tidak mengikuti bisikan setan.
3. Jangan menunda taubat
Setan sering membisikkan:
“Nanti saja bertaubat.”
“Masih muda, nikmati dulu kehidupan.”
“Kalau sudah tua baru rajin beribadah.”
“Dosamu sudah terlalu banyak, Allah tidak akan mengampunimu.”
Semua itu merupakan tipu daya yang dapat menjauhkan manusia dari Allah.
Allah Swt. berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلٰٓى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ إِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ إِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
QS. Az-Zumar [39]: 53
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Ayat ini bukan alasan untuk terus bermaksiat, tetapi dorongan agar manusia segera kembali kepada Allah.
I. Bentuk-Bentuk Menjadi Pengikut Setan dalam Kehidupan Sehari-hari
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita mungkin tidak pernah menyatakan diri sebagai penyembah setan. Namun kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah ada perilaku kita yang justru mengikuti ajakan setan?
1. Mengikuti setan melalui kesombongan
Kesombongan adalah salah satu sifat yang menyebabkan Iblis menolak perintah Allah.
Allah Swt. berfirman:
أَبٰى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
QS. Al-Baqarah [2]: 34
Artinya:
“Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”
Iblis tidak mau tunduk kepada perintah Allah karena merasa dirinya lebih baik.
Maka, ketika seseorang menolak kebenaran hanya karena tidak suka kepada orang yang menyampaikannya, ia harus mengoreksi hatinya.
2. Mengikuti setan melalui permusuhan dan kebencian
Setan sangat senang melihat manusia saling bermusuhan.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ أَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَآءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ
QS. Al-Mā’idah [5]: 91
Artinya:
“Dengan minuman keras dan judi itu setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?”
Walaupun ayat ini berbicara tentang khamar dan judi, di dalamnya terdapat pelajaran bahwa setan berusaha menumbuhkan permusuhan dan menghalangi manusia dari zikir serta salat.
3. Mengikuti setan melalui lisan
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Jangan sampai lisan kita menjadi alat setan untuk menyebarkan fitnah, kebohongan, ghibah, dan adu domba.
4. Mengikuti setan melalui penggunaan teknologi
Teknologi dapat menjadi sarana kebaikan, tetapi dapat pula menjadi jalan kemaksiatan.
Contohnya:
* Menggunakan media sosial untuk menyebarkan fitnah.
* Menyebarkan berita tanpa memeriksa kebenarannya.
* Mengakses konten yang merusak akhlak.
* Menghabiskan waktu hingga meninggalkan salat.
* Menghina dan merendahkan orang lain melalui komentar.
Allah Swt. berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
QS. Qāf [50]: 18
Artinya:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Apa yang kita tulis di media sosial pun harus dipertanggungjawabkan.
J. Bagaimana Cara Agar Tidak Menjadi Pengikut Setan?
1. Memperkuat tauhid
Jadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah, tempat bergantung, dan tempat memohon pertolongan.
2. Menjaga salat lima waktu
Salat merupakan benteng yang membantu manusia menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
Allah Swt. berfirman:
اُتْلُ مَآ أُوْحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَأَقِمِ الصَّلٰوةَۗ إِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45
Artinya:
“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
3. Memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an
Allah Swt. berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
QS. An-Naḥl [16]: 98
Artinya:
“Apabila engkau membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
4. Memohon keteguhan hati
Rasulullah saw. sering berdoa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلٰى دِيْنِكَ
Artinya:
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
HR. At-Tirmidzi, no. 2140.
Doa ini mengajarkan bahwa hati manusia membutuhkan pertolongan Allah agar tetap berada dalam ketaatan.
5. Segera bertaubat ketika melakukan kesalahan
Rasulullah saw. bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
Artinya:
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat.”
HR. At-Tirmidzi, no. 2499; dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis.
Jangan biarkan satu dosa berkembang menjadi kebiasaan. Ketika terjatuh, segera bangkit dan kembali kepada Allah.
K. Renungan: Jangan Sampai Kita Menjadi Sebab Kebinasaan Orang yang Kita Cintai
Jamaah rahimakumullah,
Mari kita renungkan kembali sikap Nabi Ibrahim kepada ayahnya.
Beliau tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Beliau juga memikirkan keselamatan ayahnya.
Dari kisah ini kita belajar:
* Orang tua harus mengkhawatirkan keselamatan agama anak-anaknya.
* Anak harus mendoakan dan menasihati orang tuanya dengan cara yang baik.
* Suami dan istri harus saling mengingatkan dalam ketaatan.
* Guru harus membimbing muridnya agar tidak terjerumus dalam keburukan.
* Pemimpin harus mengarahkan orang yang dipimpinnya kepada kebaikan.
Jangan sampai kita hanya khawatir anak tidak naik kelas, tetapi tidak khawatir ketika anak meninggalkan salat.
Jangan sampai kita hanya khawatir anak tidak mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak khawatir ketika anak kehilangan kejujuran.
Jangan sampai kita hanya khawatir keluarga kekurangan harta, tetapi tidak khawatir ketika keluarga jauh dari Al-Qur’an.
Jangan sampai kita sibuk membangun rumah yang indah, tetapi lupa membangun keluarga yang dekat dengan Allah.
Nabi Ibrahim memberikan teladan bahwa cinta sejati bukan sekadar memenuhi kebutuhan dunia orang yang kita cintai. Cinta sejati juga menginginkan keselamatan mereka di akhirat.
Namun kita juga harus memahami bahwa hidayah berada di tangan Allah. Tugas kita adalah mengajak, menasihati, berdoa, dan memberi teladan. Kita tidak berhak memaksakan hidayah kepada orang lain.
L. Kisah dan Teladan: Nabi Ibrahim Tetap Beradab kepada Ayahnya
Ketika Nabi Ibrahim menyeru ayahnya, beliau menghadapi penolakan keras. Bahkan ayahnya mengancam akan merajamnya dan memerintahkannya pergi.
Allah mengabadikan jawaban Nabi Ibrahim:
قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّيْۗ إِنَّهٗ كَانَ بِيْ حَفِيًّا
QS. Maryam [19]: 47
Artinya:
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.’”
Ayat ini memperlihatkan bahwa Ibrahim tetap menjaga tutur kata ketika menghadapi penolakan.
Beliau tidak membalas ancaman dengan ancaman. Beliau memilih berpisah dengan baik dan menyerahkan urusan hidayah kepada Allah.
Perlu dicatat, permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya terjadi sebelum jelas baginya bahwa ayahnya tetap menjadi musuh Allah. Ketika telah jelas bahwa ayahnya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya, sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah [9]: 114.
Allah berfirman:
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرٰهِيْمَ لِأَبِيْهِ إِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَآ إِيَّاهُۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗٓ أَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّلّٰهِ تَبَرَّأَ مِنْهُۗ إِنَّ إِبْرٰهِيْمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيْمٌ
QS. At-Taubah [9]: 114
Artinya:
“Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”
Pelajaran dari ayat ini adalah bahwa kasih sayang tidak boleh mengalahkan prinsip tauhid. Namun prinsip tauhid juga tidak boleh dijadikan alasan untuk berlaku kasar dan tidak adil.
M. Kesimpulan Utama Ceramah
Dari Surah Maryam ayat 45, terdapat beberapa pelajaran penting:
1. Kelembutan merupakan adab penting dalam berdakwah.
2. Seorang mukmin harus memiliki kepedulian terhadap keselamatan akhirat keluarganya.
3. Setan adalah musuh nyata manusia yang selalu berusaha menyesatkan.
4. Mengikuti ajakan setan dapat membawa manusia kepada kemaksiatan dan kesyirikan.
5. Azab Allah adalah peringatan agar manusia tidak terus-menerus berada dalam kesesatan.
6. Manusia harus senantiasa memohon perlindungan dan keteguhan hati kepada Allah.
7. Hidayah berada di tangan Allah, sedangkan kewajiban manusia adalah berusaha menyampaikan kebenaran.
Kalimat penegasan untuk disampaikan di mimbar:
Jangan sampai kita menjadi orang yang merasa aman karena tidak pernah menyembah patung, tetapi tanpa sadar mengikuti langkah-langkah setan.
Jangan sampai kita mengaku mencintai Allah, tetapi lebih menaati hawa nafsu daripada perintah-Nya.
Jangan sampai kita mengaku mencintai keluarga, tetapi tidak pernah mengajak keluarga mendekat kepada Allah.
Dan jangan sampai kita sibuk menyelamatkan kehidupan dunia, tetapi melupakan keselamatan akhirat.
N. Doa Penutup
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ، وَنَعُوْذُ بِكَ رَبَّنَا أَنْ يَّحْضُرُوْنِ.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan kami berlindung kepada-Mu, wahai Tuhan kami, agar mereka tidak mendekati kami.”
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ قُلُوْبَنَا مِنَ الزَّيْغِ، وَأَعِذْنَا مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ.
Artinya:
“Ya Allah, jagalah hati kami dari penyimpangan, lindungilah kami dari bisikan setan, dan teguhkanlah kami di atas iman dan Islam.”
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَأَزْوَاجَنَا وَوَالِدِيْنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتًا عَامِرَةً بِالْإِيْمَانِ وَالْقُرْآنِ وَالطَّاعَةِ.
Artinya:
“Ya Allah, perbaikilah keadaan anak-anak kami, pasangan kami, dan kedua orang tua kami. Jadikanlah rumah-rumah kami rumah yang dipenuhi iman, Al-Qur’an, dan ketaatan.”
اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنْ أَوْلِيَاءِ الشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ.
Artinya:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk pengikut setan, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan ikhlas.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
O. Catatan Kaki dan Daftar Rujukan Kitab
1. Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Rujukan tafsir QS. Maryam [19]: 41–48, QS. At-Taḥrīm [66]: 6, dan QS. Al-A‘rāf [7]: 16–17.
2. Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Rujukan tafsir QS. Maryam [19]: 45, QS. Fāṭir [35]: 6, QS. Yāsīn [36]: 60–61, dan QS. Al-Ḥijr [15]: 49–50.
3. Al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Rujukan tafsir QS. Maryam [19]: 45, QS. Ṭāhā [20]: 44, dan QS. Al-A‘rāf [7]: 16–17.
4. Al-Rāzī, Fakhr al-Dīn. Mafātīḥ al-Ghayb. Rujukan tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 268.
5.Al-Sa‘dī, Abd al-Raḥmān ibn Nāṣir. Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Rujukan tafsir QS. Maryam [19]: 41–48.
6.;Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Rujukan hadis tentang setan mengalir dalam diri manusia, hadis pengendalian marah, dan hadis berkata baik atau diam.
7. Muslim ibn al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim. Rujukan hadis tentang setan mengadu domba, setan mengalir dalam diri manusia, dan hadis pengendalian marah.
8. Al-Tirmidhī, Muḥammad ibn ‘Īsā. Sunan al-Tirmidhī. Rujukan hadis doa keteguhan hati dan hadis tentang taubat.
Post a Comment