Minggu, 22 April 2012

Janganlah Merasa Hina, Anda Lebih Mulia


Janganlah Merasa Hina, Anda Lebih Mulia


Firman Allah Ta'ala yang artinya:
"Kehidupan dunia dijadikan dindah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia dari mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehedaki-Nya tanpa batas." (Al-Baqarah: 212)
Secara umum, saat ini kaum Muslimin dipandang sebelah mata, terutama oleh orang-orang kafir. Segala keterbelakangan seolah-olah suatu yang beralamat pada kaum Muslimin. Pasca runtuhnya khilafah terakhir, khilafah Turki Utsmani tahun 1924 Masehi - belum seratus tahun berlalu - umat Islam sontak seperti terjatuh ke dalam jurang ketertinggalan dan kehinaan di mata dunia.
Secara historis, sebenarnya banyak ilmu pengetahuan yang sekarang dibanggakan orang-orang kafir itu berasal dari kaum Muslimin pada masa jayanya. Ketika Andalusia diperintah oleh kaum Muslimin, ilmu pengetahuan mencapai kejayaannya, sementara Eropa mengalami kegelapannya. Bahkan, sampai-sampai raja Inggris ketika itu meminta secara khusus agar khalifah waktu itu mengizinkan beberapa utusannya untuk belajar pada kaum Muslimin di Andalusia tentang beberapa ilmu pengetahuan.
Namun, kita tidak boleh tenggelam oleh kenangan kejayaan masa lalu. Justru seharusnya kita mengambil pelajaran dari sejarah. Kalaulah boleh dikatakan bahwa umat Islam sekarang ibarat perumpamaan yang telah disabdakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa kita akan diperebutkan oleh umat-umat lain ibarat orang-orang menyerbu makanan di sebuah piring besar. Bukan karena jumlah umat Islam sedikit, tetapi karena kualitas kita yang tidak sesuai dengan kuantitas kita. Kita banyak, tetapi kualitas kita sedikit. Bukan hanya masalah ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga masalah pengetahuan umat terhadap Islam dan ajarannya. Sejujurnya harus diakui bahwa mayoritas umat ini tidak mengerti dengan baik ajaran agamanya yang sempurna ini. Kelemahan yang dikatakan Rasulullah sebagai penyebabnya ternyata benar adanya. Hal itu adalah cinta dunia dan takut mati. Ditambah lagi, satu penyakit batin yang tak kalah bahayanya, yaitu merasa rendah dan hina dihadapan orang-orang kafir dan takjub akan segala kemajuan mereka dalam kehidupan dunia ini.
Seharusnya seorang mu'min tidak boleh merasa lebih rendah dan hina dari orang-orang kafir. Karena, dunia ini adalah suatu yang akan musnah. Dunia ini memang dijadikan indah bagi orang-orang kafir, mereka mencurahkan seluruh hidupnya untuk dunia ini. Sementara, mukmin hanya menjadikan dunia sebagai jalan menuju ridha Allah dan sorga-Nya di akhirat kelak. Lagi pula, bukankah menjadi seorang mukmin itu sudah merupakan suatu nikmat yang tak dapat dibandingkan dengan dunia seisinya. Ingatlah firman Allah yang artinya, "Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajanya, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 139).
Kita janganlah tertipu bahwa dengan meraih dunia, kita akan dipandang mulia. Adalah sifat orang-orang kafir memandang hina kaum Mulimin bagaimanapun keadaannya. Ketika kaum Muslimin tertinggal, orang-orang kafir menghina mereka karena ketertinggalan. Jika kaum Muslimin lebih maju dari mereka, mereka tetap memandang hina kaum Muslimn karena iri dan dengki. Apalagi, di zaman globalisasi informasi sekarang ini. Dengan menguasai jalur informasi, mereka dengan mudah membentuk opini dunia bahwa merekalah yang terbaik di muka bumi ini.
Bukan berarti kita tidak boleh meraih kesenangan dunia dan kejayaan di dalamnya. Alangkah indahnya doa orang yang berkata, "Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, dan jangan jadikan dunia di hati kami." Sekarang secara umum keadaan kita terbalik. Dunia bersemayam di hati kita, tetapi tidak di tangan kita. Sungguh ironis memang, keadaan ini sangat bertolak belakang dengan para pendahulu kita. Dunia mereka kuasai dalam genggamannya, namun tidak mereka biarkan bersemayam di hati mereka. Banyak sahabat yang kaya raya, memiliki apa saja, namun hal itu tidak memalingkan hatinya dari takwa. Sebagai contoh, Abdur Rahman bin 'Auf, salah seorang dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk sorga. Beliau adalah seorang pedagang yang sangat sukses, sampai dikatakan bahwa beliau jika membalikkan sebuah batu pun menghasilkan rezeki yang banyak dan berkah. Namun, hal itu tidak pernah melalaikan beliau dari takwa. Bahkan, diriwayatkan bahwa ketika meninggal, beliau meninggalkan 20 ribu dinar. Satu dinarnya sama dengan 4,25 gram emas, jika ditotal maka itu adalah seberat 85 kg emas. Sungguh jumlah yang tak sedikit.
Bagaimanapun keadaan kita saat ini, kita tak boleh berkecil hati. Bukankah Allah akan memberikan kemuliaan bagi kita atas orang kafir di akhirat nanti. Bukan berarti kita juga harus berhenti berusaha mengibarkan dan menegakkan panji-panji Allah di muka bumi ini, hanya dengan mengharapkan akhirat. Dunia adalah tempat kita harus beramal dengan sebaik-baiknya untuk menegakkan kalimatullah. Jangan pedulikan hinaan orang-orang kafir. Bila saatnya tiba, kita pasti akan menghina mereka dan mereka tidak akan pernah keluar dari kehinaan itu.
Optimisme adalah sifat yang disukai Allah. Maka janganlah merasa pesimis dengan ketertinggalan yang jauh ini. Selangkah demi selangkah adalah lebih baik daripada diam menyesali diri, dan hanya menonton dari jauh tanpa pernah terusik untuk menjadi pemain utama.

Tidak ada komentar: