Klik dong

Minggu, 22 April 2012

Kufur Nikmat Menyebabkan Rahmat Menjadi Laknat


Kufur Nikmat Menyebabkan Rahmat Menjadi Laknat

"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada orang yang merasa aman dari azab Allah kecuali mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya. Dan kami kunci mati hati mereka, sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?" (Al-A'raaf: 99 -- 100).
Sebelum turun peringatan itu, Allah 'Azza wa Jalla lebih dulu berjanji akan menurunkan berkah-Nya dari langit dan dari bumi pada suatu negeri yang masyarakatnya beriman serta bertaqwa, sebagai sarana pemakmuran dan penentraman kehidupan. Namun, sayangnya kebanyakan manusia cenderung malalaikan peringatan itu dan mengingkari nikmat Allah. Sehingga, turunlah ketetapan hukum-Nya terhadap mereka, yakni siksaan dan hinaan sehina-hinanya didunia dan akhirat (7: 96).
Ayat pembuka di atas adalah peringatan kepada siapa saja yang lalai dalam mengemban amanah Allah untuk senantiasa menjaga kehidupan dari hal-hal yang merusak. Alam adalah nikmat sempurna Allah SWT yang dipersembahkan kepada umat mnusia. Karena itu, manusia wajib mensyukurinya dengan cara memelihara kelestariannya serta mempertahankannya sekuat mungkin dari upaya-upaya destruktif.
Alam ini penuh dengan semilyar pesona dan keistimewaan-keistimewaan yang luar biasa, karena itu hanya dipersembahkan pada manusia, sebagai mahluk ciptaan-Nya yang paling istimewa dari segi jatah pemberian rezeki dari penciptanya.
Bukanlah Allah telah ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik ciptaan diantara ciptaan-Nya yang lain? Bukankah lama dan seluruh habitat tempat manusia berdiam telah diformat dalam keadan "siap pakai" dengan semua hukum alam yang pasti dan tetap, sebagai sarana penunjang kelangsungan hidup manusia?
Dan jangan lupa, selain nikmat yang bersifat zahir itu (sarana hidup), Allah juga menyempurnakan nikmat manusia dengan memberikan mereka pedoman hidup sempurna (Islam) (31: 20). Sehingga, dengan sarana dan pedoman hidup sempurna yang Allah karuniakan kepada manusia, seyogyanya mereka dengan survive, hidup mulia, makmur dan tenram. Dengan kata lain, manusia mestinya mampu eksis sebagai khalifah-khalifah Allah di atas muka bumi dengan penuh izzah dan kewibawaan.
Sebagai khalifah Allah di atas muka bumi, ada dua tugas pokok penting yang harus diemban dan ditunaikan mnusia sampai hari kiamat. Yang pertama, memakmurkan bumi (al-'Imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak mana pun (ar-Ri'ayah).
Memakmurkan Bumi
Terkait dengan tugas ini, ada kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT kepada manusia, yakni mereka harus mengekplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia. Maka, sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap memelihara kekayaan agar tidak punah. Sehingga, generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu.
Dengan begitu ada beberapa hal yang harus diperhatikan manusia dalam menggali kekayaan bumi. Pertama, menggunakan friendly technology (teknologi ramah lingkungan). Apa pun usaha pemanfataan kekayan alam, entah pertambangan, pertanian, usaha, kehutanan, industri dan lain-lain haruslah dengan memberi satu garansi, bahwa ekosistem alam tidak menjadi rusak, tidak membuat hewan, tumbuh-tumbuhan, tanah, air dan udara menjadi punah dan tercemar racun-racun yang membahayakan kehidupan.
Kedua, adanya konsep corporate social responsibility (tanggung jawab sosial perusahaan). Perusahaan atau korporasi yang bertanggung jawab tak selayaknya mendirikan bangunan-bangunan industrinya dengan megah, namun tak memberi pemberdayaan baik secara material, akal, maupun spiritual bagi warga setempat. Logikanya, masyarakat sekitar lokasi industri yang tercukupi secara materi dan tercerahkan akal spiritualnya, akan ikut bertanggung jawab memelihara ekosistem alam.
Ketiga, menjalankan usaha dengan cara-cara bersaing yang sehat. Dengan demikian, sebuah usaha yang baik tidak akan dijalankan dengan cara monopoli tanpa memberi orang lain kesempatan untuk berusaha dalam bidang yang sama.
Memelihara Bumi
Memelihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak para SDM (sumber daya manusia) sebuah perusahaan serta lingkungannya dari kebiasaan-kebiasaan jahiliyah. Karena SDM yang rusak akan sangat potensial merusak alam. Dengan demikian, premis ini menuntut bahwa setiap jenis usaha apa pun harus memperhatikan hal-hal berikut:
Pertama, tidak membiarkan SDM perusahaan melakukan kebiasaan-kebiasaan merusak (menonton film-film porno, mabuk, judi, main perempuan, dan sebagainya).
Kedua, tidak mengizinkan lingkungan sekitar berdiri sarana-sarana kemaksiatan.
Ketiga, tidak membiarkan berkembangnya sarana-saran yang memungkinkan tumbuhnya tradisi syirik dan kekerasan.
Keempa, menjatuhkan saksi yang berat bagi para perusak akidah dan akhlak.
Kelima, menumbuhsuburkan kegiatan-kegiatan keagamaan secara kontinyu dan baik.
Adalah wajar bila Islam berkepentingan agar manusia secara kolektif berjuang keras (berjihad) agar syariat-Nya tegak di atas muka bumi. Karena, hanya Islam yang paling lengkap daan concern aturannya dalam menjaga kelangsungan hidup, dan dalam memelihara ekosistem alam.
"Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karen orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena dia membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya." (Al-Maaidah: 32).
Dalam ayat lain Allah menyuruh manusia agar giat menggali karunia-Nya untuk investasi di akhirat. Ini berarti konsep pembangunan negara dan bangsa haruslah berwawasan ketuhanan (berwawasan tauhidullah). Allah SWT melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi, karena Dia tidak menyukai kamu perusak (destroyer). Dengan spirit inilah generasi awal Islam membangun dan berperang dengan rambu-rambu yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, Islam datang tidak membawa bencana, tetapi bahkan sebaliknya, ia membawa rahmat.
"Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. Dan janganlan kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (Al-Qashash: 77).
Kalau kita mau merenung sejenak memikirkan tentang bencana demi bencana yang tak putus menimpa bangsa Indonesia, seharusnya kita mengintrospeksi tindakan kita dan kebijakkan-kebijakkan pembangunan negara selama ini. Jikalau turunnya hujan yang semestinya membawa rahmat tetapi malah berubah menjadi bencana, sekali lagi, hal itu patut patut kita renungkan. Jangan-jangan banyak sekali kelalaian-kelalaian, baik disengaja maupun tidak, yang kita lakukan sehingga kita tidak amanah di dalam mengelola kehidupan. Alam kita biarkan dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, boleh jadi kita termasuk yang langsung atau tidak langsung melakukan proses perusakan itu.
Banjir telah menggenangkan berbagai wilayah di tanah air. Di wilayah ibu kota DKI Jakarta, Bekasi, Tangerang dan beberapa kota di pulau Jawa, titik-titik daerah banjir kian meluas. Volume banjir kali ini memang terbesar dalam lima tahun terakhir.
Alangkah bijaknya bila bencana hujan kali ini yang menimpa berbagai wilayah di Indonesia, kita jadikan bahan instrospeksi. Yang penulis maksud dengan "kita" adalah pemerintah dan rakyat. Agar kedua komponen bangsa itu membangun kesadaran secara bersama untuk kembali kepada jalan Allah. Kembali memperhatikan peraturan-peraturan-Nya tentang pemeliharaan kehidupan, agar kita menjadi orang-orang yang amanah sekaligus menjadi bangsa yang pandai mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Maka, tidak ada salahnya jika musibah banjir kali ini kita jadikan momentum pertaubatan nasional. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar: