Membalas Kekasaran dengan Keselamatan: Kelembutan Hati, Doa, dan Adab Nabi Ibrahim kepada Ayahnya

MATERI CERAMAH TAFSIR SURAH MARYAM AYAT 47

“Membalas Kekasaran dengan Keselamatan: Kelembutan Hati, Doa, dan Adab Nabi Ibrahim kepada Ayahnya”

A. Muqaddimah

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Pada kesempatan ini, kita melanjutkan tadabur Surah Maryam ayat 47. Ayat ini merupakan salah satu gambaran paling indah tentang keluhuran akhlak Nabi Ibrahim a.s.

Pada ayat sebelumnya, kita menyaksikan bagaimana ayah Nabi Ibrahim menolak dakwah tauhid dengan keras. Ia mempertanyakan sikap Ibrahim terhadap berhala, mengancam akan merajamnya, dan memerintahkannya pergi.

Namun, bagaimana jawaban Nabi Ibrahim?

Apakah beliau membalas ancaman dengan ancaman?

Apakah beliau membalas kata-kata kasar dengan kata-kata kasar?

Apakah beliau mendoakan keburukan bagi ayahnya?

Tidak!

Beliau justru berkata:

سَلَامٌ عَلَيْكَ

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu.”

Inilah akhlak seorang nabi. Ketika menghadapi kekasaran, beliau tidak kehilangan kelembutan. Ketika ditolak, beliau tidak kehilangan kasih sayang. Ketika diusir, beliau tetap mendoakan kebaikan.

Dari ayat ini kita belajar bahwa kemuliaan seseorang bukan hanya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang baik kepadanya, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga akhlak ketika diperlakukan dengan buruk.

B. Teks Ayat dan Terjemahan

Allah Swt. berfirman:

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّيْ ۗ إِنَّهٗ كَانَ بِيْ حَفِيًّا

QS. Maryam \[19\]: 47

Artinya:

“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.’”

Ayat ini mengandung tiga pelajaran besar:

* سَلَامٌ عَلَيْكَ — Membalas kekasaran dengan ucapan keselamatan.

* سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّيْ — Tetap mendoakan dan mengharapkan kebaikan bagi orang yang dicintai.

* إِنَّهٗ كَانَ بِيْ حَفِيًّا — Meyakini kasih sayang, perhatian, dan kebaikan Allah kepada hamba-Nya.

Mari kita uraikan secara mendalam.

C. Tafsir dan Penjelasan Kandungan Ayat

1\. “سَلَامٌ عَلَيْكَ” — Membalas kekasaran dengan keselamatan

Nabi Ibrahim berkata:

سَلَامٌ عَلَيْكَ

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu.”

Kalimat ini sangat pendek, tetapi mengandung akhlak yang sangat tinggi.

Ingatlah keadaan yang melatarbelakanginya.

Ayah Ibrahim baru saja mengancam:

لَأَرْجُمَنَّكَ

“Pasti aku akan merajammu.”

Kemudian ia berkata:

وَاهْجُرْنِيْ مَلِيًّا

“Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”

Dalam keadaan seperti itu, Ibrahim tidak membalas dengan kebencian. Beliau memilih ucapan keselamatan.

Inilah tanda bahwa hati beliau tidak dikuasai kemarahan.

Ucapan salam tersebut dapat dipahami sebagai ungkapan perpisahan yang baik, sekaligus doa keselamatan bagi ayahnya.

Pelajaran pertama: Kita tidak harus membalas setiap perkataan buruk dengan perkataan buruk. Terkadang, jawaban terbaik adalah menjaga kehormatan diri dan mengakhiri pertengkaran dengan baik.

Allah Swt. berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

QS. Al-Furqān \[25\]: 63

Artinya:

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam.”

Perhatikan ayat ini.

Allah tidak menggambarkan hamba-hamba-Nya yang saleh sebagai orang yang selalu menang dalam perdebatan. Mereka justru digambarkan sebagai orang yang mampu mengendalikan diri ketika berhadapan dengan orang-orang yang kasar.

Ulasan Imam Ibnu Katsir:

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa apabila orang-orang bodoh berbicara kepada hamba-hamba Allah dengan ucapan yang buruk, mereka tidak membalasnya dengan keburukan. Mereka memilih perkataan yang baik dan menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat.

Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Furqān \[25\]: 63.

2\. Membalas keburukan dengan cara yang lebih baik

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

QS. Fuṣṣilat \[41\]: 34

Artinya:

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang sangat setia.”

Ayat ini mengajarkan bahwa keburukan tidak harus dibalas dengan keburukan.

Orang yang mampu membalas hinaan dengan kesantunan menunjukkan kekuatan akhlak.

Namun, perlu dipahami bahwa membalas dengan cara yang lebih baik bukan berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung. Apabila seseorang menghadapi ancaman atau kekerasan, ia boleh menjaga jarak dan mencari perlindungan.

Ulasan Imam Ath-Thabari:

Ath-Thabari menjelaskan bahwa perintah menolak keburukan dengan cara yang lebih baik mengandung anjuran membalas perlakuan buruk dengan sikap yang lebih mulia, sehingga permusuhan dapat berubah menjadi kedekatan.

Rujukan: Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Fuṣṣilat \[41\]: 34.

3\. “سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّيْ” — Doa seorang anak untuk ayahnya

Nabi Ibrahim melanjutkan:

سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّيْ

“Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku.”

Ini menunjukkan bahwa meskipun ayahnya telah mengancam dan mengusirnya, Ibrahim masih memiliki harapan agar ayahnya mendapatkan ampunan dan petunjuk Allah.

Beliau tidak berhenti mencintai kebaikan bagi ayahnya.

Ada perbedaan besar antara membenci perbuatan dosa dan membenci seseorang secara pribadi. Kita dapat menolak kemaksiatan, tetapi tetap berharap orang yang melakukannya mendapatkan hidayah dan memperbaiki dirinya.

Allah Swt. berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا

QS. Al-Isrā’ \[17\]: 24

Artinya:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’”

Ayat ini mengajarkan pentingnya kasih sayang dan doa bagi kedua orang tua.

Bahkan ketika hubungan keluarga mengalami perbedaan dan kesulitan, seorang anak tetap diperintahkan berbuat baik kepada orang tuanya dalam perkara yang dibenarkan agama.

Ulasan Imam Al-Qurthubi:

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan seorang anak untuk merendahkan diri kepada kedua orang tua dengan penuh kasih sayang, bukan karena kehinaan, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan kebaikan.

Rujukan: Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isrā’ \[17\]: 24.

4\. Doa Nabi Ibrahim untuk ayahnya dalam Surah Asy-Syu‘ara

Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim:

وَاغْفِرْ لِأَبِيْٓ إِنَّهٗ كَانَ مِنَ الضَّاۤلِّيْنَ

QS. Asy-Syu‘arā’ \[26\]: 86

Artinya:

“Dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat.”

Doa ini memperlihatkan betapa besar harapan Nabi Ibrahim agar ayahnya mendapatkan ampunan Allah.

Beliau tidak sekadar ingin ayahnya sehat, kaya, atau hidup berkecukupan. Beliau menginginkan keselamatan yang lebih besar, yaitu keselamatan iman dan akhirat.

Namun, ayat ini harus dipahami bersama penjelasan Allah dalam Surah At-Taubah ayat 114. Doa permohonan ampunan tersebut berkaitan dengan janji Ibrahim kepada ayahnya sebelum jelas baginya bahwa ayahnya tetap menjadi musuh Allah.

Ketika sudah jelas keadaan ayahnya, Ibrahim berlepas diri dari permohonan ampunan untuknya.

5\. “إِنَّهٗ كَانَ بِيْ حَفِيًّا” — Allah sangat baik kepada Nabi Ibrahim

Bagian terakhir ayat ini berbunyi:

إِنَّهٗ كَانَ بِيْ حَفِيًّا

“Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”

Kata حَفِيًّا mengandung makna perhatian, kelembutan, dan kebaikan yang besar.

Nabi Ibrahim menyampaikan bahwa Allah selalu memberikan kebaikan kepadanya.

Beliau telah merasakan pertolongan Allah, petunjuk-Nya, dan berbagai karunia-Nya.

Karena itulah, beliau yakin bahwa Allah adalah tempat terbaik untuk mengadu dan memohon pertolongan.

Di tengah penolakan ayahnya, Ibrahim tidak kehilangan tempat bergantung. Beliau masih memiliki Allah.

Inilah pelajaran yang sangat dalam: ketika manusia meninggalkan kita, Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang beriman dan bertawakal kepada-Nya.

Allah Swt. berfirman:

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَافٍ عَبْدَهٗۗ

QS. Az-Zumar \[39\]: 36

Artinya:

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya?”

Dan Allah berfirman:

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ

QS. Aṭ-Ṭalāq \[65\]: 3

Artinya:

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”

Ulasan Ibnu Katsir:

Dalam tafsir QS. Aṭ-Ṭalāq \[65\]: 3, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah akan mendapatkan kecukupan dari-Nya. Allah tidak menyia-nyiakan hamba yang bertawakal kepada-Nya.

Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Aṭ-Ṭalāq \[65\]: 3.

D. Hubungan Surah Maryam Ayat 47 dengan Surah At-Taubah Ayat 114

Bagian ini sangat penting agar kita memahami kisah Nabi Ibrahim secara utuh.

Allah Swt. berfirman:

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ اِبْرٰهِيْمَ لِأَبِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَآ اِيَّاهُۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗٓ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُۗ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَوَّاهٌ حَلِيْمٌ

QS. At-Taubah \[9\]: 114

Artinya:

“Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

Ayat ini menjelaskan batas dari permohonan ampunan Nabi Ibrahim untuk ayahnya.

1\. Ibrahim pernah berjanji kepada ayahnya

Dalam Surah Maryam ayat 47, Ibrahim mengatakan:

سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّيْ

“Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku.”

Janji ini merupakan bagian dari kelembutan dan harapan Ibrahim agar ayahnya mendapatkan petunjuk.

Allah kemudian menjelaskan bahwa permohonan ampunan itu berkaitan dengan janji tersebut.

2\. Ketika sudah jelas bahwa ayahnya tetap memusuhi Allah, Ibrahim berlepas diri

Perhatikan firman Allah:

فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗٓ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُ

“Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya.”

Ini menunjukkan bahwa kasih sayang kepada keluarga tidak boleh melampaui batas tauhid.

Seorang muslim tetap dapat berbuat baik kepada keluarga yang berbeda keyakinan, tetapi tidak boleh memohonkan ampunan bagi orang yang telah meninggal dalam keadaan kufur.

3\. Nabi Ibrahim memiliki sifat “أَوَّاهٌ حَلِيْمٌ”

Allah menyebut Ibrahim:

لَأَوَّاهٌ حَلِيْمٌ

“Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

Kata أَوَّاهٌ dijelaskan oleh para ulama dengan beberapa makna, di antaranya orang yang banyak berdoa, merendahkan diri kepada Allah, dan memiliki hati yang sangat lembut.

Sedangkan حَلِيْمٌ berarti penyantun, tidak mudah terpancing kemarahan, dan mampu menahan diri.

Dua sifat ini sangat terlihat dalam sikap Ibrahim kepada ayahnya.

Ulasan Imam Ath-Thabari:

Ath-Thabari menjelaskan bahwa Ibrahim adalah orang yang banyak merendahkan diri kepada Allah, penuh kasih sayang, dan penyantun. Karena sifat-sifat tersebut, beliau dahulu memohonkan ampunan untuk ayahnya sebelum jelas larangan dan keadaan ayahnya.

Rujukan: Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. At-Taubah \[9\]: 114.

Ulasan Ibnu Katsir:

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa permohonan ampunan Ibrahim kepada ayahnya terjadi karena janji yang pernah disampaikan. Setelah jelas bahwa ayahnya tetap dalam permusuhan terhadap Allah, Ibrahim menghentikan permohonan ampunan tersebut.

Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. At-Taubah \[9\]: 114.

Kesimpulan penting: Kita boleh mendoakan hidayah bagi orang yang belum beriman dan memohon agar Allah membimbingnya. Namun, permohonan ampunan bagi orang yang telah meninggal dalam keadaan kufur tidak dibenarkan berdasarkan penjelasan QS. At-Taubah \[9\]: 113–114.

E. Dalil Sunnah: Akhlak Rasulullah dalam Menghadapi Kekasaran

1\. Rasulullah tidak membalas keburukan dengan keburukan

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ:

مَا خُيِّرَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ، وَمَا انْتَقَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللّٰهِ فَيَنْتَقِمَ لِلّٰهِ بِهَا.

Artinya:

“Rasulullah saw. tidak pernah diberi pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang paling mudah selama bukan dosa. Jika perkara itu dosa, beliau adalah orang yang paling jauh darinya. Rasulullah tidak pernah membalas dendam karena kepentingan pribadinya, kecuali apabila kehormatan Allah dilanggar, maka beliau membela karena Allah.”

HR. Al-Bukhari dan Muslim.

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai alasan untuk membalas dendam.

Dalam kisah Nabi Ibrahim, kita melihat teladan yang sejalan: beliau tidak membalas ancaman ayahnya dengan ancaman serupa.

2\. Kelembutan menjadi perhiasan dalam kehidupan

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Artinya:

“Sesungguhnya kelembutan tidak terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”

HR. Muslim, no. 2594.

Kelembutan bukan kelemahan. Kelembutan merupakan kemampuan mengendalikan diri dan memilih cara yang paling baik dalam menghadapi keadaan.

3\. Allah mencintai kelembutan

إِنَّ اللّٰهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala perkara.”

HR. Al-Bukhari dan Muslim, dalam hadis tentang kelembutan.

Hadis ini menjadi pedoman bagi orang tua, guru, pemimpin, dan pendakwah.

Jangan mengira bahwa semakin keras ucapan seseorang, semakin baik dakwahnya. Kebenaran harus disampaikan dengan ilmu, kesantunan, dan kebijaksanaan.

4\. Berbuat baik kepada orang yang memutus hubungan

عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Artinya:

“Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi itu orang yang hanya membalas kebaikan dengan kebaikan. Akan tetapi, orang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang apabila hubungan kekerabatannya diputus, ia tetap menyambungnya.”

HR. Al-Bukhari, no. 5991.

Hadis ini sangat relevan dengan kisah Nabi Ibrahim.

Ketika ayahnya meminta beliau pergi, Ibrahim tetap mengucapkan salam dan menunjukkan sikap yang baik.

Namun, menjaga silaturahmi tidak berarti harus mengikuti kemaksiatan atau membiarkan diri terus-menerus menjadi sasaran kekerasan. Hubungan dapat dijaga dengan cara yang aman dan sesuai syariat.

5\. Mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya

قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيْهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ

Artinya:

“Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan; setiap kali ia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata, ‘Amin, dan semoga engkau mendapatkan hal yang serupa.’”

HR. Muslim, no. 2733.

Hadis ini mendorong kita untuk membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi orang lain.

F. Komentar Para Ulama tentang Surah Maryam Ayat 47

1\. Imam Ath-Thabari

Ath-Thabari menjelaskan bahwa ucapan salam Ibrahim kepada ayahnya merupakan bentuk perpisahan yang baik. Ibrahim tidak membalas ancaman ayahnya dengan ucapan kasar, tetapi tetap menjaga adab dan menjanjikan doa.

Rumusan makna penjelasan:

قَالَ إِبْرَاهِيْمُ لِأَبِيْهِ: سَلَامٌ عَلَيْكَ، أَيْ أَمَانٌ مِنِّي لَكَ، لَا أَنَالُكَ بِمَكْرُوْهٍ

Terjemahan makna:

“Ibrahim berkata kepada ayahnya, ‘Semoga keselamatan atasmu,’ yakni engkau aman dariku; aku tidak akan menyakitimu.”

Catatan: Redaksi Arab di atas merupakan rumusan makna penjelasan tafsir, bukan kutipan harfiah dari edisi Ath-Thabari.

Rujukan: Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam \[19\]: 47.

2\. Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Ibrahim menjawab ancaman ayahnya dengan ucapan yang baik. Beliau juga menyampaikan akan memohonkan ampunan kepada Allah bagi ayahnya.

Rumusan makna penjelasan:

لَمْ يُجِبْهُ إِبْرَاهِيْمُ بِالسُّوْءِ، بَلْ قَالَ لَهُ قَوْلًا حَسَنًا وَوَعَدَهُ بِالدُّعَاءِ

Terjemahan makna:

“Ibrahim tidak menjawabnya dengan keburukan, tetapi mengucapkan perkataan yang baik dan menjanjikan doa baginya.”

Catatan: Ini adalah parafrasa isi penjelasan Ibnu Katsir, bukan kutipan kata demi kata.

Rujukan: Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam \[19\]: 47.

3\. Imam Al-Qurthubi

Al-Qurthubi membahas makna ucapan salam Ibrahim sebagai ungkapan perpisahan yang baik. Ia juga menjelaskan hubungan ayat ini dengan janji Ibrahim untuk memohonkan ampunan bagi ayahnya.

Pelajarannya, seseorang dapat meninggalkan lingkungan atau keadaan yang tidak mendukung ketaatan tanpa harus membalasnya dengan permusuhan.

Rujukan: Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam \[19\]: 47.

4\. Imam As-Sa‘di

As-Sa‘di menjelaskan bahwa sikap Ibrahim menunjukkan kesabaran, kelembutan, dan akhlak yang luhur. Meskipun ayahnya mengancam dan mengusirnya, Ibrahim tetap menjaga ucapan serta berharap agar Allah memberikan petunjuk.

Rumusan pelajaran:

مِنْ كَمَالِ حِلْمِ إِبْرَاهِيْمَ وَحُسْنِ خُلُقِهِ أَنَّهُ قَابَلَ إِسَاءَةَ أَبِيْهِ بِالْإِحْسَانِ

Terjemahan makna:

“Di antara kesempurnaan kesantunan dan keluhuran akhlak Ibrahim adalah bahwa beliau menghadapi perlakuan buruk ayahnya dengan kebaikan.”

Catatan: Kalimat Arab ini merupakan rumusan pelajaran, bukan kutipan langsung dari kitab As-Sa‘di.

Rujukan: ‘Abd al-Raḥmān al-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān, tafsir QS. Maryam \[19\]: 41–48.

G. Pelajaran Penting: Jangan Membalas Kekasaran dengan Kekasaran

Jamaah rahimakumullah,

Mari kita hubungkan kisah Nabi Ibrahim dengan kehidupan sehari-hari.

1\. Ketika orang tua berkata kasar kepada anak

Ada anak yang telah berusaha menyampaikan nasihat kepada orang tuanya, tetapi justru dimarahi.

Apa yang harus dilakukan?

* Tetap menjaga kesopanan.

* Tidak membalas dengan hinaan.

* Memilih waktu yang lebih tepat untuk berbicara.

* Tetap berbuat baik dalam perkara yang dibenarkan agama.

* Berdoa agar Allah memberikan hidayah kepada orang tua.

2\. Ketika anak berbeda pendapat dengan orang tua

Orang tua juga perlu mengambil pelajaran.

Jangan menganggap bahwa anak selalu salah hanya karena usianya lebih muda.

Bisa jadi Allah menyampaikan kebenaran melalui lisan anak kita.

Karena itu, orang tua perlu memiliki kerendahan hati untuk menerima nasihat.

3\. Ketika pasangan hidup bersikap kasar
Jangan membalas kekasaran dengan kekasaran. Namun jangan pula menganggap bahwa kesabaran berarti harus menerima kekerasan tanpa perlindungan.
Jika terjadi ancaman atau kekerasan, carilah bantuan, perlindungan, dan penyelesaian yang aman.

4. Ketika guru menghadapi murid yang sulit menerima nasihat
Seorang guru harus mampu menegur tanpa merendahkan.
Tegas bukan berarti kasar. Disiplin bukan berarti mempermalukan.
Allah Swt. berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ
QS. Āli ‘Imrān [3]: 159
Artinya:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
Ayat ini menjadi dasar penting bagi pendidik dan pemimpin. Kelembutan dapat membuat orang merasa aman untuk belajar dan memperbaiki diri.

H. Jangan Sampai Doa Berubah Menjadi Pembenaran terhadap Kesalahan
Ada satu hal yang perlu diperhatikan dari kisah Ibrahim.
Beliau mendoakan ayahnya, tetapi tidak berarti beliau membenarkan penyembahan berhala.
Kasih sayang tidak berarti menyetujui kemaksiatan.
Mendoakan seseorang agar mendapatkan hidayah tidak sama dengan membenarkan keyakinan yang salah.
Allah Swt. berfirman:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ
QS. At-Taubah [9]: 113
Artinya:
“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka.”
Ayat ini menjelaskan batas doa permohonan ampunan bagi orang yang telah jelas meninggal dalam keadaan musyrik.
Adapun mendoakan orang yang masih hidup agar mendapatkan hidayah, menerima kebenaran, dan memperbaiki diri adalah perkara yang berbeda.
Karena itu, kita dapat berdoa:
اللّٰهُمَّ اهْدِهِ وَافْتَحْ قَلْبَهُ لِلْحَقِّ
“Ya Allah, berilah dia petunjuk dan bukalah hatinya untuk menerima kebenaran.”
Doa hidayah seperti ini dapat dipanjatkan untuk orang yang masih hidup, termasuk keluarga yang belum menerima nasihat agama.

I. Renungan: Ketika Manusia Meninggalkan Kita, Allah Tetap Menjadi Tempat Bersandar
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Perhatikan kembali penutup ayat 47:
إِنَّهٗ كَانَ بِيْ حَفِيًّا
“Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”
Seolah-olah Nabi Ibrahim sedang mengajarkan kepada kita:
“Jika manusia menolakmu, jangan kehilangan Allah.”
“Jika manusia tidak menghargaimu, jangan berhenti berbuat baik.”
“Jika manusia mengusirmu, jangan merasa bahwa seluruh kehidupan telah tertutup.”
“Jika manusia tidak menerima doamu, teruslah memohon kepada Allah.”
Kadang-kadang kita terlalu berharap kepada manusia.
Kita ingin semua orang memahami kita.
Kita ingin semua orang menghargai kita.
Kita ingin semua orang membalas kebaikan kita.
Namun kenyataannya, tidak semua orang akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka.
Ada yang membalas kebaikan dengan keburukan. Ada yang membalas perhatian dengan penolakan. Ada yang membalas nasihat dengan kemarahan.
Tetapi jangan sampai perilaku manusia merusak hubungan kita dengan Allah.
Allah berfirman:
وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
QS. Al-Ḥadīd [57]: 4
Artinya:
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Allah mengetahui kesedihan yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun. Allah mengetahui doa yang kita panjatkan dalam kesunyian. Allah mengetahui kesabaran yang tidak dilihat manusia.
Karena itu, jangan pernah putus asa dari pertolongan Allah.

J. Kesimpulan Utama Ceramah
Dari Surah Maryam ayat 47, kita mendapatkan beberapa pelajaran penting:
1. Membalas kekasaran dengan ucapan yang baik merupakan akhlak yang mulia.
2. Kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kemampuan mengendalikan diri.
3. Anak tetap harus menjaga adab kepada orang tua, meskipun berbeda pendapat.
4. Doa untuk keluarga merupakan bentuk kasih sayang yang sangat besar.
5. Allah adalah tempat terbaik untuk mengadu dan memohon pertolongan.
6. Kasih sayang kepada keluarga tidak boleh mengalahkan prinsip tauhid.
7. Permohonan ampunan bagi ayah Ibrahim memiliki batas sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah [9]: 113–114.
8. Ketika manusia menolak kebaikan, jangan berhenti berbuat baik dan jangan kehilangan harapan kepada Allah.

Kalimat penegasan untuk disampaikan di mimbar:

Jamaah rahimakumullah,
Jangan membalas hinaan dengan hinaan.
Jangan membalas kemarahan dengan kemarahan.
Jangan membalas kebencian dengan kebencian.
Belajarlah dari Nabi Ibrahim. Ketika diancam oleh ayahnya, beliau menjawab dengan salam. Ketika diusir, beliau tidak membalas dengan dendam. Ketika berpisah, beliau masih mengharapkan kebaikan bagi ayahnya.
Namun beliau tetap teguh dalam tauhid.
Inilah akhlak yang harus kita teladani: lembut dalam perkataan, kuat dalam prinsip, lapang dalam hati, dan selalu bergantung kepada Allah.

K. Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوْبًا سَلِيْمَةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَخْلَاقًا حَسَنَةً.
Artinya:
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang bersih, lisan yang jujur, dan akhlak yang baik.”
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْحُلَمَاءِ الصَّابِرِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَاضِبِيْنَ الْمُعْتَدِيْنَ.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang penyantun dan sabar, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang mudah marah dan melampaui batas.”
اَللّٰهُمَّ اهْدِ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَأَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْمَعْنَا عَلَى طَاعَتِكَ وَمَرْضَاتِكَ.
Artinya:
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada ayah dan ibu kami, perbaikilah pasangan dan keturunan kami, serta kumpulkanlah kami dalam ketaatan dan keridaan-Mu.”
اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ.
Artinya:
“Ya Allah, janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu.”
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
QS. Āli ‘Imrān [3]: 8
Artinya:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

L. Catatan Kaki dan Daftar Rujukan Kitab
Berikut kitab-kitab rujukan utama untuk pendalaman materi. Nomor halaman tidak dicantumkan karena berbeda menurut penerbit, cetakan, dan tahqiq.
1. Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Rujukan tafsir QS. Maryam [19]: 47; QS. At-Taubah [9]: 113–114; QS. Fuṣṣilat [41]: 34.
2. Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Rujukan tafsir QS. Maryam [19]: 47; QS. At-Taubah [9]: 113–114; QS. Al-Furqān [25]: 63; QS. Aṭ-Ṭalāq [65]: 3.
3. Al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Rujukan tafsir QS. Maryam [19]: 47 dan QS. Al-Isrā’ [17]: 24.
4. Al-Sa‘dī, ‘Abd al-Raḥmān ibn Nāṣir. Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Rujukan tafsir QS. Maryam [19]: 41–48 dan QS. At-Taubah [9]: 113–114.
5. Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Rujukan hadis tentang tidak membalas dendam karena urusan pribadi, kelembutan, dan silaturahmi.
6. Muslim ibn al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim. Rujukan hadis kelembutan, silaturahmi, dan doa untuk sesama muslim.
7. Al-Tirmidhī, Muḥammad ibn ‘Īsā. Sunan al-Tirmidhī. Rujukan hadis tentang akhlak yang baik.

Tidak ada komentar