Rabu, 25 April 2012

Bumi Ini Milik Kita


Bumi Ini Milik Kita

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Allah Azza wa Jalla telah berfirman yang artinya, "Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauhul Mahfudz, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surah) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Al-anbiya: 105--107).
Dalam kitab tafsir disebutkan maksud dari kata hamba-hamba-Ku yang saleh adalah umat Islam. Sementara maksud dari kata peringatan bagi kaum yang menyembah Allah adalah para pengikut Rasulullah saw., seorang rasul yang diutus untuk seluruh alam, rahmatan lil 'alamin.
Dalam ayat di atas jelas bahwa yang berhak mewarisi bumi ini adalah umat Islam. Namun, upaya apa saja yang harus ditempuh agar umat Islam mewarisi bumi tersebut? Allah SWT telah menetapkan bahwa kepemilikan terhadap bumi tersebut sangatlah berkaitan dengan kebaikan, ibadah, dan ketaatan. Ini adalah sunah Allah.
Kalau kita melihat sejarah para salafus saleh, kita dapati mereka telah berhasil mewarisi bumi ini dengan kebaikan dan ketaatan yang mereka lakukan. Mereka beribadah kepada Allah dengan apa yang telah disyariatkan dan dicintai-Nya. Mereka lebih mementingkan rida Allah ketimbang kemurkaan setan dan tangan-tangannya. Mereka berhasil menundukkan hawa nafsu. Mereka mendengarkan firman Allah dengan telinga penuh perhatian dan hati yang tunduk, sementara badannya sibuk dengan zikir dan beribadah kepada-Nya. Mereka lebih takut kepada maksiat ketimbang kepada para musuh. Karena, maksiat menurut keyakinan mereka akan menghalangi dirinya dari taufik Allah. Mereka juga meyakini bahwa pertolongan itu ada di tangan Allah. Allah berfirman, "Dan tidaklah pertolongan itu melainkan dari sisi Allah." (Ali-Imran: 126). Pertolongan adalah hadiah yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Marilah kita melihat pesan Umar al-Faruq yang disampaikan kepada Sa'ad bin Abi Waqqas, komandan pasukan muslim, "Saya memerintahkan kepadamu dan para tentaramu agar bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan. Karena, takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan melawan musuh dan sekuat-kuat siasat dalam memeranginya. Saya memerintahkan kepadamu dan orang-orang bersamamu agar benar-benar lebih menjaga diri dari perbuatan maksiat daripada musuh kalian. Karena, dosa tentara itu lebih mereka takuti daripada para musuhnya. Sesungguhnya kemenangan kaum muslimin diperoleh dari perbuatan maksiat musuh kalian. Kalau tidak karena itu, niscaya kita tidak memiliki kekuatan. Karena, jumlah kita tidaklah sebanyak jumlah mereka dan persiapan kita tidaklah sebaik persiapan mereka. Maka, bila jumlah maksiat kita sama dengan jumlah maksiat yang diperbuat musuh, kekuatan mereka lebih dominan daripada kekuatan kita. Karena, kita tidak mengalahkan mereka dengan kelebihan dan kekuatan yang kita miliki. Maka, mintalah pertolongan kepada Allah terhadap diri kalian sebagaimana engkau meminta pertolongan atas musuh kalian."
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Hari ini tentara maksiat itu tengah menyerang umat Islam lebih keras daripada tentara musuh. Allah SWT berfirman: "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun...." Maka, bila umat ini belum bisa meninggalkan maksiat sebagaimana telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, niscaya umat ini akan hancur.
Hari ini kemungkaran dan kemaksiatan telah menyebar di mana-mana. Zina, riba, wanita "telanjang", pembunuhan, khamr, judi, dan kemaksiatan lainnya adalah pemandangan yang bisa dengan mudah kita jumpai di tengah kehidupan kita. Tentunya hal ini mengingatkan kita akan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Beliau bersabda, "Bagaimana (kondisi) kalian bila terjerumus ke dalam lima perkara yang aku berlindung kepada Allah SWT agar kalian tidak terjerumus di dalamnya. (Pertama), bila sebuah kaum telah melakukan zina secara terang-terangan, Allah akan menimpakan mereka penyakit pes dan rasa lapar yang belum pernah terjadi pada umat sebelumnya. (Kedua), bila sebuah kaum telah melarang zakat, Allah akan menahan air hujan dari langit. Dan kalaulah tidak karena binatang, niscaya Allah tidak akan menurunkannya. (Ketiga), tidaklah sebuah kaum mengurangi timbangan, kecuali akan ditimpakan kepada mereka musibah bertahun-tahun, bekal makanan yang sulit, dan penguasa yang zalim. (Keempat), seseorang yang menggunakan hukum selain Allah, niscaya mereka akan dikuasai para musuhnya dan mereka akan mengambil apa yang ada dalam tangannya. (Kelima), tidaklah (sebuah kaum) melenyapkan Kitab Allah dan sunah nabi-Nya kecuali Allah akan menimpakan di antara mereka (sesuatu) yang paling buruk. "
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Barangkali kemaksiatan ini telah muncul di tengah-tengah umat kita hari ini. Marilah kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. Wallahu a'lam. (Anam).
Poskan Komentar