Menjaga Tauhid, Memilih Lingkungan, dan Menggantungkan Harapan Hanya kepada Allah

MATERI CERAMAH TAFSIR

SURAH MARYAM AYAT 48

HIJRAH DARI KEMAKSIATAN MENUJU KETAATAN

Menjaga Tauhid, Memilih Lingkungan, dan Menggantungkan Harapan Hanya kepada Allah

وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا

Naskah ceramah, bahan kajian tafsir, dalil Al-Qur’an dan Sunnah, serta rujukan ulama


 

Pengantar

Surah Maryam ayat 48 merupakan kelanjutan dialog Nabi Ibrahim عليه السلام dengan ayahnya. Setelah menghadapi penolakan, ancaman, dan penentangan terhadap dakwah tauhid, Ibrahim mengambil keputusan untuk menjaga keimanannya: menjauh dari lingkungan kemusyrikan dan tetap beribadah hanya kepada Allah. Ayat ini mengajarkan keteguhan tauhid, keberanian mengambil jarak dari kemaksiatan, adab ketika menghadapi penolakan, dan keyakinan bahwa doa kepada Allah tidak pernah sia-sia.

A. Muqaddimah

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dimuliakan Allah, ada kalanya seseorang harus memilih antara mempertahankan hubungan dengan lingkungan yang merusak iman atau menjaga hubungannya dengan Allah. Ada kalanya nasihat sudah disampaikan, tetapi justru dibalas dengan ancaman dan penolakan. Nabi Ibrahim memberikan teladan: tidak membalas ancaman dengan ancaman, tidak meninggalkan tauhid demi penerimaan manusia, dan memilih menjauh dari kemusyrikan sembari memperkuat hubungan dengan Allah.

B. Teks Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 48

QS Maryam [19]: 48

وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا

Terjemahan: “Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”

Empat kandungan utama ayat:

·        وَأَعْتَزِلُكُمْ — Menjauhkan diri dari lingkungan yang mengancam keimanan.

·        وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللّٰهِ — Meninggalkan segala bentuk kemusyrikan.

·        وَأَدْعُو رَبِّي — Mengarahkan ibadah, doa, dan penghambaan hanya kepada Allah.

·        عَسَى أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا — Berharap kepada rahmat, pertolongan, dan penerimaan Allah.

C. Berani Menjauh dari Lingkungan yang Merusak Iman

1. Makna وَأَعْتَزِلُكُمْ

Kata i‘tizāl berarti menjauhkan diri, memisahkan diri, atau mengambil jarak. Nabi Ibrahim menyatakan akan meninggalkan lingkungan yang terus-menerus mengajak kepada kemusyrikan dan menolak kebenaran. Beliau tidak meninggalkan tauhid demi mempertahankan hubungan dengan ayahnya. Tidak semua lingkungan harus diikuti, tidak semua pergaulan harus dipertahankan dengan cara apa pun, dan tidak semua ajakan harus diterima.

2. Dalil Al-Qur’an: Menjauhi majelis yang memperolok ayat Allah

QS Al-An‘am [6]: 68

وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۚ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

Terjemahan: “Apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka sampai mereka beralih ke pembicaraan lain. Jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.”

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus memiliki batas dalam pergaulan. Ketika suatu perkumpulan menjadi tempat memperolok agama, membenarkan kemungkaran, atau merusak kehormatan syariat, seorang mukmin tidak boleh larut di dalamnya.

Penjelasan Imam Ath-Thabari: larangan duduk bersama orang-orang yang memperolok ayat Allah berkaitan dengan sikap membiarkan diri berada dalam majelis kemungkaran tanpa mengingkari atau meninggalkannya. Kebersamaan tidak boleh menjadi alasan membiarkan penghinaan terhadap agama.

Rujukan: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS Al-An‘am [6]: 68.

3. Dalil hadis: Teman berpengaruh terhadap agama

Dalil hadis — Abu Dawud no. 4833; At-Tirmidzi no. 2378

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Terjemahan: “Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikan teman dekat.”

Al-Khaththabi menjelaskan bahwa hadis ini merupakan peringatan agar seseorang memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat dekat, karena karakter dan kebiasaan seseorang dapat memengaruhi sahabatnya. Memilih teman berarti memilih orang yang membantu menjaga agama.

Renungan: Apakah teman-teman kita mendorong salat atau melalaikannya? Apakah lingkungan kita mengingatkan kepada Al-Qur’an atau membuat kita malu mengamalkannya? Menjauhi kemaksiatan bukan berarti memutus silaturahmi secara sembarangan; hubungan keluarga tetap dijaga dengan baik.

D. Meninggalkan Kemusyrikan dan Sesembahan Selain Allah

Nabi Ibrahim tidak hanya menjauh dari orang-orang yang menolak dakwahnya, tetapi juga menjauh dari sesembahan mereka. Inilah inti tauhid: ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Tidak ada makhluk, benda, manusia, atau kekuatan apa pun yang berhak menjadi sekutu Allah dalam ibadah.

QS Luqman [31]: 13

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Terjemahan: “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”

QS An-Nisa’ [4]: 48

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

Terjemahan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”

Ayat ini dipahami bersama prinsip bahwa orang yang bertobat dengan sungguh-sungguh sebelum meninggal tetap berada dalam pintu ampunan Allah. Ancaman tersebut berlaku bagi orang yang meninggal dalam keadaan membawa syirik tanpa bertobat.

Dalil hadis — Al-Bukhari dan Muslim, dari Mu‘adz bin Jabal

حَقُّ اللّٰهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Terjemahan: “Hak Allah atas para hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”

Ibn Katsir, ketika menafsirkan QS Luqman ayat 13, menjelaskan bahwa syirik merupakan kezaliman paling besar karena menempatkan ibadah bukan pada tempatnya dan menyamakan makhluk dengan Sang Pencipta dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah.

Rujukan: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS Luqman [31]: 13.

Tauhid tampak dalam keikhlasan beribadah, ketergantungan hati kepada Allah, tidak menggantungkan nasib kepada benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib, dan menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidup.

E. Menggantungkan Harapan Hanya kepada Allah

Setelah menyatakan akan menjauh dari kemusyrikan, Ibrahim berkata وَأَدْعُو رَبِّي — ‘Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku.’ Beliau tidak hanya meninggalkan kebatilan, tetapi juga mengisi kehidupannya dengan ketaatan. Jangan hanya sibuk meninggalkan keburukan, tetapi bangun pula kebiasaan baik.

QS Al-Baqarah [2]: 186

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Terjemahan: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”

Allah dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui kesulitan, kesedihan, kegelisahan, serta kebutuhan mereka. Di akhir ayat, Allah juga memerintahkan agar manusia memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya. Doa bukan hanya permintaan, melainkan hubungan penghambaan.

QS Ghafir [40]: 60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Terjemahan: “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.’”

Dalil hadis — Abu Dawud no. 1479; At-Tirmidzi no. 2969

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

Terjemahan: “Doa itu adalah ibadah.”

Hadis ini menegaskan bahwa doa merupakan bagian dari ibadah. Dalam Al-Adzkār, Imam An-Nawawi menekankan pentingnya menghadirkan hati, ketulusan, dan keyakinan ketika berdoa. Doa bukan sekadar rangkaian kalimat lisan, melainkan penghambaan seorang hamba yang menyadari kelemahannya di hadapan Allah.

Rujukan: An-Nawawi, Al-Adzkār, bab keutamaan doa dan adab-adabnya.

F. Jangan Putus Asa ketika Doa Belum Terwujud

Kata شَقِيًّا (syaqiyyan) mengandung makna celaka, sengsara, atau mengalami kerugian. Ibrahim berharap agar doa dan penghambaan kepada Allah tidak menjadikannya orang yang celaka atau kecewa. Kita tidak boleh mengukur kasih sayang Allah hanya dari cepat atau lambatnya suatu permintaan dikabulkan.

QS Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Terjemahan: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

Dalil hadis — HR. Ahmad, dari Abu Sa‘id al-Khudri; diriwayatkan pula dengan makna serupa melalui sejumlah jalur

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللّٰهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا

Terjemahan: “Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: doanya segera dikabulkan, disimpan untuknya di akhirat, atau dengan doa itu Allah menghindarkannya dari keburukan yang semisal.”

Dalil hadis — Al-Bukhari no. 6340; Muslim no. 2735

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Terjemahan: “Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan mengatakan, ‘Aku sudah berdoa, tetapi doaku belum dikabulkan.’”

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan larangan berputus asa dan tergesa-gesa mengharapkan pengabulan doa. Seorang hamba hendaknya terus berdoa dan tidak meninggalkannya hanya karena belum melihat hasil yang diinginkan.

Rujukan: An-Nawawi, Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Dzikr wa al-Du‘ā’, syarah hadis tentang larangan tergesa-gesa dalam doa.

G. Hijrah: Berpindah dari Keburukan Menuju Ketaatan

Dalam tafsir yang disampaikan, Nabi Ibrahim meninggalkan kaumnya dan berhijrah menuju negeri Syam. Peristiwa ini menunjukkan bahwa menjaga agama terkadang membutuhkan pengorbanan, termasuk meninggalkan tempat tinggal dan lingkungan yang tidak mendukung keimanan. Hijrah juga memiliki makna luas: berpindah dari perilaku buruk menuju perilaku baik.

QS An-Nisa’ [4]: 97

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنْتُمْۗ قَالُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِى الْاَرْضِۗ قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَاۗ فَاُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا

Terjemahan: “Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, mereka (malaikat) bertanya, ‘Bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).’ Mereka (malaikat) bertanya, ‘Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Dalil hadis — Al-Bukhari no. 10

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللّٰهُ عَنْهُ

Terjemahan: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”

Dalam Fatḥ al-Bārī, Ibn Hajar menerangkan bahwa hijrah memiliki makna meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah, baik berupa perbuatan maupun perkataan. Seseorang tidak cukup mengubah tempat tinggal jika kebiasaan buruknya tetap dibawa.

Rujukan: Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, syarah hadis no. 10.

·        Dahulu sering meninggalkan salat, sekarang menjaga salat lima waktu.

·        Dahulu gemar membuka aib orang, sekarang menjaga lisan.

·        Dahulu terbiasa berbohong, sekarang membiasakan kejujuran.

·        Dahulu menghabiskan waktu dengan hal tidak bermanfaat, sekarang mengisinya dengan ilmu dan ibadah.

·        Dahulu jauh dari Al-Qur’an, sekarang membiasakan tilawah setiap hari.

H. Tetap Berbuat Baik kepada Orang Tua walaupun Berbeda Keyakinan

Ibrahim menjauh dari kemusyrikan ayahnya, tetapi tidak berarti beliau menghalalkan penghinaan, kekerasan verbal, atau kedurhakaan. Dalam ayat sebelumnya, beliau tetap memanggil ayahnya dengan يَا أَبَتِ (Wahai ayahku), panggilan yang menunjukkan kelembutan dan penghormatan.

QS Luqman [31]: 15

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Terjemahan: “Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, serta ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Dalil hadis — Al-Bukhari no. 2620; Muslim no. 1003, hadis Asma’ binti Abu Bakar

قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ، قُلْتُ: إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: نَعَمْ، صِلِي أُمَّكِ

Terjemahan: “Asma’ binti Abu Bakar berkata, ‘Ibuku datang kepadaku dalam keadaan masih musyrik pada masa Rasulullah ﷺ. Aku meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ: “Ibuku datang dan berharap mendapatkan kebaikan dariku. Apakah aku boleh menyambung hubungan dengan ibuku?” Beliau menjawab, “Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.”’”

Dalam tafsir QS Luqman ayat 15, Al-Qurthubi menjelaskan bahwa larangan menaati orang tua dalam kemusyrikan tidak menghapus kewajiban mempergauli mereka dengan baik dalam urusan dunia. Tauhid harus kokoh, tetapi akhlak tetap mulia.

Rujukan: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS Luqman [31]: 15.

I. Tegas dalam Prinsip, Santun dalam Perkataan

Dalam ayat 47 Ibrahim berkata سَلَامٌ عَلَيْكَ (Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu), kemudian ayat 48 menyatakan وَأَعْتَزِلُكُمْ (Aku akan menjauhkan diri darimu). Menjauh dari seseorang tidak harus disertai kebencian yang melampaui batas. Kita boleh menjaga jarak demi keselamatan agama dan diri, tetapi tetap menjaga lisan.

QS Fussilat [41]: 34

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

Terjemahan: “Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”

Dalil hadis — Muslim no. 2594

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Terjemahan: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”

Kelembutan bukan berarti tidak memiliki prinsip. Ibrahim tetap tegas dalam tauhid, tetapi tidak kasar dalam berbicara. Menolak kezaliman dan menjaga keselamatan diri tetap dibolehkan; kelembutan tidak berarti harus membiarkan diri disakiti.

J. Komentar dan Pelajaran dari Para Mufassir

1. Imam Ath-Thabari

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, Ath-Thabari menjelaskan bahwa Ibrahim akan memisahkan diri dari ayah dan kaumnya serta meninggalkan sesembahan yang mereka sembah selain Allah. Ibrahim kemudian mengarahkan ibadah dan doanya hanya kepada Tuhannya. Rujukan: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS Maryam [19]: 48.

2. Imam Ibn Katsir

Ibn Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim menjauh dari ayahnya dan kaumnya setelah mereka menolak dakwah tauhid. Beliau meninggalkan sesembahan mereka dan mengarahkan ibadah hanya kepada Allah. Seorang mukmin harus berani meninggalkan kebatilan, sekalipun kebatilan itu dilakukan orang-orang terdekatnya. Rujukan: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS Maryam [19]: 48.

3. Imam Al-Qurthubi

Al-Qurthubi menerangkan makna pemisahan diri Ibrahim dari kaumnya dan sesembahan mereka. Ayat ini juga menunjukkan keutamaan mengarahkan doa kepada Allah, karena hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak untuk memberikan manfaat dan menolak bahaya. Rujukan: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS Maryam [19]: 48.

4. Imam As-Sa‘di

As-Sa‘di menjelaskan bahwa Ibrahim meninggalkan ayah dan kaumnya serta segala yang mereka sembah selain Allah. Beliau memilih berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh harapan, karena Allah adalah Tuhan yang mengabulkan doa dan memberikan kebaikan kepada hamba-Nya. Rujukan: As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS Maryam [19]: 48.

Catatan ilmiah: Uraian para mufassir di atas merupakan ringkasan makna penafsiran, bukan kutipan harfiah dari naskah Arab kitab. Redaksi Arab yang tidak dipastikan kesesuaiannya dengan edisi kitab tidak ditampilkan sebagai kutipan langsung.

K. Korelasi Ayat 46, 47, dan 48

Ayat

Isi pokok

Pelajaran

Maryam 46

Ayah mengancam Ibrahim

Dakwah dapat menghadapi penolakan.

Maryam 47

Ibrahim menjawab dengan salam dan janji berdoa

Tetap santun ketika disakiti.

Maryam 48

Ibrahim memilih menjauh dan berdoa kepada Allah

Teguh dalam tauhid dan menjaga iman.

Dari rangkaian ayat ini kita belajar: kebenaran harus disampaikan dengan hikmah; penolakan tidak boleh membuat kita kehilangan akhlak; ketika lingkungan merusak iman, ambillah langkah untuk melindungi diri; setelah meninggalkan keburukan, isi kehidupan dengan ibadah; dan jangan putuskan harapan kepada Allah.

L. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam keluarga: Jika ada anggota keluarga mengajak kepada kemaksiatan, jangan ikuti ajakannya. Namun, tetap jaga hubungan kekeluargaan dengan cara yang baik.

Dalam kehidupan sekolah: Pelajar harus berani meninggalkan pergaulan yang mengarah kepada tawuran, perundungan, kebohongan, pornografi, dan kebiasaan meninggalkan salat.

Dalam masyarakat: Jangan ikut menyebarkan fitnah, menghina agama, merendahkan orang lain, atau membenarkan kemaksiatan hanya karena takut tidak diterima kelompok.

Dalam menghadapi kesulitan: Berusaha dan meminta pertolongan kepada sesama manusia dibolehkan, tetapi hati harus tetap bergantung kepada Allah.

Dalam memperbaiki diri: Hijrah dari lalai menuju disiplin salat; dari kebohongan menuju kejujuran; dari kesombongan menuju tawaduk; dari pergaulan buruk menuju persahabatan saleh; dan dari jauh dari Al-Qur’an menuju tilawah harian.

M. Muhasabah untuk Jamaah

1.       Apakah lingkungan pergaulan kita semakin mendekatkan kita kepada Allah?

2.       Apakah kita sudah berani meninggalkan kebiasaan yang dilarang Allah?

3.       Apakah ketika disakiti orang lain, kita tetap mampu menjaga lisan?

4.       Apakah kita sudah menjadikan doa sebagai kebutuhan sehari-hari?

5.       Ketika doa belum dikabulkan, apakah kita tetap yakin kepada rahmat Allah?

6.       Apakah kita sudah menjadi orang tua, guru, anak, dan sahabat yang mengajak kepada kebaikan?

Jangan sampai kita ingin mendapatkan lingkungan yang saleh, tetapi kita sendiri tidak berusaha menjadi orang saleh. Jangan sampai kita mengharapkan anak-anak rajin salat, tetapi kita sendiri tidak memberikan teladan. Jangan sampai kita meminta Allah memperbaiki kehidupan, tetapi tidak mau meninggalkan kebiasaan buruk.

N. Kesimpulan dan Pesan Utama

7.       Keteguhan tauhid: tidak mengorbankan iman demi mendapatkan penerimaan manusia.

8.       Keberanian mengambil jarak: menjauhi lingkungan yang membahayakan agama.

9.       Menolak kemusyrikan: mengarahkan seluruh ibadah hanya kepada Allah.

10.   Menghidupkan doa: menjadikan Allah sebagai tempat bergantung dan memohon pertolongan.

11.   Tidak berputus asa: tetap berdoa meskipun jawaban Allah belum tampak.

12.   Menjaga akhlak: tegas dalam prinsip, tetapi tetap santun dalam perkataan.

13.   Melakukan hijrah: meninggalkan keburukan dan menggantinya dengan amal saleh.

O. Penutup Ceramah

Jamaah yang dimuliakan Allah, Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa tidak semua orang yang kita cintai akan menerima nasihat kita. Tidak semua orang yang dekat dengan kita akan sepakat dengan kebenaran yang kita sampaikan. Namun, penolakan manusia jangan sampai membuat kita meninggalkan Allah.

Jika lingkungan tidak mendukung ketaatan, carilah lingkungan yang lebih baik. Jika pergaulan membuat kita jauh dari Al-Qur’an, perbaikilah pergaulan. Jika hati mulai lemah, hidupkan kembali doa. Jika usaha belum membuahkan hasil, jangan berhenti berharap kepada Allah.

وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا

“Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang teguh menjaga tauhid, baik akhlaknya, kuat doanya, dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.

P. Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.”

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri, dan kecukupan.”

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.

“Ya Allah, perbaikilah hati kami, perbaikilah amal kami, perbaikilah keluarga dan anak-anak kami, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

“Ya Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Q. Daftar Rujukan Kitab

14.   Al-Qur’an al-Karim: QS Maryam [19]: 46–48; QS Al-An‘am [6]: 68; QS Luqman [31]: 13–15; QS Al-Baqarah [2]: 186; QS Ghafir [40]: 60; QS Az-Zumar [39]: 53; QS An-Nisa’ [4]: 97; QS Fussilat [41]: 34.

15.   Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Tafsir QS Maryam [19]: 48 dan QS Al-An‘am [6]: 68.

16.   Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Tafsir QS Maryam [19]: 48 dan QS Luqman [31]: 13.

17.   Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Tafsir QS Maryam [19]: 48 dan QS Luqman [31]: 15.

18.   As-Sa‘di, Abdurrahman bin Nashir. Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Tafsir QS Maryam [19]: 48.

19.   Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Hadis no. 10, 2620, dan 6340.

20.   Muslim bin al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim. Hadis no. 1003, 2594, dan 2735.

21.   Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy‘ats. Sunan Abī Dāwūd. Hadis no. 1479 dan 4833.

22.   At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa. Sunan at-Tirmidzī. Hadis no. 2378 dan 2969.

23.   Ibn Hajar al-‘Asqalani. Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Syarah hadis tentang hijrah.

24.   An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim dan Al-Adzkār. Pembahasan adab dan keutamaan doa.

Catatan rujukan: Nomor hadis mengikuti penomoran yang umum digunakan; nomor halaman kitab tafsir dan syarah berbeda menurut penerbit, tahqiq, dan edisi cetak. Rujukan diberikan berdasarkan nama kitab dan ayat atau hadis yang dibahas agar mudah ditelusuri. Uraian ulama merupakan parafrasa makna, bukan kutipan Arab verbatim.

Tidak ada komentar