Menjaga Tauhid, Memilih Lingkungan, dan Menggantungkan Harapan Hanya kepada Allah
MATERI CERAMAH TAFSIR
SURAH MARYAM AYAT 48
HIJRAH DARI KEMAKSIATAN MENUJU KETAATAN
Menjaga Tauhid, Memilih Lingkungan, dan Menggantungkan
Harapan Hanya kepada Allah
وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ
اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا
Naskah
ceramah, bahan kajian tafsir, dalil Al-Qur’an dan Sunnah, serta rujukan ulama
Pengantar
Surah Maryam ayat 48 merupakan kelanjutan
dialog Nabi Ibrahim عليه السلام dengan ayahnya. Setelah menghadapi penolakan,
ancaman, dan penentangan terhadap dakwah tauhid, Ibrahim mengambil keputusan
untuk menjaga keimanannya: menjauh dari lingkungan kemusyrikan dan tetap
beribadah hanya kepada Allah. Ayat ini mengajarkan keteguhan tauhid, keberanian
mengambil jarak dari kemaksiatan, adab ketika menghadapi penolakan, dan
keyakinan bahwa doa kepada Allah tidak pernah sia-sia.
A. Muqaddimah
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ
سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dimuliakan Allah, ada kalanya
seseorang harus memilih antara mempertahankan hubungan dengan lingkungan yang
merusak iman atau menjaga hubungannya dengan Allah. Ada kalanya nasihat sudah
disampaikan, tetapi justru dibalas dengan ancaman dan penolakan. Nabi Ibrahim
memberikan teladan: tidak membalas ancaman dengan ancaman, tidak meninggalkan
tauhid demi penerimaan manusia, dan memilih menjauh dari kemusyrikan sembari
memperkuat hubungan dengan Allah.
B. Teks Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 48
QS
Maryam [19]: 48
وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ
اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا
Terjemahan: “Dan aku akan menjauhkan diri
darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada
Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”
Empat
kandungan utama ayat:
·
وَأَعْتَزِلُكُمْ
— Menjauhkan diri dari lingkungan yang mengancam keimanan.
·
وَمَا تَدْعُونَ
مِنْ دُونِ اللّٰهِ — Meninggalkan segala bentuk kemusyrikan.
·
وَأَدْعُو رَبِّي
— Mengarahkan ibadah, doa, dan penghambaan hanya kepada Allah.
·
عَسَى أَلَّا
أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا — Berharap kepada rahmat, pertolongan, dan
penerimaan Allah.
C. Berani Menjauh dari Lingkungan yang Merusak Iman
1. Makna وَأَعْتَزِلُكُمْ
Kata i‘tizāl berarti menjauhkan diri,
memisahkan diri, atau mengambil jarak. Nabi Ibrahim menyatakan akan
meninggalkan lingkungan yang terus-menerus mengajak kepada kemusyrikan dan
menolak kebenaran. Beliau tidak meninggalkan tauhid demi mempertahankan hubungan
dengan ayahnya. Tidak semua lingkungan harus diikuti, tidak semua pergaulan
harus dipertahankan dengan cara apa pun, dan tidak semua ajakan harus diterima.
2. Dalil Al-Qur’an: Menjauhi majelis yang memperolok ayat
Allah
QS
Al-An‘am [6]: 68
وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ
اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۚ وَاِمَّا
يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Terjemahan: “Apabila engkau melihat
orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka sampai
mereka beralih ke pembicaraan lain. Jika setan benar-benar menjadikan engkau
lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama
orang-orang yang zalim.”
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim
harus memiliki batas dalam pergaulan. Ketika suatu perkumpulan menjadi tempat
memperolok agama, membenarkan kemungkaran, atau merusak kehormatan syariat,
seorang mukmin tidak boleh larut di dalamnya.
Penjelasan Imam Ath-Thabari: larangan duduk
bersama orang-orang yang memperolok ayat Allah berkaitan dengan sikap
membiarkan diri berada dalam majelis kemungkaran tanpa mengingkari atau
meninggalkannya. Kebersamaan tidak boleh menjadi alasan membiarkan penghinaan
terhadap agama.
Rujukan: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an
Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS Al-An‘am [6]: 68.
3. Dalil hadis: Teman berpengaruh terhadap agama
Dalil
hadis — Abu Dawud no. 4833; At-Tirmidzi no. 2378
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Terjemahan: “Seseorang berada di atas agama
teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan
siapa yang dijadikan teman dekat.”
Al-Khaththabi menjelaskan bahwa hadis ini
merupakan peringatan agar seseorang memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat
dekat, karena karakter dan kebiasaan seseorang dapat memengaruhi sahabatnya.
Memilih teman berarti memilih orang yang membantu menjaga agama.
Renungan: Apakah teman-teman kita mendorong
salat atau melalaikannya? Apakah lingkungan kita mengingatkan kepada Al-Qur’an
atau membuat kita malu mengamalkannya? Menjauhi kemaksiatan bukan berarti
memutus silaturahmi secara sembarangan; hubungan keluarga tetap dijaga dengan
baik.
D. Meninggalkan Kemusyrikan dan Sesembahan Selain Allah
Nabi Ibrahim tidak hanya menjauh dari
orang-orang yang menolak dakwahnya, tetapi juga menjauh dari sesembahan mereka.
Inilah inti tauhid: ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Tidak ada makhluk,
benda, manusia, atau kekuatan apa pun yang berhak menjadi sekutu Allah dalam
ibadah.
QS
Luqman [31]: 13
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ
يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
Terjemahan: “(Ingatlah) ketika Luqman
berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku,
janganlah engkau mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”
QS
An-Nisa’ [4]: 48
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ
وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ
افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
Terjemahan: “Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa
(dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa
mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”
Ayat ini dipahami bersama prinsip bahwa
orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh sebelum meninggal tetap berada dalam
pintu ampunan Allah. Ancaman tersebut berlaku bagi orang yang meninggal dalam
keadaan membawa syirik tanpa bertobat.
Dalil
hadis — Al-Bukhari dan Muslim, dari Mu‘adz bin Jabal
حَقُّ اللّٰهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ
وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Terjemahan: “Hak Allah atas para hamba
adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Ibn Katsir, ketika menafsirkan QS Luqman
ayat 13, menjelaskan bahwa syirik merupakan kezaliman paling besar karena
menempatkan ibadah bukan pada tempatnya dan menyamakan makhluk dengan Sang
Pencipta dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah.
Rujukan: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm,
tafsir QS Luqman [31]: 13.
Tauhid tampak dalam keikhlasan beribadah,
ketergantungan hati kepada Allah, tidak menggantungkan nasib kepada benda yang
dianggap memiliki kekuatan gaib, dan menjadikan syariat Allah sebagai pedoman
hidup.
E. Menggantungkan Harapan Hanya kepada Allah
Setelah menyatakan akan menjauh dari
kemusyrikan, Ibrahim berkata وَأَدْعُو رَبِّي — ‘Dan aku akan berdoa kepada
Tuhanku.’ Beliau tidak hanya meninggalkan kebatilan, tetapi juga mengisi
kehidupannya dengan ketaatan. Jangan hanya sibuk meninggalkan keburukan, tetapi
bangun pula kebiasaan baik.
QS
Al-Baqarah [2]: 186
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ
قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا
بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Terjemahan: “Apabila hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.
Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh
kebenaran.”
Allah dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui
kesulitan, kesedihan, kegelisahan, serta kebutuhan mereka. Di akhir ayat, Allah
juga memerintahkan agar manusia memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya.
Doa bukan hanya permintaan, melainkan hubungan penghambaan.
QS
Ghafir [40]: 60
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ
اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
Terjemahan: “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam
dalam keadaan hina dina.’”
Dalil
hadis — Abu Dawud no. 1479; At-Tirmidzi no. 2969
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
Terjemahan: “Doa itu adalah ibadah.”
Hadis ini menegaskan bahwa doa merupakan
bagian dari ibadah. Dalam Al-Adzkār, Imam An-Nawawi menekankan pentingnya
menghadirkan hati, ketulusan, dan keyakinan ketika berdoa. Doa bukan sekadar
rangkaian kalimat lisan, melainkan penghambaan seorang hamba yang menyadari
kelemahannya di hadapan Allah.
Rujukan: An-Nawawi, Al-Adzkār, bab
keutamaan doa dan adab-adabnya.
F. Jangan Putus Asa ketika Doa Belum Terwujud
Kata شَقِيًّا (syaqiyyan) mengandung makna
celaka, sengsara, atau mengalami kerugian. Ibrahim berharap agar doa dan
penghambaan kepada Allah tidak menjadikannya orang yang celaka atau kecewa.
Kita tidak boleh mengukur kasih sayang Allah hanya dari cepat atau lambatnya
suatu permintaan dikabulkan.
QS
Az-Zumar [39]: 53
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى
اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ
جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Terjemahan: “Katakanlah, ‘Wahai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Dalil
hadis — HR. Ahmad, dari Abu Sa‘id al-Khudri; diriwayatkan pula dengan makna
serupa melalui sejumlah jalur
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ
فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللّٰهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ:
إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ،
وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
Terjemahan: “Tidaklah seorang muslim berdoa
dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula memutus silaturahmi,
melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: doanya segera
dikabulkan, disimpan untuknya di akhirat, atau dengan doa itu Allah
menghindarkannya dari keburukan yang semisal.”
Dalil
hadis — Al-Bukhari no. 6340; Muslim no. 2735
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ،
يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
Terjemahan: “Doa salah seorang di antara
kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan mengatakan,
‘Aku sudah berdoa, tetapi doaku belum dikabulkan.’”
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini
menunjukkan larangan berputus asa dan tergesa-gesa mengharapkan pengabulan doa.
Seorang hamba hendaknya terus berdoa dan tidak meninggalkannya hanya karena
belum melihat hasil yang diinginkan.
Rujukan: An-Nawawi, Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ
Muslim, Kitāb al-Dzikr wa al-Du‘ā’, syarah hadis tentang larangan tergesa-gesa
dalam doa.
G. Hijrah: Berpindah dari Keburukan Menuju Ketaatan
Dalam tafsir yang disampaikan, Nabi Ibrahim
meninggalkan kaumnya dan berhijrah menuju negeri Syam. Peristiwa ini
menunjukkan bahwa menjaga agama terkadang membutuhkan pengorbanan, termasuk
meninggalkan tempat tinggal dan lingkungan yang tidak mendukung keimanan.
Hijrah juga memiliki makna luas: berpindah dari perilaku buruk menuju perilaku
baik.
QS
An-Nisa’ [4]: 97
اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ
ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنْتُمْۗ قَالُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ
فِى الْاَرْضِۗ قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَاۗ
فَاُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا
Terjemahan: “Sesungguhnya orang-orang yang
dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, mereka
(malaikat) bertanya, ‘Bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah
orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).’ Mereka (malaikat) bertanya,
‘Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Maka
orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk
tempat kembali.”
Dalil
hadis — Al-Bukhari no. 10
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللّٰهُ
عَنْهُ
Terjemahan: “Orang yang berhijrah adalah
orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”
Dalam Fatḥ al-Bārī, Ibn Hajar menerangkan
bahwa hijrah memiliki makna meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah, baik
berupa perbuatan maupun perkataan. Seseorang tidak cukup mengubah tempat
tinggal jika kebiasaan buruknya tetap dibawa.
Rujukan: Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fatḥ
al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, syarah hadis no. 10.
·
Dahulu
sering meninggalkan salat, sekarang menjaga salat lima waktu.
·
Dahulu
gemar membuka aib orang, sekarang menjaga lisan.
·
Dahulu
terbiasa berbohong, sekarang membiasakan kejujuran.
·
Dahulu
menghabiskan waktu dengan hal tidak bermanfaat, sekarang mengisinya dengan ilmu
dan ibadah.
·
Dahulu
jauh dari Al-Qur’an, sekarang membiasakan tilawah setiap hari.
H. Tetap Berbuat Baik kepada Orang Tua walaupun Berbeda
Keyakinan
Ibrahim menjauh dari kemusyrikan ayahnya,
tetapi tidak berarti beliau menghalalkan penghinaan, kekerasan verbal, atau
kedurhakaan. Dalam ayat sebelumnya, beliau tetap memanggil ayahnya dengan يَا أَبَتِ
(Wahai ayahku), panggilan yang menunjukkan kelembutan dan penghormatan.
QS
Luqman [31]: 15
وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ
مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ
وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Terjemahan: “Jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang
itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik, serta ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya
kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah
kamu kerjakan.”
Dalil
hadis — Al-Bukhari no. 2620; Muslim no. 1003, hadis Asma’ binti Abu Bakar
قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي
عَهْدِ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ، قُلْتُ: إِنَّ أُمِّي
قَدِمَتْ وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: نَعَمْ، صِلِي أُمَّكِ
Terjemahan: “Asma’ binti Abu Bakar berkata,
‘Ibuku datang kepadaku dalam keadaan masih musyrik pada masa Rasulullah ﷺ. Aku
meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ: “Ibuku datang dan berharap mendapatkan
kebaikan dariku. Apakah aku boleh menyambung hubungan dengan ibuku?” Beliau
menjawab, “Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.”’”
Dalam tafsir QS Luqman ayat 15, Al-Qurthubi
menjelaskan bahwa larangan menaati orang tua dalam kemusyrikan tidak menghapus
kewajiban mempergauli mereka dengan baik dalam urusan dunia. Tauhid harus
kokoh, tetapi akhlak tetap mulia.
Rujukan: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām
al-Qur’ān, tafsir QS Luqman [31]: 15.
I. Tegas dalam Prinsip, Santun dalam Perkataan
Dalam ayat 47 Ibrahim berkata سَلَامٌ عَلَيْكَ
(Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu), kemudian ayat 48 menyatakan وَأَعْتَزِلُكُمْ
(Aku akan menjauhkan diri darimu). Menjauh dari seseorang tidak harus disertai
kebencian yang melampaui batas. Kita boleh menjaga jarak demi keselamatan agama
dan diri, tetapi tetap menjaga lisan.
QS
Fussilat [41]: 34
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ
اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ
كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
Terjemahan: “Tidaklah sama kebaikan dengan
kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang
yang ada permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”
Dalil
hadis — Muslim no. 2594
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا
زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Terjemahan: “Sesungguhnya kelembutan
tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut
dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”
Kelembutan bukan berarti tidak memiliki
prinsip. Ibrahim tetap tegas dalam tauhid, tetapi tidak kasar dalam berbicara.
Menolak kezaliman dan menjaga keselamatan diri tetap dibolehkan; kelembutan
tidak berarti harus membiarkan diri disakiti.
J. Komentar dan Pelajaran dari Para Mufassir
1. Imam Ath-Thabari
Dalam Jāmi‘ al-Bayān, Ath-Thabari
menjelaskan bahwa Ibrahim akan memisahkan diri dari ayah dan kaumnya serta
meninggalkan sesembahan yang mereka sembah selain Allah. Ibrahim kemudian
mengarahkan ibadah dan doanya hanya kepada Tuhannya. Rujukan: Ath-Thabari,
Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS Maryam [19]: 48.
2. Imam Ibn Katsir
Ibn Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim
menjauh dari ayahnya dan kaumnya setelah mereka menolak dakwah tauhid. Beliau
meninggalkan sesembahan mereka dan mengarahkan ibadah hanya kepada Allah.
Seorang mukmin harus berani meninggalkan kebatilan, sekalipun kebatilan itu
dilakukan orang-orang terdekatnya. Rujukan: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm,
tafsir QS Maryam [19]: 48.
3. Imam Al-Qurthubi
Al-Qurthubi menerangkan makna pemisahan
diri Ibrahim dari kaumnya dan sesembahan mereka. Ayat ini juga menunjukkan
keutamaan mengarahkan doa kepada Allah, karena hanya Allah yang memiliki
kekuasaan mutlak untuk memberikan manfaat dan menolak bahaya. Rujukan:
Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS Maryam [19]: 48.
4. Imam As-Sa‘di
As-Sa‘di menjelaskan bahwa Ibrahim
meninggalkan ayah dan kaumnya serta segala yang mereka sembah selain Allah.
Beliau memilih berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh harapan, karena Allah adalah
Tuhan yang mengabulkan doa dan memberikan kebaikan kepada hamba-Nya. Rujukan:
As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS Maryam
[19]: 48.
Catatan ilmiah: Uraian para mufassir di
atas merupakan ringkasan makna penafsiran, bukan kutipan harfiah dari naskah
Arab kitab. Redaksi Arab yang tidak dipastikan kesesuaiannya dengan edisi kitab
tidak ditampilkan sebagai kutipan langsung.
K. Korelasi Ayat 46, 47, dan 48
|
Ayat |
Isi pokok |
Pelajaran |
|
Maryam 46 |
Ayah
mengancam Ibrahim |
Dakwah dapat
menghadapi penolakan. |
|
Maryam 47 |
Ibrahim menjawab dengan salam dan janji berdoa |
Tetap santun ketika disakiti. |
|
Maryam 48 |
Ibrahim
memilih menjauh dan berdoa kepada Allah |
Teguh dalam
tauhid dan menjaga iman. |
Dari rangkaian ayat ini kita belajar:
kebenaran harus disampaikan dengan hikmah; penolakan tidak boleh membuat kita
kehilangan akhlak; ketika lingkungan merusak iman, ambillah langkah untuk
melindungi diri; setelah meninggalkan keburukan, isi kehidupan dengan ibadah;
dan jangan putuskan harapan kepada Allah.
L. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam
keluarga: Jika ada anggota keluarga mengajak kepada
kemaksiatan, jangan ikuti ajakannya. Namun, tetap jaga hubungan kekeluargaan
dengan cara yang baik.
Dalam
kehidupan sekolah: Pelajar harus berani
meninggalkan pergaulan yang mengarah kepada tawuran, perundungan, kebohongan,
pornografi, dan kebiasaan meninggalkan salat.
Dalam
masyarakat: Jangan ikut menyebarkan fitnah,
menghina agama, merendahkan orang lain, atau membenarkan kemaksiatan hanya
karena takut tidak diterima kelompok.
Dalam
menghadapi kesulitan: Berusaha dan meminta
pertolongan kepada sesama manusia dibolehkan, tetapi hati harus tetap
bergantung kepada Allah.
Dalam
memperbaiki diri: Hijrah dari lalai menuju disiplin
salat; dari kebohongan menuju kejujuran; dari kesombongan menuju tawaduk; dari
pergaulan buruk menuju persahabatan saleh; dan dari jauh dari Al-Qur’an menuju
tilawah harian.
M. Muhasabah untuk Jamaah
1. Apakah lingkungan pergaulan kita semakin
mendekatkan kita kepada Allah?
2. Apakah kita sudah berani meninggalkan kebiasaan
yang dilarang Allah?
3. Apakah ketika disakiti orang lain, kita tetap
mampu menjaga lisan?
4. Apakah kita sudah menjadikan doa sebagai
kebutuhan sehari-hari?
5. Ketika doa belum dikabulkan, apakah kita tetap
yakin kepada rahmat Allah?
6. Apakah kita sudah menjadi orang tua, guru,
anak, dan sahabat yang mengajak kepada kebaikan?
Jangan sampai kita ingin mendapatkan
lingkungan yang saleh, tetapi kita sendiri tidak berusaha menjadi orang saleh.
Jangan sampai kita mengharapkan anak-anak rajin salat, tetapi kita sendiri
tidak memberikan teladan. Jangan sampai kita meminta Allah memperbaiki
kehidupan, tetapi tidak mau meninggalkan kebiasaan buruk.
N. Kesimpulan dan Pesan Utama
7. Keteguhan tauhid: tidak mengorbankan iman demi
mendapatkan penerimaan manusia.
8. Keberanian mengambil jarak: menjauhi lingkungan
yang membahayakan agama.
9. Menolak kemusyrikan: mengarahkan seluruh ibadah
hanya kepada Allah.
10. Menghidupkan doa: menjadikan Allah sebagai
tempat bergantung dan memohon pertolongan.
11. Tidak berputus asa: tetap berdoa meskipun
jawaban Allah belum tampak.
12. Menjaga akhlak: tegas dalam prinsip, tetapi
tetap santun dalam perkataan.
13. Melakukan hijrah: meninggalkan keburukan dan
menggantinya dengan amal saleh.
O. Penutup Ceramah
Jamaah yang dimuliakan Allah, Nabi Ibrahim
mengajarkan bahwa tidak semua orang yang kita cintai akan menerima nasihat
kita. Tidak semua orang yang dekat dengan kita akan sepakat dengan kebenaran
yang kita sampaikan. Namun, penolakan manusia jangan sampai membuat kita
meninggalkan Allah.
Jika lingkungan tidak mendukung ketaatan,
carilah lingkungan yang lebih baik. Jika pergaulan membuat kita jauh dari
Al-Qur’an, perbaikilah pergaulan. Jika hati mulai lemah, hidupkan kembali doa.
Jika usaha belum membuahkan hasil, jangan berhenti berharap kepada Allah.
وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ
بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا
“Dan
aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan
berdoa kepada Tuhanku.”
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang teguh
menjaga tauhid, baik akhlaknya, kuat doanya, dan tidak pernah berputus asa dari
rahmat Allah.
P. Doa Penutup
اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ
قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ.
“Ya
Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas
agama-Mu.”
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى
وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
“Ya
Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri,
dan kecukupan.”
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ
أَعْمَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.
“Ya
Allah, perbaikilah hati kami, perbaikilah amal kami, perbaikilah keluarga dan
anak-anak kami, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.”
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ.
“Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah
Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari
sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
“Ya
Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui. Terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha
Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Q. Daftar Rujukan Kitab
14. Al-Qur’an al-Karim: QS Maryam [19]: 46–48; QS
Al-An‘am [6]: 68; QS Luqman [31]: 13–15; QS Al-Baqarah [2]: 186; QS Ghafir
[40]: 60; QS Az-Zumar [39]: 53; QS An-Nisa’ [4]: 97; QS Fussilat [41]: 34.
15. Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān
‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Tafsir QS Maryam [19]: 48 dan QS Al-An‘am [6]: 68.
16. Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān
al-‘Aẓīm. Tafsir QS Maryam [19]: 48 dan QS Luqman [31]: 13.
17. Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām
al-Qur’ān. Tafsir QS Maryam [19]: 48 dan QS Luqman [31]: 15.
18. As-Sa‘di, Abdurrahman bin Nashir. Taysīr
al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Tafsir QS Maryam [19]: 48.
19. Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Ṣaḥīḥ
al-Bukhārī. Hadis no. 10, 2620, dan 6340.
20. Muslim bin al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim. Hadis no.
1003, 2594, dan 2735.
21. Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy‘ats. Sunan Abī
Dāwūd. Hadis no. 1479 dan 4833.
22. At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Sunan
at-Tirmidzī. Hadis no. 2378 dan 2969.
23. Ibn Hajar al-‘Asqalani. Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ
al-Bukhārī. Syarah hadis tentang hijrah.
24. An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ
Muslim dan Al-Adzkār. Pembahasan adab dan keutamaan doa.
Catatan
rujukan: Nomor hadis mengikuti penomoran yang umum
digunakan; nomor halaman kitab tafsir dan syarah berbeda menurut penerbit,
tahqiq, dan edisi cetak. Rujukan diberikan berdasarkan nama kitab dan ayat atau
hadis yang dibahas agar mudah ditelusuri. Uraian ulama merupakan parafrasa
makna, bukan kutipan Arab verbatim.
Post a Comment