Jumat, 12 April 2013

QUR-AN DAN SAINS MODERN (3/3)

QUR-AN DAN SAINS MODERN                                (3/3)
 
Yang  menarik  perhatian  dalam menghadapi teks Qur-an untuk
pertama  kali  adalah  banyaknya  hal-hal  yang  dibicarakan
mengenai  penciptaan  alam,  astronomi,  keterangan  tentang
bumi, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan  dan  kelahiran  manusia.
Dalam Bibel aku telah menemukan kekeliruan-kekeliruan ilmiah
yang besar, tetapi dalam Qur-an aku tidak menemukan sesuatu,
semua   itu  mendorong  diriku  untuk  bertanya-tanya:  Jika
pengarang Qur-an itu seorang manusia, mengapa pada abad  VII
Masehi,  orang itu dapat menulis hal-hal yang terbukti cocok
dengan   Sains   modern?   Tidak   ada   kemungkinan   untuk
menyangsikan  bahwa  teks  Qur-an  yang kita miliki sekarang
adalah  teks  yang  bersejarah.  (Fasal  yang  akan   datang
membicarakan  hal  ini).  Apakah  yang  dapat  kita  jadikan
penerangan lahiriyah terhadap kenyataan ini? Menurutku,  tak
ada  penerangan  semacam  itu.  Tak  ada  keterang  an  yang
memuaskan yang dapat menjelaskan bagaimana seorang  penduduk
Jazirah  Arab,  dapat  memiliki  pengetahuan  ilmiah tentang
beberapa  hal,   dan   pengetahuan   itu   mendahului   ilmu
pengetahuan  sekarang  13  abad, karena orang itu hidup pada
waktu yang memerintah Perancis adalah Raja Dagobert.
 
Sudah  dibuktikan  oleh  Sejarah  bahwa  pada  waktu  Qur-an
diwahyukan  selama  23  tahun  (622  M.), pengetahuan ilmiah
terhenti semenjak beberapa abad. Dan sudah  dibuktikan  pula
bahwa periode berkembangnya kebudayaan Islam dengan kemajuan
ilmiahnya telah terjadi sesudah selesai turunnya wahyu  atau
Qur-an.  Ada  orang yang berkata "Jika dalam Qur-an terdapat
keterangan-keterangan   ilmiah   yang   mentakjubkan,   maka
sebabnya  pada  waktu  sebelum  itu telah terdapat ahli-ahli
Sains   Arab.   Muhammad    mendapatkan    inspirasi    dari
karangan-karangan  mereka."  Untuk dapat menerima keterangan
tersebut kita harus melupakan  hal-hal  yang  terjadi  dalam
sejarah.  Barang  siapa  mengetahui sedikit daripada sejarah
Islam dan mengetahui bahwa perkembangan kebudayaan dan Sains
dalam  dunia  Arab  pada  abad  pertengahan  ia  tidak  akan
menerima khayalan semacam itu. Pemikiran seperti tersebut di
atas  sangat  tidak  tepat  apalagi  kalau  kita ingat bahwa
kebanyakan fakta Sains yang  dikatakan  oleh  Qur-an  secara
pasti, baru mendapat konfirmasi pada zaman modern itu.
 
Kita  tahu  bahwa  selama  berabad-abad,  banyak ahli tafsir
Qur-an, termasuk mereka  yang  hidup  dalam  zaman  kejayaan
peradaban   Islam,   yang   telah  membuat  kesalahan  dalam
menafsirkan beberapa ayat Qur-an  yang  mereka  tidak  dapat
mengungkap  kan  arti yang sebenarnya. Hanya pada waktu yang
kemudian, yang dekat daripada zaman kita ini,  mereka  dapat
menafsirkannya  secara  benar. Hal ini mengandung arti bahwa
untuk memahami ayat-ayat Qur-an, pengetahuan  yang  mendalam
tentang  bahasa  Arab  saja  tidak  cukup. Di samping bahasa
Arab, ahli tafsir perlu  memiliki  pengetahuan  ilmiah  yang
bermacam-macam.   Penyelidikan   tentang   Qur-an  merupakan
penyelidikan   pluridiscipliner,   encyclopedical.    Dengan
mengikuti  persoalan-persoalan  yang  timbul, orang mengerti
bahwa bermacam-macam pengetahuan ilmiah adalah sangat  perlu
untuk memahami ayat-ayat Qur-an tertentu.
 
Memang   Qur-an   bukannya   suatu   buku  yang  menerangkan
hukum-hukum alam. Qur-an mengandung  tujuan  keagamaan  yang
pokok.  Ajakan  untuk  memikirkan  tentang  penciptaan  alam
dialamatkan kepada manusia dalam rangka  penerangan  tentang
kekuasaan Tuhan. Ajakan tersebut disertai dengan menunjukkan
fakta-fakta   yang   dapat   dilihat   oleh   manusia    dan
aturan-aturan  yang  ditetapkan  oleh  Tuhan  untuk mengatur
alam, baik dalam bidang Sains maupun dalam bidang masyarakat
kemanusiaan. Sebagian daripada fakta-fakta tersebut ada yang
mudah difahami, tetapi sebagian lainnya tidak dapat difahami
tanpa  pengetahuan ilmiah. Ini berarti bahwa manusia-manusia
pada abad-abad dahulu hanya dapat mengetahui arti-arti  yang
nampak dan hal itu dapat membawa mereka kepada konklusi yang
kurang benar karena kekurangan pengetahuan pada waktu itu.
 
Pemilihan ayat-ayat Qur-an untuk diselidiki  segi  ilmiahnya
mungkin  nampak  kecil  bagi  pengarang-pengarang Islam yang
telah menarik perhatian kepada  fakta-fakta  ilmiah  sebelum
aku.  Secara  keseluruhan aku rasa memang aku memilih jumlah
yang lebih sedikit. Tetapi di lain fihak, aku telah membahas
ayat-ayat  yang  sampai sekarang belum diberi perhatian yang
cukup  dari  segi  pandangan  ilmiah.  Jika  aku   melakukan
kesalahan  karena  meninggalkan  ayat-ayat yang telah mereka
pilih, aku harap mereka  mema'afkan;  selain  daripada  itu,
dalam  beberapa buku, aku menemukan interpretasi ilmiah yang
tidak   tepat;   untuk   hal-hal   tersebut   aku    sajikan
interpretasiku   pribadi   yang  didasarkan  atas  kebebasan
pikiran dan rasa tanggung jawab.
 
Aku juga menyelidiki apakah dalam Qur-an disebutkan fenomena
yang  dapat  difahami  oleh manusia tetapi belum mendapatkan
konfirmasi daripada  Sains  modern.  Dalam  rangka  ini  aku
merasa   bahwa   Qur-an  memuat  isyarat  bahwa  dalam  alam
(universe) ini terdapat  planet-planet  yang  seperti  bumi.
Harus  kuterangkan  bahwa  banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan
menganggap hal tersebut  sangat  mungkin,  walaupun  tingkat
pengetahuan  sekarang  tidak  dapat  memberi  kepastian. Aku
merasa berkewajiban menuturkan hal ini, dengan reserve  yang
harus kita lakukan.
 
Aku  telah  melakukan penyelidikan ini semenjak kira-kira 30
tahun. Tetapi ada suatu fakta  yang  telah  disebutkan  oleh
Qur-an  dan  harus  ditambahkan  kepada hal-hal yang kutulis
mengenai  astronomi  (ilmu  bintang).  Fakta  dalam   Qur-an
tersebut  adalah:  pembukaan  angkasa. Pada waktu itu, orang
meramalkan bahwa setelah  percobaan-percobaan  peluru-peluru
kendali,  pada  suatu  waktu  manusia akan dapat keluar dari
bumi dan menyelidiki angkasa. Orang  sudah  tahu  bahwa  ada
ayat  Qur-an  yang  mengatakan bahwa manusia pada satu waktu
akan melaksanakan pembukaan angkasa. Hal  tersebut  sekarang
sudah terjadi.
 
Konfrontasi  Kitab  Suci  (Bibel  atau Qur-an) dengan Sains,
mengundang pemikiran-pemikiran yang ada  hubungannya  dengan
"Kebenaran  ilmiah;"  supaya konfrontasi itu mempunyai arti,
maka argumentasi  ilmiah  yang  menjadi  dasar  harus  sudah
ditetapkan  secara  pasti dan tidak dapat didiskusikan lagi.
Mereka yang segan menerima campur tangan Sains dalam menilai
Kitab  Suci,  mengingkari  bahwa Sains dapat memberi patokan
untuk perbandingan;  (Bibel  akan  menderita  kerugian  jika
dikonfrontir   dengan   Sains,  tetapi  Qur-an  tidak  takut
konfrontasi tersebut); Mereka  mengatakan  bahwa  Sains  itu
berubah  menurut  waktu,  sehingga sesuatu hal mungkin dapat
diterirna pada suatu waktu, akan tetapi kemudian ditolak.
 
Soal tersebut di atas memerlukan penjelasan sebagai berikut:
kita  harus  membedakan  teori ilmiah dan fakta yang diamati
dan dikuasai. Teori adalah untuk menerangkan suatu  fenomena
atau  kumpulan  fenomena  yang  sukar difahami. Teori memang
sering berubah-ubah, teori dapat dirubah sedikit  atau  sama
sekali  diganti  dengan  teori  lain  jika  kemajuan  ilmiah
memungkinkan orang untuk menganalisa fakta secara lebih baik
dan memikirkan suatu-penafsiran yang lebih berharga.
 
Sebaliknya,   fakta   yang  diamati  dan  dibuktikan  dengan
eksperimen tidak  dapat  dirubah.  Orang  dapat  menjelaskan
sifat-sifatnya dengan lebih terperinci akan tetapi fakta itu
tetap  tidak  berubah.   Orang   telah   membuktikan   bahwa
bumi-beredar  sekitar  matahari  dan  bulan  beredar sekitar
bumi, tidak akan mengalami perubahan; pada  masa  yang  akan
datang  mungkin  orang  akan  dapat memberi gambaran tentang
orbit-orbitnya.
 
Pemikiran bahwa teori itu dapat berubah,  telah  mendorongku
umpamanya  untuk  tidak  membicarakan  satu ayat Qur-an yang
dikatakan oleh seorang muslim ahli fisika sebagai ayat  yang
menerangkan  konsep  anti  materi,  sedangkan teori tersebut
pada waktu ini banyak diperdebatkan. Sebaliknya orang  dapat
menerima  dengan  penuh  perhatian  suatu  ayat  Qur-an yang
mengatakan bahwa asal kehidupan itu  adalah  air;  kehidupan
berasal  dari air adalah suatu hal yang tak dapat dibuktikan
akan tetapi telah dikuatkan oleh argumentasi bermacam-macam.
Adapun mengenai pengamatan fakta-fakta, seperti perkembangan
janin  manusia,  orang  dapat  mengkonfrontasikan  bermacam-
macam    tahap    yang   disebutkan   oleh   Qur-an   dengan
penemuan-penemuan  embryologie  (ilmu  janin)  modern,   dan
menemukan  persesuaian yang mutlak antara ayat Qur-an dengan
Sains.
 
Konfrontasi Qur-an dengan Sains telah disempurnakan oleh dua
perbandingan;  di  satu  fihak  konfrontasi  ayat-ayat Bibel
dengan Sains modern  dalam  hal-hal  yang  dibicarakan  oleh
keduanya.   Di  lain  fihak  perbandingan  pandangan  ilmiah
tersebut dengan ayat-ayat Qur-an, wahyu yang diberikan Allah
kepada Nabi Muhammad, dan dengan hadits, buku riwayat, serta
ucapan Nabi Muhammad di luar ayat-ayat yang  tersebut  dalam
Qur-an.
 
Pada  akhir  bagian  ketiga  daripada  buku  ini, orang akan
menemukan  hasil  perbandingan  antara  riwayat  Bibel   dan
riwayat  Qur-an  mengenai kejadian yang sama dengan hal yang
sudah disaring oleh  kritik  ilmiah;  sebagai  contoh,  kita
telah  mengadakan  penyelidikan  tentang penciptaan alam dan
tentang Banjir Nabi Nuh. Untuk kedua masalah itu telah  kita
buktikan  bahwa  riwayat  Bibel  tidak  sesuai dengan Sains.
Tetapi kita akan  menemukan  bahwa  riwayat-riwayat  Qur-an,
sesuai   sepenuhnya   dengan   Sains.   Orang  akan  melihat
perbedaan-perbedaan yang  menjadikan  riwayat  Qur-an  dapat
diterima  di  zaman  modern  sedang  riwayat Bibel tak dapat
diterima.
 
Konstatasi ini sangat penting, oleh karena di  negara-negara
Barat,  orang-orang  Yahudi,  Kristen  atau atheist semuanya
berpendapat tanpa bukti sedikitpun, bahwa  Muhammad  menulis
(mengarang)   Qur-an   atau   memerintahkan   orang  menulis
(mengarang) Qur-an dengan meniru Bibel. Orang mengiraR bahwa
riwayat   Qur-an   tentang   sejarah   agama  mengutip  dari
riwayat-riwayat Bibel. Sikap semacam  itu  sama  sembrononya
dengan  sikap orang yang mengatakan bahwa Yesus telah menipu
orang-orang  pada  zamannya  dengan  mengatakan   bahwa   ia
mendapat inspirasi dari Perjanjian Lama selama ia berdakwah.
Kita mengetahui bahwa seluruh Injil Matius  didasarkan  atas
kontinuitas  dengan  Perjanjian  Lama. Ahli tafsir mana yang
berani melepaskan kenabian Yesus oleh  karena  hal  tersebut
(kontinuitas dengan Perjanjian Lama)? Tetapi begitulah orang
menilai Muhammad di  negara-negara  Barat.  "Muhammad  hanya
meniru  Bibel."  Hal ini tentu saja merupakan penilaian yang
sangat dangkal  yang  tidak  memperdulikan  kenyataan  bahwa
Bibel  dan  Qur-an  dapat  memberikan  versi yang berlainan.
Tetapi orang  menganggap  sepi  perbedaan-perbedaan  riwayat
antara  Qur-an  dan  Injil.  Bahkan  orang  menyatakan bahwa
riwayat-riwayat  itu  adalah  identik,   oleh   karena   itu
pengetahuan ilmiah tidak boleh mencampuri. Soal-soal semacam
ini akan kita bicarakan mengenai hikayat penciptaan alam dan
banjir pada zaman Nabi Nuh.
 
Kumpulan-kumpulan  Hadits  bagi Nabi Muhammad adalah seperti
Injil empat  bagi  Yesus,  Hadits  adalah  riwayat  mengenai
perbuatan  dan  perkataan  Nabi,  yang mengumpulkannya bukan
saksi-saksi  mata  (sedikitnya  bagi  kumpulan  Hadits  yang
benar),  yang  dikumpulkan  sesudah  zamannya Nabi Muhammad.
Kitab  Hadits  sama  sekali  tidak  merupakan   kitab   yang
mengandung  wahyu tertulis. Hadits bukan sabda Tuhan, tetapi
meriwayatkan kata-kata Muhammad. Dalam buku-buku Hadits yang
banyak tersiar kita dapatkan riwayat-riwayat yang mengandung
kekeliruan ilmiah,  khususnya  mengenai  resep  obat-obatan.
Tetapi  siapa  yang  dapat  mengatakan  dengan  pasti  bahwa
keteranganketerangan  yang  dinisbatkan  kepada   Nabi   itu
autentik?    Kita   tidak   membicarakan   problema-problema
keagamaan, yang memang tidak kita bicarakan berhubung dengan
persoalan    Hadits.    Banyak   Hadits   yang   disangsikan
kebenarannya;  Hadits-Hadits  itu  telah  dibicarakan   oleh
ulama-ulama  Islam  sendiri.  Jika  kita  membicarakan aspek
ilmiah daripada beberapa Hadits  dalam  buku  ini,  hal  itu
adalah  pada  dasarnya  untuk  menunjukkan  perbedaan antara
Hadits dan Qur-an, karena Qur-an tidak mengandung pernyataan
ilmiah yang tak dapat diterima.
 
Konstatasi yang akhir ini menjadikan hipotesa bahwa Muhammad
adalah pengarang Qur-an, tidak dapat diterima. Tidak mungkin
seorang yang tak dapat membaca dan menulis menjadi pengarang
nomor satu, penulis karya nomor satu dalam sastra Arab,  dan
memberitahukan  soal-soal  ilmiah  yang tak ada manusia pada
waktu itu dapat  melakukannya,  serta  segala  keterangannya
tidak ada yang keliru.
 
Pemikiran-pemikiran   yang   akan   kita   kembangkan  dalam
penelitian ini dari segi pandangan ilmiah akan  menyampaikan
kita  kepada  suatu  natijah  yaitu: "tidak masuk akal bahwa
seseorang yang hidup pada  abad  VII  M.  dapat  melontarkan
dalam  Qur-an ide-ide mengenai bermacam-macam hal yang bukan
merupakan pemikiran manusia pada waktu itu. Dan ide-ide  itu
cocok  dengan  apa  yang akan dibuktikan oleh Sains beberapa
abad kemudian."
 
Bagiku, tak ada kemungkinan bahwa Qur-an itu buatan manusia.

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern Dr. Maurice Bucaille   Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta
Posting Komentar