Minggu, 22 April 2012

Penangguhan Azab


Penangguhan Azab


"Dan kalau sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan yang mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi ini satu makhluk melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya." (Faathir: 45)
Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai potensi berbuat baik atau jahat, taat atau durhaka. Setiap orang pernah berbuat dosa, kecuali yang dijaga Allah darinya. Pernahkah kita membayangkan, jika saja pada setiap kali manusia berbuat dosa, Allah langsung menghukumnya dengan siksa-Nya? Jika Allah melakukan itu, niscaya bumi ini akan kosong. Tetapi, Allah Maha Bijaksana dan Maha Penyayang, Dia tidak melakukan itu, justru Dia memberi penangguhan bagi manusia, sehingga dengan demikian manusia mempunyai waktu untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.
Walaupun demikian, ada saja orang-orang bodoh yang tertipu karena tidak mengerti. Pelaku dosa merasa tidak berdosa dengan perbuatannya karena ia tidak langsung mendapat hukumannya. Ia merasa bebas dan merdeka berbuat tanpa ada yang akan menghukumnya. Dengan begitu, ia semakin tenggelam dalam dosa dan kesesatannya. Begitu juga orang yang melihat mereka tanpa ilmu dan iman. Melihat orang-orang jahat dan pendosa tidak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka hal itu akan mendorong mereka untuk ikut langkah mereka, karena keburukan itu gampang menularnya daripada kebaikan. Menularkan keburukan tak perlu kampanye susah payah. Cukup lakukan dan berikan contoh, niscaya akan banyak yang meniru. Sebaliknya, kebaikan harus disebarkan dengan susah payah agar orang mau mengikutinya.
Seseorang mungkin dengan mudah bisa lepas dari hukum manusia atau hukum dunia. Tetapi, ia tidak akan bisa menghindar sama sekali dari hukum Allah di akhirat kelak. Ia tidak akan dapat meminta penangguhan sedikit pun, karena ia telah diberikan penangguhan itu di dunia, namun ia tidak memanfaatkannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah. Maka, janganlah seseorang yang berbuat dosa tetapi belum mendapat azab atas perbuatannya menyangka bahwa Allah tidak tahu atau tidak murka dengan perbuatannya. Jika ia berpikiran demikian, sungguh ia telah tertipu oleh kebodohannya sendiri. Sesungghnya azab dunia itu jauh lebih ringan daripada azab akhirat. Azab akhirat jauh lebih berat dan lebih pedih di luar yang dapat dibayangkan manusia.
Bayangkanlah, betapa panasnya lahar yang mengalir dari letusan gunung berapi. Kemudian, bayangkan bahwa Anda berada di dalam lahar itu. Nah, ketahuilah bahwa panas dunia ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh panas neraka. Bisakah kita membayangkan pedihnya disiksa dengan api yang lebih panas tujuh puluh kali dari api dunia ini? Sungguh kepedihan yang tak terperikan.
Maka, sungguh beruntunglah orang yang memanfaatkan kesempatan taubat yang diberikan Allah. Dan, merugilah orang yang diberi kesempatan tetapi tidak memanfaatkannya. Penyesalan di akhirat nanti tidak akan berguna sedikit pun. Penyesalan di dunia adalah suatu awal yang baik untuk kembali ke jalan Allah dan meraih ampunan-Nya.
Jadi, jika kita berbuat suatu dosa namun tidak mendapat hukumannya, waspadalah akan azab akhirat. Justru seorang mu'min yang diberi hukuman oleh Allah di dunia atas dosa-dosanya, berarti telah bebas dari hukuman akhirat jika ia benar-benar bertaubat. Contohnya adalah seseorang yang dirajam karena berzina, niscaya jika ia ikhlas menjalaninya maka itu sudah cukup baginya. Oleh karena itu, Rasulullah berkata kepada orang yang mencela wanita yang dirajam karena berzina bahwa wanita itu telah bertaubat dan jika taubatnya itu dibagikan kepada penduduk Madinah niscaya akan mencukupi mereka. Dengan ditegakkannya rajam atasnya berarti ia telah bebas dari azab akhirat atas perbuatan zina.

Tidak ada komentar: