MEMBENTUK PRIBADI MUSLIM


MEMBENTUK PRIBADI MUSLIM
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan pencipta alam, pengatur siang dan malam, Tuhan yang selalu membuka pintu ampunan-Nya lebar-lebar. "Tuhan tempat kembalinya manusia." Tempat mengadukan keluh kesah, tempat menambatkan harapan, pelipur lara di kala hati terluka.
Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi Nabi Muhammad adalah hamba-Nya, utusan-Nya yang telah diutus sebagai rahmat bagi alam semesta.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepadanya, keluarga kerabatnya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin. Amma ba'du,
Kaum muslimin yang berbahagia? marilah kita bertaqwa kepada Allah agar kita selamat. Taqwa yang sebenar-benarnya taqwa, taqwa yang kokoh sampai maut menjemput, agar kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan damai dan selamat. Kaum muslimin yang berbahagia?
Dalam Al-Qur'an surat Ar-Rum ayat 30 dan 31 Allah berfirman:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepadanya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah."
Kaum muslimin yang berbahagia?
Maka hadapkanlah wajahmu, hatimu, semangatmu, kepada agama Allah, agama tauhid, dengan penuh cinta, yang dia itu adalah satu fitrah yang diciptakan Allah yang dengannya Allah menciptakan segala sesuatu. Ketentuan Allah yang tidak bisa ditukar atau dirubah selama-lamanya, itulah agama yang lurus.
Caranya, dengan kembali kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya dan bertaqwa kepada-Nya. Mendirikan sholat serta tidak mempersekutukan-Nya. Inilah langkah yang harus ditempuh seorang yang bertaqwa untuk membentuk pribadi dengan semangat fitrah ilahiyyah menuju terbinanya manusia muslim yang utuh dalam berbakti kepada Allah dengan landasan tauhid yang kokoh, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam ayat di atas. Yaitu untuk mencapai kebahagiaan yang diliputi keridhaan Allah.
Agama yang lurus adalah garis kehidupan manusia, inilah labuh yang mesti ditempuh, jalan yang mesti dilalui, menuju arah kehidupan yang pasti, dan di saat manusia lupa akan tujuan hidupnya, di saat itu pula ia terombang-ambing karena tujuan hidupnya yang tak jelas dan putuslah garis kehidupannya dalam semesta ini.
Manusia tidak diperintah kecuali untuk menyembah dan berbakti kepada Allah, menjadi hamba Allah. Inilah fitrah yang telah Allah gariskan kepada manusia dalam kehidupan ini.
"Manusia tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus." (Q.S. Al-Bayyinah 5).
Wujud kebaktian dan penyembahan kepada Allah ini tercermin pada ketundukan menjalankan perintah ilahi yang mengantarkan pada kejayaan dan kemenangan akhirat, serta menjauhkan diri dari larangan-larangan Allah yang menghalangi tercapainya kemenangan dunia dan akhirat itu. Ketundukan dalam menjunjung tinggi perintah dan kesediaan menjauhi larangan dan inilah yang menjadi sumber kemakmuran hidup dan pangkal pokok kebahagiaan serta menyampaikan kepada hidup luhur dan mulia.
Memutar kemudi dan berbalik haluan dari garis kehidupan ini adalah awal dari bencana dan permulaan dari rusaknya alam raya ini.
Kaum muslimin yang berbahagia?
Dalam ajaran tauhid ditegaskan bahwa hidup mati kita untuk Allah semata. Tidak hanya sampai di situ, semua amal perbuatan dan kelakuan harus didasarkan pada prinsip ibadah kepada Allah karena Allah dan hanya untuk Allah.
Ketika kita berhadapan dengan kewajiban yang dibebankan kepada kita semua kepentingan pribadi dan ego harus dikeluarkan dari hati kita, harus disingkirkan dari jiwa kita, karena Allah tidak akan menerima amal kita selama amal kita masih dikotori oleh kepentingan-kepentingan pribadi. Oleh sebab itu niat kita harus suci dari keuntungan dan laba dunia yang sedikit, tujuan kita harus murni dari golongan-golongan dunia yang menipu.
Manusia yang bertauhid adalah manusia yang telah menjual dirinya kepada Allah, manusia yang telah menggadaikan segenap hidupnya untuk menegakkan kalimat Allah. Maka tidaklah bertauhid orang yang mengesampingkan Allah dan mendahulukan kepentingan dirinya. Tidak dikatakan beriman orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berpaling dari tuntunan Allah, begitu juga tauhid kita tidak dikatakan sempurna selama kita masih menjunjung aturan-aturan manusia di atas hukum-hukum Allah. Sebab yang dituntut dari kita oleh Allah adalah penyerahan diri kita kepada Allah, sebuah totalitas yang sempurna. Maka batin kita, jiwa kita, semangat kita, ruh kita dan hidup kita hanya dipersembahkan untuk Allah semata.
Oleh karena itu sangatlah rugi jika kita bekerja dan berjuang, beramal dan berjihad didasarkan kepada selain tauhid atau bahkan hawa nafsu sebagai pedoman hidupnya yang sejati seolah-olah dia mempertuhankannya.
"Apakah tidak kamu lihat dan ketahui, orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhannya sehingga Allah menyesatkannya dengan ilmunya dan menutup pendengaran serta hatinya dan menjadikan satu hambatan yang menutupi akan penglihatannya, maka di waktu itu, siapakah yang kuasa memberi petunjuk kepadanya selain dari Allah? Mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran?" (Q.S. Al-Jaatsiyah 23).
Kaum muslimin yang berbahagia?
Kalau dalam satu umat hawa nafsu telah berkuasa, hawa nafsu telah menjadi kemudi dan pedoman, maka rusak dan binasalah peradaban umat itu. Berkuasanya hawa nafsu dalam kehidupan anak cucu Adam, berarti terbukanya pintu gerbang kemusyrikan dengan selebar-lebarnya. Penyakit Syirik inilah yang mula-mula ditantang dan ditentang oleh ajaran tauhid.
Kalau hubungan antara manusia dan Allah sudah bersih, maka dengan sendirinya hubungan manusia dengan sesamanya akan bersih pula. Inilah bentuk pribadi muslim yang seutuhnya yang mempunyai kepribadian berlandaskan tuntunan ilahi akan jaya dan bahagia, tak akan hina di mana pun mereka berada.

Tidak ada komentar