Jumat, 12 April 2013

QUR-AN DAN SAINS MODERN (2/3)

QUR-AN DAN SAINS MODERN                                (2/3)
 
Hubungan  antara  agama-agama dan Sains tidak sama di segala
tempat dan segala masa. Adalah suatu  fakta  bahwa  tak  ada
kitab  suci  agama  monotheist  yang menghukum Sains. Tetapi
dalam prakteknya, kita harus mengakui bahwa ahli-ahli  Sains
bercekcok  dengan  penguasa  keagamaan  tertentu.  Di  dunia
Kristen, selama beberapa abad,  pembesar-pembesar  menentang
perkembangan  Sains  atas initiatif mereka sendiri dan tidak
bersandar kepada teks autentik dalam  Kitab  Suci.  Terhadap
mereka    yang    memajukan    Sains,   mereka   melancarkan
tindakan-tindakan yang kita  ketahui  dalam  sejarah,  yaitu
tindakan-tindakan  yang  menjerumuskan para ahli Sains dalam
pembuangan, jika mereka ingin selamat daripada hukuman "mati
dibakar,"  atau sedikitnya memaksa mereka untuk menebus dosa
mereka dan memperbaiki  sikap  mereka  serta  memohon  maaf.
Dalam  hal  ini,  kita  ingat peradilan Galile yang dituntut
hanya  karena  ia  mengikuti  penemuan  Copernikus   tentang
peredaran   bumi.  Galile  kemudian  dihukum  dengan  alasan
menafsirkan Bibel secara keliru sebab tidak ada  Kitab  Suci
yang dapat dibantah.
 
Bagi   Islam,  sikap  terhadap  Sains  pada  umumnya  sangat
berlainan. Tak ada yang lebih  jelas  daripada  hadits  Nabi
yang  sangat  masyhur.  "Tuntutlah  ilmu  walaupun di negeri
Cina" atau hadits lain yang maksudnya: mencari  ilmu  adalah
wajib  bagi  seorang  muslimin  dan seorang muslimat. Adalah
suatu kenyataan yang penting seperti yang  akan  kita  lihat
dalam   fasal   ini   nanti,   bahwa  Qur-an  yang  mengajak
memperdalam  Sains.   Qur-an   itu   memuat   bermacam-macam
pemikiran   tentang   fenomena  alam,  dengan  perinci  yang
menerangkan hal-hal yang secara  pasti  cocok  dengan  Sains
modern.  Dalam  hal  ini  tak  ada hal yang serupa itu dalam
agama Yahudi dan Kristen.
 
Tetapi adalah salah jika orang mengira bahwa  dalam  sejarah
Islam,  beberapa  orang Islam mempunyai sikap yang berlainan
terhadap Sains.  Memang  terjadi  bahwa  pada  suatu  waktu,
kewajiban  untuk belajar dan mengajar orang lain itu disalah
fahamkan,   dan   orang   pernah   berusaha   memberhentikan
perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi perlu kita ingat bahwa
pada zaman kejayaan Islam, antara abad VIII dan abad XII  M.
pada  waktu  orang  membatasi  perkembangan ilmu pengetahuan
dipersempit  di   negara-negara   Kristen,   banyak   sekali
penyelidikan   dan   penemuan   yang   dilakukan   orang  di
Universitas-universitas  Islam.  Pada  waktu   itulah   kita
dapatkan  kebudayaan  yang luar biasa. Di Cordoba (Qurtubah)
perpustakaan  Khalifah  memuat  400.000  buku;  Ibnu   Rusyd
mengajar di situ. Banyak orang dari berbagai daerah di Eropa
datang ke Qurtubah untuk belajar,  seperti  pada  waktu  ini
banyak    orang   belajar   ke   Amerika   Serikat.   Banyak
manuskrip-manuskrip   lama   sampai   kepada   kita   dengan
perantaraan  orang-orang Arab, dan membawa kebudayaan kepada
negeri-negeri   yang   ditaklukkan.   Banyak   hutang   kami
(orang-orang Barat) kepada pengetahuan Arab dalam matematika
(kata al jabar adalah  kata  Arab),  astronomi,  fisika  dan
optik,   geologi,   ilmu   tumbuh-tumbuhan  (botanik),  ilmu
kedokteran (Ibnu Sina) dan  lain-lain.  Untuk  pertama  kali
Sains  mempunyai sifat internasional dalam Universitas Islam
pada  abad  pertengahan.  Pada  waktu  itu   manusia   lebih
mempunyai  jiwa  keagamaan  daripada  sekarang,  akan tetapi
dalam Dunia Islam hal tersebut tidak  menghalangi  seseorang
untuk  menjadi orang yang mukmin dan pandai sekaligus. Sains
adalah saudara kembar daripada agama, dan akan tetap begitu.
 
Dalam negara-negara Kristen, abad  pertengahan  adalah  abad
stagnasi   dan   conformisme   mutlak.  Penyelidikan  ilmiah
dikekang, bukan oleh agama Yahudi dan Kristen,  akan  tetapi
oleh   mereka   yang  mengaku  mengabdi  kepada  agama-agama
tersebut. Sesudah Renaissance, reaksi  yang  wajar  daripada
ahli  ilmu  pengetahuan  adalah untuk membalas dendam kepada
musuh mereka kemarin, dan pembalasan dendam itu  berlangsung
sampai  sekarang.  Pada  waktu  ini,  di negeri Barat, untuk
bicara tentang Tuhan di  kalangan  ilmuwan  adalah  janggal.
Sikap  semacam  ini  juga terdapat dalam otak-otak yang muda
yang  menerima  pengetahuan   dari   universitas-universitas
Barat, termasuk otak-otak muda Islam.
 
Hal   tersebut   di   atas  adalah  wajar  karena  ahli-ahli
pengetahuan Barat yang terkemuka selalu-mengambil sikap yang
ekstrim.  Seorang yang pernah meraih hadiah Nobel dalam ilmu
kedokteran pada tahun-tahun akhir ini  telah  menulis  dalam
satu  buku tebal untuk awam, bahwa materi hidup itu tercipta
sendiri secara kebetulan daripada unsur-unsur elementer. Dan
bertitik  tolak dari materi hidup yang sederhana itu, dengan
pengaruh  bermacam-macan  faktor  luar,  terbentuklah  benda
hidup  yang  teratur  dan  secara  berangsur-angsur akhirnya
menjadi benda hidup yang sangat complex, yaitu manusia.
 
Tetapi orang yang  memikirkan  secara  mendalam  hasil-hasil
yang  mengagumkan  daripada  Sains  masa  kini  dalam bidang
"kehidupan"  akan  sampai  kepada  natijah  (konklusi)  yang
sebaliknya.   Pertumbuhan  yang  terjadi  sebelum  munculnya
"kehidupan" serta pemeliharaan "kehidupan" itu  akan  nampak
sangat   berbelit-belit  (complicated).  Lebih  banyak  kita
mengetahui perincian-perinciannya, lebih  banyak  pula  kita
merasa  heran  dan takjub. Sesungguhnya jika kita mengetahui
perinci-perinci itu lebih banyak, kita lebih  condong  untuk
mengurangi  unsur:  "kebetulan"  dalam fenomena "kehidupan."
Lebih  banyak  kita  memiliki  ilmu  pengetahuan,  khususnya
mengenai   hal-hal  yang  sangat  kecil,  lebih  menonjollah
argumentasi tentang adanya zat  "pencipta."  Tetapi  manusia
bukannya tunduk kepada fakta-fakta tersebut di atas, malahan
ia menjadi sombong. Ia merasa berhak untuk menertawakan  ide
tentang  Tuhan  dan  ia menganggap remeh segala sesuatu yang
menghalangi  kemauannya  untuk  kenikmatan  dan   kelezatan.
Itulah masyarakat materialis yang sekarang ini berkembang di
Barat.
 
Kekuatan spirituil  manakah  yang  dapat  menghadapi  polusi
pemikiran para ahli pengetahuan modern sekarang?
 
Agama   Kristen   dan   agama   Yahudi   telah   menunjukkan
ketidak-mampuannya  untuk  membendung  banjir   materialisme
serta ateisme di Barat. Agama Kristen dan agama Yahudi dalam
keadaan  kacau  balau,  dan  dari  tahun  ke   tahun   telah
menunjukkan  daya  tahan yang berkurang terhadap aliran yang
akan menghancurkannya; seorang materialis ateis hanya  dapat
melihat   dalam  agama  Kristen  klasik,  suatu  agama  yang
diciptakan  oleh  manusia  2000  tahun   yang   lalu   untuk
menegakkan   kekuasaan  sekelompok  kecil  manusia  terhadap
manusia-manusia lain. Ia tidak  dapat  melihat  dalam  kitab
suci Yahudi Kristen suatu bahasa yang ada hubungannya dengan
bahasanya sendiri walaupun terlalu jauh; kitab  suci  Yahudi
Kristen  memuat  hal-hal  yang  keliru, yang kontradiksi dan
yang tidak sesuai dengan  penemuan-penemuan  ilmiah  modern,
sehingga  ia  tidak mau mempertimbangkan teks-teks yang oleh
kebanyakan ahli-ahli teologi dipaksakan untuk diterima semua
sebagai keseluruhan.
 
Bagaimana kalau ada orang yang mengajaknya berbicara tentang
Islam? Ia akan tertawa lebar yang menunjukkan bahwa ia tidak
banyak  mengetahui  tentang  agama.  Sebagai kebanyakan kaum
terpelajar   dari   bermacam-macam   agama,   ia   mempunyai
gambaran-gambaran yang salah tentang Islam.
 
Dalam hal ini, kita harus menerima beberapa alasan. Pertama,
dengan  mengecualikan  sikap-sikap   baru   dari   tingkatan
tertinggi  daripada  Gereja  Katolik  yang mulai menunjukkan
hormat kepada Islam. Islam  di  negara-negara  Barat  selalu
menjadi  objek  daripada  "diffamation  seculaire" (cemoohan
penganut-penganut  secularisme).  Semua  orang,  Barat  yang
mempunyai  pengetahuan dalam tentang Islam, mengetahui bahwa
sejarahnya, dogmanya dan  tujuannya  sudah  jauh  dibelokkan
orang.  Kedua,  dokumen-dokumen  dalam  bahasa-bahasa  Barat
mengenai Islam yang  sudah  diterbitkan,  tidak  mempermudah
usaha  seorang  yang  ingin mempelajari Islam. Dalam hal ini
kita dapat mengecualikan beberapa  penyelidikan-penyelidikan
yang sangat khusus.
 
Dalam hal mempelajari Islam, pengetahuan tentang wahyu dalam
Islam   adalah   sangat    pokok    (fundamental).    Tetapi
bagian-bagian daripada Qur-an khususnya yang ada hubungannya
dengan hasil-hasil perkembangan Sains  sering  diterjemahkan
secara  keliru  atau  ditafsirkan  sedemikian  rupa sehingga
seorang ahli Sains akan melancarkan kritik yang tidak  tepat
terhadap Qur-an, walaupun kritik-kritik kelihatannya benar.
 
Ada  satu  hal yang perlu kita garis bawahi: terjemahan yang
tidak tepat dan penafsiran yang  keliru  (keduanya  biasanya
terjadi bersama-sama) yang tidak mengherankan pada satu atau
dua abad yang lalu, pada  waktu  sekarang  mengejutkan  ahli
Sains  yang  menolak  untuk  mempertimbangkan secara serius,
suatu kata-kata yang  diterjemahkan  secara  salah  sehingga
memberi   keterangan   yang   tak   dapat  diterima  menurut
perkembangan Sains sekarang. Dalam  bab  tentang  terjadinya
janin  manusia,  kita akan melihat contoh kekeliruan seperti
itu.
 
Mengapa terjadi kekeliruan dalam menterjemahkan Qur-an?  Hal
ini   terjadi  oleh  karena  penterjemah-penterjemah  modern
sering hanya mengambil alih interpretasi para ahli tafsir di
zaman dahulu, tanpa pendirian kritik. Para ahli tafsir zaman
dahulu itu dapat dimaafkan jika mereka memilih satu daripada
beberapa  arti  kata  bahasa  Arab, oleh karena mereka tidak
mengerti arti yang benar daripada  kata  atau  kalimat  itu,
yaitu  arti yang baru sekarang nampak dengan jelas berhubung
kemajuan pengetahuan kita tentang Sains. Dengan  kata  lain,
perlu  dilakukan peninjauan kembali terhadap terjemahan atau
tafsiran-tafsiran yang tak dapat  dilaksanakan  secara  baik
pada  suatu  masa,  karena sekarang kita sudah memiliki arti
kata-kata yang sebenarnya. Persoalan  penterjemahan  seperti
tersebut  tidak timbul dalam wahyu Yahudi Kristen . Soal itu
hanya khusus mengenai Qur-an.
 
Aspek-aspek ilmiah  yang  khusus  untuk  Qur-an  itu  sangat
mengherankan aku, karena aku sama sekali tidak mengira bahwa
dalam teks yang disusun semenjak lebih  dari  13  abad,  aku
dapat  menemukan  keterangan-keterangan tentang hal-hal yang
bermacam,  yang  sangat  cocok  dengan  pengetahuan   ilmiah
modern.  Pada  permulaannya  aku  sama  sekali tidak percaya
dengan Islam.  Aku  mulai  menyelidiki  teks  Qur-an  dengan
pikiran yang bebas dari segala prasangka, dan dengan pikiran
obyektif. Jika ada faktor yang mempengaruhi aku, faktor  itu
adalah  pendidikan  yang  aku  terima ketika aku masih muda,
pada  waktu  orang  menamakan  orang   Islam   dengan   nama
"Mohametans"  untuk  memberi  kesan bahwa Islam adalah agama
yang didirikan oleh seorang insan dan saleh karena itu agama
itu  tidak ada nilainya di hadirat Tuhan. Sebagai kebanyakan
orang Barat, aku  terpengaruh  dengan  pikiran-pikiran  yang
salah  tentang  Islam, dan aku merasa heran jika aku bertemu
dengan orang-orang yang mengetahui soal-soal ke-Islaman,  di
luar  kalangan  para  ahli  (spesialis). Oleh karena itu aku
mengaku  terus  terang  bahwa  sebelum  mempunyai   gambaran
tentang  Islam  yang  berlainan dengan gambaran orang Barat,
aku sendiri sangat tidak tahu tentang Islam,  jika  akhirnya
aku  mengetahui  bahwa  penilaian  Barat  tentang  Islam itu
salah,  hal  itu  adalah   karena   kejadian-kejadian   yang
istimewa.  Di  Saudi  Arabialah  aku  menemukan  bahan-bahan
apresiasi yang menunjukkan kepadaku betapa salahnya pendapat
orang-orang Barat tentang Islam.
 
Aku  berhutang  budi  besar kepada almarhum Sri Baginda Raja
Faisal yang aku hormati.  Aku  dapat  mendengar  daripadanya
keterangan-keterangan   tentang   Islam,   dan   aku   dapat
membicarakan  soal-soal  penafsiran  Qur-an  mengenai  Sains
modern.  Semua  itu tak akan dapat aku lupakan. Sesungguhnya
aku  merasa  mendapat  kehormatan  yang  luar  biasa   dapat
menerima  keterangan-keterangan  dari  Sri  Baginda dan para
pengikut-pengikutnya.
 
Setelah aku dapat mengukur jurang  yang  memisahkan  hakekat
Islam  daripada  image yang dimiliki oleh orang-orang Barat,
aku  merasa  ingin  belajar  bahasa  Arab  yang  aku   belum
mengerti,  agar  dapat  membantu  aku mempelajari agama yang
sangat tidak dikenal. Tujuanku  yang  pertama  adalah  untuk
membaca  Qur-an,  menyelidiki teksnya, kalimat demi kalimat,
dengan bantuan bermacam kitab tafsir yang sangat  diperlukan
untuk  penyelidikan  yang kritis. Aku mulai tugas itu dengan
memperhatikan keterangan-keterangan Qur-an tentang  fenomena
alam.  Ketepatan keterangan Qur-an dalam perinci-perincinya,
yaitu hal yang hanya dapat ditemukan  dalam  teks  original,
telah    menarik    perhatianku    karena    cocok    dengan
konsepsi-konsepsi zaman sekarang. Padahal seorang yang hidup
pada   zaman   Nabi   Muhammad  tidak  dapat  mempunyai  ide
sedikitpun  tentang  hal  tersebut.  Kemudian  aku   membaca
beberapa  buku  karangan  orang-orang  Islam  mengenai aspek
ilmiah  daripada  teks  Qur-an.  Buku-buku  tersebut  memuat
pengetahuan-pengetahuan  yang  sangat berfaedah, akan tetapi
aku belum  pernah  melihat  di  negara-negara  Barat,  suatu
penyelidikan yang menyeluruh tentang hal ini.
 
                                            (bersambung 3/3)

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern Dr. Maurice Bucaille   Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta
Posting Komentar