Selasa, 24 April 2012

BERSAMA ALLAH

BERSAMA ALLAH
"Tidaklah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang ke-empatnya, dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang ke-enamnya..." (Q.S. al-Mujadilah 58:7).
Kecenderungan manusia kepada nafsu dan syahwat selalu mendorongnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Kejahatan dan kerusakan yang ia lakukan pada akhirnya akan mematikan jiwa kreatifitas, semangat membangun dan cenderung berfikir negatif atas segala sesuatu yang menimpa dirinya. Kecenderungan itu akan semakin membuat jiwanya selalu dikekang oleh sang nafsu, sehingga tidak ada lagi peluang ishlah, memperbaiki yang buruk atau melakukan hal-hal konstruktif.
Orang yang selalu menuruti apa kata sang nafsu, pada akhirnya akan berfikir bahwa kehidupan dunia adalah akhir dari segalanya. Hal demikian terjadi karena ia melihat segala sesuatu terbatas pada wujud lahiriah saja. Semuanya berjalan dengan sendirinya. Manusia lahir, besar, menjadi tua, lalu mati. Itu saja. Demikian pula dengan semua makhluk yang ada di dunia.
"Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi." (Al-Mu'minun 23:37).
Islam memberikan perhatian yang sangat luas terhadap fenomena ini, sekaligus memberikan terapi khusus. Pada ayat yang mulia di atas Allah memberikan petunjuk yang menuntun hambanya agar terlepas dari kungkungan nafsu, yaitu dengan menggiring sang hamba untuk selalu merasakan adanya pengawasan-Nya (Ma'iyatullah) dalam setiap langkah kehidupannya. Kalau perasaan ini sudah menjelma dalam qalbu maka kehidupan yang dilaluinya pun akan berjalan dinamis. Kedinamisan tersebut karena ketaatan dan keimanannya kepada apa yang telah disyariatkan Allah. Secara praktis perasaan inilah yang kemudian mencegahnya dari kecenderungan nafsu yang akan menggiringnya untuk lepas dari koridor keimanan.
Perasaan-perasaan ini tidaklah tumbuh dengan sendirinya, melainkan melalui proses pemahaman akan keyakinan atau keimanan kepada Allah SWT. dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Keyakinan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, sehingga tidak ada satupun yang lepas dari pengawasan-Nya (Q.S. 4:131). Keyakinan inilah yang didefinisikan para ulama dengan ketauhidan kepada Allah.
Tahapan-tahapan untuk menuju keyakinan tersebut dapatlah ditimbulkan dengan hal-hal berikut:
1- Merenungi syariat Allah SWT.
Tidaklah diragukan syariat Allah mencakup segala sisi kehidupan, dan setiap syariat itu tidaklah ditetapkan tanpa faedah. Justru di dalamnya mengandung nilai-nilai hikmah yang agung yang menjamin ketentraman dan kebahagian dunia dan akhirat. Hal ini dapatlah dimengerti , sebab Allah SWT. lah yang telah menciptakan alam dunia ini, maka segala yang berkaitan dengan kemaslahatan dan kemudharatan telah Allah tetapkan sesuai dengan fitrah ciptaan-Nya tersebut. Jika kisi-kisi hikmah ini direnungi oleh hamba-hambanya maka tidak ada sedikit waktu pun dalam kehidupannya kecuali selalu rindu untuk mengisinya dengan amal shaleh serta ketaatan, yang pada akhirnya ma'iyatullah (pengawasan Allah SWT.) dirasakannya sebagai tempat persinggahan untuk mencapai ridha Allah SWT.
2. Merasakan dan merindukan kenikmatan surga
Kerinduan inilah yang akan memupus habis kecintaannya pada syahwat dan dunia secara berlebihan. Karena keni'matan apakah yang ada di dunia ini yang mampu bertahan lama, semuanya akan sirna bersama berlalunya umur manusia, sementara ia akan memasuki suatu keni'matan yang tidak akan pernah putus selamanya. Tentunya manusia cerdas sajalah yang akan memutuskan untuk lebih mencintai surga. Rasulullah bersabda, "Manusia yang cerdas adalah manusia yang menghiasi jiwanya dan beramal untuk akhirat." Sampai di sini pengawasan Allah bukan lagi dirasakannya sebagai sebuah kekangan yang membelenggu syahwatnya, melainkan menambahkan kerinduannya untuk semakin dekat dengan Dzat yang memiliki segala keni'matan itu.
Dari semua itu keyakinan bahwa Allah SWT. adalah dzat yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tak satupun lepas dari pengawasannya, sehingga tidak ada tempat baginya untuk berma'syiat. Hal inilah yang harus diyakini oleh setiap muslim. Dan kemantapan akan pemahaman ketauhidan secara murnilah yang bisa membuat seorang muslim merasakan ma'iyatullah ini.

Tidak ada komentar: